2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
in Esai
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Ilustrasi foto; Canva

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis susunya tidak sesuai pesanan, atau sirup yang digunakan berbeda. Apa pun penyebabnya, akhir dari cerita hampir selalu sama. Minuman yang masih hangat, masih harum, dan sepenuhnya layak diminum langsung dituang ke tempat pembuangan.

Pelanggan berdiri hanya beberapa langkah dari sana, mungkin dengan senang hati menerima kopi itu secara cuma-cuma. Namun prosedur berkata lain. Gelas harus dikosongkan, seolah-olah seluruh nilainya lenyap hanya karena tidak sesuai dengan label pada struk pembelian. Pemandangan seperti itu tidak pernah terasa biasa. Setiap kali menyaksikannya, selalu muncul pertanyaan sederhana: benarkah tidak ada jalan lain selain membuangnya?

Barista tentu tidak bisa disalahkan. Mereka hanya menjalankan standar yang berlaku. Kegelisahan justru tertuju pada cara berpikir yang perlahan diterima sebagai sesuatu yang normal, yaitu menganggap pemborosan sebagai konsekuensi yang wajar dalam kehidupan modern. Sulit menjelaskan dari mana perasaan itu berasal. Sejak kecil, melihat sesuatu yang masih berguna berakhir di tempat sampah selalu terasa mengganggu.

Ada orang yang memiliki kecenderungan menyimpan berbagai barang karena khawatir suatu hari nanti akan dibutuhkan. Kecenderungan yang dirasakan justru berbeda. Bukan ingin menumpuk barang, melainkan memastikan barang-barang itu menemukan pemilik berikutnya ketika tidak lagi dibutuhkan. Barangkali di situlah letak perbedaannya. Nilai sebuah benda tidak berakhir ketika pemilik pertamanya selesai menggunakannya. Nilai itu hanya berpindah.

Sebuah jaket yang lama menggantung di lemari mungkin sudah tidak berarti apa-apa bagi pemiliknya, tetapi bisa menjadi pelindung dari udara dingin bagi orang lain. Sebuah meja kerja yang terasa sempit karena digantikan model baru dapat menjadi meja belajar yang sangat berharga bagi seorang pelajar. Fungsi sebuah benda tidak serta-merta hilang hanya karena hubungan dengan pemilik pertamanya telah selesai.

Karena alasan itulah pakaian yang sudah tidak dipakai lagi selalu lebih baik disumbangkan daripada dibuang. Rasanya jauh lebih masuk akal melihat pakaian itu dikenakan kembali daripada memenuhi kantong sampah. Hal yang sama berlaku untuk kacamata lama. Banyak orang menyimpannya bertahun-tahun di laci setelah membeli pasangan baru. Padahal kacamata tersebut masih dapat dibersihkan, diperbaiki, lalu disalurkan kepada mereka yang kesulitan memperoleh alat bantu penglihatan.

Mengetahui bahwa benda sederhana itu kembali menjalankan fungsinya menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Perlengkapan mandi berukuran kecil dari hotel juga termasuk benda yang sering dianggap remeh. Sabun mini, sampo kemasan kecil, pasta gigi perjalanan, atau losion dalam botol mungil mudah sekali menumpuk tanpa disadari. Sebagian besar akhirnya berakhir di tempat sampah ketika laci dibersihkan. Padahal benda-benda kecil itu memiliki nilai yang sama sekali berbeda di tempat lain.

Dengan mengumpulkannya lalu membawanya ke panti sosial atau kamp pengungsi, benda-benda tersebut kembali menemukan tujuan. Sesuatu yang di rumah hanya memenuhi laci berubah menjadi perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain. Asisten rumah tangga pun sering membawa pulang berbagai barang yang sudah tidak lagi digunakan di rumah.

Peralatan dapur yang masih bagus, tas yang masih layak dipakai, perlengkapan rumah tangga, hingga barang-barang kecil yang sebenarnya masih memiliki umur pakai panjang. Melihat semuanya kembali digunakan setiap hari jauh lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui barang-barang itu hanya berdebu di gudang atau berakhir di tempat pembuangan.

Menariknya, kebiasaan seperti ini tidak pernah terasa sebagai bentuk pengorbanan. Justru sebaliknya. Ada rasa lega setiap kali sebuah barang menemukan kehidupan keduanya. Seolah-olah perjalanan benda tersebut belum selesai, hanya berpindah ke bab berikutnya. Mungkin persoalan terbesar masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan cara memandang kepemilikan.

Begitu suatu benda tidak lagi dibutuhkan, benda itu segera dianggap kehilangan nilai. Lemari harus dikosongkan. Gudang harus dirapikan. Model baru segera menggantikan yang lama. Yang tersisa kemudian hanyalah tumpukan barang yang sebenarnya masih berfungsi, tetapi tidak lagi memiliki tempat.

Budaya seperti ini semakin diperkuat oleh pola konsumsi yang serba cepat. Hampir setiap bulan muncul produk baru yang menjanjikan fitur lebih canggih, desain lebih menarik, atau pengalaman yang lebih baik. Akibatnya, barang yang masih berfungsi dengan baik sering kali terasa usang sebelum benar-benar rusak. Pergantian dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk selalu mengikuti yang terbaru.

Cara berpikir semacam itu perlahan mengubah hubungan dengan benda-benda di sekitar. Pertanyaan “masih bisa dipakai atau tidak?” tergeser oleh pertanyaan “sudah waktunya ganti atau belum?”. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang satu berbicara tentang fungsi, sementara yang lain lebih banyak dipengaruhi keinginan.

Hal serupa tampak dalam urusan makanan dan minuman. Standar kesempurnaan sering kali begitu tinggi sehingga sedikit kesalahan saja membuat semuanya dianggap tidak layak. Roti dengan bentuk yang kurang menarik dibuang. Buah yang ukurannya tidak seragam tidak dipasarkan. Kopi yang salah sirup langsung ditumpahkan. Ironisnya, semua itu tetap memiliki rasa yang sama, kandungan gizi yang sama, dan manfaat yang sama.

Tentu ada aturan mengenai keamanan pangan, standar mutu, dan tanggung jawab hukum yang memang harus dihormati. Tidak semua makanan dapat dibagikan begitu saja. Tidak semua kesalahan dapat diperbaiki. Namun memahami alasan di balik aturan tersebut tidak serta-merta menghilangkan rasa sayang ketika melihat sesuatu yang sebenarnya masih baik berubah menjadi limbah hanya dalam hitungan detik.

Yang sering terlupakan adalah setiap benda memiliki jejak panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Secangkir kopi bukan sekadar air panas dan bubuk kopi. Ada petani yang merawat tanaman selama bertahun-tahun. Ada air yang digunakan untuk menumbuhkan pohon kopi. Ada energi yang dipakai saat proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman. Ada tenaga manusia di setiap mata rantai.

Ketika secangkir kopi dibuang begitu saja, yang hilang bukan hanya harga secangkir minuman, melainkan seluruh sumber daya yang telah dicurahkan untuk menghadirkannya. Begitu pula dengan pakaian. Sepotong kaus sederhana mungkin terlihat murah di rak toko. Namun sebelum sampai di sana, kapas harus ditanam, dipanen, dipintal menjadi benang, ditenun menjadi kain, dijahit, diwarnai, dikemas, lalu dikirim melintasi berbagai kota, bahkan negara.

Semua proses itu membutuhkan air, energi, bahan bakar, dan kerja manusia. Melihat pakaian yang masih layak pakai dibuang begitu saja terasa seperti mengabaikan seluruh perjalanan panjang tersebut. Untungnya, kesadaran untuk mengurangi pemborosan mulai tumbuh di berbagai tempat. Semakin banyak organisasi yang menerima sumbangan pakaian, buku, peralatan rumah tangga, hingga perlengkapan mandi.

Bermunculan pula komunitas yang menghubungkan orang-orang yang memiliki barang berlebih dengan mereka yang membutuhkan. Ada toko yang menjual produk dengan kemasan rusak tetapi isi tetap sempurna. Ada restoran yang menyalurkan makanan yang tidak habis terjual. Semua itu menunjukkan bahwa selalu ada alternatif selain tempat sampah. Barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah teknologi baru atau kebijakan yang rumit, melainkan perubahan cara pandang.

Sebelum membuang sesuatu, mungkin cukup berhenti sejenak dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah benda ini benar-benar sudah tidak berguna, atau hanya tidak lagi berguna bagi diri sendiri? Perbedaan kedua pertanyaan itu sangat besar. Yang pertama mengakhiri perjalanan sebuah benda. Yang kedua membuka kemungkinan bagi kehidupan berikutnya.

Tidak semua orang harus menjadi aktivis lingkungan untuk mulai mengurangi pemborosan. Tidak semua orang harus mendirikan organisasi amal. Perubahan sering kali lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menyumbangkan pakaian daripada membuangnya.

Memberikan buku kepada anak yang membutuhkan setelah selesai membacanya. Menawarkan peralatan rumah tangga kepada tetangga atau kerabat sebelum memasukkannya ke dalam kantong sampah. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Kegelisahan setiap kali melihat secangkir kopi dibuang bukanlah semata-mata tentang kopi. Gelas itu hanyalah simbol dari sesuatu yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa masyarakat modern sering kali terlalu cepat menganggap sesuatu tidak lagi bernilai hanya karena kebutuhan pribadi telah berubah. Padahal di luar sana selalu ada kemungkinan bahwa apa yang tidak lagi dibutuhkan oleh satu orang justru menjadi berkah bagi orang lain.

Selama masih ada keinginan untuk memberi kesempatan kedua kepada barang-barang yang masih layak pakai, harapan untuk mengurangi pemborosan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dunia mungkin tidak selalu membutuhkan lebih banyak barang baru. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang percaya bahwa hampir setiap benda masih memiliki cerita untuk dilanjutkan, hanya saja bersama pemilik yang berbeda. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Next Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co