21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
in Esai
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Ilustrasi foto; Canva

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis susunya tidak sesuai pesanan, atau sirup yang digunakan berbeda. Apa pun penyebabnya, akhir dari cerita hampir selalu sama. Minuman yang masih hangat, masih harum, dan sepenuhnya layak diminum langsung dituang ke tempat pembuangan.

Pelanggan berdiri hanya beberapa langkah dari sana, mungkin dengan senang hati menerima kopi itu secara cuma-cuma. Namun prosedur berkata lain. Gelas harus dikosongkan, seolah-olah seluruh nilainya lenyap hanya karena tidak sesuai dengan label pada struk pembelian. Pemandangan seperti itu tidak pernah terasa biasa. Setiap kali menyaksikannya, selalu muncul pertanyaan sederhana: benarkah tidak ada jalan lain selain membuangnya?

Barista tentu tidak bisa disalahkan. Mereka hanya menjalankan standar yang berlaku. Kegelisahan justru tertuju pada cara berpikir yang perlahan diterima sebagai sesuatu yang normal, yaitu menganggap pemborosan sebagai konsekuensi yang wajar dalam kehidupan modern. Sulit menjelaskan dari mana perasaan itu berasal. Sejak kecil, melihat sesuatu yang masih berguna berakhir di tempat sampah selalu terasa mengganggu.

Ada orang yang memiliki kecenderungan menyimpan berbagai barang karena khawatir suatu hari nanti akan dibutuhkan. Kecenderungan yang dirasakan justru berbeda. Bukan ingin menumpuk barang, melainkan memastikan barang-barang itu menemukan pemilik berikutnya ketika tidak lagi dibutuhkan. Barangkali di situlah letak perbedaannya. Nilai sebuah benda tidak berakhir ketika pemilik pertamanya selesai menggunakannya. Nilai itu hanya berpindah.

Sebuah jaket yang lama menggantung di lemari mungkin sudah tidak berarti apa-apa bagi pemiliknya, tetapi bisa menjadi pelindung dari udara dingin bagi orang lain. Sebuah meja kerja yang terasa sempit karena digantikan model baru dapat menjadi meja belajar yang sangat berharga bagi seorang pelajar. Fungsi sebuah benda tidak serta-merta hilang hanya karena hubungan dengan pemilik pertamanya telah selesai.

Karena alasan itulah pakaian yang sudah tidak dipakai lagi selalu lebih baik disumbangkan daripada dibuang. Rasanya jauh lebih masuk akal melihat pakaian itu dikenakan kembali daripada memenuhi kantong sampah. Hal yang sama berlaku untuk kacamata lama. Banyak orang menyimpannya bertahun-tahun di laci setelah membeli pasangan baru. Padahal kacamata tersebut masih dapat dibersihkan, diperbaiki, lalu disalurkan kepada mereka yang kesulitan memperoleh alat bantu penglihatan.

Mengetahui bahwa benda sederhana itu kembali menjalankan fungsinya menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Perlengkapan mandi berukuran kecil dari hotel juga termasuk benda yang sering dianggap remeh. Sabun mini, sampo kemasan kecil, pasta gigi perjalanan, atau losion dalam botol mungil mudah sekali menumpuk tanpa disadari. Sebagian besar akhirnya berakhir di tempat sampah ketika laci dibersihkan. Padahal benda-benda kecil itu memiliki nilai yang sama sekali berbeda di tempat lain.

Dengan mengumpulkannya lalu membawanya ke panti sosial atau kamp pengungsi, benda-benda tersebut kembali menemukan tujuan. Sesuatu yang di rumah hanya memenuhi laci berubah menjadi perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain. Asisten rumah tangga pun sering membawa pulang berbagai barang yang sudah tidak lagi digunakan di rumah.

Peralatan dapur yang masih bagus, tas yang masih layak dipakai, perlengkapan rumah tangga, hingga barang-barang kecil yang sebenarnya masih memiliki umur pakai panjang. Melihat semuanya kembali digunakan setiap hari jauh lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui barang-barang itu hanya berdebu di gudang atau berakhir di tempat pembuangan.

Menariknya, kebiasaan seperti ini tidak pernah terasa sebagai bentuk pengorbanan. Justru sebaliknya. Ada rasa lega setiap kali sebuah barang menemukan kehidupan keduanya. Seolah-olah perjalanan benda tersebut belum selesai, hanya berpindah ke bab berikutnya. Mungkin persoalan terbesar masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan cara memandang kepemilikan.

Begitu suatu benda tidak lagi dibutuhkan, benda itu segera dianggap kehilangan nilai. Lemari harus dikosongkan. Gudang harus dirapikan. Model baru segera menggantikan yang lama. Yang tersisa kemudian hanyalah tumpukan barang yang sebenarnya masih berfungsi, tetapi tidak lagi memiliki tempat.

Budaya seperti ini semakin diperkuat oleh pola konsumsi yang serba cepat. Hampir setiap bulan muncul produk baru yang menjanjikan fitur lebih canggih, desain lebih menarik, atau pengalaman yang lebih baik. Akibatnya, barang yang masih berfungsi dengan baik sering kali terasa usang sebelum benar-benar rusak. Pergantian dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk selalu mengikuti yang terbaru.

Cara berpikir semacam itu perlahan mengubah hubungan dengan benda-benda di sekitar. Pertanyaan “masih bisa dipakai atau tidak?” tergeser oleh pertanyaan “sudah waktunya ganti atau belum?”. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang satu berbicara tentang fungsi, sementara yang lain lebih banyak dipengaruhi keinginan.

Hal serupa tampak dalam urusan makanan dan minuman. Standar kesempurnaan sering kali begitu tinggi sehingga sedikit kesalahan saja membuat semuanya dianggap tidak layak. Roti dengan bentuk yang kurang menarik dibuang. Buah yang ukurannya tidak seragam tidak dipasarkan. Kopi yang salah sirup langsung ditumpahkan. Ironisnya, semua itu tetap memiliki rasa yang sama, kandungan gizi yang sama, dan manfaat yang sama.

Tentu ada aturan mengenai keamanan pangan, standar mutu, dan tanggung jawab hukum yang memang harus dihormati. Tidak semua makanan dapat dibagikan begitu saja. Tidak semua kesalahan dapat diperbaiki. Namun memahami alasan di balik aturan tersebut tidak serta-merta menghilangkan rasa sayang ketika melihat sesuatu yang sebenarnya masih baik berubah menjadi limbah hanya dalam hitungan detik.

Yang sering terlupakan adalah setiap benda memiliki jejak panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Secangkir kopi bukan sekadar air panas dan bubuk kopi. Ada petani yang merawat tanaman selama bertahun-tahun. Ada air yang digunakan untuk menumbuhkan pohon kopi. Ada energi yang dipakai saat proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman. Ada tenaga manusia di setiap mata rantai.

Ketika secangkir kopi dibuang begitu saja, yang hilang bukan hanya harga secangkir minuman, melainkan seluruh sumber daya yang telah dicurahkan untuk menghadirkannya. Begitu pula dengan pakaian. Sepotong kaus sederhana mungkin terlihat murah di rak toko. Namun sebelum sampai di sana, kapas harus ditanam, dipanen, dipintal menjadi benang, ditenun menjadi kain, dijahit, diwarnai, dikemas, lalu dikirim melintasi berbagai kota, bahkan negara.

Semua proses itu membutuhkan air, energi, bahan bakar, dan kerja manusia. Melihat pakaian yang masih layak pakai dibuang begitu saja terasa seperti mengabaikan seluruh perjalanan panjang tersebut. Untungnya, kesadaran untuk mengurangi pemborosan mulai tumbuh di berbagai tempat. Semakin banyak organisasi yang menerima sumbangan pakaian, buku, peralatan rumah tangga, hingga perlengkapan mandi.

Bermunculan pula komunitas yang menghubungkan orang-orang yang memiliki barang berlebih dengan mereka yang membutuhkan. Ada toko yang menjual produk dengan kemasan rusak tetapi isi tetap sempurna. Ada restoran yang menyalurkan makanan yang tidak habis terjual. Semua itu menunjukkan bahwa selalu ada alternatif selain tempat sampah. Barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah teknologi baru atau kebijakan yang rumit, melainkan perubahan cara pandang.

Sebelum membuang sesuatu, mungkin cukup berhenti sejenak dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah benda ini benar-benar sudah tidak berguna, atau hanya tidak lagi berguna bagi diri sendiri? Perbedaan kedua pertanyaan itu sangat besar. Yang pertama mengakhiri perjalanan sebuah benda. Yang kedua membuka kemungkinan bagi kehidupan berikutnya.

Tidak semua orang harus menjadi aktivis lingkungan untuk mulai mengurangi pemborosan. Tidak semua orang harus mendirikan organisasi amal. Perubahan sering kali lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menyumbangkan pakaian daripada membuangnya.

Memberikan buku kepada anak yang membutuhkan setelah selesai membacanya. Menawarkan peralatan rumah tangga kepada tetangga atau kerabat sebelum memasukkannya ke dalam kantong sampah. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Kegelisahan setiap kali melihat secangkir kopi dibuang bukanlah semata-mata tentang kopi. Gelas itu hanyalah simbol dari sesuatu yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa masyarakat modern sering kali terlalu cepat menganggap sesuatu tidak lagi bernilai hanya karena kebutuhan pribadi telah berubah. Padahal di luar sana selalu ada kemungkinan bahwa apa yang tidak lagi dibutuhkan oleh satu orang justru menjadi berkah bagi orang lain.

Selama masih ada keinginan untuk memberi kesempatan kedua kepada barang-barang yang masih layak pakai, harapan untuk mengurangi pemborosan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dunia mungkin tidak selalu membutuhkan lebih banyak barang baru. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang percaya bahwa hampir setiap benda masih memiliki cerita untuk dilanjutkan, hanya saja bersama pemilik yang berbeda. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Next Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

by Chusmeru
July 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

Read moreDetails

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
0
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

Read moreDetails

Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

by Hairunnisa Br. Sagala
July 19, 2026
0
Krisis Baru Abad 21: Ketika Mesin Berpikir, Manusia Berhenti Merenung?

KONON, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukan semata kemampuan berbicara, melainkan kemampuan merenung. Dari renungan lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan...

Read moreDetails

Langsung ke Intinya: Siapa Juara Piala Dunia?

by Nur Inayah Yushar
July 19, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BAGI kelompok orang yang tidak mengikuti sepak bola, riuh rendah Piala Dunia sering kali terasa seperti latar belakang suara yang...

Read moreDetails

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

by Agung Sudarsa
July 19, 2026
0
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

"People will do anything, no matter how absurd, in order to avoid facing their own souls." Manusia rela melakukan apa...

Read moreDetails

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

by Muhammad Syahrul Wafda
July 19, 2026
0
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

MENGINGAT banyaknya pengguna media sosial saat ini, orang-orang gemar membagikan musik yang mereka dengarkan di platform seperti Instagram, WhatsApp, dan...

Read moreDetails

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails
Next Post
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co