21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
in Esai
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Ilustrasi foto; Canva

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis susunya tidak sesuai pesanan, atau sirup yang digunakan berbeda. Apa pun penyebabnya, akhir dari cerita hampir selalu sama. Minuman yang masih hangat, masih harum, dan sepenuhnya layak diminum langsung dituang ke tempat pembuangan.

Pelanggan berdiri hanya beberapa langkah dari sana, mungkin dengan senang hati menerima kopi itu secara cuma-cuma. Namun prosedur berkata lain. Gelas harus dikosongkan, seolah-olah seluruh nilainya lenyap hanya karena tidak sesuai dengan label pada struk pembelian. Pemandangan seperti itu tidak pernah terasa biasa. Setiap kali menyaksikannya, selalu muncul pertanyaan sederhana: benarkah tidak ada jalan lain selain membuangnya?

Barista tentu tidak bisa disalahkan. Mereka hanya menjalankan standar yang berlaku. Kegelisahan justru tertuju pada cara berpikir yang perlahan diterima sebagai sesuatu yang normal, yaitu menganggap pemborosan sebagai konsekuensi yang wajar dalam kehidupan modern. Sulit menjelaskan dari mana perasaan itu berasal. Sejak kecil, melihat sesuatu yang masih berguna berakhir di tempat sampah selalu terasa mengganggu.

Ada orang yang memiliki kecenderungan menyimpan berbagai barang karena khawatir suatu hari nanti akan dibutuhkan. Kecenderungan yang dirasakan justru berbeda. Bukan ingin menumpuk barang, melainkan memastikan barang-barang itu menemukan pemilik berikutnya ketika tidak lagi dibutuhkan. Barangkali di situlah letak perbedaannya. Nilai sebuah benda tidak berakhir ketika pemilik pertamanya selesai menggunakannya. Nilai itu hanya berpindah.

Sebuah jaket yang lama menggantung di lemari mungkin sudah tidak berarti apa-apa bagi pemiliknya, tetapi bisa menjadi pelindung dari udara dingin bagi orang lain. Sebuah meja kerja yang terasa sempit karena digantikan model baru dapat menjadi meja belajar yang sangat berharga bagi seorang pelajar. Fungsi sebuah benda tidak serta-merta hilang hanya karena hubungan dengan pemilik pertamanya telah selesai.

Karena alasan itulah pakaian yang sudah tidak dipakai lagi selalu lebih baik disumbangkan daripada dibuang. Rasanya jauh lebih masuk akal melihat pakaian itu dikenakan kembali daripada memenuhi kantong sampah. Hal yang sama berlaku untuk kacamata lama. Banyak orang menyimpannya bertahun-tahun di laci setelah membeli pasangan baru. Padahal kacamata tersebut masih dapat dibersihkan, diperbaiki, lalu disalurkan kepada mereka yang kesulitan memperoleh alat bantu penglihatan.

Mengetahui bahwa benda sederhana itu kembali menjalankan fungsinya menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Perlengkapan mandi berukuran kecil dari hotel juga termasuk benda yang sering dianggap remeh. Sabun mini, sampo kemasan kecil, pasta gigi perjalanan, atau losion dalam botol mungil mudah sekali menumpuk tanpa disadari. Sebagian besar akhirnya berakhir di tempat sampah ketika laci dibersihkan. Padahal benda-benda kecil itu memiliki nilai yang sama sekali berbeda di tempat lain.

Dengan mengumpulkannya lalu membawanya ke panti sosial atau kamp pengungsi, benda-benda tersebut kembali menemukan tujuan. Sesuatu yang di rumah hanya memenuhi laci berubah menjadi perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain. Asisten rumah tangga pun sering membawa pulang berbagai barang yang sudah tidak lagi digunakan di rumah.

Peralatan dapur yang masih bagus, tas yang masih layak dipakai, perlengkapan rumah tangga, hingga barang-barang kecil yang sebenarnya masih memiliki umur pakai panjang. Melihat semuanya kembali digunakan setiap hari jauh lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui barang-barang itu hanya berdebu di gudang atau berakhir di tempat pembuangan.

Menariknya, kebiasaan seperti ini tidak pernah terasa sebagai bentuk pengorbanan. Justru sebaliknya. Ada rasa lega setiap kali sebuah barang menemukan kehidupan keduanya. Seolah-olah perjalanan benda tersebut belum selesai, hanya berpindah ke bab berikutnya. Mungkin persoalan terbesar masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan cara memandang kepemilikan.

Begitu suatu benda tidak lagi dibutuhkan, benda itu segera dianggap kehilangan nilai. Lemari harus dikosongkan. Gudang harus dirapikan. Model baru segera menggantikan yang lama. Yang tersisa kemudian hanyalah tumpukan barang yang sebenarnya masih berfungsi, tetapi tidak lagi memiliki tempat.

Budaya seperti ini semakin diperkuat oleh pola konsumsi yang serba cepat. Hampir setiap bulan muncul produk baru yang menjanjikan fitur lebih canggih, desain lebih menarik, atau pengalaman yang lebih baik. Akibatnya, barang yang masih berfungsi dengan baik sering kali terasa usang sebelum benar-benar rusak. Pergantian dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk selalu mengikuti yang terbaru.

Cara berpikir semacam itu perlahan mengubah hubungan dengan benda-benda di sekitar. Pertanyaan “masih bisa dipakai atau tidak?” tergeser oleh pertanyaan “sudah waktunya ganti atau belum?”. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang satu berbicara tentang fungsi, sementara yang lain lebih banyak dipengaruhi keinginan.

Hal serupa tampak dalam urusan makanan dan minuman. Standar kesempurnaan sering kali begitu tinggi sehingga sedikit kesalahan saja membuat semuanya dianggap tidak layak. Roti dengan bentuk yang kurang menarik dibuang. Buah yang ukurannya tidak seragam tidak dipasarkan. Kopi yang salah sirup langsung ditumpahkan. Ironisnya, semua itu tetap memiliki rasa yang sama, kandungan gizi yang sama, dan manfaat yang sama.

Tentu ada aturan mengenai keamanan pangan, standar mutu, dan tanggung jawab hukum yang memang harus dihormati. Tidak semua makanan dapat dibagikan begitu saja. Tidak semua kesalahan dapat diperbaiki. Namun memahami alasan di balik aturan tersebut tidak serta-merta menghilangkan rasa sayang ketika melihat sesuatu yang sebenarnya masih baik berubah menjadi limbah hanya dalam hitungan detik.

Yang sering terlupakan adalah setiap benda memiliki jejak panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Secangkir kopi bukan sekadar air panas dan bubuk kopi. Ada petani yang merawat tanaman selama bertahun-tahun. Ada air yang digunakan untuk menumbuhkan pohon kopi. Ada energi yang dipakai saat proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman. Ada tenaga manusia di setiap mata rantai.

Ketika secangkir kopi dibuang begitu saja, yang hilang bukan hanya harga secangkir minuman, melainkan seluruh sumber daya yang telah dicurahkan untuk menghadirkannya. Begitu pula dengan pakaian. Sepotong kaus sederhana mungkin terlihat murah di rak toko. Namun sebelum sampai di sana, kapas harus ditanam, dipanen, dipintal menjadi benang, ditenun menjadi kain, dijahit, diwarnai, dikemas, lalu dikirim melintasi berbagai kota, bahkan negara.

Semua proses itu membutuhkan air, energi, bahan bakar, dan kerja manusia. Melihat pakaian yang masih layak pakai dibuang begitu saja terasa seperti mengabaikan seluruh perjalanan panjang tersebut. Untungnya, kesadaran untuk mengurangi pemborosan mulai tumbuh di berbagai tempat. Semakin banyak organisasi yang menerima sumbangan pakaian, buku, peralatan rumah tangga, hingga perlengkapan mandi.

Bermunculan pula komunitas yang menghubungkan orang-orang yang memiliki barang berlebih dengan mereka yang membutuhkan. Ada toko yang menjual produk dengan kemasan rusak tetapi isi tetap sempurna. Ada restoran yang menyalurkan makanan yang tidak habis terjual. Semua itu menunjukkan bahwa selalu ada alternatif selain tempat sampah. Barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah teknologi baru atau kebijakan yang rumit, melainkan perubahan cara pandang.

Sebelum membuang sesuatu, mungkin cukup berhenti sejenak dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah benda ini benar-benar sudah tidak berguna, atau hanya tidak lagi berguna bagi diri sendiri? Perbedaan kedua pertanyaan itu sangat besar. Yang pertama mengakhiri perjalanan sebuah benda. Yang kedua membuka kemungkinan bagi kehidupan berikutnya.

Tidak semua orang harus menjadi aktivis lingkungan untuk mulai mengurangi pemborosan. Tidak semua orang harus mendirikan organisasi amal. Perubahan sering kali lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menyumbangkan pakaian daripada membuangnya.

Memberikan buku kepada anak yang membutuhkan setelah selesai membacanya. Menawarkan peralatan rumah tangga kepada tetangga atau kerabat sebelum memasukkannya ke dalam kantong sampah. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Kegelisahan setiap kali melihat secangkir kopi dibuang bukanlah semata-mata tentang kopi. Gelas itu hanyalah simbol dari sesuatu yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa masyarakat modern sering kali terlalu cepat menganggap sesuatu tidak lagi bernilai hanya karena kebutuhan pribadi telah berubah. Padahal di luar sana selalu ada kemungkinan bahwa apa yang tidak lagi dibutuhkan oleh satu orang justru menjadi berkah bagi orang lain.

Selama masih ada keinginan untuk memberi kesempatan kedua kepada barang-barang yang masih layak pakai, harapan untuk mengurangi pemborosan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dunia mungkin tidak selalu membutuhkan lebih banyak barang baru. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang percaya bahwa hampir setiap benda masih memiliki cerita untuk dilanjutkan, hanya saja bersama pemilik yang berbeda. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Next Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails
Next Post
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co