11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
in Esai
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Ilustrasi foto; Canva

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis susunya tidak sesuai pesanan, atau sirup yang digunakan berbeda. Apa pun penyebabnya, akhir dari cerita hampir selalu sama. Minuman yang masih hangat, masih harum, dan sepenuhnya layak diminum langsung dituang ke tempat pembuangan.

Pelanggan berdiri hanya beberapa langkah dari sana, mungkin dengan senang hati menerima kopi itu secara cuma-cuma. Namun prosedur berkata lain. Gelas harus dikosongkan, seolah-olah seluruh nilainya lenyap hanya karena tidak sesuai dengan label pada struk pembelian. Pemandangan seperti itu tidak pernah terasa biasa. Setiap kali menyaksikannya, selalu muncul pertanyaan sederhana: benarkah tidak ada jalan lain selain membuangnya?

Barista tentu tidak bisa disalahkan. Mereka hanya menjalankan standar yang berlaku. Kegelisahan justru tertuju pada cara berpikir yang perlahan diterima sebagai sesuatu yang normal, yaitu menganggap pemborosan sebagai konsekuensi yang wajar dalam kehidupan modern. Sulit menjelaskan dari mana perasaan itu berasal. Sejak kecil, melihat sesuatu yang masih berguna berakhir di tempat sampah selalu terasa mengganggu.

Ada orang yang memiliki kecenderungan menyimpan berbagai barang karena khawatir suatu hari nanti akan dibutuhkan. Kecenderungan yang dirasakan justru berbeda. Bukan ingin menumpuk barang, melainkan memastikan barang-barang itu menemukan pemilik berikutnya ketika tidak lagi dibutuhkan. Barangkali di situlah letak perbedaannya. Nilai sebuah benda tidak berakhir ketika pemilik pertamanya selesai menggunakannya. Nilai itu hanya berpindah.

Sebuah jaket yang lama menggantung di lemari mungkin sudah tidak berarti apa-apa bagi pemiliknya, tetapi bisa menjadi pelindung dari udara dingin bagi orang lain. Sebuah meja kerja yang terasa sempit karena digantikan model baru dapat menjadi meja belajar yang sangat berharga bagi seorang pelajar. Fungsi sebuah benda tidak serta-merta hilang hanya karena hubungan dengan pemilik pertamanya telah selesai.

Karena alasan itulah pakaian yang sudah tidak dipakai lagi selalu lebih baik disumbangkan daripada dibuang. Rasanya jauh lebih masuk akal melihat pakaian itu dikenakan kembali daripada memenuhi kantong sampah. Hal yang sama berlaku untuk kacamata lama. Banyak orang menyimpannya bertahun-tahun di laci setelah membeli pasangan baru. Padahal kacamata tersebut masih dapat dibersihkan, diperbaiki, lalu disalurkan kepada mereka yang kesulitan memperoleh alat bantu penglihatan.

Mengetahui bahwa benda sederhana itu kembali menjalankan fungsinya menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Perlengkapan mandi berukuran kecil dari hotel juga termasuk benda yang sering dianggap remeh. Sabun mini, sampo kemasan kecil, pasta gigi perjalanan, atau losion dalam botol mungil mudah sekali menumpuk tanpa disadari. Sebagian besar akhirnya berakhir di tempat sampah ketika laci dibersihkan. Padahal benda-benda kecil itu memiliki nilai yang sama sekali berbeda di tempat lain.

Dengan mengumpulkannya lalu membawanya ke panti sosial atau kamp pengungsi, benda-benda tersebut kembali menemukan tujuan. Sesuatu yang di rumah hanya memenuhi laci berubah menjadi perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain. Asisten rumah tangga pun sering membawa pulang berbagai barang yang sudah tidak lagi digunakan di rumah.

Peralatan dapur yang masih bagus, tas yang masih layak dipakai, perlengkapan rumah tangga, hingga barang-barang kecil yang sebenarnya masih memiliki umur pakai panjang. Melihat semuanya kembali digunakan setiap hari jauh lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui barang-barang itu hanya berdebu di gudang atau berakhir di tempat pembuangan.

Menariknya, kebiasaan seperti ini tidak pernah terasa sebagai bentuk pengorbanan. Justru sebaliknya. Ada rasa lega setiap kali sebuah barang menemukan kehidupan keduanya. Seolah-olah perjalanan benda tersebut belum selesai, hanya berpindah ke bab berikutnya. Mungkin persoalan terbesar masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan cara memandang kepemilikan.

Begitu suatu benda tidak lagi dibutuhkan, benda itu segera dianggap kehilangan nilai. Lemari harus dikosongkan. Gudang harus dirapikan. Model baru segera menggantikan yang lama. Yang tersisa kemudian hanyalah tumpukan barang yang sebenarnya masih berfungsi, tetapi tidak lagi memiliki tempat.

Budaya seperti ini semakin diperkuat oleh pola konsumsi yang serba cepat. Hampir setiap bulan muncul produk baru yang menjanjikan fitur lebih canggih, desain lebih menarik, atau pengalaman yang lebih baik. Akibatnya, barang yang masih berfungsi dengan baik sering kali terasa usang sebelum benar-benar rusak. Pergantian dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk selalu mengikuti yang terbaru.

Cara berpikir semacam itu perlahan mengubah hubungan dengan benda-benda di sekitar. Pertanyaan “masih bisa dipakai atau tidak?” tergeser oleh pertanyaan “sudah waktunya ganti atau belum?”. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang satu berbicara tentang fungsi, sementara yang lain lebih banyak dipengaruhi keinginan.

Hal serupa tampak dalam urusan makanan dan minuman. Standar kesempurnaan sering kali begitu tinggi sehingga sedikit kesalahan saja membuat semuanya dianggap tidak layak. Roti dengan bentuk yang kurang menarik dibuang. Buah yang ukurannya tidak seragam tidak dipasarkan. Kopi yang salah sirup langsung ditumpahkan. Ironisnya, semua itu tetap memiliki rasa yang sama, kandungan gizi yang sama, dan manfaat yang sama.

Tentu ada aturan mengenai keamanan pangan, standar mutu, dan tanggung jawab hukum yang memang harus dihormati. Tidak semua makanan dapat dibagikan begitu saja. Tidak semua kesalahan dapat diperbaiki. Namun memahami alasan di balik aturan tersebut tidak serta-merta menghilangkan rasa sayang ketika melihat sesuatu yang sebenarnya masih baik berubah menjadi limbah hanya dalam hitungan detik.

Yang sering terlupakan adalah setiap benda memiliki jejak panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Secangkir kopi bukan sekadar air panas dan bubuk kopi. Ada petani yang merawat tanaman selama bertahun-tahun. Ada air yang digunakan untuk menumbuhkan pohon kopi. Ada energi yang dipakai saat proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman. Ada tenaga manusia di setiap mata rantai.

Ketika secangkir kopi dibuang begitu saja, yang hilang bukan hanya harga secangkir minuman, melainkan seluruh sumber daya yang telah dicurahkan untuk menghadirkannya. Begitu pula dengan pakaian. Sepotong kaus sederhana mungkin terlihat murah di rak toko. Namun sebelum sampai di sana, kapas harus ditanam, dipanen, dipintal menjadi benang, ditenun menjadi kain, dijahit, diwarnai, dikemas, lalu dikirim melintasi berbagai kota, bahkan negara.

Semua proses itu membutuhkan air, energi, bahan bakar, dan kerja manusia. Melihat pakaian yang masih layak pakai dibuang begitu saja terasa seperti mengabaikan seluruh perjalanan panjang tersebut. Untungnya, kesadaran untuk mengurangi pemborosan mulai tumbuh di berbagai tempat. Semakin banyak organisasi yang menerima sumbangan pakaian, buku, peralatan rumah tangga, hingga perlengkapan mandi.

Bermunculan pula komunitas yang menghubungkan orang-orang yang memiliki barang berlebih dengan mereka yang membutuhkan. Ada toko yang menjual produk dengan kemasan rusak tetapi isi tetap sempurna. Ada restoran yang menyalurkan makanan yang tidak habis terjual. Semua itu menunjukkan bahwa selalu ada alternatif selain tempat sampah. Barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah teknologi baru atau kebijakan yang rumit, melainkan perubahan cara pandang.

Sebelum membuang sesuatu, mungkin cukup berhenti sejenak dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah benda ini benar-benar sudah tidak berguna, atau hanya tidak lagi berguna bagi diri sendiri? Perbedaan kedua pertanyaan itu sangat besar. Yang pertama mengakhiri perjalanan sebuah benda. Yang kedua membuka kemungkinan bagi kehidupan berikutnya.

Tidak semua orang harus menjadi aktivis lingkungan untuk mulai mengurangi pemborosan. Tidak semua orang harus mendirikan organisasi amal. Perubahan sering kali lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menyumbangkan pakaian daripada membuangnya.

Memberikan buku kepada anak yang membutuhkan setelah selesai membacanya. Menawarkan peralatan rumah tangga kepada tetangga atau kerabat sebelum memasukkannya ke dalam kantong sampah. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Kegelisahan setiap kali melihat secangkir kopi dibuang bukanlah semata-mata tentang kopi. Gelas itu hanyalah simbol dari sesuatu yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa masyarakat modern sering kali terlalu cepat menganggap sesuatu tidak lagi bernilai hanya karena kebutuhan pribadi telah berubah. Padahal di luar sana selalu ada kemungkinan bahwa apa yang tidak lagi dibutuhkan oleh satu orang justru menjadi berkah bagi orang lain.

Selama masih ada keinginan untuk memberi kesempatan kedua kepada barang-barang yang masih layak pakai, harapan untuk mengurangi pemborosan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dunia mungkin tidak selalu membutuhkan lebih banyak barang baru. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang percaya bahwa hampir setiap benda masih memiliki cerita untuk dilanjutkan, hanya saja bersama pemilik yang berbeda. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Next Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co