31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
in Esai
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Ilustrasi foto; Canva

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis susunya tidak sesuai pesanan, atau sirup yang digunakan berbeda. Apa pun penyebabnya, akhir dari cerita hampir selalu sama. Minuman yang masih hangat, masih harum, dan sepenuhnya layak diminum langsung dituang ke tempat pembuangan.

Pelanggan berdiri hanya beberapa langkah dari sana, mungkin dengan senang hati menerima kopi itu secara cuma-cuma. Namun prosedur berkata lain. Gelas harus dikosongkan, seolah-olah seluruh nilainya lenyap hanya karena tidak sesuai dengan label pada struk pembelian. Pemandangan seperti itu tidak pernah terasa biasa. Setiap kali menyaksikannya, selalu muncul pertanyaan sederhana: benarkah tidak ada jalan lain selain membuangnya?

Barista tentu tidak bisa disalahkan. Mereka hanya menjalankan standar yang berlaku. Kegelisahan justru tertuju pada cara berpikir yang perlahan diterima sebagai sesuatu yang normal, yaitu menganggap pemborosan sebagai konsekuensi yang wajar dalam kehidupan modern. Sulit menjelaskan dari mana perasaan itu berasal. Sejak kecil, melihat sesuatu yang masih berguna berakhir di tempat sampah selalu terasa mengganggu.

Ada orang yang memiliki kecenderungan menyimpan berbagai barang karena khawatir suatu hari nanti akan dibutuhkan. Kecenderungan yang dirasakan justru berbeda. Bukan ingin menumpuk barang, melainkan memastikan barang-barang itu menemukan pemilik berikutnya ketika tidak lagi dibutuhkan. Barangkali di situlah letak perbedaannya. Nilai sebuah benda tidak berakhir ketika pemilik pertamanya selesai menggunakannya. Nilai itu hanya berpindah.

Sebuah jaket yang lama menggantung di lemari mungkin sudah tidak berarti apa-apa bagi pemiliknya, tetapi bisa menjadi pelindung dari udara dingin bagi orang lain. Sebuah meja kerja yang terasa sempit karena digantikan model baru dapat menjadi meja belajar yang sangat berharga bagi seorang pelajar. Fungsi sebuah benda tidak serta-merta hilang hanya karena hubungan dengan pemilik pertamanya telah selesai.

Karena alasan itulah pakaian yang sudah tidak dipakai lagi selalu lebih baik disumbangkan daripada dibuang. Rasanya jauh lebih masuk akal melihat pakaian itu dikenakan kembali daripada memenuhi kantong sampah. Hal yang sama berlaku untuk kacamata lama. Banyak orang menyimpannya bertahun-tahun di laci setelah membeli pasangan baru. Padahal kacamata tersebut masih dapat dibersihkan, diperbaiki, lalu disalurkan kepada mereka yang kesulitan memperoleh alat bantu penglihatan.

Mengetahui bahwa benda sederhana itu kembali menjalankan fungsinya menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Perlengkapan mandi berukuran kecil dari hotel juga termasuk benda yang sering dianggap remeh. Sabun mini, sampo kemasan kecil, pasta gigi perjalanan, atau losion dalam botol mungil mudah sekali menumpuk tanpa disadari. Sebagian besar akhirnya berakhir di tempat sampah ketika laci dibersihkan. Padahal benda-benda kecil itu memiliki nilai yang sama sekali berbeda di tempat lain.

Dengan mengumpulkannya lalu membawanya ke panti sosial atau kamp pengungsi, benda-benda tersebut kembali menemukan tujuan. Sesuatu yang di rumah hanya memenuhi laci berubah menjadi perlengkapan yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain. Asisten rumah tangga pun sering membawa pulang berbagai barang yang sudah tidak lagi digunakan di rumah.

Peralatan dapur yang masih bagus, tas yang masih layak dipakai, perlengkapan rumah tangga, hingga barang-barang kecil yang sebenarnya masih memiliki umur pakai panjang. Melihat semuanya kembali digunakan setiap hari jauh lebih menyenangkan dibandingkan mengetahui barang-barang itu hanya berdebu di gudang atau berakhir di tempat pembuangan.

Menariknya, kebiasaan seperti ini tidak pernah terasa sebagai bentuk pengorbanan. Justru sebaliknya. Ada rasa lega setiap kali sebuah barang menemukan kehidupan keduanya. Seolah-olah perjalanan benda tersebut belum selesai, hanya berpindah ke bab berikutnya. Mungkin persoalan terbesar masyarakat modern bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan cara memandang kepemilikan.

Begitu suatu benda tidak lagi dibutuhkan, benda itu segera dianggap kehilangan nilai. Lemari harus dikosongkan. Gudang harus dirapikan. Model baru segera menggantikan yang lama. Yang tersisa kemudian hanyalah tumpukan barang yang sebenarnya masih berfungsi, tetapi tidak lagi memiliki tempat.

Budaya seperti ini semakin diperkuat oleh pola konsumsi yang serba cepat. Hampir setiap bulan muncul produk baru yang menjanjikan fitur lebih canggih, desain lebih menarik, atau pengalaman yang lebih baik. Akibatnya, barang yang masih berfungsi dengan baik sering kali terasa usang sebelum benar-benar rusak. Pergantian dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk selalu mengikuti yang terbaru.

Cara berpikir semacam itu perlahan mengubah hubungan dengan benda-benda di sekitar. Pertanyaan “masih bisa dipakai atau tidak?” tergeser oleh pertanyaan “sudah waktunya ganti atau belum?”. Padahal keduanya sangat berbeda. Yang satu berbicara tentang fungsi, sementara yang lain lebih banyak dipengaruhi keinginan.

Hal serupa tampak dalam urusan makanan dan minuman. Standar kesempurnaan sering kali begitu tinggi sehingga sedikit kesalahan saja membuat semuanya dianggap tidak layak. Roti dengan bentuk yang kurang menarik dibuang. Buah yang ukurannya tidak seragam tidak dipasarkan. Kopi yang salah sirup langsung ditumpahkan. Ironisnya, semua itu tetap memiliki rasa yang sama, kandungan gizi yang sama, dan manfaat yang sama.

Tentu ada aturan mengenai keamanan pangan, standar mutu, dan tanggung jawab hukum yang memang harus dihormati. Tidak semua makanan dapat dibagikan begitu saja. Tidak semua kesalahan dapat diperbaiki. Namun memahami alasan di balik aturan tersebut tidak serta-merta menghilangkan rasa sayang ketika melihat sesuatu yang sebenarnya masih baik berubah menjadi limbah hanya dalam hitungan detik.

Yang sering terlupakan adalah setiap benda memiliki jejak panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Secangkir kopi bukan sekadar air panas dan bubuk kopi. Ada petani yang merawat tanaman selama bertahun-tahun. Ada air yang digunakan untuk menumbuhkan pohon kopi. Ada energi yang dipakai saat proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman. Ada tenaga manusia di setiap mata rantai.

Ketika secangkir kopi dibuang begitu saja, yang hilang bukan hanya harga secangkir minuman, melainkan seluruh sumber daya yang telah dicurahkan untuk menghadirkannya. Begitu pula dengan pakaian. Sepotong kaus sederhana mungkin terlihat murah di rak toko. Namun sebelum sampai di sana, kapas harus ditanam, dipanen, dipintal menjadi benang, ditenun menjadi kain, dijahit, diwarnai, dikemas, lalu dikirim melintasi berbagai kota, bahkan negara.

Semua proses itu membutuhkan air, energi, bahan bakar, dan kerja manusia. Melihat pakaian yang masih layak pakai dibuang begitu saja terasa seperti mengabaikan seluruh perjalanan panjang tersebut. Untungnya, kesadaran untuk mengurangi pemborosan mulai tumbuh di berbagai tempat. Semakin banyak organisasi yang menerima sumbangan pakaian, buku, peralatan rumah tangga, hingga perlengkapan mandi.

Bermunculan pula komunitas yang menghubungkan orang-orang yang memiliki barang berlebih dengan mereka yang membutuhkan. Ada toko yang menjual produk dengan kemasan rusak tetapi isi tetap sempurna. Ada restoran yang menyalurkan makanan yang tidak habis terjual. Semua itu menunjukkan bahwa selalu ada alternatif selain tempat sampah. Barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah teknologi baru atau kebijakan yang rumit, melainkan perubahan cara pandang.

Sebelum membuang sesuatu, mungkin cukup berhenti sejenak dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: apakah benda ini benar-benar sudah tidak berguna, atau hanya tidak lagi berguna bagi diri sendiri? Perbedaan kedua pertanyaan itu sangat besar. Yang pertama mengakhiri perjalanan sebuah benda. Yang kedua membuka kemungkinan bagi kehidupan berikutnya.

Tidak semua orang harus menjadi aktivis lingkungan untuk mulai mengurangi pemborosan. Tidak semua orang harus mendirikan organisasi amal. Perubahan sering kali lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten. Menyumbangkan pakaian daripada membuangnya.

Memberikan buku kepada anak yang membutuhkan setelah selesai membacanya. Menawarkan peralatan rumah tangga kepada tetangga atau kerabat sebelum memasukkannya ke dalam kantong sampah. Kebiasaan-kebiasaan sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Kegelisahan setiap kali melihat secangkir kopi dibuang bukanlah semata-mata tentang kopi. Gelas itu hanyalah simbol dari sesuatu yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa masyarakat modern sering kali terlalu cepat menganggap sesuatu tidak lagi bernilai hanya karena kebutuhan pribadi telah berubah. Padahal di luar sana selalu ada kemungkinan bahwa apa yang tidak lagi dibutuhkan oleh satu orang justru menjadi berkah bagi orang lain.

Selama masih ada keinginan untuk memberi kesempatan kedua kepada barang-barang yang masih layak pakai, harapan untuk mengurangi pemborosan tidak akan pernah benar-benar hilang. Dunia mungkin tidak selalu membutuhkan lebih banyak barang baru. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang percaya bahwa hampir setiap benda masih memiliki cerita untuk dilanjutkan, hanya saja bersama pemilik yang berbeda. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

Next Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails
Next Post
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co