11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 28, 2026
in Esai
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |
tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam ||

“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak ini, diselimuti oleh Yang Mahailahi. Oleh karena itu, nikmatilah atau hiduplah dengan semangat tanpa keterikatan. Janganlah mengingini atau serakah terhadap milik siapa pun.”

Perjalanan ilmu pengetahuan modern ternyata semakin sering membawa manusia kembali pada pertanyaan-pertanyaan kuno tentang hakikat alam semesta. Fisikawan teoretis Michio Kaku, melalui karya-karyanya seperti The God Equation, The Future of the Mind, dan Hyperspace, menunjukkan bahwa semakin dalam manusia menyingkap hukum-hukum alam, semakin tampak keteraturan, kesederhanaan, dan harmoni yang menakjubkan. Alam semesta bukanlah kumpulan peristiwa yang terjadi secara acak, melainkan sebuah tatanan kosmis yang bekerja menurut hukum-hukum universal yang elegan. Semakin dalam sains menyelami realitas, semakin kuat pula rasa takjub terhadap kesatuan yang menopang seluruh keberadaan.

Pandangan tersebut mengingatkan kita pada filsafat Baruch Spinoza, yang memandang Tuhan hadir melalui seluruh realitas alam. Keindahan galaksi, keteraturan hukum fisika, simetri matematika, dan keharmonisan kehidupan merupakan ungkapan dari Realitas Tertinggi. Menariknya, jauh sebelum sains modern berkembang, Isha Upanishad telah mengumandangkan sebuah mahavakya yang sangat agung:

Ishavasyam Idam Sarvam Yat Kincha Jagatyam Jagat—“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak maupun yang tidak bergerak, diselimuti oleh Yang Mahailahi.”

Mahavakya ini bukan sekadar ajaran metafisika, melainkan cara hidup. Alam dan seluruh manifestasinya adalah wujud Ilahi. Karena itu, melayani kehidupan berarti melayani Tuhan. Menjaga hutan, membersihkan sungai, merawat laut, melindungi satwa, dan mengasihi sesama bukan hanya tindakan sosial atau ekologis, tetapi merupakan seva, pelayanan kepada Yang Mahailahi. Spiritualitas tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi diwujudkan dalam kasih yang nyata kepada seluruh ciptaan.

Melihat Tuhan dalam Seluruh Kehidupan

“Ishavasyam Idam Sarvam” mengubah secara mendasar cara manusia memandang dunia. Alam bukanlah objek mati yang bebas dieksploitasi, melainkan ruang suci tempat Kehadiran Ilahi memanifestasikan diri. Gunung bukan hanya cadangan mineral. Sungai bukan sekadar sumber air. Laut bukan sekadar kawasan ekonomi. Pepohonan bukan hanya kayu. Bahkan setiap makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki nilai intrinsik karena semuanya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama.

Sayangnya, peradaban modern justru sering memandang alam sebagai komoditas. Nilai suatu hutan diukur dari jumlah kayunya, nilai sungai dari potensi industrinya, dan nilai pantai dari harga investasinya. Cara pandang seperti ini melahirkan eksploitasi yang akhirnya berbalik menjadi krisis iklim, banjir, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai bencana ekologis.

Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa selama manusia gagal melihat dimensi ilahi dalam alam, ia akan terus merusaknya. Sebaliknya, ketika manusia mampu melihat Tuhan dalam setiap bentuk kehidupan, rasa hormat akan muncul secara alami. Saat itulah spiritualitas tidak lagi menjadi teori, tetapi menjadi perilaku sehari-hari.

Harmoni Kosmos: Ketika Sains Bertemu Spiritualitas

Ilmu pengetahuan modern dan spiritualitas sering dianggap bertentangan. Padahal, keduanya sama-sama berangkat dari rasa kagum terhadap alam semesta.

Michio Kaku menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika bekerja dengan kesederhanaan yang luar biasa. Dari gerak planet hingga perilaku partikel elementer, semuanya mengikuti pola yang konsisten. Semakin jauh penelitian berkembang, semakin besar harapan menemukan satu hukum universal yang mampu menjelaskan seluruh alam semesta.

Di sisi lain, Spinoza melihat keteraturan tersebut sebagai ekspresi Keilahian. Sementara Upanishad menyatakan bahwa seluruh jagat raya diselimuti oleh Yang Mahailahi. Dengan demikian, sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan spiritualitas membantu manusia memahami makna dari keteraturan itu.

Dialog semacam ini bukanlah upaya mencampuradukkan sains dengan spiritualitas, melainkan memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling memperkaya. Sains menumbuhkan kekaguman intelektual, sementara spiritualitas menumbuhkan kebijaksanaan moral agar manusia menggunakan pengetahuan tersebut demi kesejahteraan seluruh kehidupan.

Pancamaya Kosha: Perjalanan dari Tubuh Menuju Kesatuan

Konsep Pancamaya Kosha menjelaskan mengapa tidak semua orang mampu mengalami makna Ishavasyam Idam Sarvam.

Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia hanya mengenali dunia sebagai benda-benda fisik. Alam dipandang sebatas sumber pangan, energi, dan kekayaan. Kesadaran masih berpusat pada kebutuhan tubuh.

Ketika berkembang menuju Pranamaya Kosha, manusia mulai menyadari bahwa seluruh makhluk dihidupi oleh energi kehidupan yang sama. Pohon menghasilkan oksigen yang kita hirup. Sungai mengalirkan kehidupan. Matahari memberi energi kepada seluruh bumi. Semua saling menopang.

Pada Manomaya Kosha, Manusia mulai berpikir dan merasakan tentang alam dan dirinya, namun masih terjebak dalam jeratan ego, suka tak suka, dan sebaginya yang sering malah menghancurkan alam dan juga dirinya sendiri.

Pada Vijnanamaya Kosha, lahirlah kebijaksanaan. Manusia memahami bahwa seluruh kehidupan saling terhubung. Tidak ada tindakan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kerusakan yang dilakukan kepada alam pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri.

Puncaknya adalah Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini seseorang mengalami kesatuan dengan seluruh keberadaan. Tidak ada lagi pemisahan antara “aku” dan “alam”. Kesadaran inilah yang menjadikan Ishavasyam Idam Sarvam sebagai pengalaman spiritual yang hidup.

Melayani Alam Berarti Melayani Tuhan

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal konsep Seva, yaitu pelayanan tanpa pamrih. Selama ini banyak orang mengaitkannya hanya dengan pelayanan kepada guru atau tempat ibadah. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Jika seluruh alam adalah manifestasi Ilahi, maka menjaga sungai adalah Seva. Menanam pohon adalah Seva. Mengurangi sampah plastik adalah Seva. Melindungi satwa liar adalah Seva. Mengembangkan pertanian yang menghormati keseimbangan alam juga merupakan Seva.

Filosofi Tri Hita Karana di Bali sesungguhnya telah mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam. Namun pembangunan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi sering kali menggeser keseimbangan tersebut. Sawah berubah menjadi beton, kawasan pesisir kehilangan fungsi ekologisnya, dan ruang-ruang hijau semakin menyempit.

Padahal, ibadah yang sejati tidak berhenti pada ritual. Doa yang tidak diwujudkan dalam kepedulian terhadap kehidupan akan kehilangan makna terdalamnya. Sebaliknya, setiap tindakan yang menjaga bumi merupakan doa yang hidup.

Membangun Peradaban Baru Berbasis Kesadaran

Dunia saat ini sesungguhnya tidak hanya mengalami krisis lingkungan, tetapi juga krisis kesadaran. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kebijaksanaan manusia sering tertinggal. Kita mampu membangun gedung yang menjulang tinggi, tetapi gagal menjaga mata air yang menopang kehidupan. Kita mampu menjelajahi ruang angkasa, tetapi masih kesulitan hidup harmonis dengan alam di bumi.

Karena itu, pesan Ishavasyam Idam Sarvam menjadi semakin relevan. Perjalanan spiritual bukanlah menjauh dari dunia, melainkan belajar melihat dunia dengan kesadaran yang baru. Pancamaya Kosha menunjukkan bahwa semakin tinggi kesadaran seseorang, semakin luas pula kasihnya. Ia tidak lagi mencintai hanya keluarga atau kelompoknya, tetapi seluruh kehidupan.

Inilah titik temu antara kebijaksanaan Upanishad, refleksi Guruji Anand Krishna, filsafat Spinoza, dan pencarian ilmiah Michio Kaku. Semuanya, melalui jalan yang berbeda, mengajak manusia memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang utuh. Perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan: sains berbicara melalui persamaan matematika, filsafat melalui penalaran, sementara spiritualitas melalui pengalaman batin.

Pada akhirnya, Ishavasyam Idam Sarvam bukan sekadar mantra kuno, melainkan sebuah visi peradaban. Peradaban yang tidak mengukur kemajuan hanya dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusianya menghormati kehidupan. Ketika manusia mampu melihat setiap pohon sebagai napas bumi, setiap sungai sebagai aliran kehidupan, setiap makhluk sebagai saudara seperjalanan, dan seluruh alam sebagai manifestasi Yang Mahailahi, maka tidak ada lagi ruang bagi keserakahan.

Di situlah spiritualitas menemukan bentuknya yang paling nyata: melayani alam berarti melayani Tuhan. Sebab, ketika seluruh alam semesta dipahami sebagai wujud Ilahi, setiap tindakan menjaga, merawat, dan mengasihi kehidupan menjadi persembahan suci kepada-Nya. Inilah makna terdalam dari Ishavasyam Idam Sarvam—sebuah ajakan untuk membangun peradaban yang berlandaskan kesadaran, kasih, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan.

Mari menjaga Bali dengan Kesadaran Kolektif, setidaknya bersuara lantang kepada Investor culas dan juga Pimpinan kita yang masih tetap membiarkan pembangunan brutal dan ugal-ugalan, yang merusak alam Bali dan membuat masyarakat lokal terpinggirkan, namun tetap mengapresiasi siapapun yang masih menjaga alam dan budaya Bali.

Satyameva Jayate!!! [T]

Tags: alam semestaSpiritualTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Next Post

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co