11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 28, 2026
in Esai
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |
tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam ||

“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak ini, diselimuti oleh Yang Mahailahi. Oleh karena itu, nikmatilah atau hiduplah dengan semangat tanpa keterikatan. Janganlah mengingini atau serakah terhadap milik siapa pun.”

Perjalanan ilmu pengetahuan modern ternyata semakin sering membawa manusia kembali pada pertanyaan-pertanyaan kuno tentang hakikat alam semesta. Fisikawan teoretis Michio Kaku, melalui karya-karyanya seperti The God Equation, The Future of the Mind, dan Hyperspace, menunjukkan bahwa semakin dalam manusia menyingkap hukum-hukum alam, semakin tampak keteraturan, kesederhanaan, dan harmoni yang menakjubkan. Alam semesta bukanlah kumpulan peristiwa yang terjadi secara acak, melainkan sebuah tatanan kosmis yang bekerja menurut hukum-hukum universal yang elegan. Semakin dalam sains menyelami realitas, semakin kuat pula rasa takjub terhadap kesatuan yang menopang seluruh keberadaan.

Pandangan tersebut mengingatkan kita pada filsafat Baruch Spinoza, yang memandang Tuhan hadir melalui seluruh realitas alam. Keindahan galaksi, keteraturan hukum fisika, simetri matematika, dan keharmonisan kehidupan merupakan ungkapan dari Realitas Tertinggi. Menariknya, jauh sebelum sains modern berkembang, Isha Upanishad telah mengumandangkan sebuah mahavakya yang sangat agung:

Ishavasyam Idam Sarvam Yat Kincha Jagatyam Jagat—“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak maupun yang tidak bergerak, diselimuti oleh Yang Mahailahi.”

Mahavakya ini bukan sekadar ajaran metafisika, melainkan cara hidup. Alam dan seluruh manifestasinya adalah wujud Ilahi. Karena itu, melayani kehidupan berarti melayani Tuhan. Menjaga hutan, membersihkan sungai, merawat laut, melindungi satwa, dan mengasihi sesama bukan hanya tindakan sosial atau ekologis, tetapi merupakan seva, pelayanan kepada Yang Mahailahi. Spiritualitas tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi diwujudkan dalam kasih yang nyata kepada seluruh ciptaan.

Melihat Tuhan dalam Seluruh Kehidupan

“Ishavasyam Idam Sarvam” mengubah secara mendasar cara manusia memandang dunia. Alam bukanlah objek mati yang bebas dieksploitasi, melainkan ruang suci tempat Kehadiran Ilahi memanifestasikan diri. Gunung bukan hanya cadangan mineral. Sungai bukan sekadar sumber air. Laut bukan sekadar kawasan ekonomi. Pepohonan bukan hanya kayu. Bahkan setiap makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki nilai intrinsik karena semuanya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama.

Sayangnya, peradaban modern justru sering memandang alam sebagai komoditas. Nilai suatu hutan diukur dari jumlah kayunya, nilai sungai dari potensi industrinya, dan nilai pantai dari harga investasinya. Cara pandang seperti ini melahirkan eksploitasi yang akhirnya berbalik menjadi krisis iklim, banjir, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai bencana ekologis.

Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa selama manusia gagal melihat dimensi ilahi dalam alam, ia akan terus merusaknya. Sebaliknya, ketika manusia mampu melihat Tuhan dalam setiap bentuk kehidupan, rasa hormat akan muncul secara alami. Saat itulah spiritualitas tidak lagi menjadi teori, tetapi menjadi perilaku sehari-hari.

Harmoni Kosmos: Ketika Sains Bertemu Spiritualitas

Ilmu pengetahuan modern dan spiritualitas sering dianggap bertentangan. Padahal, keduanya sama-sama berangkat dari rasa kagum terhadap alam semesta.

Michio Kaku menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika bekerja dengan kesederhanaan yang luar biasa. Dari gerak planet hingga perilaku partikel elementer, semuanya mengikuti pola yang konsisten. Semakin jauh penelitian berkembang, semakin besar harapan menemukan satu hukum universal yang mampu menjelaskan seluruh alam semesta.

Di sisi lain, Spinoza melihat keteraturan tersebut sebagai ekspresi Keilahian. Sementara Upanishad menyatakan bahwa seluruh jagat raya diselimuti oleh Yang Mahailahi. Dengan demikian, sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan spiritualitas membantu manusia memahami makna dari keteraturan itu.

Dialog semacam ini bukanlah upaya mencampuradukkan sains dengan spiritualitas, melainkan memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling memperkaya. Sains menumbuhkan kekaguman intelektual, sementara spiritualitas menumbuhkan kebijaksanaan moral agar manusia menggunakan pengetahuan tersebut demi kesejahteraan seluruh kehidupan.

Pancamaya Kosha: Perjalanan dari Tubuh Menuju Kesatuan

Konsep Pancamaya Kosha menjelaskan mengapa tidak semua orang mampu mengalami makna Ishavasyam Idam Sarvam.

Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia hanya mengenali dunia sebagai benda-benda fisik. Alam dipandang sebatas sumber pangan, energi, dan kekayaan. Kesadaran masih berpusat pada kebutuhan tubuh.

Ketika berkembang menuju Pranamaya Kosha, manusia mulai menyadari bahwa seluruh makhluk dihidupi oleh energi kehidupan yang sama. Pohon menghasilkan oksigen yang kita hirup. Sungai mengalirkan kehidupan. Matahari memberi energi kepada seluruh bumi. Semua saling menopang.

Pada Manomaya Kosha, Manusia mulai berpikir dan merasakan tentang alam dan dirinya, namun masih terjebak dalam jeratan ego, suka tak suka, dan sebaginya yang sering malah menghancurkan alam dan juga dirinya sendiri.

Pada Vijnanamaya Kosha, lahirlah kebijaksanaan. Manusia memahami bahwa seluruh kehidupan saling terhubung. Tidak ada tindakan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kerusakan yang dilakukan kepada alam pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri.

Puncaknya adalah Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini seseorang mengalami kesatuan dengan seluruh keberadaan. Tidak ada lagi pemisahan antara “aku” dan “alam”. Kesadaran inilah yang menjadikan Ishavasyam Idam Sarvam sebagai pengalaman spiritual yang hidup.

Melayani Alam Berarti Melayani Tuhan

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal konsep Seva, yaitu pelayanan tanpa pamrih. Selama ini banyak orang mengaitkannya hanya dengan pelayanan kepada guru atau tempat ibadah. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Jika seluruh alam adalah manifestasi Ilahi, maka menjaga sungai adalah Seva. Menanam pohon adalah Seva. Mengurangi sampah plastik adalah Seva. Melindungi satwa liar adalah Seva. Mengembangkan pertanian yang menghormati keseimbangan alam juga merupakan Seva.

Filosofi Tri Hita Karana di Bali sesungguhnya telah mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam. Namun pembangunan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi sering kali menggeser keseimbangan tersebut. Sawah berubah menjadi beton, kawasan pesisir kehilangan fungsi ekologisnya, dan ruang-ruang hijau semakin menyempit.

Padahal, ibadah yang sejati tidak berhenti pada ritual. Doa yang tidak diwujudkan dalam kepedulian terhadap kehidupan akan kehilangan makna terdalamnya. Sebaliknya, setiap tindakan yang menjaga bumi merupakan doa yang hidup.

Membangun Peradaban Baru Berbasis Kesadaran

Dunia saat ini sesungguhnya tidak hanya mengalami krisis lingkungan, tetapi juga krisis kesadaran. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kebijaksanaan manusia sering tertinggal. Kita mampu membangun gedung yang menjulang tinggi, tetapi gagal menjaga mata air yang menopang kehidupan. Kita mampu menjelajahi ruang angkasa, tetapi masih kesulitan hidup harmonis dengan alam di bumi.

Karena itu, pesan Ishavasyam Idam Sarvam menjadi semakin relevan. Perjalanan spiritual bukanlah menjauh dari dunia, melainkan belajar melihat dunia dengan kesadaran yang baru. Pancamaya Kosha menunjukkan bahwa semakin tinggi kesadaran seseorang, semakin luas pula kasihnya. Ia tidak lagi mencintai hanya keluarga atau kelompoknya, tetapi seluruh kehidupan.

Inilah titik temu antara kebijaksanaan Upanishad, refleksi Guruji Anand Krishna, filsafat Spinoza, dan pencarian ilmiah Michio Kaku. Semuanya, melalui jalan yang berbeda, mengajak manusia memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang utuh. Perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan: sains berbicara melalui persamaan matematika, filsafat melalui penalaran, sementara spiritualitas melalui pengalaman batin.

Pada akhirnya, Ishavasyam Idam Sarvam bukan sekadar mantra kuno, melainkan sebuah visi peradaban. Peradaban yang tidak mengukur kemajuan hanya dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusianya menghormati kehidupan. Ketika manusia mampu melihat setiap pohon sebagai napas bumi, setiap sungai sebagai aliran kehidupan, setiap makhluk sebagai saudara seperjalanan, dan seluruh alam sebagai manifestasi Yang Mahailahi, maka tidak ada lagi ruang bagi keserakahan.

Di situlah spiritualitas menemukan bentuknya yang paling nyata: melayani alam berarti melayani Tuhan. Sebab, ketika seluruh alam semesta dipahami sebagai wujud Ilahi, setiap tindakan menjaga, merawat, dan mengasihi kehidupan menjadi persembahan suci kepada-Nya. Inilah makna terdalam dari Ishavasyam Idam Sarvam—sebuah ajakan untuk membangun peradaban yang berlandaskan kesadaran, kasih, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan.

Mari menjaga Bali dengan Kesadaran Kolektif, setidaknya bersuara lantang kepada Investor culas dan juga Pimpinan kita yang masih tetap membiarkan pembangunan brutal dan ugal-ugalan, yang merusak alam Bali dan membuat masyarakat lokal terpinggirkan, namun tetap mengapresiasi siapapun yang masih menjaga alam dan budaya Bali.

Satyameva Jayate!!! [T]

Tags: alam semestaSpiritualTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Next Post

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co