2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 28, 2026
in Esai
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |
tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam ||

“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak ini, diselimuti oleh Yang Mahailahi. Oleh karena itu, nikmatilah atau hiduplah dengan semangat tanpa keterikatan. Janganlah mengingini atau serakah terhadap milik siapa pun.”

Perjalanan ilmu pengetahuan modern ternyata semakin sering membawa manusia kembali pada pertanyaan-pertanyaan kuno tentang hakikat alam semesta. Fisikawan teoretis Michio Kaku, melalui karya-karyanya seperti The God Equation, The Future of the Mind, dan Hyperspace, menunjukkan bahwa semakin dalam manusia menyingkap hukum-hukum alam, semakin tampak keteraturan, kesederhanaan, dan harmoni yang menakjubkan. Alam semesta bukanlah kumpulan peristiwa yang terjadi secara acak, melainkan sebuah tatanan kosmis yang bekerja menurut hukum-hukum universal yang elegan. Semakin dalam sains menyelami realitas, semakin kuat pula rasa takjub terhadap kesatuan yang menopang seluruh keberadaan.

Pandangan tersebut mengingatkan kita pada filsafat Baruch Spinoza, yang memandang Tuhan hadir melalui seluruh realitas alam. Keindahan galaksi, keteraturan hukum fisika, simetri matematika, dan keharmonisan kehidupan merupakan ungkapan dari Realitas Tertinggi. Menariknya, jauh sebelum sains modern berkembang, Isha Upanishad telah mengumandangkan sebuah mahavakya yang sangat agung:

Ishavasyam Idam Sarvam Yat Kincha Jagatyam Jagat—“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak maupun yang tidak bergerak, diselimuti oleh Yang Mahailahi.”

Mahavakya ini bukan sekadar ajaran metafisika, melainkan cara hidup. Alam dan seluruh manifestasinya adalah wujud Ilahi. Karena itu, melayani kehidupan berarti melayani Tuhan. Menjaga hutan, membersihkan sungai, merawat laut, melindungi satwa, dan mengasihi sesama bukan hanya tindakan sosial atau ekologis, tetapi merupakan seva, pelayanan kepada Yang Mahailahi. Spiritualitas tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi diwujudkan dalam kasih yang nyata kepada seluruh ciptaan.

Melihat Tuhan dalam Seluruh Kehidupan

“Ishavasyam Idam Sarvam” mengubah secara mendasar cara manusia memandang dunia. Alam bukanlah objek mati yang bebas dieksploitasi, melainkan ruang suci tempat Kehadiran Ilahi memanifestasikan diri. Gunung bukan hanya cadangan mineral. Sungai bukan sekadar sumber air. Laut bukan sekadar kawasan ekonomi. Pepohonan bukan hanya kayu. Bahkan setiap makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki nilai intrinsik karena semuanya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama.

Sayangnya, peradaban modern justru sering memandang alam sebagai komoditas. Nilai suatu hutan diukur dari jumlah kayunya, nilai sungai dari potensi industrinya, dan nilai pantai dari harga investasinya. Cara pandang seperti ini melahirkan eksploitasi yang akhirnya berbalik menjadi krisis iklim, banjir, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai bencana ekologis.

Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa selama manusia gagal melihat dimensi ilahi dalam alam, ia akan terus merusaknya. Sebaliknya, ketika manusia mampu melihat Tuhan dalam setiap bentuk kehidupan, rasa hormat akan muncul secara alami. Saat itulah spiritualitas tidak lagi menjadi teori, tetapi menjadi perilaku sehari-hari.

Harmoni Kosmos: Ketika Sains Bertemu Spiritualitas

Ilmu pengetahuan modern dan spiritualitas sering dianggap bertentangan. Padahal, keduanya sama-sama berangkat dari rasa kagum terhadap alam semesta.

Michio Kaku menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika bekerja dengan kesederhanaan yang luar biasa. Dari gerak planet hingga perilaku partikel elementer, semuanya mengikuti pola yang konsisten. Semakin jauh penelitian berkembang, semakin besar harapan menemukan satu hukum universal yang mampu menjelaskan seluruh alam semesta.

Di sisi lain, Spinoza melihat keteraturan tersebut sebagai ekspresi Keilahian. Sementara Upanishad menyatakan bahwa seluruh jagat raya diselimuti oleh Yang Mahailahi. Dengan demikian, sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan spiritualitas membantu manusia memahami makna dari keteraturan itu.

Dialog semacam ini bukanlah upaya mencampuradukkan sains dengan spiritualitas, melainkan memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling memperkaya. Sains menumbuhkan kekaguman intelektual, sementara spiritualitas menumbuhkan kebijaksanaan moral agar manusia menggunakan pengetahuan tersebut demi kesejahteraan seluruh kehidupan.

Pancamaya Kosha: Perjalanan dari Tubuh Menuju Kesatuan

Konsep Pancamaya Kosha menjelaskan mengapa tidak semua orang mampu mengalami makna Ishavasyam Idam Sarvam.

Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia hanya mengenali dunia sebagai benda-benda fisik. Alam dipandang sebatas sumber pangan, energi, dan kekayaan. Kesadaran masih berpusat pada kebutuhan tubuh.

Ketika berkembang menuju Pranamaya Kosha, manusia mulai menyadari bahwa seluruh makhluk dihidupi oleh energi kehidupan yang sama. Pohon menghasilkan oksigen yang kita hirup. Sungai mengalirkan kehidupan. Matahari memberi energi kepada seluruh bumi. Semua saling menopang.

Pada Manomaya Kosha, Manusia mulai berpikir dan merasakan tentang alam dan dirinya, namun masih terjebak dalam jeratan ego, suka tak suka, dan sebaginya yang sering malah menghancurkan alam dan juga dirinya sendiri.

Pada Vijnanamaya Kosha, lahirlah kebijaksanaan. Manusia memahami bahwa seluruh kehidupan saling terhubung. Tidak ada tindakan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kerusakan yang dilakukan kepada alam pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri.

Puncaknya adalah Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini seseorang mengalami kesatuan dengan seluruh keberadaan. Tidak ada lagi pemisahan antara “aku” dan “alam”. Kesadaran inilah yang menjadikan Ishavasyam Idam Sarvam sebagai pengalaman spiritual yang hidup.

Melayani Alam Berarti Melayani Tuhan

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal konsep Seva, yaitu pelayanan tanpa pamrih. Selama ini banyak orang mengaitkannya hanya dengan pelayanan kepada guru atau tempat ibadah. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Jika seluruh alam adalah manifestasi Ilahi, maka menjaga sungai adalah Seva. Menanam pohon adalah Seva. Mengurangi sampah plastik adalah Seva. Melindungi satwa liar adalah Seva. Mengembangkan pertanian yang menghormati keseimbangan alam juga merupakan Seva.

Filosofi Tri Hita Karana di Bali sesungguhnya telah mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam. Namun pembangunan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi sering kali menggeser keseimbangan tersebut. Sawah berubah menjadi beton, kawasan pesisir kehilangan fungsi ekologisnya, dan ruang-ruang hijau semakin menyempit.

Padahal, ibadah yang sejati tidak berhenti pada ritual. Doa yang tidak diwujudkan dalam kepedulian terhadap kehidupan akan kehilangan makna terdalamnya. Sebaliknya, setiap tindakan yang menjaga bumi merupakan doa yang hidup.

Membangun Peradaban Baru Berbasis Kesadaran

Dunia saat ini sesungguhnya tidak hanya mengalami krisis lingkungan, tetapi juga krisis kesadaran. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kebijaksanaan manusia sering tertinggal. Kita mampu membangun gedung yang menjulang tinggi, tetapi gagal menjaga mata air yang menopang kehidupan. Kita mampu menjelajahi ruang angkasa, tetapi masih kesulitan hidup harmonis dengan alam di bumi.

Karena itu, pesan Ishavasyam Idam Sarvam menjadi semakin relevan. Perjalanan spiritual bukanlah menjauh dari dunia, melainkan belajar melihat dunia dengan kesadaran yang baru. Pancamaya Kosha menunjukkan bahwa semakin tinggi kesadaran seseorang, semakin luas pula kasihnya. Ia tidak lagi mencintai hanya keluarga atau kelompoknya, tetapi seluruh kehidupan.

Inilah titik temu antara kebijaksanaan Upanishad, refleksi Guruji Anand Krishna, filsafat Spinoza, dan pencarian ilmiah Michio Kaku. Semuanya, melalui jalan yang berbeda, mengajak manusia memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang utuh. Perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan: sains berbicara melalui persamaan matematika, filsafat melalui penalaran, sementara spiritualitas melalui pengalaman batin.

Pada akhirnya, Ishavasyam Idam Sarvam bukan sekadar mantra kuno, melainkan sebuah visi peradaban. Peradaban yang tidak mengukur kemajuan hanya dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusianya menghormati kehidupan. Ketika manusia mampu melihat setiap pohon sebagai napas bumi, setiap sungai sebagai aliran kehidupan, setiap makhluk sebagai saudara seperjalanan, dan seluruh alam sebagai manifestasi Yang Mahailahi, maka tidak ada lagi ruang bagi keserakahan.

Di situlah spiritualitas menemukan bentuknya yang paling nyata: melayani alam berarti melayani Tuhan. Sebab, ketika seluruh alam semesta dipahami sebagai wujud Ilahi, setiap tindakan menjaga, merawat, dan mengasihi kehidupan menjadi persembahan suci kepada-Nya. Inilah makna terdalam dari Ishavasyam Idam Sarvam—sebuah ajakan untuk membangun peradaban yang berlandaskan kesadaran, kasih, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan.

Mari menjaga Bali dengan Kesadaran Kolektif, setidaknya bersuara lantang kepada Investor culas dan juga Pimpinan kita yang masih tetap membiarkan pembangunan brutal dan ugal-ugalan, yang merusak alam Bali dan membuat masyarakat lokal terpinggirkan, namun tetap mengapresiasi siapapun yang masih menjaga alam dan budaya Bali.

Satyameva Jayate!!! [T]

Tags: alam semestaSpiritualTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Next Post

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co