31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 28, 2026
in Esai
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |
tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam ||

“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak ini, diselimuti oleh Yang Mahailahi. Oleh karena itu, nikmatilah atau hiduplah dengan semangat tanpa keterikatan. Janganlah mengingini atau serakah terhadap milik siapa pun.”

Perjalanan ilmu pengetahuan modern ternyata semakin sering membawa manusia kembali pada pertanyaan-pertanyaan kuno tentang hakikat alam semesta. Fisikawan teoretis Michio Kaku, melalui karya-karyanya seperti The God Equation, The Future of the Mind, dan Hyperspace, menunjukkan bahwa semakin dalam manusia menyingkap hukum-hukum alam, semakin tampak keteraturan, kesederhanaan, dan harmoni yang menakjubkan. Alam semesta bukanlah kumpulan peristiwa yang terjadi secara acak, melainkan sebuah tatanan kosmis yang bekerja menurut hukum-hukum universal yang elegan. Semakin dalam sains menyelami realitas, semakin kuat pula rasa takjub terhadap kesatuan yang menopang seluruh keberadaan.

Pandangan tersebut mengingatkan kita pada filsafat Baruch Spinoza, yang memandang Tuhan hadir melalui seluruh realitas alam. Keindahan galaksi, keteraturan hukum fisika, simetri matematika, dan keharmonisan kehidupan merupakan ungkapan dari Realitas Tertinggi. Menariknya, jauh sebelum sains modern berkembang, Isha Upanishad telah mengumandangkan sebuah mahavakya yang sangat agung:

Ishavasyam Idam Sarvam Yat Kincha Jagatyam Jagat—“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak maupun yang tidak bergerak, diselimuti oleh Yang Mahailahi.”

Mahavakya ini bukan sekadar ajaran metafisika, melainkan cara hidup. Alam dan seluruh manifestasinya adalah wujud Ilahi. Karena itu, melayani kehidupan berarti melayani Tuhan. Menjaga hutan, membersihkan sungai, merawat laut, melindungi satwa, dan mengasihi sesama bukan hanya tindakan sosial atau ekologis, tetapi merupakan seva, pelayanan kepada Yang Mahailahi. Spiritualitas tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi diwujudkan dalam kasih yang nyata kepada seluruh ciptaan.

Melihat Tuhan dalam Seluruh Kehidupan

“Ishavasyam Idam Sarvam” mengubah secara mendasar cara manusia memandang dunia. Alam bukanlah objek mati yang bebas dieksploitasi, melainkan ruang suci tempat Kehadiran Ilahi memanifestasikan diri. Gunung bukan hanya cadangan mineral. Sungai bukan sekadar sumber air. Laut bukan sekadar kawasan ekonomi. Pepohonan bukan hanya kayu. Bahkan setiap makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki nilai intrinsik karena semuanya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama.

Sayangnya, peradaban modern justru sering memandang alam sebagai komoditas. Nilai suatu hutan diukur dari jumlah kayunya, nilai sungai dari potensi industrinya, dan nilai pantai dari harga investasinya. Cara pandang seperti ini melahirkan eksploitasi yang akhirnya berbalik menjadi krisis iklim, banjir, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai bencana ekologis.

Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa selama manusia gagal melihat dimensi ilahi dalam alam, ia akan terus merusaknya. Sebaliknya, ketika manusia mampu melihat Tuhan dalam setiap bentuk kehidupan, rasa hormat akan muncul secara alami. Saat itulah spiritualitas tidak lagi menjadi teori, tetapi menjadi perilaku sehari-hari.

Harmoni Kosmos: Ketika Sains Bertemu Spiritualitas

Ilmu pengetahuan modern dan spiritualitas sering dianggap bertentangan. Padahal, keduanya sama-sama berangkat dari rasa kagum terhadap alam semesta.

Michio Kaku menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika bekerja dengan kesederhanaan yang luar biasa. Dari gerak planet hingga perilaku partikel elementer, semuanya mengikuti pola yang konsisten. Semakin jauh penelitian berkembang, semakin besar harapan menemukan satu hukum universal yang mampu menjelaskan seluruh alam semesta.

Di sisi lain, Spinoza melihat keteraturan tersebut sebagai ekspresi Keilahian. Sementara Upanishad menyatakan bahwa seluruh jagat raya diselimuti oleh Yang Mahailahi. Dengan demikian, sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan spiritualitas membantu manusia memahami makna dari keteraturan itu.

Dialog semacam ini bukanlah upaya mencampuradukkan sains dengan spiritualitas, melainkan memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling memperkaya. Sains menumbuhkan kekaguman intelektual, sementara spiritualitas menumbuhkan kebijaksanaan moral agar manusia menggunakan pengetahuan tersebut demi kesejahteraan seluruh kehidupan.

Pancamaya Kosha: Perjalanan dari Tubuh Menuju Kesatuan

Konsep Pancamaya Kosha menjelaskan mengapa tidak semua orang mampu mengalami makna Ishavasyam Idam Sarvam.

Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia hanya mengenali dunia sebagai benda-benda fisik. Alam dipandang sebatas sumber pangan, energi, dan kekayaan. Kesadaran masih berpusat pada kebutuhan tubuh.

Ketika berkembang menuju Pranamaya Kosha, manusia mulai menyadari bahwa seluruh makhluk dihidupi oleh energi kehidupan yang sama. Pohon menghasilkan oksigen yang kita hirup. Sungai mengalirkan kehidupan. Matahari memberi energi kepada seluruh bumi. Semua saling menopang.

Pada Manomaya Kosha, Manusia mulai berpikir dan merasakan tentang alam dan dirinya, namun masih terjebak dalam jeratan ego, suka tak suka, dan sebaginya yang sering malah menghancurkan alam dan juga dirinya sendiri.

Pada Vijnanamaya Kosha, lahirlah kebijaksanaan. Manusia memahami bahwa seluruh kehidupan saling terhubung. Tidak ada tindakan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kerusakan yang dilakukan kepada alam pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri.

Puncaknya adalah Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini seseorang mengalami kesatuan dengan seluruh keberadaan. Tidak ada lagi pemisahan antara “aku” dan “alam”. Kesadaran inilah yang menjadikan Ishavasyam Idam Sarvam sebagai pengalaman spiritual yang hidup.

Melayani Alam Berarti Melayani Tuhan

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal konsep Seva, yaitu pelayanan tanpa pamrih. Selama ini banyak orang mengaitkannya hanya dengan pelayanan kepada guru atau tempat ibadah. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Jika seluruh alam adalah manifestasi Ilahi, maka menjaga sungai adalah Seva. Menanam pohon adalah Seva. Mengurangi sampah plastik adalah Seva. Melindungi satwa liar adalah Seva. Mengembangkan pertanian yang menghormati keseimbangan alam juga merupakan Seva.

Filosofi Tri Hita Karana di Bali sesungguhnya telah mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam. Namun pembangunan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi sering kali menggeser keseimbangan tersebut. Sawah berubah menjadi beton, kawasan pesisir kehilangan fungsi ekologisnya, dan ruang-ruang hijau semakin menyempit.

Padahal, ibadah yang sejati tidak berhenti pada ritual. Doa yang tidak diwujudkan dalam kepedulian terhadap kehidupan akan kehilangan makna terdalamnya. Sebaliknya, setiap tindakan yang menjaga bumi merupakan doa yang hidup.

Membangun Peradaban Baru Berbasis Kesadaran

Dunia saat ini sesungguhnya tidak hanya mengalami krisis lingkungan, tetapi juga krisis kesadaran. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kebijaksanaan manusia sering tertinggal. Kita mampu membangun gedung yang menjulang tinggi, tetapi gagal menjaga mata air yang menopang kehidupan. Kita mampu menjelajahi ruang angkasa, tetapi masih kesulitan hidup harmonis dengan alam di bumi.

Karena itu, pesan Ishavasyam Idam Sarvam menjadi semakin relevan. Perjalanan spiritual bukanlah menjauh dari dunia, melainkan belajar melihat dunia dengan kesadaran yang baru. Pancamaya Kosha menunjukkan bahwa semakin tinggi kesadaran seseorang, semakin luas pula kasihnya. Ia tidak lagi mencintai hanya keluarga atau kelompoknya, tetapi seluruh kehidupan.

Inilah titik temu antara kebijaksanaan Upanishad, refleksi Guruji Anand Krishna, filsafat Spinoza, dan pencarian ilmiah Michio Kaku. Semuanya, melalui jalan yang berbeda, mengajak manusia memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang utuh. Perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan: sains berbicara melalui persamaan matematika, filsafat melalui penalaran, sementara spiritualitas melalui pengalaman batin.

Pada akhirnya, Ishavasyam Idam Sarvam bukan sekadar mantra kuno, melainkan sebuah visi peradaban. Peradaban yang tidak mengukur kemajuan hanya dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusianya menghormati kehidupan. Ketika manusia mampu melihat setiap pohon sebagai napas bumi, setiap sungai sebagai aliran kehidupan, setiap makhluk sebagai saudara seperjalanan, dan seluruh alam sebagai manifestasi Yang Mahailahi, maka tidak ada lagi ruang bagi keserakahan.

Di situlah spiritualitas menemukan bentuknya yang paling nyata: melayani alam berarti melayani Tuhan. Sebab, ketika seluruh alam semesta dipahami sebagai wujud Ilahi, setiap tindakan menjaga, merawat, dan mengasihi kehidupan menjadi persembahan suci kepada-Nya. Inilah makna terdalam dari Ishavasyam Idam Sarvam—sebuah ajakan untuk membangun peradaban yang berlandaskan kesadaran, kasih, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan.

Mari menjaga Bali dengan Kesadaran Kolektif, setidaknya bersuara lantang kepada Investor culas dan juga Pimpinan kita yang masih tetap membiarkan pembangunan brutal dan ugal-ugalan, yang merusak alam Bali dan membuat masyarakat lokal terpinggirkan, namun tetap mengapresiasi siapapun yang masih menjaga alam dan budaya Bali.

Satyameva Jayate!!! [T]

Tags: alam semestaSpiritualTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Next Post

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co