21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 28, 2026
in Esai
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |
tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam ||

“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak ini, diselimuti oleh Yang Mahailahi. Oleh karena itu, nikmatilah atau hiduplah dengan semangat tanpa keterikatan. Janganlah mengingini atau serakah terhadap milik siapa pun.”

Perjalanan ilmu pengetahuan modern ternyata semakin sering membawa manusia kembali pada pertanyaan-pertanyaan kuno tentang hakikat alam semesta. Fisikawan teoretis Michio Kaku, melalui karya-karyanya seperti The God Equation, The Future of the Mind, dan Hyperspace, menunjukkan bahwa semakin dalam manusia menyingkap hukum-hukum alam, semakin tampak keteraturan, kesederhanaan, dan harmoni yang menakjubkan. Alam semesta bukanlah kumpulan peristiwa yang terjadi secara acak, melainkan sebuah tatanan kosmis yang bekerja menurut hukum-hukum universal yang elegan. Semakin dalam sains menyelami realitas, semakin kuat pula rasa takjub terhadap kesatuan yang menopang seluruh keberadaan.

Pandangan tersebut mengingatkan kita pada filsafat Baruch Spinoza, yang memandang Tuhan hadir melalui seluruh realitas alam. Keindahan galaksi, keteraturan hukum fisika, simetri matematika, dan keharmonisan kehidupan merupakan ungkapan dari Realitas Tertinggi. Menariknya, jauh sebelum sains modern berkembang, Isha Upanishad telah mengumandangkan sebuah mahavakya yang sangat agung:

Ishavasyam Idam Sarvam Yat Kincha Jagatyam Jagat—“Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak maupun yang tidak bergerak, diselimuti oleh Yang Mahailahi.”

Mahavakya ini bukan sekadar ajaran metafisika, melainkan cara hidup. Alam dan seluruh manifestasinya adalah wujud Ilahi. Karena itu, melayani kehidupan berarti melayani Tuhan. Menjaga hutan, membersihkan sungai, merawat laut, melindungi satwa, dan mengasihi sesama bukan hanya tindakan sosial atau ekologis, tetapi merupakan seva, pelayanan kepada Yang Mahailahi. Spiritualitas tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi diwujudkan dalam kasih yang nyata kepada seluruh ciptaan.

Melihat Tuhan dalam Seluruh Kehidupan

“Ishavasyam Idam Sarvam” mengubah secara mendasar cara manusia memandang dunia. Alam bukanlah objek mati yang bebas dieksploitasi, melainkan ruang suci tempat Kehadiran Ilahi memanifestasikan diri. Gunung bukan hanya cadangan mineral. Sungai bukan sekadar sumber air. Laut bukan sekadar kawasan ekonomi. Pepohonan bukan hanya kayu. Bahkan setiap makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki nilai intrinsik karena semuanya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama.

Sayangnya, peradaban modern justru sering memandang alam sebagai komoditas. Nilai suatu hutan diukur dari jumlah kayunya, nilai sungai dari potensi industrinya, dan nilai pantai dari harga investasinya. Cara pandang seperti ini melahirkan eksploitasi yang akhirnya berbalik menjadi krisis iklim, banjir, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berbagai bencana ekologis.

Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa selama manusia gagal melihat dimensi ilahi dalam alam, ia akan terus merusaknya. Sebaliknya, ketika manusia mampu melihat Tuhan dalam setiap bentuk kehidupan, rasa hormat akan muncul secara alami. Saat itulah spiritualitas tidak lagi menjadi teori, tetapi menjadi perilaku sehari-hari.

Harmoni Kosmos: Ketika Sains Bertemu Spiritualitas

Ilmu pengetahuan modern dan spiritualitas sering dianggap bertentangan. Padahal, keduanya sama-sama berangkat dari rasa kagum terhadap alam semesta.

Michio Kaku menunjukkan bahwa hukum-hukum fisika bekerja dengan kesederhanaan yang luar biasa. Dari gerak planet hingga perilaku partikel elementer, semuanya mengikuti pola yang konsisten. Semakin jauh penelitian berkembang, semakin besar harapan menemukan satu hukum universal yang mampu menjelaskan seluruh alam semesta.

Di sisi lain, Spinoza melihat keteraturan tersebut sebagai ekspresi Keilahian. Sementara Upanishad menyatakan bahwa seluruh jagat raya diselimuti oleh Yang Mahailahi. Dengan demikian, sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan spiritualitas membantu manusia memahami makna dari keteraturan itu.

Dialog semacam ini bukanlah upaya mencampuradukkan sains dengan spiritualitas, melainkan memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling memperkaya. Sains menumbuhkan kekaguman intelektual, sementara spiritualitas menumbuhkan kebijaksanaan moral agar manusia menggunakan pengetahuan tersebut demi kesejahteraan seluruh kehidupan.

Pancamaya Kosha: Perjalanan dari Tubuh Menuju Kesatuan

Konsep Pancamaya Kosha menjelaskan mengapa tidak semua orang mampu mengalami makna Ishavasyam Idam Sarvam.

Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia hanya mengenali dunia sebagai benda-benda fisik. Alam dipandang sebatas sumber pangan, energi, dan kekayaan. Kesadaran masih berpusat pada kebutuhan tubuh.

Ketika berkembang menuju Pranamaya Kosha, manusia mulai menyadari bahwa seluruh makhluk dihidupi oleh energi kehidupan yang sama. Pohon menghasilkan oksigen yang kita hirup. Sungai mengalirkan kehidupan. Matahari memberi energi kepada seluruh bumi. Semua saling menopang.

Pada Manomaya Kosha, Manusia mulai berpikir dan merasakan tentang alam dan dirinya, namun masih terjebak dalam jeratan ego, suka tak suka, dan sebaginya yang sering malah menghancurkan alam dan juga dirinya sendiri.

Pada Vijnanamaya Kosha, lahirlah kebijaksanaan. Manusia memahami bahwa seluruh kehidupan saling terhubung. Tidak ada tindakan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap kerusakan yang dilakukan kepada alam pada akhirnya kembali kepada manusia sendiri.

Puncaknya adalah Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini seseorang mengalami kesatuan dengan seluruh keberadaan. Tidak ada lagi pemisahan antara “aku” dan “alam”. Kesadaran inilah yang menjadikan Ishavasyam Idam Sarvam sebagai pengalaman spiritual yang hidup.

Melayani Alam Berarti Melayani Tuhan

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal konsep Seva, yaitu pelayanan tanpa pamrih. Selama ini banyak orang mengaitkannya hanya dengan pelayanan kepada guru atau tempat ibadah. Padahal maknanya jauh lebih luas.

Jika seluruh alam adalah manifestasi Ilahi, maka menjaga sungai adalah Seva. Menanam pohon adalah Seva. Mengurangi sampah plastik adalah Seva. Melindungi satwa liar adalah Seva. Mengembangkan pertanian yang menghormati keseimbangan alam juga merupakan Seva.

Filosofi Tri Hita Karana di Bali sesungguhnya telah mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam. Namun pembangunan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi sering kali menggeser keseimbangan tersebut. Sawah berubah menjadi beton, kawasan pesisir kehilangan fungsi ekologisnya, dan ruang-ruang hijau semakin menyempit.

Padahal, ibadah yang sejati tidak berhenti pada ritual. Doa yang tidak diwujudkan dalam kepedulian terhadap kehidupan akan kehilangan makna terdalamnya. Sebaliknya, setiap tindakan yang menjaga bumi merupakan doa yang hidup.

Membangun Peradaban Baru Berbasis Kesadaran

Dunia saat ini sesungguhnya tidak hanya mengalami krisis lingkungan, tetapi juga krisis kesadaran. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi kebijaksanaan manusia sering tertinggal. Kita mampu membangun gedung yang menjulang tinggi, tetapi gagal menjaga mata air yang menopang kehidupan. Kita mampu menjelajahi ruang angkasa, tetapi masih kesulitan hidup harmonis dengan alam di bumi.

Karena itu, pesan Ishavasyam Idam Sarvam menjadi semakin relevan. Perjalanan spiritual bukanlah menjauh dari dunia, melainkan belajar melihat dunia dengan kesadaran yang baru. Pancamaya Kosha menunjukkan bahwa semakin tinggi kesadaran seseorang, semakin luas pula kasihnya. Ia tidak lagi mencintai hanya keluarga atau kelompoknya, tetapi seluruh kehidupan.

Inilah titik temu antara kebijaksanaan Upanishad, refleksi Guruji Anand Krishna, filsafat Spinoza, dan pencarian ilmiah Michio Kaku. Semuanya, melalui jalan yang berbeda, mengajak manusia memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang utuh. Perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan: sains berbicara melalui persamaan matematika, filsafat melalui penalaran, sementara spiritualitas melalui pengalaman batin.

Pada akhirnya, Ishavasyam Idam Sarvam bukan sekadar mantra kuno, melainkan sebuah visi peradaban. Peradaban yang tidak mengukur kemajuan hanya dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusianya menghormati kehidupan. Ketika manusia mampu melihat setiap pohon sebagai napas bumi, setiap sungai sebagai aliran kehidupan, setiap makhluk sebagai saudara seperjalanan, dan seluruh alam sebagai manifestasi Yang Mahailahi, maka tidak ada lagi ruang bagi keserakahan.

Di situlah spiritualitas menemukan bentuknya yang paling nyata: melayani alam berarti melayani Tuhan. Sebab, ketika seluruh alam semesta dipahami sebagai wujud Ilahi, setiap tindakan menjaga, merawat, dan mengasihi kehidupan menjadi persembahan suci kepada-Nya. Inilah makna terdalam dari Ishavasyam Idam Sarvam—sebuah ajakan untuk membangun peradaban yang berlandaskan kesadaran, kasih, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan.

Mari menjaga Bali dengan Kesadaran Kolektif, setidaknya bersuara lantang kepada Investor culas dan juga Pimpinan kita yang masih tetap membiarkan pembangunan brutal dan ugal-ugalan, yang merusak alam Bali dan membuat masyarakat lokal terpinggirkan, namun tetap mengapresiasi siapapun yang masih menjaga alam dan budaya Bali.

Satyameva Jayate!!! [T]

Tags: alam semestaSpiritualTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

Next Post

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Bulan Juni Milik Empat Presiden

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co