9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Juni Milik Empat Presiden

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
in Esai
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Soekarno, Soeharto, Habibie, Joko Widodo | Foto dari berbagai sumber

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno).

PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster merayakan Bulan Bung Karno sebulan penuh pada bulan Juni. Pada 2026, Bulan Bung Karno memasuki tahun ke-8.  Perayaannya mirip bulan Bahasa Bali sebulan penuh sepanjang Februari. Kedua perayaan itu juga dilakukan berjenjang dan serempak dari Desa, Kecamatan, Kabupaten, sampai Provinsi melibatkan siswa secara berjenjang dari siswa Pendidikan Dasar  sampai mahasiswa Perguruan Tinggi ikut berpartisipasi.

Padahal, kalau ditelisik, ada 4 Presiden Indonesia yang lahir pada bulan Juni : Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, dan Joko Widodo. Soekarno lahir di Surabaya Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970 dalam usia 69 tahun. Soeharto lahir di Kemusuk Desa Argomulyo Sedayu Bantul  Yogyakarta pada 8 Juni 1921 dan wafat 27 Januari 2006 dalam usia 85 tahun. B.J. Habibie lahir di Pare-Pare Sulawesi pada 25 Juni 1936 dan wafat pada 11 September 2019 dalam usia 83 tahun. Selanjutnya, Joko Widodo lahir di Solo, pada 21 Juni 1961 dan kini masih aktif berpolitik bahkan menyatakan siap berkeliling Indonesia menyambut Pemilu 2029.

Mencermati bulan kelahiran 4 Presiden pada Juni, hanya Soekarno yang dipilih Semesta menjadikan Juni sebagai bulan kelahiran dan kewafatannya. Selain itu, pada 1 Juni 1945 Soekarno juga berhasil merumuskan Dasar Negara Pancasila dua bulan sebelum Indonesia merdeka. Itulah alasan pertama, Juni dirayakan sebagai Bulan Bung Karno.

Alasan kedua, Soekarno adalah satu-satunya Presiden RI yang keluar masuk penjara demi Indonesia merdeka. Ia dipenjara Belanda karena dianggap mengganggu pemerintah Belanda di Indonesia. Pidatonya, Indonesia Menggugat adalah bentuk perlawanan kepada penjajahan Belanda.  Presiden setelahnya, tidak satu pun yang pernah masuk penjara. Hebatnya, Bung Karno produktif di penjara. Semangat literasinya menyala. Ide-ide besar pikirannya tidak pernah terpenjara. Penjara menjadi tempatnya merenung dan berkontemplasi tentang arah masa depan Indonesia bila kelak merdeka. Bung Karno bisa menyederhanakan gagasan besar dengan bahasa sederhana, seperti slogan-slogannya yang merakyat : Merdeka atau Mati !

Alasan ketiga, diplomasi Soekarno sangat berani dan menakutkan bagi negeri adidaya Amerika Serikat. Pada zamannya, Gerakan Nonblok lahir, Konferensi Asia-Afrika (KAA)  digelar di Bandung. Bung Karno menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin Asia yang garang sebuas macan. Melalui Gerakan Nonblok, Bung Karno memosisikan diri sebagai wasit yang netral tetapi dengan semangat senasib sepenanggungan untuk bersama-sama menggalang kemerdekaan. Bersama 4 koleganya, Bung Karno menjadi orkestrator Gerakan Nonblok. Keempatnya adalah  Josip Broz Tito (Presiden Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir), Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana). Bung Karno juga salah satu pencetus KAA I di Bandung (1955) yang melahirkan Dasa Sila Bandung. KAA Bandung terinspirasi dari kesamaan senasib sepenanggungan sesama bangsa yang pernah terjajah dan baru sama-sama merdeka. Hebatnya, Bung Karno menggelar KAA I di Bandung di tengah persiapan Pemilu I yang dalam catatan sejarah disebut Pemilu paling demokratis.

Taufiq Ismail penyair Indonesia mencatat Pemilu I pada 1955 dalam puisi berjudul, “Ketika Indonesai Dihormati Dunia”. Taufiq Ismail menulis,  “Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat/Dengan rasa kangen, pemilihan umum pertama kucatat/Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima”.

Namun demikian, Goenawan Mohammad juga menulis sajak kesaksian pada Pemilu 1955 yang terkesan antithesis dengan kesaksian Taufiq Ismail.  Goenawan Mohamad menulis puisi berjudul, “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”. Tulis Goenawan Muhammad, “Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih/Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik/Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar/ Ia tak ada yang menangisi karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?…”

Kesaksian kedua tokoh penyair bangsa ini terkesan paradoks mengingatkan kita pada cara pandang Chairil Anwar, yang baik dan yang buruk dicatat, sebagaimana Bung Karno dikutip pada awal tulisan ini. Sejarah itu tidak selamanya hitam putih, kadang-kadang abu-abu membuat kabar menjadi kabur. Ingatlah Supersemar yang supersumir. Dokumen aslinya, sampai kini menjadi bahan perdebatan. Ibarat puisi, sejarah  itu  multitafsir, bergantung pada penulis yang umumnya pemenang. Histori versi pemenang perlu diimbangi dengan histori versi pecundang karena keduanya punya hak suara. Menyuarakan kesaksian masing-masing pada zamannya. Di sinilah peran editor yang netral untuk mengonvergensikannya, sebagaimana gagasan Ki Hadjar Dewantara dalam Trikonnya.

Begitulah kita memberikan catatan kepada empat Presiden RI yang lahir pada bulan Juni. Mereka semuanya menjadi pengingat bagi perjalanan sejarah bangsa yang oleh Gus Dur disebut negara yang bukan-bukan secara humoris. Kata Gus Dur, adil saja tidak cukup tanpa makmur. Oleh karena itu, negara ini dicita-citakan menjadi masyarakat yang adil dan makmur. Bahkan, terhadap tiga pendahulunya pun Gus Dur berkelakar, “Soekarno itu negarawan, Soeharto itu hartawan, B.J. Habibie itu ilmuwan, sedangkan saya sendiri hanya wisatawan”, sembari menyindir dirinya sering melakukan kunjungan kerja keluar negeri.

Walaupun keempat Presiden Indonesia terdahulu lahir pada bulan Juni, publik tentu dapat menilai peran mereka masing-masing dengan zaman dan tantangan yang berbeda. Mereka semua punya kelebihan dan kekurangan sebagai konsekuensi dari manusia yang tidak sempurna. Orang bijak akan selalu memetik pelajaran  kebaikan dari mereka untuk memajukan bangsanya. Bangsa yang terkenal religius dan ramah tamah mensyaratkan adanya rekonsiliasi nasional untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan bangsa. Intinya perlu bergotong royong dan musyawarah mufakat dalam membuat keputusan sebagaimana dicita-citakan sejak awal. Soekarno – Hatta adalah duet hasil musyawarah mufakat yang ditetapkan oleh sidang PPKI sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia sehari setelah Kemerdekaan diproklamasikan.

Senyampang dalam suasana Hari Suci Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu, masih dalam suasana Bulan Karno yang juga bulan kelahiran 4 Presiden Indonesia, ada baiknya kita merenung sejenak seraya memasang tamiang dan endongan. Eling ring kauningan sebagai bangsa yang besar berbhineka tidak mudah untuk mengelola tanpa persatuan dan kesatuan. Ibarat paragraf, bangsa ini perlu memiliki ide pokok yang jelas arahnya didukung oleh kalimat-kalimat penjelas yang memenuhi syarat kohesi dan dan koherensi  menyambut Indonesia Emas 2045. Rahajeng Galungan dan Kuningan. Rahayu sekala niskala. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: HabibieJoko WidodoSoehartoSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Next Post

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails
Next Post
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  ---Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co