11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulan Juni Milik Empat Presiden

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
in Esai
Bulan Juni Milik Empat Presiden

Soekarno, Soeharto, Habibie, Joko Widodo | Foto dari berbagai sumber

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno).

PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster merayakan Bulan Bung Karno sebulan penuh pada bulan Juni. Pada 2026, Bulan Bung Karno memasuki tahun ke-8.  Perayaannya mirip bulan Bahasa Bali sebulan penuh sepanjang Februari. Kedua perayaan itu juga dilakukan berjenjang dan serempak dari Desa, Kecamatan, Kabupaten, sampai Provinsi melibatkan siswa secara berjenjang dari siswa Pendidikan Dasar  sampai mahasiswa Perguruan Tinggi ikut berpartisipasi.

Padahal, kalau ditelisik, ada 4 Presiden Indonesia yang lahir pada bulan Juni : Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, dan Joko Widodo. Soekarno lahir di Surabaya Jawa Timur, pada 6 Juni 1901 dan wafat 21 Juni 1970 dalam usia 69 tahun. Soeharto lahir di Kemusuk Desa Argomulyo Sedayu Bantul  Yogyakarta pada 8 Juni 1921 dan wafat 27 Januari 2006 dalam usia 85 tahun. B.J. Habibie lahir di Pare-Pare Sulawesi pada 25 Juni 1936 dan wafat pada 11 September 2019 dalam usia 83 tahun. Selanjutnya, Joko Widodo lahir di Solo, pada 21 Juni 1961 dan kini masih aktif berpolitik bahkan menyatakan siap berkeliling Indonesia menyambut Pemilu 2029.

Mencermati bulan kelahiran 4 Presiden pada Juni, hanya Soekarno yang dipilih Semesta menjadikan Juni sebagai bulan kelahiran dan kewafatannya. Selain itu, pada 1 Juni 1945 Soekarno juga berhasil merumuskan Dasar Negara Pancasila dua bulan sebelum Indonesia merdeka. Itulah alasan pertama, Juni dirayakan sebagai Bulan Bung Karno.

Alasan kedua, Soekarno adalah satu-satunya Presiden RI yang keluar masuk penjara demi Indonesia merdeka. Ia dipenjara Belanda karena dianggap mengganggu pemerintah Belanda di Indonesia. Pidatonya, Indonesia Menggugat adalah bentuk perlawanan kepada penjajahan Belanda.  Presiden setelahnya, tidak satu pun yang pernah masuk penjara. Hebatnya, Bung Karno produktif di penjara. Semangat literasinya menyala. Ide-ide besar pikirannya tidak pernah terpenjara. Penjara menjadi tempatnya merenung dan berkontemplasi tentang arah masa depan Indonesia bila kelak merdeka. Bung Karno bisa menyederhanakan gagasan besar dengan bahasa sederhana, seperti slogan-slogannya yang merakyat : Merdeka atau Mati !

Alasan ketiga, diplomasi Soekarno sangat berani dan menakutkan bagi negeri adidaya Amerika Serikat. Pada zamannya, Gerakan Nonblok lahir, Konferensi Asia-Afrika (KAA)  digelar di Bandung. Bung Karno menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin Asia yang garang sebuas macan. Melalui Gerakan Nonblok, Bung Karno memosisikan diri sebagai wasit yang netral tetapi dengan semangat senasib sepenanggungan untuk bersama-sama menggalang kemerdekaan. Bersama 4 koleganya, Bung Karno menjadi orkestrator Gerakan Nonblok. Keempatnya adalah  Josip Broz Tito (Presiden Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir), Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana). Bung Karno juga salah satu pencetus KAA I di Bandung (1955) yang melahirkan Dasa Sila Bandung. KAA Bandung terinspirasi dari kesamaan senasib sepenanggungan sesama bangsa yang pernah terjajah dan baru sama-sama merdeka. Hebatnya, Bung Karno menggelar KAA I di Bandung di tengah persiapan Pemilu I yang dalam catatan sejarah disebut Pemilu paling demokratis.

Taufiq Ismail penyair Indonesia mencatat Pemilu I pada 1955 dalam puisi berjudul, “Ketika Indonesai Dihormati Dunia”. Taufiq Ismail menulis,  “Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat/Dengan rasa kangen, pemilihan umum pertama kucatat/Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima”.

Namun demikian, Goenawan Mohammad juga menulis sajak kesaksian pada Pemilu 1955 yang terkesan antithesis dengan kesaksian Taufiq Ismail.  Goenawan Mohamad menulis puisi berjudul, “Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum”. Tulis Goenawan Muhammad, “Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih/Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik/Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar/ Ia tak ada yang menangisi karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya ?…”

Kesaksian kedua tokoh penyair bangsa ini terkesan paradoks mengingatkan kita pada cara pandang Chairil Anwar, yang baik dan yang buruk dicatat, sebagaimana Bung Karno dikutip pada awal tulisan ini. Sejarah itu tidak selamanya hitam putih, kadang-kadang abu-abu membuat kabar menjadi kabur. Ingatlah Supersemar yang supersumir. Dokumen aslinya, sampai kini menjadi bahan perdebatan. Ibarat puisi, sejarah  itu  multitafsir, bergantung pada penulis yang umumnya pemenang. Histori versi pemenang perlu diimbangi dengan histori versi pecundang karena keduanya punya hak suara. Menyuarakan kesaksian masing-masing pada zamannya. Di sinilah peran editor yang netral untuk mengonvergensikannya, sebagaimana gagasan Ki Hadjar Dewantara dalam Trikonnya.

Begitulah kita memberikan catatan kepada empat Presiden RI yang lahir pada bulan Juni. Mereka semuanya menjadi pengingat bagi perjalanan sejarah bangsa yang oleh Gus Dur disebut negara yang bukan-bukan secara humoris. Kata Gus Dur, adil saja tidak cukup tanpa makmur. Oleh karena itu, negara ini dicita-citakan menjadi masyarakat yang adil dan makmur. Bahkan, terhadap tiga pendahulunya pun Gus Dur berkelakar, “Soekarno itu negarawan, Soeharto itu hartawan, B.J. Habibie itu ilmuwan, sedangkan saya sendiri hanya wisatawan”, sembari menyindir dirinya sering melakukan kunjungan kerja keluar negeri.

Walaupun keempat Presiden Indonesia terdahulu lahir pada bulan Juni, publik tentu dapat menilai peran mereka masing-masing dengan zaman dan tantangan yang berbeda. Mereka semua punya kelebihan dan kekurangan sebagai konsekuensi dari manusia yang tidak sempurna. Orang bijak akan selalu memetik pelajaran  kebaikan dari mereka untuk memajukan bangsanya. Bangsa yang terkenal religius dan ramah tamah mensyaratkan adanya rekonsiliasi nasional untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan bangsa. Intinya perlu bergotong royong dan musyawarah mufakat dalam membuat keputusan sebagaimana dicita-citakan sejak awal. Soekarno – Hatta adalah duet hasil musyawarah mufakat yang ditetapkan oleh sidang PPKI sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia sehari setelah Kemerdekaan diproklamasikan.

Senyampang dalam suasana Hari Suci Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu, masih dalam suasana Bulan Karno yang juga bulan kelahiran 4 Presiden Indonesia, ada baiknya kita merenung sejenak seraya memasang tamiang dan endongan. Eling ring kauningan sebagai bangsa yang besar berbhineka tidak mudah untuk mengelola tanpa persatuan dan kesatuan. Ibarat paragraf, bangsa ini perlu memiliki ide pokok yang jelas arahnya didukung oleh kalimat-kalimat penjelas yang memenuhi syarat kohesi dan dan koherensi  menyambut Indonesia Emas 2045. Rahajeng Galungan dan Kuningan. Rahayu sekala niskala. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: HabibieJoko WidodoSoehartoSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

Next Post

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  ---Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co