5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Asumsi ke Pembuktian: Telaah Logis atas Fenomena Rojali dan Rohana

Ni Luh Putu Nathania Utami by Ni Luh Putu Nathania Utami
April 12, 2026
in Esai
Dari Asumsi ke Pembuktian: Telaah Logis atas Fenomena Rojali dan Rohana

Ilustrasi Fenomena Rojali Rohana, Source: https://id.pinterest.com/

PERNAHKAH Anda melihat sekelompok orang datang ke kafe, duduk lama, memesan sedikit, lalu pergi? Atau pengunjung yang bertanya banyak hal, tetapi akhirnya tidak membeli apa pun? Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah Rojali (rombongan jarang beli) dan Rohana (rombongan hanya nanya). Istilah ini dengan cepat menyebar di media sosial dan percakapan sehari-hari, seolah menggambarkan realitas baru perilaku konsumen. Banyak orang merasa fenomena ini nyata dan terjadi di mana-mana. Maksud dari “nyata” disini masih bersifat subjektif sebagai pandangan seseorang terkait fenomena Rojali dan Rohana ini. Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah “apakah fenomena atau realitas yang sering dianggap umum itu benar-benar representatif atau hanya konstruksi persepsi kolektif?”

Dalam praktiknya, banyak orang memahami fenomena ini melalui cara berpikir yang tidak sepenuhnya ilmiah. Salah satunya adalah melalui penalaran induktif, yaitu menarik kesimpulan umum dari beberapa kasus yang diamati. Penggunaan penalaran induktif yang disalah tafsirkan, ketika seseorang melihat beberapa kelompok pelanggan yang tidak membeli, ia kemudian menyimpulkan bahwa perilaku tersebut merupakan tren yang dominan. Di sinilah letak permasalahannya, bukan pada pemilihan induksi sebagai metode, tetapi pada keterbatasan sampel dan tidak adanya generalisasi yang sah secara metodologis. Sehingga pengamatan yang terbatas digunakan untuk menggambarkan realitas yang luas.

Penalaran induktif seperti ini pada dasarnya sah dalam logika, tetapi menjadi bermasalah ketika tidak didukung oleh data yang cukup. Dalam konteks fenomena Rojali dan Rohana, pengamatan yang bersifat situasional, misalnya hanya terjadi pada waktu atau tempat tertentu dengan cepat dianggap sebagai pola umum. Proses ini kemudian berkembang menjadi Hasty Generalization, yaitu kesimpulan yang diambil terlalu cepat dari jumlah kasus yang terbatas. Dapat kita tarik hubungan, bahwa keterbatasan dalam mengobservasi suatu fenomena dapat memunculkan kesalahan dalam mengambil kesimpulan.

Ketika Hasty Generalization terjadi, batas antara fakta dan persepsi menjadi kabur. Adanya bias kognitif seperti kecenderungan manusia mengingat kasus-kasus yang menonjol dianggap mewakili keseluruhan kondisi, padahal belum tentu demikian. Bias kognitif ini dapat menyebabkan permasalahan signifikan, yaitu distorsi persepsi. Distorsi persepsi adalah suatu ketidaksesuaian atau penyimpangan antara rangsangan nyata (realitas) dengan bagimana cara individu menginterpretasikannya. Akibatnya, istilah Rojali dan Rohana yang awalnya hanya menggambarkan sebagian perilaku, berubah menjadi seolah-olah mencerminkan realitas mayoritas. Di titik ini, yang terjadi bukan lagi analisis, melainkan penyederhanaan realitas yang kompleks.

Masalah menjadi semakin serius ketika proses berpikir berhenti pada tahap generalisasi awal. Kesimpulan yang seharusnya masih bersifat sementara justru diperlakukan sebagai kebenaran final, tanpa melalui pengujian data yang sistematis. Banyak orang merasa telah memahami fenomena tersebut, padahal yang terjadi hanyalah penguatan asumsi melalui pengulangan contoh yang serupa. Dalam logika penyelidikan ilmiah, kondisi ini belum dapat disebut sebagai pembuktian. Tanpa adanya pembuktian dan melibatkan pengujian yang sistematis dan objektif maka suatu klaim tidak dapat disebut sebagai pengetahuan berdasarkan hakikat pengetahuan, epistemologis.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih tepat melalui proses penyelidikan ilmiah. Saat ini, masyarakat dimanjakan oleh berbagai kemudahan yang ditawarkan seperti kemudahan dalam mengakses informasi maupun kebiasaan dalam berpikir instan dan cenderung intuitif. Fenomena seperti Rojali dan Rohana seharusnya tidak hanya diamati, tetapi juga diuji melalui langkah-langkah yang jelas, mulai dari merumuskan masalah, mengumpulkan data yang representatif, menganalisis secara kritis, hingga menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Pertanyaan yang diajukan pun harus lebih spesifik, seperti “seberapa sering fenomena ini terjadi?”, “dalam konteks apa muncul?”, dan “faktor apa yang mempengaruhinya?”. Melalui cara ini, kita tidak lagi berhenti pada asumsi atau opini, tetapi bergerak menuju pemahaman yang lebih valid. Karena permasalahannya bukan bersumber dari ketidaktahuan, tetapi ketidakbiasaan dalam melatih kinerja otak untuk berpikir secara objektif dan sistematis.

Pendekatan ini menjadi lebih kuat ketika dikaitkan dengan prinsip Falsifikasi dari Karl Popper, yaitu menguji suatu klaim dengan mencari kemungkinan bahwa klaim tersebut salah melalui pengujian yang empiris. Alih-alih hanya mencari bukti yang mendukung fenomena Rojali dan Rohana, kita juga perlu untuk mempertanyakan hal yang sebaliknya. Dibutuhkan keberanian untuk menguji kemungkinan bahwa asumsi kita salah. Artinya, kita tidak hanya mencari bukti yang mendukung, tetapi juga membuka ruang bagi data yang mungkin menunjukkan hal sebaliknya. Akibatnya, fenomena Rojali dan Rohana tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang “terlihat benar”, tetapi benar-benar diuji ulang kebenarannya secara ilmiah.

Setelah melalui proses penyelidikan ilmiah, barulah fenomena ini dapat dijelaskan secara lebih komprehensif. Proses peralihan dari asumtif menuju analisis empiris ini penting untuk memastikan bahwa penjelasan yang dibangun tidak hanya bersifat kontekstual, tetapi

juga didukung oleh indikasi faktual yang terukur, seperti perbandingan antara tren peningkatan jumlah pengunjung pusat perbelanjaan dengan data transaksi atau tingkat konversi pembelian. Dalam konteks sosial-ekonomi, meningkatnya jumlah pengunjung pusat perbelanjaan tidak selalu diikuti oleh peningkatan transaksi. Banyak orang datang ke mal bukan untuk berbelanja, melainkan untuk rekreasi atau bersosialisasi. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena Rojali dan Rohana tidak sekadar perilaku individu, tetapi berkaitan dengan kondisi daya beli dan dinamika kelas menengah di perkotaan.

Lebih jauh, jika ditanjau dari sisi psikologis, terdapat suatu tindakan individu untuk mengontrol, membentuk, dan memodifikasi kesan yang dimiliki orang lain terhadap mereka dalam suatu lingkungan tertentu. Hal ini dijelaskan dalam Teori Goffman (1959) terkait Self Presentation (presentasi diri). Dalam fenomena Rojali dan Rohana terdapat dorongan untuk menunjukkan status melalui gaya hidup konsumtif. Aktivitas seperti nongkrong di kafe atau mengunjungi pusat perbelanjaan menjadi sarana untuk membangun identitas dan memperoleh pengakuan sosial. Tekanan dari lingkungan pertemanan maupun sosial juga memperkuat kecenderungan ini, karena individu terdorong untuk mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal.

Selain itu, peran media sosial dan sistem digital turut memperbesar fenomena ini. Algoritma cenderung menampilkan gaya hidup yang menarik secara visual, sehingga menciptakan standar sosial tertentu yang seolah harus diikuti. Melalui personalisasi dan pengulangan konten, sistem digital membuat gaya hidup konsumtif terus muncul dan tampak sebagai hal yang umum, sehingga memperkuat persepsi bahwa perilaku konsumtif merupakan standar sosial yang perlu diikuti. Praktik pemasaran digital melalui influencer juga membentuk persepsi bahwa konsumsi adalah bagian dari kesuksesan dan nilai diri. Dalam konteks ini, konsumsi tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi, tetapi menjadi alat untuk membangun citra sosial.

Pada kesimpulannya, fenomena Rojali dan Rohana tidak dapat dipahami hanya dari pengamatan sepintas. Ia merupakan hasil dari interaksi multidimensional antara faktor logika, ekonomi, sosial, dan digital yang kompleks. Tanpa disadari, kita sering kali menganggap apa yang sering kita lihat sebagai kebenaran. Padahal, dalam logika penyelidikan ilmiah, kebenaran tidak ditentukan oleh seberapa sering suatu fenomena muncul, melainkan oleh seberapa kuat ia dapat dibuktikan secara sistematis. Disinilah peran penyelidikan ilmiah diperlukan dalam mengurangi risiko menyederhanakan fenomena menjadi suatu label untuk mengkategorisasikan seseorang, padahal realitasnya jauh lebih luas dan kompleks. Besar harapan penulis untuk tidak berhenti pada asumsi, tetapi bergerak menuju pembuktian.

REFERENSI

Adhi, Y. T. (2022). Sesat pikir dalam tuturan warganet di Facebook. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 12(2), 264–275.

Humbertus, P., Jayanti, L. G. L. E., Cuo, F. O., Laumanto, F., & Pradnya D, P. C. M. (2022). Kecenderungan pembentukan inauthentic self-presentation pengguna Instagram. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4(5).

Kamilah, I. F., Khanifah, N., & Faizin, M. (2023). Teknik berpikir tingkat tinggi melalui logika induktif dan deduktif perspektif Aristoteles. Journal Genta Mulia, 15(1), 131–145.

Mudjiyanto, B., Yanuar, F., Nursyamsi, L., Lusianawati, H., Rahma, A. A., & Launa. (2025). Mal sebagai arena pembentukan identitas sosial: Dinamika perilaku konsumtif ‘Rojali-Rohana’ di panggung sosial masyarakat urban. JPIM: Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisipliner, 2(1), 2081–2096.

Riski, M. A. (2021). Teori falsifikasi Karl Raimund Popper: Urgensi pemikirannya dalam dunia akademik. Jurnal Filsafat Indonesia, 4(3).

Tags: ekonomiPendidikanPsikologisosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Next Post

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

Ni Luh Putu Nathania Utami

Ni Luh Putu Nathania Utami

Lahir di Singaraja. Mahasiswa S1 Psikologi, Universitas Brawijaya

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co