6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
in Ulas Musik
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

Ilustrasi dibuat dengan AI oleh penulis

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak, usia bertambah, teman-teman datang dan pergi, sementara sejumlah pertanyaan tetap tinggal tanpa jawaban. Kita sudah berusaha menjadi lebih bijaksana, tetapi hidup ternyata tidak selalu menjadi lebih mudah.

Barangkali di situlah kita bisa memahami kegelisahan Janis Joplin dalam Kozmic Blues (1969). Lagu ini bukan sekadar ratapan seorang perempuan yang terluka. Ia seperti suara manusia yang mulai menyadari bahwa bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang memahami kehidupan. Kadang-kadang, kita hanya menjadi lebih berpengalaman dalam menghadapi kekecewaan.

Ada yang berubah dalam diri kita, tetapi dunia di luar sana tetap berjalan dengan logikanya sendiri. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras akan membawa keberhasilan, kejujuran akan menemukan penghargaan, dan niat baik akan berakhir dengan sesuatu yang baik pula. Namun, pengalaman sering kali mengajarkan bahwa kenyataan tidak sesederhana rumus di papan tulis. Orang yang bekerja keras belum tentu berhasil. Orang yang jujur belum tentu dipercaya. Bahkan, orang yang berusaha memperbaiki keadaan kadang-kadang justru menjadi sasaran kemarahan.

Lalu kita bertanya: adakah yang keliru dengan dunia ini, ataukah kita yang terlalu berharap kepadanya? Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab, kehidupan bukan soal matematika yang setiap persoalannya memiliki satu jawaban pasti. Ia lebih menyerupai perjalanan panjang dengan petunjuk yang kadang-kadang kabur, jalan yang sesekali buntu, dan persimpangan yang memaksa kita memilih tanpa mengetahui seluruh akibatnya. Kita hidup dengan harapan, tetapi tidak pernah memperoleh jaminan bahwa harapan itu akan menjadi kenyataan.

Dunia yang Penuh Harapan dan Kecemasan

Kita memasuki zaman yang menawarkan begitu banyak kemungkinan. Teknologi berkembang, informasi beredar dalam hitungan detik, kesempatan terbuka, dan masa depan seolah-olah berada dalam genggaman. Namun, bersamaan dengan itu, kecemasan juga tumbuh. Kita mengetahui lebih banyak hal, tetapi belum tentu lebih memahami kehidupan. Kita bisa berbicara dengan siapa saja melalui layar, tetapi belum tentu memiliki seseorang yang usungguh-sungguh mendengarkan.

Di sinilah Kozmic Blues terasa dekat dengan keadaan kita hari ini. Dunia semakin terkoneksi, tetapi manusia tidak selalu semakin dekat. Dalam kehidupan sosial dan politik, keadaan bahkan terasa lebih rumit. Harapan kepada pemimpin sering kali berhadapan dengan kenyataan yang tidak segera berubah. Janji tentang kesejahteraan bertemu dengan harga kebutuhan yang terus menjadi perhatian. Seruan persatuan berhadapan dengan perdebatan yang tidak kunjung selesai. Kita menginginkan perubahan, tetapi perubahan memerlukan waktu, sementara kesabaran manusia mempunyai batas.

Di ruang digital, semuanya terasa lebih cepat. Orang ingin masalah selesai hari ini, kesalahan diakui sekarang, dan masa depan dipastikan sebelum matahari terbenam. Kita seperti kehilangan kemampuan untuk hidup bersama ketidakpastian. Padahal, tidak semua persoalan dapat diselesaikan secepat kita menekan tombol refresh pada layar telepon. Kehidupan mempunyai waktunya sendiri.

Kita Ingin Kepastian, Hidup Menawarkan Kemungkinan

Barangkali yang membuat kita lelah bukan hanya beratnya persoalan, melainkan juga tuntutan agar segala sesuatu segera memberikan kepastian. Kita ingin tahu apakah pilihan kita benar, apakah perjuangan kita akan berhasil, apakah orang yang kita percaya akan tetap bersama kita, dan apakah masa depan akan membalas semua pengorbanan yang telah kita berikan.

Sayangnya, kehidupan tidak pernah menandatangani kontrak semacam itu. Kita bisa merencanakan masa depan, tetapi tidak menguasainya. Kita dapat mempersiapkan diri, tetapi tidak mengatur semua keadaan. Kita boleh berharap kepada orang lain, tetapi tidak dapat mengambil alih seluruh isi hati dan pikirannya.

Di titik ini, kedewasaan bukan berarti mengetahui semua jawaban. Kedewasaan justru dimulai ketika kita sanggup menerima bahwa sebagian pertanyaan mungkin tidak memperoleh jawaban yang kita inginkan.

Tidak semua yang kita perjuangkan akan menjadi milik kita. Tidak semua yang kita cintai akan tinggal bersama kita. Dan tidak semua yang kita yakini akan berjalan sesuai dengan rencana. Tetapi apakah itu berarti kita harus berhenti berjuang? Tentu tidak.

Api Kecil yang Menolak Padam

Di balik nada getir Kozmic Blues, ada sesuatu yang lebih kuat daripada keputusasaan: keinginan untuk tetap bertahan. Ada semacam api kecil yang menolak padam meskipun angin kehidupan berkali-kali berusaha memadamkannya.

Api itu tidak selalu berupa keberanian yang besar. Kadang-kadang, ia hanya keberanian untuk bangun pada pagi hari, kembali bekerja, menyapa orang lain dengan ramah, merawat keluarga, menyelesaikan tanggung jawab, atau mencoba sekali lagi setelah kegagalan.

Kita sering membayangkan ketahanan sebagai kemampuan untuk berdiri tegak tanpa pernah jatuh. Padahal, ketahanan mungkin justru berarti kesediaan untuk bangkit meskipun kita tahu bahwa kehidupan masih menyimpan kemungkinan untuk menjatuhkan kita kembali.

Kita tidak harus selalu menang untuk membuktikan bahwa perjuangan kita berarti. Ada nilai dalam usaha yang belum berhasil, ada pelajaran dalam kegagalan yang tidak kita harapkan, dan ada kebijaksanaan yang kadang-kadang baru tumbuh setelah kita berhenti memaksa dunia mengikuti kehendak kita.

Camus dan Keberanian Menghadapi Kehidupan

Dalam pemikiran Albert Camus, manusia berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu memberikan jawaban memuaskan atas pencarian maknanya. Namun, ketidakpastian itu tidak harus berakhir dengan penyerahan diri. Kita tetap dapat memilih bagaimana menjalani kehidupan, bagaimana memperlakukan sesama, dan bagaimana memberi makna kepada apa yang kita hadapi.

Dengan kata lain, kita mungkin tidak mampu menentukan seluruh keadaan, tetapi kita masih mempunyai ruang untuk menentukan sikap. Di sinilah harapan perlu dibedakan dari khayalan. Khayalan menghendaki masa depan berjalan sesuai keinginan kita. Harapan memberi kita alasan untuk terus melangkah, bahkan ketika masa depan belum menunjukkan bentuknya.

Harapan bukan keyakinan bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Harapan adalah keberanian untuk melakukan sesuatu yang baik meskipun kita belum tahu bagaimana akhirnya.

Ikhtiar, Tawakal, dan Seni Menerima

Dalam bahasa spiritual, barangkali di situlah ikhtiar dan tawakal menemukan tempatnya. Ikhtiar mengajarkan kita untuk tidak menyerah sebelum berusaha. Tawakal mengingatkan bahwa hasil akhir tidak seluruhnya berada dalam kuasa kita. Keduanya bukan alasan untuk pasif, melainkan cara agar kita tetap bekerja tanpa diperbudak oleh kecemasan terhadap hasil.

Kita berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak menjadikan keberhasilan sebagai satu-satunya ukuran harga diri. Kita berharap setinggi mungkin, tetapi tidak membiarkan kekecewaan menghancurkan seluruh makna kehidupan.

Sebab, manusia bukan hanya apa yang berhasil dicapainya. Manusia juga adalah cara ia bertahan, pilihan yang ia ambil ketika keadaan sulit, dan kebaikan yang tetap ia pelihara ketika dunia tidak selalu memperlakukannya dengan baik.

Mungkin inilah pelajaran paling penting dari kegelisahan Janis Joplin: hidup tidak menjanjikan perjalanan yang selalu menyenangkan. Namun, di tengah segala luka dan ketidakpastian, kita masih mempunyai sesuatu yang layak dijaga; api di dalam diri kita sendiri.

Jangan biarkan kekecewaan membuat kita kehilangan kemampuan untuk mencintai. Jangan biarkan kegagalan mengubah kita menjadi manusia yang sinis terhadap setiap harapan. Dan jangan sampai pengalaman pahit membuat kita menganggap bahwa semua perjuangan pada akhirnya sia-sia.

Tetap Berjalan Meski Hari Esok Belum Pasti

Kita memang tidak tahu apakah esok akan membawa kabar baik atau justru persoalan baru. Kita juga tidak tahu apakah jalan yang sedang kita tempuh akan berakhir di tempat yang kita impikan. Tetapi bukankah hidup memang selalu meminta kita berjalan sebelum mengetahui seluruh isi perjalanan? Maka, berjalanlah.

Bukan karena kita yakin tidak akan jatuh, melainkan karena kita tidak ingin menghabiskan sisa kehidupan hanya untuk takut terjatuh. Tetaplah mencintai, bekerja, berpikir, dan berbuat baik. Bukan karena dunia pasti akan membalas semuanya, melainkan karena kita tidak ingin kehilangan diri sendiri hanya demi menyesuaikan diri dengan kerasnya dunia.

Pada akhirnya, hidup bukan semata-mata tentang memenangkan pertarungan melawan keadaan. Ada kalanya kemenangan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk tetap menjadi manusia di tengah keadaan yang membuat kita hampir kehilangan kemanusiaan.

Waktu akan terus bergerak. Sebagian orang akan pergi. Sejumlah impian mungkin berubah bentuk. Kepastian yang kita tunggu-tunggu barangkali tidak pernah datang sebagaimana yang kita bayangkan. Namun, selama api itu masih menyala, kita masih mempunyai alasan untuk melanjutkan perjalanan.

Sebab, harapan bukanlah kepastian tentang hari esok. Harapan adalah keberanian untuk tidak menyerah kepada ketidakpastian hari ini. Dan mungkin, di tengah semesta yang tidak selalu memberikan jawaban, itulah blues kita masing-masing: sebuah nyanyian getir tentang luka, sekaligus pengakuan bahwa kita masih ingin hidup, masih ingin mencintai, dan masih ingin percaya.[T]

Tags: Janis JoplinKozmic Blues
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LONTAR USADA KERALA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

by Sugi Lanus
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co