31 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Jaswanto by Jaswanto
July 1, 2026
in Politik
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat dalam aksi di DPRD Buleleng

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung DPRD Kabupaten Buleleng. Di atas jok-jok motor, para mahasiswa mengenakan jaket organisasi masing-masing. Sebagian mengikatkan syal di kepala, lainnya membawa pengeras suara portabel―sebagai komando―yang terus memekikkan yel-yel perlawanan macam Buruh Tani ciptaan Safi’i Kemamang tahun 90-an dan dipopulerkan Marjinal itu.

Bendera-bendera organisasi mahasiswa,  berkibar di atas iring-iringan. Hijau, biru tua, dan merah bergerak seperti ombak kecil di tengah lalu lintas kota yang ramai. Sejumlah warga yang melintas memperlambat laju kendaraan mereka. Ada yang mengangkat telepon genggam untuk merekam; ada pula yang hanya memandangi rombongan itu lewat kaca helm. Hari itu, mahasiswa datang dengan satu tujuan: membacakan manifesto yang telah lama mereka erami di ruang sekretariat yang pengap dan intim. Pikiran-pikiran itu muntah dan diharapkan dapat menggedor pikiran Dewan Perwakilan Rakyat yang dinilai sudah mandek dan tidak progresif lagi.

Mereka―mahasiswa itu―berasal dari Aliansi Cipayung Plus Buleleng, gabungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), tiga organisasi mahasiswa eksternal kampus dengan hikayat perjuangan yang panjang.

Hari itu,  di tangan mereka tergenggam poster-poster kritis dan sarkas―yang bertuliskan “MBG elit gaji guru sulit”, “Titik Nol Elit jalan sulit”, “Satuan Penjilat Prabowo Gibran”―dan di dalam pikiran mereka tersimpan gagasan-gagasan mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tak ada batu dalam genggaman, pun hal-hal yang dapat membahayakan sesama atau merusak fasilitas umum.

Saat mereka sampai di depan kantor DPRD Buleleng, iring-iringan motor berhenti. Mesin kendaraan dimatikan. Suasana yang semula dipenuhi dengung knalpot berubah menjadi gema teriakan.

“Hidup mahasiswa!”

“Hidup rakyat!”

“Hidup demokrasi!”

Suara itu memantul dari pagar besi dan dinding gedung dewan. Matahari belum terlalu tinggi ketika orasi pertama dimulai. Namun udara Singaraja sudah menyengat kulit. Keringat membasahi kerah baju para demonstran. Beberapa mahasiswa meneguk air mineral yang dibagikan bergantian. Sebagian lainnya menutupi kepala dengan bendera atau map plastik. Di balik pagar gedung, sejumlah aparat keamanan berjaga―dengan ketat, dingin, dan tampak acuh-tak-acuh.

Namun, ada sesuatu yang segera disadari massa aksi. Tak ada satu pun anggota DPRD yang terlihat. Tak ada ketua dewan. Tak ada wakil ketua. Tak ada anggota komisi. Tak ada satu pun wajah yang mereka harapkan keluar untuk mendengar. Yang tampak hanya pintu-pintu dingin dan angkuh yang tertutup rapat―yang dibangun menggunakan pajak rakyat, tentu saja.

Di tengah kerumunan, Didit Kurniadin berdiri bergantian memegang pengeras suara. Ketua Umum HMI Cabang Singaraja itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebelum mulai berbicara. “Kami datang baik-baik untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi tidak ada satu pun anggota DPRD yang hadir menemui kami,” katanya lantang. Sorak massa langsung menyambut. “Kami datang membawa suara rakyat!” Kalimat terakhir itu diteriakkan hampir serempak oleh peserta aksi.

Massa mengkritik keras lantaran tak ada satu pun anggota DPRD Buleleng yang menemui mereka. Para mahasiswa menilai DPRD Buleleng tak serius dalam menyerap aspirasi masyarakat. Ya, bagi mahasiswa, ketidakhadiran anggota dewan pada demonstrasi kemarin bukan sekadar persoalan teknis. Ini sudah menjadi simbol bahwa sejauh mana lembaga perwakilan masih memiliki kepekaan untuk mendengar.

Kekecewaan mereka sebenarnya telah terakumulasi sejak lama. Setahun sebelumnya, kelompok mahasiswa yang sama pernah datang menyampaikan berbagai tuntutan dan kajian kebijakan. Mereka menyerahkan dokumen, berdiskusi, dan menyampaikan kritik. Namun, hingga kini mereka mengaku tak pernah memperoleh penjelasan mengenai perkembangan aspirasi tersebut. “Jangan sampai aspirasi rakyat hanya diterima, lalu ditumpuk begitu saja,” ujar Didit. Bagi mahasiswa seperti mereka, demokrasi tidak cukup pada seremoni menerima berkas. Demokrasi seharusnya berlanjut menjadi dialog, evaluasi, dan rencana aksi ke arah yang lebih baik.

Sementara itu, di atas kertas, aksi hari itu membawa dua belas manifesto tuntutan. Tujuh di antaranya berkaitan dengan isu nasional, seperti penyediaan lapangan kerja, evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang problematik, evaluasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)―yang juga probematik itu―, penolakan revisi UU TNI dan UU Polri, perbaikan distribusi BBM subsidi, penyelamatan sektor pendidikan dan kesehatan, serta penghentian kriminalisasi ruang sipil.

Sedangkan Lima tuntutan lainnya menyentuh persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan warga Buleleng, seperti proyek Bandara Bali Utara yang terus menjadi perdebatan, TPA Bengkala yang menghadapi persoalan ekologis, pajak yang dinilai membebani pelaku UMKM dan kedai kopi lokal, jalan-jalan rusak yang belum diperbaiki, dan subak yang terus kehilangan lahan akibat alih fungsi.

Meski isu yang mereka bawa beragam, benang merahnya tetap sama, yaitu kegelisahan terhadap masa depan masyarakat akar rumput. Dalam kajian yang mereka susun, mahasiswa menyoroti berkurangnya ruang fiskal daerah akibat pemotongan transfer ke daerah oleh pemerintah pusat. Dampaknya, menurut mereka, terasa hingga ke tingkat desa. Jalan-jalan lingkungan rusak lebih lama sebelum diperbaiki, drainase tak kunjung dibenahi, program perlindungan lahan pertanian berjalan lambat. Di sisi lain, pemerintah justru mendorong berbagai program baru yang membutuhkan anggaran besar.

“Dana desa yang seharusnya utuh untuk memperbaiki jalan, membenahi drainase, dan memproteksi petani Subak kita di Buleleng, justru menyusut akibat inefisiensi birokrasi pusat. Kami menuntut keadilan fiskal; kembalikan hak dana desa kami secara utuh!” tegas salah satu perwakilan Aliansi Cipayung Plus.

Kritik paling tajam diarahkan kepada program Koperasi Desa Merah Putih―yang dibangun asal-asalan itu. Mahasiswa mempertanyakan kesiapan sumber daya manusia, tata kelola, hingga risiko bisnis yang mungkin muncul jika program itu dijalankan tanpa perencanaan matang. Mereka khawatir koperasi yang dibangun dengan semangat memberdayakan masyarakat justru berakhir menjadi beban baru. Atau lebih buruk lagi: mematikan warung-warung kecil yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi desa.

Menjelang siang, massa aksi masih bertahan. Mereka berdiri sambil terus meneriakkan tuntutan. Pada saat yang sama, di bawah rindangnya pohon dan teduhnya kanopi gedung, sejumlah aparat dan pegawai tampak berlindung dari sengatan cuaca. Kontras itu terlihat jelas. Yang satu berpeluh di ruang terbuka. Yang lain berada di tempat yang lebih nyaman. Pemandangan tersebut kemudian menjadi bahan orasi. “Kami berdiri di bawah matahari membawa kajian ilmiah dan suara rakyat,” teriak seorang mahasiswa. “Tapi wakil rakyat tidak ada!” Sorakan massa kembali menggema.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya seorang perwakilan DPRD Buleleng muncul. Tapi sayang, ia bukan anggota dewan, bukan pula pimpinan legislatif, melainkan Kepala Bagian Hukum dan Persidangan Sekretariat DPRD Buleleng I Nyoman Toya. Ia menyampaikan permohonan maaf. Menurutnya, pimpinan dan anggota DPRD berhalangan hadir karena bertepatan dengan Hari Purnama dan sebagian besar sedang menjalankan kegiatan keagamaan (odalan).

Toya berjanji, seluruh tuntutan mahasiswa akan diteruskan kepada pimpinan dan anggota dewan. Ia juga mengapresiasi aksi yang berlangsung tertib. Namun jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan massa. Mahasiswa kembali mengangkat pertanyaan yang sama. Jika aspirasi tahun lalu belum memperoleh penjelasan, bagaimana mereka bisa yakin tuntutan hari ini akan ditindaklanjuti? Tidak ada jawaban pasti. Yang ada hanya janji untuk meneruskan―sebagaimana yang sudah-sudah.

Hari kian beranjak, para demonstran mulai beranjak dari teras kantor DPRD Buleleng. Mereka melontarkan ultimatum. Jika dalam waktu sepekan tidak ada kejelasan mengenai tuntutan yang disampaikan, mereka mengancam akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar.

Aksi di depan DPRD Buleleng hari itu bukan semata tentang dana desa, koperasi, bandara, jalan rusak, atau pajak UMKM. Ini adalah kisah lama yang terus berulang dalam demokrasi Indonesia: warga yang datang membawa pertanyaan dan kekuasaan yang tak selalu siap menyediakan jawaban.

Di bawah terik matahari Singaraja, para mahasiswa telah melakukan bagian mereka. Mereka datang, berorasi, membacakan manifesto, berusaha mengetuk pintu pikiran dengan baik-baik. Tetapi sayang, tak ada satu orang pun di dalam sana yang bersedia membuka pintu itu. Sungguh sangat disayangkan.[T]

Reporter: Rusdi
Penulis/Editor: Jaswanto

Tags: Cipayung PlusdemonstrasiDPRDPRD Bulelengmahasiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Next Post

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dialog Publik HMI Cabang Singaraja: Revisi UU Pilkada Dinilai Dapat Geser Mandat Rakyat ke Elit

by Rusdy Ulu
February 1, 2026
0
Dialog Publik HMI Cabang Singaraja: Revisi UU Pilkada Dinilai Dapat Geser Mandat Rakyat ke Elit

Wacana revisi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) kembali mengemuka di tengah publik. Isu ini menjadi perbincangan hangat dalam Dialog...

Read moreDetails

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

by Son Lomri
September 27, 2024
0
Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

TIRAI merah itu dibuka oleh orang-orang. Anak muda, anak-anak, bahkan sampai orang tua sambil gendong anak. Konser mini, hiburan rakyat....

Read moreDetails

Anak Muda Bisa Buat Petisi Agar Politikus Tinggalkan Gaya Kampanye dengan Baliho

by Gede Agus Eka Pratama
June 10, 2024
0
Anak Muda Bisa Buat Petisi Agar Politikus Tinggalkan Gaya Kampanye dengan Baliho

BULELENG | TATKALA.CO -- Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali I Dewa Agung Gede Lidartawan menantang anak muda agar mau...

Read moreDetails

Tokoh-tokoh Buleleng Bertemu, Apa yang Mereka Bicarakan?

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 16, 2024
0
Tokoh-tokoh Buleleng Bertemu, Apa yang Mereka Bicarakan?

SEJUMLAH tokoh yang beberapa namanya disebut-sebut sebagai kandidat kuat calon Bupati Buleleng bertemu di  Sekretariat Kantor SMA Taruna Mandara, Kaliasem,...

Read moreDetails

Pilkada Buleleng 2024: Relawan Bilang Joss, Sutjidra Bilang Siap

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 8, 2024
0
Pilkada Buleleng 2024: Relawan Bilang Joss, Sutjidra Bilang Siap

NYOMAN Sutjidra, kader PDI Perjuangan, akhirnya mengatakan diri siap untuk bertarung dalam perebutan kursi Bupati Buleleng pada Pemilihan Kepala Daerah...

Read moreDetails

Pengamat: Golkar Memiliki Kualitas SDM Paling Baik

by tatkala
July 19, 2023
0
Pengamat: Golkar Memiliki Kualitas SDM Paling Baik

JAKARTA  | Citra Nasional  Network (CNN)  membeberkan hasil penelitian terkait latar belakang tokoh politik yang paling disukai masyarakat untuk menjadi...

Read moreDetails

Kurangi Sampah Baliho Pemilu Serentak 2024 di Bali

by Redaksi Tatkala Denpasar
May 9, 2023
0
Kurangi Sampah Baliho Pemilu Serentak 2024 di Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali sebagai salah satu asosiasi media online di Bali berkontribusi dalam...

Read moreDetails

Diunggulkan Pemilih Muda, Pengamat: Airlangga dan Partai Golkar Harus Percaya Diri

by tatkala
May 9, 2023
0
Diunggulkan Pemilih Muda, Pengamat: Airlangga dan Partai Golkar Harus Percaya Diri

Ketua Umum dan Partai Golkar akah lebih percaya diri karena dukungan pemilih milenial  yang tercermin dalam survei Lembaga Penelitian Masyarakat...

Read moreDetails

Sejak Awal Harus Dilakukan Mitigasi Potensi Hoaks Pemilu 2024

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 24, 2023
0
Sejak Awal Harus Dilakukan Mitigasi Potensi Hoaks Pemilu 2024

BULELENG | TATKALA.CO -- Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali menyerukan kepada penyelenggara pemilu dan komponen masyarakat di Bali untuk...

Read moreDetails

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

by Redaksi Tatkala Buleleng
March 8, 2023
0
Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

BULELENG | TATKALA.CO -- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Buleleng mengajukan usulan anggaran sebesar Rp 56 miliar untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum...

Read moreDetails
Next Post
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

'The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark' di TMII ---Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co