1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Jaswanto by Jaswanto
July 1, 2026
in Politik
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat dalam aksi di DPRD Buleleng

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung DPRD Kabupaten Buleleng. Di atas jok-jok motor, para mahasiswa mengenakan jaket organisasi masing-masing. Sebagian mengikatkan syal di kepala, lainnya membawa pengeras suara portabel―sebagai komando―yang terus memekikkan yel-yel perlawanan macam Buruh Tani ciptaan Safi’i Kemamang tahun 90-an dan dipopulerkan Marjinal itu.

Bendera-bendera organisasi mahasiswa,  berkibar di atas iring-iringan. Hijau, biru tua, dan merah bergerak seperti ombak kecil di tengah lalu lintas kota yang ramai. Sejumlah warga yang melintas memperlambat laju kendaraan mereka. Ada yang mengangkat telepon genggam untuk merekam; ada pula yang hanya memandangi rombongan itu lewat kaca helm. Hari itu, mahasiswa datang dengan satu tujuan: membacakan manifesto yang telah lama mereka erami di ruang sekretariat yang pengap dan intim. Pikiran-pikiran itu muntah dan diharapkan dapat menggedor pikiran Dewan Perwakilan Rakyat yang dinilai sudah mandek dan tidak progresif lagi.

Mereka―mahasiswa itu―berasal dari Aliansi Cipayung Plus Buleleng, gabungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), tiga organisasi mahasiswa eksternal kampus dengan hikayat perjuangan yang panjang.

Hari itu,  di tangan mereka tergenggam poster-poster kritis dan sarkas―yang bertuliskan “MBG elit gaji guru sulit”, “Titik Nol Elit jalan sulit”, “Satuan Penjilat Prabowo Gibran”―dan di dalam pikiran mereka tersimpan gagasan-gagasan mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tak ada batu dalam genggaman, pun hal-hal yang dapat membahayakan sesama atau merusak fasilitas umum.

Saat mereka sampai di depan kantor DPRD Buleleng, iring-iringan motor berhenti. Mesin kendaraan dimatikan. Suasana yang semula dipenuhi dengung knalpot berubah menjadi gema teriakan.

“Hidup mahasiswa!”

“Hidup rakyat!”

“Hidup demokrasi!”

Suara itu memantul dari pagar besi dan dinding gedung dewan. Matahari belum terlalu tinggi ketika orasi pertama dimulai. Namun udara Singaraja sudah menyengat kulit. Keringat membasahi kerah baju para demonstran. Beberapa mahasiswa meneguk air mineral yang dibagikan bergantian. Sebagian lainnya menutupi kepala dengan bendera atau map plastik. Di balik pagar gedung, sejumlah aparat keamanan berjaga―dengan ketat, dingin, dan tampak acuh-tak-acuh.

Namun, ada sesuatu yang segera disadari massa aksi. Tak ada satu pun anggota DPRD yang terlihat. Tak ada ketua dewan. Tak ada wakil ketua. Tak ada anggota komisi. Tak ada satu pun wajah yang mereka harapkan keluar untuk mendengar. Yang tampak hanya pintu-pintu dingin dan angkuh yang tertutup rapat―yang dibangun menggunakan pajak rakyat, tentu saja.

Di tengah kerumunan, Didit Kurniadin berdiri bergantian memegang pengeras suara. Ketua Umum HMI Cabang Singaraja itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebelum mulai berbicara. “Kami datang baik-baik untuk menyampaikan aspirasi. Tetapi tidak ada satu pun anggota DPRD yang hadir menemui kami,” katanya lantang. Sorak massa langsung menyambut. “Kami datang membawa suara rakyat!” Kalimat terakhir itu diteriakkan hampir serempak oleh peserta aksi.

Massa mengkritik keras lantaran tak ada satu pun anggota DPRD Buleleng yang menemui mereka. Para mahasiswa menilai DPRD Buleleng tak serius dalam menyerap aspirasi masyarakat. Ya, bagi mahasiswa, ketidakhadiran anggota dewan pada demonstrasi kemarin bukan sekadar persoalan teknis. Ini sudah menjadi simbol bahwa sejauh mana lembaga perwakilan masih memiliki kepekaan untuk mendengar.

Kekecewaan mereka sebenarnya telah terakumulasi sejak lama. Setahun sebelumnya, kelompok mahasiswa yang sama pernah datang menyampaikan berbagai tuntutan dan kajian kebijakan. Mereka menyerahkan dokumen, berdiskusi, dan menyampaikan kritik. Namun, hingga kini mereka mengaku tak pernah memperoleh penjelasan mengenai perkembangan aspirasi tersebut. “Jangan sampai aspirasi rakyat hanya diterima, lalu ditumpuk begitu saja,” ujar Didit. Bagi mahasiswa seperti mereka, demokrasi tidak cukup pada seremoni menerima berkas. Demokrasi seharusnya berlanjut menjadi dialog, evaluasi, dan rencana aksi ke arah yang lebih baik.

Sementara itu, di atas kertas, aksi hari itu membawa dua belas manifesto tuntutan. Tujuh di antaranya berkaitan dengan isu nasional, seperti penyediaan lapangan kerja, evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang problematik, evaluasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)―yang juga probematik itu―, penolakan revisi UU TNI dan UU Polri, perbaikan distribusi BBM subsidi, penyelamatan sektor pendidikan dan kesehatan, serta penghentian kriminalisasi ruang sipil.

Sedangkan Lima tuntutan lainnya menyentuh persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan warga Buleleng, seperti proyek Bandara Bali Utara yang terus menjadi perdebatan, TPA Bengkala yang menghadapi persoalan ekologis, pajak yang dinilai membebani pelaku UMKM dan kedai kopi lokal, jalan-jalan rusak yang belum diperbaiki, dan subak yang terus kehilangan lahan akibat alih fungsi.

Meski isu yang mereka bawa beragam, benang merahnya tetap sama, yaitu kegelisahan terhadap masa depan masyarakat akar rumput. Dalam kajian yang mereka susun, mahasiswa menyoroti berkurangnya ruang fiskal daerah akibat pemotongan transfer ke daerah oleh pemerintah pusat. Dampaknya, menurut mereka, terasa hingga ke tingkat desa. Jalan-jalan lingkungan rusak lebih lama sebelum diperbaiki, drainase tak kunjung dibenahi, program perlindungan lahan pertanian berjalan lambat. Di sisi lain, pemerintah justru mendorong berbagai program baru yang membutuhkan anggaran besar.

“Dana desa yang seharusnya utuh untuk memperbaiki jalan, membenahi drainase, dan memproteksi petani Subak kita di Buleleng, justru menyusut akibat inefisiensi birokrasi pusat. Kami menuntut keadilan fiskal; kembalikan hak dana desa kami secara utuh!” tegas salah satu perwakilan Aliansi Cipayung Plus.

Kritik paling tajam diarahkan kepada program Koperasi Desa Merah Putih―yang dibangun asal-asalan itu. Mahasiswa mempertanyakan kesiapan sumber daya manusia, tata kelola, hingga risiko bisnis yang mungkin muncul jika program itu dijalankan tanpa perencanaan matang. Mereka khawatir koperasi yang dibangun dengan semangat memberdayakan masyarakat justru berakhir menjadi beban baru. Atau lebih buruk lagi: mematikan warung-warung kecil yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi desa.

Menjelang siang, massa aksi masih bertahan. Mereka berdiri sambil terus meneriakkan tuntutan. Pada saat yang sama, di bawah rindangnya pohon dan teduhnya kanopi gedung, sejumlah aparat dan pegawai tampak berlindung dari sengatan cuaca. Kontras itu terlihat jelas. Yang satu berpeluh di ruang terbuka. Yang lain berada di tempat yang lebih nyaman. Pemandangan tersebut kemudian menjadi bahan orasi. “Kami berdiri di bawah matahari membawa kajian ilmiah dan suara rakyat,” teriak seorang mahasiswa. “Tapi wakil rakyat tidak ada!” Sorakan massa kembali menggema.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya seorang perwakilan DPRD Buleleng muncul. Tapi sayang, ia bukan anggota dewan, bukan pula pimpinan legislatif, melainkan Kepala Bagian Hukum dan Persidangan Sekretariat DPRD Buleleng I Nyoman Toya. Ia menyampaikan permohonan maaf. Menurutnya, pimpinan dan anggota DPRD berhalangan hadir karena bertepatan dengan Hari Purnama dan sebagian besar sedang menjalankan kegiatan keagamaan (odalan).

Toya berjanji, seluruh tuntutan mahasiswa akan diteruskan kepada pimpinan dan anggota dewan. Ia juga mengapresiasi aksi yang berlangsung tertib. Namun jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan massa. Mahasiswa kembali mengangkat pertanyaan yang sama. Jika aspirasi tahun lalu belum memperoleh penjelasan, bagaimana mereka bisa yakin tuntutan hari ini akan ditindaklanjuti? Tidak ada jawaban pasti. Yang ada hanya janji untuk meneruskan―sebagaimana yang sudah-sudah.

Hari kian beranjak, para demonstran mulai beranjak dari teras kantor DPRD Buleleng. Mereka melontarkan ultimatum. Jika dalam waktu sepekan tidak ada kejelasan mengenai tuntutan yang disampaikan, mereka mengancam akan kembali dengan jumlah massa yang lebih besar.

Aksi di depan DPRD Buleleng hari itu bukan semata tentang dana desa, koperasi, bandara, jalan rusak, atau pajak UMKM. Ini adalah kisah lama yang terus berulang dalam demokrasi Indonesia: warga yang datang membawa pertanyaan dan kekuasaan yang tak selalu siap menyediakan jawaban.

Di bawah terik matahari Singaraja, para mahasiswa telah melakukan bagian mereka. Mereka datang, berorasi, membacakan manifesto, berusaha mengetuk pintu pikiran dengan baik-baik. Tetapi sayang, tak ada satu orang pun di dalam sana yang bersedia membuka pintu itu. Sungguh sangat disayangkan.[T]

Reporter: Rusdi
Penulis/Editor: Jaswanto

Tags: Cipayung PlusdemonstrasiDPRDPRD Bulelengmahasiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Next Post

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Dialog Publik HMI Cabang Singaraja: Revisi UU Pilkada Dinilai Dapat Geser Mandat Rakyat ke Elit

by Rusdy Ulu
February 1, 2026
0
Dialog Publik HMI Cabang Singaraja: Revisi UU Pilkada Dinilai Dapat Geser Mandat Rakyat ke Elit

Wacana revisi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada) kembali mengemuka di tengah publik. Isu ini menjadi perbincangan hangat dalam Dialog...

Read moreDetails

Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

by Son Lomri
September 27, 2024
0
Malam Manis Galungan di Desa Alasangker, Hiburan Rakyat dan Aspirasi untuk Sang Calon Bupati

TIRAI merah itu dibuka oleh orang-orang. Anak muda, anak-anak, bahkan sampai orang tua sambil gendong anak. Konser mini, hiburan rakyat....

Read moreDetails

Anak Muda Bisa Buat Petisi Agar Politikus Tinggalkan Gaya Kampanye dengan Baliho

by Gede Agus Eka Pratama
June 10, 2024
0
Anak Muda Bisa Buat Petisi Agar Politikus Tinggalkan Gaya Kampanye dengan Baliho

BULELENG | TATKALA.CO -- Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bali I Dewa Agung Gede Lidartawan menantang anak muda agar mau...

Read moreDetails

Tokoh-tokoh Buleleng Bertemu, Apa yang Mereka Bicarakan?

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 16, 2024
0
Tokoh-tokoh Buleleng Bertemu, Apa yang Mereka Bicarakan?

SEJUMLAH tokoh yang beberapa namanya disebut-sebut sebagai kandidat kuat calon Bupati Buleleng bertemu di  Sekretariat Kantor SMA Taruna Mandara, Kaliasem,...

Read moreDetails

Pilkada Buleleng 2024: Relawan Bilang Joss, Sutjidra Bilang Siap

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 8, 2024
0
Pilkada Buleleng 2024: Relawan Bilang Joss, Sutjidra Bilang Siap

NYOMAN Sutjidra, kader PDI Perjuangan, akhirnya mengatakan diri siap untuk bertarung dalam perebutan kursi Bupati Buleleng pada Pemilihan Kepala Daerah...

Read moreDetails

Pengamat: Golkar Memiliki Kualitas SDM Paling Baik

by tatkala
July 19, 2023
0
Pengamat: Golkar Memiliki Kualitas SDM Paling Baik

JAKARTA  | Citra Nasional  Network (CNN)  membeberkan hasil penelitian terkait latar belakang tokoh politik yang paling disukai masyarakat untuk menjadi...

Read moreDetails

Kurangi Sampah Baliho Pemilu Serentak 2024 di Bali

by Redaksi Tatkala Denpasar
May 9, 2023
0
Kurangi Sampah Baliho Pemilu Serentak 2024 di Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali sebagai salah satu asosiasi media online di Bali berkontribusi dalam...

Read moreDetails

Diunggulkan Pemilih Muda, Pengamat: Airlangga dan Partai Golkar Harus Percaya Diri

by tatkala
May 9, 2023
0
Diunggulkan Pemilih Muda, Pengamat: Airlangga dan Partai Golkar Harus Percaya Diri

Ketua Umum dan Partai Golkar akah lebih percaya diri karena dukungan pemilih milenial  yang tercermin dalam survei Lembaga Penelitian Masyarakat...

Read moreDetails

Sejak Awal Harus Dilakukan Mitigasi Potensi Hoaks Pemilu 2024

by Redaksi Tatkala Buleleng
April 24, 2023
0
Sejak Awal Harus Dilakukan Mitigasi Potensi Hoaks Pemilu 2024

BULELENG | TATKALA.CO -- Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali menyerukan kepada penyelenggara pemilu dan komponen masyarakat di Bali untuk...

Read moreDetails

Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

by Redaksi Tatkala Buleleng
March 8, 2023
0
Anggaran Pemilukada 2024: KPU Buleleng Minta 56 M, Bawaslu Minta 10 M

BULELENG | TATKALA.CO -- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Buleleng mengajukan usulan anggaran sebesar Rp 56 miliar untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum...

Read moreDetails
Next Post
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

'The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark' di TMII ---Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co