8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
in Panggung
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar pertunjukan tari. Yang memenuhi ruangan justru keheningan. Puluhan pasang mata tertuju ke panggung, menunggu seseorang melafalkan bait pertama.

Lalu kata-kata pun mengalir.

Bukan sekadar dibaca, melainkan dihidupkan. Setiap larik menjelma suara, tatapan, gerak, dan getaran emosi. Dalam sekejap, puisi tak lagi hanya deretan kalimat di atas kertas, tetapi menjadi tubuh yang bernapas di hadapan penonton.

Begitulah suasana Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Selama perlombaan berlangsung, penonton seolah diajak memasuki dunia yang dibangun oleh setiap peserta. Mereka tidak hanya menyaksikan kompetisi, melainkan menyaksikan bagaimana kata-kata menemukan nyawanya sendiri.

Sebanyak 25 peserta tampil pada hari itu, memperlihatkan kemampuan mereka mengolah vokal, penghayatan, dan ekspresi. Mereka merupakan bagian dari 50 finalis terbaik yang berhasil melewati proses seleksi yang ketat.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Proses seleksi dilakukan dengan sangat ketat. Dari sekian banyak pendaftar, panitia menyaringnya hingga menyisakan 50 peserta terbaik yang berhak melaju ke babak final,” ujar dewan juri yang terdiri atas AA Mas Ruscitadewi, Ni Wayan Eka Pranita Dewi, dan Dewa Putu Sahadewa.

Di atas panggung, setiap peserta menghadirkan tafsir yang berbeda terhadap puisi yang sama. Ada yang memilih suara lirih hingga membuat ruangan terasa sunyi. Ada pula yang melontarkan setiap bait dengan ledakan emosi yang kuat, seolah sedang mengajak penonton ikut merasakan kemarahan, kehilangan, atau harapan yang tersimpan di balik kata-kata.

Ekspresi wajah berubah mengikuti denyut puisi. Tatapan mata yang tajam menghadirkan amarah, senyum tipis menghadirkan kelembutan, sementara tubuh bergerak mengikuti ritme larik demi larik. Sebagian peserta memanfaatkan panggung layaknya ruang teater, menghadirkan gestur yang memperkuat makna setiap bait.

Dalam kompetisi ini seluruh finalis membawakan puisi wajib “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira. Selain itu mereka juga memilih satu puisi pilihan, antara lain “Abad yang Luka” karya Tan Lioe Ie, “Senja Menggantung di Langit” karya Putu Vivi Lestari, dan “Perempuan di Puputan Klungkung” karya Alit S. Rini.

Bagi AA Mas Ruscitadewi atau yang akrab disapa Gung Mas, lomba baca puisi bukan sekadar ajang mencari juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Meskipun persaingan berjalan dengan sangat kompetitif, kompetisi ini pada hakikatnya bukan sekadar ajang unjuk kebolehan. Event ini dirancang sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri serta melatih mental bersaing secara objektif,” ungkapnya.

Karena itulah, setelah perlombaan usai, para peserta tidak langsung pulang membawa hasil penilaian. Mereka mendapat kesempatan mendengarkan evaluasi langsung dari dewan juri.

Bagi Gung Mas, sesi tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Lomba tidak berhenti pada pengumuman pemenang, melainkan menjadi ruang refleksi agar setiap peserta memahami kelebihan sekaligus kekurangan penampilannya. Dari sana mereka belajar bahwa seni bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan panjang mengasah kepekaan rasa.

Dalam menentukan pemenang, dewan juri berpegang pada tiga landasan utama dalam tradisi membaca puisi di Bali, yakni wirasa, wirama, dan wiraga.

Wirasa berbicara tentang kedalaman penghayatan. Sejauh mana seorang pembaca mampu menangkap dan menyampaikan ruh puisi kepada pendengarnya.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Wirama menilai irama pembacaan, intonasi, dinamika, tempo, hingga kualitas vokal yang membuat puisi terdengar hidup.

Sementara wiraga berkaitan dengan penampilan fisik, meliputi ekspresi wajah, bahasa tubuh, penguasaan panggung, hingga keselarasan gerak yang mendukung penyampaian makna.

Namun bagi para juri, tiga unsur tersebut belumlah cukup. Kreativitas dan keberanian mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru juga menjadi bagian penting dalam penilaian.

“Seni membaca puisi di Bali sudah sangat maju dan memiliki karakteristik unik. Karena itu, kreativitas dan eksplorasi menjadi bagian penting dalam penilaian,” jelas Gung Mas.

Ia optimistis masa depan seni baca puisi di Bali masih terbuka lebar. Menurutnya, ketika seseorang belajar membaca puisi, sesungguhnya ia sedang belajar memahami manusia. Ia mengasah kepekaan, melatih empati, memperhalus batin, sekaligus membangun hubungan yang lebih dalam dengan kehidupan.

Harapan terbesar dari Pawimba Baca Puisi, katanya, bukan semata melahirkan pembaca puisi yang piawai berdiri di atas panggung. Lebih dari itu, ajang ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya generasi kreatif yang kelak melahirkan karya-karya sastra dan seni yang terus memperkaya kebudayaan Bali.

Menjelang sore, satu per satu peserta meninggalkan panggung. Suara tepuk tangan perlahan mereda, tetapi gema bait-bait puisi seolah masih tertinggal di dalam ruangan. Sebab, di Festival Seni Bali Jani, puisi tidak hanya dibacakan. Ia menjelma suara, gerak, dan jiwa—menghubungkan kata-kata dengan manusia yang mendengarkannya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Next Post

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails
Next Post
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan "Sura Atma", Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co