30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
in Panggung
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar pertunjukan tari. Yang memenuhi ruangan justru keheningan. Puluhan pasang mata tertuju ke panggung, menunggu seseorang melafalkan bait pertama.

Lalu kata-kata pun mengalir.

Bukan sekadar dibaca, melainkan dihidupkan. Setiap larik menjelma suara, tatapan, gerak, dan getaran emosi. Dalam sekejap, puisi tak lagi hanya deretan kalimat di atas kertas, tetapi menjadi tubuh yang bernapas di hadapan penonton.

Begitulah suasana Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Selama perlombaan berlangsung, penonton seolah diajak memasuki dunia yang dibangun oleh setiap peserta. Mereka tidak hanya menyaksikan kompetisi, melainkan menyaksikan bagaimana kata-kata menemukan nyawanya sendiri.

Sebanyak 25 peserta tampil pada hari itu, memperlihatkan kemampuan mereka mengolah vokal, penghayatan, dan ekspresi. Mereka merupakan bagian dari 50 finalis terbaik yang berhasil melewati proses seleksi yang ketat.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Proses seleksi dilakukan dengan sangat ketat. Dari sekian banyak pendaftar, panitia menyaringnya hingga menyisakan 50 peserta terbaik yang berhak melaju ke babak final,” ujar dewan juri yang terdiri atas AA Mas Ruscitadewi, Ni Wayan Eka Pranita Dewi, dan Dewa Putu Sahadewa.

Di atas panggung, setiap peserta menghadirkan tafsir yang berbeda terhadap puisi yang sama. Ada yang memilih suara lirih hingga membuat ruangan terasa sunyi. Ada pula yang melontarkan setiap bait dengan ledakan emosi yang kuat, seolah sedang mengajak penonton ikut merasakan kemarahan, kehilangan, atau harapan yang tersimpan di balik kata-kata.

Ekspresi wajah berubah mengikuti denyut puisi. Tatapan mata yang tajam menghadirkan amarah, senyum tipis menghadirkan kelembutan, sementara tubuh bergerak mengikuti ritme larik demi larik. Sebagian peserta memanfaatkan panggung layaknya ruang teater, menghadirkan gestur yang memperkuat makna setiap bait.

Dalam kompetisi ini seluruh finalis membawakan puisi wajib “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira. Selain itu mereka juga memilih satu puisi pilihan, antara lain “Abad yang Luka” karya Tan Lioe Ie, “Senja Menggantung di Langit” karya Putu Vivi Lestari, dan “Perempuan di Puputan Klungkung” karya Alit S. Rini.

Bagi AA Mas Ruscitadewi atau yang akrab disapa Gung Mas, lomba baca puisi bukan sekadar ajang mencari juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Meskipun persaingan berjalan dengan sangat kompetitif, kompetisi ini pada hakikatnya bukan sekadar ajang unjuk kebolehan. Event ini dirancang sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri serta melatih mental bersaing secara objektif,” ungkapnya.

Karena itulah, setelah perlombaan usai, para peserta tidak langsung pulang membawa hasil penilaian. Mereka mendapat kesempatan mendengarkan evaluasi langsung dari dewan juri.

Bagi Gung Mas, sesi tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Lomba tidak berhenti pada pengumuman pemenang, melainkan menjadi ruang refleksi agar setiap peserta memahami kelebihan sekaligus kekurangan penampilannya. Dari sana mereka belajar bahwa seni bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan panjang mengasah kepekaan rasa.

Dalam menentukan pemenang, dewan juri berpegang pada tiga landasan utama dalam tradisi membaca puisi di Bali, yakni wirasa, wirama, dan wiraga.

Wirasa berbicara tentang kedalaman penghayatan. Sejauh mana seorang pembaca mampu menangkap dan menyampaikan ruh puisi kepada pendengarnya.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Wirama menilai irama pembacaan, intonasi, dinamika, tempo, hingga kualitas vokal yang membuat puisi terdengar hidup.

Sementara wiraga berkaitan dengan penampilan fisik, meliputi ekspresi wajah, bahasa tubuh, penguasaan panggung, hingga keselarasan gerak yang mendukung penyampaian makna.

Namun bagi para juri, tiga unsur tersebut belumlah cukup. Kreativitas dan keberanian mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru juga menjadi bagian penting dalam penilaian.

“Seni membaca puisi di Bali sudah sangat maju dan memiliki karakteristik unik. Karena itu, kreativitas dan eksplorasi menjadi bagian penting dalam penilaian,” jelas Gung Mas.

Ia optimistis masa depan seni baca puisi di Bali masih terbuka lebar. Menurutnya, ketika seseorang belajar membaca puisi, sesungguhnya ia sedang belajar memahami manusia. Ia mengasah kepekaan, melatih empati, memperhalus batin, sekaligus membangun hubungan yang lebih dalam dengan kehidupan.

Harapan terbesar dari Pawimba Baca Puisi, katanya, bukan semata melahirkan pembaca puisi yang piawai berdiri di atas panggung. Lebih dari itu, ajang ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya generasi kreatif yang kelak melahirkan karya-karya sastra dan seni yang terus memperkaya kebudayaan Bali.

Menjelang sore, satu per satu peserta meninggalkan panggung. Suara tepuk tangan perlahan mereda, tetapi gema bait-bait puisi seolah masih tertinggal di dalam ruangan. Sebab, di Festival Seni Bali Jani, puisi tidak hanya dibacakan. Ia menjelma suara, gerak, dan jiwa—menghubungkan kata-kata dengan manusia yang mendengarkannya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Next Post

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

Read moreDetails

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

Read moreDetails

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
0
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

Read moreDetails

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

by tatkala
October 28, 2026
0
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

Read moreDetails

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails
Next Post
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan "Sura Atma", Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co