27 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
in Panggung
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar pertunjukan tari. Yang memenuhi ruangan justru keheningan. Puluhan pasang mata tertuju ke panggung, menunggu seseorang melafalkan bait pertama.

Lalu kata-kata pun mengalir.

Bukan sekadar dibaca, melainkan dihidupkan. Setiap larik menjelma suara, tatapan, gerak, dan getaran emosi. Dalam sekejap, puisi tak lagi hanya deretan kalimat di atas kertas, tetapi menjadi tubuh yang bernapas di hadapan penonton.

Begitulah suasana Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Selama perlombaan berlangsung, penonton seolah diajak memasuki dunia yang dibangun oleh setiap peserta. Mereka tidak hanya menyaksikan kompetisi, melainkan menyaksikan bagaimana kata-kata menemukan nyawanya sendiri.

Sebanyak 25 peserta tampil pada hari itu, memperlihatkan kemampuan mereka mengolah vokal, penghayatan, dan ekspresi. Mereka merupakan bagian dari 50 finalis terbaik yang berhasil melewati proses seleksi yang ketat.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Proses seleksi dilakukan dengan sangat ketat. Dari sekian banyak pendaftar, panitia menyaringnya hingga menyisakan 50 peserta terbaik yang berhak melaju ke babak final,” ujar dewan juri yang terdiri atas AA Mas Ruscitadewi, Ni Wayan Eka Pranita Dewi, dan Dewa Putu Sahadewa.

Di atas panggung, setiap peserta menghadirkan tafsir yang berbeda terhadap puisi yang sama. Ada yang memilih suara lirih hingga membuat ruangan terasa sunyi. Ada pula yang melontarkan setiap bait dengan ledakan emosi yang kuat, seolah sedang mengajak penonton ikut merasakan kemarahan, kehilangan, atau harapan yang tersimpan di balik kata-kata.

Ekspresi wajah berubah mengikuti denyut puisi. Tatapan mata yang tajam menghadirkan amarah, senyum tipis menghadirkan kelembutan, sementara tubuh bergerak mengikuti ritme larik demi larik. Sebagian peserta memanfaatkan panggung layaknya ruang teater, menghadirkan gestur yang memperkuat makna setiap bait.

Dalam kompetisi ini seluruh finalis membawakan puisi wajib “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira. Selain itu mereka juga memilih satu puisi pilihan, antara lain “Abad yang Luka” karya Tan Lioe Ie, “Senja Menggantung di Langit” karya Putu Vivi Lestari, dan “Perempuan di Puputan Klungkung” karya Alit S. Rini.

Bagi AA Mas Ruscitadewi atau yang akrab disapa Gung Mas, lomba baca puisi bukan sekadar ajang mencari juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Meskipun persaingan berjalan dengan sangat kompetitif, kompetisi ini pada hakikatnya bukan sekadar ajang unjuk kebolehan. Event ini dirancang sebagai wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri serta melatih mental bersaing secara objektif,” ungkapnya.

Karena itulah, setelah perlombaan usai, para peserta tidak langsung pulang membawa hasil penilaian. Mereka mendapat kesempatan mendengarkan evaluasi langsung dari dewan juri.

Bagi Gung Mas, sesi tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Lomba tidak berhenti pada pengumuman pemenang, melainkan menjadi ruang refleksi agar setiap peserta memahami kelebihan sekaligus kekurangan penampilannya. Dari sana mereka belajar bahwa seni bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang perjalanan panjang mengasah kepekaan rasa.

Dalam menentukan pemenang, dewan juri berpegang pada tiga landasan utama dalam tradisi membaca puisi di Bali, yakni wirasa, wirama, dan wiraga.

Wirasa berbicara tentang kedalaman penghayatan. Sejauh mana seorang pembaca mampu menangkap dan menyampaikan ruh puisi kepada pendengarnya.

Penampilan peserta Pawimba (Lomba) Baca Puisi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII di Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Wirama menilai irama pembacaan, intonasi, dinamika, tempo, hingga kualitas vokal yang membuat puisi terdengar hidup.

Sementara wiraga berkaitan dengan penampilan fisik, meliputi ekspresi wajah, bahasa tubuh, penguasaan panggung, hingga keselarasan gerak yang mendukung penyampaian makna.

Namun bagi para juri, tiga unsur tersebut belumlah cukup. Kreativitas dan keberanian mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru juga menjadi bagian penting dalam penilaian.

“Seni membaca puisi di Bali sudah sangat maju dan memiliki karakteristik unik. Karena itu, kreativitas dan eksplorasi menjadi bagian penting dalam penilaian,” jelas Gung Mas.

Ia optimistis masa depan seni baca puisi di Bali masih terbuka lebar. Menurutnya, ketika seseorang belajar membaca puisi, sesungguhnya ia sedang belajar memahami manusia. Ia mengasah kepekaan, melatih empati, memperhalus batin, sekaligus membangun hubungan yang lebih dalam dengan kehidupan.

Harapan terbesar dari Pawimba Baca Puisi, katanya, bukan semata melahirkan pembaca puisi yang piawai berdiri di atas panggung. Lebih dari itu, ajang ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya generasi kreatif yang kelak melahirkan karya-karya sastra dan seni yang terus memperkaya kebudayaan Bali.

Menjelang sore, satu per satu peserta meninggalkan panggung. Suara tepuk tangan perlahan mereda, tetapi gema bait-bait puisi seolah masih tertinggal di dalam ruangan. Sebab, di Festival Seni Bali Jani, puisi tidak hanya dibacakan. Ia menjelma suara, gerak, dan jiwa—menghubungkan kata-kata dengan manusia yang mendengarkannya.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Festival Seni Bali Janifestival seni bali jani 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Next Post

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan "Sura Atma", Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede
Esai

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

by Dharma Yuda
August 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co