6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 27, 2026
in Esai
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang.”

KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tetapi itulah kesan mendalam yang ditinggalkan karya tersebut. Melalui percakapan sederhana antara seorang lelaki Indonesia dan seorang perempuan Amerika di sebuah apartemen Manhattan, Umar Kayam memperlihatkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu sejalan dengan kedamaian batin. Kota metropolitan dengan jutaan lampunya ternyata tidak mampu menggantikan kerinduan manusia akan cahaya kecil yang lahir dari alam.

Ketika membaca kembali cerpen itu hari ini, pikiran saya justru tidak melayang ke New York. Ingatan saya kembali ke Bali. Sekitar tahun 2001–2002, saya masih beberapa kali melihat kunang-kunang di sekitar rumah di Denpasar. Mereka memang tidak sebanyak pada masa kecil saya di era 1970-an, tetapi cahaya kecil itu masih hadir sebagai bagian dari malam Bali. Kini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, saya hampir tidak pernah lagi melihatnya.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mengusik: ke mana perginya kunang-kunang di Bali? Pertanyaan itu ternyata bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pertanyaan ekologis, bahkan pertanyaan spiritual.

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Seribu Kenangan di Bali

Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan bukanlah kisah tentang kunang-kunang. Cerita itu berbicara mengenai keterasingan manusia modern. Seorang lelaki Indonesia bertemu Jane, perempuan Amerika yang hidup sendiri. Percakapan mereka mengalir tentang kehidupan, cinta, kesepian, keluarga, dan perbedaan budaya. Tidak ada konflik dramatis. Namun di balik dialog yang tenang itu, Umar Kayam sedang mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendalam: mengapa manusia yang hidup di tengah kemajuan justru semakin kesepian?

Kunang-kunang dalam cerpen tersebut menjadi simbol kerinduan akan kampung halaman, alam, kesederhanaan, dan kehidupan yang masih menyatu dengan ritme semesta. Manhattan dipenuhi cahaya listrik, tetapi cahaya itu tidak pernah memiliki kehangatan jiwa sebagaimana cahaya seekor kunang-kunang yang menari di malam hari.

Ironisnya, kini Bali mulai menghadapi paradoks yang serupa.

Pulau yang dahulu dikenal melalui sawah bertingkat, subak, sungai-sungai jernih, kebun, dan malam yang gelap penuh bintang perlahan berubah menjadi pulau yang semakin terang oleh lampu, semakin padat oleh beton, dan semakin bising oleh pembangunan. Jika Manhattan memang sejak awal adalah kota metropolitan, maka Bali sedang bergerak menuju kondisi yang sama. Yang hilang bukan hanya kunang-kunang. Yang perlahan menghilang adalah suasana malam Bali itu sendiri.

Kunang-Kunang: Bahasa Sunyi Alam yang Sedang Memberi Peringatan

Para ahli ekologi menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Mereka memerlukan tanah yang lembap, kualitas air yang baik, vegetasi alami, dan minim pencemaran. Larva kunang-kunang hidup di lingkungan yang sensitif terhadap pestisida, herbisida, serta perubahan bentang alam.

Karena itu, hilangnya kunang-kunang bukanlah penyebab kerusakan lingkungan, melainkan gejala bahwa lingkungan sedang kehilangan keseimbangannya.

Alih fungsi sawah menjadi kawasan permukiman, vila, hotel, dan kawasan komersial menghilangkan habitat mereka. Polusi cahaya membuat kunang-kunang kesulitan berkomunikasi melalui sinyal cahaya untuk berkembang biak. Pestisida memusnahkan larva serta organisme kecil yang menjadi makanannya. Sungai yang tercemar mengurangi kualitas habitat. Sedikit demi sedikit populasi mereka menurun. Hilangnya kunang-kunang merupakan peringatan dini bahwa sistem penyangga kehidupan sedang mengalami tekanan.

Fritjof Capra menyebut alam sebagai web of life, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Dalam jaringan tersebut tidak ada makhluk yang benar-benar kecil atau tidak penting. Ketika satu simpul rusak, simpul lainnya lambat laun ikut terganggu. Kunang-kunang sedang berbicara kepada kita. Persoalannya, apakah manusia masih mau mendengarkan bahasa alam?

Pancamaya Kosha: Ketika Tubuh Alam Mulai Kehilangan Prana

Dalam filsafat Hindu dikenal konsep Pancamaya Kosha, yaitu lima lapisan keberadaan manusia: Annamaya Kosha, Pranamaya Kosha, Manomaya Kosha, Vijnanamaya Kosha, dan Anandamaya Kosha.

Konsep ini ternyata dapat menjadi lensa untuk membaca kondisi lingkungan. Sawah yang berubah menjadi beton, sungai yang tercemar, tanah yang kehilangan kesuburan menunjukkan bahwa Annamaya Kosha, tubuh fisik alam, sedang mengalami gangguan.

Ketika udara dipenuhi polusi, air kehilangan kejernihan, dan keanekaragaman hayati menurun, Pranamaya Kosha, energi kehidupan alam, ikut melemah.

Masalah sesungguhnya terjadi pada Manomaya Kosha, lapisan pikiran manusia. Cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi melahirkan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Hutan dipandang sebagai lahan investasi. Sawah dipandang sebagai cadangan properti. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.

Akibatnya, Vijnanamaya Kosha, kebijaksanaan, kehilangan suara. Padahal kebijaksanaan mengajarkan bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa alam.

Ketika kebijaksanaan menghilang, maka Anandamaya Kosha, kebahagiaan sejati, juga ikut memudar. Manusia memperoleh kemakmuran material, tetapi kehilangan ketenangan batin. Ironisnya, semakin banyak fasilitas modern dibangun, semakin tinggi pula tingkat stres, kecemasan, dan keterasingan. Bukankah ini persis seperti yang digambarkan Umar Kayam melalui Manhattan?

Tujuh Chakra dan Peta Kesadaran Hawkins: Dari Keserakahan Menuju Kesadaran Ekologis

Jika Pancamaya Kosha menjelaskan struktur keberadaan, maka Chakra menggambarkan dinamika evolusi energi manusia.

Banyak persoalan lingkungan sesungguhnya berakar pada dominasi Muladhara Chakra yang hanya memikirkan urusan perut, lalu Svadhisthana Chakra yakni urusan sex, juga kekuasaan, diperkuat oleh Manipura Chakra yang mengejar kenyamanan semata. Dalam kondisi ini, pembangunan mudah berubah menjadi eksploitasi.

Sebaliknya, penyelamatan lingkungan memerlukan kebangkitan Anahata Chakra, pusat kasih sayang. Dari sinilah lahir empati terhadap semua makhluk hidup, termasuk makhluk kecil seperti kunang-kunang. Vishuddha Chakra mendorong keberanian menyuarakan kebenaran ekologis. Ajna Chakra memberi kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan. Dan akhirnya Sahasrara Chakra menghadirkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari keseluruhan kosmos.

Pandangan tersebut selaras dengan Peta Kesadaran yang dikembangkan David R. Hawkins. Hawkins menunjukkan bahwa kesadaran manusia berkembang dari tingkat rendah seperti rasa takut, amarah, keserakahan, dan kesombongan menuju keberanian, penerimaan, cinta, kedamaian, hingga pencerahan.

Pembangunan yang mengorbankan sawah, sungai, dan ruang hidup makhluk lain mencerminkan dominasi tingkat kesadaran yang berpusat pada ego. Sebaliknya, upaya memulihkan habitat kunang-kunang merupakan ekspresi kesadaran cinta. Alam bukan lagi dipandang sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari diri kita sendiri.

Dalam konteks Bali, filosofi Tri Hita Karana sesungguhnya telah lama mengajarkan prinsip yang sama. Harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam bukanlah slogan budaya, melainkan fondasi keberlanjutan kehidupan. Ketika salah satu unsur diabaikan, keseimbangan seluruh sistem akan terganggu.

Menghidupkan Kembali Cahaya yang Padam

Mungkin kita tidak akan pernah lagi melihat ribuan kunang-kunang seperti lima puluh tahun yang lalu. Namun harapan belum sepenuhnya hilang.

Memulihkan lahan basah, mempertahankan sawah produktif, melindungi sistem subak, mengurangi penggunaan pestisida, menekan polusi cahaya, serta menata pembangunan sesuai daya dukung lingkungan bukan hanya menyelamatkan kunang-kunang. Semua itu adalah upaya menyelamatkan masa depan Bali.

Kunang-kunang mengajarkan sebuah paradoks yang indah. Cahaya mereka sangat kecil, tetapi mampu mengalahkan gelapnya malam. Sebaliknya, cahaya kota yang sangat terang justru sering kali membuat manusia kehilangan arah.

Barangkali karena itu Umar Kayam memilih kunang-kunang sebagai simbol kerinduan. Ia memahami bahwa cahaya yang paling penting bukanlah cahaya yang menyilaukan mata, melainkan cahaya yang menerangi hati.

Hari ini pertanyaan itu kembali menggema: ke mana perginya kunang-kunang di Bali?

Jawabannya bukan semata-mata karena mereka telah kehilangan habitat. Bisa jadi, manusialah yang terlebih dahulu kehilangan kepekaan. Kita terlalu sibuk mengejar cahaya-cahaya buatan hingga lupa menjaga cahaya alami yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan pulau ini.

Suatu hari nanti, ketika anak-anak Bali kembali melihat kunang-kunang menari di pematang sawah, di tepi sungai, atau di sela pepohonan pada malam yang sunyi, mereka tidak hanya menyaksikan seekor serangga bercahaya. Mereka sedang menyaksikan tanda bahwa alam mulai pulih, bahwa kesadaran manusia telah bertumbuh, dan bahwa pembangunan akhirnya kembali menghormati kehidupan.

Karena sesungguhnya, menyelamatkan kunang-kunang bukan hanya menyelamatkan satu spesies. Kita sedang menyelamatkan cahaya kesadaran yang menghubungkan manusia dengan alam, menghubungkan bumi dengan langit, dan menghubungkan pembangunan dengan kebijaksanaan. Ketika cahaya kecil itu kembali menyala di malam Bali, yang sesungguhnya pulang bukan hanya kunang-kunang, melainkan harapan bahwa pulau ini masih dapat menjaga jiwanya di tengah arus zaman.

Selamat Hari Raya Kuningan, tanpa lupa bersuara untuk menjaga kesakralan Pura Sakenan dari tangan-tangan serakah atas nama pembangunan dan kenyamanan semu. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikesadarankunang-kunang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Next Post

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co