26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 27, 2026
in Esai
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang.”

KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tetapi itulah kesan mendalam yang ditinggalkan karya tersebut. Melalui percakapan sederhana antara seorang lelaki Indonesia dan seorang perempuan Amerika di sebuah apartemen Manhattan, Umar Kayam memperlihatkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu sejalan dengan kedamaian batin. Kota metropolitan dengan jutaan lampunya ternyata tidak mampu menggantikan kerinduan manusia akan cahaya kecil yang lahir dari alam.

Ketika membaca kembali cerpen itu hari ini, pikiran saya justru tidak melayang ke New York. Ingatan saya kembali ke Bali. Sekitar tahun 2001–2002, saya masih beberapa kali melihat kunang-kunang di sekitar rumah di Denpasar. Mereka memang tidak sebanyak pada masa kecil saya di era 1970-an, tetapi cahaya kecil itu masih hadir sebagai bagian dari malam Bali. Kini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, saya hampir tidak pernah lagi melihatnya.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mengusik: ke mana perginya kunang-kunang di Bali? Pertanyaan itu ternyata bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pertanyaan ekologis, bahkan pertanyaan spiritual.

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Seribu Kenangan di Bali

Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan bukanlah kisah tentang kunang-kunang. Cerita itu berbicara mengenai keterasingan manusia modern. Seorang lelaki Indonesia bertemu Jane, perempuan Amerika yang hidup sendiri. Percakapan mereka mengalir tentang kehidupan, cinta, kesepian, keluarga, dan perbedaan budaya. Tidak ada konflik dramatis. Namun di balik dialog yang tenang itu, Umar Kayam sedang mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendalam: mengapa manusia yang hidup di tengah kemajuan justru semakin kesepian?

Kunang-kunang dalam cerpen tersebut menjadi simbol kerinduan akan kampung halaman, alam, kesederhanaan, dan kehidupan yang masih menyatu dengan ritme semesta. Manhattan dipenuhi cahaya listrik, tetapi cahaya itu tidak pernah memiliki kehangatan jiwa sebagaimana cahaya seekor kunang-kunang yang menari di malam hari.

Ironisnya, kini Bali mulai menghadapi paradoks yang serupa.

Pulau yang dahulu dikenal melalui sawah bertingkat, subak, sungai-sungai jernih, kebun, dan malam yang gelap penuh bintang perlahan berubah menjadi pulau yang semakin terang oleh lampu, semakin padat oleh beton, dan semakin bising oleh pembangunan. Jika Manhattan memang sejak awal adalah kota metropolitan, maka Bali sedang bergerak menuju kondisi yang sama. Yang hilang bukan hanya kunang-kunang. Yang perlahan menghilang adalah suasana malam Bali itu sendiri.

Kunang-Kunang: Bahasa Sunyi Alam yang Sedang Memberi Peringatan

Para ahli ekologi menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Mereka memerlukan tanah yang lembap, kualitas air yang baik, vegetasi alami, dan minim pencemaran. Larva kunang-kunang hidup di lingkungan yang sensitif terhadap pestisida, herbisida, serta perubahan bentang alam.

Karena itu, hilangnya kunang-kunang bukanlah penyebab kerusakan lingkungan, melainkan gejala bahwa lingkungan sedang kehilangan keseimbangannya.

Alih fungsi sawah menjadi kawasan permukiman, vila, hotel, dan kawasan komersial menghilangkan habitat mereka. Polusi cahaya membuat kunang-kunang kesulitan berkomunikasi melalui sinyal cahaya untuk berkembang biak. Pestisida memusnahkan larva serta organisme kecil yang menjadi makanannya. Sungai yang tercemar mengurangi kualitas habitat. Sedikit demi sedikit populasi mereka menurun. Hilangnya kunang-kunang merupakan peringatan dini bahwa sistem penyangga kehidupan sedang mengalami tekanan.

Fritjof Capra menyebut alam sebagai web of life, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Dalam jaringan tersebut tidak ada makhluk yang benar-benar kecil atau tidak penting. Ketika satu simpul rusak, simpul lainnya lambat laun ikut terganggu. Kunang-kunang sedang berbicara kepada kita. Persoalannya, apakah manusia masih mau mendengarkan bahasa alam?

Pancamaya Kosha: Ketika Tubuh Alam Mulai Kehilangan Prana

Dalam filsafat Hindu dikenal konsep Pancamaya Kosha, yaitu lima lapisan keberadaan manusia: Annamaya Kosha, Pranamaya Kosha, Manomaya Kosha, Vijnanamaya Kosha, dan Anandamaya Kosha.

Konsep ini ternyata dapat menjadi lensa untuk membaca kondisi lingkungan. Sawah yang berubah menjadi beton, sungai yang tercemar, tanah yang kehilangan kesuburan menunjukkan bahwa Annamaya Kosha, tubuh fisik alam, sedang mengalami gangguan.

Ketika udara dipenuhi polusi, air kehilangan kejernihan, dan keanekaragaman hayati menurun, Pranamaya Kosha, energi kehidupan alam, ikut melemah.

Masalah sesungguhnya terjadi pada Manomaya Kosha, lapisan pikiran manusia. Cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi melahirkan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Hutan dipandang sebagai lahan investasi. Sawah dipandang sebagai cadangan properti. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.

Akibatnya, Vijnanamaya Kosha, kebijaksanaan, kehilangan suara. Padahal kebijaksanaan mengajarkan bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa alam.

Ketika kebijaksanaan menghilang, maka Anandamaya Kosha, kebahagiaan sejati, juga ikut memudar. Manusia memperoleh kemakmuran material, tetapi kehilangan ketenangan batin. Ironisnya, semakin banyak fasilitas modern dibangun, semakin tinggi pula tingkat stres, kecemasan, dan keterasingan. Bukankah ini persis seperti yang digambarkan Umar Kayam melalui Manhattan?

Tujuh Chakra dan Peta Kesadaran Hawkins: Dari Keserakahan Menuju Kesadaran Ekologis

Jika Pancamaya Kosha menjelaskan struktur keberadaan, maka Chakra menggambarkan dinamika evolusi energi manusia.

Banyak persoalan lingkungan sesungguhnya berakar pada dominasi Muladhara Chakra yang hanya memikirkan urusan perut, lalu Svadhisthana Chakra yakni urusan sex, juga kekuasaan, diperkuat oleh Manipura Chakra yang mengejar kenyamanan semata. Dalam kondisi ini, pembangunan mudah berubah menjadi eksploitasi.

Sebaliknya, penyelamatan lingkungan memerlukan kebangkitan Anahata Chakra, pusat kasih sayang. Dari sinilah lahir empati terhadap semua makhluk hidup, termasuk makhluk kecil seperti kunang-kunang. Vishuddha Chakra mendorong keberanian menyuarakan kebenaran ekologis. Ajna Chakra memberi kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan. Dan akhirnya Sahasrara Chakra menghadirkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari keseluruhan kosmos.

Pandangan tersebut selaras dengan Peta Kesadaran yang dikembangkan David R. Hawkins. Hawkins menunjukkan bahwa kesadaran manusia berkembang dari tingkat rendah seperti rasa takut, amarah, keserakahan, dan kesombongan menuju keberanian, penerimaan, cinta, kedamaian, hingga pencerahan.

Pembangunan yang mengorbankan sawah, sungai, dan ruang hidup makhluk lain mencerminkan dominasi tingkat kesadaran yang berpusat pada ego. Sebaliknya, upaya memulihkan habitat kunang-kunang merupakan ekspresi kesadaran cinta. Alam bukan lagi dipandang sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari diri kita sendiri.

Dalam konteks Bali, filosofi Tri Hita Karana sesungguhnya telah lama mengajarkan prinsip yang sama. Harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam bukanlah slogan budaya, melainkan fondasi keberlanjutan kehidupan. Ketika salah satu unsur diabaikan, keseimbangan seluruh sistem akan terganggu.

Menghidupkan Kembali Cahaya yang Padam

Mungkin kita tidak akan pernah lagi melihat ribuan kunang-kunang seperti lima puluh tahun yang lalu. Namun harapan belum sepenuhnya hilang.

Memulihkan lahan basah, mempertahankan sawah produktif, melindungi sistem subak, mengurangi penggunaan pestisida, menekan polusi cahaya, serta menata pembangunan sesuai daya dukung lingkungan bukan hanya menyelamatkan kunang-kunang. Semua itu adalah upaya menyelamatkan masa depan Bali.

Kunang-kunang mengajarkan sebuah paradoks yang indah. Cahaya mereka sangat kecil, tetapi mampu mengalahkan gelapnya malam. Sebaliknya, cahaya kota yang sangat terang justru sering kali membuat manusia kehilangan arah.

Barangkali karena itu Umar Kayam memilih kunang-kunang sebagai simbol kerinduan. Ia memahami bahwa cahaya yang paling penting bukanlah cahaya yang menyilaukan mata, melainkan cahaya yang menerangi hati.

Hari ini pertanyaan itu kembali menggema: ke mana perginya kunang-kunang di Bali?

Jawabannya bukan semata-mata karena mereka telah kehilangan habitat. Bisa jadi, manusialah yang terlebih dahulu kehilangan kepekaan. Kita terlalu sibuk mengejar cahaya-cahaya buatan hingga lupa menjaga cahaya alami yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan pulau ini.

Suatu hari nanti, ketika anak-anak Bali kembali melihat kunang-kunang menari di pematang sawah, di tepi sungai, atau di sela pepohonan pada malam yang sunyi, mereka tidak hanya menyaksikan seekor serangga bercahaya. Mereka sedang menyaksikan tanda bahwa alam mulai pulih, bahwa kesadaran manusia telah bertumbuh, dan bahwa pembangunan akhirnya kembali menghormati kehidupan.

Karena sesungguhnya, menyelamatkan kunang-kunang bukan hanya menyelamatkan satu spesies. Kita sedang menyelamatkan cahaya kesadaran yang menghubungkan manusia dengan alam, menghubungkan bumi dengan langit, dan menghubungkan pembangunan dengan kebijaksanaan. Ketika cahaya kecil itu kembali menyala di malam Bali, yang sesungguhnya pulang bukan hanya kunang-kunang, melainkan harapan bahwa pulau ini masih dapat menjaga jiwanya di tengah arus zaman.

Selamat Hari Raya Kuningan, tanpa lupa bersuara untuk menjaga kesakralan Pura Sakenan dari tangan-tangan serakah atas nama pembangunan dan kenyamanan semu. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikesadarankunang-kunang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Next Post

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co