26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 27, 2026
in Esai
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang.”

KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tetapi itulah kesan mendalam yang ditinggalkan karya tersebut. Melalui percakapan sederhana antara seorang lelaki Indonesia dan seorang perempuan Amerika di sebuah apartemen Manhattan, Umar Kayam memperlihatkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu sejalan dengan kedamaian batin. Kota metropolitan dengan jutaan lampunya ternyata tidak mampu menggantikan kerinduan manusia akan cahaya kecil yang lahir dari alam.

Ketika membaca kembali cerpen itu hari ini, pikiran saya justru tidak melayang ke New York. Ingatan saya kembali ke Bali. Sekitar tahun 2001–2002, saya masih beberapa kali melihat kunang-kunang di sekitar rumah di Denpasar. Mereka memang tidak sebanyak pada masa kecil saya di era 1970-an, tetapi cahaya kecil itu masih hadir sebagai bagian dari malam Bali. Kini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, saya hampir tidak pernah lagi melihatnya.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mengusik: ke mana perginya kunang-kunang di Bali? Pertanyaan itu ternyata bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pertanyaan ekologis, bahkan pertanyaan spiritual.

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Seribu Kenangan di Bali

Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan bukanlah kisah tentang kunang-kunang. Cerita itu berbicara mengenai keterasingan manusia modern. Seorang lelaki Indonesia bertemu Jane, perempuan Amerika yang hidup sendiri. Percakapan mereka mengalir tentang kehidupan, cinta, kesepian, keluarga, dan perbedaan budaya. Tidak ada konflik dramatis. Namun di balik dialog yang tenang itu, Umar Kayam sedang mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendalam: mengapa manusia yang hidup di tengah kemajuan justru semakin kesepian?

Kunang-kunang dalam cerpen tersebut menjadi simbol kerinduan akan kampung halaman, alam, kesederhanaan, dan kehidupan yang masih menyatu dengan ritme semesta. Manhattan dipenuhi cahaya listrik, tetapi cahaya itu tidak pernah memiliki kehangatan jiwa sebagaimana cahaya seekor kunang-kunang yang menari di malam hari.

Ironisnya, kini Bali mulai menghadapi paradoks yang serupa.

Pulau yang dahulu dikenal melalui sawah bertingkat, subak, sungai-sungai jernih, kebun, dan malam yang gelap penuh bintang perlahan berubah menjadi pulau yang semakin terang oleh lampu, semakin padat oleh beton, dan semakin bising oleh pembangunan. Jika Manhattan memang sejak awal adalah kota metropolitan, maka Bali sedang bergerak menuju kondisi yang sama. Yang hilang bukan hanya kunang-kunang. Yang perlahan menghilang adalah suasana malam Bali itu sendiri.

Kunang-Kunang: Bahasa Sunyi Alam yang Sedang Memberi Peringatan

Para ahli ekologi menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Mereka memerlukan tanah yang lembap, kualitas air yang baik, vegetasi alami, dan minim pencemaran. Larva kunang-kunang hidup di lingkungan yang sensitif terhadap pestisida, herbisida, serta perubahan bentang alam.

Karena itu, hilangnya kunang-kunang bukanlah penyebab kerusakan lingkungan, melainkan gejala bahwa lingkungan sedang kehilangan keseimbangannya.

Alih fungsi sawah menjadi kawasan permukiman, vila, hotel, dan kawasan komersial menghilangkan habitat mereka. Polusi cahaya membuat kunang-kunang kesulitan berkomunikasi melalui sinyal cahaya untuk berkembang biak. Pestisida memusnahkan larva serta organisme kecil yang menjadi makanannya. Sungai yang tercemar mengurangi kualitas habitat. Sedikit demi sedikit populasi mereka menurun. Hilangnya kunang-kunang merupakan peringatan dini bahwa sistem penyangga kehidupan sedang mengalami tekanan.

Fritjof Capra menyebut alam sebagai web of life, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Dalam jaringan tersebut tidak ada makhluk yang benar-benar kecil atau tidak penting. Ketika satu simpul rusak, simpul lainnya lambat laun ikut terganggu. Kunang-kunang sedang berbicara kepada kita. Persoalannya, apakah manusia masih mau mendengarkan bahasa alam?

Pancamaya Kosha: Ketika Tubuh Alam Mulai Kehilangan Prana

Dalam filsafat Hindu dikenal konsep Pancamaya Kosha, yaitu lima lapisan keberadaan manusia: Annamaya Kosha, Pranamaya Kosha, Manomaya Kosha, Vijnanamaya Kosha, dan Anandamaya Kosha.

Konsep ini ternyata dapat menjadi lensa untuk membaca kondisi lingkungan. Sawah yang berubah menjadi beton, sungai yang tercemar, tanah yang kehilangan kesuburan menunjukkan bahwa Annamaya Kosha, tubuh fisik alam, sedang mengalami gangguan.

Ketika udara dipenuhi polusi, air kehilangan kejernihan, dan keanekaragaman hayati menurun, Pranamaya Kosha, energi kehidupan alam, ikut melemah.

Masalah sesungguhnya terjadi pada Manomaya Kosha, lapisan pikiran manusia. Cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi melahirkan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Hutan dipandang sebagai lahan investasi. Sawah dipandang sebagai cadangan properti. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.

Akibatnya, Vijnanamaya Kosha, kebijaksanaan, kehilangan suara. Padahal kebijaksanaan mengajarkan bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa alam.

Ketika kebijaksanaan menghilang, maka Anandamaya Kosha, kebahagiaan sejati, juga ikut memudar. Manusia memperoleh kemakmuran material, tetapi kehilangan ketenangan batin. Ironisnya, semakin banyak fasilitas modern dibangun, semakin tinggi pula tingkat stres, kecemasan, dan keterasingan. Bukankah ini persis seperti yang digambarkan Umar Kayam melalui Manhattan?

Tujuh Chakra dan Peta Kesadaran Hawkins: Dari Keserakahan Menuju Kesadaran Ekologis

Jika Pancamaya Kosha menjelaskan struktur keberadaan, maka Chakra menggambarkan dinamika evolusi energi manusia.

Banyak persoalan lingkungan sesungguhnya berakar pada dominasi Muladhara Chakra yang hanya memikirkan urusan perut, lalu Svadhisthana Chakra yakni urusan sex, juga kekuasaan, diperkuat oleh Manipura Chakra yang mengejar kenyamanan semata. Dalam kondisi ini, pembangunan mudah berubah menjadi eksploitasi.

Sebaliknya, penyelamatan lingkungan memerlukan kebangkitan Anahata Chakra, pusat kasih sayang. Dari sinilah lahir empati terhadap semua makhluk hidup, termasuk makhluk kecil seperti kunang-kunang. Vishuddha Chakra mendorong keberanian menyuarakan kebenaran ekologis. Ajna Chakra memberi kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan. Dan akhirnya Sahasrara Chakra menghadirkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari keseluruhan kosmos.

Pandangan tersebut selaras dengan Peta Kesadaran yang dikembangkan David R. Hawkins. Hawkins menunjukkan bahwa kesadaran manusia berkembang dari tingkat rendah seperti rasa takut, amarah, keserakahan, dan kesombongan menuju keberanian, penerimaan, cinta, kedamaian, hingga pencerahan.

Pembangunan yang mengorbankan sawah, sungai, dan ruang hidup makhluk lain mencerminkan dominasi tingkat kesadaran yang berpusat pada ego. Sebaliknya, upaya memulihkan habitat kunang-kunang merupakan ekspresi kesadaran cinta. Alam bukan lagi dipandang sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari diri kita sendiri.

Dalam konteks Bali, filosofi Tri Hita Karana sesungguhnya telah lama mengajarkan prinsip yang sama. Harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam bukanlah slogan budaya, melainkan fondasi keberlanjutan kehidupan. Ketika salah satu unsur diabaikan, keseimbangan seluruh sistem akan terganggu.

Menghidupkan Kembali Cahaya yang Padam

Mungkin kita tidak akan pernah lagi melihat ribuan kunang-kunang seperti lima puluh tahun yang lalu. Namun harapan belum sepenuhnya hilang.

Memulihkan lahan basah, mempertahankan sawah produktif, melindungi sistem subak, mengurangi penggunaan pestisida, menekan polusi cahaya, serta menata pembangunan sesuai daya dukung lingkungan bukan hanya menyelamatkan kunang-kunang. Semua itu adalah upaya menyelamatkan masa depan Bali.

Kunang-kunang mengajarkan sebuah paradoks yang indah. Cahaya mereka sangat kecil, tetapi mampu mengalahkan gelapnya malam. Sebaliknya, cahaya kota yang sangat terang justru sering kali membuat manusia kehilangan arah.

Barangkali karena itu Umar Kayam memilih kunang-kunang sebagai simbol kerinduan. Ia memahami bahwa cahaya yang paling penting bukanlah cahaya yang menyilaukan mata, melainkan cahaya yang menerangi hati.

Hari ini pertanyaan itu kembali menggema: ke mana perginya kunang-kunang di Bali?

Jawabannya bukan semata-mata karena mereka telah kehilangan habitat. Bisa jadi, manusialah yang terlebih dahulu kehilangan kepekaan. Kita terlalu sibuk mengejar cahaya-cahaya buatan hingga lupa menjaga cahaya alami yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan pulau ini.

Suatu hari nanti, ketika anak-anak Bali kembali melihat kunang-kunang menari di pematang sawah, di tepi sungai, atau di sela pepohonan pada malam yang sunyi, mereka tidak hanya menyaksikan seekor serangga bercahaya. Mereka sedang menyaksikan tanda bahwa alam mulai pulih, bahwa kesadaran manusia telah bertumbuh, dan bahwa pembangunan akhirnya kembali menghormati kehidupan.

Karena sesungguhnya, menyelamatkan kunang-kunang bukan hanya menyelamatkan satu spesies. Kita sedang menyelamatkan cahaya kesadaran yang menghubungkan manusia dengan alam, menghubungkan bumi dengan langit, dan menghubungkan pembangunan dengan kebijaksanaan. Ketika cahaya kecil itu kembali menyala di malam Bali, yang sesungguhnya pulang bukan hanya kunang-kunang, melainkan harapan bahwa pulau ini masih dapat menjaga jiwanya di tengah arus zaman.

Selamat Hari Raya Kuningan, tanpa lupa bersuara untuk menjaga kesakralan Pura Sakenan dari tangan-tangan serakah atas nama pembangunan dan kenyamanan semu. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikesadarankunang-kunang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Next Post

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co