6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 27, 2026
in Esai
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang.”

KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tetapi itulah kesan mendalam yang ditinggalkan karya tersebut. Melalui percakapan sederhana antara seorang lelaki Indonesia dan seorang perempuan Amerika di sebuah apartemen Manhattan, Umar Kayam memperlihatkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu sejalan dengan kedamaian batin. Kota metropolitan dengan jutaan lampunya ternyata tidak mampu menggantikan kerinduan manusia akan cahaya kecil yang lahir dari alam.

Ketika membaca kembali cerpen itu hari ini, pikiran saya justru tidak melayang ke New York. Ingatan saya kembali ke Bali. Sekitar tahun 2001–2002, saya masih beberapa kali melihat kunang-kunang di sekitar rumah di Denpasar. Mereka memang tidak sebanyak pada masa kecil saya di era 1970-an, tetapi cahaya kecil itu masih hadir sebagai bagian dari malam Bali. Kini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, saya hampir tidak pernah lagi melihatnya.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mengusik: ke mana perginya kunang-kunang di Bali? Pertanyaan itu ternyata bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pertanyaan ekologis, bahkan pertanyaan spiritual.

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Seribu Kenangan di Bali

Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan bukanlah kisah tentang kunang-kunang. Cerita itu berbicara mengenai keterasingan manusia modern. Seorang lelaki Indonesia bertemu Jane, perempuan Amerika yang hidup sendiri. Percakapan mereka mengalir tentang kehidupan, cinta, kesepian, keluarga, dan perbedaan budaya. Tidak ada konflik dramatis. Namun di balik dialog yang tenang itu, Umar Kayam sedang mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendalam: mengapa manusia yang hidup di tengah kemajuan justru semakin kesepian?

Kunang-kunang dalam cerpen tersebut menjadi simbol kerinduan akan kampung halaman, alam, kesederhanaan, dan kehidupan yang masih menyatu dengan ritme semesta. Manhattan dipenuhi cahaya listrik, tetapi cahaya itu tidak pernah memiliki kehangatan jiwa sebagaimana cahaya seekor kunang-kunang yang menari di malam hari.

Ironisnya, kini Bali mulai menghadapi paradoks yang serupa.

Pulau yang dahulu dikenal melalui sawah bertingkat, subak, sungai-sungai jernih, kebun, dan malam yang gelap penuh bintang perlahan berubah menjadi pulau yang semakin terang oleh lampu, semakin padat oleh beton, dan semakin bising oleh pembangunan. Jika Manhattan memang sejak awal adalah kota metropolitan, maka Bali sedang bergerak menuju kondisi yang sama. Yang hilang bukan hanya kunang-kunang. Yang perlahan menghilang adalah suasana malam Bali itu sendiri.

Kunang-Kunang: Bahasa Sunyi Alam yang Sedang Memberi Peringatan

Para ahli ekologi menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Mereka memerlukan tanah yang lembap, kualitas air yang baik, vegetasi alami, dan minim pencemaran. Larva kunang-kunang hidup di lingkungan yang sensitif terhadap pestisida, herbisida, serta perubahan bentang alam.

Karena itu, hilangnya kunang-kunang bukanlah penyebab kerusakan lingkungan, melainkan gejala bahwa lingkungan sedang kehilangan keseimbangannya.

Alih fungsi sawah menjadi kawasan permukiman, vila, hotel, dan kawasan komersial menghilangkan habitat mereka. Polusi cahaya membuat kunang-kunang kesulitan berkomunikasi melalui sinyal cahaya untuk berkembang biak. Pestisida memusnahkan larva serta organisme kecil yang menjadi makanannya. Sungai yang tercemar mengurangi kualitas habitat. Sedikit demi sedikit populasi mereka menurun. Hilangnya kunang-kunang merupakan peringatan dini bahwa sistem penyangga kehidupan sedang mengalami tekanan.

Fritjof Capra menyebut alam sebagai web of life, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Dalam jaringan tersebut tidak ada makhluk yang benar-benar kecil atau tidak penting. Ketika satu simpul rusak, simpul lainnya lambat laun ikut terganggu. Kunang-kunang sedang berbicara kepada kita. Persoalannya, apakah manusia masih mau mendengarkan bahasa alam?

Pancamaya Kosha: Ketika Tubuh Alam Mulai Kehilangan Prana

Dalam filsafat Hindu dikenal konsep Pancamaya Kosha, yaitu lima lapisan keberadaan manusia: Annamaya Kosha, Pranamaya Kosha, Manomaya Kosha, Vijnanamaya Kosha, dan Anandamaya Kosha.

Konsep ini ternyata dapat menjadi lensa untuk membaca kondisi lingkungan. Sawah yang berubah menjadi beton, sungai yang tercemar, tanah yang kehilangan kesuburan menunjukkan bahwa Annamaya Kosha, tubuh fisik alam, sedang mengalami gangguan.

Ketika udara dipenuhi polusi, air kehilangan kejernihan, dan keanekaragaman hayati menurun, Pranamaya Kosha, energi kehidupan alam, ikut melemah.

Masalah sesungguhnya terjadi pada Manomaya Kosha, lapisan pikiran manusia. Cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi melahirkan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Hutan dipandang sebagai lahan investasi. Sawah dipandang sebagai cadangan properti. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.

Akibatnya, Vijnanamaya Kosha, kebijaksanaan, kehilangan suara. Padahal kebijaksanaan mengajarkan bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa alam.

Ketika kebijaksanaan menghilang, maka Anandamaya Kosha, kebahagiaan sejati, juga ikut memudar. Manusia memperoleh kemakmuran material, tetapi kehilangan ketenangan batin. Ironisnya, semakin banyak fasilitas modern dibangun, semakin tinggi pula tingkat stres, kecemasan, dan keterasingan. Bukankah ini persis seperti yang digambarkan Umar Kayam melalui Manhattan?

Tujuh Chakra dan Peta Kesadaran Hawkins: Dari Keserakahan Menuju Kesadaran Ekologis

Jika Pancamaya Kosha menjelaskan struktur keberadaan, maka Chakra menggambarkan dinamika evolusi energi manusia.

Banyak persoalan lingkungan sesungguhnya berakar pada dominasi Muladhara Chakra yang hanya memikirkan urusan perut, lalu Svadhisthana Chakra yakni urusan sex, juga kekuasaan, diperkuat oleh Manipura Chakra yang mengejar kenyamanan semata. Dalam kondisi ini, pembangunan mudah berubah menjadi eksploitasi.

Sebaliknya, penyelamatan lingkungan memerlukan kebangkitan Anahata Chakra, pusat kasih sayang. Dari sinilah lahir empati terhadap semua makhluk hidup, termasuk makhluk kecil seperti kunang-kunang. Vishuddha Chakra mendorong keberanian menyuarakan kebenaran ekologis. Ajna Chakra memberi kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan. Dan akhirnya Sahasrara Chakra menghadirkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari keseluruhan kosmos.

Pandangan tersebut selaras dengan Peta Kesadaran yang dikembangkan David R. Hawkins. Hawkins menunjukkan bahwa kesadaran manusia berkembang dari tingkat rendah seperti rasa takut, amarah, keserakahan, dan kesombongan menuju keberanian, penerimaan, cinta, kedamaian, hingga pencerahan.

Pembangunan yang mengorbankan sawah, sungai, dan ruang hidup makhluk lain mencerminkan dominasi tingkat kesadaran yang berpusat pada ego. Sebaliknya, upaya memulihkan habitat kunang-kunang merupakan ekspresi kesadaran cinta. Alam bukan lagi dipandang sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari diri kita sendiri.

Dalam konteks Bali, filosofi Tri Hita Karana sesungguhnya telah lama mengajarkan prinsip yang sama. Harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam bukanlah slogan budaya, melainkan fondasi keberlanjutan kehidupan. Ketika salah satu unsur diabaikan, keseimbangan seluruh sistem akan terganggu.

Menghidupkan Kembali Cahaya yang Padam

Mungkin kita tidak akan pernah lagi melihat ribuan kunang-kunang seperti lima puluh tahun yang lalu. Namun harapan belum sepenuhnya hilang.

Memulihkan lahan basah, mempertahankan sawah produktif, melindungi sistem subak, mengurangi penggunaan pestisida, menekan polusi cahaya, serta menata pembangunan sesuai daya dukung lingkungan bukan hanya menyelamatkan kunang-kunang. Semua itu adalah upaya menyelamatkan masa depan Bali.

Kunang-kunang mengajarkan sebuah paradoks yang indah. Cahaya mereka sangat kecil, tetapi mampu mengalahkan gelapnya malam. Sebaliknya, cahaya kota yang sangat terang justru sering kali membuat manusia kehilangan arah.

Barangkali karena itu Umar Kayam memilih kunang-kunang sebagai simbol kerinduan. Ia memahami bahwa cahaya yang paling penting bukanlah cahaya yang menyilaukan mata, melainkan cahaya yang menerangi hati.

Hari ini pertanyaan itu kembali menggema: ke mana perginya kunang-kunang di Bali?

Jawabannya bukan semata-mata karena mereka telah kehilangan habitat. Bisa jadi, manusialah yang terlebih dahulu kehilangan kepekaan. Kita terlalu sibuk mengejar cahaya-cahaya buatan hingga lupa menjaga cahaya alami yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan pulau ini.

Suatu hari nanti, ketika anak-anak Bali kembali melihat kunang-kunang menari di pematang sawah, di tepi sungai, atau di sela pepohonan pada malam yang sunyi, mereka tidak hanya menyaksikan seekor serangga bercahaya. Mereka sedang menyaksikan tanda bahwa alam mulai pulih, bahwa kesadaran manusia telah bertumbuh, dan bahwa pembangunan akhirnya kembali menghormati kehidupan.

Karena sesungguhnya, menyelamatkan kunang-kunang bukan hanya menyelamatkan satu spesies. Kita sedang menyelamatkan cahaya kesadaran yang menghubungkan manusia dengan alam, menghubungkan bumi dengan langit, dan menghubungkan pembangunan dengan kebijaksanaan. Ketika cahaya kecil itu kembali menyala di malam Bali, yang sesungguhnya pulang bukan hanya kunang-kunang, melainkan harapan bahwa pulau ini masih dapat menjaga jiwanya di tengah arus zaman.

Selamat Hari Raya Kuningan, tanpa lupa bersuara untuk menjaga kesakralan Pura Sakenan dari tangan-tangan serakah atas nama pembangunan dan kenyamanan semu. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: balikesadarankunang-kunang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

Next Post

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co