“Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang.”
KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, tetapi itulah kesan mendalam yang ditinggalkan karya tersebut. Melalui percakapan sederhana antara seorang lelaki Indonesia dan seorang perempuan Amerika di sebuah apartemen Manhattan, Umar Kayam memperlihatkan bahwa kemajuan peradaban tidak selalu sejalan dengan kedamaian batin. Kota metropolitan dengan jutaan lampunya ternyata tidak mampu menggantikan kerinduan manusia akan cahaya kecil yang lahir dari alam.
Ketika membaca kembali cerpen itu hari ini, pikiran saya justru tidak melayang ke New York. Ingatan saya kembali ke Bali. Sekitar tahun 2001–2002, saya masih beberapa kali melihat kunang-kunang di sekitar rumah di Denpasar. Mereka memang tidak sebanyak pada masa kecil saya di era 1970-an, tetapi cahaya kecil itu masih hadir sebagai bagian dari malam Bali. Kini, lebih dari dua puluh tahun kemudian, saya hampir tidak pernah lagi melihatnya.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mengusik: ke mana perginya kunang-kunang di Bali? Pertanyaan itu ternyata bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pertanyaan ekologis, bahkan pertanyaan spiritual.
Seribu Kunang-Kunang di Manhattan, Seribu Kenangan di Bali
Cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan bukanlah kisah tentang kunang-kunang. Cerita itu berbicara mengenai keterasingan manusia modern. Seorang lelaki Indonesia bertemu Jane, perempuan Amerika yang hidup sendiri. Percakapan mereka mengalir tentang kehidupan, cinta, kesepian, keluarga, dan perbedaan budaya. Tidak ada konflik dramatis. Namun di balik dialog yang tenang itu, Umar Kayam sedang mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih mendalam: mengapa manusia yang hidup di tengah kemajuan justru semakin kesepian?
Kunang-kunang dalam cerpen tersebut menjadi simbol kerinduan akan kampung halaman, alam, kesederhanaan, dan kehidupan yang masih menyatu dengan ritme semesta. Manhattan dipenuhi cahaya listrik, tetapi cahaya itu tidak pernah memiliki kehangatan jiwa sebagaimana cahaya seekor kunang-kunang yang menari di malam hari.
Ironisnya, kini Bali mulai menghadapi paradoks yang serupa.
Pulau yang dahulu dikenal melalui sawah bertingkat, subak, sungai-sungai jernih, kebun, dan malam yang gelap penuh bintang perlahan berubah menjadi pulau yang semakin terang oleh lampu, semakin padat oleh beton, dan semakin bising oleh pembangunan. Jika Manhattan memang sejak awal adalah kota metropolitan, maka Bali sedang bergerak menuju kondisi yang sama. Yang hilang bukan hanya kunang-kunang. Yang perlahan menghilang adalah suasana malam Bali itu sendiri.
Kunang-Kunang: Bahasa Sunyi Alam yang Sedang Memberi Peringatan
Para ahli ekologi menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Mereka memerlukan tanah yang lembap, kualitas air yang baik, vegetasi alami, dan minim pencemaran. Larva kunang-kunang hidup di lingkungan yang sensitif terhadap pestisida, herbisida, serta perubahan bentang alam.
Karena itu, hilangnya kunang-kunang bukanlah penyebab kerusakan lingkungan, melainkan gejala bahwa lingkungan sedang kehilangan keseimbangannya.
Alih fungsi sawah menjadi kawasan permukiman, vila, hotel, dan kawasan komersial menghilangkan habitat mereka. Polusi cahaya membuat kunang-kunang kesulitan berkomunikasi melalui sinyal cahaya untuk berkembang biak. Pestisida memusnahkan larva serta organisme kecil yang menjadi makanannya. Sungai yang tercemar mengurangi kualitas habitat. Sedikit demi sedikit populasi mereka menurun. Hilangnya kunang-kunang merupakan peringatan dini bahwa sistem penyangga kehidupan sedang mengalami tekanan.
Fritjof Capra menyebut alam sebagai web of life, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Dalam jaringan tersebut tidak ada makhluk yang benar-benar kecil atau tidak penting. Ketika satu simpul rusak, simpul lainnya lambat laun ikut terganggu. Kunang-kunang sedang berbicara kepada kita. Persoalannya, apakah manusia masih mau mendengarkan bahasa alam?
Pancamaya Kosha: Ketika Tubuh Alam Mulai Kehilangan Prana
Dalam filsafat Hindu dikenal konsep Pancamaya Kosha, yaitu lima lapisan keberadaan manusia: Annamaya Kosha, Pranamaya Kosha, Manomaya Kosha, Vijnanamaya Kosha, dan Anandamaya Kosha.
Konsep ini ternyata dapat menjadi lensa untuk membaca kondisi lingkungan. Sawah yang berubah menjadi beton, sungai yang tercemar, tanah yang kehilangan kesuburan menunjukkan bahwa Annamaya Kosha, tubuh fisik alam, sedang mengalami gangguan.
Ketika udara dipenuhi polusi, air kehilangan kejernihan, dan keanekaragaman hayati menurun, Pranamaya Kosha, energi kehidupan alam, ikut melemah.
Masalah sesungguhnya terjadi pada Manomaya Kosha, lapisan pikiran manusia. Cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi melahirkan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Hutan dipandang sebagai lahan investasi. Sawah dipandang sebagai cadangan properti. Sungai diperlakukan sebagai saluran pembuangan.
Akibatnya, Vijnanamaya Kosha, kebijaksanaan, kehilangan suara. Padahal kebijaksanaan mengajarkan bahwa manusia tidak mungkin hidup tanpa alam.
Ketika kebijaksanaan menghilang, maka Anandamaya Kosha, kebahagiaan sejati, juga ikut memudar. Manusia memperoleh kemakmuran material, tetapi kehilangan ketenangan batin. Ironisnya, semakin banyak fasilitas modern dibangun, semakin tinggi pula tingkat stres, kecemasan, dan keterasingan. Bukankah ini persis seperti yang digambarkan Umar Kayam melalui Manhattan?
Tujuh Chakra dan Peta Kesadaran Hawkins: Dari Keserakahan Menuju Kesadaran Ekologis
Jika Pancamaya Kosha menjelaskan struktur keberadaan, maka Chakra menggambarkan dinamika evolusi energi manusia.
Banyak persoalan lingkungan sesungguhnya berakar pada dominasi Muladhara Chakra yang hanya memikirkan urusan perut, lalu Svadhisthana Chakra yakni urusan sex, juga kekuasaan, diperkuat oleh Manipura Chakra yang mengejar kenyamanan semata. Dalam kondisi ini, pembangunan mudah berubah menjadi eksploitasi.
Sebaliknya, penyelamatan lingkungan memerlukan kebangkitan Anahata Chakra, pusat kasih sayang. Dari sinilah lahir empati terhadap semua makhluk hidup, termasuk makhluk kecil seperti kunang-kunang. Vishuddha Chakra mendorong keberanian menyuarakan kebenaran ekologis. Ajna Chakra memberi kemampuan melihat keterhubungan seluruh kehidupan. Dan akhirnya Sahasrara Chakra menghadirkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa bumi, melainkan bagian dari keseluruhan kosmos.
Pandangan tersebut selaras dengan Peta Kesadaran yang dikembangkan David R. Hawkins. Hawkins menunjukkan bahwa kesadaran manusia berkembang dari tingkat rendah seperti rasa takut, amarah, keserakahan, dan kesombongan menuju keberanian, penerimaan, cinta, kedamaian, hingga pencerahan.
Pembangunan yang mengorbankan sawah, sungai, dan ruang hidup makhluk lain mencerminkan dominasi tingkat kesadaran yang berpusat pada ego. Sebaliknya, upaya memulihkan habitat kunang-kunang merupakan ekspresi kesadaran cinta. Alam bukan lagi dipandang sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai bagian dari diri kita sendiri.
Dalam konteks Bali, filosofi Tri Hita Karana sesungguhnya telah lama mengajarkan prinsip yang sama. Harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam bukanlah slogan budaya, melainkan fondasi keberlanjutan kehidupan. Ketika salah satu unsur diabaikan, keseimbangan seluruh sistem akan terganggu.
Menghidupkan Kembali Cahaya yang Padam
Mungkin kita tidak akan pernah lagi melihat ribuan kunang-kunang seperti lima puluh tahun yang lalu. Namun harapan belum sepenuhnya hilang.
Memulihkan lahan basah, mempertahankan sawah produktif, melindungi sistem subak, mengurangi penggunaan pestisida, menekan polusi cahaya, serta menata pembangunan sesuai daya dukung lingkungan bukan hanya menyelamatkan kunang-kunang. Semua itu adalah upaya menyelamatkan masa depan Bali.
Kunang-kunang mengajarkan sebuah paradoks yang indah. Cahaya mereka sangat kecil, tetapi mampu mengalahkan gelapnya malam. Sebaliknya, cahaya kota yang sangat terang justru sering kali membuat manusia kehilangan arah.
Barangkali karena itu Umar Kayam memilih kunang-kunang sebagai simbol kerinduan. Ia memahami bahwa cahaya yang paling penting bukanlah cahaya yang menyilaukan mata, melainkan cahaya yang menerangi hati.
Hari ini pertanyaan itu kembali menggema: ke mana perginya kunang-kunang di Bali?
Jawabannya bukan semata-mata karena mereka telah kehilangan habitat. Bisa jadi, manusialah yang terlebih dahulu kehilangan kepekaan. Kita terlalu sibuk mengejar cahaya-cahaya buatan hingga lupa menjaga cahaya alami yang selama ribuan tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan pulau ini.
Suatu hari nanti, ketika anak-anak Bali kembali melihat kunang-kunang menari di pematang sawah, di tepi sungai, atau di sela pepohonan pada malam yang sunyi, mereka tidak hanya menyaksikan seekor serangga bercahaya. Mereka sedang menyaksikan tanda bahwa alam mulai pulih, bahwa kesadaran manusia telah bertumbuh, dan bahwa pembangunan akhirnya kembali menghormati kehidupan.
Karena sesungguhnya, menyelamatkan kunang-kunang bukan hanya menyelamatkan satu spesies. Kita sedang menyelamatkan cahaya kesadaran yang menghubungkan manusia dengan alam, menghubungkan bumi dengan langit, dan menghubungkan pembangunan dengan kebijaksanaan. Ketika cahaya kecil itu kembali menyala di malam Bali, yang sesungguhnya pulang bukan hanya kunang-kunang, melainkan harapan bahwa pulau ini masih dapat menjaga jiwanya di tengah arus zaman.
Selamat Hari Raya Kuningan, tanpa lupa bersuara untuk menjaga kesakralan Pura Sakenan dari tangan-tangan serakah atas nama pembangunan dan kenyamanan semu. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole





























