14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

tatkala by tatkala
June 23, 2026
in Budaya
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Kadis Pendidikan, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata, dan panitia SLF 2026

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Singaraja, 3-5 Juli. Bahkan ia sendiri akan menyambut kedangan para penulis yang hadir dalam acara itu.

“Saya akan menyambut para penulis yang hadir di Singaraja,” kata Bupati Sutjidra saat menerima panitia SLF 2026 di kediamannya di Singaraja, Selasa, 23 Juni.

Menurut Sutjidra, ajang SLF cukup strategis untuk mempromosikan kota Singaraja dan Kabupaten Buleleng sebagai daerah yang memiliki sejarah sastra yang panjang. Apalagi di Singaraja terdapat Gedong Kirtya, perpustakaan lontar yang pertama di dunia. “Kami tentu sangat mendukung acara ini,” kata Bupati Sutjidra.

Apalagi, kata Sutjidra, di Singaraja kini sedang dibangun kawasan titik nol, satu kawasan yang mengingatkan sejarah penting berdirinya kota Singaraja sekaligus mengingat perkembangannya dari zaman kerajaan, zaman kolonial, hingga zaman saat ini. Kawasan itu nantinya akan diisi dengan berbagai kegiatan kreatif, termasuk kegiatan sastra.

“Nanti Komunitas Mahima, selain mengadakan SLF, juga bisa membuat program sastra di kawasan titik nol,” kata Bupati Sutjidra.   

Singaraja Literary Festival akan menghadirkan puluhan program yang mempertemukan sastra, manuskrip, dan berbagai gagasan kebudayaan dalam satu ruang yang berpusat di kawasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng.

Sejumlah nama besar dipastikan hadir dalam festival yang memasuki tahun keempat penyelenggaraannya ini. Filolog Sugi Lanus, sastrawan Oka Rusmini, Romo A. Setyo Wibowo, Ratih Kumala, JS Khairen, Sasti Gotama, Prof. I Nyoman Darma Putra, I Ketut Eriadi Ariana, hingga sejumlah penulis muda lainnya akan berbagi pemikiran dalam berbagai forum diskusi, lokakarya, hingga pertunjukan seni.

Di tengah semakin sempitnya ruang publik berbasis pengetahuan, kehadiran para penulis tersebut bukan sekadar menjadi daya tarik festival, melainkan bagian dari upaya menghubungkan kembali warisan pengetahuan masa lalu dengan konteks masyarakat hari ini.

Tahun ini, Singaraja Literary Festival mengangkat tema “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta”, yang diambil dari salah satu khazanah lontar Bali yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja. Tema tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca ulang warisan pengetahuan Bali sekaligus menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam bangunan peradaban.

Pendiri dan direktur festival, Kadek Sonia Piscayanti, saat audiensi itu mengatakan tema tersebut lahir dari keinginan menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa kini melalui warisan manuskrip.

“Substansi Stri Sasana tidak dimaksudkan hanya untuk perempuan dan tidak pula menempatkan perempuan sebagai objek pasif dalam peneguhan patriarki. Pustaka ini justru mengandung nilai agar perempuan tangguh menghadapi tantangan, mampu memainkan berbagai peran, bijak, dan bermartabat sesuai kedudukannya di masyarakat,” ujarnya.

“Di samping itu, Singaraja Literary Festival juga akan mempromosikan potensi sastra dan potensi kota Singaraja, sehingga bisa membuat dampak ekonomi seperti meningkatkan hunian hotel, dan menarik perhatian orang luar Bali ke Singaraja,” kata Made Adnyana Ole, pendiri SLF.

Dia mengatakan SLF menjadi daya tarik lain yang menambah alasan orang datang ke Singaraja. Singaraja sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah intelektual Bali dan Nusantara. Kota ini pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil dan dikenal sebagai tempat lahirnya banyak cendekiawan Bali. Salah satu penopang penting tradisi intelektual tersebut adalah Gedong Kirtya, perpustakaan pertama dan tertua di Bali yang menyimpan ribuan manuskrip lontar, prasasti, dan naskah kuno.

Koleksi tersebut merekam berbagai sistem pengetahuan, mulai dari sastra, sejarah, pengobatan tradisional, etika, hukum, hingga kosmologi. Namun, kekayaan pengetahuan itu kini menghadapi tantangan besar.

Modernisasi, perubahan pola literasi, serta menyusutnya ruang publik berbasis pengetahuan membuat manuskrip-manuskrip tersebut semakin jauh dari pembacanya. Banyak naskah tersimpan rapi, tetapi tidak lagi menjadi bagian dari percakapan masyarakat.

Kondisi itulah yang mendorong lahirnya Singaraja Literary Festival pada 2023. Festival ini dirancang sebagai strategi kebudayaan untuk memperluas akses publik terhadap warisan pengetahuan lontar sekaligus menghidupkan kawasan cagar budaya sebagai ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan.

“Peta persebaran sejarah manuskrip di Nusantara dan dunia sebenarnya berangkat dari Kirtya. Karena itu kami memiliki proyeksi sepuluh tahun ke depan untuk menjadikan Gedong Kirtya sebagai pusat peradaban manuskrip dunia,” kata Sonia.

Tema “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta” dipilih dengan mengambil inspirasi dari lontar Stri Sasana yang diwariskan dalam bentuk tutur atau prosa serta geguritan.

Secara etimologis, kata stri dalam bahasa Jawa Kuno berarti perempuan, sedangkan sasana berarti ajaran, aturan, etika, dan landasan moral. Dengan demikian, Stri Sasana dapat dipahami sebagai ajaran mengenai perempuan yang memuat nilai etika, moral, dan tata kehidupan.

Namun, menurut Sonia, pemaknaan terhadap naskah tersebut tidak boleh berhenti pada pembacaan yang sempit. Dalam perspektif yang lebih luas, Stri Sasana justru menunjukkan bahwa perempuan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangunan pengetahuan Bali.

“Ini menunjukkan bahwa kedudukan perempuan menjadi bagian yang sejajar dalam peradaban pengetahuan Bali,” katanya.

Melalui tema tersebut, festival ingin menunjukkan bahwa feminisme tidak selalu bertentangan dengan tradisi. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber untuk membaca kembali martabat perempuan dan memperkuat nilai-nilai kesetaraan.

Tema ini juga dimaksudkan untuk membuka ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Bukan untuk mengkultuskan seluruh isi naskah ataupun menghakiminya dengan ukuran zaman sekarang, melainkan memahami bagaimana masyarakat masa lalu memandang perempuan dan bagaimana nilai-nilai itu dapat ditafsirkan ulang agar lebih relevan dengan kehidupan masa kini.

Dalam kosmologi Bali, perempuan memiliki posisi penting sebagai daya penciptaan, pemeliharaan, dan keberlanjutan kehidupan. Energi feminin dipandang sebagai bagian dari keseimbangan semesta, sehingga kepemimpinan dan suara perempuan menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial, budaya, dan lingkungan.

Salah satu daya tarik utama SLF 2026 adalah hadirnya para penulis dan pemikir dari berbagai latar belakang.

Nama Sugi Lanus akan membawa pembacaan filologis terhadap berbagai naskah klasik Nusantara. Penulis dan pengajar Universitas Udayana, I Ketut Eriadi Ariana, akan mengulas hubungan antara sastra klasik dan sastra modern serta relevansinya dengan perkembangan zaman.

Sastrawan Oka Rusmini, yang selama ini dikenal melalui karya-karya yang kritis terhadap persoalan perempuan dan budaya Bali, juga akan hadir berbagi pandangan. Kehadiran Oka menjadi salah satu magnet penting karena karya-karyanya banyak berbicara mengenai tubuh perempuan, identitas, dan relasi kuasa dalam masyarakat.

Prof. I Nyoman Darma Putra akan menghadirkan perspektif akademis mengenai sastra dan kebudayaan Bali dalam konteks global. Sementara Romo A. Setyo Wibowo akan membawakan berbagai refleksi mengenai keseimbangan, kesehatan mental, dan kejujuran semesta.

Penulis novel populer Ratih Kumala turut dijadwalkan hadir dalam festival. Nama Ratih semakin dikenal luas setelah sejumlah karyanya diadaptasi ke layar lebar dan serial televisi. Kehadirannya menjadi ruang perjumpaan antara sastra serius dengan sastra populer yang dekat dengan generasi muda.

Sementara itu, JS Khairen yang memiliki basis pembaca kuat di kalangan muda akan menjadi salah satu pembicara yang diprediksi menarik perhatian peserta festival. Karya-karyanya yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadikan penulis ini memiliki penggemar yang luas.

Penulis muda Sasti Gotama juga akan meramaikan berbagai forum diskusi. Kehadiran para penulis lintas generasi tersebut menunjukkan bahwa festival ini tidak hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi perkembangan sastra kontemporer.

Selain mereka, sejumlah penulis, akademisi, pegiat budaya, dan pelaku industri kreatif lainnya akan hadir dalam 42 program yang disiapkan panitia.

Berbagai kegiatan yang digelar meliputi panel diskusi, kuliah umum, bedah buku, workshop, laboratorium promotor sastra, refleksi kesehatan mental, pameran, pertunjukan seni, hingga ruang pertemuan bagi komunitas.

Sejak pertama kali digelar pada 2023, Singaraja Literary Festival berkembang menjadi salah satu festival sastra terbesar di Bali Utara.

Festival ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan para penulis dan pembaca, tetapi juga membuka akses masyarakat terhadap kekayaan manuskrip yang selama ini tersimpan di Gedong Kirtya.

Berbeda dengan festival sastra pada umumnya, SLF menggabungkan sastra dengan warisan pengetahuan lokal, manuskrip, seni pertunjukan, dan ruang dialog lintas disiplin.

Model tersebut membuat festival ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan modernitas.

Melalui tema “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta”, Singaraja Literary Festival 2026 tidak hanya menghadirkan parade penulis dan pemikir nasional, tetapi juga menghidupkan kembali percakapan tentang manuskrip, perempuan, dan masa depan kebudayaan.

Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, festival ini seakan mengingatkan bahwa lembar-lembar lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat pengetahuan, ingatan, dan nilai-nilai yang masih dapat dibaca ulang untuk menjawab tantangan masa kini.

Dan selama tiga hari pada awal Juli nanti, Singaraja kembali akan menjadi ruang tempat berbagai gagasan bertemu, para penulis berbicara, dan warisan pengetahuan lama menemukan pembacanya yang baru. [T][Ad]

Penulis: IM Adnyana
Editor: Jaswanto

Tags: Bupati Nyoman SutjidraPemkab BulelengSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

Next Post

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

Read moreDetails

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
0
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

Read moreDetails

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

by tatkala
June 13, 2026
0
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

Read moreDetails

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

by Satria Aditya
May 31, 2026
0
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

Read moreDetails

The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

by Nyoman Budarsana
May 30, 2026
0
The Octopus Queen di Kawasan Broken Beach Nusa Penida, Jadi Magnet Even Internasional

Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam...

Read moreDetails

Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
0
Patinget Lepas Ida Betara Lingga, Dipuncaki Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung: 508 Pupuh Sampaikan Pesan Menjaga Bali

Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak...

Read moreDetails

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
0
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

Read moreDetails

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
0
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

Read moreDetails

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

by tatkala
May 1, 2026
0
Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

Read moreDetails

Pesta Kesenian Bali 2026 Angkat Isu-isu Sosial Aktual Lewat Panggung dan Seminar Seni

by Nyoman Budarsana
April 29, 2026
0
Sambeng Agung, Perang Hama dari Canggu di Pesta Kesenian Bali 2025

Pesona Pesta Kesenian Bali (PKB) masih memukau, dinamis dan relevan. Buktinya, pesta seni milik masyarakat Bali ini berhasil mempertahankan tradisi,...

Read moreDetails
Next Post
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co