3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
in Khas
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

Petani garam di Desa Les, Tejakula, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ketika kemarau tiba. Dalam perjumpaan itu ada harapan, ada kegembiraan, sekaligus kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang.

Sejak dua bulan terakhir, ladang-ladang garam di Desa Les, Buleleng, Bali Utara, kembali hidup. Hamparan tanah pesisir yang sebelumnya lengang mulai dipenuhi aktivitas. Orang-orang berjalan membawa ember, mengangkut air laut, membalik tanah, dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar laut bisa kembali menjelma menjadi kristal-kristal putih yang bernilai.

Saya selalu menunggu momen ini, seperti sebagian orang yang menanti pesta sepak bola dunia setiap empat tahun sekali.

Musim garam bagi saya bukan sekadar penanda pergantian cuaca. Ia adalah perayaan kehidupan. Sebuah ritus tahunan yang sejak kecil akrab dengan keseharian saya. Sebagai pemandu lokal sekaligus seseorang yang tumbuh di lingkungan pesisir, kehidupan petani garam telah menjadi bagian dari lanskap ingatan yang sulit dipisahkan dari diri saya.

Senja di ladang garam Desa Les, Tejakula, Buleleng | Foto: Don Rare

Ada satu ladang garam yang selalu menarik perhatian saya. Ladang itu bukan yang terbesar, bukan pula yang paling produktif. Namun ia adalah warisan leluhur yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Setiap kali melihatnya, saya merasa sedang menyaksikan perlombaan yang tak seimbang: perlombaan antara usia para petani, derasnya gelombang laut, dan waktu yang terus bergerak maju. Keberlanjutan garam laut tradisional Desa Les memang bergantung pada dua hal yang semakin rapuh: regenerasi dan alam.

Rata-rata usia petani garam saat ini telah melewati setengah abad. Sebagian besar rambut mereka telah memutih. Kulit mereka menghitam oleh matahari dan asin laut yang menemani sepanjang hidup. Hanya sedikit petani yang usianya lebih muda. Anak-anak muda desa banyak yang memilih bekerja di sektor pariwisata, merantau ke kota, atau mencari pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan.

Di sisi lain, laut terus menggerus daratan. Setiap tahun abrasi mencuri sedikit demi sedikit ruang yang dulu menjadi tempat produksi garam. Ombak yang datang saat musim angin timur kadang begitu ganas hingga menghantam bibir pantai tanpa ampun. Garis pantai berubah. Pohon-pohon tumbang. Sebagian lahan yang dahulu produktif kini tinggal kenangan. Romansa antara petani garam dan laut perlahan terkikis oleh waktu.

Namun, di tengah semua tantangan itu, kabar baik masih datang. Para petani garam Desa Les kini tidak lagi terlalu kesulitan menjual hasil panennya. Sebagian telah memiliki pelanggan tetap. BUMDes Les bahkan secara rutin membeli hampir satu ton garam setiap bulan. Selain itu, semakin banyak wisatawan yang tertarik menyaksikan proses pembuatan garam tradisional yang unik dan mulai langka di Indonesia.

***

Bagi pengunjung yang baru pertama kali melihatnya, proses pembuatan garam di Desa Les terasa seperti menyaksikan pengetahuan kuno yang masih hidup. Tanah pantai dicampur air laut, diaduk dan dibolak-balik berulang kali hingga menyerap kadar garam. Setelah itu tanah disaring menggunakan tinjung, alat tradisional berbentuk kerucut yang menjadi ciri khas produksi garam di daerah ini. Air garam pekat yang dihasilkan kemudian dijemur hingga menghasilkan kristal-kristal putih yang siap dipanen. Semua dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran yang mungkin sudah mulai langka di dunia yang serba instan.

Sayangnya, setahun terakhir ini kesabaran para petani semakin sering diuji.

Berkunjung ke ladang garam | Foto: Don Rare

Musim kemarau yang dahulu relatif mudah ditebak kini terasa berubah. Kalender mengatakan kemarau telah tiba, tetapi langit sering kali mempunyai rencana lain. Hujan turun tanpa aba-aba. Mendung datang tanpa undangan. Cuaca menjadi teka-teki yang sulit dibaca. Ibarat kisah cinta yang tiba-tiba diingkari. Tapi entah siapa yang mengingkari. Entah manusia, alam, atau perubahan iklim yang kini semakin nyata terasa di kehidupan sehari-hari.

Para petani tidak punya banyak pilihan selain terus bekerja. Mereka tetap membolak-balik tanah, mencampurnya dengan air laut, lalu menyaringnya dengan tekun. Meski hujan bisa datang sewaktu-waktu dan menghapus hasil kerja berhari-hari hanya dalam hitungan jam.

Mungkin karena alasan itulah media penjemuran tradisional berupa palungan dari batang pohon kelapa kini mulai banyak “dipensiunkan”. Sebagai gantinya, petani menggunakan lembaran geomembran berwarna hitam. Prosesnya tetap sama. Filosofinya tetap sama. Hanya medianya yang berubah.

Ketika hujan datang tiba-tiba, geomembran dapat dilipat dengan cepat sehingga air garam yang telah terkumpul masih bisa diselamatkan. Sebuah bentuk adaptasi sederhana terhadap cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Tidak apa-apa. Yang penting rasa asin dan gurihnya masih terjaga.

***

Senin dini hari, 22 Juni 2026, saya terbangun karena suara hujan yang menghantam atap dengan keras. Bukan gerimis yang malu-malu, melainkan hujan lebat yang turun seolah-olah kemarau belum pernah datang. Ketika membuka mata, saya sempat bertanya dalam hati: sebenarnya musim apa hari ini?

Beberapa teman berseloroh bahwa sekarang adalah musim bola. Namun bagi petani garam, musim yang sesungguhnya selalu ditentukan oleh langit, bukan oleh jadwal pertandingan.

Jalan ke ladang garam | Foto: Don Rare

Pagi harinya, seperti biasa, saya membuka kedai kopi kecil yang berdiri tepat di belakang ladang garam. Dari sana saya melihat lembaran-lembaran geomembran telah dilipat rapi. Para petani tampak memeriksa kondisi ladang mereka.

Tak ada kemarahan. Tak ada keluhan yang berlebihan. Hanya wajah-wajah yang sudah terbiasa berdamai dengan ketidakpastian. Mereka tahu bahwa jika matahari kembali bersinar, pekerjaan harus dimulai lagi dari awal. Tanah dicampur air laut lagi. Disaring lagi. Dijemur lagi. Begitulah kehidupan mereka berlangsung.

Sembari menikmati secangkir kopi dan memandang gelombang yang cukup besar di Laut Bali Utara, pikiran saya melayang ke berbagai hal. Saya membayangkan bagaimana jika sebagian kecil dana pembangunan yang begitu besar benar-benar menyentuh kebutuhan para petani dan nelayan di pesisir. Mungkin berupa insentif produksi. Mungkin berupa pembangunan tanggul untuk mengurangi abrasi. Mungkin berupa rehabilitasi terumbu karang. Mungkin pula berupa pengelolaan sampah plastik yang lebih serius.

Kadang saya berpikir, memperbaiki kehidupan masyarakat pesisir sebenarnya juga bagian dari memperbaiki kualitas hidup anak-anak Indonesia―untuk air yang lebih bersih. Udara yang lebih sehat. Laut yang lebih terjaga. Pendapatan keluarga yang lebih pasti. Bukankah semua itu pada akhirnya juga berhubungan dengan gizi, kesehatan, dan masa depan mereka?

Namun, begitulah kenyataan. Urusan perut sering kali menjadi bahan perdebatan yang panjang. Jauh lebih panjang dibanding percakapan tentang cinta, harapan, atau kehidupan yang layak.

Ladang garam menunggu musim | Foto: Don Rare

Sementara perdebatan terus berlangsung di ruang-ruang yang jauh dari pantai, para petani garam tetap bekerja. Mereka datang pagi-pagi sekali tanpa perlu disuruh. Tanpa perlu slogan. Tanpa perlu menjadi viral. Mereka hanya melakukan apa yang telah dilakukan leluhur mereka selama berabad-abad: mengubah laut menjadi garam, dan mengubah kesabaran menjadi penghidupan. Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia menunggu matahari sambil menjaga tradisi itu, saya percaya musim garam di Desa Les belum akan benar-benar berakhir.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengDesa LesgaramTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co