PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ketika kemarau tiba. Dalam perjumpaan itu ada harapan, ada kegembiraan, sekaligus kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang.
Sejak dua bulan terakhir, ladang-ladang garam di Desa Les, Buleleng, Bali Utara, kembali hidup. Hamparan tanah pesisir yang sebelumnya lengang mulai dipenuhi aktivitas. Orang-orang berjalan membawa ember, mengangkut air laut, membalik tanah, dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar laut bisa kembali menjelma menjadi kristal-kristal putih yang bernilai.
Saya selalu menunggu momen ini, seperti sebagian orang yang menanti pesta sepak bola dunia setiap empat tahun sekali.
Musim garam bagi saya bukan sekadar penanda pergantian cuaca. Ia adalah perayaan kehidupan. Sebuah ritus tahunan yang sejak kecil akrab dengan keseharian saya. Sebagai pemandu lokal sekaligus seseorang yang tumbuh di lingkungan pesisir, kehidupan petani garam telah menjadi bagian dari lanskap ingatan yang sulit dipisahkan dari diri saya.

Ada satu ladang garam yang selalu menarik perhatian saya. Ladang itu bukan yang terbesar, bukan pula yang paling produktif. Namun ia adalah warisan leluhur yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Setiap kali melihatnya, saya merasa sedang menyaksikan perlombaan yang tak seimbang: perlombaan antara usia para petani, derasnya gelombang laut, dan waktu yang terus bergerak maju. Keberlanjutan garam laut tradisional Desa Les memang bergantung pada dua hal yang semakin rapuh: regenerasi dan alam.
Rata-rata usia petani garam saat ini telah melewati setengah abad. Sebagian besar rambut mereka telah memutih. Kulit mereka menghitam oleh matahari dan asin laut yang menemani sepanjang hidup. Hanya sedikit petani yang usianya lebih muda. Anak-anak muda desa banyak yang memilih bekerja di sektor pariwisata, merantau ke kota, atau mencari pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan.
Di sisi lain, laut terus menggerus daratan. Setiap tahun abrasi mencuri sedikit demi sedikit ruang yang dulu menjadi tempat produksi garam. Ombak yang datang saat musim angin timur kadang begitu ganas hingga menghantam bibir pantai tanpa ampun. Garis pantai berubah. Pohon-pohon tumbang. Sebagian lahan yang dahulu produktif kini tinggal kenangan. Romansa antara petani garam dan laut perlahan terkikis oleh waktu.
Namun, di tengah semua tantangan itu, kabar baik masih datang. Para petani garam Desa Les kini tidak lagi terlalu kesulitan menjual hasil panennya. Sebagian telah memiliki pelanggan tetap. BUMDes Les bahkan secara rutin membeli hampir satu ton garam setiap bulan. Selain itu, semakin banyak wisatawan yang tertarik menyaksikan proses pembuatan garam tradisional yang unik dan mulai langka di Indonesia.
***
Bagi pengunjung yang baru pertama kali melihatnya, proses pembuatan garam di Desa Les terasa seperti menyaksikan pengetahuan kuno yang masih hidup. Tanah pantai dicampur air laut, diaduk dan dibolak-balik berulang kali hingga menyerap kadar garam. Setelah itu tanah disaring menggunakan tinjung, alat tradisional berbentuk kerucut yang menjadi ciri khas produksi garam di daerah ini. Air garam pekat yang dihasilkan kemudian dijemur hingga menghasilkan kristal-kristal putih yang siap dipanen. Semua dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran yang mungkin sudah mulai langka di dunia yang serba instan.
Sayangnya, setahun terakhir ini kesabaran para petani semakin sering diuji.

Musim kemarau yang dahulu relatif mudah ditebak kini terasa berubah. Kalender mengatakan kemarau telah tiba, tetapi langit sering kali mempunyai rencana lain. Hujan turun tanpa aba-aba. Mendung datang tanpa undangan. Cuaca menjadi teka-teki yang sulit dibaca. Ibarat kisah cinta yang tiba-tiba diingkari. Tapi entah siapa yang mengingkari. Entah manusia, alam, atau perubahan iklim yang kini semakin nyata terasa di kehidupan sehari-hari.
Para petani tidak punya banyak pilihan selain terus bekerja. Mereka tetap membolak-balik tanah, mencampurnya dengan air laut, lalu menyaringnya dengan tekun. Meski hujan bisa datang sewaktu-waktu dan menghapus hasil kerja berhari-hari hanya dalam hitungan jam.
Mungkin karena alasan itulah media penjemuran tradisional berupa palungan dari batang pohon kelapa kini mulai banyak “dipensiunkan”. Sebagai gantinya, petani menggunakan lembaran geomembran berwarna hitam. Prosesnya tetap sama. Filosofinya tetap sama. Hanya medianya yang berubah.
Ketika hujan datang tiba-tiba, geomembran dapat dilipat dengan cepat sehingga air garam yang telah terkumpul masih bisa diselamatkan. Sebuah bentuk adaptasi sederhana terhadap cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Tidak apa-apa. Yang penting rasa asin dan gurihnya masih terjaga.
***
Senin dini hari, 22 Juni 2026, saya terbangun karena suara hujan yang menghantam atap dengan keras. Bukan gerimis yang malu-malu, melainkan hujan lebat yang turun seolah-olah kemarau belum pernah datang. Ketika membuka mata, saya sempat bertanya dalam hati: sebenarnya musim apa hari ini?
Beberapa teman berseloroh bahwa sekarang adalah musim bola. Namun bagi petani garam, musim yang sesungguhnya selalu ditentukan oleh langit, bukan oleh jadwal pertandingan.

Pagi harinya, seperti biasa, saya membuka kedai kopi kecil yang berdiri tepat di belakang ladang garam. Dari sana saya melihat lembaran-lembaran geomembran telah dilipat rapi. Para petani tampak memeriksa kondisi ladang mereka.
Tak ada kemarahan. Tak ada keluhan yang berlebihan. Hanya wajah-wajah yang sudah terbiasa berdamai dengan ketidakpastian. Mereka tahu bahwa jika matahari kembali bersinar, pekerjaan harus dimulai lagi dari awal. Tanah dicampur air laut lagi. Disaring lagi. Dijemur lagi. Begitulah kehidupan mereka berlangsung.
Sembari menikmati secangkir kopi dan memandang gelombang yang cukup besar di Laut Bali Utara, pikiran saya melayang ke berbagai hal. Saya membayangkan bagaimana jika sebagian kecil dana pembangunan yang begitu besar benar-benar menyentuh kebutuhan para petani dan nelayan di pesisir. Mungkin berupa insentif produksi. Mungkin berupa pembangunan tanggul untuk mengurangi abrasi. Mungkin berupa rehabilitasi terumbu karang. Mungkin pula berupa pengelolaan sampah plastik yang lebih serius.
Kadang saya berpikir, memperbaiki kehidupan masyarakat pesisir sebenarnya juga bagian dari memperbaiki kualitas hidup anak-anak Indonesia―untuk air yang lebih bersih. Udara yang lebih sehat. Laut yang lebih terjaga. Pendapatan keluarga yang lebih pasti. Bukankah semua itu pada akhirnya juga berhubungan dengan gizi, kesehatan, dan masa depan mereka?
Namun, begitulah kenyataan. Urusan perut sering kali menjadi bahan perdebatan yang panjang. Jauh lebih panjang dibanding percakapan tentang cinta, harapan, atau kehidupan yang layak.

Sementara perdebatan terus berlangsung di ruang-ruang yang jauh dari pantai, para petani garam tetap bekerja. Mereka datang pagi-pagi sekali tanpa perlu disuruh. Tanpa perlu slogan. Tanpa perlu menjadi viral. Mereka hanya melakukan apa yang telah dilakukan leluhur mereka selama berabad-abad: mengubah laut menjadi garam, dan mengubah kesabaran menjadi penghidupan. Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia menunggu matahari sambil menjaga tradisi itu, saya percaya musim garam di Desa Les belum akan benar-benar berakhir.[T]
Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto






























