2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
in Khas
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

Petani garam di Desa Les, Tejakula, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ketika kemarau tiba. Dalam perjumpaan itu ada harapan, ada kegembiraan, sekaligus kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang.

Sejak dua bulan terakhir, ladang-ladang garam di Desa Les, Buleleng, Bali Utara, kembali hidup. Hamparan tanah pesisir yang sebelumnya lengang mulai dipenuhi aktivitas. Orang-orang berjalan membawa ember, mengangkut air laut, membalik tanah, dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar laut bisa kembali menjelma menjadi kristal-kristal putih yang bernilai.

Saya selalu menunggu momen ini, seperti sebagian orang yang menanti pesta sepak bola dunia setiap empat tahun sekali.

Musim garam bagi saya bukan sekadar penanda pergantian cuaca. Ia adalah perayaan kehidupan. Sebuah ritus tahunan yang sejak kecil akrab dengan keseharian saya. Sebagai pemandu lokal sekaligus seseorang yang tumbuh di lingkungan pesisir, kehidupan petani garam telah menjadi bagian dari lanskap ingatan yang sulit dipisahkan dari diri saya.

Senja di ladang garam Desa Les, Tejakula, Buleleng | Foto: Don Rare

Ada satu ladang garam yang selalu menarik perhatian saya. Ladang itu bukan yang terbesar, bukan pula yang paling produktif. Namun ia adalah warisan leluhur yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Setiap kali melihatnya, saya merasa sedang menyaksikan perlombaan yang tak seimbang: perlombaan antara usia para petani, derasnya gelombang laut, dan waktu yang terus bergerak maju. Keberlanjutan garam laut tradisional Desa Les memang bergantung pada dua hal yang semakin rapuh: regenerasi dan alam.

Rata-rata usia petani garam saat ini telah melewati setengah abad. Sebagian besar rambut mereka telah memutih. Kulit mereka menghitam oleh matahari dan asin laut yang menemani sepanjang hidup. Hanya sedikit petani yang usianya lebih muda. Anak-anak muda desa banyak yang memilih bekerja di sektor pariwisata, merantau ke kota, atau mencari pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan.

Di sisi lain, laut terus menggerus daratan. Setiap tahun abrasi mencuri sedikit demi sedikit ruang yang dulu menjadi tempat produksi garam. Ombak yang datang saat musim angin timur kadang begitu ganas hingga menghantam bibir pantai tanpa ampun. Garis pantai berubah. Pohon-pohon tumbang. Sebagian lahan yang dahulu produktif kini tinggal kenangan. Romansa antara petani garam dan laut perlahan terkikis oleh waktu.

Namun, di tengah semua tantangan itu, kabar baik masih datang. Para petani garam Desa Les kini tidak lagi terlalu kesulitan menjual hasil panennya. Sebagian telah memiliki pelanggan tetap. BUMDes Les bahkan secara rutin membeli hampir satu ton garam setiap bulan. Selain itu, semakin banyak wisatawan yang tertarik menyaksikan proses pembuatan garam tradisional yang unik dan mulai langka di Indonesia.

***

Bagi pengunjung yang baru pertama kali melihatnya, proses pembuatan garam di Desa Les terasa seperti menyaksikan pengetahuan kuno yang masih hidup. Tanah pantai dicampur air laut, diaduk dan dibolak-balik berulang kali hingga menyerap kadar garam. Setelah itu tanah disaring menggunakan tinjung, alat tradisional berbentuk kerucut yang menjadi ciri khas produksi garam di daerah ini. Air garam pekat yang dihasilkan kemudian dijemur hingga menghasilkan kristal-kristal putih yang siap dipanen. Semua dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran yang mungkin sudah mulai langka di dunia yang serba instan.

Sayangnya, setahun terakhir ini kesabaran para petani semakin sering diuji.

Berkunjung ke ladang garam | Foto: Don Rare

Musim kemarau yang dahulu relatif mudah ditebak kini terasa berubah. Kalender mengatakan kemarau telah tiba, tetapi langit sering kali mempunyai rencana lain. Hujan turun tanpa aba-aba. Mendung datang tanpa undangan. Cuaca menjadi teka-teki yang sulit dibaca. Ibarat kisah cinta yang tiba-tiba diingkari. Tapi entah siapa yang mengingkari. Entah manusia, alam, atau perubahan iklim yang kini semakin nyata terasa di kehidupan sehari-hari.

Para petani tidak punya banyak pilihan selain terus bekerja. Mereka tetap membolak-balik tanah, mencampurnya dengan air laut, lalu menyaringnya dengan tekun. Meski hujan bisa datang sewaktu-waktu dan menghapus hasil kerja berhari-hari hanya dalam hitungan jam.

Mungkin karena alasan itulah media penjemuran tradisional berupa palungan dari batang pohon kelapa kini mulai banyak “dipensiunkan”. Sebagai gantinya, petani menggunakan lembaran geomembran berwarna hitam. Prosesnya tetap sama. Filosofinya tetap sama. Hanya medianya yang berubah.

Ketika hujan datang tiba-tiba, geomembran dapat dilipat dengan cepat sehingga air garam yang telah terkumpul masih bisa diselamatkan. Sebuah bentuk adaptasi sederhana terhadap cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Tidak apa-apa. Yang penting rasa asin dan gurihnya masih terjaga.

***

Senin dini hari, 22 Juni 2026, saya terbangun karena suara hujan yang menghantam atap dengan keras. Bukan gerimis yang malu-malu, melainkan hujan lebat yang turun seolah-olah kemarau belum pernah datang. Ketika membuka mata, saya sempat bertanya dalam hati: sebenarnya musim apa hari ini?

Beberapa teman berseloroh bahwa sekarang adalah musim bola. Namun bagi petani garam, musim yang sesungguhnya selalu ditentukan oleh langit, bukan oleh jadwal pertandingan.

Jalan ke ladang garam | Foto: Don Rare

Pagi harinya, seperti biasa, saya membuka kedai kopi kecil yang berdiri tepat di belakang ladang garam. Dari sana saya melihat lembaran-lembaran geomembran telah dilipat rapi. Para petani tampak memeriksa kondisi ladang mereka.

Tak ada kemarahan. Tak ada keluhan yang berlebihan. Hanya wajah-wajah yang sudah terbiasa berdamai dengan ketidakpastian. Mereka tahu bahwa jika matahari kembali bersinar, pekerjaan harus dimulai lagi dari awal. Tanah dicampur air laut lagi. Disaring lagi. Dijemur lagi. Begitulah kehidupan mereka berlangsung.

Sembari menikmati secangkir kopi dan memandang gelombang yang cukup besar di Laut Bali Utara, pikiran saya melayang ke berbagai hal. Saya membayangkan bagaimana jika sebagian kecil dana pembangunan yang begitu besar benar-benar menyentuh kebutuhan para petani dan nelayan di pesisir. Mungkin berupa insentif produksi. Mungkin berupa pembangunan tanggul untuk mengurangi abrasi. Mungkin berupa rehabilitasi terumbu karang. Mungkin pula berupa pengelolaan sampah plastik yang lebih serius.

Kadang saya berpikir, memperbaiki kehidupan masyarakat pesisir sebenarnya juga bagian dari memperbaiki kualitas hidup anak-anak Indonesia―untuk air yang lebih bersih. Udara yang lebih sehat. Laut yang lebih terjaga. Pendapatan keluarga yang lebih pasti. Bukankah semua itu pada akhirnya juga berhubungan dengan gizi, kesehatan, dan masa depan mereka?

Namun, begitulah kenyataan. Urusan perut sering kali menjadi bahan perdebatan yang panjang. Jauh lebih panjang dibanding percakapan tentang cinta, harapan, atau kehidupan yang layak.

Ladang garam menunggu musim | Foto: Don Rare

Sementara perdebatan terus berlangsung di ruang-ruang yang jauh dari pantai, para petani garam tetap bekerja. Mereka datang pagi-pagi sekali tanpa perlu disuruh. Tanpa perlu slogan. Tanpa perlu menjadi viral. Mereka hanya melakukan apa yang telah dilakukan leluhur mereka selama berabad-abad: mengubah laut menjadi garam, dan mengubah kesabaran menjadi penghidupan. Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia menunggu matahari sambil menjaga tradisi itu, saya percaya musim garam di Desa Les belum akan benar-benar berakhir.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengDesa LesgaramTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co