13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
in Khas
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

Petani garam di Desa Les, Tejakula, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ketika kemarau tiba. Dalam perjumpaan itu ada harapan, ada kegembiraan, sekaligus kecemasan yang tak pernah benar-benar hilang.

Sejak dua bulan terakhir, ladang-ladang garam di Desa Les, Buleleng, Bali Utara, kembali hidup. Hamparan tanah pesisir yang sebelumnya lengang mulai dipenuhi aktivitas. Orang-orang berjalan membawa ember, mengangkut air laut, membalik tanah, dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar laut bisa kembali menjelma menjadi kristal-kristal putih yang bernilai.

Saya selalu menunggu momen ini, seperti sebagian orang yang menanti pesta sepak bola dunia setiap empat tahun sekali.

Musim garam bagi saya bukan sekadar penanda pergantian cuaca. Ia adalah perayaan kehidupan. Sebuah ritus tahunan yang sejak kecil akrab dengan keseharian saya. Sebagai pemandu lokal sekaligus seseorang yang tumbuh di lingkungan pesisir, kehidupan petani garam telah menjadi bagian dari lanskap ingatan yang sulit dipisahkan dari diri saya.

Senja di ladang garam Desa Les, Tejakula, Buleleng | Foto: Don Rare

Ada satu ladang garam yang selalu menarik perhatian saya. Ladang itu bukan yang terbesar, bukan pula yang paling produktif. Namun ia adalah warisan leluhur yang masih bertahan di tengah perubahan zaman. Setiap kali melihatnya, saya merasa sedang menyaksikan perlombaan yang tak seimbang: perlombaan antara usia para petani, derasnya gelombang laut, dan waktu yang terus bergerak maju. Keberlanjutan garam laut tradisional Desa Les memang bergantung pada dua hal yang semakin rapuh: regenerasi dan alam.

Rata-rata usia petani garam saat ini telah melewati setengah abad. Sebagian besar rambut mereka telah memutih. Kulit mereka menghitam oleh matahari dan asin laut yang menemani sepanjang hidup. Hanya sedikit petani yang usianya lebih muda. Anak-anak muda desa banyak yang memilih bekerja di sektor pariwisata, merantau ke kota, atau mencari pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan.

Di sisi lain, laut terus menggerus daratan. Setiap tahun abrasi mencuri sedikit demi sedikit ruang yang dulu menjadi tempat produksi garam. Ombak yang datang saat musim angin timur kadang begitu ganas hingga menghantam bibir pantai tanpa ampun. Garis pantai berubah. Pohon-pohon tumbang. Sebagian lahan yang dahulu produktif kini tinggal kenangan. Romansa antara petani garam dan laut perlahan terkikis oleh waktu.

Namun, di tengah semua tantangan itu, kabar baik masih datang. Para petani garam Desa Les kini tidak lagi terlalu kesulitan menjual hasil panennya. Sebagian telah memiliki pelanggan tetap. BUMDes Les bahkan secara rutin membeli hampir satu ton garam setiap bulan. Selain itu, semakin banyak wisatawan yang tertarik menyaksikan proses pembuatan garam tradisional yang unik dan mulai langka di Indonesia.

***

Bagi pengunjung yang baru pertama kali melihatnya, proses pembuatan garam di Desa Les terasa seperti menyaksikan pengetahuan kuno yang masih hidup. Tanah pantai dicampur air laut, diaduk dan dibolak-balik berulang kali hingga menyerap kadar garam. Setelah itu tanah disaring menggunakan tinjung, alat tradisional berbentuk kerucut yang menjadi ciri khas produksi garam di daerah ini. Air garam pekat yang dihasilkan kemudian dijemur hingga menghasilkan kristal-kristal putih yang siap dipanen. Semua dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran yang mungkin sudah mulai langka di dunia yang serba instan.

Sayangnya, setahun terakhir ini kesabaran para petani semakin sering diuji.

Berkunjung ke ladang garam | Foto: Don Rare

Musim kemarau yang dahulu relatif mudah ditebak kini terasa berubah. Kalender mengatakan kemarau telah tiba, tetapi langit sering kali mempunyai rencana lain. Hujan turun tanpa aba-aba. Mendung datang tanpa undangan. Cuaca menjadi teka-teki yang sulit dibaca. Ibarat kisah cinta yang tiba-tiba diingkari. Tapi entah siapa yang mengingkari. Entah manusia, alam, atau perubahan iklim yang kini semakin nyata terasa di kehidupan sehari-hari.

Para petani tidak punya banyak pilihan selain terus bekerja. Mereka tetap membolak-balik tanah, mencampurnya dengan air laut, lalu menyaringnya dengan tekun. Meski hujan bisa datang sewaktu-waktu dan menghapus hasil kerja berhari-hari hanya dalam hitungan jam.

Mungkin karena alasan itulah media penjemuran tradisional berupa palungan dari batang pohon kelapa kini mulai banyak “dipensiunkan”. Sebagai gantinya, petani menggunakan lembaran geomembran berwarna hitam. Prosesnya tetap sama. Filosofinya tetap sama. Hanya medianya yang berubah.

Ketika hujan datang tiba-tiba, geomembran dapat dilipat dengan cepat sehingga air garam yang telah terkumpul masih bisa diselamatkan. Sebuah bentuk adaptasi sederhana terhadap cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Tidak apa-apa. Yang penting rasa asin dan gurihnya masih terjaga.

***

Senin dini hari, 22 Juni 2026, saya terbangun karena suara hujan yang menghantam atap dengan keras. Bukan gerimis yang malu-malu, melainkan hujan lebat yang turun seolah-olah kemarau belum pernah datang. Ketika membuka mata, saya sempat bertanya dalam hati: sebenarnya musim apa hari ini?

Beberapa teman berseloroh bahwa sekarang adalah musim bola. Namun bagi petani garam, musim yang sesungguhnya selalu ditentukan oleh langit, bukan oleh jadwal pertandingan.

Jalan ke ladang garam | Foto: Don Rare

Pagi harinya, seperti biasa, saya membuka kedai kopi kecil yang berdiri tepat di belakang ladang garam. Dari sana saya melihat lembaran-lembaran geomembran telah dilipat rapi. Para petani tampak memeriksa kondisi ladang mereka.

Tak ada kemarahan. Tak ada keluhan yang berlebihan. Hanya wajah-wajah yang sudah terbiasa berdamai dengan ketidakpastian. Mereka tahu bahwa jika matahari kembali bersinar, pekerjaan harus dimulai lagi dari awal. Tanah dicampur air laut lagi. Disaring lagi. Dijemur lagi. Begitulah kehidupan mereka berlangsung.

Sembari menikmati secangkir kopi dan memandang gelombang yang cukup besar di Laut Bali Utara, pikiran saya melayang ke berbagai hal. Saya membayangkan bagaimana jika sebagian kecil dana pembangunan yang begitu besar benar-benar menyentuh kebutuhan para petani dan nelayan di pesisir. Mungkin berupa insentif produksi. Mungkin berupa pembangunan tanggul untuk mengurangi abrasi. Mungkin berupa rehabilitasi terumbu karang. Mungkin pula berupa pengelolaan sampah plastik yang lebih serius.

Kadang saya berpikir, memperbaiki kehidupan masyarakat pesisir sebenarnya juga bagian dari memperbaiki kualitas hidup anak-anak Indonesia―untuk air yang lebih bersih. Udara yang lebih sehat. Laut yang lebih terjaga. Pendapatan keluarga yang lebih pasti. Bukankah semua itu pada akhirnya juga berhubungan dengan gizi, kesehatan, dan masa depan mereka?

Namun, begitulah kenyataan. Urusan perut sering kali menjadi bahan perdebatan yang panjang. Jauh lebih panjang dibanding percakapan tentang cinta, harapan, atau kehidupan yang layak.

Ladang garam menunggu musim | Foto: Don Rare

Sementara perdebatan terus berlangsung di ruang-ruang yang jauh dari pantai, para petani garam tetap bekerja. Mereka datang pagi-pagi sekali tanpa perlu disuruh. Tanpa perlu slogan. Tanpa perlu menjadi viral. Mereka hanya melakukan apa yang telah dilakukan leluhur mereka selama berabad-abad: mengubah laut menjadi garam, dan mengubah kesabaran menjadi penghidupan. Dan selama masih ada orang-orang yang bersedia menunggu matahari sambil menjaga tradisi itu, saya percaya musim garam di Desa Les belum akan benar-benar berakhir.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengDesa LesgaramTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

Next Post

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails
Next Post
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co