Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di Five Roastery & Art Café, Jalan Pulau Serangan No. 19, Denpasar, pada Minggu, 19 Juli 2026. Tempat yang selama ini dikenal sebagai ruang pertemuan kreatif itu kembali menghadirkan perbincangan yang mengajak publik menelusuri lapisan terdalam dari proses penciptaan seni.
Kali ini, perhatian tertuju pada Model Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta, sebuah gagasan yang memandang kreativitas bukan semata-mata sebagai upaya menemukan bentuk visual baru, melainkan sebagai perjalanan yang menyatukan pengalaman hidup, kebudayaan, ruang, waktu, dan spiritualitas.

Dalam diskusi tersebut, Wayan Sujana Suklu akan mempresentasikan sebuah makalah yang membedah perjalanan artistik Ketut Suwidiarta. Menurutnya, kreativitas sang perupa lahir dari perjumpaan berbagai lanskap budaya. Kosmologi Bali menjadi pijakan ontologis yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia, Yogyakarta menghadirkan tradisi pendidikan seni yang menumbuhkan kesadaran kritis, sementara pengalaman di Kolkata, India, memperluas cakrawala spiritual sekaligus memperkaya perspektif estetikanya. Ketiga ruang itu kemudian berkelindan dalam praktik seni kontemporer yang melahirkan bahasa rupa yang terus berkembang.
Melalui model tersebut, kreativitas dipahami sebagai proses yang selalu bergerak. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang beku, begitu pula modernitas tidak dianggap sebagai tujuan akhir. Keduanya berdialog secara dinamis, saling mengisi, dan melahirkan kemungkinan-kemungkinan artistik baru yang relevan dengan perkembangan seni global.
Ketut Suwidiarta sendiri akan hadir untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan kreatifnya. Bagi dirinya, seni tidak pernah berdiri terpisah dari kehidupan sehari-hari. Setiap karya merupakan bagian dari proses pertumbuhan diri, refleksi atas pengalaman, sekaligus cara memahami berbagai perubahan yang dihadapi manusia.

Pengalaman hidup di Bali, Yogyakarta, dan India menjadi tiga simpul penting yang membentuk karakter artistiknya. Dari Bali ia menyerap kekuatan kosmologi dan tradisi, dari Yogyakarta ia menemukan ruang dialog intelektual, sedangkan India mempertemukannya dengan pemikiran-pemikiran spiritual Asia yang memperkaya cara pandangnya terhadap seni.
Karena itu, Suwidiarta menilai batas-batas antara Timur dan Barat dalam seni kini semakin cair. Dalam dunia yang saling terhubung, identitas artistik tidak lagi dibangun melalui pertentangan dua kutub tersebut, melainkan melalui kemampuan seorang seniman mengolah berbagai pengalaman budaya menjadi bahasa visual yang otentik.
Pandangan itu sekaligus membuka pembicaraan mengenai posisi seniman Bali dalam peta seni nasional maupun internasional. Dengan kekayaan tradisi yang dimilikinya, Bali dinilai memiliki daya tarik yang terus mengundang dialog kreatif. Tantangannya bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi mentransformasikannya menjadi sumber inspirasi bagi praktik seni kontemporer.
Diskusi ini diharapkan menjadi ruang bagi publik untuk memahami bahwa proses berkesenian tidak hanya berbicara mengenai teknik, medium, atau estetika visual, melainkan juga menyangkut cara manusia membangun relasi dengan alam, budaya, sejarah, dan pengalaman hidup yang terus berubah.

Bagi Five Roastery & Art Café, kegiatan semacam ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang perjumpaan antara seni, pemikiran, dan masyarakat. Pemilik Five Roastery & Art Café, Ricky Salim, mengatakan diskusi seni akan diselenggarakan secara berkala agar lahir ruang dialog yang sehat bagi perkembangan seni dan kebudayaan di Bali.
“Semoga ini menjadi ruang terbuka untuk berkembangnya produk pemikiran dalam seni dan budaya di Bali,” ujarnya.
Dengan suasana yang lebih akrab dibanding ruang akademik formal, diskusi ini membuka kesempatan bagi seniman, akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat umum untuk terlibat dalam percakapan tentang seni sebagai bahasa kosmologis yang melintasi batas-batas budaya. Dari secangkir kopi hingga pertukaran gagasan, Five Roastery & Art Café berupaya menunjukkan bahwa ruang kreatif dapat tumbuh di mana saja, selama masih ada keinginan untuk berdialog dan belajar bersama.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































