25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Tubuh yang Bicara

Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. “Sesss” minyak panas ketemu adonan tempe. Wanginya nyelonong ke jalan, memanggil siapa saja yang lewat. Di radio butut di pojok warung, ada suara Bawor lagi ngelawak: keras, cempreng, bikin orang ketawa sambil nutup kuping. Di bangku bambu, dua orang ngobrol. “Rika ngapa durung lunga? Wis sore kie!” (Ngapain kamu belum pergi? Sudah sore ini ) Kalimatnya menusuk, tapi tangannya menyodorkan mendoan hangat.

Tiga hal itu datang bersamaan. Tidak janjian. Tapi rasanya selalu satu paket. Mendoan di tangan, Bawor di telinga, Cablaka di mulut. Awalnya saya kira ini kebetulan. Makanan khas, tokoh wayang, gaya bicara. Tapi lama-lama terasa: ketiganya ngomong bahasa yang sama. Bahasa tubuh. Bahasa orang yang capek basa-basi. Bahasa orang yang memilih jujur, walau caranya bikin orang luar kaget.

Esai ini mencoba membaca. Bukan apa itu Mendoan, Bawor, dan Cablaka. Tapi apa yang mereka tolak bersama-sama. Karena dari penolakan itulah, watak Banyumas terbaca paling terang.

Mendoan

Makanan khas Banyumas yang bisa jadi lauk atau cuma camilan ringan ini terbuat dari  kedelai. Namun berbeda dengan saudaranya di lain tempat yang disebut sebagai “tempe”.  Tempe Banyumas mendapat perlakuan di wajan agak istimewa. Ia cukup digoreng setengah matang saja.  

Kaca mata Fenomenologis terhadap mendoan yang  menyetuh  mulut  ternyata menarik: dia  menghadirkan sensasi tekstur yang luarnya tak begitu garing,  dalamnya masih lembut, anget, berminyak di jari. Orang memakannya buru-buru, anget-anget, pakai sambal kecap. Tak  menunggu “sempurna garing”.

Mendoan seakan hadir dengan nuansa  jujur, apa adanya, tidak  neko-neko. Secara semiotis bisa kita maknai setengah matang sebagai  menolak kemewahan/keribetan. “ora perlu mateng banget sing penting bisa dipangan” (tidak perlu mateng sungguh yang penting bisa dipangan)

Tempe sebagai bahan dasar mendoan juga identik  dengan bahan makanan yang  merakyat. Sederhana, murah, mengenyangkan. Kehadirannya yang “cepat saji” menggambarkan  budaya kerja. Tidak  banyak gaya, langsung gas.

Mendoan sering  dimakan bareng. Suatu bentuk kebersamaan. Mendoan jarang dimakan sendirian. Mendoan ternyata bukan sekedar makanan, di dalamnya menyimpan makna karakter  : Praktis, pekerja, anti ribet. “Sing  penting wareg, aja kakehen gaya” (Yang penting kenyang gak perlu banyak gaya)

Bawor – Etika Jiwa dan Loyalitas

Karakter  Bawor memang unik. Dalam lakon wayang kulit  gagrak Banyumas dia digambarkan suka tertawa dengan suara keras, wujud jelek tapi bikin nyaman. Rasa aman karena dia selalu ada. Secara semiotika Bawor sekan mengenakan topeng badut  namun sebenarnya dia menggambarkan kejujuran. Kebodohan yang dia sering tampilkan adalah strategi.  Yang jelas dia sosok yang setia pada  Bima.  Hierarki  dalam pewayangan yang egaliter. Makna watak Bawor adalah blak-blakan, setia, kuat. “Cangkeme elek, atine emas” (Penampilan/mulut jelek tapi berhati emas)

Cablaka – Etika Bahasa dan Relasi

Para pendatang yang pertama masuk di Banyumas pasti kaget. Cara berbicara wong panginyongan seakan menghadirkaan getaran frekuensi suara yang cenderung keras di telinga. Awalnya mungkin kaget, lama-lama hangat.

Semiotika mencatat, kata yang menunjuk pada sebutan kamu – saya, “Nyong-rika“, seakan  meruntuhkan sekat. Nada tinggi yang terucap adalah bentuk  transparansi, bukan agresi. Terkesan pendek-pendak,  singkat yang berarti  menghormati waktu orang. Makna Cablaka menggambarkan  watak: Egaliter, terus terang, tanpa topeng. “Ngomong apa anane”.( bicara apa adanya)

Penolakan terhadap Kemewahan Formal

Tubuh pertama kali bertemu Mendoan bukan lewat mata, tapi lewat hidung dan tangan. Wanginya bawang dan ketumbar yang ketiban minyak panas. Teksturnya tidak rata: ada bagian yang sedikit garing, ada yang masih lembek dan berminyak di jari. Mendoan tidak pernah meminta piring keramik. Ia cukup digulung di atas kertas minyak, dimakan sambil berdiri. Ia menolak untuk “ditata”. Ia menolak menunggu sampai warnanya coklat keemasan sempurna. Karena lima menit menunggu itu artinya lima menit lebih lama untuk lapar.

Di panggung, tubuh lain juga melakukan penolakan yang sama. Bawor muncul dengan sorban yang tidak pernah rapi, perut buncit, dan suara yang terlalu keras untuk ruang pendopo. Ia menolak kostum ksatria yang mengilat. Ia menolak gerak gemulai. Dalang tidak pernah membuatnya tampan. Karena ketampanan dianggap jarak. Ketampanan membuat penonton segan, bukan tertawa. Dan Bawor butuh tawa untuk masuk ke hati orang. Ia memilih jadi jelek, karena kejelekan adalah bentuk kejujuran paling cepat. 

Begitu juga dengan mulut. Cablaka menolak kalimat pembuka yang panjang. Menolak “dengan segala hormat” dan “kiranya berkenan”. Ia langsung memotong: “Rika arep lunga ngendi?” ( Kamu akan pergi  ke mana ? )Tidak ada bantal kata. Tidak ada karpet bahasa. Lansung ke inti. Karena bagi lidah Banyumas, basa-basi adalah minyak yang membuat pembicaraan jadi licin dan tidak bisa dipegang.  Secara semiotik, ketiganya sedang mengatakan hal yang sama dengan bahasa berbeda: isi lebih penting dari kemasan. 

Mendoan bilang: “Aku tidak perlu garing sempurna untuk mengenyangkan.”

Bawor bilang: “Aku tidak perlu tampan untuk menolong.”

Cablaka bilang: “Aku tidak perlu sopan untuk jujur.” 

Ini bukan ketidakmampuan. Ini pilihan etis. Kemewahan formal dianggap musuh, karena ia menunda, ia memisahkan, ia memalsukan. Mendoan yang terlalu garing jadi keripik dan kehilangan jiwanya yang lembut. Bawor yang terlalu gagah akan kehilangan daya kritisnya. Cablaka yang terlalu halus akan kehilangan keberaniannya. 

Maka penolakan terhadap kemewahan formal ini adalah fondasi watak Banyumas: sing penting njerone, dudu kemulusane. Yang penting isinya, bukan mulusnya. Di tanah yang keras dan sawah yang luas ini, orang belajar bahwa yang menyelamatkan bukan penampilan, tapi fungsi.

Penolakan terhadap Jarak Sosial

Jarak diukur paling jujur oleh tubuh. Dan tubuh orang Banyumas alergi pada jarak.  Lihat Mendoan. Ia tidak pernah disajikan sendirian di atas piring mewah. Ia datang setumpuk, di tengah meja, di atas kertas, atau langsung dari wajan. Tidak ada pembeda “porsi tamu” dan “porsi tuan rumah”. Jari-jari berebut, saling bersinggungan, saling menawarkan: “Mangga, tambah maning“.  (Mari ambil lagi ) Mendoan memaksa bahu dan siku berdekatan. Ia menghapus batas antara yang punya hajat dan yang bertamu.

Di panggung wayang, jarak juga diruntuhkan oleh satu sosok. Bawor. Ia berani memotong omongan Bima. Ia berani mengejek raja Duryudana di depan umum. Dalam pakem lain, itu kurang ajar. Dalam gagrag Banyumas, itu wajar. Karena Bawor mengingatkan: di hadapan masalah, jabatan luruh. Yang ada hanya manusia dan manusia. Sorban miringnya, celananya yang kepanjangan, adalah tanda bahwa ia menolak berdiri di atas panggung yang lebih tinggi dari penontonnya.  Dan di warung, di pasar, di jalan, jarak diratakan oleh satu kata: “rika”.

Cablaka tidak mengenal “bapak”, “ibu”, “panjenengan“. Untuk lurah, untuk guru, untuk tukang becak, katanya sama: “Rika wis mangan?” Nada suaranya juga sama: keras, ceplas-ceplos, tanpa berbisik. Awalnya menyinggung telinga orang luar. Tapi lama-lama terasa melegakan. Karena di situ tidak ada sandiwara. Tidak ada yang dibuat-buat tinggi atau dibuat-buat rendah.  Secara semiotik, ketiganya adalah mesin perata.

Mendoan = meja bundar yang tidak berkepala.

Bawor = badut yang boleh menegur raja.

Cablaka = kata ganti yang menyamakan derajat. 

Masyarakat Banyumas hidup di tanah pertanian dan kerja keras. Di sawah, di pasar, di pabrik, tidak ada waktu untuk sungkan. Maka diciptakanlah makanan, tokoh, dan bahasa yang menolak protokol. Karena protokol dianggap penghalang gotong royong.  Sintesisnya: Penolakan terhadap jarak sosial ini melahirkan watak egaliter dan blak-blakan. Orang Banyumas tidak mengukur orang dari pangkatnya. Ia mengukur dari “tulus apa ora“. Dari sinilah lahir rasa aman yang aneh: kamu boleh dimarahi hari ini, tapi besok pasti ditawari mendoan.

Penolakan terhadap Penundaan

Waktu bagi orang Banyumas bukan garis lurus. Waktu adalah panas.  Mendoan tidak bisa menunggu. Begitu diangkat dari wajan, ia berteriak: “Mangan siki!” Lima menit saja ia jadi dingin, lembek, dan kehilangan nyawanya. Maka tidak ada istilah “nanti”. Ada mendoan, ada tangan yang langsung menyambar. Menunda makan mendoan sama artinya dengan menolak rezeki.

Bawor juga begitu. Ketika Bima bingung, ketika Pandawa terdesak, Bawor tidak pernah bilang “tak rembugan disit“. Ia maju. Caranya boleh konyol, omongannya boleh ngawur, tapi badannya paling dulu ada di depan. Penundaan baginya adalah kemunafikan. “Ngomong prihatin tapi ora obah” ( Katanya ikut prihatin tapi tidak bergerak ) itu yang paling ia benci. 

Dan Cablaka menutup semuanya lewat lidah. Tidak ada “saya pertimbangkan dulu”, “nanti saya kabari”,  Yang ada “iya” atau “ora”. “Bisa” atau “ora bisa”. Titik. Keras memang. Tapi setelah itu selesai. Tidak ada PR di kepala, tidak ada utang janji.  Secara semiotik, ketiganya adalah jam.

Mendoan = jam perut. Ia menandai waktu dengan lapar.

Bawor = jam krisis. Ia menandai waktu dengan masalah yang harus dibereskan sekarang.

Cablaka = jam kata. Ia memotong waktu bertele-tele menjadi satu keputusan. 

Mengapa begitu? Karena hidup di Banyumas itu dekat dengan tanah, air, dan kerja fisik. Sawah tidak bisa ditunda hujannya. Dagangan tidak bisa ditunda busuknya. Tenaga tidak bisa ditunda capeknya. Maka lahirlah etika: aja kelamaan, mengko keburu kadaluwarsa.  Penundaan dianggap pemborosan. Pemborosan tenaga, pemborosan kejujuran, pemborosan kepercayaan. 

Sintesisnya: Dari sini lahir watak cepet tanggap dan to the point. Orang Banyumas mungkin tidak paling pintar merencanakan, tapi ia paling cepat bertindak. Ia tidak jago membuat presentasi, tapi ia jago membereskan masalah.  Karena bagi dia, kebenaran yang ditunda adalah kebenaran yang mati.

Apa yang Tertinggal Saat Dunia Sibuk Berdandan

Mendoan, Bawor, dan Cablaka adalah tiga jawaban atas pertanyaan yang sama: Bagaimana cara hidup jujur di dunia?Jawabannya: Jangan ditunda. Jangan jaga jarak. Jangan banyak gaya.Kejujuran orang Banyumas bukan kejujuran di atas kertas atau di atas mimbar. Ia kejujuran yang bau minyak, yang teriak, yang bikin kaget di awal. Kejujuran yang bertubuh, berkeringat, dan bekerja.

Di zaman sekarang yang serba “aesthetic”, “personal branding”, dan “soft skill komunikasi”, watak ini sering dianggap kasar. Dianggap kurang. Tapi mungkin justru di sinilah Banyumas menyimpan penawarnya. Pengingat bahwa ada cara lain untuk menjadi manusia: cara yang tidak menjual kemasan, tidak membangun tembok, dan tidak menunda kebenaran.

Selama masih ada wajan yang menggoreg setengah matang mendoan, masih ada dalang yang memainkan  Bawor, dan masih ada orang yang berani bilang “ora” dengan lantang, maka Banyumas belum kehilangan jiwanya. Karena jiwa itu sederhana saja: tulus, setara, dan cepat. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyumas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Next Post

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails
Next Post
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co