4 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
in Esai
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tri Nugroho Adi

Tubuh yang Bicara

Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. “Sesss” minyak panas ketemu adonan tempe. Wanginya nyelonong ke jalan, memanggil siapa saja yang lewat. Di radio butut di pojok warung, ada suara Bawor lagi ngelawak: keras, cempreng, bikin orang ketawa sambil nutup kuping. Di bangku bambu, dua orang ngobrol. “Rika ngapa durung lunga? Wis sore kie!” (Ngapain kamu belum pergi? Sudah sore ini ) Kalimatnya menusuk, tapi tangannya menyodorkan mendoan hangat.

Tiga hal itu datang bersamaan. Tidak janjian. Tapi rasanya selalu satu paket. Mendoan di tangan, Bawor di telinga, Cablaka di mulut. Awalnya saya kira ini kebetulan. Makanan khas, tokoh wayang, gaya bicara. Tapi lama-lama terasa: ketiganya ngomong bahasa yang sama. Bahasa tubuh. Bahasa orang yang capek basa-basi. Bahasa orang yang memilih jujur, walau caranya bikin orang luar kaget.

Esai ini mencoba membaca. Bukan apa itu Mendoan, Bawor, dan Cablaka. Tapi apa yang mereka tolak bersama-sama. Karena dari penolakan itulah, watak Banyumas terbaca paling terang.

Mendoan

Makanan khas Banyumas yang bisa jadi lauk atau cuma camilan ringan ini terbuat dari  kedelai. Namun berbeda dengan saudaranya di lain tempat yang disebut sebagai “tempe”.  Tempe Banyumas mendapat perlakuan di wajan agak istimewa. Ia cukup digoreng setengah matang saja.  

Kaca mata Fenomenologis terhadap mendoan yang  menyetuh  mulut  ternyata menarik: dia  menghadirkan sensasi tekstur yang luarnya tak begitu garing,  dalamnya masih lembut, anget, berminyak di jari. Orang memakannya buru-buru, anget-anget, pakai sambal kecap. Tak  menunggu “sempurna garing”.

Mendoan seakan hadir dengan nuansa  jujur, apa adanya, tidak  neko-neko. Secara semiotis bisa kita maknai setengah matang sebagai  menolak kemewahan/keribetan. “ora perlu mateng banget sing penting bisa dipangan” (tidak perlu mateng sungguh yang penting bisa dipangan)

Tempe sebagai bahan dasar mendoan juga identik  dengan bahan makanan yang  merakyat. Sederhana, murah, mengenyangkan. Kehadirannya yang “cepat saji” menggambarkan  budaya kerja. Tidak  banyak gaya, langsung gas.

Mendoan sering  dimakan bareng. Suatu bentuk kebersamaan. Mendoan jarang dimakan sendirian. Mendoan ternyata bukan sekedar makanan, di dalamnya menyimpan makna karakter  : Praktis, pekerja, anti ribet. “Sing  penting wareg, aja kakehen gaya” (Yang penting kenyang gak perlu banyak gaya)

Bawor – Etika Jiwa dan Loyalitas

Karakter  Bawor memang unik. Dalam lakon wayang kulit  gagrak Banyumas dia digambarkan suka tertawa dengan suara keras, wujud jelek tapi bikin nyaman. Rasa aman karena dia selalu ada. Secara semiotika Bawor sekan mengenakan topeng badut  namun sebenarnya dia menggambarkan kejujuran. Kebodohan yang dia sering tampilkan adalah strategi.  Yang jelas dia sosok yang setia pada  Bima.  Hierarki  dalam pewayangan yang egaliter. Makna watak Bawor adalah blak-blakan, setia, kuat. “Cangkeme elek, atine emas” (Penampilan/mulut jelek tapi berhati emas)

Cablaka – Etika Bahasa dan Relasi

Para pendatang yang pertama masuk di Banyumas pasti kaget. Cara berbicara wong panginyongan seakan menghadirkaan getaran frekuensi suara yang cenderung keras di telinga. Awalnya mungkin kaget, lama-lama hangat.

Semiotika mencatat, kata yang menunjuk pada sebutan kamu – saya, “Nyong-rika“, seakan  meruntuhkan sekat. Nada tinggi yang terucap adalah bentuk  transparansi, bukan agresi. Terkesan pendek-pendak,  singkat yang berarti  menghormati waktu orang. Makna Cablaka menggambarkan  watak: Egaliter, terus terang, tanpa topeng. “Ngomong apa anane”.( bicara apa adanya)

Penolakan terhadap Kemewahan Formal

Tubuh pertama kali bertemu Mendoan bukan lewat mata, tapi lewat hidung dan tangan. Wanginya bawang dan ketumbar yang ketiban minyak panas. Teksturnya tidak rata: ada bagian yang sedikit garing, ada yang masih lembek dan berminyak di jari. Mendoan tidak pernah meminta piring keramik. Ia cukup digulung di atas kertas minyak, dimakan sambil berdiri. Ia menolak untuk “ditata”. Ia menolak menunggu sampai warnanya coklat keemasan sempurna. Karena lima menit menunggu itu artinya lima menit lebih lama untuk lapar.

Di panggung, tubuh lain juga melakukan penolakan yang sama. Bawor muncul dengan sorban yang tidak pernah rapi, perut buncit, dan suara yang terlalu keras untuk ruang pendopo. Ia menolak kostum ksatria yang mengilat. Ia menolak gerak gemulai. Dalang tidak pernah membuatnya tampan. Karena ketampanan dianggap jarak. Ketampanan membuat penonton segan, bukan tertawa. Dan Bawor butuh tawa untuk masuk ke hati orang. Ia memilih jadi jelek, karena kejelekan adalah bentuk kejujuran paling cepat. 

Begitu juga dengan mulut. Cablaka menolak kalimat pembuka yang panjang. Menolak “dengan segala hormat” dan “kiranya berkenan”. Ia langsung memotong: “Rika arep lunga ngendi?” ( Kamu akan pergi  ke mana ? )Tidak ada bantal kata. Tidak ada karpet bahasa. Lansung ke inti. Karena bagi lidah Banyumas, basa-basi adalah minyak yang membuat pembicaraan jadi licin dan tidak bisa dipegang.  Secara semiotik, ketiganya sedang mengatakan hal yang sama dengan bahasa berbeda: isi lebih penting dari kemasan. 

Mendoan bilang: “Aku tidak perlu garing sempurna untuk mengenyangkan.”

Bawor bilang: “Aku tidak perlu tampan untuk menolong.”

Cablaka bilang: “Aku tidak perlu sopan untuk jujur.” 

Ini bukan ketidakmampuan. Ini pilihan etis. Kemewahan formal dianggap musuh, karena ia menunda, ia memisahkan, ia memalsukan. Mendoan yang terlalu garing jadi keripik dan kehilangan jiwanya yang lembut. Bawor yang terlalu gagah akan kehilangan daya kritisnya. Cablaka yang terlalu halus akan kehilangan keberaniannya. 

Maka penolakan terhadap kemewahan formal ini adalah fondasi watak Banyumas: sing penting njerone, dudu kemulusane. Yang penting isinya, bukan mulusnya. Di tanah yang keras dan sawah yang luas ini, orang belajar bahwa yang menyelamatkan bukan penampilan, tapi fungsi.

Penolakan terhadap Jarak Sosial

Jarak diukur paling jujur oleh tubuh. Dan tubuh orang Banyumas alergi pada jarak.  Lihat Mendoan. Ia tidak pernah disajikan sendirian di atas piring mewah. Ia datang setumpuk, di tengah meja, di atas kertas, atau langsung dari wajan. Tidak ada pembeda “porsi tamu” dan “porsi tuan rumah”. Jari-jari berebut, saling bersinggungan, saling menawarkan: “Mangga, tambah maning“.  (Mari ambil lagi ) Mendoan memaksa bahu dan siku berdekatan. Ia menghapus batas antara yang punya hajat dan yang bertamu.

Di panggung wayang, jarak juga diruntuhkan oleh satu sosok. Bawor. Ia berani memotong omongan Bima. Ia berani mengejek raja Duryudana di depan umum. Dalam pakem lain, itu kurang ajar. Dalam gagrag Banyumas, itu wajar. Karena Bawor mengingatkan: di hadapan masalah, jabatan luruh. Yang ada hanya manusia dan manusia. Sorban miringnya, celananya yang kepanjangan, adalah tanda bahwa ia menolak berdiri di atas panggung yang lebih tinggi dari penontonnya.  Dan di warung, di pasar, di jalan, jarak diratakan oleh satu kata: “rika”.

Cablaka tidak mengenal “bapak”, “ibu”, “panjenengan“. Untuk lurah, untuk guru, untuk tukang becak, katanya sama: “Rika wis mangan?” Nada suaranya juga sama: keras, ceplas-ceplos, tanpa berbisik. Awalnya menyinggung telinga orang luar. Tapi lama-lama terasa melegakan. Karena di situ tidak ada sandiwara. Tidak ada yang dibuat-buat tinggi atau dibuat-buat rendah.  Secara semiotik, ketiganya adalah mesin perata.

Mendoan = meja bundar yang tidak berkepala.

Bawor = badut yang boleh menegur raja.

Cablaka = kata ganti yang menyamakan derajat. 

Masyarakat Banyumas hidup di tanah pertanian dan kerja keras. Di sawah, di pasar, di pabrik, tidak ada waktu untuk sungkan. Maka diciptakanlah makanan, tokoh, dan bahasa yang menolak protokol. Karena protokol dianggap penghalang gotong royong.  Sintesisnya: Penolakan terhadap jarak sosial ini melahirkan watak egaliter dan blak-blakan. Orang Banyumas tidak mengukur orang dari pangkatnya. Ia mengukur dari “tulus apa ora“. Dari sinilah lahir rasa aman yang aneh: kamu boleh dimarahi hari ini, tapi besok pasti ditawari mendoan.

Penolakan terhadap Penundaan

Waktu bagi orang Banyumas bukan garis lurus. Waktu adalah panas.  Mendoan tidak bisa menunggu. Begitu diangkat dari wajan, ia berteriak: “Mangan siki!” Lima menit saja ia jadi dingin, lembek, dan kehilangan nyawanya. Maka tidak ada istilah “nanti”. Ada mendoan, ada tangan yang langsung menyambar. Menunda makan mendoan sama artinya dengan menolak rezeki.

Bawor juga begitu. Ketika Bima bingung, ketika Pandawa terdesak, Bawor tidak pernah bilang “tak rembugan disit“. Ia maju. Caranya boleh konyol, omongannya boleh ngawur, tapi badannya paling dulu ada di depan. Penundaan baginya adalah kemunafikan. “Ngomong prihatin tapi ora obah” ( Katanya ikut prihatin tapi tidak bergerak ) itu yang paling ia benci. 

Dan Cablaka menutup semuanya lewat lidah. Tidak ada “saya pertimbangkan dulu”, “nanti saya kabari”,  Yang ada “iya” atau “ora”. “Bisa” atau “ora bisa”. Titik. Keras memang. Tapi setelah itu selesai. Tidak ada PR di kepala, tidak ada utang janji.  Secara semiotik, ketiganya adalah jam.

Mendoan = jam perut. Ia menandai waktu dengan lapar.

Bawor = jam krisis. Ia menandai waktu dengan masalah yang harus dibereskan sekarang.

Cablaka = jam kata. Ia memotong waktu bertele-tele menjadi satu keputusan. 

Mengapa begitu? Karena hidup di Banyumas itu dekat dengan tanah, air, dan kerja fisik. Sawah tidak bisa ditunda hujannya. Dagangan tidak bisa ditunda busuknya. Tenaga tidak bisa ditunda capeknya. Maka lahirlah etika: aja kelamaan, mengko keburu kadaluwarsa.  Penundaan dianggap pemborosan. Pemborosan tenaga, pemborosan kejujuran, pemborosan kepercayaan. 

Sintesisnya: Dari sini lahir watak cepet tanggap dan to the point. Orang Banyumas mungkin tidak paling pintar merencanakan, tapi ia paling cepat bertindak. Ia tidak jago membuat presentasi, tapi ia jago membereskan masalah.  Karena bagi dia, kebenaran yang ditunda adalah kebenaran yang mati.

Apa yang Tertinggal Saat Dunia Sibuk Berdandan

Mendoan, Bawor, dan Cablaka adalah tiga jawaban atas pertanyaan yang sama: Bagaimana cara hidup jujur di dunia?Jawabannya: Jangan ditunda. Jangan jaga jarak. Jangan banyak gaya.Kejujuran orang Banyumas bukan kejujuran di atas kertas atau di atas mimbar. Ia kejujuran yang bau minyak, yang teriak, yang bikin kaget di awal. Kejujuran yang bertubuh, berkeringat, dan bekerja.

Di zaman sekarang yang serba “aesthetic”, “personal branding”, dan “soft skill komunikasi”, watak ini sering dianggap kasar. Dianggap kurang. Tapi mungkin justru di sinilah Banyumas menyimpan penawarnya. Pengingat bahwa ada cara lain untuk menjadi manusia: cara yang tidak menjual kemasan, tidak membangun tembok, dan tidak menunda kebenaran.

Selama masih ada wajan yang menggoreg setengah matang mendoan, masih ada dalang yang memainkan  Bawor, dan masih ada orang yang berani bilang “ora” dengan lantang, maka Banyumas belum kehilangan jiwanya. Karena jiwa itu sederhana saja: tulus, setara, dan cepat. [T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: banyumas
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

Next Post

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co