13 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Angelique Maria Cuaca by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
in Khas
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Diskusi soal promosi Sastra Indonesia bersama Yani Kurniawan (tim promosi sastra Indonesia), dan Ratih Kumala (penulis), dimoderatori oleh Nathalie Indry (the darlings literary collective)

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary agent yang membuka jejaring, hingga publicist yang mengantarkan ke khalayak.

Kesadaran akan kerja bersama itulah yang melatarbelakangi lahirnya The Darling Literary Collective. Diinisiasi oleh Kadek Sonia Piscayanti, kolektif ini lahir dari keinginan kuat membangun ekosistem sastra Indonesia yang berkesinambungan. Diawali kebersamaan di Lab Promotor Sastra Kemenbud RI tahun 2025, Sonia bersama Ama Gaspar, Reza Mardian, Nathalie Indry, Namira Daufina, dan Innezdhe Ayang Marhaeni, kolektif ini tumbuh dari pengalaman mereka dalam Laboratorium Promotor dan Penerjemah Sastra Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan pada 2025. Program tersebut mempertemukan para promotor sastra dengan penerbit, penerjemah, komunitas pembaca, pegiat alih wahana, publicist, hingga pelaku seni lintas disiplin.

Dari pertemuan itu muncul satu keyakinan: membawa sastra Indonesia ke panggung internasional tidak cukup berhenti pada penerjemahan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana karya-karya itu terus bergerak, berubah bentuk menjadi berbagai medium, menemukan pembaca baru, dan masuk ke ruang-ruang percakapan yang lebih luas.

“Tujuannya bukan hanya bagaimana pembicaraan soal Indonesia hadir di rak-rak internasional. Tapi juga agar Indonesia menjadi bagian dari percakapan dunia.” Kalimat itu menjadi benang pengikat yang melintasi peluncuran The Darling Literary Collective.

Merawat Perjalanan Sebuah Cerita

Peluncuran The Darling Literary Collective berlangsung secara hibrid di Makarya Gramedia Matraman, Jakarta, Singaraja, dan Banggai pada Jumat (26/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 yang akan digelar pada 3–5 Juli mendatang.

Sejumlah pembicara hadir langsung di lokasi, sementara lainnya mengikuti secara daring dari Bali, Banggai, dan beberapa kota lain. Jejaring yang terlibat pun berlapis mulai dari penulis, editor, penerbit, promotor sastra, pengelola festival, hingga pelaku industri kreatif.

“Keberadaan The Darling adalah bagian dari upaya merawat potensi sastra Indonesia. Saya percaya sastra kita bisa melampaui batas-batas geografis,” ujar Kadek Sonia Piscayanti dalam pidato pembukaannya. Ia merupakan penulis, dosen, seniman multidisiplin, sekaligus Direktur SLF.

Sonia, inisiator the darlings membuka acara

Bagi Sonia, kekuatan itu tidak semata terletak pada jumlah karya yang lahir, tetapi pada jaringan yang membuat karya tersebut tetap bergerak. Ia menyebut peran penerbit, penerjemah, komunitas pembaca, publicist, seniman lintas bidang seperti teater, musik, seni rupa, dan film sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling bersinggungan.

“Ke depan, The Darling akan mengembangkan berbagai program, mulai dari penerbitan, penerjemahan, publikasi, pengelolaan hak cipta, hingga alih wahana,” lanjut Sonia.

Setelah itu, enam anggota inti The Darling diperkenalkan sebagai bagian dari kerja yang saling bertaut, meski datang dari lintasan praktik yang berbeda. Dipandu oleh Innezdhe Ayang Marhaeni—editor Penerbit Buku Kompas—perkenalan dimulai dari Ama Gaspar yang hadir secara daring dari Banggai. Ia membawa pengalaman sebagai penulis puisi, editor lepas, sekaligus Direktur Festival Sastra Banggai, dengan fokus pada penguatan karya dari Indonesia Timur.

Lalu ada Namira Daufina, bekerja di ranah penerbitan independen dan keagenan sastra di Perpress. Ia menempatkan perannya pada pengelolaan hak, promosi, dan perluasan jangkauan karya.

Dari sisi media dan penyiaran, Nathalie Indry yang telah lama bekerja di radio dan podcast literasi mengembangkan fokus pada penyelenggaraan acara dan publikasi, sekaligus kerja kolaboratif dalam pengelolaan keagenan.

Sedangkan Reza Mardian hadir dari latar kritik film dan pemasaran audiovisual. Ia bekerja pada pencarian talenta, promosi, serta kemungkinan peralihan karya ke medium film dan bentuk visual lain. Dalam kolektif ini, ia membuka jalur yang menghubungkan teks dengan ruang pembacaan yang lebih visual.

Setelah pengenalan tim The Darling, ruang beralih ke pembacaan karya; hulu dari ekosistem sastra. Dari Banggai, secara daring Ama Gaspar membacakan Pagar Rumahku Berubah Warna, puisi yang menyingkap ingatan tentang rumah, kepulangan, dan pergeseran ruang hidup—karya yang juga tercatat dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.

Neni Muhyiddin membacakan tentang Elegi Erfaldi (2023) tentang kehilangan dalam aksi penolakan tambang, serta Kapan Saja yang lahir di masa pandemi dan berangkat dari luka serta pengalaman menulis itu sendiri. Ketiga karya ini memperlihatkan bagaimana pengalaman dari Indonesia Timur membentuk lanskap sastra yang lebih luas.

Ratih Kumala kemudian membacakan bab awal Koloni dalam versi bahasa Inggris. Cuplikan berjudul Apocalypse menampilkan kehidupan semut di tengah kehancuran koloninya. Versi Bahasa Inggris yang dibacakan Ratih membuat teks terasa seperti berpindah tempat, tak lagi berhenti di bahasa asalnya.

Pembacaan tersebut tidak hanya memperlihatkan bagaimana sebuah cerita berubah ketika memasuki bahasa lain, tetapi juga menggambarkan gagasan yang sejak awal diusung The Darling: bahwa perjalanan sebuah karya tidak berhenti ketika buku diterbitkan.

Pembacaan itu mengantarkan ke sebuah perenungan: siapa yang merawat perjalanan sebuah cerita setelah ia lahir? Ketika buku selesai ditulis dan diterbitkan, ke mana ia akan pergi dan melalui siapa ia bergerak?

Pertanyaan itu menjadi pembuka diskusi tentang tren industri buku Indonesia dan peran agen sastra. Diskusi dipandu oleh Reza Mardian, dengan Innezdhe Ayang Marhaeni, Hamzah Muhammad, dan Namira Daufina sebagai pembicara.

Jalan Tikus Sastra Indonesia

Dalam diskusi, Ratih Kumala, penulis novel Gadis Kretek, menyebut jalur promosi sastra Indonesia masih seperti “jalan tikus”. Persoalannya bukan pada kurangnya karya yang baik, melainkan belum adanya sistem yang mampu membaca pasar, memetakan jalur distribusi, dan menghubungkan karya dengan pembaca yang tepat. Akibatnya, banyak buku hadir di festival atau bursa internasional, tetapi berhenti sebagai satu peristiwa tanpa kesinambungan.

Ratih Kumala membacakan terjemahan novelnya Koloni dalam Bahasa Inggris

Menurut Ratih, karya Indonesia kerap berangkat tanpa riset yang memadai terhadap negara tujuan. Setiap promosi seperti dimulai dari awal karena tidak ada sistem yang merekam pengalaman, membangun jejaring, dan meneruskannya menjadi kerja bersama. Karena itu, promosi sastra tidak bisa terus bergantung pada individu atau agensi, melainkan memerlukan kebijakan yang berkelanjutan.

Ia mencontohkan Korea Selatan dan Thailand yang sejak awal memetakan pasar dan menghubungkan produksi, penerjemahan, hingga distribusi. Genre populer seperti BL/GL diperlakukan bukan sekadar tren, melainkan bagian dari strategi industri budaya untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.

Nathalie Indri, pendiri Buku Perempuan Baca, Direktur Borobudur Literary Agency, sekaligus bagian dari tim program Indonesia International Book Fair, melengkapi percakapan dari sisi agensi sastra. Menurutnya, media sosial, bookstagram dan komunitas membaca memang membuka jalan baru bagi pembaca menemukan buku. Namun perjalanan sebuah karya masih menghadapi tantangan soal pengelolaan hak cipta, penjualan hak terjemahan, negosiasi dengan penerbit asing, hingga kemungkinan alih wahana.

Bagi Nathalie, penerjemahan bukan garis akhir. Sebuah cerita dapat terus hidup melalui medium lain. Adaptasi Gadis Kretek menjadi serial maupun Ronggeng Dukuh Paruk ke layar lebar menunjukkan bahwa umur sebuah karya tidak berhenti di halaman buku. Menurutnya, The Darling bisa memperluas kemungkinan sebuah cerita bisa hidup di medium yang lain.

Yani Kurniawan, Direktur Literasia, mengingatkan bahwa persoalan sastra Indonesia bukan kekurangan karya, melainkan kekurangan infrastruktur yang merawat perjalanan karya itu sendiri. Dari pengalamannya membawa buku Indonesia ke berbagai bursa internasional, ia melihat kerja promosi masih bertumpu pada sedikit agensi dan jejaring yang terbatas. Karena itu, melalui Laboratorium Promotor dan Penerjemah Sastra (LAPS), Kementerian Kebudayaan mulai menyiapkan promotor sastra baru untuk memperluas akses, memperkuat advokasi hak cipta, sekaligus membuka lebih banyak pintu bagi penulis.

Namun, menurut Yani, upaya tersebut sulit berkembang tanpa dukungan negara yang konsisten. Ia menyoroti pemangkasan anggaran yang membuat berbagai program—mulai dari pelatihan promotor, lokakarya penerjemahan, hingga penguatan festival sastra—tertahan di tengah jalan. Padahal, negara seperti Korea Selatan membangun ekosistem sastra melalui investasi jangka panjang yang menghubungkan pendanaan, penerjemahan, promosi, hingga alih wahana dalam satu sistem yang berkesinambungan.

Innezdhe Ayang Marhaeni (Editor Penerbit Buku Kompas) melihat lima tahun terakhir sebagai periode yang memaksa industri terus bermanuver menghadapi pandemi, gejolak politik, dan tekanan ekonomi. Situasi tersebut ikut menggeser selera pembaca ke buku-buku bertema self-help dan refleksi diri, yang menjadi ruang untuk mencari jawaban atas kegelisahan sehari-hari.

Namira Daufina (Pearpress) mengamini kecenderungan itu. Di tengah meningkatnya minat baca, ia melihat paradoks lain: komunitas membaca, bookstagram, hingga toko buku independen tumbuh semakin hidup, tetapi industri penerbitan justru dibayangi kenaikan harga kertas, ongkos cetak, dan biaya distribusi. Ekosistem pembaca berkembang, sementara daya tahan industrinya semakin rapuh.

Dari perspektif toko buku, Hamzah Muhammad (Makarya) melihat pandemi melahirkan kebutuhan akan “keintiman baru” dengan buku. Makarya ia bangun sebagai ruang ketiga, tempat pembaca tidak sekadar membeli buku, tetapi bertemu, berdiskusi, dan membentuk komunitas. Baginya, media sosial, algoritma, bahkan kecerdasan buatan bukan ancaman bagi literasi. Yang justru semakin bernilai adalah suara yang personal dan hubungan yang otentik antara penulis, pembaca, dan komunitas.

Menanggapi pertanyaan peserta tentang mengapa komunitas literasi justru tumbuh di tengah situasi ekonomi yang memburuk, Hamzah melihatnya sebagai bentuk daya tahan masyarakat sipil. Ketika dukungan struktural belum memadai, berbagai inisiatif lahir dari bawah: komunitas membaca, gerakan membaca di transportasi publik, hingga perjuangan Ratih Kumala bersama sejumlah penulis mendorong kebijakan perpajakan yang lebih adil bagi dunia perbukuan. Bagi Hamzah, yang sedang tumbuh bukan sekadar jumlah pembaca, melainkan kesadaran bahwa ekosistem sastra hanya dapat bertahan jika dirawat secara kolektif.

Dari Jalan Tikus Menuju Jalan Raya: Sebuah Ikhtiar untuk Jalan Sastra Indonesia

“Selama promosi sastra masih bergantung pada proyek jangka pendek, karya Indonesia akan terus berjalan di jalan tikus—bukan karena kekurangan cerita, melainkan karena jalannya belum benar-benar dibangun.”

Dengan demikian, peluncuran The Darling Literary Collective tidak sekadar menandai lahirnya sebuah kolektif baru. Ia menawarkan cara pandang bahwa internasionalisasi sastra bukanlah proyek mengirim buku ke luar negeri, melainkan membangun kemungkinan agar cerita-cerita dari Indonesia terus bergerak—melintasi bahasa, medium, dan batas negara—hingga akhirnya menemukan tempatnya sendiri dalam percakapan sastra dunia.

The Darling berupaya membangun ruang untuk mempertemukan kerja-kerja yang selama ini tersebar: penulis, penerjemah, editor, promotor sastra, penerbit, pengelola hak cipta, hingga pelaku alih wahana. Bukan untuk menggantikan yang telah ada, tetapi menjahitnya menjadi ekosistem yang lebih utuh.

Mengubah jalan tikus menjadi jalan raya, dengan demikian, bukan berarti membuat semua karya menempuh satu arah yang sama. Yang dibangun adalah kemungkinan agar lebih banyak cerita dari berbagai daerah di Indonesia dapat bergerak tanpa terus bergantung pada kebetulan, relasi personal, atau proyek sesaat. Sebab sebuah karya tidak hanya membutuhkan penulis yang baik, tetapi juga jalan yang membuatnya dapat terus melintas. [T]

Penulis: Angelique Maria Cuaca
Editor: Adnyana Ole

Tags: Sastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Next Post

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Angelique Maria Cuaca

Angelique Maria Cuaca

Atau, Tjoa Sian Hui. Lahir di Padang-Sumatera Barat. Penulis, peneliti, penggiat seni dan Hak Asasi Manusia.

Related Posts

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails
Next Post
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026
Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali
Pariwisata

Premadewi Resort, Menemukan “Beauty of Ubud” dalam Kehangatan Alam dan Keramahtamahan Bali

EMBUSAN angin menggoyangkan dedaunan. Dari balik pepohonan besar, embun pagi masih menyisakan kesejukan. Suara gemericik sungai terdengar di antara hijaunya...

by Nyoman Budarsana
August 12, 2026
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co