5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Angelique Maria Cuaca by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
in Khas
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Diskusi soal promosi Sastra Indonesia bersama Yani Kurniawan (tim promosi sastra Indonesia), dan Ratih Kumala (penulis), dimoderatori oleh Nathalie Indry (the darlings literary collective)

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary agent yang membuka jejaring, hingga publicist yang mengantarkan ke khalayak.

Kesadaran akan kerja bersama itulah yang melatarbelakangi lahirnya The Darling Literary Collective. Diinisiasi oleh Kadek Sonia Piscayanti, kolektif ini lahir dari keinginan kuat membangun ekosistem sastra Indonesia yang berkesinambungan. Diawali kebersamaan di Lab Promotor Sastra Kemenbud RI tahun 2025, Sonia bersama Ama Gaspar, Reza Mardian, Nathalie Indry, Namira Daufina, dan Innezdhe Ayang Marhaeni, kolektif ini tumbuh dari pengalaman mereka dalam Laboratorium Promotor dan Penerjemah Sastra Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan pada 2025. Program tersebut mempertemukan para promotor sastra dengan penerbit, penerjemah, komunitas pembaca, pegiat alih wahana, publicist, hingga pelaku seni lintas disiplin.

Dari pertemuan itu muncul satu keyakinan: membawa sastra Indonesia ke panggung internasional tidak cukup berhenti pada penerjemahan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana karya-karya itu terus bergerak, berubah bentuk menjadi berbagai medium, menemukan pembaca baru, dan masuk ke ruang-ruang percakapan yang lebih luas.

“Tujuannya bukan hanya bagaimana pembicaraan soal Indonesia hadir di rak-rak internasional. Tapi juga agar Indonesia menjadi bagian dari percakapan dunia.” Kalimat itu menjadi benang pengikat yang melintasi peluncuran The Darling Literary Collective.

Merawat Perjalanan Sebuah Cerita

Peluncuran The Darling Literary Collective berlangsung secara hibrid di Makarya Gramedia Matraman, Jakarta, Singaraja, dan Banggai pada Jumat (26/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 yang akan digelar pada 3–5 Juli mendatang.

Sejumlah pembicara hadir langsung di lokasi, sementara lainnya mengikuti secara daring dari Bali, Banggai, dan beberapa kota lain. Jejaring yang terlibat pun berlapis mulai dari penulis, editor, penerbit, promotor sastra, pengelola festival, hingga pelaku industri kreatif.

“Keberadaan The Darling adalah bagian dari upaya merawat potensi sastra Indonesia. Saya percaya sastra kita bisa melampaui batas-batas geografis,” ujar Kadek Sonia Piscayanti dalam pidato pembukaannya. Ia merupakan penulis, dosen, seniman multidisiplin, sekaligus Direktur SLF.

Sonia, inisiator the darlings membuka acara

Bagi Sonia, kekuatan itu tidak semata terletak pada jumlah karya yang lahir, tetapi pada jaringan yang membuat karya tersebut tetap bergerak. Ia menyebut peran penerbit, penerjemah, komunitas pembaca, publicist, seniman lintas bidang seperti teater, musik, seni rupa, dan film sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling bersinggungan.

“Ke depan, The Darling akan mengembangkan berbagai program, mulai dari penerbitan, penerjemahan, publikasi, pengelolaan hak cipta, hingga alih wahana,” lanjut Sonia.

Setelah itu, enam anggota inti The Darling diperkenalkan sebagai bagian dari kerja yang saling bertaut, meski datang dari lintasan praktik yang berbeda. Dipandu oleh Innezdhe Ayang Marhaeni—editor Penerbit Buku Kompas—perkenalan dimulai dari Ama Gaspar yang hadir secara daring dari Banggai. Ia membawa pengalaman sebagai penulis puisi, editor lepas, sekaligus Direktur Festival Sastra Banggai, dengan fokus pada penguatan karya dari Indonesia Timur.

Lalu ada Namira Daufina, bekerja di ranah penerbitan independen dan keagenan sastra di Perpress. Ia menempatkan perannya pada pengelolaan hak, promosi, dan perluasan jangkauan karya.

Dari sisi media dan penyiaran, Nathalie Indry yang telah lama bekerja di radio dan podcast literasi mengembangkan fokus pada penyelenggaraan acara dan publikasi, sekaligus kerja kolaboratif dalam pengelolaan keagenan.

Sedangkan Reza Mardian hadir dari latar kritik film dan pemasaran audiovisual. Ia bekerja pada pencarian talenta, promosi, serta kemungkinan peralihan karya ke medium film dan bentuk visual lain. Dalam kolektif ini, ia membuka jalur yang menghubungkan teks dengan ruang pembacaan yang lebih visual.

Setelah pengenalan tim The Darling, ruang beralih ke pembacaan karya; hulu dari ekosistem sastra. Dari Banggai, secara daring Ama Gaspar membacakan Pagar Rumahku Berubah Warna, puisi yang menyingkap ingatan tentang rumah, kepulangan, dan pergeseran ruang hidup—karya yang juga tercatat dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.

Neni Muhyiddin membacakan tentang Elegi Erfaldi (2023) tentang kehilangan dalam aksi penolakan tambang, serta Kapan Saja yang lahir di masa pandemi dan berangkat dari luka serta pengalaman menulis itu sendiri. Ketiga karya ini memperlihatkan bagaimana pengalaman dari Indonesia Timur membentuk lanskap sastra yang lebih luas.

Ratih Kumala kemudian membacakan bab awal Koloni dalam versi bahasa Inggris. Cuplikan berjudul Apocalypse menampilkan kehidupan semut di tengah kehancuran koloninya. Versi Bahasa Inggris yang dibacakan Ratih membuat teks terasa seperti berpindah tempat, tak lagi berhenti di bahasa asalnya.

Pembacaan tersebut tidak hanya memperlihatkan bagaimana sebuah cerita berubah ketika memasuki bahasa lain, tetapi juga menggambarkan gagasan yang sejak awal diusung The Darling: bahwa perjalanan sebuah karya tidak berhenti ketika buku diterbitkan.

Pembacaan itu mengantarkan ke sebuah perenungan: siapa yang merawat perjalanan sebuah cerita setelah ia lahir? Ketika buku selesai ditulis dan diterbitkan, ke mana ia akan pergi dan melalui siapa ia bergerak?

Pertanyaan itu menjadi pembuka diskusi tentang tren industri buku Indonesia dan peran agen sastra. Diskusi dipandu oleh Reza Mardian, dengan Innezdhe Ayang Marhaeni, Hamzah Muhammad, dan Namira Daufina sebagai pembicara.

Jalan Tikus Sastra Indonesia

Dalam diskusi, Ratih Kumala, penulis novel Gadis Kretek, menyebut jalur promosi sastra Indonesia masih seperti “jalan tikus”. Persoalannya bukan pada kurangnya karya yang baik, melainkan belum adanya sistem yang mampu membaca pasar, memetakan jalur distribusi, dan menghubungkan karya dengan pembaca yang tepat. Akibatnya, banyak buku hadir di festival atau bursa internasional, tetapi berhenti sebagai satu peristiwa tanpa kesinambungan.

Ratih Kumala membacakan terjemahan novelnya Koloni dalam Bahasa Inggris

Menurut Ratih, karya Indonesia kerap berangkat tanpa riset yang memadai terhadap negara tujuan. Setiap promosi seperti dimulai dari awal karena tidak ada sistem yang merekam pengalaman, membangun jejaring, dan meneruskannya menjadi kerja bersama. Karena itu, promosi sastra tidak bisa terus bergantung pada individu atau agensi, melainkan memerlukan kebijakan yang berkelanjutan.

Ia mencontohkan Korea Selatan dan Thailand yang sejak awal memetakan pasar dan menghubungkan produksi, penerjemahan, hingga distribusi. Genre populer seperti BL/GL diperlakukan bukan sekadar tren, melainkan bagian dari strategi industri budaya untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.

Nathalie Indri, pendiri Buku Perempuan Baca, Direktur Borobudur Literary Agency, sekaligus bagian dari tim program Indonesia International Book Fair, melengkapi percakapan dari sisi agensi sastra. Menurutnya, media sosial, bookstagram dan komunitas membaca memang membuka jalan baru bagi pembaca menemukan buku. Namun perjalanan sebuah karya masih menghadapi tantangan soal pengelolaan hak cipta, penjualan hak terjemahan, negosiasi dengan penerbit asing, hingga kemungkinan alih wahana.

Bagi Nathalie, penerjemahan bukan garis akhir. Sebuah cerita dapat terus hidup melalui medium lain. Adaptasi Gadis Kretek menjadi serial maupun Ronggeng Dukuh Paruk ke layar lebar menunjukkan bahwa umur sebuah karya tidak berhenti di halaman buku. Menurutnya, The Darling bisa memperluas kemungkinan sebuah cerita bisa hidup di medium yang lain.

Yani Kurniawan, Direktur Literasia, mengingatkan bahwa persoalan sastra Indonesia bukan kekurangan karya, melainkan kekurangan infrastruktur yang merawat perjalanan karya itu sendiri. Dari pengalamannya membawa buku Indonesia ke berbagai bursa internasional, ia melihat kerja promosi masih bertumpu pada sedikit agensi dan jejaring yang terbatas. Karena itu, melalui Laboratorium Promotor dan Penerjemah Sastra (LAPS), Kementerian Kebudayaan mulai menyiapkan promotor sastra baru untuk memperluas akses, memperkuat advokasi hak cipta, sekaligus membuka lebih banyak pintu bagi penulis.

Namun, menurut Yani, upaya tersebut sulit berkembang tanpa dukungan negara yang konsisten. Ia menyoroti pemangkasan anggaran yang membuat berbagai program—mulai dari pelatihan promotor, lokakarya penerjemahan, hingga penguatan festival sastra—tertahan di tengah jalan. Padahal, negara seperti Korea Selatan membangun ekosistem sastra melalui investasi jangka panjang yang menghubungkan pendanaan, penerjemahan, promosi, hingga alih wahana dalam satu sistem yang berkesinambungan.

Innezdhe Ayang Marhaeni (Editor Penerbit Buku Kompas) melihat lima tahun terakhir sebagai periode yang memaksa industri terus bermanuver menghadapi pandemi, gejolak politik, dan tekanan ekonomi. Situasi tersebut ikut menggeser selera pembaca ke buku-buku bertema self-help dan refleksi diri, yang menjadi ruang untuk mencari jawaban atas kegelisahan sehari-hari.

Namira Daufina (Pearpress) mengamini kecenderungan itu. Di tengah meningkatnya minat baca, ia melihat paradoks lain: komunitas membaca, bookstagram, hingga toko buku independen tumbuh semakin hidup, tetapi industri penerbitan justru dibayangi kenaikan harga kertas, ongkos cetak, dan biaya distribusi. Ekosistem pembaca berkembang, sementara daya tahan industrinya semakin rapuh.

Dari perspektif toko buku, Hamzah Muhammad (Makarya) melihat pandemi melahirkan kebutuhan akan “keintiman baru” dengan buku. Makarya ia bangun sebagai ruang ketiga, tempat pembaca tidak sekadar membeli buku, tetapi bertemu, berdiskusi, dan membentuk komunitas. Baginya, media sosial, algoritma, bahkan kecerdasan buatan bukan ancaman bagi literasi. Yang justru semakin bernilai adalah suara yang personal dan hubungan yang otentik antara penulis, pembaca, dan komunitas.

Menanggapi pertanyaan peserta tentang mengapa komunitas literasi justru tumbuh di tengah situasi ekonomi yang memburuk, Hamzah melihatnya sebagai bentuk daya tahan masyarakat sipil. Ketika dukungan struktural belum memadai, berbagai inisiatif lahir dari bawah: komunitas membaca, gerakan membaca di transportasi publik, hingga perjuangan Ratih Kumala bersama sejumlah penulis mendorong kebijakan perpajakan yang lebih adil bagi dunia perbukuan. Bagi Hamzah, yang sedang tumbuh bukan sekadar jumlah pembaca, melainkan kesadaran bahwa ekosistem sastra hanya dapat bertahan jika dirawat secara kolektif.

Dari Jalan Tikus Menuju Jalan Raya: Sebuah Ikhtiar untuk Jalan Sastra Indonesia

“Selama promosi sastra masih bergantung pada proyek jangka pendek, karya Indonesia akan terus berjalan di jalan tikus—bukan karena kekurangan cerita, melainkan karena jalannya belum benar-benar dibangun.”

Dengan demikian, peluncuran The Darling Literary Collective tidak sekadar menandai lahirnya sebuah kolektif baru. Ia menawarkan cara pandang bahwa internasionalisasi sastra bukanlah proyek mengirim buku ke luar negeri, melainkan membangun kemungkinan agar cerita-cerita dari Indonesia terus bergerak—melintasi bahasa, medium, dan batas negara—hingga akhirnya menemukan tempatnya sendiri dalam percakapan sastra dunia.

The Darling berupaya membangun ruang untuk mempertemukan kerja-kerja yang selama ini tersebar: penulis, penerjemah, editor, promotor sastra, penerbit, pengelola hak cipta, hingga pelaku alih wahana. Bukan untuk menggantikan yang telah ada, tetapi menjahitnya menjadi ekosistem yang lebih utuh.

Mengubah jalan tikus menjadi jalan raya, dengan demikian, bukan berarti membuat semua karya menempuh satu arah yang sama. Yang dibangun adalah kemungkinan agar lebih banyak cerita dari berbagai daerah di Indonesia dapat bergerak tanpa terus bergantung pada kebetulan, relasi personal, atau proyek sesaat. Sebab sebuah karya tidak hanya membutuhkan penulis yang baik, tetapi juga jalan yang membuatnya dapat terus melintas. [T]

Penulis: Angelique Maria Cuaca
Editor: Adnyana Ole

Tags: Sastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Next Post

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Angelique Maria Cuaca

Angelique Maria Cuaca

Atau, Tjoa Sian Hui. Lahir di Padang-Sumatera Barat. Penulis, peneliti, penggiat seni dan Hak Asasi Manusia.

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails
Next Post
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot
Ulas Pentas

Sinaps Ingatan dari Pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot

Catatan pendek, sebagai pengantar diskusi menonton ulang dokumentasi pertunjukan Rawa Gambut Teater Potlot melalui Youtube, Sabtu 05 Septemper 2026 di...

by Asmaran Dani
September 4, 2026
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja
Kuliner

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif
Ulas Rupa

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

by Hartanto
September 3, 2026
Gol versus Gul
Bahasa

Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

by I Made Sudiana
September 3, 2026
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana
Ulas Rupa

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

by I Wayan Westa
September 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co