1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Angelique Maria Cuaca by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
in Khas
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

Diskusi soal promosi Sastra Indonesia bersama Yani Kurniawan (tim promosi sastra Indonesia), dan Ratih Kumala (penulis), dimoderatori oleh Nathalie Indry (the darlings literary collective)

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary agent yang membuka jejaring, hingga publicist yang mengantarkan ke khalayak.

Kesadaran akan kerja bersama itulah yang melatarbelakangi lahirnya The Darling Literary Collective. Diinisiasi oleh Kadek Sonia Piscayanti, kolektif ini lahir dari keinginan kuat membangun ekosistem sastra Indonesia yang berkesinambungan. Diawali kebersamaan di Lab Promotor Sastra Kemenbud RI tahun 2025, Sonia bersama Ama Gaspar, Reza Mardian, Nathalie Indry, Namira Daufina, dan Innezdhe Ayang Marhaeni, kolektif ini tumbuh dari pengalaman mereka dalam Laboratorium Promotor dan Penerjemah Sastra Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan pada 2025. Program tersebut mempertemukan para promotor sastra dengan penerbit, penerjemah, komunitas pembaca, pegiat alih wahana, publicist, hingga pelaku seni lintas disiplin.

Dari pertemuan itu muncul satu keyakinan: membawa sastra Indonesia ke panggung internasional tidak cukup berhenti pada penerjemahan. Yang lebih menentukan adalah bagaimana karya-karya itu terus bergerak, berubah bentuk menjadi berbagai medium, menemukan pembaca baru, dan masuk ke ruang-ruang percakapan yang lebih luas.

“Tujuannya bukan hanya bagaimana pembicaraan soal Indonesia hadir di rak-rak internasional. Tapi juga agar Indonesia menjadi bagian dari percakapan dunia.” Kalimat itu menjadi benang pengikat yang melintasi peluncuran The Darling Literary Collective.

Merawat Perjalanan Sebuah Cerita

Peluncuran The Darling Literary Collective berlangsung secara hibrid di Makarya Gramedia Matraman, Jakarta, Singaraja, dan Banggai pada Jumat (26/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 yang akan digelar pada 3–5 Juli mendatang.

Sejumlah pembicara hadir langsung di lokasi, sementara lainnya mengikuti secara daring dari Bali, Banggai, dan beberapa kota lain. Jejaring yang terlibat pun berlapis mulai dari penulis, editor, penerbit, promotor sastra, pengelola festival, hingga pelaku industri kreatif.

“Keberadaan The Darling adalah bagian dari upaya merawat potensi sastra Indonesia. Saya percaya sastra kita bisa melampaui batas-batas geografis,” ujar Kadek Sonia Piscayanti dalam pidato pembukaannya. Ia merupakan penulis, dosen, seniman multidisiplin, sekaligus Direktur SLF.

Sonia, inisiator the darlings membuka acara

Bagi Sonia, kekuatan itu tidak semata terletak pada jumlah karya yang lahir, tetapi pada jaringan yang membuat karya tersebut tetap bergerak. Ia menyebut peran penerbit, penerjemah, komunitas pembaca, publicist, seniman lintas bidang seperti teater, musik, seni rupa, dan film sebagai bagian dari satu ekosistem yang saling bersinggungan.

“Ke depan, The Darling akan mengembangkan berbagai program, mulai dari penerbitan, penerjemahan, publikasi, pengelolaan hak cipta, hingga alih wahana,” lanjut Sonia.

Setelah itu, enam anggota inti The Darling diperkenalkan sebagai bagian dari kerja yang saling bertaut, meski datang dari lintasan praktik yang berbeda. Dipandu oleh Innezdhe Ayang Marhaeni—editor Penerbit Buku Kompas—perkenalan dimulai dari Ama Gaspar yang hadir secara daring dari Banggai. Ia membawa pengalaman sebagai penulis puisi, editor lepas, sekaligus Direktur Festival Sastra Banggai, dengan fokus pada penguatan karya dari Indonesia Timur.

Lalu ada Namira Daufina, bekerja di ranah penerbitan independen dan keagenan sastra di Perpress. Ia menempatkan perannya pada pengelolaan hak, promosi, dan perluasan jangkauan karya.

Dari sisi media dan penyiaran, Nathalie Indry yang telah lama bekerja di radio dan podcast literasi mengembangkan fokus pada penyelenggaraan acara dan publikasi, sekaligus kerja kolaboratif dalam pengelolaan keagenan.

Sedangkan Reza Mardian hadir dari latar kritik film dan pemasaran audiovisual. Ia bekerja pada pencarian talenta, promosi, serta kemungkinan peralihan karya ke medium film dan bentuk visual lain. Dalam kolektif ini, ia membuka jalur yang menghubungkan teks dengan ruang pembacaan yang lebih visual.

Setelah pengenalan tim The Darling, ruang beralih ke pembacaan karya; hulu dari ekosistem sastra. Dari Banggai, secara daring Ama Gaspar membacakan Pagar Rumahku Berubah Warna, puisi yang menyingkap ingatan tentang rumah, kepulangan, dan pergeseran ruang hidup—karya yang juga tercatat dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.

Neni Muhyiddin membacakan tentang Elegi Erfaldi (2023) tentang kehilangan dalam aksi penolakan tambang, serta Kapan Saja yang lahir di masa pandemi dan berangkat dari luka serta pengalaman menulis itu sendiri. Ketiga karya ini memperlihatkan bagaimana pengalaman dari Indonesia Timur membentuk lanskap sastra yang lebih luas.

Ratih Kumala kemudian membacakan bab awal Koloni dalam versi bahasa Inggris. Cuplikan berjudul Apocalypse menampilkan kehidupan semut di tengah kehancuran koloninya. Versi Bahasa Inggris yang dibacakan Ratih membuat teks terasa seperti berpindah tempat, tak lagi berhenti di bahasa asalnya.

Pembacaan tersebut tidak hanya memperlihatkan bagaimana sebuah cerita berubah ketika memasuki bahasa lain, tetapi juga menggambarkan gagasan yang sejak awal diusung The Darling: bahwa perjalanan sebuah karya tidak berhenti ketika buku diterbitkan.

Pembacaan itu mengantarkan ke sebuah perenungan: siapa yang merawat perjalanan sebuah cerita setelah ia lahir? Ketika buku selesai ditulis dan diterbitkan, ke mana ia akan pergi dan melalui siapa ia bergerak?

Pertanyaan itu menjadi pembuka diskusi tentang tren industri buku Indonesia dan peran agen sastra. Diskusi dipandu oleh Reza Mardian, dengan Innezdhe Ayang Marhaeni, Hamzah Muhammad, dan Namira Daufina sebagai pembicara.

Jalan Tikus Sastra Indonesia

Dalam diskusi, Ratih Kumala, penulis novel Gadis Kretek, menyebut jalur promosi sastra Indonesia masih seperti “jalan tikus”. Persoalannya bukan pada kurangnya karya yang baik, melainkan belum adanya sistem yang mampu membaca pasar, memetakan jalur distribusi, dan menghubungkan karya dengan pembaca yang tepat. Akibatnya, banyak buku hadir di festival atau bursa internasional, tetapi berhenti sebagai satu peristiwa tanpa kesinambungan.

Ratih Kumala membacakan terjemahan novelnya Koloni dalam Bahasa Inggris

Menurut Ratih, karya Indonesia kerap berangkat tanpa riset yang memadai terhadap negara tujuan. Setiap promosi seperti dimulai dari awal karena tidak ada sistem yang merekam pengalaman, membangun jejaring, dan meneruskannya menjadi kerja bersama. Karena itu, promosi sastra tidak bisa terus bergantung pada individu atau agensi, melainkan memerlukan kebijakan yang berkelanjutan.

Ia mencontohkan Korea Selatan dan Thailand yang sejak awal memetakan pasar dan menghubungkan produksi, penerjemahan, hingga distribusi. Genre populer seperti BL/GL diperlakukan bukan sekadar tren, melainkan bagian dari strategi industri budaya untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.

Nathalie Indri, pendiri Buku Perempuan Baca, Direktur Borobudur Literary Agency, sekaligus bagian dari tim program Indonesia International Book Fair, melengkapi percakapan dari sisi agensi sastra. Menurutnya, media sosial, bookstagram dan komunitas membaca memang membuka jalan baru bagi pembaca menemukan buku. Namun perjalanan sebuah karya masih menghadapi tantangan soal pengelolaan hak cipta, penjualan hak terjemahan, negosiasi dengan penerbit asing, hingga kemungkinan alih wahana.

Bagi Nathalie, penerjemahan bukan garis akhir. Sebuah cerita dapat terus hidup melalui medium lain. Adaptasi Gadis Kretek menjadi serial maupun Ronggeng Dukuh Paruk ke layar lebar menunjukkan bahwa umur sebuah karya tidak berhenti di halaman buku. Menurutnya, The Darling bisa memperluas kemungkinan sebuah cerita bisa hidup di medium yang lain.

Yani Kurniawan, Direktur Literasia, mengingatkan bahwa persoalan sastra Indonesia bukan kekurangan karya, melainkan kekurangan infrastruktur yang merawat perjalanan karya itu sendiri. Dari pengalamannya membawa buku Indonesia ke berbagai bursa internasional, ia melihat kerja promosi masih bertumpu pada sedikit agensi dan jejaring yang terbatas. Karena itu, melalui Laboratorium Promotor dan Penerjemah Sastra (LAPS), Kementerian Kebudayaan mulai menyiapkan promotor sastra baru untuk memperluas akses, memperkuat advokasi hak cipta, sekaligus membuka lebih banyak pintu bagi penulis.

Namun, menurut Yani, upaya tersebut sulit berkembang tanpa dukungan negara yang konsisten. Ia menyoroti pemangkasan anggaran yang membuat berbagai program—mulai dari pelatihan promotor, lokakarya penerjemahan, hingga penguatan festival sastra—tertahan di tengah jalan. Padahal, negara seperti Korea Selatan membangun ekosistem sastra melalui investasi jangka panjang yang menghubungkan pendanaan, penerjemahan, promosi, hingga alih wahana dalam satu sistem yang berkesinambungan.

Innezdhe Ayang Marhaeni (Editor Penerbit Buku Kompas) melihat lima tahun terakhir sebagai periode yang memaksa industri terus bermanuver menghadapi pandemi, gejolak politik, dan tekanan ekonomi. Situasi tersebut ikut menggeser selera pembaca ke buku-buku bertema self-help dan refleksi diri, yang menjadi ruang untuk mencari jawaban atas kegelisahan sehari-hari.

Namira Daufina (Pearpress) mengamini kecenderungan itu. Di tengah meningkatnya minat baca, ia melihat paradoks lain: komunitas membaca, bookstagram, hingga toko buku independen tumbuh semakin hidup, tetapi industri penerbitan justru dibayangi kenaikan harga kertas, ongkos cetak, dan biaya distribusi. Ekosistem pembaca berkembang, sementara daya tahan industrinya semakin rapuh.

Dari perspektif toko buku, Hamzah Muhammad (Makarya) melihat pandemi melahirkan kebutuhan akan “keintiman baru” dengan buku. Makarya ia bangun sebagai ruang ketiga, tempat pembaca tidak sekadar membeli buku, tetapi bertemu, berdiskusi, dan membentuk komunitas. Baginya, media sosial, algoritma, bahkan kecerdasan buatan bukan ancaman bagi literasi. Yang justru semakin bernilai adalah suara yang personal dan hubungan yang otentik antara penulis, pembaca, dan komunitas.

Menanggapi pertanyaan peserta tentang mengapa komunitas literasi justru tumbuh di tengah situasi ekonomi yang memburuk, Hamzah melihatnya sebagai bentuk daya tahan masyarakat sipil. Ketika dukungan struktural belum memadai, berbagai inisiatif lahir dari bawah: komunitas membaca, gerakan membaca di transportasi publik, hingga perjuangan Ratih Kumala bersama sejumlah penulis mendorong kebijakan perpajakan yang lebih adil bagi dunia perbukuan. Bagi Hamzah, yang sedang tumbuh bukan sekadar jumlah pembaca, melainkan kesadaran bahwa ekosistem sastra hanya dapat bertahan jika dirawat secara kolektif.

Dari Jalan Tikus Menuju Jalan Raya: Sebuah Ikhtiar untuk Jalan Sastra Indonesia

“Selama promosi sastra masih bergantung pada proyek jangka pendek, karya Indonesia akan terus berjalan di jalan tikus—bukan karena kekurangan cerita, melainkan karena jalannya belum benar-benar dibangun.”

Dengan demikian, peluncuran The Darling Literary Collective tidak sekadar menandai lahirnya sebuah kolektif baru. Ia menawarkan cara pandang bahwa internasionalisasi sastra bukanlah proyek mengirim buku ke luar negeri, melainkan membangun kemungkinan agar cerita-cerita dari Indonesia terus bergerak—melintasi bahasa, medium, dan batas negara—hingga akhirnya menemukan tempatnya sendiri dalam percakapan sastra dunia.

The Darling berupaya membangun ruang untuk mempertemukan kerja-kerja yang selama ini tersebar: penulis, penerjemah, editor, promotor sastra, penerbit, pengelola hak cipta, hingga pelaku alih wahana. Bukan untuk menggantikan yang telah ada, tetapi menjahitnya menjadi ekosistem yang lebih utuh.

Mengubah jalan tikus menjadi jalan raya, dengan demikian, bukan berarti membuat semua karya menempuh satu arah yang sama. Yang dibangun adalah kemungkinan agar lebih banyak cerita dari berbagai daerah di Indonesia dapat bergerak tanpa terus bergantung pada kebetulan, relasi personal, atau proyek sesaat. Sebab sebuah karya tidak hanya membutuhkan penulis yang baik, tetapi juga jalan yang membuatnya dapat terus melintas. [T]

Penulis: Angelique Maria Cuaca
Editor: Adnyana Ole

Tags: Sastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

Angelique Maria Cuaca

Angelique Maria Cuaca

Atau, Tjoa Sian Hui. Lahir di Padang-Sumatera Barat. Penulis, peneliti, penggiat seni dan Hak Asasi Manusia.

Related Posts

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
0
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

Read moreDetails

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co