SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan huruf satu dengan yang lainnya – mengejanya sepatah demi sepatah.
Di rumah, kami memiliki beberapa lusin buku yang bisa dibaca. Beberapa koleksi saya –yang memiliki sampul menarik– cukup mengundang perhatiannya. Keponakan saya terbiasa membuka halamannya, mencoba membaca meski akhirnya kebingungan dengan banyaknya tulisan dalam satu halaman. Sebagai pengasuh yang baik, saya pada akhirnya membacakan buku-buku tersebut untuknya. Meskipun apa yang saya lakukan agaknya tidak membantu prosesnya untuk belajar membaca, setidaknya masih bermanfaat untuk meningkatkan empati dan menambah pembendaharaan kata.
Buku-buku yang saya bacakan berjenis sastra klasik. Beberapa karya legendaris para penulis barat dalam versi yang lebih ringkas. Soal ini, bukan karena saya memiliki mentalitas inlander – menganggap penulis barat selalu objektif sementara penulis lokal cenderung subjektif – tetapi apa boleh buat, sastra klasik dunia timur masih jarang diterbitkan, lebih-lebih dalam versi ringkas.
Untuk sementara waktu saya hanya bisa membacakan sastra klasik ala Eropa dan Amerika. Tulisan-tulisan seperti Moby Dick karya Herman Melville, Petualangan Don Quixote karya Miguel de Cervantes, serta belakangan, Old Man On The Sea karya Ernest Hemingway, menjadi tiga buku yang sedikit banyak sudah saya bacakan. Saya juga memiliki masing-masing dua buku karya Nietzche, Orwell, dan Dostoevsky. Namun, membacakan buku-buku tersebut kepada seorang balita perempuan rasanya tidak bisa dibayangkan. Antara terlalu dini, mengerikan, juga meracuni si anak. ”Children are the greatest philosophers” kata Avijeet Das, tapi untuk tiga nama terakhir… nanti dulu deh.
Menurut hemat saya, keponakan perempuan saya –yang masih balita– adalah anak yang beruntung. Dia dibacakan sastra klasik saat sedang belajar membaca. Begitulah yang saya pikirkan sejak awal. Terlebih lagi jika mengingta masa lalu, ketika memperoleh buku pertama dari orang tua, saya harus belajar membacanya tanpa didampingi. Berbekal pemahaman yang diberikan guru di sekolah, saya membaca buku dengan dimulai dari bagian-bagian besar yang bercetak tebal. Judul, sub judul, judul bab, sub bab, dan indeks yang saat itu saya lafalkan sebagai in-de-kas.
Buku-buku paling awal yang saya perolehpun sangat jauh dari kata sastra terlebih dengan embel-embel klasik. Saat itu saya hanya bisa mengakses esiklopedia bergambar. Buku seratus pengetahuan berikut seratus pengetahuan tentang samudera, mamalia, ksatria dan kastil, serta wilayah barat yang liar menjadi bahan bacaan saya selama berbulan-bulan. Soal enslikopedia dan buku pengetahuan, keponakan saya akan mendapatkannya sebentar lagi. Tetapi sang waktu tak urung diulang, saya versi kecil tetap tidak bisa membaca terlebih dibacakan seri sastra klasik. Lagi-lagi keponakan perempuan saya sangat beruntung.
Tetapi tunggu dulu, setelah dipikir dan diingat, dahulu saya juga toh tetap mengakses sastra klasik. Kendati bukan dari buku, saya tetap bisa mendengarkan sastra klasik dari suara manis ibu. Perempuan favorit saya itu sering menuturkan cerita-cerita Tantri, kisah-kisah fabel klasik yang barangkali sudah disebut klasik sejak zaman Miguel de Carvantes. Satua I Siap Selem, I Kakul lan I Kijang, I Lutung lan I Tetani hingga Sang Nandaka lan Prabu Singa adalah beberapa seri favorit saya. Oleh ayah, cerita Tantri yang paling mengesankan ketika dituturkan adalah seri I Cetrung yang diceritakan sembari bernyanyi menggunakan pola aturan Pupuh Sinom.
Pembaca bisa membayangkan bagaimana saya mendengarkan cerita-cerita tersebut sebagai pengantar tidur, pendidikan moral sekaligus pelestarian budaya. Lebih jauh, selain Tantri Kamandaka, cerita rakyat seperti Pan Balang Tamak yang jenaka, penuh satir cerdas sekaligus ajaran moral; juga cerita I Dongding yang mengandung banyak filosofi membingungkan turut disuapkan kepada saya. Sesuatu yang sayang sekali tidak atau belum diperoleh keponakan perempuan saya.
Saat itu saya boleh tidak mengenal karya-karya penulis barat, tetapi dongeng-dongeng kebijaksanaan timur adalah makanan sehari-hari atau ”semalam-malam” jika istilah itu memang ada. Lagipula toh sastra klasik barat bisa saya akses dengan cukup mudah hari ini. Sementara keponakan perempuan saya? Dia tidak tahu banyak tentang cerita Tantri. Kendati saya sendiri mewarisi fabel-fabel lisan itu, saya tidak memiliki cukup kemampuan untuk menceritakannya dengan baik layaknya Ibu dahulu. Ohh Ibu, engkau laksana Ni Dyah Tantri, perempuan yang bercerita, menghentikan sifat kejam dan penuh nafsu Raja Aiswaradala. Cara Ibu bercerita kini membelenggu anaknya, sebab sang anak gagal menirunya.
Untuk itu, saya berencana mengembalikan tanggung jawab ibu dan ayah untuk menceritakan fabel-fabel klasik dunia timur kepada cucunya –keponakan perempuan saya. Dengan begitu, keponakan saya kembali menyalip keberuntungan saya. Dia dimbimbing membaca sembari diperdengarkan dongeng-dongeng klasik dari dunia barat dan timur sekaligus.
Tetapi, dalam benak saya muncul sedikit kekhawatiran baru –meskipun saya takut menikah dan punya anak– bagaimana cara saya mewariskan cerita Tantri dan dongeng-dongeng lokal kepada generasi berikutnya? Terlebih ketika saya menyadari ketidakcakapan saya untuk menyampaikannya.
Untuk itu, jika ada di antara pembaca yang memiliki usaha penerbitan, saya mengharapkan ketersediaan pembaca untuk menginventarisasi dan menerbitkan sastra-sastra klasik timur berikut Cerita Tantri ataupun Satua Bali Lawas. Meskipun bukan sastrawan terlebih sastrawan Bali, saya –juga barangkali ibu saya– siap membantu jika diperlukan. Kan cerita-cerita terkait agaknya bisa diterbitkan tanpa membayar royalti. Jika dijadikan buku kumpulan fabel atau novela ringan, produk budaya ini rasanya memiliki target pasar. Semoga generasi berikutnya tetap mengenal warisan budaya adiluhung dan kebajikan para pendahulunya. [T]
Penulis: I Nengah Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole



















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)






