17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

Teguh Wahyu Pranata by Teguh Wahyu Pranata
August 30, 2026
in Esai
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

Foto ilustrasi: Canva

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan huruf satu dengan yang lainnya – mengejanya sepatah demi sepatah.

Di rumah, kami memiliki beberapa lusin buku yang bisa dibaca. Beberapa koleksi saya –yang memiliki sampul menarik– cukup mengundang perhatiannya. Keponakan saya terbiasa membuka halamannya, mencoba membaca meski akhirnya kebingungan dengan banyaknya tulisan dalam satu halaman. Sebagai pengasuh yang baik, saya pada akhirnya membacakan buku-buku tersebut untuknya. Meskipun apa yang saya lakukan agaknya tidak membantu prosesnya untuk belajar membaca, setidaknya masih bermanfaat untuk meningkatkan empati dan menambah pembendaharaan kata.

Buku-buku yang saya bacakan berjenis sastra klasik. Beberapa karya legendaris para penulis barat dalam versi yang lebih ringkas. Soal ini, bukan karena saya memiliki mentalitas inlander – menganggap penulis barat selalu objektif sementara penulis lokal cenderung subjektif – tetapi apa boleh buat, sastra klasik dunia timur masih jarang diterbitkan, lebih-lebih dalam versi ringkas.

Untuk sementara waktu saya hanya bisa membacakan sastra klasik ala Eropa dan Amerika. Tulisan-tulisan seperti Moby Dick karya Herman Melville, Petualangan Don Quixote karya Miguel de Cervantes, serta belakangan, Old Man On The Sea karya Ernest Hemingway, menjadi tiga buku yang sedikit banyak sudah saya bacakan. Saya juga memiliki masing-masing dua buku karya Nietzche, Orwell, dan Dostoevsky. Namun, membacakan buku-buku tersebut kepada seorang balita perempuan rasanya tidak bisa dibayangkan. Antara terlalu dini, mengerikan, juga meracuni si anak. ”Children are the greatest philosophers” kata Avijeet Das, tapi untuk tiga nama terakhir… nanti dulu deh.

Menurut hemat saya, keponakan perempuan saya –yang masih balita– adalah anak yang beruntung. Dia dibacakan sastra klasik saat sedang belajar membaca. Begitulah yang saya pikirkan sejak awal. Terlebih lagi jika mengingta masa lalu, ketika memperoleh buku pertama dari orang tua, saya harus belajar membacanya tanpa didampingi. Berbekal pemahaman yang diberikan guru di sekolah, saya membaca buku dengan dimulai dari bagian-bagian besar yang bercetak tebal. Judul, sub judul, judul bab, sub bab, dan indeks yang saat itu saya lafalkan sebagai in-de-kas.

Buku-buku paling awal yang saya perolehpun sangat jauh dari kata sastra terlebih dengan embel-embel klasik. Saat itu saya hanya bisa mengakses esiklopedia bergambar. Buku seratus pengetahuan berikut seratus pengetahuan tentang samudera, mamalia, ksatria dan kastil, serta wilayah barat yang liar menjadi bahan bacaan saya selama berbulan-bulan. Soal enslikopedia dan buku pengetahuan, keponakan saya akan mendapatkannya sebentar lagi. Tetapi sang waktu tak urung diulang, saya versi kecil tetap tidak bisa membaca terlebih dibacakan seri sastra klasik. Lagi-lagi keponakan perempuan saya sangat beruntung.

Tetapi tunggu dulu, setelah dipikir dan diingat, dahulu saya juga toh tetap mengakses sastra klasik. Kendati bukan dari buku, saya tetap bisa mendengarkan sastra klasik dari suara manis ibu. Perempuan favorit saya itu sering menuturkan cerita-cerita Tantri, kisah-kisah fabel klasik yang barangkali sudah disebut klasik sejak zaman Miguel de Carvantes. Satua I Siap Selem, I Kakul lan I Kijang, I Lutung lan I Tetani hingga Sang Nandaka lan Prabu Singa adalah beberapa seri favorit saya. Oleh ayah, cerita Tantri yang paling mengesankan ketika dituturkan adalah seri I Cetrung yang diceritakan sembari bernyanyi menggunakan pola aturan Pupuh Sinom.

Pembaca bisa membayangkan bagaimana saya mendengarkan cerita-cerita tersebut sebagai pengantar tidur, pendidikan moral sekaligus pelestarian budaya. Lebih jauh, selain Tantri Kamandaka, cerita rakyat seperti Pan Balang Tamak yang jenaka, penuh satir cerdas sekaligus ajaran moral; juga cerita I Dongding yang mengandung banyak filosofi membingungkan turut disuapkan kepada saya. Sesuatu yang sayang sekali tidak atau belum diperoleh keponakan perempuan saya.

Saat itu saya boleh tidak mengenal karya-karya penulis barat, tetapi dongeng-dongeng kebijaksanaan timur adalah makanan sehari-hari atau ”semalam-malam” jika istilah itu memang ada. Lagipula toh sastra klasik barat bisa saya akses dengan cukup mudah hari ini. Sementara keponakan perempuan saya? Dia tidak tahu banyak tentang cerita Tantri. Kendati saya sendiri mewarisi fabel-fabel lisan itu, saya tidak memiliki cukup kemampuan untuk menceritakannya dengan baik layaknya Ibu dahulu. Ohh Ibu, engkau laksana Ni Dyah Tantri, perempuan yang bercerita, menghentikan sifat kejam dan penuh nafsu Raja Aiswaradala. Cara Ibu bercerita kini membelenggu anaknya, sebab sang anak gagal menirunya.

Untuk itu, saya berencana mengembalikan tanggung jawab ibu dan ayah untuk menceritakan fabel-fabel klasik dunia timur kepada cucunya –keponakan perempuan saya. Dengan begitu, keponakan saya kembali menyalip keberuntungan saya. Dia dimbimbing membaca sembari diperdengarkan dongeng-dongeng klasik dari dunia barat dan timur sekaligus.

Tetapi, dalam benak saya muncul sedikit kekhawatiran baru –meskipun saya takut menikah dan punya anak– bagaimana cara saya mewariskan cerita Tantri dan dongeng-dongeng lokal kepada generasi berikutnya? Terlebih ketika saya menyadari ketidakcakapan saya untuk menyampaikannya.

Untuk itu, jika ada di antara pembaca yang memiliki usaha penerbitan, saya mengharapkan ketersediaan pembaca untuk menginventarisasi dan menerbitkan sastra-sastra klasik timur berikut Cerita Tantri ataupun Satua Bali Lawas. Meskipun bukan sastrawan terlebih sastrawan Bali, saya –juga barangkali ibu saya– siap membantu jika diperlukan. Kan cerita-cerita terkait agaknya bisa diterbitkan tanpa membayar royalti. Jika dijadikan buku kumpulan fabel atau novela ringan, produk budaya ini rasanya memiliki target pasar. Semoga generasi berikutnya tetap mengenal warisan budaya adiluhung dan kebajikan para pendahulunya. [T]

Penulis: I Nengah Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakbuku anakdongengsastra klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Next Post

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Teguh Wahyu Pranata

Teguh Wahyu Pranata

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co