30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

Teguh Wahyu Pranata, by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
in Esai
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

Foto ilustrasi: Canva

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan huruf satu dengan yang lainnya – mengejanya sepatah demi sepatah.

Di rumah, kami memiliki beberapa lusin buku yang bisa dibaca. Beberapa koleksi saya –yang memiliki sampul menarik– cukup mengundang perhatiannya. Keponakan saya terbiasa membuka halamannya, mencoba membaca meski akhirnya kebingungan dengan banyaknya tulisan dalam satu halaman. Sebagai pengasuh yang baik, saya pada akhirnya membacakan buku-buku tersebut untuknya. Meskipun apa yang saya lakukan agaknya tidak membantu prosesnya untuk belajar membaca, setidaknya masih bermanfaat untuk meningkatkan empati dan menambah pembendaharaan kata.

Buku-buku yang saya bacakan berjenis sastra klasik. Beberapa karya legendaris para penulis barat dalam versi yang lebih ringkas. Soal ini, bukan karena saya memiliki mentalitas inlander – menganggap penulis barat selalu objektif sementara penulis lokal cenderung subjektif – tetapi apa boleh buat, sastra klasik dunia timur masih jarang diterbitkan, lebih-lebih dalam versi ringkas.

Untuk sementara waktu saya hanya bisa membacakan sastra klasik ala Eropa dan Amerika. Tulisan-tulisan seperti Moby Dick karya Herman Melville, Petualangan Don Quixote karya Miguel de Cervantes, serta belakangan, Old Man On The Sea karya Ernest Hemingway, menjadi tiga buku yang sedikit banyak sudah saya bacakan. Saya juga memiliki masing-masing dua buku karya Nietzche, Orwell, dan Dostoevsky. Namun, membacakan buku-buku tersebut kepada seorang balita perempuan rasanya tidak bisa dibayangkan. Antara terlalu dini, mengerikan, juga meracuni si anak. ”Children are the greatest philosophers” kata Avijeet Das, tapi untuk tiga nama terakhir… nanti dulu deh.

Menurut hemat saya, keponakan perempuan saya –yang masih balita– adalah anak yang beruntung. Dia dibacakan sastra klasik saat sedang belajar membaca. Begitulah yang saya pikirkan sejak awal. Terlebih lagi jika mengingta masa lalu, ketika memperoleh buku pertama dari orang tua, saya harus belajar membacanya tanpa didampingi. Berbekal pemahaman yang diberikan guru di sekolah, saya membaca buku dengan dimulai dari bagian-bagian besar yang bercetak tebal. Judul, sub judul, judul bab, sub bab, dan indeks yang saat itu saya lafalkan sebagai in-de-kas.

Buku-buku paling awal yang saya perolehpun sangat jauh dari kata sastra terlebih dengan embel-embel klasik. Saat itu saya hanya bisa mengakses esiklopedia bergambar. Buku seratus pengetahuan berikut seratus pengetahuan tentang samudera, mamalia, ksatria dan kastil, serta wilayah barat yang liar menjadi bahan bacaan saya selama berbulan-bulan. Soal enslikopedia dan buku pengetahuan, keponakan saya akan mendapatkannya sebentar lagi. Tetapi sang waktu tak urung diulang, saya versi kecil tetap tidak bisa membaca terlebih dibacakan seri sastra klasik. Lagi-lagi keponakan perempuan saya sangat beruntung.

Tetapi tunggu dulu, setelah dipikir dan diingat, dahulu saya juga toh tetap mengakses sastra klasik. Kendati bukan dari buku, saya tetap bisa mendengarkan sastra klasik dari suara manis ibu. Perempuan favorit saya itu sering menuturkan cerita-cerita Tantri, kisah-kisah fabel klasik yang barangkali sudah disebut klasik sejak zaman Miguel de Carvantes. Satua I Siap Selem, I Kakul lan I Kijang, I Lutung lan I Tetani hingga Sang Nandaka lan Prabu Singa adalah beberapa seri favorit saya. Oleh ayah, cerita Tantri yang paling mengesankan ketika dituturkan adalah seri I Cetrung yang diceritakan sembari bernyanyi menggunakan pola aturan Pupuh Sinom.

Pembaca bisa membayangkan bagaimana saya mendengarkan cerita-cerita tersebut sebagai pengantar tidur, pendidikan moral sekaligus pelestarian budaya. Lebih jauh, selain Tantri Kamandaka, cerita rakyat seperti Pan Balang Tamak yang jenaka, penuh satir cerdas sekaligus ajaran moral; juga cerita I Dongding yang mengandung banyak filosofi membingungkan turut disuapkan kepada saya. Sesuatu yang sayang sekali tidak atau belum diperoleh keponakan perempuan saya.

Saat itu saya boleh tidak mengenal karya-karya penulis barat, tetapi dongeng-dongeng kebijaksanaan timur adalah makanan sehari-hari atau ”semalam-malam” jika istilah itu memang ada. Lagipula toh sastra klasik barat bisa saya akses dengan cukup mudah hari ini. Sementara keponakan perempuan saya? Dia tidak tahu banyak tentang cerita Tantri. Kendati saya sendiri mewarisi fabel-fabel lisan itu, saya tidak memiliki cukup kemampuan untuk menceritakannya dengan baik layaknya Ibu dahulu. Ohh Ibu, engkau laksana Ni Dyah Tantri, perempuan yang bercerita, menghentikan sifat kejam dan penuh nafsu Raja Aiswaradala. Cara Ibu bercerita kini membelenggu anaknya, sebab sang anak gagal menirunya.

Untuk itu, saya berencana mengembalikan tanggung jawab ibu dan ayah untuk menceritakan fabel-fabel klasik dunia timur kepada cucunya –keponakan perempuan saya. Dengan begitu, keponakan saya kembali menyalip keberuntungan saya. Dia dimbimbing membaca sembari diperdengarkan dongeng-dongeng klasik dari dunia barat dan timur sekaligus.

Tetapi, dalam benak saya muncul sedikit kekhawatiran baru –meskipun saya takut menikah dan punya anak– bagaimana cara saya mewariskan cerita Tantri dan dongeng-dongeng lokal kepada generasi berikutnya? Terlebih ketika saya menyadari ketidakcakapan saya untuk menyampaikannya.

Untuk itu, jika ada di antara pembaca yang memiliki usaha penerbitan, saya mengharapkan ketersediaan pembaca untuk menginventarisasi dan menerbitkan sastra-sastra klasik timur berikut Cerita Tantri ataupun Satua Bali Lawas. Meskipun bukan sastrawan terlebih sastrawan Bali, saya –juga barangkali ibu saya– siap membantu jika diperlukan. Kan cerita-cerita terkait agaknya bisa diterbitkan tanpa membayar royalti. Jika dijadikan buku kumpulan fabel atau novela ringan, produk budaya ini rasanya memiliki target pasar. Semoga generasi berikutnya tetap mengenal warisan budaya adiluhung dan kebajikan para pendahulunya. [T]

Penulis: I Nengah Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Tags: anak-anakbuku anakdongengsastra klasik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Next Post

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Teguh Wahyu Pranata,

Teguh Wahyu Pranata,

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails
Next Post
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto
Cerpen

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas
Puisi

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

by Supali Kasim
August 30, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co