11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Made Chandra by Made Chandra
August 31, 2026
in Esai
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Tumpukan buku | Foto: Made Chandra

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah dari tubuh-tubuh yang lain. Waktu ketika kaki tidak melangkah kemana-mana, tapi pikiran dan ujung jempol kita dengan mudah melintasi batas-batas daerah bahkan hingga tempat yang sebelumnya tidak pernah kita kunjungi.

Memang tak terasa sudah 6 tahun lamanya. Kita mungkin benar-benar mengingat ketika bergembiranya anak-anak seantero negeri ketika para guru melontarkan pesan bahwa mereka akan belajar di rumah selama 2 minggu. Tapi kita juga sungguh-sungguh mengingat bagaimana 2 minggu yang singkat itu berujung dijebloskannya kita ke dalam sel rumahan selama 2 tahun lamanya.

Sumber : rise.smeru.or.id

Setidaknya kita bisa mengatakan, pandemi adalah salah satu peristiwa akbar yang mengubah tatanan sosial kita di abad-21. Akses internet dan digitalisasi informasi seakan diboosting berkali-kali lipat saat itu. Sekolah diampu lewat layar gawai, rapat kantor bisa dilakukan di mana saja, bahkan di sawah sekalipun, asal ada internet dan atasan baju berkerah.

Media sosial semacam tiktok mulai ambil alih komando. Trend video pendek dengan layar vertikal penuh, menjadi syarat mutlak semua platform sosial media tanpa terkecuali. Di titik ini berita, informasi, hiburan bahkan literasi berbondong-bondong mengubah dirinya menjadi makhluk maya.

Koran-koran pagi di lampu merah kini tinggal kenangan. Tayangan kartun ketika fajar akhir pekan kini bisa diakses kapanpun. Apa lagi buku fisik, sudahlah tebal isinya, melahapnya pun butuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Satu-satunya genre buku yang mungkin hari ini dibaca, adalah buku paket sekolah. Itupun karna dipaksa oleh para guru. Setelah mereka lulus, peduli setan dengan buku-buku itu.

Aktivitas bangun tidur kita seolah dijajah oleh segenggam barang elektronik ini. Membuka beranda sosial media menjadi ritual bersama. Dari anak-anak, remaja, hingga para bapak ibuk yang dahulu sangat anti dengan kegiatan semacam ini, dibuat keranjingan siang-malam, kalaupun jeda mungkin karna kerja. Sepulang dari itu tangan tak lagi sabar menggerayangi ponsel pintar ini.  

Kebiasaan-kebiasaan semacam ini menjadi gejala umum yang menghinggapi manusia di abad-21. Informasi datang tanpa diminta, berita buruk menghujam tanpa henti, ajang pamer pencapaian jadi hal yang lumrah. Semua berjejalan mengantri masuk ke dalam kepala kita. Seakan terkoneksi adalah syarat mutlak yang harus kita lakukan 24/7 hidup kita. Boleh dikata, kemampuan yang punah dari manusia hari ini adalah melambat.

Mengapa demikian? Serangkaian kabar yang begitu cepat perlahan mengharamkan kita untuk diam sejenak. Seolah tergesa adalah cara satu-satunya untuk bertahan dalam kehidupan maya hari ini.

BUKU FISIK SEBAGAI ESCAPISM

Di sinilah hal-hal analog semacam buku fisik menjadi pintu keluar dari pesta tanpa henti ini. Semua itu justru digalakkan oleh Generasi-Z, mereka yang selalu dicap lemah dan lahir dari segala keberlimpahan malah mencari jalan untuk lepas dari jeratan konektifitas semu semacam ini.

Belakangan ini muncul beragam inisiasi untuk berkumpul dan membicarakan secara offline buku-buku yang mereka gemari. Entah itu lapak baca gratis atau sebuah bookclub. Kegiatan semacam ini bisa dibaca sebagai siasat dari mereka yang lelah dengan keharusan untuk terus aktif di dunia maya, hingga kehilangan hubungan jasmani dengan orang-orang di sekitarnya.

Sumber : ig @rindudibaca

Dilihat dari perannya, buku fisik memang punya beragam keterbatasan dari berbagai media digital hari ini. Ia tidak atraktif secara visual, untuk mengonsumsinya pun kita harus membaca kata demi kata untuk membentuk makna dibaliknya. Tak jarang fokus yang tumpul membuat kita harus mengulangnya kembali, sehingga begitu lambat untuk seseorang yang baru ingin menumbuhkan minat bacanya hari ini.

Namun bukankah itu esensinya?

Belantara digital hari ini, memaksa kita untuk melahap informasi tanpa harus peduli dengan konteksnya. Gambar dan video tak ubahnya gerbong kereta yang tersuruk-suruk mengantri untuk masuk. Namun keberlimpahan data itu tak seimbang dengan apa yang benar-benar kita pahami. Kebanyakan datang dan pergi, hanya menjadi aksesoris dopamin semata.

Sumber : Reels Instagram

Buku fisik bukan unggul karena lebih canggih, tetapi justru karena ia memiliki keterbatasan. Ia tidak punya autoplay. Tidak ada notifikasi. Tidak ada algoritma yang menyodorkan halaman berikutnya. Tidak ada angka likes. Tidak ada swipe.

Di sinilah melambat jadi penting, buku fisik menjadi asik, dan waktu senggang benar-benar menjadi senggang.

Bacaan offline semacam ini, menuntut fokus kita lebih dalam. Maka di sinilah pelarian kita dari jeratan konektivitas menjadi genap. Pada rangkaian kata yang harus pelan-pelan dicerna, kita disadarkan bahwa memang kehidupan semestinya berjalan seperti itu. Lambat, dan penuh proses.

Reels pendek yang tiap hari kita konsumsi, perlahan-lahan membunuh proses itu. Sehingga yang kita tuntut selalu hasil, hasil dan hasil. Tak peduli jika itu didapat secara prematur. Yang penting kepuasan kita terpenuhi sesaat.

Mungkin misi paling mendesak yang kita butuhkan hari ini bukanlah seberapa banyak informasi yang kita harus terima. Tetapi seberapa tekun kita bertahan pada proses memahami satu hal tertentu. Ku rasa disanalah buku fisik mengambil perannya.

Sumber : Made Chandra

Tidak masalah jika kamu hanya bisa menyelesaikan satu buku selama 1 bulan, jika itu yang benar-benar kamu butuhkan untuk memahaminya. Di sinilah aku harap semakin banyak orang yang gemar membaca—jurnal, novel, cerpen atau zine-zine kecil sekalipun. karna bacaan nonfiksi membuat tajam pemahaman kita, sementara fiksi memanusiakan prosesnya.

Sebab dari membaca kita perlahan menemukan diri kita yang telah lama hilang: diri yang fisik, diri yang tidak takut kehilangan koneksi dengan dunia maya, tapi benar-benar mengalami keterhubungan dengan tubuh, alam dan dunia di sekitar. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

Next Post

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co