31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Made Chandra by Made Chandra
August 31, 2026
in Esai
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Tumpukan buku | Foto: Made Chandra

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah dari tubuh-tubuh yang lain. Waktu ketika kaki tidak melangkah kemana-mana, tapi pikiran dan ujung jempol kita dengan mudah melintasi batas-batas daerah bahkan hingga tempat yang sebelumnya tidak pernah kita kunjungi.

Memang tak terasa sudah 6 tahun lamanya. Kita mungkin benar-benar mengingat ketika bergembiranya anak-anak seantero negeri ketika para guru melontarkan pesan bahwa mereka akan belajar di rumah selama 2 minggu. Tapi kita juga sungguh-sungguh mengingat bagaimana 2 minggu yang singkat itu berujung dijebloskannya kita ke dalam sel rumahan selama 2 tahun lamanya.

Sumber : rise.smeru.or.id

Setidaknya kita bisa mengatakan, pandemi adalah salah satu peristiwa akbar yang mengubah tatanan sosial kita di abad-21. Akses internet dan digitalisasi informasi seakan diboosting berkali-kali lipat saat itu. Sekolah diampu lewat layar gawai, rapat kantor bisa dilakukan di mana saja, bahkan di sawah sekalipun, asal ada internet dan atasan baju berkerah.

Media sosial semacam tiktok mulai ambil alih komando. Trend video pendek dengan layar vertikal penuh, menjadi syarat mutlak semua platform sosial media tanpa terkecuali. Di titik ini berita, informasi, hiburan bahkan literasi berbondong-bondong mengubah dirinya menjadi makhluk maya.

Koran-koran pagi di lampu merah kini tinggal kenangan. Tayangan kartun ketika fajar akhir pekan kini bisa diakses kapanpun. Apa lagi buku fisik, sudahlah tebal isinya, melahapnya pun butuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Satu-satunya genre buku yang mungkin hari ini dibaca, adalah buku paket sekolah. Itupun karna dipaksa oleh para guru. Setelah mereka lulus, peduli setan dengan buku-buku itu.

Aktivitas bangun tidur kita seolah dijajah oleh segenggam barang elektronik ini. Membuka beranda sosial media menjadi ritual bersama. Dari anak-anak, remaja, hingga para bapak ibuk yang dahulu sangat anti dengan kegiatan semacam ini, dibuat keranjingan siang-malam, kalaupun jeda mungkin karna kerja. Sepulang dari itu tangan tak lagi sabar menggerayangi ponsel pintar ini.  

Kebiasaan-kebiasaan semacam ini menjadi gejala umum yang menghinggapi manusia di abad-21. Informasi datang tanpa diminta, berita buruk menghujam tanpa henti, ajang pamer pencapaian jadi hal yang lumrah. Semua berjejalan mengantri masuk ke dalam kepala kita. Seakan terkoneksi adalah syarat mutlak yang harus kita lakukan 24/7 hidup kita. Boleh dikata, kemampuan yang punah dari manusia hari ini adalah melambat.

Mengapa demikian? Serangkaian kabar yang begitu cepat perlahan mengharamkan kita untuk diam sejenak. Seolah tergesa adalah cara satu-satunya untuk bertahan dalam kehidupan maya hari ini.

BUKU FISIK SEBAGAI ESCAPISM

Di sinilah hal-hal analog semacam buku fisik menjadi pintu keluar dari pesta tanpa henti ini. Semua itu justru digalakkan oleh Generasi-Z, mereka yang selalu dicap lemah dan lahir dari segala keberlimpahan malah mencari jalan untuk lepas dari jeratan konektifitas semu semacam ini.

Belakangan ini muncul beragam inisiasi untuk berkumpul dan membicarakan secara offline buku-buku yang mereka gemari. Entah itu lapak baca gratis atau sebuah bookclub. Kegiatan semacam ini bisa dibaca sebagai siasat dari mereka yang lelah dengan keharusan untuk terus aktif di dunia maya, hingga kehilangan hubungan jasmani dengan orang-orang di sekitarnya.

Sumber : ig @rindudibaca

Dilihat dari perannya, buku fisik memang punya beragam keterbatasan dari berbagai media digital hari ini. Ia tidak atraktif secara visual, untuk mengonsumsinya pun kita harus membaca kata demi kata untuk membentuk makna dibaliknya. Tak jarang fokus yang tumpul membuat kita harus mengulangnya kembali, sehingga begitu lambat untuk seseorang yang baru ingin menumbuhkan minat bacanya hari ini.

Namun bukankah itu esensinya?

Belantara digital hari ini, memaksa kita untuk melahap informasi tanpa harus peduli dengan konteksnya. Gambar dan video tak ubahnya gerbong kereta yang tersuruk-suruk mengantri untuk masuk. Namun keberlimpahan data itu tak seimbang dengan apa yang benar-benar kita pahami. Kebanyakan datang dan pergi, hanya menjadi aksesoris dopamin semata.

Sumber : Reels Instagram

Buku fisik bukan unggul karena lebih canggih, tetapi justru karena ia memiliki keterbatasan. Ia tidak punya autoplay. Tidak ada notifikasi. Tidak ada algoritma yang menyodorkan halaman berikutnya. Tidak ada angka likes. Tidak ada swipe.

Di sinilah melambat jadi penting, buku fisik menjadi asik, dan waktu senggang benar-benar menjadi senggang.

Bacaan offline semacam ini, menuntut fokus kita lebih dalam. Maka di sinilah pelarian kita dari jeratan konektivitas menjadi genap. Pada rangkaian kata yang harus pelan-pelan dicerna, kita disadarkan bahwa memang kehidupan semestinya berjalan seperti itu. Lambat, dan penuh proses.

Reels pendek yang tiap hari kita konsumsi, perlahan-lahan membunuh proses itu. Sehingga yang kita tuntut selalu hasil, hasil dan hasil. Tak peduli jika itu didapat secara prematur. Yang penting kepuasan kita terpenuhi sesaat.

Mungkin misi paling mendesak yang kita butuhkan hari ini bukanlah seberapa banyak informasi yang kita harus terima. Tetapi seberapa tekun kita bertahan pada proses memahami satu hal tertentu. Ku rasa disanalah buku fisik mengambil perannya.

Sumber : Made Chandra

Tidak masalah jika kamu hanya bisa menyelesaikan satu buku selama 1 bulan, jika itu yang benar-benar kamu butuhkan untuk memahaminya. Di sinilah aku harap semakin banyak orang yang gemar membaca—jurnal, novel, cerpen atau zine-zine kecil sekalipun. karna bacaan nonfiksi membuat tajam pemahaman kita, sementara fiksi memanusiakan prosesnya.

Sebab dari membaca kita perlahan menemukan diri kita yang telah lama hilang: diri yang fisik, diri yang tidak takut kehilangan koneksi dengan dunia maya, tapi benar-benar mengalami keterhubungan dengan tubuh, alam dan dunia di sekitar. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

Next Post

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails
Next Post
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co