21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Made Chandra by Made Chandra
August 31, 2026
in Esai
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

Tumpukan buku | Foto: Made Chandra

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah dari tubuh-tubuh yang lain. Waktu ketika kaki tidak melangkah kemana-mana, tapi pikiran dan ujung jempol kita dengan mudah melintasi batas-batas daerah bahkan hingga tempat yang sebelumnya tidak pernah kita kunjungi.

Memang tak terasa sudah 6 tahun lamanya. Kita mungkin benar-benar mengingat ketika bergembiranya anak-anak seantero negeri ketika para guru melontarkan pesan bahwa mereka akan belajar di rumah selama 2 minggu. Tapi kita juga sungguh-sungguh mengingat bagaimana 2 minggu yang singkat itu berujung dijebloskannya kita ke dalam sel rumahan selama 2 tahun lamanya.

Sumber : rise.smeru.or.id

Setidaknya kita bisa mengatakan, pandemi adalah salah satu peristiwa akbar yang mengubah tatanan sosial kita di abad-21. Akses internet dan digitalisasi informasi seakan diboosting berkali-kali lipat saat itu. Sekolah diampu lewat layar gawai, rapat kantor bisa dilakukan di mana saja, bahkan di sawah sekalipun, asal ada internet dan atasan baju berkerah.

Media sosial semacam tiktok mulai ambil alih komando. Trend video pendek dengan layar vertikal penuh, menjadi syarat mutlak semua platform sosial media tanpa terkecuali. Di titik ini berita, informasi, hiburan bahkan literasi berbondong-bondong mengubah dirinya menjadi makhluk maya.

Koran-koran pagi di lampu merah kini tinggal kenangan. Tayangan kartun ketika fajar akhir pekan kini bisa diakses kapanpun. Apa lagi buku fisik, sudahlah tebal isinya, melahapnya pun butuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Satu-satunya genre buku yang mungkin hari ini dibaca, adalah buku paket sekolah. Itupun karna dipaksa oleh para guru. Setelah mereka lulus, peduli setan dengan buku-buku itu.

Aktivitas bangun tidur kita seolah dijajah oleh segenggam barang elektronik ini. Membuka beranda sosial media menjadi ritual bersama. Dari anak-anak, remaja, hingga para bapak ibuk yang dahulu sangat anti dengan kegiatan semacam ini, dibuat keranjingan siang-malam, kalaupun jeda mungkin karna kerja. Sepulang dari itu tangan tak lagi sabar menggerayangi ponsel pintar ini.  

Kebiasaan-kebiasaan semacam ini menjadi gejala umum yang menghinggapi manusia di abad-21. Informasi datang tanpa diminta, berita buruk menghujam tanpa henti, ajang pamer pencapaian jadi hal yang lumrah. Semua berjejalan mengantri masuk ke dalam kepala kita. Seakan terkoneksi adalah syarat mutlak yang harus kita lakukan 24/7 hidup kita. Boleh dikata, kemampuan yang punah dari manusia hari ini adalah melambat.

Mengapa demikian? Serangkaian kabar yang begitu cepat perlahan mengharamkan kita untuk diam sejenak. Seolah tergesa adalah cara satu-satunya untuk bertahan dalam kehidupan maya hari ini.

BUKU FISIK SEBAGAI ESCAPISM

Di sinilah hal-hal analog semacam buku fisik menjadi pintu keluar dari pesta tanpa henti ini. Semua itu justru digalakkan oleh Generasi-Z, mereka yang selalu dicap lemah dan lahir dari segala keberlimpahan malah mencari jalan untuk lepas dari jeratan konektifitas semu semacam ini.

Belakangan ini muncul beragam inisiasi untuk berkumpul dan membicarakan secara offline buku-buku yang mereka gemari. Entah itu lapak baca gratis atau sebuah bookclub. Kegiatan semacam ini bisa dibaca sebagai siasat dari mereka yang lelah dengan keharusan untuk terus aktif di dunia maya, hingga kehilangan hubungan jasmani dengan orang-orang di sekitarnya.

Sumber : ig @rindudibaca

Dilihat dari perannya, buku fisik memang punya beragam keterbatasan dari berbagai media digital hari ini. Ia tidak atraktif secara visual, untuk mengonsumsinya pun kita harus membaca kata demi kata untuk membentuk makna dibaliknya. Tak jarang fokus yang tumpul membuat kita harus mengulangnya kembali, sehingga begitu lambat untuk seseorang yang baru ingin menumbuhkan minat bacanya hari ini.

Namun bukankah itu esensinya?

Belantara digital hari ini, memaksa kita untuk melahap informasi tanpa harus peduli dengan konteksnya. Gambar dan video tak ubahnya gerbong kereta yang tersuruk-suruk mengantri untuk masuk. Namun keberlimpahan data itu tak seimbang dengan apa yang benar-benar kita pahami. Kebanyakan datang dan pergi, hanya menjadi aksesoris dopamin semata.

Sumber : Reels Instagram

Buku fisik bukan unggul karena lebih canggih, tetapi justru karena ia memiliki keterbatasan. Ia tidak punya autoplay. Tidak ada notifikasi. Tidak ada algoritma yang menyodorkan halaman berikutnya. Tidak ada angka likes. Tidak ada swipe.

Di sinilah melambat jadi penting, buku fisik menjadi asik, dan waktu senggang benar-benar menjadi senggang.

Bacaan offline semacam ini, menuntut fokus kita lebih dalam. Maka di sinilah pelarian kita dari jeratan konektivitas menjadi genap. Pada rangkaian kata yang harus pelan-pelan dicerna, kita disadarkan bahwa memang kehidupan semestinya berjalan seperti itu. Lambat, dan penuh proses.

Reels pendek yang tiap hari kita konsumsi, perlahan-lahan membunuh proses itu. Sehingga yang kita tuntut selalu hasil, hasil dan hasil. Tak peduli jika itu didapat secara prematur. Yang penting kepuasan kita terpenuhi sesaat.

Mungkin misi paling mendesak yang kita butuhkan hari ini bukanlah seberapa banyak informasi yang kita harus terima. Tetapi seberapa tekun kita bertahan pada proses memahami satu hal tertentu. Ku rasa disanalah buku fisik mengambil perannya.

Sumber : Made Chandra

Tidak masalah jika kamu hanya bisa menyelesaikan satu buku selama 1 bulan, jika itu yang benar-benar kamu butuhkan untuk memahaminya. Di sinilah aku harap semakin banyak orang yang gemar membaca—jurnal, novel, cerpen atau zine-zine kecil sekalipun. karna bacaan nonfiksi membuat tajam pemahaman kita, sementara fiksi memanusiakan prosesnya.

Sebab dari membaca kita perlahan menemukan diri kita yang telah lama hilang: diri yang fisik, diri yang tidak takut kehilangan koneksi dengan dunia maya, tapi benar-benar mengalami keterhubungan dengan tubuh, alam dan dunia di sekitar. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasimembaca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

Next Post

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails
Next Post
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co