KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah dari tubuh-tubuh yang lain. Waktu ketika kaki tidak melangkah kemana-mana, tapi pikiran dan ujung jempol kita dengan mudah melintasi batas-batas daerah bahkan hingga tempat yang sebelumnya tidak pernah kita kunjungi.
Memang tak terasa sudah 6 tahun lamanya. Kita mungkin benar-benar mengingat ketika bergembiranya anak-anak seantero negeri ketika para guru melontarkan pesan bahwa mereka akan belajar di rumah selama 2 minggu. Tapi kita juga sungguh-sungguh mengingat bagaimana 2 minggu yang singkat itu berujung dijebloskannya kita ke dalam sel rumahan selama 2 tahun lamanya.

Setidaknya kita bisa mengatakan, pandemi adalah salah satu peristiwa akbar yang mengubah tatanan sosial kita di abad-21. Akses internet dan digitalisasi informasi seakan diboosting berkali-kali lipat saat itu. Sekolah diampu lewat layar gawai, rapat kantor bisa dilakukan di mana saja, bahkan di sawah sekalipun, asal ada internet dan atasan baju berkerah.
Media sosial semacam tiktok mulai ambil alih komando. Trend video pendek dengan layar vertikal penuh, menjadi syarat mutlak semua platform sosial media tanpa terkecuali. Di titik ini berita, informasi, hiburan bahkan literasi berbondong-bondong mengubah dirinya menjadi makhluk maya.
Koran-koran pagi di lampu merah kini tinggal kenangan. Tayangan kartun ketika fajar akhir pekan kini bisa diakses kapanpun. Apa lagi buku fisik, sudahlah tebal isinya, melahapnya pun butuh berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Satu-satunya genre buku yang mungkin hari ini dibaca, adalah buku paket sekolah. Itupun karna dipaksa oleh para guru. Setelah mereka lulus, peduli setan dengan buku-buku itu.
Aktivitas bangun tidur kita seolah dijajah oleh segenggam barang elektronik ini. Membuka beranda sosial media menjadi ritual bersama. Dari anak-anak, remaja, hingga para bapak ibuk yang dahulu sangat anti dengan kegiatan semacam ini, dibuat keranjingan siang-malam, kalaupun jeda mungkin karna kerja. Sepulang dari itu tangan tak lagi sabar menggerayangi ponsel pintar ini.
Kebiasaan-kebiasaan semacam ini menjadi gejala umum yang menghinggapi manusia di abad-21. Informasi datang tanpa diminta, berita buruk menghujam tanpa henti, ajang pamer pencapaian jadi hal yang lumrah. Semua berjejalan mengantri masuk ke dalam kepala kita. Seakan terkoneksi adalah syarat mutlak yang harus kita lakukan 24/7 hidup kita. Boleh dikata, kemampuan yang punah dari manusia hari ini adalah melambat.
Mengapa demikian? Serangkaian kabar yang begitu cepat perlahan mengharamkan kita untuk diam sejenak. Seolah tergesa adalah cara satu-satunya untuk bertahan dalam kehidupan maya hari ini.
BUKU FISIK SEBAGAI ESCAPISM
Di sinilah hal-hal analog semacam buku fisik menjadi pintu keluar dari pesta tanpa henti ini. Semua itu justru digalakkan oleh Generasi-Z, mereka yang selalu dicap lemah dan lahir dari segala keberlimpahan malah mencari jalan untuk lepas dari jeratan konektifitas semu semacam ini.
Belakangan ini muncul beragam inisiasi untuk berkumpul dan membicarakan secara offline buku-buku yang mereka gemari. Entah itu lapak baca gratis atau sebuah bookclub. Kegiatan semacam ini bisa dibaca sebagai siasat dari mereka yang lelah dengan keharusan untuk terus aktif di dunia maya, hingga kehilangan hubungan jasmani dengan orang-orang di sekitarnya.

Dilihat dari perannya, buku fisik memang punya beragam keterbatasan dari berbagai media digital hari ini. Ia tidak atraktif secara visual, untuk mengonsumsinya pun kita harus membaca kata demi kata untuk membentuk makna dibaliknya. Tak jarang fokus yang tumpul membuat kita harus mengulangnya kembali, sehingga begitu lambat untuk seseorang yang baru ingin menumbuhkan minat bacanya hari ini.
Namun bukankah itu esensinya?
Belantara digital hari ini, memaksa kita untuk melahap informasi tanpa harus peduli dengan konteksnya. Gambar dan video tak ubahnya gerbong kereta yang tersuruk-suruk mengantri untuk masuk. Namun keberlimpahan data itu tak seimbang dengan apa yang benar-benar kita pahami. Kebanyakan datang dan pergi, hanya menjadi aksesoris dopamin semata.

Buku fisik bukan unggul karena lebih canggih, tetapi justru karena ia memiliki keterbatasan. Ia tidak punya autoplay. Tidak ada notifikasi. Tidak ada algoritma yang menyodorkan halaman berikutnya. Tidak ada angka likes. Tidak ada swipe.
Di sinilah melambat jadi penting, buku fisik menjadi asik, dan waktu senggang benar-benar menjadi senggang.
Bacaan offline semacam ini, menuntut fokus kita lebih dalam. Maka di sinilah pelarian kita dari jeratan konektivitas menjadi genap. Pada rangkaian kata yang harus pelan-pelan dicerna, kita disadarkan bahwa memang kehidupan semestinya berjalan seperti itu. Lambat, dan penuh proses.
Reels pendek yang tiap hari kita konsumsi, perlahan-lahan membunuh proses itu. Sehingga yang kita tuntut selalu hasil, hasil dan hasil. Tak peduli jika itu didapat secara prematur. Yang penting kepuasan kita terpenuhi sesaat.
Mungkin misi paling mendesak yang kita butuhkan hari ini bukanlah seberapa banyak informasi yang kita harus terima. Tetapi seberapa tekun kita bertahan pada proses memahami satu hal tertentu. Ku rasa disanalah buku fisik mengambil perannya.

Tidak masalah jika kamu hanya bisa menyelesaikan satu buku selama 1 bulan, jika itu yang benar-benar kamu butuhkan untuk memahaminya. Di sinilah aku harap semakin banyak orang yang gemar membaca—jurnal, novel, cerpen atau zine-zine kecil sekalipun. karna bacaan nonfiksi membuat tajam pemahaman kita, sementara fiksi memanusiakan prosesnya.
Sebab dari membaca kita perlahan menemukan diri kita yang telah lama hilang: diri yang fisik, diri yang tidak takut kehilangan koneksi dengan dunia maya, tapi benar-benar mengalami keterhubungan dengan tubuh, alam dan dunia di sekitar. [T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)

