2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
in Panggung
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Getar, terlibat perselisihan mengenai tanggung jawab kepada orang tua mereka. Dari konflik itulah, ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’ dipentaskan oleh Komunitas Saka Gading, Desa Adat Sangkanbuana, Duta Kabupaten Klungkung dalam Lomba Taman Penasar di Pesta Kesenian Bali ke-48.

Hari itu, Minggu, 21 Juni 2026, Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali dipadati penonton. Sejak pertunjukan dimulai pukul 11.00 WITA, perhatian mereka tertuju ke panggung. Melalui rangkaian pupuh, dialog, dan akting yang mengalir, para pemain menghidupkan kisah tentang keluarga, bakti, dan pentingnya menjaga hubungan persaudaraan.

Cerita berpusat pada keluarga Bapa Gunung, seorang petani sederhana yang sehari-hari membajak sawah dan berkebun. Meski hidup di desa dengan kesederhanaan, keluarganya hidup rukun dan berkecukupan. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi dengan baik.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Selain dikenal pekerja keras, Bapa Gunung juga gemar nyastra. Ketekunan dan kegigihannya membuat ia mampu menyekolahkan putranya hingga lulus dari perguruan tinggi ternama. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada anak-anaknya tidak hanya berasal dari kerja keras, tetapi juga dari ajaran sastra yang menjadi bagian dari rutinitasnya.

Seiring waktu, jalan hidup kedua putranya berbeda. I Gede Lecir memilih tetap tinggal di desa, membantu ayahnya bekerja. Sementara itu, I Made Getar memilih menetap di kota, jauh dari kehidupan desa dan aktivitas sosial masyarakat.

Perbedaan pilihan hidup itu menjadi titik awal jarak yang perlahan tumbuh di antara keduanya. Konflik mencapai puncaknya ketika Bapa Gunung meninggal dunia. Saat keluarga bersiap melaksanakan upacara ngaben, muncul perbedaan pandangan mengenai pembiayaan upacara tersebut. I Made Getar dan istrinya merasa biaya tidak seharusnya ditanggung sendiri. Sang istri bahkan menyarankan agar biaya ngaben dibagi bersama dengan I Gede Lecir.

“Ajak kakakmu patungan saja. Jangan semua beban ditanggung sendiri. Pikirkan juga kebutuhan kita, terutama aku. Atau, kremasi saja biar cepat dan ringkas. Buat apa mengeluarkan uang banyak hanya untuk orang mati,” kata sang istri dalam bahasa Bali pada salah satu adegan.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Tanpa sengaja, percakapan itu didengar oleh I Gede Lecir. Ia pun naik pitam. Menurutnya, sang adik telah menjadi terlalu perhitungan dan mudah dipengaruhi oleh istrinya, bahkan dalam urusan bakti kepada orang tua.

Pertengkaran tak terhindarkan. Kedua saudara itu saling beradu pendapat. Masing-masing merasa berada di pihak yang benar. Suasana yang semula dipenuhi duka berubah menjadi ketegangan.

Namun, seperti halnya kehidupan, cerita tidak berhenti pada konflik. Melalui petuah yang disampaikan pimpinan desa, kedua saudara itu diajak kembali mengingat ajaran yang selama ini diwariskan oleh Bapa Gunung. Mereka diajak bersastra, merenungkan kembali makna bakti, tanggung jawab, dan hubungan keluarga yang lebih besar daripada persoalan materi.

Perlahan, hati keduanya terbuka. Mereka menyadari kekeliruan masing-masing. Perselisihan yang sempat memecah belah keluarga akhirnya mencair. I Gede Lecir dan I Made Getar kembali bersatu, lalu bersama-sama mengupacarai ayah mereka dengan penuh ketulusan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik mereka dengan kasih sayang.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Pesan itulah yang berhasil disampaikan dengan kuat oleh para pemain Taman Penasar Komunitas Saka Gading. Sepanjang pementasan, penonton tampak larut mengikuti alur cerita. Bahasa Bali yang digunakan mengalir cair dan komunikatif. Dialog-dialog yang dibangun terasa hidup. Pada beberapa bagian, penonton tertawa oleh selipan humor. Pada bagian lain, mereka ikut terbawa emosi ketika konflik dua saudara itu memanas.

Kemampuan para pemain dalam menembang juga menjadi kekuatan tersendiri. Cerita mengalir melalui rangkaian pupuh seperti Pangkur, Semarandana, Ginada, Ginanti, dan pupuh lainnya. Tembang-tembang tersebut tidak hanya memperindah pertunjukan, tetapi juga memperkuat suasana dan pesan yang ingin disampaikan.

Pembina sekaligus koordinator Komunitas Saka Gading, Komang Gede Suastika, mengaku bangga melihat penampilan anak-anak binaannya.

“Saya sangat terkesan dan terharu sekali, karena mereka menampilkan yang terbaik, tanpa membuat banyak kesalahan. Penampilan mereka maksimal hari ini, sesuai dengan arahan dan latihan. Harapan saya semoga bisa bersaing dan meraih hasil yang diharapkan,” ujarnya.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Antusias penonton menyaksikan Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Komang Gede Suastika mengatakan, para pemain menjalani latihan selama kurang lebih tiga bulan sebelum tampil di PKB. Proses tersebut tentu tidak mudah. Sebagian besar pemain masih berusia muda dan baru pertama kali belajar Taman Penasar.

“Mereka sudah berlatih selama tiga bulan. Tantangan yang dihadapi cukup banyak karena sebagian besar masih berusia muda dan baru belajar dari awal, mulai dari nembang, bermain peran, memahami cerita, hingga menghafal dialog. Proses itu membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Namun yang terpenting, mereka memiliki kemauan untuk belajar,” katanya.

Menurutnya, semangat belajar menjadi modal utama para pemain muda tersebut. “Mereka belum pernah tampil, semua murni masih baru-baru, dan langsung pentas di PKB. Kita bertujuan untuk tetap meregenerasi, agar kesenian ini tetap berlanjut,” tambahnya.

Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa pementasan ini bukan semata soal kompetisi. Lebih dari itu, ada upaya regenerasi yang tengah dibangun agar Taman Penasar tetap memiliki penerus di masa mendatang.

Komunitas Saka Gading, Desa Adat Sangkanbuana, Kecamatan Klungkung, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

 

Taman Penasar sendiri merupakan salah satu bentuk kesenian yang memadukan berbagai unsur, mulai dari tembang pupuh, peneges, penegteg pabligbagan, hingga iringan instrumen geguntangan. Kesenian ini dicetuskan oleh Keluarga Kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar.

Sebagai sebuah pertunjukan, Taman Penasar menghadirkan perpaduan antara sastra, seni vokal, dan seni peran. Para penembang dan peneges umumnya tampil dalam posisi duduk, seperti dalam arja petegak, namun tetap mampu menghadirkan karakter, konflik, dan pesan yang kuat kepada penonton.

Karena bertumpu pada sastra, Taman Penasar sering menjadi ruang refleksi bagi berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai yang disampaikan tidak hadir dalam bentuk ceramah, melainkan mengalir melalui cerita, dialog, tembang, dan peran yang dimainkan.

Pesan itulah yang hadir dalam ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’. Di balik kisah dua saudara yang berselisih soal ngaben, tersimpan pengingat bahwa bakti kepada orang tua tidak layak diukur dengan untung rugi. Dan ketika ikatan keluarga mulai renggang, sastra dapat menjadi jalan pulang yang kembali menyatukan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: KlungkungPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026taman penasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Next Post

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co