13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
in Panggung
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Getar, terlibat perselisihan mengenai tanggung jawab kepada orang tua mereka. Dari konflik itulah, ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’ dipentaskan oleh Komunitas Saka Gading, Desa Adat Sangkanbuana, Duta Kabupaten Klungkung dalam Lomba Taman Penasar di Pesta Kesenian Bali ke-48.

Hari itu, Minggu, 21 Juni 2026, Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali dipadati penonton. Sejak pertunjukan dimulai pukul 11.00 WITA, perhatian mereka tertuju ke panggung. Melalui rangkaian pupuh, dialog, dan akting yang mengalir, para pemain menghidupkan kisah tentang keluarga, bakti, dan pentingnya menjaga hubungan persaudaraan.

Cerita berpusat pada keluarga Bapa Gunung, seorang petani sederhana yang sehari-hari membajak sawah dan berkebun. Meski hidup di desa dengan kesederhanaan, keluarganya hidup rukun dan berkecukupan. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi dengan baik.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Selain dikenal pekerja keras, Bapa Gunung juga gemar nyastra. Ketekunan dan kegigihannya membuat ia mampu menyekolahkan putranya hingga lulus dari perguruan tinggi ternama. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada anak-anaknya tidak hanya berasal dari kerja keras, tetapi juga dari ajaran sastra yang menjadi bagian dari rutinitasnya.

Seiring waktu, jalan hidup kedua putranya berbeda. I Gede Lecir memilih tetap tinggal di desa, membantu ayahnya bekerja. Sementara itu, I Made Getar memilih menetap di kota, jauh dari kehidupan desa dan aktivitas sosial masyarakat.

Perbedaan pilihan hidup itu menjadi titik awal jarak yang perlahan tumbuh di antara keduanya. Konflik mencapai puncaknya ketika Bapa Gunung meninggal dunia. Saat keluarga bersiap melaksanakan upacara ngaben, muncul perbedaan pandangan mengenai pembiayaan upacara tersebut. I Made Getar dan istrinya merasa biaya tidak seharusnya ditanggung sendiri. Sang istri bahkan menyarankan agar biaya ngaben dibagi bersama dengan I Gede Lecir.

“Ajak kakakmu patungan saja. Jangan semua beban ditanggung sendiri. Pikirkan juga kebutuhan kita, terutama aku. Atau, kremasi saja biar cepat dan ringkas. Buat apa mengeluarkan uang banyak hanya untuk orang mati,” kata sang istri dalam bahasa Bali pada salah satu adegan.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Tanpa sengaja, percakapan itu didengar oleh I Gede Lecir. Ia pun naik pitam. Menurutnya, sang adik telah menjadi terlalu perhitungan dan mudah dipengaruhi oleh istrinya, bahkan dalam urusan bakti kepada orang tua.

Pertengkaran tak terhindarkan. Kedua saudara itu saling beradu pendapat. Masing-masing merasa berada di pihak yang benar. Suasana yang semula dipenuhi duka berubah menjadi ketegangan.

Namun, seperti halnya kehidupan, cerita tidak berhenti pada konflik. Melalui petuah yang disampaikan pimpinan desa, kedua saudara itu diajak kembali mengingat ajaran yang selama ini diwariskan oleh Bapa Gunung. Mereka diajak bersastra, merenungkan kembali makna bakti, tanggung jawab, dan hubungan keluarga yang lebih besar daripada persoalan materi.

Perlahan, hati keduanya terbuka. Mereka menyadari kekeliruan masing-masing. Perselisihan yang sempat memecah belah keluarga akhirnya mencair. I Gede Lecir dan I Made Getar kembali bersatu, lalu bersama-sama mengupacarai ayah mereka dengan penuh ketulusan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik mereka dengan kasih sayang.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Pesan itulah yang berhasil disampaikan dengan kuat oleh para pemain Taman Penasar Komunitas Saka Gading. Sepanjang pementasan, penonton tampak larut mengikuti alur cerita. Bahasa Bali yang digunakan mengalir cair dan komunikatif. Dialog-dialog yang dibangun terasa hidup. Pada beberapa bagian, penonton tertawa oleh selipan humor. Pada bagian lain, mereka ikut terbawa emosi ketika konflik dua saudara itu memanas.

Kemampuan para pemain dalam menembang juga menjadi kekuatan tersendiri. Cerita mengalir melalui rangkaian pupuh seperti Pangkur, Semarandana, Ginada, Ginanti, dan pupuh lainnya. Tembang-tembang tersebut tidak hanya memperindah pertunjukan, tetapi juga memperkuat suasana dan pesan yang ingin disampaikan.

Pembina sekaligus koordinator Komunitas Saka Gading, Komang Gede Suastika, mengaku bangga melihat penampilan anak-anak binaannya.

“Saya sangat terkesan dan terharu sekali, karena mereka menampilkan yang terbaik, tanpa membuat banyak kesalahan. Penampilan mereka maksimal hari ini, sesuai dengan arahan dan latihan. Harapan saya semoga bisa bersaing dan meraih hasil yang diharapkan,” ujarnya.

Taman Penasar oleh Komunitas Saka Gading, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Antusias penonton menyaksikan Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

Komang Gede Suastika mengatakan, para pemain menjalani latihan selama kurang lebih tiga bulan sebelum tampil di PKB. Proses tersebut tentu tidak mudah. Sebagian besar pemain masih berusia muda dan baru pertama kali belajar Taman Penasar.

“Mereka sudah berlatih selama tiga bulan. Tantangan yang dihadapi cukup banyak karena sebagian besar masih berusia muda dan baru belajar dari awal, mulai dari nembang, bermain peran, memahami cerita, hingga menghafal dialog. Proses itu membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Namun yang terpenting, mereka memiliki kemauan untuk belajar,” katanya.

Menurutnya, semangat belajar menjadi modal utama para pemain muda tersebut. “Mereka belum pernah tampil, semua murni masih baru-baru, dan langsung pentas di PKB. Kita bertujuan untuk tetap meregenerasi, agar kesenian ini tetap berlanjut,” tambahnya.

Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa pementasan ini bukan semata soal kompetisi. Lebih dari itu, ada upaya regenerasi yang tengah dibangun agar Taman Penasar tetap memiliki penerus di masa mendatang.

Komunitas Saka Gading, Desa Adat Sangkanbuana, Kecamatan Klungkung, Duta Kabupaten Klungkung│Foto: tatkala.co/Dede

 

Taman Penasar sendiri merupakan salah satu bentuk kesenian yang memadukan berbagai unsur, mulai dari tembang pupuh, peneges, penegteg pabligbagan, hingga iringan instrumen geguntangan. Kesenian ini dicetuskan oleh Keluarga Kesenian Bali (KKB) RRI Denpasar.

Sebagai sebuah pertunjukan, Taman Penasar menghadirkan perpaduan antara sastra, seni vokal, dan seni peran. Para penembang dan peneges umumnya tampil dalam posisi duduk, seperti dalam arja petegak, namun tetap mampu menghadirkan karakter, konflik, dan pesan yang kuat kepada penonton.

Karena bertumpu pada sastra, Taman Penasar sering menjadi ruang refleksi bagi berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai yang disampaikan tidak hadir dalam bentuk ceramah, melainkan mengalir melalui cerita, dialog, tembang, dan peran yang dimainkan.

Pesan itulah yang hadir dalam ‘Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa’. Di balik kisah dua saudara yang berselisih soal ngaben, tersimpan pengingat bahwa bakti kepada orang tua tidak layak diukur dengan untung rugi. Dan ketika ikatan keluarga mulai renggang, sastra dapat menjadi jalan pulang yang kembali menyatukan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: KlungkungPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026taman penasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

Next Post

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails
Next Post
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co