10 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KLAKSON

Hartanto by Hartanto
June 20, 2026
in Esai
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya sedang belajar stir mobil. Sebab, suara klakson dari belakang, membuat saya panik mengendarai mobil.

Cukup lama saya merasa terganggu oleh bunyi klakson — selama saya masih dalam ‘pembelajaran’ stir mobil. Mungkin sekitar 2 bulan. Saya acap memilih jalan kecil, dan menghindar dari jalan raya — untuk menghindar gangguan klakson.

12 Juni 2026 lalu, si ‘klakson’ kembali muncul sebagai ‘tokoh’ yang viral di media sosial. Ia, hadir mewakili suara-suara yang terbungkam.

Ya, bunyi klakson dari pengendara mobil dan motor atas ajakan para demonstran mahasiswa 12 Juni itu – dapat dibaca sebagai sebuah metafora politik yang lahir dari jalanan. Sebuah suara mekanis yang dipaksa menjadi ‘bahasa rakyat’.

Menurut saya, klakson yang biasanya hanya berfungsi sebagai tanda lalu lintas, dalam konteks demonstrasi berubah menjadi alarm sosial, sebuah ’raungan’ yang menandakan ada keresahan yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi.

Ia menginterupsi ‘ritme’ kota, memecah keheningan ‘birokrasi’, dan menghadirkan bunyi yang tidak bisa diabaikan oleh ‘penguasa’ maupun masyarakat.

Dalam ‘keriuhan’ berulang itu, mahasiswa seakan menciptakan ‘orkestra jalanan’. Sebuah ‘musik protes’ yang tidak membutuhkan lirik.

Sebab, bunyinya sendiri sudah cukup untuk menyampaikan pesan : ada sesuatu yang mendesak, ada aspirasi yang harus didengar. Ada ‘kekonyolan’ yang sedang terjadi. Ada kejujuran yang ‘terkubur’.

Ketika itu, klakson menjadi ‘simbol solidaritas’, karena setiap bunyi yang bersahutan membentuk ‘ritme kolektif’. Ia bukan sekadar ‘kebisingan’, melainkan tanda bahwa mahasiswa bergerak sebagai ‘satu tubuh’, ‘satu suara’.

Seperti kita ketahui, dalam tradisi demonstrasi, simbol-simbol semacam ini selalu hadir : poster, teriakan, nyanyian, bahkan diam yang terorganisir.

Klakson menambah lapisan baru atau ‘anasir’ baru, sebuah suara yang lahir dari mesin, dari teknologi sehari-hari, namun dimaknai ulang sebagai ‘instrumen politik’.

Dengan demikian, ia menjadi jembatan antara dunia ‘mekanis’ dan dunia ‘sosial’, antara kendaraan yang biasanya melaju di jalanan dengan ‘aspirasi rakyat’ yang berusaha menembus ‘tembok kekuasaan’.

Jika kita refleksikan lebih jauh, menurut saya — klakson dalam demo mahasiswa adalah bentuk ‘gangguan produktif’. Ia mengganggu ‘lalu lintas’, mengganggu ‘rutinitas’, tetapi justru dari gangguan itu lahir ‘kesadaran’.

Demokrasi tidak hanya berlangsung di ruang sidang atau meja rapat, melainkan juga di jalanan, di mana rakyat menuntut haknya dengan cara yang paling langsung.

Klakson menjadi tanda bahwa ‘demokrasi hidup’, bahwa suara rakyat tidak bisa ‘dibungkam’. Ia adalah terjemahan ‘non-verbal’ dari tuntutan mahasiswa, sebuah cara untuk mengatakan : dengarkan suara kami, karena kami mewakili keresahan yang lebih luas.

Dalam ‘perspektif simbolik’, klakson bisa dipahami sebagai ‘suara rakyat’ yang dipaksa keluar dari mesin. Ia adalah bunyi yang keras, kadang dianggap bising, tetapi justru karena keras dan bising itulah ia ‘efektif’.

Seperti gong dalam ritual, atau lonceng dalam gereja, klakson dalam demo mahasiswa menjadi tanda transisi : dari diam ke bersuara, dari pasif ke aktif, dari individu ke kolektif.

Ia menandai bahwa ada ‘energi’ yang sedang bergerak, ada generasi yang sedang menuntut perubahan. Dengan demikian, bunyi klakson bukan hanya ‘representasi aspirasi’ mahasiswa, tetapi juga ‘resonansi aspirasi’ rakyat yang lebih luas, yang sering kali tidak memiliki ‘ruang formal’ untuk bersuara.

Masih menurut saya, kita bisa melihat klakson sebagai ‘instrumen politik jalanan’, sebuah ‘orkestra rakyat’ yang lahir dari keterbatasan namun justru menemukan kekuatannya dalam kesederhanaan.

Ia tidak membutuhkan panggung, tidak membutuhkan pengeras suara resmi, cukup dengan bunyi-bunyi berulang yang memecah udara kota. Dalam setiap bunyi itu, terkandung ‘harapan’, ‘kemarahan’, ‘solidaritas’, dan ‘desakan’.

Klakson menjadi bahasa yang ‘universal’, karena siapa pun yang mendengarnya akan tahu: ada sesuatu yang sedang diperjuangkan.

Dan dalam konteks demo mahasiswa 12 Juni, klakson adalah tanda bahwa ‘aspirasi’ rakyat masih hidup, masih berdenyut, dan masih mencari jalannya untuk didengar.

Bunyi klakson yang bersahutan dari para pengendara dalam aksi demonstrasi mahasiswa 12 Juni 2026 memang dapat dibaca sebagai simbol solidaritas publik yang melampaui sekadar kebisingan jalanan.

Ketika mahasiswa menyerukan “Klakson kalau capek bayar pajak mahal,” respons spontan dari pengendara – mulai dari sopir pribadi hingga ojek online – menjadi bentuk ‘partisipasi’ massa yang nyata.

Fenomena ‘klakson’ itu, pengamatan saya – mengubah jalanan menjadi ‘panggung politik’, di mana suara rakyat menemukan cara untuk ‘terdengar’ tanpa harus masuk ke ‘ruang formal’ kekuasaan. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

Next Post

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails
Next Post
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co