13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2025
in Ulas Film
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Ekspresi tegang Kim Do-gi dalam drama Taxi Driver (Season 2) | Foto: HanCinema

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya di Indonesia ada tokoh-tokoh seperti dalam serial Taxi Driver yang siap mengadili para penjahat yang tak tersentuh oleh hukum.” Duh, setelah membaca komentar itu, saya jadi ngeri membayangkannya. Ya, saya menonton drama itu dari seri 1 sampai 3, dan tema yang diambil mirip-mirip dengan film India kisaran tahun ‘70-an hingga pertengahan ‘90-an―yang dijejali dengan film bergenre  Angry Young Man.

Dari beberapa komentar serupa di media sosial mengenai drama ini, tampaknya ada satu kebohongan yang diam-diam disepakati penonton Taxi Driver sejak episode pertama bahwa keadilan bisa diselesaikan oleh orang yang tepat, dengan kekerasan yang terukur, dan niat yang bersih. Serial ini meminta kita memercayai itu—dan kita mengangguk, karena kita sudah sangat kelelahan. Lelah menunggu pengadilan. Lelah membaca berita korupsi yang tak pernah benar-benar tamat. Lelah melihat pelaku kejahatan struktural tersenyum di depan kamera, lalu pulang ke rumah mewahnya.

Maka muncullah sosok Kim Do-gi (diperankan Lee Je-hoon) dengan wajah dingin dan tubuh yang disiplin. Mantan pasukan khusus, korban sistem, dan kini algojo berlisensi moral versi drama Korea. Ia bukan pembunuh sembarangan. Ia “beretika”. Ia hanya memukul orang-orang jahat—orang-orang yang, kebetulan, juga tak tersentuh hukum. Di sinilah Taxi Driver mulai terasa bukan sebagai kritik, melainkan sebagai obat bius. Serial ini tidak bertanya apakah kekerasan itu sah atau dibenarkan. Ia langsung mengeksekusinya.

Secara produksi, semuanya rapi. Sutradara Park Joon-woo, Kang Bo-seung, dan timnya paham betul cara menjual kemarahan publik: potongan cepat, musik tegang, twist moral di akhir episode. Para aktor pendukung—Kim Eui-sung sebagai otak operasi, Pyo Ye-jin sebagai teknisi digital yang bisa membobol apa pun—hadir seperti kementerian bayangan. Rainbow Taxi, lembaga yang menangui mereka, bagaikan negara mini. Versi efisien dari negara yang di dunia nyata terlalu lamban, terlalu bertele-tele, terlalu penuh kompromi. Dan justru di situ letak masalahnya. Karena Taxi Driver tidak sedang menawarkan kritik terhadap sistem hukum. Ia sedang menawarkan pengganti.

Setiap kali jaksa gagal, Kim Do-gi berhasil. Setiap kali polisi ragu, Rainbow Taxi bergerak. Setiap kali hukum terlihat tumpul, kepalan tangan berbicara fasih. Ini bukan sekadar narasi hiburan; ini propaganda emosional yang berbahaya. Ia menanamkan gagasan sederhana: “hukum itu tidak penting, yang penting adalah hasil.” Dan hasil hanya bisa dicapai oleh mereka yang cukup marah, cukup kuat, dan cukup yakin bahwa mereka benar.

Sekarang, mari kita bawa fantasi ini ke Indonesia—tanpa filter, tanpa musik latar.

Bayangkan Kim Do-gi lahir di republik ini. Bukan di Seoul yang rapi dan penuh CCTV, tapi di negeri di mana kamera pengawas sering mati ketika kekuasaan lewat. Ia menyamar sebagai sopir taksi online, mungkin. Atau pengemudi travel antarkota. Ia menghukum pejabat yang menggerogoti dana bansos. Ia menyeret politisi yang menandatangani izin tambang ilegal. Ia mempermalukan mafia sawit yang membakar hutan dan menyebutnya “kesalahan teknis”.

Tentu saja penonton bakal bersorak. Kolom komentar akan penuh doa dan emoji api-api. Bakal banyak potongan adegan viral di TikTok dengan caption: “Kalau hukum tumpul, biar rakyat yang tajam.” Tetapi, lalu apa? Siapa yang menentukan siapa “orang jahat” dan “tidak jahat” di Indonesia?

Di drama, jawabannya mudah. Tapi di Indonesia, jawabannya selalu berlapis: partai, keluarga, investor, aparat, sponsor kampanye, relasi lama. Setiap kejahatan struktural punya puluhan pelindung. Setiap dosa besar punya arsip yang bisa ditukar. Dalam kondisi seperti itu, vigilante bukan pahlawan—ia hanya pion baru dalam permainan lama. Di sinilah Taxi Driver menutup mata dari satu hal penting bahwa kekuasaan tidak pernah kosong. Jika negara absen, yang masuk bukan lagi keadilan, tapi kekuatan lain—yang lebih jahat dari sesuatu yang paling jahat di dunia.

Serial ini terlalu percaya pada mitos individu suci. Kim Do-gi hampir tak pernah salah sasaran. Hampir tak pernah keliru membaca data. Hampir tak pernah menghukum orang yang ternyata tidak bersalah. Ini fantasi yang nyaman—seperti percaya bahwa algojo selalu lebih bermoral daripada hakim. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya. Semakin seseorang yakin bahwa ia “berpihak pada korban”, semakin mudah ia membenarkan kekejaman.

Di Indonesia, logika ini sudah sering dipraktikkan—tanpa kostum drama Korea. Kita punya sejarah panjang main hakim sendiri: orang dipukuli massa, dibakar hidup-hidup, diseret karena tuduhan yang belakangan keliru. Bedanya, Taxi Driver memberi itu pencahayaan sinematik dan musik yang bagus. Kekerasan jadi terlihat elegan. Dan di sinilah harusnya penonton tahu bahwa Taxi Driver bukan cermin penderitaan rakyat. Ia hanya hiburan bagi mereka yang sudah menyerah pada proses.

Serial ini laku bukan karena ia radikal dan heroik, tapi karena ia kompatibel dengan keputusasaan kelas menengah. Ia memungkinkan kita marah tanpa harus terlibat. Kita bisa mengutuk korupsi sambil rebahan. Kita bisa membenci mafia tambang tanpa harus membaca laporan lingkungan. Kita bisa merasa “berpihak” tanpa risiko.

Di Indonesia, tontonan semacam ini berbahaya justru karena ia terasa relevan. Kita hidup di negeri di mana koruptor sering mendapat remisi, sementara pencuri kecil dipenjara bertahun-tahun. Maka vigilante tampak menggoda. Tapi godaan itu adalah jalan pintas menuju otoritarianisme emosional. Karena setelah kita menerima bahwa hukum bisa dilewati demi “keadilan”, kita membuka pintu untuk pertanyaan yang lebih mengerikan: keadilan versi siapa? Sialnya, Taxi Driver tidak pernah menjawab itu. Ia terlalu sibuk memastikan penonton puas.

Musim demi musim, musuh Kim Do-gi makin besar, makin kaya, makin licik. Tapi solusi tetap sama: penyamaran, jebakan, pukulan. Tidak ada upaya membayangkan perubahan struktural. Tidak ada dunia setelah balas dendam. Tidak ada masyarakat yang benar-benar sembuh. Korban merasa lega, ya. Tapi sistem tetap utuh. Besok akan ada korban baru. Ini bukan kritik sosial. Ini siklus hiburan.

Jika Indonesia benar-benar memiliki Kim Do-gi, ia mungkin tidak akan bertahan lama. Bukan karena ia kalah berkelahi, tapi karena ia akan segera dipeluk, dipakai, lalu dibuang oleh kekuasaan yang lebih besar. Atau lebih buruk: ia dijadikan simbol. Maskot. Alat legitimasi. “Lihat,” kata penguasa, “rakyat sudah puas. Masalah selesai.” Padahal tidak ada yang selesai.

Taxi Driver menghibur kita dengan ide bahwa kekerasan bisa bersih. Tetapi, di Indonesia, kekerasan selalu kotor. Ia berbau kepentingan. Ia bercampur dengan uang, dendam pribadi, dan propaganda. Tidak ada Rainbow Taxi di sini. Yang ada adalah truk-truk tambang, mobil dinas, dan sirene yang hanya menyala untuk yang berkuasa.

Maka menonton Taxi Driver di negeri ini seharusnya tidak membuat kita bertepuk tangan, tapi justru gelisah. Karena jika kita benar-benar menginginkan tokoh seperti Kim Do-gi hadir di dunia nyata, itu berarti kita sudah terlalu lama putus asa pada hukum. Dan putus asa adalah bahan bakar paling murah bagi segala bentuk kekuasaan yang paling kejam.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: drama koreafilmIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi ‘Meprani’ di Desa Blahkiuh, Abiansemal: Membersihkan Diri, Membersihkan Jagat

Next Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails
Next Post
Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah 'Sukawati, Ya Seni' Dibicarakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co