24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2025
in Ulas Film
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Ekspresi tegang Kim Do-gi dalam drama Taxi Driver (Season 2) | Foto: HanCinema

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya di Indonesia ada tokoh-tokoh seperti dalam serial Taxi Driver yang siap mengadili para penjahat yang tak tersentuh oleh hukum.” Duh, setelah membaca komentar itu, saya jadi ngeri membayangkannya. Ya, saya menonton drama itu dari seri 1 sampai 3, dan tema yang diambil mirip-mirip dengan film India kisaran tahun ‘70-an hingga pertengahan ‘90-an―yang dijejali dengan film bergenre  Angry Young Man.

Dari beberapa komentar serupa di media sosial mengenai drama ini, tampaknya ada satu kebohongan yang diam-diam disepakati penonton Taxi Driver sejak episode pertama bahwa keadilan bisa diselesaikan oleh orang yang tepat, dengan kekerasan yang terukur, dan niat yang bersih. Serial ini meminta kita memercayai itu—dan kita mengangguk, karena kita sudah sangat kelelahan. Lelah menunggu pengadilan. Lelah membaca berita korupsi yang tak pernah benar-benar tamat. Lelah melihat pelaku kejahatan struktural tersenyum di depan kamera, lalu pulang ke rumah mewahnya.

Maka muncullah sosok Kim Do-gi (diperankan Lee Je-hoon) dengan wajah dingin dan tubuh yang disiplin. Mantan pasukan khusus, korban sistem, dan kini algojo berlisensi moral versi drama Korea. Ia bukan pembunuh sembarangan. Ia “beretika”. Ia hanya memukul orang-orang jahat—orang-orang yang, kebetulan, juga tak tersentuh hukum. Di sinilah Taxi Driver mulai terasa bukan sebagai kritik, melainkan sebagai obat bius. Serial ini tidak bertanya apakah kekerasan itu sah atau dibenarkan. Ia langsung mengeksekusinya.

Secara produksi, semuanya rapi. Sutradara Park Joon-woo, Kang Bo-seung, dan timnya paham betul cara menjual kemarahan publik: potongan cepat, musik tegang, twist moral di akhir episode. Para aktor pendukung—Kim Eui-sung sebagai otak operasi, Pyo Ye-jin sebagai teknisi digital yang bisa membobol apa pun—hadir seperti kementerian bayangan. Rainbow Taxi, lembaga yang menangui mereka, bagaikan negara mini. Versi efisien dari negara yang di dunia nyata terlalu lamban, terlalu bertele-tele, terlalu penuh kompromi. Dan justru di situ letak masalahnya. Karena Taxi Driver tidak sedang menawarkan kritik terhadap sistem hukum. Ia sedang menawarkan pengganti.

Setiap kali jaksa gagal, Kim Do-gi berhasil. Setiap kali polisi ragu, Rainbow Taxi bergerak. Setiap kali hukum terlihat tumpul, kepalan tangan berbicara fasih. Ini bukan sekadar narasi hiburan; ini propaganda emosional yang berbahaya. Ia menanamkan gagasan sederhana: “hukum itu tidak penting, yang penting adalah hasil.” Dan hasil hanya bisa dicapai oleh mereka yang cukup marah, cukup kuat, dan cukup yakin bahwa mereka benar.

Sekarang, mari kita bawa fantasi ini ke Indonesia—tanpa filter, tanpa musik latar.

Bayangkan Kim Do-gi lahir di republik ini. Bukan di Seoul yang rapi dan penuh CCTV, tapi di negeri di mana kamera pengawas sering mati ketika kekuasaan lewat. Ia menyamar sebagai sopir taksi online, mungkin. Atau pengemudi travel antarkota. Ia menghukum pejabat yang menggerogoti dana bansos. Ia menyeret politisi yang menandatangani izin tambang ilegal. Ia mempermalukan mafia sawit yang membakar hutan dan menyebutnya “kesalahan teknis”.

Tentu saja penonton bakal bersorak. Kolom komentar akan penuh doa dan emoji api-api. Bakal banyak potongan adegan viral di TikTok dengan caption: “Kalau hukum tumpul, biar rakyat yang tajam.” Tetapi, lalu apa? Siapa yang menentukan siapa “orang jahat” dan “tidak jahat” di Indonesia?

Di drama, jawabannya mudah. Tapi di Indonesia, jawabannya selalu berlapis: partai, keluarga, investor, aparat, sponsor kampanye, relasi lama. Setiap kejahatan struktural punya puluhan pelindung. Setiap dosa besar punya arsip yang bisa ditukar. Dalam kondisi seperti itu, vigilante bukan pahlawan—ia hanya pion baru dalam permainan lama. Di sinilah Taxi Driver menutup mata dari satu hal penting bahwa kekuasaan tidak pernah kosong. Jika negara absen, yang masuk bukan lagi keadilan, tapi kekuatan lain—yang lebih jahat dari sesuatu yang paling jahat di dunia.

Serial ini terlalu percaya pada mitos individu suci. Kim Do-gi hampir tak pernah salah sasaran. Hampir tak pernah keliru membaca data. Hampir tak pernah menghukum orang yang ternyata tidak bersalah. Ini fantasi yang nyaman—seperti percaya bahwa algojo selalu lebih bermoral daripada hakim. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya. Semakin seseorang yakin bahwa ia “berpihak pada korban”, semakin mudah ia membenarkan kekejaman.

Di Indonesia, logika ini sudah sering dipraktikkan—tanpa kostum drama Korea. Kita punya sejarah panjang main hakim sendiri: orang dipukuli massa, dibakar hidup-hidup, diseret karena tuduhan yang belakangan keliru. Bedanya, Taxi Driver memberi itu pencahayaan sinematik dan musik yang bagus. Kekerasan jadi terlihat elegan. Dan di sinilah harusnya penonton tahu bahwa Taxi Driver bukan cermin penderitaan rakyat. Ia hanya hiburan bagi mereka yang sudah menyerah pada proses.

Serial ini laku bukan karena ia radikal dan heroik, tapi karena ia kompatibel dengan keputusasaan kelas menengah. Ia memungkinkan kita marah tanpa harus terlibat. Kita bisa mengutuk korupsi sambil rebahan. Kita bisa membenci mafia tambang tanpa harus membaca laporan lingkungan. Kita bisa merasa “berpihak” tanpa risiko.

Di Indonesia, tontonan semacam ini berbahaya justru karena ia terasa relevan. Kita hidup di negeri di mana koruptor sering mendapat remisi, sementara pencuri kecil dipenjara bertahun-tahun. Maka vigilante tampak menggoda. Tapi godaan itu adalah jalan pintas menuju otoritarianisme emosional. Karena setelah kita menerima bahwa hukum bisa dilewati demi “keadilan”, kita membuka pintu untuk pertanyaan yang lebih mengerikan: keadilan versi siapa? Sialnya, Taxi Driver tidak pernah menjawab itu. Ia terlalu sibuk memastikan penonton puas.

Musim demi musim, musuh Kim Do-gi makin besar, makin kaya, makin licik. Tapi solusi tetap sama: penyamaran, jebakan, pukulan. Tidak ada upaya membayangkan perubahan struktural. Tidak ada dunia setelah balas dendam. Tidak ada masyarakat yang benar-benar sembuh. Korban merasa lega, ya. Tapi sistem tetap utuh. Besok akan ada korban baru. Ini bukan kritik sosial. Ini siklus hiburan.

Jika Indonesia benar-benar memiliki Kim Do-gi, ia mungkin tidak akan bertahan lama. Bukan karena ia kalah berkelahi, tapi karena ia akan segera dipeluk, dipakai, lalu dibuang oleh kekuasaan yang lebih besar. Atau lebih buruk: ia dijadikan simbol. Maskot. Alat legitimasi. “Lihat,” kata penguasa, “rakyat sudah puas. Masalah selesai.” Padahal tidak ada yang selesai.

Taxi Driver menghibur kita dengan ide bahwa kekerasan bisa bersih. Tetapi, di Indonesia, kekerasan selalu kotor. Ia berbau kepentingan. Ia bercampur dengan uang, dendam pribadi, dan propaganda. Tidak ada Rainbow Taxi di sini. Yang ada adalah truk-truk tambang, mobil dinas, dan sirene yang hanya menyala untuk yang berkuasa.

Maka menonton Taxi Driver di negeri ini seharusnya tidak membuat kita bertepuk tangan, tapi justru gelisah. Karena jika kita benar-benar menginginkan tokoh seperti Kim Do-gi hadir di dunia nyata, itu berarti kita sudah terlalu lama putus asa pada hukum. Dan putus asa adalah bahan bakar paling murah bagi segala bentuk kekuasaan yang paling kejam.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: drama koreafilmIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi ‘Meprani’ di Desa Blahkiuh, Abiansemal: Membersihkan Diri, Membersihkan Jagat

Next Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah 'Sukawati, Ya Seni' Dibicarakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co