2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Jaswanto by Jaswanto
December 18, 2025
in Ulas Film
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

Ekspresi tegang Kim Do-gi dalam drama Taxi Driver (Season 2) | Foto: HanCinema

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya di Indonesia ada tokoh-tokoh seperti dalam serial Taxi Driver yang siap mengadili para penjahat yang tak tersentuh oleh hukum.” Duh, setelah membaca komentar itu, saya jadi ngeri membayangkannya. Ya, saya menonton drama itu dari seri 1 sampai 3, dan tema yang diambil mirip-mirip dengan film India kisaran tahun ‘70-an hingga pertengahan ‘90-an―yang dijejali dengan film bergenre  Angry Young Man.

Dari beberapa komentar serupa di media sosial mengenai drama ini, tampaknya ada satu kebohongan yang diam-diam disepakati penonton Taxi Driver sejak episode pertama bahwa keadilan bisa diselesaikan oleh orang yang tepat, dengan kekerasan yang terukur, dan niat yang bersih. Serial ini meminta kita memercayai itu—dan kita mengangguk, karena kita sudah sangat kelelahan. Lelah menunggu pengadilan. Lelah membaca berita korupsi yang tak pernah benar-benar tamat. Lelah melihat pelaku kejahatan struktural tersenyum di depan kamera, lalu pulang ke rumah mewahnya.

Maka muncullah sosok Kim Do-gi (diperankan Lee Je-hoon) dengan wajah dingin dan tubuh yang disiplin. Mantan pasukan khusus, korban sistem, dan kini algojo berlisensi moral versi drama Korea. Ia bukan pembunuh sembarangan. Ia “beretika”. Ia hanya memukul orang-orang jahat—orang-orang yang, kebetulan, juga tak tersentuh hukum. Di sinilah Taxi Driver mulai terasa bukan sebagai kritik, melainkan sebagai obat bius. Serial ini tidak bertanya apakah kekerasan itu sah atau dibenarkan. Ia langsung mengeksekusinya.

Secara produksi, semuanya rapi. Sutradara Park Joon-woo, Kang Bo-seung, dan timnya paham betul cara menjual kemarahan publik: potongan cepat, musik tegang, twist moral di akhir episode. Para aktor pendukung—Kim Eui-sung sebagai otak operasi, Pyo Ye-jin sebagai teknisi digital yang bisa membobol apa pun—hadir seperti kementerian bayangan. Rainbow Taxi, lembaga yang menangui mereka, bagaikan negara mini. Versi efisien dari negara yang di dunia nyata terlalu lamban, terlalu bertele-tele, terlalu penuh kompromi. Dan justru di situ letak masalahnya. Karena Taxi Driver tidak sedang menawarkan kritik terhadap sistem hukum. Ia sedang menawarkan pengganti.

Setiap kali jaksa gagal, Kim Do-gi berhasil. Setiap kali polisi ragu, Rainbow Taxi bergerak. Setiap kali hukum terlihat tumpul, kepalan tangan berbicara fasih. Ini bukan sekadar narasi hiburan; ini propaganda emosional yang berbahaya. Ia menanamkan gagasan sederhana: “hukum itu tidak penting, yang penting adalah hasil.” Dan hasil hanya bisa dicapai oleh mereka yang cukup marah, cukup kuat, dan cukup yakin bahwa mereka benar.

Sekarang, mari kita bawa fantasi ini ke Indonesia—tanpa filter, tanpa musik latar.

Bayangkan Kim Do-gi lahir di republik ini. Bukan di Seoul yang rapi dan penuh CCTV, tapi di negeri di mana kamera pengawas sering mati ketika kekuasaan lewat. Ia menyamar sebagai sopir taksi online, mungkin. Atau pengemudi travel antarkota. Ia menghukum pejabat yang menggerogoti dana bansos. Ia menyeret politisi yang menandatangani izin tambang ilegal. Ia mempermalukan mafia sawit yang membakar hutan dan menyebutnya “kesalahan teknis”.

Tentu saja penonton bakal bersorak. Kolom komentar akan penuh doa dan emoji api-api. Bakal banyak potongan adegan viral di TikTok dengan caption: “Kalau hukum tumpul, biar rakyat yang tajam.” Tetapi, lalu apa? Siapa yang menentukan siapa “orang jahat” dan “tidak jahat” di Indonesia?

Di drama, jawabannya mudah. Tapi di Indonesia, jawabannya selalu berlapis: partai, keluarga, investor, aparat, sponsor kampanye, relasi lama. Setiap kejahatan struktural punya puluhan pelindung. Setiap dosa besar punya arsip yang bisa ditukar. Dalam kondisi seperti itu, vigilante bukan pahlawan—ia hanya pion baru dalam permainan lama. Di sinilah Taxi Driver menutup mata dari satu hal penting bahwa kekuasaan tidak pernah kosong. Jika negara absen, yang masuk bukan lagi keadilan, tapi kekuatan lain—yang lebih jahat dari sesuatu yang paling jahat di dunia.

Serial ini terlalu percaya pada mitos individu suci. Kim Do-gi hampir tak pernah salah sasaran. Hampir tak pernah keliru membaca data. Hampir tak pernah menghukum orang yang ternyata tidak bersalah. Ini fantasi yang nyaman—seperti percaya bahwa algojo selalu lebih bermoral daripada hakim. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya. Semakin seseorang yakin bahwa ia “berpihak pada korban”, semakin mudah ia membenarkan kekejaman.

Di Indonesia, logika ini sudah sering dipraktikkan—tanpa kostum drama Korea. Kita punya sejarah panjang main hakim sendiri: orang dipukuli massa, dibakar hidup-hidup, diseret karena tuduhan yang belakangan keliru. Bedanya, Taxi Driver memberi itu pencahayaan sinematik dan musik yang bagus. Kekerasan jadi terlihat elegan. Dan di sinilah harusnya penonton tahu bahwa Taxi Driver bukan cermin penderitaan rakyat. Ia hanya hiburan bagi mereka yang sudah menyerah pada proses.

Serial ini laku bukan karena ia radikal dan heroik, tapi karena ia kompatibel dengan keputusasaan kelas menengah. Ia memungkinkan kita marah tanpa harus terlibat. Kita bisa mengutuk korupsi sambil rebahan. Kita bisa membenci mafia tambang tanpa harus membaca laporan lingkungan. Kita bisa merasa “berpihak” tanpa risiko.

Di Indonesia, tontonan semacam ini berbahaya justru karena ia terasa relevan. Kita hidup di negeri di mana koruptor sering mendapat remisi, sementara pencuri kecil dipenjara bertahun-tahun. Maka vigilante tampak menggoda. Tapi godaan itu adalah jalan pintas menuju otoritarianisme emosional. Karena setelah kita menerima bahwa hukum bisa dilewati demi “keadilan”, kita membuka pintu untuk pertanyaan yang lebih mengerikan: keadilan versi siapa? Sialnya, Taxi Driver tidak pernah menjawab itu. Ia terlalu sibuk memastikan penonton puas.

Musim demi musim, musuh Kim Do-gi makin besar, makin kaya, makin licik. Tapi solusi tetap sama: penyamaran, jebakan, pukulan. Tidak ada upaya membayangkan perubahan struktural. Tidak ada dunia setelah balas dendam. Tidak ada masyarakat yang benar-benar sembuh. Korban merasa lega, ya. Tapi sistem tetap utuh. Besok akan ada korban baru. Ini bukan kritik sosial. Ini siklus hiburan.

Jika Indonesia benar-benar memiliki Kim Do-gi, ia mungkin tidak akan bertahan lama. Bukan karena ia kalah berkelahi, tapi karena ia akan segera dipeluk, dipakai, lalu dibuang oleh kekuasaan yang lebih besar. Atau lebih buruk: ia dijadikan simbol. Maskot. Alat legitimasi. “Lihat,” kata penguasa, “rakyat sudah puas. Masalah selesai.” Padahal tidak ada yang selesai.

Taxi Driver menghibur kita dengan ide bahwa kekerasan bisa bersih. Tetapi, di Indonesia, kekerasan selalu kotor. Ia berbau kepentingan. Ia bercampur dengan uang, dendam pribadi, dan propaganda. Tidak ada Rainbow Taxi di sini. Yang ada adalah truk-truk tambang, mobil dinas, dan sirene yang hanya menyala untuk yang berkuasa.

Maka menonton Taxi Driver di negeri ini seharusnya tidak membuat kita bertepuk tangan, tapi justru gelisah. Karena jika kita benar-benar menginginkan tokoh seperti Kim Do-gi hadir di dunia nyata, itu berarti kita sudah terlalu lama putus asa pada hukum. Dan putus asa adalah bahan bakar paling murah bagi segala bentuk kekuasaan yang paling kejam.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: drama koreafilmIndonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi ‘Meprani’ di Desa Blahkiuh, Abiansemal: Membersihkan Diri, Membersihkan Jagat

Next Post

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails
Next Post
Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah ‘Sukawati, Ya Seni’ Dibicarakan

Dari Ruang Perpustakaan, Kumpulan Berita Kisah 'Sukawati, Ya Seni' Dibicarakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co