4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah

Chusmeru by Chusmeru
May 8, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

BUKAN rahasia lagi, setiap kota yang memiliki perguruan tinggi akan muncul fenomena “ayam kampus”. Mereka adalah oknum mahasiswi yang menjalani profesi ganda, sebagai mahasiswa dan pekerja seks komersial (PSK). Meski sulit untuk diungkap, namun fenomena ayam kampus selalu menjadi perbincangan di berbagai kalangan.

Banyak alasan mengapa mahasiswi menjadi ayam kampus. Mereka biasanya beralasan keterbatasan ekonomi untuk biaya kuliah. Namun tidak sedikit pula yang menjadi ayam kampus karena sekadar memenuhi gaya hidup. Secara ekonomi tidak kekurangan, baik untuk makan maupun biaya kuliah. Akan tetapi mereka perlu tambahan uang untuk bergaya hidup mewah.

Ayam kampus adalah oknum mahasiswi yang tentu saja memiliki paras cantik, berusia muda, dan yang penting memiliki KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). Karenanya, mereka tidak peduli kuliah di mana dan mengambil fakultas maupun program studi apa. Bagi mereka yang penting memiliki KTM dan masih bisa disebut mahasiswa; tak peduli kampus negeri atau swasta.

Berbeda dengan PSK konvensional, ayam kampus tidak mangkal di satu lokalisasi atau tempat tertentu. Ayam kampus akan stay di rumah kontrakan, tempat kost, maupun di hotel. Itu semua karena mereka ingin lebih aman dan sangat menjaga privasi. Lebih aman, karena ayam kampus nyaris tak tersentuh oleh Satpol PP. Sementara PSK konvensional sangat tergantung pada mucikari dan sangat rentan terjaring razia.

Proses penawaran dan transaksinya pun berbeda dengan PSK konvesional. Ayam kampus menjajakan dirinya secara online melalui aplikasi pertemanan atau kencan. Melaui proses chatting, mereka akan menawarkan diri dengan nama samaran, tetapi memajang foto asli mereka full body. Sedangkan proses pembayaran jasa seks mereka ada yang harus dibayar cash di kamar, ada pula yang meminta ditransfer.

Seperti Rini Duhita atau yang biasa dipanggil Rindu sebagaimana nama akun di aplikasi kencan miliknya. Menginjak satu tahun Rindu menjadi ayam kampus. Usianya baru 20 tahun. Tinggi badan 160 cm dan berat badan 55 kg. Itu sebagian informasi yang diposting di profil akun aplikasinya. Untuk lebih menarik, Rindu menambahkan informasinya sebagai ayam kampus, sosok yang ramah, santai, dan melayani layaknya pacar.

Rindu memang mahasiswi yang ramah. Ia banyak memiliki teman di kampusnya. Selain ramah, daya tarik Rindu adalah parasnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Tak seorang pun teman Rindu di kampus yang tahu kalau ia adalah ayam kampus. Banyak yang menduga Rindu adalah mahasiswi dari keluarga yang berada, terlihat dari penampilannya yang selalu keren dan memakai asesoris yang bermerek.

                                         ***

Sampai saat ini Rindu belum memiliki kekasih yang serius. Kalau pun ada beberapa lelaki yang kadang menemaninya makan malam atau belanja kebutuhan di mall, mereka bukan kekasih. Para lelaki itu hanya teman saja. Rindu memang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan siapa pun. Ia masih ingin bebas. Apalagi profesinya sebagai ayam kampus.

Sandi Barata adalah salah satu teman dekat Rindu. Sandi berbeda fakultas dengan Rindu. Namun Rindu berteman cukup dekat. Sandi Barata seorang mahasiswa yang merangkap fotografer profesional. Rindu sering meminta bantuan Sandi  mengambil fotonya untuk dipasang di album aplikasi kencan. Hasil foto Sandi sangat baik, terbukti banyak pelanggan Rindu yang terpikat oleh foto-foto seksinya di aplikasi.

Selain itu Sandi Barata juga sedang menyusun skripsi. Kebetulan judul skripsinya berkaitan dengan dramaturgi ayam kampus dalam pendekatan fenomenologi. Oleh karena itu Sandi seringkali mengamati kehidupan Rindu dari dekat, baik di tempat kost, di kampus; bahkan kadang Sandi juga mengantar Rindu untuk reservasi hotel tempat ia stay dan melayani pelanggannya.

Hari belum begitu malam ketika muncul chat di aplikasi kencan miliknya. Seorang lelaki dengan nama akun Ferdy menyapanya: “Hai”. Rindu tidak segera membalasnya. Ia mencoba mengamati foto profil Ferdy. Bukan foto asli, pikirnya. Tetapi bukan masalah, banyak lelaki yang malu menampilkan foto aslinya di aplikasi kencan.

“Hai.. lagi ngapain?” Ferdy kembali menyapa Rindu.

“Santai, Kakak.. sini, aku BO malam ini, “ balas Rindu.

Dalam aplikasi kencan istilah BO atau booking out digunakan oleh PSK untuk menawarkan diri. Artinya dia adalah perempuan yang memang menjajakan diri buat lelaki. Tak lupa Rindu menawarkan jasa layanan, tarif kencan, dan hotel tempatnya menginap.  

“Okey!” Tanpa basa-basi Ferdy menyanggupi tawaran Rindu. Ia berjanji untuk segera meluncur ke kamar hotel yang disampaikan Rindu.

Tepat pukul 21.00 terdengar suara ketukan di pintu kamar hotel. Rindu segera bergegas membukanya. Seorang lelaki tampan menyapanya. Rindu mencoba menerka usia lelaki yang mengaku bernama Ferdy itu. Perkiraannya pada kisaran usia 60 tahun. Namun wajahnya belum tampak tua. Genggaman tangannya saat bersalaman juga masih kuat.

“Saya buatkan teh manis ya, Mas,” kata Rindu menawarkan minuman buat Ferdy.

“Boleh,” jawab Ferdy sambil duduk di kursi sudut hotel. Kemudian ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Kebetulan Rindu memang memesan kamar yang smoking, sehingga para tamunya dapat merokok di kamar hotel.

Sebatang rokok telah dihabiskan Ferdy. Ia memandangi Rindu sejak tadi. Bukan pandangan nafsu birahi layaknya laki-laki pelanggan Rindu. Pandangan Ferdy seolah menyimpan sesuatu. Rindu menjadi salah tingkah.

“Kok memandangi saya terus, Mas?” kata Rindu malu-malu.

“Kamu cantik, sayang saya sudah tua,” jawab Ferdy sambil sedikit tertawa.

“Emang kalau masih muda kenapa?” pancing Rindu.

“Pasti kamu aku jadikan istri,” kata Ferdy diiringi senyum dan tawa kecil.

“Ahh, Mas bisa aja,” ujar Rindu sambil mendekat dan mencubit perut Ferdy.

Cubitan Rindu pada Ferdy membangkitkan gairah yang terpendam sedari tadi. Ia dekap erat Rindu dan membopongnya ke ranjang. Mereka segera berpacu birahi yang tak lagi terkendali. Rentang usia antara Rindu dan Ferdy tak menghalangi mereka mengarungi gelora hasrat membara. Ferdy begitu perkasa, seolah masih belia.

Saat mereka mencapai puncak kenikmatan, tiba-tiba napas Ferdy tersengal-sengal. Kaki dan tangannya kaku. Menggelinjang. Matanya melotot. Rindu terkejut bukan kepalang. Ferdy semakin menggelinjang. Dari mulutnya keluar darah segar. Rindu memangku tubuh Ferdy di atas ranjang. Ferdy seperti berhenti bernapas. Hidung dan telinganya juga mengeluarkan darah.

Rindu menjerit histeris. Tubuhnya berlumuran darah yang mengucur dari mulut, hidung, dan telinga Ferdy. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ferdy terbujur kaku dalam pangkuannya. Rindu menangis keras. Bingung, takut, sedih, dan berbagai perasaan berkecamuk. Ia segera memencet nomor telepon kamar hotel untuk memberitahu resepsionis. Ia juga menelepon sahabatnya, Sandi Barata.

Ruangan kamar hotel berantakan. Sprei ranjang kamar yang sempat menjadi arena pacu birahi kini memerah oleh darah Ferdy. Rindu sama sekali tak menduga. Lelaki tua tampan yang sopan itu meninggal dalam pangkuannya. Tubuh Rindu bersimbah darah. Ia seperti mendapat pukulan berat. Tubuhnya lemas dan nyaris pingsan. Untung saja Sandi Barata segera datang dan menenangkannya.

                                         ***

Sudah satu minggu tragedi kematian Ferdy di kamar hotel bersama Rindu berlalu. Banyak hal yang harus dilalui Rindu setelah kejadian itu. Ia harus berurusan dengan polisi untuk diinterogasi. Beruntung Rindu tidak diproses hukum, karena Ferdy meninggal karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

Namun terbebasnya Rindu dari proses hukum bukan lantas membuatnya tenang. Ia masih merasakan kengerian di kamar hotel ketika tubuhnya bersimbah darah. Rindu sama sekali tak menyangka jika Ferdy harus meninggal di atas ranjang bersamanya.

Satu minggu Rindu dibayangi ketakutan. Saat berbaring di kamar kostnya, muncul sosok Ferdy di dekat meja riasnya. Wajah Ferdy yang pucat menatap Rindu. Tampak bercak-bercak darah di mulut, hidung dan telinga Ferdy. Tentu saja Rindu terkejut dan menjerit panik. Bukankah Ferdy sudah dimakamkan seminggu yang lalu? Mengapa arwahnya mendatangi Rindu?

Arwah Ferdy bukan hanya sekali datang ke kamar Rindu. Ketika Rindu sedang memasak mi instan di dapur, tiba-tiba Ferdy muncul di sampingnya. Nyaris saja panci tempat memasak mi yang berisi air panas tumpah lantaran kaget. Begitu pun saat selesai mandi, wajah Ferdy juga muncul di kaca cermin kamar mandi.

Bukan hanya di tempat kost. Saat kuliah Pak Rahmat Hermanto, arwah Ferdy juga muncul di belakang dosen itu. Ferdy berdiri dengan pakaian yang persis sama ketika bersama Rindu di kamar hotel. Arwah Ferdy memandangi Rindu dengan tatapan memilukan. Rindu nyaris berteriak, membuat Pak Rahmat Hermanto dan teman-teman Rindu terkejut. Tidak satu pun yang melihat arwah Ferdy di kelas. Hanya Rindu yang menyaksikan lelaki yang membuatnya bersimbah darah di kamar hotel.

Kehadiran arwah Ferdy terus berulang. Hal ini membuat Rindu seolah diteror lelaki yang pernah mengencaninya. Rindu merasa tercekam, bingung, dan selalu ketakutan bila berada di tempat kost atau di kampus sendirian.

Rindu segera menghubungi Sandi Barata. Mereka bertemu di sebuah kafe. Rindu menceritakan apa yang ia alami, didatangi arwah Ferdy setiap hari. Sandi Barata berempati. Ia ikut prihatin apa yang dialami Rindu.

“Mungkin Pak Ferdy benar-benar sayang sama kamu…,” kata Sandi.

“Ah, semua tamu lelaki yang kencan denganku selalu bilang sayang,” sanggah Rindu. Ia berharap Sandi memberinya jalan keluar agar ia tidak terus didatangi arwah Ferdy.

“Mengapa arwah Ferdy selalu membuntutiku? Bukankah dia meninggal karena memang menderita komplikasi penyakit? Bukan karena ulahku,” kata Rindu.

“Sepertinya kamu harus nyekar Pak Ferdy,” usul Sandi.

“Nyekar?” tanya Rindu.

“Iya, ziarah ke makam Pak Ferdy. Kamu doakan agar arwahnya tenang, damai, diampuni segala dosanya, dan diterima di sisi Tuhan,” jawab Sandi menjelaskan. Rindu merenung. Sejurus ia menghela napas, seolah mengerti apa yang diusulkan Sandi.

Esoknya Rindu dan Sandi Barata ziarah ke makam Ferdy. Mereka menabur bunga dan menyiram air putih di tanah pusara Ferdy. Mereka berdua mendoakan agar almarhum Ferdy tenang dan damai di alam baka. Dan tentu saja Rindu berharap arwah Ferdy tak lagi mendatanginya.

Sejak nyekar, arwah Ferdy memang tidak lagi menampakkan diri.  Rindu merasa lega. Ia tak tahu apakah masih akan melanjutkan profesinya sebagai ayam kampus atau berhenti sejenak. Trauma bersimbah darah di kamar hotel membuatnya kehilangan semangat ketika harus berada dalam pelukan lelaki.

Rini Duhita memang tidak diproses hukum, karena Ferdy meninggal lantaran penyakit yang dideritanya. Tetapi ia terlanjur menanggung malu. Namanya masuk dalam pemberitaan berbagai media sebagai ayam kampus yang bersimbah darah. Meski dalam berita yang disebut adalah Rindu, nama samarannya; dan fotonya dibuat tidak jelas. Beruntung, nama kampus tempat ia kuliah tidak disebutkan.

Sedangkan Sandi Barata, ia mendapatkan pengalaman fenomenologis yang luar biasa. Pertemanan dengan Rindu dan tugas skripsi mengantarkannya pada peristiwa tragis yang tak terlupakan sepanjang hidupnya. Lebih luar biasa, ketika ujian pendadaran semua dosen pembimbing dan penguji memberi nilai A untuk skripsinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Next Post

ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co