14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah

Chusmeru by Chusmeru
May 8, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

BUKAN rahasia lagi, setiap kota yang memiliki perguruan tinggi akan muncul fenomena “ayam kampus”. Mereka adalah oknum mahasiswi yang menjalani profesi ganda, sebagai mahasiswa dan pekerja seks komersial (PSK). Meski sulit untuk diungkap, namun fenomena ayam kampus selalu menjadi perbincangan di berbagai kalangan.

Banyak alasan mengapa mahasiswi menjadi ayam kampus. Mereka biasanya beralasan keterbatasan ekonomi untuk biaya kuliah. Namun tidak sedikit pula yang menjadi ayam kampus karena sekadar memenuhi gaya hidup. Secara ekonomi tidak kekurangan, baik untuk makan maupun biaya kuliah. Akan tetapi mereka perlu tambahan uang untuk bergaya hidup mewah.

Ayam kampus adalah oknum mahasiswi yang tentu saja memiliki paras cantik, berusia muda, dan yang penting memiliki KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). Karenanya, mereka tidak peduli kuliah di mana dan mengambil fakultas maupun program studi apa. Bagi mereka yang penting memiliki KTM dan masih bisa disebut mahasiswa; tak peduli kampus negeri atau swasta.

Berbeda dengan PSK konvensional, ayam kampus tidak mangkal di satu lokalisasi atau tempat tertentu. Ayam kampus akan stay di rumah kontrakan, tempat kost, maupun di hotel. Itu semua karena mereka ingin lebih aman dan sangat menjaga privasi. Lebih aman, karena ayam kampus nyaris tak tersentuh oleh Satpol PP. Sementara PSK konvensional sangat tergantung pada mucikari dan sangat rentan terjaring razia.

Proses penawaran dan transaksinya pun berbeda dengan PSK konvesional. Ayam kampus menjajakan dirinya secara online melalui aplikasi pertemanan atau kencan. Melaui proses chatting, mereka akan menawarkan diri dengan nama samaran, tetapi memajang foto asli mereka full body. Sedangkan proses pembayaran jasa seks mereka ada yang harus dibayar cash di kamar, ada pula yang meminta ditransfer.

Seperti Rini Duhita atau yang biasa dipanggil Rindu sebagaimana nama akun di aplikasi kencan miliknya. Menginjak satu tahun Rindu menjadi ayam kampus. Usianya baru 20 tahun. Tinggi badan 160 cm dan berat badan 55 kg. Itu sebagian informasi yang diposting di profil akun aplikasinya. Untuk lebih menarik, Rindu menambahkan informasinya sebagai ayam kampus, sosok yang ramah, santai, dan melayani layaknya pacar.

Rindu memang mahasiswi yang ramah. Ia banyak memiliki teman di kampusnya. Selain ramah, daya tarik Rindu adalah parasnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Tak seorang pun teman Rindu di kampus yang tahu kalau ia adalah ayam kampus. Banyak yang menduga Rindu adalah mahasiswi dari keluarga yang berada, terlihat dari penampilannya yang selalu keren dan memakai asesoris yang bermerek.

                                         ***

Sampai saat ini Rindu belum memiliki kekasih yang serius. Kalau pun ada beberapa lelaki yang kadang menemaninya makan malam atau belanja kebutuhan di mall, mereka bukan kekasih. Para lelaki itu hanya teman saja. Rindu memang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan siapa pun. Ia masih ingin bebas. Apalagi profesinya sebagai ayam kampus.

Sandi Barata adalah salah satu teman dekat Rindu. Sandi berbeda fakultas dengan Rindu. Namun Rindu berteman cukup dekat. Sandi Barata seorang mahasiswa yang merangkap fotografer profesional. Rindu sering meminta bantuan Sandi  mengambil fotonya untuk dipasang di album aplikasi kencan. Hasil foto Sandi sangat baik, terbukti banyak pelanggan Rindu yang terpikat oleh foto-foto seksinya di aplikasi.

Selain itu Sandi Barata juga sedang menyusun skripsi. Kebetulan judul skripsinya berkaitan dengan dramaturgi ayam kampus dalam pendekatan fenomenologi. Oleh karena itu Sandi seringkali mengamati kehidupan Rindu dari dekat, baik di tempat kost, di kampus; bahkan kadang Sandi juga mengantar Rindu untuk reservasi hotel tempat ia stay dan melayani pelanggannya.

Hari belum begitu malam ketika muncul chat di aplikasi kencan miliknya. Seorang lelaki dengan nama akun Ferdy menyapanya: “Hai”. Rindu tidak segera membalasnya. Ia mencoba mengamati foto profil Ferdy. Bukan foto asli, pikirnya. Tetapi bukan masalah, banyak lelaki yang malu menampilkan foto aslinya di aplikasi kencan.

“Hai.. lagi ngapain?” Ferdy kembali menyapa Rindu.

“Santai, Kakak.. sini, aku BO malam ini, “ balas Rindu.

Dalam aplikasi kencan istilah BO atau booking out digunakan oleh PSK untuk menawarkan diri. Artinya dia adalah perempuan yang memang menjajakan diri buat lelaki. Tak lupa Rindu menawarkan jasa layanan, tarif kencan, dan hotel tempatnya menginap.  

“Okey!” Tanpa basa-basi Ferdy menyanggupi tawaran Rindu. Ia berjanji untuk segera meluncur ke kamar hotel yang disampaikan Rindu.

Tepat pukul 21.00 terdengar suara ketukan di pintu kamar hotel. Rindu segera bergegas membukanya. Seorang lelaki tampan menyapanya. Rindu mencoba menerka usia lelaki yang mengaku bernama Ferdy itu. Perkiraannya pada kisaran usia 60 tahun. Namun wajahnya belum tampak tua. Genggaman tangannya saat bersalaman juga masih kuat.

“Saya buatkan teh manis ya, Mas,” kata Rindu menawarkan minuman buat Ferdy.

“Boleh,” jawab Ferdy sambil duduk di kursi sudut hotel. Kemudian ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Kebetulan Rindu memang memesan kamar yang smoking, sehingga para tamunya dapat merokok di kamar hotel.

Sebatang rokok telah dihabiskan Ferdy. Ia memandangi Rindu sejak tadi. Bukan pandangan nafsu birahi layaknya laki-laki pelanggan Rindu. Pandangan Ferdy seolah menyimpan sesuatu. Rindu menjadi salah tingkah.

“Kok memandangi saya terus, Mas?” kata Rindu malu-malu.

“Kamu cantik, sayang saya sudah tua,” jawab Ferdy sambil sedikit tertawa.

“Emang kalau masih muda kenapa?” pancing Rindu.

“Pasti kamu aku jadikan istri,” kata Ferdy diiringi senyum dan tawa kecil.

“Ahh, Mas bisa aja,” ujar Rindu sambil mendekat dan mencubit perut Ferdy.

Cubitan Rindu pada Ferdy membangkitkan gairah yang terpendam sedari tadi. Ia dekap erat Rindu dan membopongnya ke ranjang. Mereka segera berpacu birahi yang tak lagi terkendali. Rentang usia antara Rindu dan Ferdy tak menghalangi mereka mengarungi gelora hasrat membara. Ferdy begitu perkasa, seolah masih belia.

Saat mereka mencapai puncak kenikmatan, tiba-tiba napas Ferdy tersengal-sengal. Kaki dan tangannya kaku. Menggelinjang. Matanya melotot. Rindu terkejut bukan kepalang. Ferdy semakin menggelinjang. Dari mulutnya keluar darah segar. Rindu memangku tubuh Ferdy di atas ranjang. Ferdy seperti berhenti bernapas. Hidung dan telinganya juga mengeluarkan darah.

Rindu menjerit histeris. Tubuhnya berlumuran darah yang mengucur dari mulut, hidung, dan telinga Ferdy. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ferdy terbujur kaku dalam pangkuannya. Rindu menangis keras. Bingung, takut, sedih, dan berbagai perasaan berkecamuk. Ia segera memencet nomor telepon kamar hotel untuk memberitahu resepsionis. Ia juga menelepon sahabatnya, Sandi Barata.

Ruangan kamar hotel berantakan. Sprei ranjang kamar yang sempat menjadi arena pacu birahi kini memerah oleh darah Ferdy. Rindu sama sekali tak menduga. Lelaki tua tampan yang sopan itu meninggal dalam pangkuannya. Tubuh Rindu bersimbah darah. Ia seperti mendapat pukulan berat. Tubuhnya lemas dan nyaris pingsan. Untung saja Sandi Barata segera datang dan menenangkannya.

                                         ***

Sudah satu minggu tragedi kematian Ferdy di kamar hotel bersama Rindu berlalu. Banyak hal yang harus dilalui Rindu setelah kejadian itu. Ia harus berurusan dengan polisi untuk diinterogasi. Beruntung Rindu tidak diproses hukum, karena Ferdy meninggal karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

Namun terbebasnya Rindu dari proses hukum bukan lantas membuatnya tenang. Ia masih merasakan kengerian di kamar hotel ketika tubuhnya bersimbah darah. Rindu sama sekali tak menyangka jika Ferdy harus meninggal di atas ranjang bersamanya.

Satu minggu Rindu dibayangi ketakutan. Saat berbaring di kamar kostnya, muncul sosok Ferdy di dekat meja riasnya. Wajah Ferdy yang pucat menatap Rindu. Tampak bercak-bercak darah di mulut, hidung dan telinga Ferdy. Tentu saja Rindu terkejut dan menjerit panik. Bukankah Ferdy sudah dimakamkan seminggu yang lalu? Mengapa arwahnya mendatangi Rindu?

Arwah Ferdy bukan hanya sekali datang ke kamar Rindu. Ketika Rindu sedang memasak mi instan di dapur, tiba-tiba Ferdy muncul di sampingnya. Nyaris saja panci tempat memasak mi yang berisi air panas tumpah lantaran kaget. Begitu pun saat selesai mandi, wajah Ferdy juga muncul di kaca cermin kamar mandi.

Bukan hanya di tempat kost. Saat kuliah Pak Rahmat Hermanto, arwah Ferdy juga muncul di belakang dosen itu. Ferdy berdiri dengan pakaian yang persis sama ketika bersama Rindu di kamar hotel. Arwah Ferdy memandangi Rindu dengan tatapan memilukan. Rindu nyaris berteriak, membuat Pak Rahmat Hermanto dan teman-teman Rindu terkejut. Tidak satu pun yang melihat arwah Ferdy di kelas. Hanya Rindu yang menyaksikan lelaki yang membuatnya bersimbah darah di kamar hotel.

Kehadiran arwah Ferdy terus berulang. Hal ini membuat Rindu seolah diteror lelaki yang pernah mengencaninya. Rindu merasa tercekam, bingung, dan selalu ketakutan bila berada di tempat kost atau di kampus sendirian.

Rindu segera menghubungi Sandi Barata. Mereka bertemu di sebuah kafe. Rindu menceritakan apa yang ia alami, didatangi arwah Ferdy setiap hari. Sandi Barata berempati. Ia ikut prihatin apa yang dialami Rindu.

“Mungkin Pak Ferdy benar-benar sayang sama kamu…,” kata Sandi.

“Ah, semua tamu lelaki yang kencan denganku selalu bilang sayang,” sanggah Rindu. Ia berharap Sandi memberinya jalan keluar agar ia tidak terus didatangi arwah Ferdy.

“Mengapa arwah Ferdy selalu membuntutiku? Bukankah dia meninggal karena memang menderita komplikasi penyakit? Bukan karena ulahku,” kata Rindu.

“Sepertinya kamu harus nyekar Pak Ferdy,” usul Sandi.

“Nyekar?” tanya Rindu.

“Iya, ziarah ke makam Pak Ferdy. Kamu doakan agar arwahnya tenang, damai, diampuni segala dosanya, dan diterima di sisi Tuhan,” jawab Sandi menjelaskan. Rindu merenung. Sejurus ia menghela napas, seolah mengerti apa yang diusulkan Sandi.

Esoknya Rindu dan Sandi Barata ziarah ke makam Ferdy. Mereka menabur bunga dan menyiram air putih di tanah pusara Ferdy. Mereka berdua mendoakan agar almarhum Ferdy tenang dan damai di alam baka. Dan tentu saja Rindu berharap arwah Ferdy tak lagi mendatanginya.

Sejak nyekar, arwah Ferdy memang tidak lagi menampakkan diri.  Rindu merasa lega. Ia tak tahu apakah masih akan melanjutkan profesinya sebagai ayam kampus atau berhenti sejenak. Trauma bersimbah darah di kamar hotel membuatnya kehilangan semangat ketika harus berada dalam pelukan lelaki.

Rini Duhita memang tidak diproses hukum, karena Ferdy meninggal lantaran penyakit yang dideritanya. Tetapi ia terlanjur menanggung malu. Namanya masuk dalam pemberitaan berbagai media sebagai ayam kampus yang bersimbah darah. Meski dalam berita yang disebut adalah Rindu, nama samarannya; dan fotonya dibuat tidak jelas. Beruntung, nama kampus tempat ia kuliah tidak disebutkan.

Sedangkan Sandi Barata, ia mendapatkan pengalaman fenomenologis yang luar biasa. Pertemanan dengan Rindu dan tugas skripsi mengantarkannya pada peristiwa tragis yang tak terlupakan sepanjang hidupnya. Lebih luar biasa, ketika ujian pendadaran semua dosen pembimbing dan penguji memberi nilai A untuk skripsinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Next Post

ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Bermain dengan Jin Tengah Malam

by Chusmeru
May 7, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co