4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah

Chusmeru by Chusmeru
May 8, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

BUKAN rahasia lagi, setiap kota yang memiliki perguruan tinggi akan muncul fenomena “ayam kampus”. Mereka adalah oknum mahasiswi yang menjalani profesi ganda, sebagai mahasiswa dan pekerja seks komersial (PSK). Meski sulit untuk diungkap, namun fenomena ayam kampus selalu menjadi perbincangan di berbagai kalangan.

Banyak alasan mengapa mahasiswi menjadi ayam kampus. Mereka biasanya beralasan keterbatasan ekonomi untuk biaya kuliah. Namun tidak sedikit pula yang menjadi ayam kampus karena sekadar memenuhi gaya hidup. Secara ekonomi tidak kekurangan, baik untuk makan maupun biaya kuliah. Akan tetapi mereka perlu tambahan uang untuk bergaya hidup mewah.

Ayam kampus adalah oknum mahasiswi yang tentu saja memiliki paras cantik, berusia muda, dan yang penting memiliki KTM (Kartu Tanda Mahasiswa). Karenanya, mereka tidak peduli kuliah di mana dan mengambil fakultas maupun program studi apa. Bagi mereka yang penting memiliki KTM dan masih bisa disebut mahasiswa; tak peduli kampus negeri atau swasta.

Berbeda dengan PSK konvensional, ayam kampus tidak mangkal di satu lokalisasi atau tempat tertentu. Ayam kampus akan stay di rumah kontrakan, tempat kost, maupun di hotel. Itu semua karena mereka ingin lebih aman dan sangat menjaga privasi. Lebih aman, karena ayam kampus nyaris tak tersentuh oleh Satpol PP. Sementara PSK konvensional sangat tergantung pada mucikari dan sangat rentan terjaring razia.

Proses penawaran dan transaksinya pun berbeda dengan PSK konvesional. Ayam kampus menjajakan dirinya secara online melalui aplikasi pertemanan atau kencan. Melaui proses chatting, mereka akan menawarkan diri dengan nama samaran, tetapi memajang foto asli mereka full body. Sedangkan proses pembayaran jasa seks mereka ada yang harus dibayar cash di kamar, ada pula yang meminta ditransfer.

Seperti Rini Duhita atau yang biasa dipanggil Rindu sebagaimana nama akun di aplikasi kencan miliknya. Menginjak satu tahun Rindu menjadi ayam kampus. Usianya baru 20 tahun. Tinggi badan 160 cm dan berat badan 55 kg. Itu sebagian informasi yang diposting di profil akun aplikasinya. Untuk lebih menarik, Rindu menambahkan informasinya sebagai ayam kampus, sosok yang ramah, santai, dan melayani layaknya pacar.

Rindu memang mahasiswi yang ramah. Ia banyak memiliki teman di kampusnya. Selain ramah, daya tarik Rindu adalah parasnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Tak seorang pun teman Rindu di kampus yang tahu kalau ia adalah ayam kampus. Banyak yang menduga Rindu adalah mahasiswi dari keluarga yang berada, terlihat dari penampilannya yang selalu keren dan memakai asesoris yang bermerek.

                                         ***

Sampai saat ini Rindu belum memiliki kekasih yang serius. Kalau pun ada beberapa lelaki yang kadang menemaninya makan malam atau belanja kebutuhan di mall, mereka bukan kekasih. Para lelaki itu hanya teman saja. Rindu memang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan siapa pun. Ia masih ingin bebas. Apalagi profesinya sebagai ayam kampus.

Sandi Barata adalah salah satu teman dekat Rindu. Sandi berbeda fakultas dengan Rindu. Namun Rindu berteman cukup dekat. Sandi Barata seorang mahasiswa yang merangkap fotografer profesional. Rindu sering meminta bantuan Sandi  mengambil fotonya untuk dipasang di album aplikasi kencan. Hasil foto Sandi sangat baik, terbukti banyak pelanggan Rindu yang terpikat oleh foto-foto seksinya di aplikasi.

Selain itu Sandi Barata juga sedang menyusun skripsi. Kebetulan judul skripsinya berkaitan dengan dramaturgi ayam kampus dalam pendekatan fenomenologi. Oleh karena itu Sandi seringkali mengamati kehidupan Rindu dari dekat, baik di tempat kost, di kampus; bahkan kadang Sandi juga mengantar Rindu untuk reservasi hotel tempat ia stay dan melayani pelanggannya.

Hari belum begitu malam ketika muncul chat di aplikasi kencan miliknya. Seorang lelaki dengan nama akun Ferdy menyapanya: “Hai”. Rindu tidak segera membalasnya. Ia mencoba mengamati foto profil Ferdy. Bukan foto asli, pikirnya. Tetapi bukan masalah, banyak lelaki yang malu menampilkan foto aslinya di aplikasi kencan.

“Hai.. lagi ngapain?” Ferdy kembali menyapa Rindu.

“Santai, Kakak.. sini, aku BO malam ini, “ balas Rindu.

Dalam aplikasi kencan istilah BO atau booking out digunakan oleh PSK untuk menawarkan diri. Artinya dia adalah perempuan yang memang menjajakan diri buat lelaki. Tak lupa Rindu menawarkan jasa layanan, tarif kencan, dan hotel tempatnya menginap.  

“Okey!” Tanpa basa-basi Ferdy menyanggupi tawaran Rindu. Ia berjanji untuk segera meluncur ke kamar hotel yang disampaikan Rindu.

Tepat pukul 21.00 terdengar suara ketukan di pintu kamar hotel. Rindu segera bergegas membukanya. Seorang lelaki tampan menyapanya. Rindu mencoba menerka usia lelaki yang mengaku bernama Ferdy itu. Perkiraannya pada kisaran usia 60 tahun. Namun wajahnya belum tampak tua. Genggaman tangannya saat bersalaman juga masih kuat.

“Saya buatkan teh manis ya, Mas,” kata Rindu menawarkan minuman buat Ferdy.

“Boleh,” jawab Ferdy sambil duduk di kursi sudut hotel. Kemudian ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Kebetulan Rindu memang memesan kamar yang smoking, sehingga para tamunya dapat merokok di kamar hotel.

Sebatang rokok telah dihabiskan Ferdy. Ia memandangi Rindu sejak tadi. Bukan pandangan nafsu birahi layaknya laki-laki pelanggan Rindu. Pandangan Ferdy seolah menyimpan sesuatu. Rindu menjadi salah tingkah.

“Kok memandangi saya terus, Mas?” kata Rindu malu-malu.

“Kamu cantik, sayang saya sudah tua,” jawab Ferdy sambil sedikit tertawa.

“Emang kalau masih muda kenapa?” pancing Rindu.

“Pasti kamu aku jadikan istri,” kata Ferdy diiringi senyum dan tawa kecil.

“Ahh, Mas bisa aja,” ujar Rindu sambil mendekat dan mencubit perut Ferdy.

Cubitan Rindu pada Ferdy membangkitkan gairah yang terpendam sedari tadi. Ia dekap erat Rindu dan membopongnya ke ranjang. Mereka segera berpacu birahi yang tak lagi terkendali. Rentang usia antara Rindu dan Ferdy tak menghalangi mereka mengarungi gelora hasrat membara. Ferdy begitu perkasa, seolah masih belia.

Saat mereka mencapai puncak kenikmatan, tiba-tiba napas Ferdy tersengal-sengal. Kaki dan tangannya kaku. Menggelinjang. Matanya melotot. Rindu terkejut bukan kepalang. Ferdy semakin menggelinjang. Dari mulutnya keluar darah segar. Rindu memangku tubuh Ferdy di atas ranjang. Ferdy seperti berhenti bernapas. Hidung dan telinganya juga mengeluarkan darah.

Rindu menjerit histeris. Tubuhnya berlumuran darah yang mengucur dari mulut, hidung, dan telinga Ferdy. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ferdy terbujur kaku dalam pangkuannya. Rindu menangis keras. Bingung, takut, sedih, dan berbagai perasaan berkecamuk. Ia segera memencet nomor telepon kamar hotel untuk memberitahu resepsionis. Ia juga menelepon sahabatnya, Sandi Barata.

Ruangan kamar hotel berantakan. Sprei ranjang kamar yang sempat menjadi arena pacu birahi kini memerah oleh darah Ferdy. Rindu sama sekali tak menduga. Lelaki tua tampan yang sopan itu meninggal dalam pangkuannya. Tubuh Rindu bersimbah darah. Ia seperti mendapat pukulan berat. Tubuhnya lemas dan nyaris pingsan. Untung saja Sandi Barata segera datang dan menenangkannya.

                                         ***

Sudah satu minggu tragedi kematian Ferdy di kamar hotel bersama Rindu berlalu. Banyak hal yang harus dilalui Rindu setelah kejadian itu. Ia harus berurusan dengan polisi untuk diinterogasi. Beruntung Rindu tidak diproses hukum, karena Ferdy meninggal karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

Namun terbebasnya Rindu dari proses hukum bukan lantas membuatnya tenang. Ia masih merasakan kengerian di kamar hotel ketika tubuhnya bersimbah darah. Rindu sama sekali tak menyangka jika Ferdy harus meninggal di atas ranjang bersamanya.

Satu minggu Rindu dibayangi ketakutan. Saat berbaring di kamar kostnya, muncul sosok Ferdy di dekat meja riasnya. Wajah Ferdy yang pucat menatap Rindu. Tampak bercak-bercak darah di mulut, hidung dan telinga Ferdy. Tentu saja Rindu terkejut dan menjerit panik. Bukankah Ferdy sudah dimakamkan seminggu yang lalu? Mengapa arwahnya mendatangi Rindu?

Arwah Ferdy bukan hanya sekali datang ke kamar Rindu. Ketika Rindu sedang memasak mi instan di dapur, tiba-tiba Ferdy muncul di sampingnya. Nyaris saja panci tempat memasak mi yang berisi air panas tumpah lantaran kaget. Begitu pun saat selesai mandi, wajah Ferdy juga muncul di kaca cermin kamar mandi.

Bukan hanya di tempat kost. Saat kuliah Pak Rahmat Hermanto, arwah Ferdy juga muncul di belakang dosen itu. Ferdy berdiri dengan pakaian yang persis sama ketika bersama Rindu di kamar hotel. Arwah Ferdy memandangi Rindu dengan tatapan memilukan. Rindu nyaris berteriak, membuat Pak Rahmat Hermanto dan teman-teman Rindu terkejut. Tidak satu pun yang melihat arwah Ferdy di kelas. Hanya Rindu yang menyaksikan lelaki yang membuatnya bersimbah darah di kamar hotel.

Kehadiran arwah Ferdy terus berulang. Hal ini membuat Rindu seolah diteror lelaki yang pernah mengencaninya. Rindu merasa tercekam, bingung, dan selalu ketakutan bila berada di tempat kost atau di kampus sendirian.

Rindu segera menghubungi Sandi Barata. Mereka bertemu di sebuah kafe. Rindu menceritakan apa yang ia alami, didatangi arwah Ferdy setiap hari. Sandi Barata berempati. Ia ikut prihatin apa yang dialami Rindu.

“Mungkin Pak Ferdy benar-benar sayang sama kamu…,” kata Sandi.

“Ah, semua tamu lelaki yang kencan denganku selalu bilang sayang,” sanggah Rindu. Ia berharap Sandi memberinya jalan keluar agar ia tidak terus didatangi arwah Ferdy.

“Mengapa arwah Ferdy selalu membuntutiku? Bukankah dia meninggal karena memang menderita komplikasi penyakit? Bukan karena ulahku,” kata Rindu.

“Sepertinya kamu harus nyekar Pak Ferdy,” usul Sandi.

“Nyekar?” tanya Rindu.

“Iya, ziarah ke makam Pak Ferdy. Kamu doakan agar arwahnya tenang, damai, diampuni segala dosanya, dan diterima di sisi Tuhan,” jawab Sandi menjelaskan. Rindu merenung. Sejurus ia menghela napas, seolah mengerti apa yang diusulkan Sandi.

Esoknya Rindu dan Sandi Barata ziarah ke makam Ferdy. Mereka menabur bunga dan menyiram air putih di tanah pusara Ferdy. Mereka berdua mendoakan agar almarhum Ferdy tenang dan damai di alam baka. Dan tentu saja Rindu berharap arwah Ferdy tak lagi mendatanginya.

Sejak nyekar, arwah Ferdy memang tidak lagi menampakkan diri.  Rindu merasa lega. Ia tak tahu apakah masih akan melanjutkan profesinya sebagai ayam kampus atau berhenti sejenak. Trauma bersimbah darah di kamar hotel membuatnya kehilangan semangat ketika harus berada dalam pelukan lelaki.

Rini Duhita memang tidak diproses hukum, karena Ferdy meninggal lantaran penyakit yang dideritanya. Tetapi ia terlanjur menanggung malu. Namanya masuk dalam pemberitaan berbagai media sebagai ayam kampus yang bersimbah darah. Meski dalam berita yang disebut adalah Rindu, nama samarannya; dan fotonya dibuat tidak jelas. Beruntung, nama kampus tempat ia kuliah tidak disebutkan.

Sedangkan Sandi Barata, ia mendapatkan pengalaman fenomenologis yang luar biasa. Pertemanan dengan Rindu dan tugas skripsi mengantarkannya pada peristiwa tragis yang tak terlupakan sepanjang hidupnya. Lebih luar biasa, ketika ujian pendadaran semua dosen pembimbing dan penguji memberi nilai A untuk skripsinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam
Kampusku Sarang Hantu [2]: Suara Misterius di Ruang Dosen
Kampusku Sarang Hantu [3]: Kuntilanak Beterbangan di Proyek Bangunan
Kampusku Sarang Hantu [4]: Mahasiswa Kesurupan di Ruang Kuliah
Kampusku Sarang Hantu [5]: Tangisan dari Gudang Tua
Kampusku Sarang Hantu [6]: Akik Keramat Dosen
Kampusku Sarang Hantu [7]: Suara Printer dan Keran Air Mengucur
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mosphit Skena Segera Tiba, yang Ngaku-Ngaku Anak Skena Wajib Hadir!

Next Post

ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ORANG BALI AKAN LAHIR KEMBALI DI BALI?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co