3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Angkatan Baru, Polemik Makna Berpendidikan

Karisma Nur Fitria by Karisma Nur Fitria
July 17, 2024
in Ulas Buku
Angkatan Baru, Polemik Makna Berpendidikan

buku "Angkatan baru" | Foto: Karisma

Judul : Angkatan Baru
Jenis : Novel-fiksi
Penulis : Hamka
Terbit : Cetakan ke-6, Desember 2021
Penerbit : Gema Insani, Jakarta
Tebal buku : 90 halaman; 18.3 cm

***

“Syamsiar dihormati lebih dari yang dahulu oleh ibu dan keluarganya sebab ia telah alim, keluaran sekolah agama, berdiploma”.

Kutipan dalam novel karya Buya Hamka ini sekiranya menggambarkan keagungan seorang  yang berpendidikan dari kaum adat di Minangkabau khususnya. Syamsiar, sebagai perempuan amat beruntung dapat berpendidikan dan semakin terhormatlah ia di mata keluarga dan masyarakat. Ia dipandang sebagai orang alim. Pendidikan pada masa itu telah menjadi tolak ukur tersendiri sebagai bentuk kehormatan seseorang.

Novel berjudul “Angkatan Baru” ini terbit pertama kali pada tahun 2016. Buya Hamka bersama karya-karya fiksinya tidak jauh mengisahkan problematika di tanah Minang, Sumatera Barat. Seperti karya kenamaannya yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Novelnya kali ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Syamsiar yang telah jauh terpandang di kampungnya.

Syamsiar telah menempuh sekolah menengah agama dan memperoleh gelar diploma. Sekembalinya ia ke kampung tentulah semua orang menghormatinya. Semua orang tidak mempersoalkan apabila ia hanya bermalas-malasan di kamar sebab ia telah menjadi alim dan berilmu. Syamsiar yang terpandang itu telah besar kepala hingga merasa jemu melihat orang-orang kampung yang kolot. Ia merindukan kehidupannya semasa bersekolah.

Syamsiar dengan gelarnya ingin mendapat pekerjaan yang layak dan terpandang. Guru ialah satu-satunya pekerjaan yang cocok bagi kaum terpelajar sepertinya. Apabila ia bekerja sebagai pedagang atau petani maka hinalah ilmu yang diberikan gurunya. Kendati bekerja, ia juga sudah umurnya untuk menikah. Telah banyak laki-laki meminangnya ke rumah tetapi ditolaknya karena tidak sesuai dengan keinginannya. Tentu, Syamsiar dengan pikiran modernnya ingin menikah karena cinta bersama pria yang sejalan dengannya.

Akhirnya Syamsiar bertemu dengan Hasan, seorang alim dari kampung seberang. Mereka menikah dan membina rumah tangga dengan dasar “cinta” kedambaan Syamsiar. Hasan tidak sama dengan Syam. Ia benar-benar ingin mengabdikan ilmunya kepada masyarakat dimulai dari mengajar anak-anak berkebun, membaca, hingga menulis. Sayangnya pernikahan mereka terombang-ambing hingga karam tidak bersisa. Syam terpaksa mengikuti adat dan menerima pinangan seorang pria seusia ayahnya dan dijadikan istri ketiga.

Polemik Makna Berpendidikan dalam Adat

“Angkatan Baru” bukan judul biasa. Ia merepresentasikan pemuda-pemuda pada masa itu yang telah jauh dari turut hukum adat. Modernisasi yang mereka rasakan di bangku pendidikan tentu melihat sisi kolot masyarakat di kampung. Merekalah “Angkatan Baru”, Syamsiar salah satunya. Menyandang gelar diploma telah cukup baginya untuk merasa dihormati oleh masyarakat. Akan tetapi, sayangnya ilmu itu tidak bermanfaat bagi lingkungannya.

Syam telah berlarut menikmati penghormatan dan kemanjaan yang diberikan mamaknya. Lain halnya dengan Hasan. Laki-laki itu telah menyadari setidaknya bahwa berbagi ilmu tidak harus menjadi guru berseragam. Ucapan manis yang disampaikan oleh gurunya tentang manusia berilmu akan sukses bertolak belakang dengan kenyataannya. Pekerjaan yang semula dianggap hina bagi seorang alim kini ditekuninya sambil mengajar anak-anak kampung.

Pada awal pernikahan tabiat keduanya yang bertolak belakang belumlah tampak. Hingga akhirnya perbedaan keduanya dalam memandang “kehidupan” itu mulai tampak. Syamsiar dihormati sebagai seorang perempuan yang berpendidikan tetapi sayangnya hanya pintar berpidato dan tidak membagi ilmunya yang tinggi itu. Syam hanya ingin menjalani kehidupan yang senang dan bebas terlebih dimanjakan oleh mamaknya.

Hasan justru sangat dihormati oleh masyarakat karena cita-cita beratnya mendidik anak-anak di kampung. Ia menahan malu ditertawakan oleh teman-temannya yang alim itu karena mengerjakan pekerjaan itu. Akan tetapi, fokus Hasan akan cita-citanya tidak mendapat dukungan dari istrinya padahal keduanya berlatar pendidikan sama.

Pendidikan dalam masyarakat adat terutama dalam latar cerita di daerah Minangkabau menunjukkan eksistensinya. Seorang yang berpendidikan dan berilmu agama akan sangat disegani. Melihat perbedaan “penghormatan” yang didapatkan Syamsiar dan Hasan tentu menjadi persoalan tersendiri. Syamsiar mendapat penghormatannya karena cukup berpendidikan saja. Akan tetapi, Hasan mendapat penghinaan dahulu sebelum memperoleh penghormatannya karena mempunyai cita-cita besar dengan mendidik anak-anak kampung, masyhurlah namanya.

Buya Hamka sukses memberikan berbagai pandangannya terkait orang yang berpendidikan. Kenyataannya tidak semua orang berpendidikan itu berakal dan mau membagikan ilmunya. Tidak pula semua orang berpendidikan paham akan ilmunya sendiri. Merasa tinggi karena pendidikan tidak menjadikan orang itu berpendidikan.

Buku ini sangat ringan untuk dibaca oleh berbagai kalangan terutama remaja dan dewasa. Gaya penceritaan Buya Hamka yang khas sangat nyaman dan mudah dicerna. Pemilihan diksi indah untuk menjelaskan beberapa keadaan akan membuat pembaca semakin jatuh cinta dengan bahasanya. Cerita yang tidak terlalu panjang ini dapat dinikmati sambil bertemankan secangkir kopi. Novel “Angkatan Baru” ini memiliki pembahasan persoalan yang cukup relevan dengan kehidupan. Pembaca akan semakin memaknai “berpendidikan” itu seperti apa. [T]

BACA artikel lain dari penulis KARISMA NUR FITRIA

Petualangan Don Quixote: Kegilaan Bersahabat dengan Keberanian
Pikiran dan Luka Tak Berdarah dalam Diri – Ulasan Buku “Yang Belum Usai: Kenapa Manusia Punya Luka Batin?”
“Malu Dong!” Si Keren Pengabai Aturan Jalan
Menggemparkan Suara di Tengah Ketidakadilan: Ulasan Kumpulan Puisi “Jari Tengah” karya Alfian Dippahatang
Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua
Lada dari Papa
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Apakah Aku Normal?
Meretas Penyimpangan dalam Perjalanan Budaya dan Spiritualitas Tanah Minangkabau pada Novel “Segala Yang Diisap Langit” karya Pinto Anugrah
Menafsirkan Goresan Luka dari Pisau yang Tak Dapat Maaf
Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”
Tags: Buya HamkaHamkaMinangkabaunovelSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golden Triangle, Mekong, dan Bagaimana Sungai Dimanfaatkan

Next Post

Bolehkah Menggunakan Bunga Palsu Untuk Membuat Banten? – Pertanyaan Mahasiswa Masa Kini

Karisma Nur Fitria

Karisma Nur Fitria

Mahasiswi berusia 20 tahun yang sedang menempuh pendidikan di program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Memiliki ketertarikan dalam bidang kepenulisan berbagai genre baik fiksi maupun non fiksi. Tengah berusaha mengembangkan project humanity @katabantu_ dengan konsep menjual e-book karya sastra dan 100% hasil penjualannya akan didonasikan untuk aksi kemanusiaan.

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Bolehkah Menggunakan Bunga Palsu Untuk Membuat Banten? – Pertanyaan Mahasiswa Masa Kini

Bolehkah Menggunakan Bunga Palsu Untuk Membuat Banten? - Pertanyaan Mahasiswa Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co