14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsirkan Goresan Luka dari Pisau yang Tak Dapat Maaf

Sabta Yoga Pratama, by Sabta Yoga Pratama,
May 22, 2024
in Ulas Buku
Menafsirkan Goresan Luka dari Pisau yang Tak Dapat Maaf

SEDERET puisi yang dituliskan Aan Mansyur dalam buku kumpulan puisi “Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau” tidak hanya berkutik pada lingkaran estetika dan keunikan gaya bahasa, tapi juga terdapat usaha lebih yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca. Usaha itu merupakan langkah penulis menyampaikan setiap luka-luka dalam kehidupan yang tak kunjung sembuh meski telah melewati berbagai massa berlalu.

Dalam setiap puisi yang ditulis dalam buku ini bersumber dari sederet cerita dan peristiwa kehidupan Aan Mansyur itu sendiri. Peristiwa itu merupakan sebuah batu pertama dalam membangun sebuah karya yang bernilai. Sebuah peristiwa itu sendiri merupakan suatu kenyataan yang bersifat absolut atau mutlak.

Berdasarkan hal itu kita dapat mengira dan memahami bahwa landasan utama yang digunakan oleh penulis pada setiap puisinya merupakan berbagai pengungkapan peristiwa yang nyata dialami oleh penyair dengan dibalut nilai-nilai estetika kebahasaan di dalamnya, agar memenuhi suatu pengertian yang disebut dengan puisi. Wujud karya sastra yang dinamakan dengan puisi jika di dalamnya tercapai efek estetik dalam berbagai unsur bahasa (Nurgiyantoro, 2010).

Aan Mansyur seakan berperan sebagai sebuah kamera yang menangkap setiap gambaran-gambaran peristiwa dalam hidupnya, dan terabadikan melalui puisi-puisinya. Puisi Aan Mansyur memang begitu terasa deretan realitanya, namun puisi yang disampaikan juga tidak hanya terbatas pada fenomena-fenomena dalam kehidupannya saja, tetapi juga terdapat semacam pesan-pesan yang disinggung oleh penyair.

Kurang lebih seperti itulah rantai peristiwa yang terjadi di dalam buku puisi “Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau” karya M. Aan Mansyur.

Mengapa luka tidak bisa memaafkan pisau? Karena setiap luka dalam kehidupan yang sudah terjadi memang akan dapat berlalu dan sembuh, namun tidak dengan bekas luka rasa sakit yang pernah dirasakannya akan tetap membekas selamanya.

Buku ini berisikan sejumlah 41 puisi di dalamnya dengan total halaman mencapai 100 halaman lebih yang terbagi menjadi 5 bagian penting. Berbagai ilustrasi turut di sajikan dalam pembuatan buku ini dengan harapan akan menjadi pendukung realitas setiap puisi-puisi di dalamnya. Ilustrasi-ilustrasi ini tercipta oleh tangan seorang ilustrator bernama Lala Bohang.

Ketika berusaha membaca dan menafsirkan kumpulan puisi Aan Mansyur, saya merasa seperti mulai di ajak menuju sebuah dimensi perjalanan kehidupan, dengan setiap lika-liku dan pelajaran di dalamnya.

Berbagai dimensi kehidupan seperti perjalanan cinta pasangan, keluarga, masyarakat, dan negara turut ikut dalam puisi yang tersajikan rapi dengan berbagai tipografi penulisannya.

Memang benar ketika membaca buku ini, perhatian utama saya adalah pada gaya penulisan tipografinya yang saya rasa sangat unik dan cukup berbeda dari puisi-puisi pada umumnya. Tipografi dalam puisi itu sendiri merupakan caa penulisan puisi untuk menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual atau langsung (Aminuddin: 2009). Memang peranan tipografi ini menjadi sebuah aspek artistik tersendiri secara visual yang dibangun dalam sebuah puisi, selain itu tipografi akan membantu menciptkan nuansa makna tertentu atau suasana.

Keunikan tipografi dalam bukku puisi ini dapat terlihat cukup jelas pada salah satu puisinya “Makassar Adalah Jawaban Tetapi, Apa Pertanyaannya”.

/ayah pergi ke kantor/,
/(ibu pergi kemana ?) /
/adik pergi ke bioskop/
/sarimin pergi ke pasar/
/makassar pergi ke jakarta//.

/untuk apa makassar pergi ke jakarta ?/

a. Studi banding
b. Menghadiri acara keluarga
c. Berlibur & belanja
d. Semua benar/.

Keunikan tipografi dalam bukku puisi ini dapat terlihat cukup jelas pada salah satu puisinya “Makassar Adalah Jawaban Tetapi, Apa Pertanyaannya”.

Penggunaan tipografi dalam puisi tersebut terasa seperti kita sedang melihat sebuah soal pilihan ganda ketika menghadapi sebuah ujian nasional, hal ini terasa cukup memiliki nilai keunikan tersendiri di dalamnya.

Selain itu saya menyorot tentang bagaimana seorang Aan Mansyur berusaha menebarkan setiap pecahan-pecahan momen kehidupananya pada setiap baris hingga baitnya seperti untaian tali yang benangnya berhamburan dan tidak pernah akur. Seperti itulah berbagai momen kisah kehidupannya yang dibalut dalam sebuah puisi.

Contohnya pada kutipan puisi berikut: /makassar bersalin nama jadi ujung pandang,/ pada 1971 setahun setelah reformasi,/ kembali mengenakan nama lama,/ alasannya: makassar tak kunjung berhenti sakit-sakitan,// hujan, hujan, hujan, banjir hari ini,/ makassar tidak bisa pergi kemana-mana,/ didekat jendela, makasar duduk mengenang,/ cita-cita masa kecilnya: ingin jadi tempat bersandar kapal-kapal dari penjuru dunia/ (puisi “Makassar Adalah Jawaban Tetapi, Apa pertanyaannya”, halaman 55).

Pada larik tersebut cukup terlihat nampak bagaimana penulis menampilkan setiap situasi yang terjadi dalam kehidupannya berpindah-pindah dengan cepat dan berhamburan.

Selain itu puisi-puisi Aan Mansyur ini juga memuat berbagai dialog kehidupan keluarga yang di dalamnya cukup menyayat perasaan karena dipenuhi oleh percakapan yang mengundang luka air mata di dalamnya.

Sebagai contoh hal tersbeut tergambarkan dalam kutipan puisi berikut, // ibu ku berkata: “maafkan abuku”,/ apakah dia mengatakan itu juga kepadaku?,/ ibuku berkata: “ juga kepada diriku,/ sebaiknya kita bicara hanya ketika bicara kepada diri sediri,/ seperti itu cara percakapan melapangkan jiwanya”/ (puisi “ Percakapan” , halaman 45).

Kutipan tersebut merepresentasikan bagaimana penulis berdialog dengan ibunya dengan percakapan tentang seorang ibu yang berpesan kepada anaknya untuk selalu lebih mengandalkan diri sendiri dan tidak terlalu banyak mendengarkan ucapan-ucapan orang lain, karena itu akan menentukan masa depanmu sendiri agar lebih cerah dan mendapatkan perasaan tenang dalam jiwanya.

Hal tersebut terasa begitu relate dengan kehidupan anak-anak muda saat ini yang arah hidupnya banyak disetir oleh pendapat orang lain di sekitarnya dan kurang merasa percaya diri terhadap dirinya sendiri.

Porsi penampakan kehidupan keluarga bersama sosok ibu ini memang begitu terasa mendominasi, nampaknya memang penulis ingin menampilkan luka kehidupan seorang ibu yang berjuang keras demi anak-anak dan keluarganya. Hal tersebut merupakan sebuah sindiran dan tamparan penulis kepada para orang tua di luar sana, seperti yang tergambar dalam kutipan puisi berikut:

/aku akan mengakui satu kesalahan,/ sebelum seseorang diantara kami melukai kalian,// “ laki-laki sudah terlatih sebagai laki-laki,/ bahkan sebelum mereka lahir,/ kehidupan cuma kesempatan singkat & terlambat untuk memperbaiki diri,// tertawalah anakku atau menangislah,/ kalian telah melepaskan anak yatim abadi dari dalam diriku,/ ayah kini seorang anak berisi hanya impian & ketidaktahuan./ (puisi “Bersama Daras &  Sahda Menunggu  Ibu Pulang dari Kantor” halaman 41).

Berdasarkan puisi tersebut terkandung sebuah makna yang dimana sebuah bentuk penyesalan dalam kehidupan akan selalu dapat di akhir, setiap manusia akan memiliki masalah dan persoalan dalam kehidupannya, penulis memberikan sebuah pesan dimana setiap persoalan dan permasalahan di kehidupan pasti akan berlalu dan mimpi tetap harus diperjuangkan. Kurang lebih seperti itulah pesan dari perjuangan kehidupan seorang ibu yang di representasikan penulis lewat diksi-diksi estetisnya.

Meskipun dalam penyampaiannya memang cukup membingungkan dan pembaca mesti melakukan pembacaan secara berulang-ulang untuk dapat menangkap makna yang diinginkan oleh penulis.

Lebih lanjut kembali penulis juga menampilkan tentang perihal sisi-sisi kehidupanya percintaanya, dalam dunia percintaan memang pasti akan banyak menemui berbagai peristiwa baik kebahagiaan maupun luka-luka yang hadir karena cinta tersebut. Hal tersebut selaras dalam beberapa puisi yang ada dalam buku ini meliputi, puisi “Sajak Cinta Untuk Anna“ , “Jatuh Cinta“, dan “ Makan Malam di Restoran Baru Tidak Jauh Dari Pantai Losari“. Puisi-puisi tersebut memberikan penafsiran tentang gambaran kehidupann percintaan yang cukup berliku-liku.

Sebagaimana yang tampak dalam salah satu kutipan puisi berikut: / “aku beli payung kuning untukmu,/ aku ingin melihat bunga matahari mekar diguyur hujan,// aku berdiri di beranda mencoba bercanda,/ kau & pagi & hujan hendak pergi ke pasar,/ sudah dua hari kulkas tidak berisi apa apa,/ selain dingin yang sia-sia./ (puisi “Rumah Tangga” halaman 36).

Dari puisi tersebut, dapat tergambar dimana momen peristiwa seorang suami dan istri yang mengalami cobaan kekurangan ekonomi, namun sang suami berusaha menenangkan keadaan rumah tangga dan tetap berusaha ingin memberikan kebahagiaan kepada istrinya. Momen-momen bernuansa puitik tersebut juga banyak diliputi dan diwarnai oleh berbagai diksi-diksi benda serta fenomena alam yang menjadi media pengantar penyampaian makan oleh penulis kepada pembaca. Penggunaan diksi seperti /hujan,/ bunga matahari,/ dan pagi/ membantu memberikan nuansa keadaan sehari-hari yang terjadi di lingkungan pembaca, dengan harapan suasana intim puitik tersebut akan dapat lebih bermakna.

Selain berbagai sorotan-sorotan terkait kehidupan pribadi sang penulis yang melahirkan berbagai luka-luka kehidupan, penulis juga memiliki kepedulian yang cukup tinggi terkait perhatianya kepada pemerintahan atau negara dimana dia berpijak dan bertumbuh sebagai seorang insan manusia.

Deretan puisi seperti “Negara”, “Harga Mati”, dan “ Kami Masuk Kantor DPR & Kami Hilang”,  merupakan beberapa contoh bentuk perhatian penulis kepada negaranya.

Seperti halnya yang tersampaikan melalui salah satu kutipan puisi berikut ini: /jika mereka bedah mayatmu,/ mereka akan menemukan lambungmu,/ ususmu, sepasang ginjalmu, hatimu, darahmu,// jantungmu memadat oleh debu dari makamku/ (puisi “Harga Mati” halaman 79.

Terepresentasi secara cukup jelas dimana puisi tersebut berusaha di tunjukan kepada para korban-korban aktivis yang hilang dan menjadi korban salah tangkap oleh para penguasa yang merasa tidak senang dengan hadirnya mereka, karena banyak menentang kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.

Terdapat penggunaan majas atau gaya bahasa hiperbola yang sangat kuat dalam puisi tersebut. Karena banyak menggunakan penggungkapan seperti: /jika mereka membedah mayatmu,/ mereka akan menemukan lambungmu,/ diksi tersebut memberikan makna berlebih tentang akhir hayat korban yang telah tertangkap penguasa.

Hiperbola sendiri adalah majas yang digunakan untuk menggambarkan suatu ide atau konsep dengan cara yang berlebihan atau melampau. Tujuan utama hiperbola adalah untuk memperbesar atau memperkecil sesuatu untuk menciptakan kesan yang lebih dramatis atau kuat. Ini adalah bentuk figuratif yang sering digunakan dalam puisi, prosa, retorika, dan bahasa sehari-hari untuk menekankan atau membesar-besarkan karakteristik atau situasi.

Penulis atau penyair memang cukup berhasil menampakan makna dan situasi yang terjadi dalam puisi tersebut.

Secara keseluruhan Aan Mansyur memang seorang penyair yang cukup terampil dalam memainkan unsur-unsur kebahasaan yang ada dalam sebuah puisi, sehingga menghasilkan sebuah karya sastra bernilai dan mendapatkan berbagai penghargaan dari pembacanya. Penulis ini cukup lihai memainkan dimensi-dimensi peristiwa dan pengalaman prbadinya melalui puisi untuk mencapai unsur estetika yang digerakkan oleh ide-ide briliannya, suara puisi yang sangat terasa subjektif dan berisi teriakan-teriakan luka kehidupan yang tak termaafkan.

Namun, memang banyak sekali kesulitan yang saya alami dalam perjalanan saya membaca buku ini karena terdapat banyak penggunaan diksi-diksi serta penyajian tiap lariknya yang berputar-putar, sehingga pembaca memang dituntut teliti dalam membacanya, selain itu peran pengetahuan dan latar belakang pembaca akan sangat mempengaruhi kebermaknaan puisi yang di tulis oleh Aan Mansyur ini. [T]

Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua
Lada dari Papa
Merayakan Kemurungan Bersama Sarah Monica
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: Aan Mansyurbuku kumpulan puisibuku puisiPuisiSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindia, Menyihir Lautan Manusia Lewat “Cincin” dan “Secukupnya” | Catatan PICA Festival Tahun 2023

Next Post

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global

Sabta Yoga Pratama,

Sabta Yoga Pratama,

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta.

Related Posts

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails

Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

by Muhammad Khairu Rahman
March 8, 2026
0
Ingatan, Kehilangan, dan Perlawanan dalam ‘Laut Bercerita’

NOVEL Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang menghadirkan luka sejarah sebagai ruang...

Read moreDetails

Sugianto Membongkar Bali

by Wayan Esa Bhaskara
March 8, 2026
0
Sugianto Membongkar Bali

Judul Buku    : Aib Penulis          : I Made Sugianto Penerbit        : Pustaka Ekspresi Cetakan         : Pertama, Januari 2026 Tebal              :...

Read moreDetails

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails
Next Post
Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global

Menyatukan Pajak Turis Dunia: Menggagas Standar Baru bagi Pariwisata Global

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co