30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menggemparkan Suara di Tengah Ketidakadilan: Ulasan Kumpulan Puisi “Jari Tengah” karya Alfian Dippahatang

Malinda Elfanni by Malinda Elfanni
June 5, 2024
in Ulas Buku
Menggemparkan Suara di Tengah Ketidakadilan: Ulasan Kumpulan Puisi “Jari Tengah” karya Alfian Dippahatang

Malinda (penulis) bersama buku Jari Tengah

JARI Tengah merupakan buku kumpulan puisi karya Alfian Dippahatang yang memperoleh penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2021. Buku-buku yang berhasil ia tulis memang seringkali mendapat penghargaan dan apresiasi bagi khalayak, sebab dalam karakteristik penulisannya dianggap unik dan berani.

Salah satu buku yang akan diulas secara lugas dan tegas pada esai ini adalah buku berjudul Jari Tengah (2020). Buku ini berisi 45 puisi yang dikemas secara padat dalam satu buku yang tidak terlalu tebal yakni berjumlah 52 halaman.

Jika dilihat secara keseluruhan, puisi ini mengangkat teori ekspresif yang memandang karya sastranya sebagai pernyataan atau bentuk ekspresi berdasarkan dunia pengarang. Karya sastra yang ditulis bukan hanya tentang hasil imajinasi, melainkan sebagai sarana pengungkpaan ide, pikiran, hinga pengalaman pengarang.

Hal tersebut selaras dengan pendapat Umry (2005) yang mengemukakan bahwa kritik ekspresif adalah kritik yang menekankan hubungan antara karya sastra dengan pengalaman batin dan maksud pengarang.

Dilihat dari pernyataan di atas, penyair mengungkapkan maksud secara eksplisit bahwa setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang tenang dan damai, namun apalah daya, kehidupan di dunia tidak menjamin semua insan memiliki sifat yang sama, apalagi sifat dalam hal kebaikan.

Terlalu banyak iming-iming yang ditawarkan oleh dunia kepada setiap insan untuk memilih. Memilih terhadap jalan yang benar, atau justru sebaliknya. Banyaknya kaum yang tertindas dan menindas menjadi salah satu bentuk adanya ketidakadilan dan ketamkan setiap insan. Mungkin, hal itu terjadi lantaran ego semata, keberpihakan dalam memproleh tahta dan cinta, kesenjangan sosial, atau bahkan ingin berkuasa dalam setiap situasi yang ada.

Semua itu hanyalah kenikmatan semata. Roda akan terus berputar, sangat mungkin orang yang tertindas akan bangkit untuk menggemparkan suara untuk memperoleh keadilan.

Dengan adanya hal tersebut, penyair menekankan pada hubungan karya sastra yang diciptakan dengan keadaan jiwanya. Hal ini diungkapkan mulai dari perlawanan terhadap ketidakadilan politik, kritik sosial, personal, hingga pada hal-hal yang dianggap tabu oleh sebagian orang, semuanya diaplikasikan dalam bentuk karya sastra berupa puisi.

Alfian menuliskan puisinya bersumber dari pengalaman. Kategori pengalaman yang pertama yakni berasal dari lingkungan sekitar, dan pengalaman yang kedua berasal dari dalam dirinya sendiri.

Setiap diksi yang dituliskan oleh penyair, adalah ungkapan kekecewaan, kemarahan, dan juga perlawanan. Semua perasaan itu dibalut dengan bahasa yang menunjukkan sifat keberanian. Sebagai bentuk sifat keberanian dapat dilihat secara gamblang dan jelas melalui sampul yang digunakan pada kumpulan puisi tersebut.

Penggunaan gambar jari tengah, melambangkan sebagai simbol perlawanan, kemarahan, dan penolakan. Salah satu kelebihan dan menjadi karakteristik dalam buku ini, terletak pada penulisan judul.

Pada setiap puisinya, Alfian menunjukkan keberanian untuk mengangkat hal-hal yang tabu, sensitif, dan menumpas ketidakadilan jika dilihat secara sekilas. Alfian merupakan penyair yang tidak takut untuk menyuarakan gagasannya, mesikipun harus melibtatkan diksi yang bisa dikatakan vulgar, dalam hal ini merupakan bentuk ekpresifnya.

Sebagai pembaca, diperlukan ketelitian dalam menafsirkan pesan yang hendak disampaikan penyair sebab, jika tidak demikian akan menimbulkan kesalah pahaman. Mungkin, ketika seseorang atau anak kecil yang secara sengaja maupun tidak sengaja membaca judul ini dengan sekilas akan menimbulkan daya imajinasi yang tinggi.

Daya imajinasi yang tecipta, entah itu pemikiran yang baik atau buruk tetapi pada kenyataannya memanglah demikian.

Adapun judul yang dimaksudkan diantaranya yaitu, “Celana Dalam” dan “Kemaluan Mengendur”. Pada judul tersebut akan menimbulkan banyak pertanyaan seperti halnya apa dan bagaimana, ketika membaca judul tersebut dengan sekilas saja. Tetapi siapa sangka, judul “Celana Dalam” secara tersirat memiliki kebermaknaan tentang ungkapan rasa kesedihan dan kekecewaan atas berakhirnya suatu hubungan.

Pada puisi tersebut terdapat kata-kata “celana dalam” dan “bercak darah” yang mungkin akan dianggap tabu oleh beberapa orang.

Sementara itu, pada puisi yang berjudul “Kemaluan Mengendur” juga dapat menimbulkan banyak penafsiran. Pada puisi tersebut, Alfian ternyata memanfaatkan simbol-simbol untuk menghidupakan puisinya. Kemaluan yang dimaksudkan merupakan simbol dari harga diri.

Penggunaan diksi secara vulgar terkadang menjadikan pembaca menjadi spontan terbelalak atas tulisan yang terpampang nyata di depan mata. Tentu timbulnya banyak persepsi mengenai kekurangan dan kelebihan dalam suatu karya merupakan hal yang wajar.

Perlu diingat bahwa ini adalah sebuah sastra dan seni dalam beretorika. Seorang pernyair termasuk Alfian dengan bebas dapat mengungkapkan pengalamannya berupa untaian kata-kata indah, dan kita sebagai penikmat perlu untuk memberikan apresiasi.

Sebagai bentuk empati dan apresisasi terhadap puisi ini, perlu untuk memberikan penilaian bahwa sebenarnya penggunaan simbolisme

terkadang menjadikan pembaca merasa kesulitan dalam hal pemaknaan terlebih lagi bagi pembaca awam.

Tidak semua puisi yang ada pada buku Jari Tengah sepenuhnya menggunakan simbolisme yang merumitkan. Puisi yang berjudul “Jari Tengah II” secara lugas dan tengas menggambarkan situasi kemarahan dan kekecewaan.

Penggunaan diksi jari tengah merupakan makna yang tersirat dari adanya sikap penolakan dan pemberontakan terhadap realitas sosial. Pada bagian ini, pembaca seraya diajak pada suatu ruang untuk merenungkan. Merenungkan kritik terhadap masyarakat yang penuh dengan tipu daya. Pembaca diajak untuk terlarut dalam setiap rentetan kisah yang ada.

Pemanfaatan majas yang beragam dalam puisi menjadikannya memiliki nilai estetis dan kepuitisan yang tinggi. Pendayagunaan kata-kata yang dibalut dengan berbagai suasana dan nada menambah citra dalam rentetan peristiwa.

Secara kompleks kumpulan puisi ini memaang mengangkat banyak tema dan peristiwa. Semuanya dikumpulkan menjadi satu dalam satu kesatuan berjiwa memberontak demi suatu keadilan dan keselarasan. Tidak hanya diksi yang memainkan kata demi kata, larik demi larik, dan bait demi bait sebagai karakteristiknya.

Penggunaan diksi telah digabungkan dengan tatanan tipografi yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadikan larik dan baitnya menjadi unik. Ketidakteraturan dalam tatanan tipografi, menggambarkan kericuhan dan kekacauan yang berhasil diekspresikan. Penggalan contoh tipografi sebagai gambarannya, yakni pada judul puisi “Tunduk”

Penggunaan tipografi pada pengalan puisi di atas, menggambarkan penekanan pada setiap kata untuk menekankan makna yang terkandung di dalamnya.

Penggunaan spasi yang tidak teratur atau bahkan bentuknya seperti zig-zag akan mempermudah pembaca dalam menempatkan posisi nada yang berguna untuk memberikan jeda sehingga menimbulkan efek dramatis.

Tidak hanya tipografi, melainkan juga gabungan kolaborasi antara tipografi dan pemanfaatan tanda baca yang digunakan secara maksimal. Penulisan kata pada setiap bait yang dituliskan dengan singkat akan lebih mudah dipahami bagi pembaca, dan juga menimbulkan rasa penasaran untuk melanjutkan pada bait-bait selanjutnya atau bahkan pada puisi selanjutnyaa.

Secara gamblang tidak dapat dipungkiri bahwa Alfian memang betul-betul mendayagunakan aspek-aspek pembangun puisi untuk memberikan nyawa pada puisinya, sehingga pembaca seraya berada pada situsi yang dialaminya. Selanjutnya, mari kita lihat secara keseluruhan tentang makna yang terkandug dalam kumpulan puisi tersebut.

Alfian berusaha untuk menciptakan masyarakat yang adil dan setara tanpa adanya isu deskirminasi dan ketidaksetaraan. Tanpa segan isi dari puisinya berfokus pada aspek moralitas dan keberanian Tidak pandang bulu terhadap siapa ia berbicara. Bahkan norma yang ada pada masyarakat yang dianggap menyimpang akan ditegakkan pada kosakata konotasi yang dianggap telah tepat sebagai bentuk sindiran.

Banyak konflik yang dibangun dalam puisi ini, sehingga pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca didominasi dengan unjuk sikap dalam menyuarakannya. Pada dasarnya seseorang yang berani dalam mengungkapkan ketidakadilan atas dasar dirinya sudah terlalu jenuh dan muak terhadap berbagai penindasan.

Keadilan merupakan kebijkan utama dari hadirnya institusi-institusi sosial (John Rawls, 2006). Banyak hal yang perlu ditafsirkan dalam kumpulan puisi ini, sebab di dalamya tidak hanya membahas satu aspek saja. Penyair membagi rasa kekecewaan, amarah. dan rasa unjuk diri melalui berbagai peristiwa. Kisah cinta yang berakhir begitu saja akibat terhalangnya norma yang dianggap telah kuno, sehingga terdapat pembeda antara kaum miskin dan kaya pria dan wanita yang diungkapkan dalam judul “Celana Dalam”.

Peralakuan orang lain yang tidak menyenangkan hingga membuatnya terpuruk yang diceritakan dalam “Kemaluan Mengendur”. Rasa dendam yang cukup kuat sehingga harus ditegakkan sebagai bentuk

kebangkitan pada judul “ Petarung dalam Sarung”. Hingga kritikan bagi para politisi pun diungkapkan dalam puisi ini. Kesemuanya dianggap sebagai kehidupan yang tidak menyenangkan.

Ketidakadilan dalam memperoleh cinta, padahal setiap individu berhak untuk merasakannya, Ketidakadilan dalam pengakuan di masyarakat, hingga pada pemerintahan. Hal-hal yang tidak mengenakkan dibungkam dengan suara dan simbolisme jari tengah sebagai bentuk perlawanan dan pembalasan.

Puisi ini mengkolaborasikan perasaan, peristiwa dan kata-kata untuk dituangkan dalam bait-bait yang penuh makna. Satu hal yang saya tegaskan dalam pengkajian atau penafsiran puisi, tidak semua individu memiliki asumsi yang sama dalam hal memahami makna. Walau demikian, penyair telah berusaha dan berkenan telah menuangkan rentetan pengalamannya dalam bentuk suatu karya sastra.

Mari bersama-sama untuk mencintai dalam hal kebaikan, tumpaskan ketidakadilan, dan selamat menunaikan. Suaramu, suaraku, suara kita, dan semuanya yang akan digelorakan Sampai jumpa pada kemenangan. [T]

DAFTAR PUSTAKA

Dippahatang, Alfian. 2020. Jari Tengah. Yogyakarta: Basa-basi.

Rawls, John. 2006. A Theory Of Justice Teori Keadilan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Umry, Shafwan Hadi. (2005). Kritik Sastra: Transformasi Budaya, Upaya

Aplikasi dan Apresiasi. (makalah Seminar Kritik Sastra). Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Kisah Cinta yang Mendewasakan — Ulasan Novel “Malik & Elsa 2” karya Boy Candra
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua
Lada dari Papa
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Apakah Aku Normal?
Meretas Penyimpangan dalam Perjalanan Budaya dan Spiritualitas Tanah Minangkabau pada Novel “Segala Yang Diisap Langit” karya Pinto Anugrah
Menafsirkan Goresan Luka dari Pisau yang Tak Dapat Maaf
Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”
Tags: buku puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berbincang dengan Kunti Afrida Maharani, Pemenang Putri Hijabfluencer Bali 2024

Next Post

Made Tawa, Kakek  81 Tahun, Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja Itu pun Diwisuda

Malinda Elfanni

Malinda Elfanni

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Made Tawa, Kakek  81 Tahun, Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja Itu pun Diwisuda

Made Tawa, Kakek  81 Tahun, Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Singaraja Itu pun Diwisuda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co