SUDUT kanan warung dekat dinding bambu menjadi tempat pavoritnya. Setiap hari dia selalu ada di sana. Kursi kayu usang dan tidak lengkap menjadi tempat satu-satunya yang tidak pernah diduduki pelanggan lain. Kedatangannya di pagi hari sekitar jam setengah enam. Entah warung sudah buka atau belum, dia selalu datang tepat waktu. Sorenya datang lagi setiap jam lima. Napasnya dihela dua kali setelah duduk lalu dimulailah certanya. Cerita yang entah untuk siapa, tidak ada upaya memaksa orang yang lalu-lalang di sana untuk mendengarkannya.
Sebelum ceritanya selesai, orang-orang segera beranjak pergi meninggalkan warung itu. Urusannya sudah selesai dan buru-buru untuk urusan lain, merasa bising mendengar cerita yang terus berulang, merasa tidak berminat atau bahkan terganggu, serta alasan lainnya yang tidak pasti dapat diterka. Hanya satu orang yang tidak mau meninggalkan warung itu walau merasa risih. Walau bosan mendengar cerita berulang sang kakek, ibu pemilik warung tentu tidak akan meninggalkan warung miliknya.
Seolah tidak terpengaruh dengan reaksi pendengarnya, dia tidak menunjukkan rasa bosan untuk mengulang dan mengulang lagi ceritanya. Sebagian pendengarnya beranggapan sang kakek mengalami gangguang jiwa akibat terlalu lama menggeluti hidupnya yang monoton. Sebagian lainnya merasa iba karena menganggapnya tidak diperhatikan oleh keluarganya.
“Hidupnya yang sendiri setelah ditinggalkan istri tercintanya puluhan tahun lalu mungkin mengguncang jiwa dan membuatnya seperti ini,” kata seorang pengunjung kepada pemilik warung saat menerima uang kembalian.
“Sepertinya tidak demikian. Anak, menantu, dan belasan cucunya datang silih berganti datang kemari untuk menjemputnya pulang. Saat usaha membujuknya pulang gagal, malah ditemaninya ngobrol,” jawab pemilik warung membantah pernyataan pelanggannya itu.
“Bisa jadi beliau terlalu bising melihat turis-turis yang datang silih berganti untuk berswafoto di dusun kita,” sahut seorang pegawai restoran yang baru pulang kerja.
Pakaian kerja yang dikenakannya menunjukkan dia pegawai restoran mewah yang baru dibangun oleh investor kaya yang entah dari mana. Bangunan termewah yang ada di dusun itu saat ini, entah kapan bangunan wah lainnya akan menyusul. Bangunan yang sering digunjingkan masalah regulasi, tata ruang, pajak, dan kontribusi tenaga kerjanya. Digunjingkan di warung-warung, di pinggir-pinggir jalan, dan pangkalan-pangkalan ojek. Pembicaraan yang menyerupai angin, terkadang kencang terkadang reda, namun tak terlihat wujudnya. Tidak ada yang mau menjelaskan seolah sengaja dibiarkan agar tidak dipahami umum.
“Apa mungkin beliau jatuh cinta kepada salah seorang turis yang pernah berkunjung, namun tidak dilihatnya lagi? Patah hati di usia senja!” Langsung saja anggapan karyawan restoran itu disambar oleh pengunjung lain. Lalu bersama-sama tertawa melepaskan kelucuan yang mengembung di perutnya masing-masing.
Dan begitulah, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun cerita kakek tua itu tidak pernah putus. Beberapa orang bahkan bosan untuk bosan lalu menerimanya dengan tidak merisaukannya lagi. Terkadang, beberapa turis yang disesatkan oleh google maps dan terdampar di warung dekat pemandian umum itu, terlihat serius mendengarkan cerita sang kakek. Wajahnya tampak serius mengikuti alur cerita sang kakek, walau tidak dimengerti, terlihat ada pengikat bagi mereka untuk serius atau setidaknya mencoba terlihat serius menjadi pendengar yang baik. Usaha bertanya kepada pemilik atau pengunjung warung yang ikut tampak serius mendengarkan pertanyaan sang turis yang tidak mereka mengerti lalu dijawab dengan tersenyum dan tertawa bersama.
“Dahulu ada dua orang anak yang mati dan membusuk di lumbung ucu¹) milik orang kaya di kampung ini!”
Itu merupakan kalimat awal cerita sang kakek. Sebagian masyarakat terutama yang senior, bahasa untuk menyebut masyarakat yang sudah berumur, menerima cerita itu sebagai sebuah cerita yang sering di dengar secara turun temurun. Cerita yang melegenda dan menjadi nama sebuah tempat di dusun ini. Akan tetapi, cerita yang diulang-ulang menjadikan mereka mulai mengacuhkan keseriusan cerita tersebut. Bukan ceritanya yang diacuhkan, namun penuturnya yang diabaikan.
“Orang kaya itu akhirnya tidak bisa menggunakan kekayaannya untuk memenuhi keinginannya. Keinginan untuk membeli anak agar memiliki penerus hidup, sebab tidak menemukan penjual walau dengan harga seluruh kekayaan yang dimilikinya.”
Bagian cerita itu jarang didengar orang selain pemilik warung. Sebabnya ketika sampai pada bagian itu warung mulai sepi. Orang-orang sudah mulai khusuk melakoni kerjanya masing-masing. Tinggal pemilik warung yang setia menunggu para pekerja istirahat atau pulang kerja.
Bulan-bulan terakhir, warung lebih ramai dari biasanya. Bahkan ramai sepanjang hari. Para pekerja yang biasanya bekerja penuh, sebagian mulai bekerja paruh waktu. Beberapa di antaranya tampak sibuk memantau handpone yang dibawanya menunggu panggilan dipekerjakan kembali. Restoran dan kafe-kafe mewah, yang entah siapa pemiliknya, yang dulunya bak ketiban air terjun dari langit, kini mulai tandus dari kunjungan para turis. Akses-akses jalan yang baru dibuka banyak yang putus akibat hujan terus menerus. Mata-mata air lebih cepat tertidur ketika disapa awal kemarau. Pembangunan yang bersemangat belasan tahun itu kini tampak mulai menderita.
“Sumber kekayaan yang ditimbun akhirnya mengubur dua anak mereka. Jineng buuk, lumbung yang membusuk, menjadi sebuah petunjuk!”
Tiba-tiba seorang pengunjung mengucapkan kalimat yang pernah dia dengar dari kakek. Ya, kakek yang sering bercerita di warung itu. Tapi kakek tidak ada.
“Di mana, kakek? Apakah beliau sakit? Ataukah sudah tiada?” Pengunjung yang lain menyahut. Matanya memandang ke sudut-sudut warung.
“Entah berapa tahun kita tidak mendengar ceritanya lagi. Entah berapa tahun ceritanya itu kita abaikan. Lalu kita rindu mendengarkannya,” jawab yang lain.
“Kakek sudah tidak bercerita di warung ini lagi sejak delapan tahun lalu. Mungkin dia sibuk mengurus lima belas orang cucunya. Beberapa kali ibu lihat beliau mengajak cucu-cucunya mandi di pancuran sekian bulan yang lalu,” jawab pemilik warung.
“Syukurlah beliau masih sehat dan mampu menikmati sisa-sisa hidupnya.”
Pembicaraan kini mulai beralih, para pengunjung warung kini mencari versi lengkap alur cerita yang selalu dituturkan sang kakek. Ibu pemilik warung yang selalu berada dekat sang kakek sepanjang bercerita, tidak bisa membantu para pengunjung merangkai cerita itu dengan utuh.
“Ibu yang seharusnya mengetahui dengan utuh. Bukankah ibu selalu mendengarnya dari awal sampai akhir?”
Nada tinggi pengunjung membuat ibu pemilik warung menjawab dengan nada sama.
“Kalian mencari sesuatu yang kalian inginkan lalu melimpahkannya kepada orang lain! Apa salahnya ibu kalau tidak mendengarnya dengan utuh sama seperti kalian!” Nada kalimat yang melengking itu membuat para pengunjung langsung senyap. Mencuri pandang kepada pengunjung lain lalu segera beringsut meninggalkan warung.
Dua tiga orang yang beringsut terakhir, membayar kopinya dengan sebuah catatan yang sudah disediakan. Ibu pemilik warung tidak memedulikan mereka. Pikirannya mulai melayang jauh.
“Kalau sudah meninggal tentu semua orang tahu dan ikut mengantar ke peristirahatannya yang terakhir. Lalu kenapa beberapa bulan ini tidak pernah muncul?” kata ibu pemilik warung dalam hati.
Bergegas dia menutup warung. Membayangkan wajah si kakek tiba-tiba muncul di hadapannya, membuatnya mempercepat menutup pintu-pintu warungnya. Bulu kuduknya kompak berdiri. [T]
Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole



























