7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
in Cerpen
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan item yang mewakili ketidakmampuan finansial.

“Mas Darmuji, rencana Lebaran besuk, istri masak apa?”

“Sayur bening sama lele goreng!”

“Hanya itu?”

Ia mengangguk, memberi jawab.

“Bukankah Lebaran tahun-tahun kemarin memasak opor ayam sama ketupat?”

“Iya betul. Tapi melihat harga kebutuhan pokok yang cenderung naik, sepertinya ikat pinggang harus dikencangkan,” ucap Darmuji santai. “Kondisi lagi tidak punya uang lebih!”

“Masa’ sih, Mas?”

“Yah.” Hanya yah jawabnya. Senyumnya tampak lebar tanpa beban.

“Lebaran kan biasanya istimewa?”

“Sayur bening dan lele sudah istimewa. Itu merupakan kemewahan bagi kami!”

Aku tercekat. Ludah terasa tertahan di kerongkongan. Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Bukan keluhan, pun kepasrahan. Lebih seperti pengakuan yang jujur pada kenyataan.

Obrolan itu terjadi kala kami usai shalat tarawih. Di teras Masjid sambil menyeruput kopi.

“Pasti kamu merasakan, kondisi ekonomi enam tahun ke belakang sampai sekarang, belum sepenuhnya pulih. Kalau boleh dibilang, banyak orang merasa beban di pundaknya kok belum pindah, masih saja tertatih-tatih,” jelasnya.

Kepalaku terangkat melihat kerlip bintang jauh di sana, sedang otak berdenyut memikirkan omongannya.

Tahun ini memang berbeda.

Ekonomi dunia sudah melambat bahkan sebelum wabah datang. Ketika wabah benar-benar melanda, keadaan seperti bongkahan batu yang dilempar ke hamparan air, menimbulkan gelombang kerusakan yang menyebar ke mana-mana. Banyak usaha tumbang, pekerjaan hilang, pengangguran beranak-pinak. Keluarga yang dulunya merasa aman sebagai kelas menengah, tiba-tiba dipaksa terjun bebas dalam status sosial.

Termasuk keluarga Darmuji.

Aku mengenal keluarga itu sangat dekat. Dulu, Darmuji adalah orang yang sering dijadikan contoh keberhasilan di lingkungan kami. Usahanya berjalan baik. Rumahnya tidak mewah, tapi selalu tampak cukup. Anak-anaknya riang gembira, bersekolah tanpa perlu khawatir soal biaya. Setiap Lebaran, halaman rumahnya penuh dengan tamu. Di meja makan selalu ada opor ayam, ketupat, sambal goreng ati, emping, kerupuk udang. Di meja tamu berjejer beragam jajanan tradisional, kue-kue basah dan kering yang tertata di atas piring besar serta disusun rapi di toples.

“Ayo, dicicipi. Jangan hanya di lihat!” Darmuji bahkan sering memaksa. “Ini memang untuk dihabiskan. Ayolah!”

Tutup toples ia buka dan piring disorongkan. Kami dipaksa tunduk untuk mengudap. Beberapa dari kami bahkan mempunyai ingatan kuat. Kalau ingin merasakan hidangan yang menampar lidah, bertandanglah ke rumah Darmuji. Itu selalu tepat. Kue-kue yang selama ini belum pernah atau jarang kami rasakan, bisa dinikmati kala Lebaran di rumah Darmuji. Lambung kami bertepuk tangan menerima persembahan. Jangan khawatir kehabisan, karena Darmuji mempunyai stok lebih dari cukup.

“Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri!” pinta Darmuji.

Kami berlomba-lomba mengudap aneka hidangan yang jadi target incaran.

“Sungguh lezat!” batin kami.

Paras kegembiraan mengapung jelas karena kelimpahan di hadapan. Kue-kue itu kami gigit, mengulumnya di atas indra perasa sebelum lumer, memanjakan syaraf pengecap sembari bercerita.

Di kampung kami, tidak semua keluarga memenuhi kriteria keluarga sejahtera. Setengahnya penganut sekte melarat.

Darmuji selalu memperlakukan tamunya spesial. Dogma hidupnya telah tertulis, Perlakukan tamumu seperti saudaramu sendiri.

Dia bahkan ingat, siapa yang belum ia jumpai di kampung. “Kandar kok enggak kelihatan ya?”

“Anu, Mas. Dia baru ziarah ke makam orang tuanya di Karangnongko. Mungkin besuk baru pulang!”

Orang-orang sering berkata, “Hidup Darmuji enak!”

Barangkali dulu memang begitu.

Namun hidup memiliki cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa tidak ada yang benar-benar abadi. Hingga di suatu masa dipaksa menangkap petaka. Bola liar ketidakstabilan ekonomi menggelinding.

Usahanya mulai goyah ketika pasar sepi. Lalu wabah datang seperti pukulan terakhir dari pemegang sabuk kehidupan. Pesanan berhenti. Modal terkikis, kondisi kembang kempis. Tabungan dikuras, beberapa barang harus dijual agar usaha tidak langsung mati. Tapi kadang-kadang, seberapa pun keras seseorang bertahan, gelombang pasang yang terlalu kuat tetap akan menyeretnya.

Akhirnya usaha itu tutup layar.

Aku tahu betul betapa beratnya kehilangan sesuatu yang dibangun bertahun-tahun. Banyak orang yang runtuh hanya karena satu peristiwa seperti itu.

Namun yang membuatku heran adalah Darmuji tidak pernah terdengar mengeluh. Wajahnya tetap memancarkan senyum ketulusan. Hidupnya seperti tidak terguncang.  

“Dulu ketika kecil, aku pernah mengalami masa-masa yang lebih parah dari ini,” kata Darmuji. “Menurutku, kondisi saat ini belum seberapa!”

Ia mengerti tentang hidup. Jadi tidak menyalahkan keadaan, pun kepada pemerintah. Baginya, nasib merupakan teka-teki setiap individu.

“Kita tidak tahu, takdir mana yang akan kita pegang di beberapa detik ke depan,” katanya.

Pernah di suatu saat, aku bertanya, “Mas Darmuji, tidak merasa sedih?”

Ia tersenyum kecil.

“Sedih itu ada. Tapi hidup tidak berhenti hanya karena kita sedih. Dan, jangan kau tampakkan kesedihan di hadapan anak-anakmu,” ujarnya

Jawaban itu sederhana, tapi entah kenapa melekat kuat di pikiranku.

Dalam berbagai obrolan, Darmuji beberapa kali mengucapkan kata cobaan.

“Dikira Tuhan tidak akan memberi cobaan bagi hamba-hambanya? Tidak akan mungkin. Cobaan pasti akan datang menyambut sebagai tolak ukur ketaatan,” ucapnya tersenyum, “Aku hanya menyampaikan apa yang pernah aku ketahui. Jadi ketika itu datang, aku sudah siap!”

Darmuji memiliki tiga saudara. Semuanya tinggal di kota lain. Nasib mereka ternyata tidak jauh berbeda. Usaha yang dulu berjalan lancar, sekarang tersendat-sendat.

Tapi anehnya, keluarga itu justru semakin sering saling menghubungi. Tambah erat silaturahminya.

Mereka berbagi kabar cerita, bahkan kerap menebar cara bertahan dalam hempasan ombak. Tidak ada yang merasa paling menderita. Tidak ada juga yang merasa harus terlihat kuat sendirian. Mereka saling topang-menopang. Nur sifat (bisa bermanfaat bagi sesama).

Di rumahnya, Darmuji juga mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya.

Suatu saat, kala mereka makan sahur bersama. Menunya sederhana: nasi, tempe goreng, kerupuk dan kuah sup dengan sedikit isian.

Anak bungsunya sempat bertanya, “Pak, dulu kita sering makan dengan lauk lebih dari satu, juga sering makan di resto!”

Darmuji tertawa pelan.

“Dulu iya. Sekarang belum!”

“Kenapa?” tanyanya, “Apakah karena kita sekarang miskin?”

Darmuji tertawa terpingkal-pingkal. Air matanya menetes saking kaget oleh pertanyaan si bungsu. Kata miskin mirip bulu angsa yang menggelitik lubang telinga.

“Karena hidup itu kadang naik, kadang turun,” jawab Darmuji. Tangannya mengusap tetesan terakhir di wajah. Jejaknya membekas samar.

Anaknya terdiam sebentar.

“Kalau nanti kita punya uang lebih, kita bisa kembali seperti dulu lagi ya? Makan besar dan banyak?”

“Tentu saja,” jawab Darmuji. “Tapi kalau belum, kita tetap makan dengan syukur!”

Kalimat itu diucapkan tanpa nada menggurui. Hanya seorang bapak yang sedang menceritakan dongeng kehidupan.

“Anakku, di luar sana, masih banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kita, mereka kepayahan memenuhi kebutuhan dasar. Menangis kelaparan, perut meronta minta diisi. Sampai ada yang mempertaruhkan nyawa, berebut ransum gratisan walau hanya setangkup. Hidup kita masih sangat baik. Masih bisa makan layak!”

Percakapan tentang menu Lebaran belum beranjak dari belikat benakku. Memenuhi sisi kosong pikiran di antara banyak hal yang saling sikut.

Aku datang dengan bayangan lama di kepala: Lebaran identik dengan hidangan melimpah. Opor ayam, ketupat, rendang, kue-kue yang berjejer di meja tamu.

Namun di rumah Darmuji, yang akan hadir di meja makan hanyalah sayur bening dan lele goreng.

Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat seperti kemunduran.

Tapi ketika aku memikirkan cara Darmuji mengatakannya, “Sayur bening dan lele sudah merupakan kemewahan bagi kami”,  aku mulai melihat sesuatu yang bernilai.

Kemewahan ternyata tidak selalu soal banyaknya hidangan. Kadang kemewahan adalah masih bisa makan bersama keluarga serta memiliki rumah untuk pulang serta bersandar. Kemewahan juga dalam bentuk keberanian menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.

Ungkapan-ungkapan itu membuat pikiranku bak disayat pisau kesadaran.

Bagi keluarga Darmuji, Lebaran tahun ini memang tidak selengkap semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Tidak ada opor ayam, sambal goreng ati, tidak ada ketupat bertumpuk. Bahkan toples-toples berisi kue-kue beraneka ragam. Namun ada sesuatu yang mungkin lebih berharga dari semua itu.

Syukur dan ketabahan.

Di belahan tempat lain, banyak orang yang menjerit ketika hidup tidak lagi sesuai rencana. Gelisah berkepanjangan. Merasa dunia berakhir hanya karena kehilangan kenyamanan.

Tapi di sebuah rumah sederhana, seorang bapak sedang mengajari anak-anaknya sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar cara menikmati hidup.

Ia sedang menempa mereka bertahan hidup dengan marwah.

Dan aku sadar, mungkin justru itulah pelajaran terbesar dari Lebaran tahun ini. [T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | O Shiringul

Next Post

‘Butterfly Effect’, Teori Holistik, dan Peta Kesadaran

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
‘Butterfly Effect’, Teori Holistik, dan Peta Kesadaran

'Butterfly Effect', Teori Holistik, dan Peta Kesadaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co