6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
in Cerpen
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan item yang mewakili ketidakmampuan finansial.

“Mas Darmuji, rencana Lebaran besuk, istri masak apa?”

“Sayur bening sama lele goreng!”

“Hanya itu?”

Ia mengangguk, memberi jawab.

“Bukankah Lebaran tahun-tahun kemarin memasak opor ayam sama ketupat?”

“Iya betul. Tapi melihat harga kebutuhan pokok yang cenderung naik, sepertinya ikat pinggang harus dikencangkan,” ucap Darmuji santai. “Kondisi lagi tidak punya uang lebih!”

“Masa’ sih, Mas?”

“Yah.” Hanya yah jawabnya. Senyumnya tampak lebar tanpa beban.

“Lebaran kan biasanya istimewa?”

“Sayur bening dan lele sudah istimewa. Itu merupakan kemewahan bagi kami!”

Aku tercekat. Ludah terasa tertahan di kerongkongan. Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Bukan keluhan, pun kepasrahan. Lebih seperti pengakuan yang jujur pada kenyataan.

Obrolan itu terjadi kala kami usai shalat tarawih. Di teras Masjid sambil menyeruput kopi.

“Pasti kamu merasakan, kondisi ekonomi enam tahun ke belakang sampai sekarang, belum sepenuhnya pulih. Kalau boleh dibilang, banyak orang merasa beban di pundaknya kok belum pindah, masih saja tertatih-tatih,” jelasnya.

Kepalaku terangkat melihat kerlip bintang jauh di sana, sedang otak berdenyut memikirkan omongannya.

Tahun ini memang berbeda.

Ekonomi dunia sudah melambat bahkan sebelum wabah datang. Ketika wabah benar-benar melanda, keadaan seperti bongkahan batu yang dilempar ke hamparan air, menimbulkan gelombang kerusakan yang menyebar ke mana-mana. Banyak usaha tumbang, pekerjaan hilang, pengangguran beranak-pinak. Keluarga yang dulunya merasa aman sebagai kelas menengah, tiba-tiba dipaksa terjun bebas dalam status sosial.

Termasuk keluarga Darmuji.

Aku mengenal keluarga itu sangat dekat. Dulu, Darmuji adalah orang yang sering dijadikan contoh keberhasilan di lingkungan kami. Usahanya berjalan baik. Rumahnya tidak mewah, tapi selalu tampak cukup. Anak-anaknya riang gembira, bersekolah tanpa perlu khawatir soal biaya. Setiap Lebaran, halaman rumahnya penuh dengan tamu. Di meja makan selalu ada opor ayam, ketupat, sambal goreng ati, emping, kerupuk udang. Di meja tamu berjejer beragam jajanan tradisional, kue-kue basah dan kering yang tertata di atas piring besar serta disusun rapi di toples.

“Ayo, dicicipi. Jangan hanya di lihat!” Darmuji bahkan sering memaksa. “Ini memang untuk dihabiskan. Ayolah!”

Tutup toples ia buka dan piring disorongkan. Kami dipaksa tunduk untuk mengudap. Beberapa dari kami bahkan mempunyai ingatan kuat. Kalau ingin merasakan hidangan yang menampar lidah, bertandanglah ke rumah Darmuji. Itu selalu tepat. Kue-kue yang selama ini belum pernah atau jarang kami rasakan, bisa dinikmati kala Lebaran di rumah Darmuji. Lambung kami bertepuk tangan menerima persembahan. Jangan khawatir kehabisan, karena Darmuji mempunyai stok lebih dari cukup.

“Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri!” pinta Darmuji.

Kami berlomba-lomba mengudap aneka hidangan yang jadi target incaran.

“Sungguh lezat!” batin kami.

Paras kegembiraan mengapung jelas karena kelimpahan di hadapan. Kue-kue itu kami gigit, mengulumnya di atas indra perasa sebelum lumer, memanjakan syaraf pengecap sembari bercerita.

Di kampung kami, tidak semua keluarga memenuhi kriteria keluarga sejahtera. Setengahnya penganut sekte melarat.

Darmuji selalu memperlakukan tamunya spesial. Dogma hidupnya telah tertulis, Perlakukan tamumu seperti saudaramu sendiri.

Dia bahkan ingat, siapa yang belum ia jumpai di kampung. “Kandar kok enggak kelihatan ya?”

“Anu, Mas. Dia baru ziarah ke makam orang tuanya di Karangnongko. Mungkin besuk baru pulang!”

Orang-orang sering berkata, “Hidup Darmuji enak!”

Barangkali dulu memang begitu.

Namun hidup memiliki cara sendiri untuk mengingatkan manusia bahwa tidak ada yang benar-benar abadi. Hingga di suatu masa dipaksa menangkap petaka. Bola liar ketidakstabilan ekonomi menggelinding.

Usahanya mulai goyah ketika pasar sepi. Lalu wabah datang seperti pukulan terakhir dari pemegang sabuk kehidupan. Pesanan berhenti. Modal terkikis, kondisi kembang kempis. Tabungan dikuras, beberapa barang harus dijual agar usaha tidak langsung mati. Tapi kadang-kadang, seberapa pun keras seseorang bertahan, gelombang pasang yang terlalu kuat tetap akan menyeretnya.

Akhirnya usaha itu tutup layar.

Aku tahu betul betapa beratnya kehilangan sesuatu yang dibangun bertahun-tahun. Banyak orang yang runtuh hanya karena satu peristiwa seperti itu.

Namun yang membuatku heran adalah Darmuji tidak pernah terdengar mengeluh. Wajahnya tetap memancarkan senyum ketulusan. Hidupnya seperti tidak terguncang.  

“Dulu ketika kecil, aku pernah mengalami masa-masa yang lebih parah dari ini,” kata Darmuji. “Menurutku, kondisi saat ini belum seberapa!”

Ia mengerti tentang hidup. Jadi tidak menyalahkan keadaan, pun kepada pemerintah. Baginya, nasib merupakan teka-teki setiap individu.

“Kita tidak tahu, takdir mana yang akan kita pegang di beberapa detik ke depan,” katanya.

Pernah di suatu saat, aku bertanya, “Mas Darmuji, tidak merasa sedih?”

Ia tersenyum kecil.

“Sedih itu ada. Tapi hidup tidak berhenti hanya karena kita sedih. Dan, jangan kau tampakkan kesedihan di hadapan anak-anakmu,” ujarnya

Jawaban itu sederhana, tapi entah kenapa melekat kuat di pikiranku.

Dalam berbagai obrolan, Darmuji beberapa kali mengucapkan kata cobaan.

“Dikira Tuhan tidak akan memberi cobaan bagi hamba-hambanya? Tidak akan mungkin. Cobaan pasti akan datang menyambut sebagai tolak ukur ketaatan,” ucapnya tersenyum, “Aku hanya menyampaikan apa yang pernah aku ketahui. Jadi ketika itu datang, aku sudah siap!”

Darmuji memiliki tiga saudara. Semuanya tinggal di kota lain. Nasib mereka ternyata tidak jauh berbeda. Usaha yang dulu berjalan lancar, sekarang tersendat-sendat.

Tapi anehnya, keluarga itu justru semakin sering saling menghubungi. Tambah erat silaturahminya.

Mereka berbagi kabar cerita, bahkan kerap menebar cara bertahan dalam hempasan ombak. Tidak ada yang merasa paling menderita. Tidak ada juga yang merasa harus terlihat kuat sendirian. Mereka saling topang-menopang. Nur sifat (bisa bermanfaat bagi sesama).

Di rumahnya, Darmuji juga mengajarkan sesuatu kepada anak-anaknya.

Suatu saat, kala mereka makan sahur bersama. Menunya sederhana: nasi, tempe goreng, kerupuk dan kuah sup dengan sedikit isian.

Anak bungsunya sempat bertanya, “Pak, dulu kita sering makan dengan lauk lebih dari satu, juga sering makan di resto!”

Darmuji tertawa pelan.

“Dulu iya. Sekarang belum!”

“Kenapa?” tanyanya, “Apakah karena kita sekarang miskin?”

Darmuji tertawa terpingkal-pingkal. Air matanya menetes saking kaget oleh pertanyaan si bungsu. Kata miskin mirip bulu angsa yang menggelitik lubang telinga.

“Karena hidup itu kadang naik, kadang turun,” jawab Darmuji. Tangannya mengusap tetesan terakhir di wajah. Jejaknya membekas samar.

Anaknya terdiam sebentar.

“Kalau nanti kita punya uang lebih, kita bisa kembali seperti dulu lagi ya? Makan besar dan banyak?”

“Tentu saja,” jawab Darmuji. “Tapi kalau belum, kita tetap makan dengan syukur!”

Kalimat itu diucapkan tanpa nada menggurui. Hanya seorang bapak yang sedang menceritakan dongeng kehidupan.

“Anakku, di luar sana, masih banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung kita, mereka kepayahan memenuhi kebutuhan dasar. Menangis kelaparan, perut meronta minta diisi. Sampai ada yang mempertaruhkan nyawa, berebut ransum gratisan walau hanya setangkup. Hidup kita masih sangat baik. Masih bisa makan layak!”

Percakapan tentang menu Lebaran belum beranjak dari belikat benakku. Memenuhi sisi kosong pikiran di antara banyak hal yang saling sikut.

Aku datang dengan bayangan lama di kepala: Lebaran identik dengan hidangan melimpah. Opor ayam, ketupat, rendang, kue-kue yang berjejer di meja tamu.

Namun di rumah Darmuji, yang akan hadir di meja makan hanyalah sayur bening dan lele goreng.

Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat seperti kemunduran.

Tapi ketika aku memikirkan cara Darmuji mengatakannya, “Sayur bening dan lele sudah merupakan kemewahan bagi kami”,  aku mulai melihat sesuatu yang bernilai.

Kemewahan ternyata tidak selalu soal banyaknya hidangan. Kadang kemewahan adalah masih bisa makan bersama keluarga serta memiliki rumah untuk pulang serta bersandar. Kemewahan juga dalam bentuk keberanian menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.

Ungkapan-ungkapan itu membuat pikiranku bak disayat pisau kesadaran.

Bagi keluarga Darmuji, Lebaran tahun ini memang tidak selengkap semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Tidak ada opor ayam, sambal goreng ati, tidak ada ketupat bertumpuk. Bahkan toples-toples berisi kue-kue beraneka ragam. Namun ada sesuatu yang mungkin lebih berharga dari semua itu.

Syukur dan ketabahan.

Di belahan tempat lain, banyak orang yang menjerit ketika hidup tidak lagi sesuai rencana. Gelisah berkepanjangan. Merasa dunia berakhir hanya karena kehilangan kenyamanan.

Tapi di sebuah rumah sederhana, seorang bapak sedang mengajari anak-anaknya sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar cara menikmati hidup.

Ia sedang menempa mereka bertahan hidup dengan marwah.

Dan aku sadar, mungkin justru itulah pelajaran terbesar dari Lebaran tahun ini. [T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | O Shiringul

Next Post

‘Butterfly Effect’, Teori Holistik, dan Peta Kesadaran

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
‘Butterfly Effect’, Teori Holistik, dan Peta Kesadaran

'Butterfly Effect', Teori Holistik, dan Peta Kesadaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co