25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | O Shiringul

Sholihul Mubarok by Sholihul Mubarok
March 21, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Sholihul Mubarok  |  O Shiringul

Sholihul Mubarok

O SHIRINGUL

Shiringul, masuk dan duduk dekatku. Namamu bergetar di celah gigi, tertahan di langit-langit mulut. Lantai semen Xinjiang menyedot hangat tubuhmu sampai dasar; dingin menetap di tulang. Bekas kaki itu masih ada, garis kasar dari gang pengap Guangzhou. Di sana tulang mudaku retak tanpa suara. Cairan bening merayap ke urat dan membuat lenganku jinak. Aku terbaring di aspal Tiongkok Selatan, anak tercecer, nomor tanpa riwayat, tubuh yang menunggu diambil.

Tangan berseragam datang dari utara dan memungutku. Aku dibersihkan, dijahit, rambutku dipangkas pendek. Tianjin memberiku ranjang besi yang berderit tiap kali aku membalik badan, lampu putih yang menyala bahkan ketika kelopak mata ingin menutup. Luka dirapatkan, namaku dieja ulang, napasku diselaraskan dengan aba-aba. Aku berdiri di barisan pagi dengan punggung lurus dan rahang terkunci. Di bawah langit itu kau kehilangan panggilan lamamu, Shiringul; huruf-huruf yang dulu kau bisikkan padaku dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang terasa asing di lidah. Orang-orang tua berbicara setengah suara. Lidah mereka bergerak, tetapi bunyi berhenti di tenggorokan.

Aku percaya pada jarum yang menyatukan dagingku. Aku percaya pada tangan yang menahan darahku berhenti. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Kupikir tanah akan mengenali berat langkahku dari jauh. Oktober ternyata ruang pemeriksaan dengan meja logam dan kursi plastik yang dingin. Namaku dipanggil, lalu dipatahkan menjadi suku-suku kata yang tidak kukenal. Mataku dihitung. Napasku diukur panjang pendeknya. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Ketika aku melangkah melewatinya, suaramu tidak ikut serta; ia tertinggal di luar, menempel pada udara, tak bisa lagi kugigit atau kutelan.

Gresik, 12 Februari 2026

DI BAWAH DENGUNG

Sambutannya kursi besi yang dinginnya merambat ke punggung. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke telinga tanpa jeda. Waktu tidak bergerak; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan hingga napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang pernah kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain, dikosongkan dari asalnya. Lagu diputar sampai suaraku bergerak tanpa izin. Setiap kelopak mata jatuh, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, kabar tentang orang-orang yang hilang beredar singkat lalu padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar diam agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu terasa mengangkat kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan sebagai simpul. Masa lalu dipanggil untuk disangkal. Masa depan digantung di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus ke lantai tanpa melahirkan bayangan.

Gresik, 11 Februari 2026

O SAMARKAND

Samarkand, kota tua yang jauh dari sini, dengarlah. Dari lantai semen Xinjiang aku mengingatmu. Dingin merambat sampai ke tulang. Bekas kaki masih tertinggal dari gang pengap Guangzhou; di sana tulang mudaku retak tanpa suara, cairan bening mengalir ke urat dan membuat lenganku patuh. Aku tercecer di aspal Tiongkok Selatan sebelum tangan berseragam dari Tianjin memungutku dan menempatkanku di ruang terang yang tak pernah gelap sepenuhnya.

Namaku dirapikan. Rambutku dipotong pendek. Luka dijahit sampai tak terlihat bekasnya. Aku diberi ranjang besi dan jadwal bangun. Nafasku diselaraskan dengan aba-aba. Di dada orang-orang tua, kata Turkistan bergerak pelan lalu berhenti. Huruf lama dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang lebih mudah diatur. Suara-suara merendah, bukan karena lupa, melainkan karena takut didengar.

Aku pernah percaya pada tangan yang mengangkat tubuhku dari jalan. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Aku pulang tanpa curiga. Oktober membawaku ke ruang pemeriksaan. Namaku dipecah menjadi suku kata yang asing di telinga sendiri. Mataku dihitung. Napasku diukur. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Setelah melewatinya, aku mengerti: kota-kota tua hanya hidup dalam ingatan, sementara tubuh ini berdiri di ruang yang tak memantulkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

RUANG TANPA BAYANGAN

Sambutannya kursi besi. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke kepala tanpa celah. Waktu tidak berjalan; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan sampai napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain. Lagu partai diputar terus-menerus hingga suaraku ikut bergerak tanpa sadar. Setiap kelopak mata jatuh terlalu lama, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, nama Ilham Tohti beredar dalam bisik yang cepat padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar menahan bunyi agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu mengangkatku kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan. Masa lalu dipanggil untuk diakui lalu disangkal. Masa depan ditempel di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus dan tak menghasilkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

TANGISAN BISU

Shiringul, fajar di kamp ini pecah oleh rekaman azan. Suaranya bersih, terlalu bersih, keluar dari pengeras suara yang tergantung di sudut atap. Kami berdiri, tak satu pun bergerak. Denyut di leherku terasa keras. Setelah itu, suara bocah Kazakh diputar—ia memanggil ayahnya berulang-ulang sampai suaranya pecah. Tak ada anak di halaman. Tak ada ayah yang menjawab. Di ruangan ini, rindu duduk di dada dan tak bisa ditelan.

Kami dibagi dalam baris-baris tetap: yang dianggap taat, yang dicurigai, yang pernah pergi melintasi negeri. Pukul enam pagi, lagu partai keluar dari sistem suara dan menempel di dinding. Sebelum suapan pertama menyentuh lidah, kami diminta menyebut nama Xi Jinping dengan suara jelas. Nasi di mangkuk mengepul. Tak ada yang berbicara selain instruksi.

Di ruang kelas, lidahku bergerak kaku menghafal kalimat yang bukan milikku. Angka-angka ditulis di papan; agama disebut gangguan, iman disebut kesalahan berpikir. Guru berdiri tanpa ekspresi. Kapur berderit. Pinyin memenuhi papan tulis, huruf-hurufnya turun pelan ke kepala kami, menutup huruf lama yang dulu kupelajari dari ayah. Ketika bel berbunyi, tak ada yang berubah. Tangisan itu tetap ada, tetapi tak satu pun dari kami berani mengeluarkan suara.

Gresik, 12 Februari 2026

BALUTAN BESI

Sel nomor enam menampung dua puluh delapan orang. Udara berhenti bergerak. Aku tidur di samping toilet; ubin lembap menempel di punggung sampai pagi. Bau pesing tak lagi terasa asing. Kami belajar bernapas pendek agar cukup untuk semua.

Samarkand tidak diam. Ia melempar kasur tipis ke arah penjaga ketika ejekan terlalu sering diulang. Tak ada teriakan panjang. Hanya bunyi kasur jatuh dan tubuh yang segera diseret keluar. Setelah itu, sel menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Mereka menyebutnya pakaian besi. Logam berat mengikat lengan dan kaki, memaksa tubuh terbuka dan tak bisa dilipat. Dingin merayap pelan ke sendi. Beratnya menekan bahu hingga kepala jatuh ke dada. Dua belas jam terasa seperti batu yang diletakkan sedikit demi sedikit di atas tulang.

Ketika alat itu dilepas, lenganku gemetar tanpa suara. Aku tak lagi menatap mata penjaga. Perintah datang, dan tubuhku bergerak sebelum pikiranku menyusul. Di punggung, bekas gesekan meninggalkan garis gelap yang tak bisa kuusap hilang.

Shiringul, jika suatu hari kau mendengar kabar tentangku, ingatlah bahwa di ruang sempit ini tubuh bisa dijepit dan diluruskan paksa. Namun ada sesuatu yang tetap bersembunyi di balik napas. Mereka menyebut tempat ini sekolah. Di sini, manusia diajari cara berdiri tanpa nama.

Gresik, 12 Februari 2026

.

Penulis: Sholihul Mubarok
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla Rilis ‘I’m a Fire’, Langkah Baru Tegaskan Energi dan Eksistensi

Next Post

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sholihul Mubarok

Sholihul Mubarok

Lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co