5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | O Shiringul

Sholihul Mubarok by Sholihul Mubarok
March 21, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Sholihul Mubarok  |  O Shiringul

Sholihul Mubarok

O SHIRINGUL

Shiringul, masuk dan duduk dekatku. Namamu bergetar di celah gigi, tertahan di langit-langit mulut. Lantai semen Xinjiang menyedot hangat tubuhmu sampai dasar; dingin menetap di tulang. Bekas kaki itu masih ada, garis kasar dari gang pengap Guangzhou. Di sana tulang mudaku retak tanpa suara. Cairan bening merayap ke urat dan membuat lenganku jinak. Aku terbaring di aspal Tiongkok Selatan, anak tercecer, nomor tanpa riwayat, tubuh yang menunggu diambil.

Tangan berseragam datang dari utara dan memungutku. Aku dibersihkan, dijahit, rambutku dipangkas pendek. Tianjin memberiku ranjang besi yang berderit tiap kali aku membalik badan, lampu putih yang menyala bahkan ketika kelopak mata ingin menutup. Luka dirapatkan, namaku dieja ulang, napasku diselaraskan dengan aba-aba. Aku berdiri di barisan pagi dengan punggung lurus dan rahang terkunci. Di bawah langit itu kau kehilangan panggilan lamamu, Shiringul; huruf-huruf yang dulu kau bisikkan padaku dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang terasa asing di lidah. Orang-orang tua berbicara setengah suara. Lidah mereka bergerak, tetapi bunyi berhenti di tenggorokan.

Aku percaya pada jarum yang menyatukan dagingku. Aku percaya pada tangan yang menahan darahku berhenti. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Kupikir tanah akan mengenali berat langkahku dari jauh. Oktober ternyata ruang pemeriksaan dengan meja logam dan kursi plastik yang dingin. Namaku dipanggil, lalu dipatahkan menjadi suku-suku kata yang tidak kukenal. Mataku dihitung. Napasku diukur panjang pendeknya. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Ketika aku melangkah melewatinya, suaramu tidak ikut serta; ia tertinggal di luar, menempel pada udara, tak bisa lagi kugigit atau kutelan.

Gresik, 12 Februari 2026

DI BAWAH DENGUNG

Sambutannya kursi besi yang dinginnya merambat ke punggung. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke telinga tanpa jeda. Waktu tidak bergerak; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan hingga napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang pernah kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain, dikosongkan dari asalnya. Lagu diputar sampai suaraku bergerak tanpa izin. Setiap kelopak mata jatuh, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, kabar tentang orang-orang yang hilang beredar singkat lalu padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar diam agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu terasa mengangkat kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan sebagai simpul. Masa lalu dipanggil untuk disangkal. Masa depan digantung di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus ke lantai tanpa melahirkan bayangan.

Gresik, 11 Februari 2026

O SAMARKAND

Samarkand, kota tua yang jauh dari sini, dengarlah. Dari lantai semen Xinjiang aku mengingatmu. Dingin merambat sampai ke tulang. Bekas kaki masih tertinggal dari gang pengap Guangzhou; di sana tulang mudaku retak tanpa suara, cairan bening mengalir ke urat dan membuat lenganku patuh. Aku tercecer di aspal Tiongkok Selatan sebelum tangan berseragam dari Tianjin memungutku dan menempatkanku di ruang terang yang tak pernah gelap sepenuhnya.

Namaku dirapikan. Rambutku dipotong pendek. Luka dijahit sampai tak terlihat bekasnya. Aku diberi ranjang besi dan jadwal bangun. Nafasku diselaraskan dengan aba-aba. Di dada orang-orang tua, kata Turkistan bergerak pelan lalu berhenti. Huruf lama dicabut dari dinding dan diganti huruf lain yang lebih mudah diatur. Suara-suara merendah, bukan karena lupa, melainkan karena takut didengar.

Aku pernah percaya pada tangan yang mengangkat tubuhku dari jalan. Dari Kazakhstan kubawa debu kerja yang masih menempel di sela kuku. Aku pulang tanpa curiga. Oktober membawaku ke ruang pemeriksaan. Namaku dipecah menjadi suku kata yang asing di telinga sendiri. Mataku dihitung. Napasku diukur. Ada pintu tanpa gagang di sisi dalam. Setelah melewatinya, aku mengerti: kota-kota tua hanya hidup dalam ingatan, sementara tubuh ini berdiri di ruang yang tak memantulkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

RUANG TANPA BAYANGAN

Sambutannya kursi besi. Lampu neon menyala tanpa henti. Tujuh puluh dua jam aku duduk; bayanganku hilang dari lantai. Dengung listrik menekan pelipis. Nama Xi Jinping diputar berulang melalui pengeras suara, datar dan keras, masuk ke kepala tanpa celah. Waktu tidak berjalan; ia menumpuk di tengkuk sampai rahangku kaku.

Perintah turun tanpa wajah. Telapak tanganku dibuka di atas meja logam, keningku ditekan sampai napas memantul kembali ke dada. Doa-doa yang kuhafal diminta keluar satu per satu, ditulis ulang dengan ejaan lain. Lagu partai diputar terus-menerus hingga suaraku ikut bergerak tanpa sadar. Setiap kelopak mata jatuh terlalu lama, meja diketuk, tubuhku ditegakkan lagi.

Di luar tembok, nama Ilham Tohti beredar dalam bisik yang cepat padam. Di dalam ruangan ini, identitas kusimpan di balik gigi; lidah belajar menahan bunyi agar tubuh tetap utuh. Tangan yang dulu mengangkatku kini berdiri sebagai pagar besi, rapat dan dingin.

Bantuan mengencang di pergelangan. Masa lalu dipanggil untuk diakui lalu disangkal. Masa depan ditempel di papan tulis bersama jadwal hafalan dan baris-baris janji. Mereka menyebutnya sekolah. Di ruang ini, cahaya jatuh lurus dan tak menghasilkan bayangan.

Gresik, 12 Februari 2026

TANGISAN BISU

Shiringul, fajar di kamp ini pecah oleh rekaman azan. Suaranya bersih, terlalu bersih, keluar dari pengeras suara yang tergantung di sudut atap. Kami berdiri, tak satu pun bergerak. Denyut di leherku terasa keras. Setelah itu, suara bocah Kazakh diputar—ia memanggil ayahnya berulang-ulang sampai suaranya pecah. Tak ada anak di halaman. Tak ada ayah yang menjawab. Di ruangan ini, rindu duduk di dada dan tak bisa ditelan.

Kami dibagi dalam baris-baris tetap: yang dianggap taat, yang dicurigai, yang pernah pergi melintasi negeri. Pukul enam pagi, lagu partai keluar dari sistem suara dan menempel di dinding. Sebelum suapan pertama menyentuh lidah, kami diminta menyebut nama Xi Jinping dengan suara jelas. Nasi di mangkuk mengepul. Tak ada yang berbicara selain instruksi.

Di ruang kelas, lidahku bergerak kaku menghafal kalimat yang bukan milikku. Angka-angka ditulis di papan; agama disebut gangguan, iman disebut kesalahan berpikir. Guru berdiri tanpa ekspresi. Kapur berderit. Pinyin memenuhi papan tulis, huruf-hurufnya turun pelan ke kepala kami, menutup huruf lama yang dulu kupelajari dari ayah. Ketika bel berbunyi, tak ada yang berubah. Tangisan itu tetap ada, tetapi tak satu pun dari kami berani mengeluarkan suara.

Gresik, 12 Februari 2026

BALUTAN BESI

Sel nomor enam menampung dua puluh delapan orang. Udara berhenti bergerak. Aku tidur di samping toilet; ubin lembap menempel di punggung sampai pagi. Bau pesing tak lagi terasa asing. Kami belajar bernapas pendek agar cukup untuk semua.

Samarkand tidak diam. Ia melempar kasur tipis ke arah penjaga ketika ejekan terlalu sering diulang. Tak ada teriakan panjang. Hanya bunyi kasur jatuh dan tubuh yang segera diseret keluar. Setelah itu, sel menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.

Mereka menyebutnya pakaian besi. Logam berat mengikat lengan dan kaki, memaksa tubuh terbuka dan tak bisa dilipat. Dingin merayap pelan ke sendi. Beratnya menekan bahu hingga kepala jatuh ke dada. Dua belas jam terasa seperti batu yang diletakkan sedikit demi sedikit di atas tulang.

Ketika alat itu dilepas, lenganku gemetar tanpa suara. Aku tak lagi menatap mata penjaga. Perintah datang, dan tubuhku bergerak sebelum pikiranku menyusul. Di punggung, bekas gesekan meninggalkan garis gelap yang tak bisa kuusap hilang.

Shiringul, jika suatu hari kau mendengar kabar tentangku, ingatlah bahwa di ruang sempit ini tubuh bisa dijepit dan diluruskan paksa. Namun ada sesuatu yang tetap bersembunyi di balik napas. Mereka menyebut tempat ini sekolah. Di sini, manusia diajari cara berdiri tanpa nama.

Gresik, 12 Februari 2026

.

Penulis: Sholihul Mubarok
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Filla Rilis ‘I’m a Fire’, Langkah Baru Tegaskan Energi dan Eksistensi

Next Post

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sholihul Mubarok

Sholihul Mubarok

Lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra daring dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube

Related Posts

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails
Next Post
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co