2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Chusmeru by Chusmeru
August 3, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

TAMPAKNYA tren berwisata secara berombongan atau grup besar mulai ditinggalkan secara perlahan. Hal ini terjadi seiring dengan perubahan profil dan motivasi wisatawan. Berwisata kini lebih bersifat personal ketimbang massal. Mucullah soft travel sebagai konsep baru dalam berwisata.

Soft travel merujuk pada gaya perjalanan yang lebih santai, ramah lingkungan, dan berfokus pada pengalaman yang mendalam, bukan hanya sekadar menikmati tempat-tempat wisata terkenal. Pada dasarnya, soft travel mengedepankan kualitas pengalaman, bukan kuantitas tempat yang dikunjungi.

Umumnya, wisatawan dari negara-negara dengan kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu keberlanjutan dan budaya lokal cenderung lebih tertarik pada soft travel. Banyak wisatawan dari Jerman mencari pengalaman perjalanan yang berfokus pada keberlanjutan, ekowisata, dan menghormati budaya lokal. Jerman memiliki budaya perjalanan yang sangat memperhatikan dampak lingkungan dan sosial, sehingga banyak yang tertarik dengan konsep soft travel (David Weaver, 2001).

Wisatawan Belanda dikenal sering mengutamakan keberlanjutan dalam perjalanan mereka. Negara ini memiliki tingkat kesadaran lingkungan yang tinggi. Saat ini tidak sedikit wisatawan Belanda memilih untuk menghindari pariwisata massal serta lebih suka berinteraksi dengan masyarakat lokal dan menikmati perjalanan yang lebih tenang.

Negara lain yang wisatawannya lebih menyukai soft travel adalah Swedia, Denmark, Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Faktor pendidikan dan kesadaran lingkungan yang tinggi menjadikan soft travel menjadi alternatif baru dalam berwisata.

Indonesia, meski tak sebanyak wisatawan negara lain, mulai melirik soft travel juga. Indonesia, dengan keanekaragaman alam dan budaya yang luar biasa, menawarkan banyak destinasi soft travel yang sangat cocok untuk wisatawan yang mencari pengalaman lebih autentik, personal, ramah lingkungan, dan berkualitas.

Bali memiliki Ubud dan beberapa danau serta air terjun yang masih alami di Buleleng. Ubud dikenal dengan suasananya yang tenang, sawah terasering yang hijau, dan budaya Bali yang beragam. Sedangkan Buleleng memiliki alam yang indah dan masih asri, karena belum tersentuh banyak wisatawan.

Lombok memiliki Senggigi, Desa Sade, dan Gili Meno. Lombok merupakan destinasi yang lebih tenang dibandingkan Bali dan lebih dikenal dengan keindahan alamnya yang masih alami. Wisatawan dapat menikmati pantai yang indah, budaya Sasak yang otentik, dan keindahan alam seperti Gunung Rinjani dan Gili Meno. Lombok menawarkan pengalaman pariwisata yang lebih ramah lingkungan dan berfokus pada keberlanjutan.

Beberapa destinasi lain yang cocok untuk soft travel di Indonesia adalah Danau Toba, Sumatera Utara; Bromo, Jawa Timur; Wakatobi, Sulawesi Tenggara; Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur; Bunaken, Sulawesi Utara; dan tentunya Raja Ampat, Papua Barat. Semua destinasi itu memiliki produk wisata yang cocok untuk berwisata secara personal, berkualitas, dan berkelanjutan.

Kesadaran Berwisata

Banyak wisatawan kini semakin sadar akan dampak lingkungan dari pariwisata massal, seperti polusi, kerusakan ekosistem, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Soft travel menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dengan fokus pada keberlanjutan. Kesadaran berwisata menjadi salah satu faktor berkembangnya soft travel.

Wisatawan kini banyak yang memilih menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki di destinasi wisata daripada menggunakan kendaraan pribadi. Pilihan menginap wisatawan adalah akomodasi yang ramah lingkungan, seperti hotel dengan sertifikasi “hijau”.

Kesadaran berwisata mendorong wisatawan untuk merasakan sisi lain dari sebuah destinasi, jauh dari keramaian tempat wisata populer. Wisatawan memilih untuk mengunjungi desa-desa kecil, berpartisipasi dalam festival lokal, atau belajar keterampilan tradisional dari penduduk setempat.

Banyak wisatawan merasa bosan dengan pengalaman pariwisata yang terlalu komersial atau objek wisata yang sarat pengunjung. Tumbuh kesadaran berwisata dengan mencari pengalaman yang lebih mendalam dan autentik, seperti berinteraksi dengan masyarakat lokal, menikmati kuliner khas daerah, atau mengikuti kegiatan berbasis tradisi lokal.

Berwisata juga merupakan bentuk kesadaran baru untuk mengurangi stres dan menjaga kesejahteraan. Soft travel menjadi perjalanan dengan pengalaman yang lebih santai dan menenangkan. Perjalanan semacam ini seringkali lebih lambat, sehingga memungkinkan wisatawan untuk menikmati waktu tanpa terburu-buru, seperti dalam perjalanan hiking, meditasi, atau mengunjungi spa yang berbasis alam.

Sisi Positif

Belajar dari pengalaman pariwisata massal, seringkali berdampak negatif pada masyarakat lokal, seperti kesenjangan ekonomi atau perilaku wisatawan yang brutal. Soft travel memberi sisi positif pada manfaat ekonomi yang lebih merata untuk masyarakat lokal, dan berusaha untuk menghormati dan melestarikan budaya. Wisatawan memilih untuk bermalam di penginapan milik keluarga lokal atau membeli produk kerajinan tangan dari perajin lokal.

Pengalaman yang lebih personal merupakan keunggulan sekaligus sisi positif dari soft travel.  Wisatawan  cenderung mencari pengalaman yang lebih unik dan tidak biasa, seperti mengunjungi desa kecil, menikmati masakan lokal, atau terlibat dalam kegiatan berbasis komunitas.

Soft travel lebih mengutamakan perjalanan yang tidak tergesa-gesa. Hal ini  memungkinkan wisatawan untuk menikmati momen, bersantai, dan menikmati perjalanan tanpa tekanan waktu. Apalagi bila motivasi wisatawan memang mencari ketenangan, bukan larut dalam kehebohan destinasi wisata massal.

Gejala overtourism yang melanda beberapa negara, termasuk Indonesia, membuat soft travel menjadi alternatif untuk mengurangi tekanan pada destinasi populer. Wisatawan ditawarkan objek-objek wisata yang belum dikenal atau belum banyak dikunjungi wisatawan. Sementara destinasi populer”istirahat” sejenak untuk melakukan pembenahan.

Meski demikian, patut pula diperhitungkan sisi negatif soft travel. Objek wisata yang ada di desa suatu ketika juga akan menjadi padat pengunjung jika terus didatangi. Perlu strategi pengembangan pariwisata agar masayarakat tidak tergantung pada sektor pariwisata di desa.

Satu hal yang perlu diwaspadai oleh wisatawan adalah munculnya praktik greenwashing dalam pariwisata, yaitu praktik pemasaran wisata yang menyesatkan. Pengelola bisnis pariwisata mengklaim produk wisata mereka ramah lingkungan atau berkelanjutan. Padahal mereka tidak memiliki pengelolaan limbah yang baik.

Oleh karena itu, selain kesadaran berwisata diperlukan pula kecerdasan dalam berwisata. Iklan dan promosi tentang objek wisata yang disebut “tersembunyi”, namun dalam kenyataannya ramai dikunjungi. Maka, waspadalah dalam berwisata. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Destinasi Bikin Kapok, Alarm bagi Industri Pariwisata
“Micro Tourism”: Berwisata Demi Efisiensi
Promosi Produk Wisata Manipulatif, Bisa Saja
“Noctourism”: Berwisata Sambil Begadang
“Storynomics Tourism”: Tutur Cerita dalam Wisata
“Study Tour”, Bukan Remah-Remah dalam Pariwisata
Tags: Pariwisatawisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Next Post

HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

HERBALOVA, Mendokumentasikan Tanaman Obat Tradisional di Desa Guwang-Sukawati dengan Metoda Scanografi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co