3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Wayan Paing by Wayan Paing
August 3, 2025
in Cerpen
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SUDUT kanan warung dekat dinding bambu menjadi tempat pavoritnya. Setiap hari dia selalu ada di sana. Kursi kayu usang dan tidak lengkap menjadi tempat satu-satunya yang tidak pernah diduduki pelanggan lain. Kedatangannya di pagi hari sekitar jam setengah enam. Entah warung sudah buka atau belum, dia selalu datang tepat waktu. Sorenya datang lagi setiap jam lima. Napasnya dihela dua kali setelah duduk lalu dimulailah certanya. Cerita yang entah untuk siapa, tidak ada upaya memaksa orang yang lalu-lalang di sana untuk mendengarkannya.

Sebelum ceritanya selesai, orang-orang segera beranjak pergi meninggalkan warung itu. Urusannya sudah selesai dan buru-buru untuk urusan lain, merasa bising mendengar cerita yang terus berulang, merasa tidak berminat atau bahkan terganggu, serta alasan lainnya yang tidak pasti dapat diterka. Hanya satu orang yang tidak mau meninggalkan warung itu walau merasa risih. Walau bosan mendengar cerita berulang sang kakek, ibu pemilik warung tentu tidak akan meninggalkan warung miliknya.

Seolah tidak terpengaruh dengan reaksi pendengarnya, dia tidak menunjukkan rasa bosan untuk mengulang dan mengulang lagi ceritanya. Sebagian pendengarnya beranggapan sang kakek mengalami gangguang jiwa akibat terlalu lama menggeluti hidupnya yang monoton. Sebagian lainnya merasa iba karena menganggapnya tidak diperhatikan oleh keluarganya.

“Hidupnya yang sendiri setelah ditinggalkan istri tercintanya puluhan tahun lalu mungkin mengguncang jiwa dan membuatnya seperti ini,” kata seorang pengunjung kepada pemilik warung saat menerima uang kembalian.

“Sepertinya tidak demikian. Anak, menantu, dan belasan cucunya datang silih berganti datang kemari untuk menjemputnya pulang. Saat usaha membujuknya pulang gagal, malah ditemaninya ngobrol,” jawab pemilik warung membantah pernyataan pelanggannya itu.

“Bisa jadi beliau terlalu bising melihat turis-turis yang datang silih berganti untuk berswafoto di dusun kita,” sahut seorang pegawai restoran yang baru pulang kerja.

Pakaian kerja yang dikenakannya menunjukkan dia pegawai restoran mewah yang baru dibangun oleh investor kaya yang entah dari mana. Bangunan termewah yang ada di dusun itu saat ini, entah kapan bangunan wah lainnya akan menyusul. Bangunan yang sering digunjingkan masalah regulasi, tata ruang, pajak, dan kontribusi tenaga kerjanya. Digunjingkan di warung-warung, di pinggir-pinggir jalan, dan pangkalan-pangkalan ojek. Pembicaraan yang menyerupai angin, terkadang kencang terkadang reda, namun tak terlihat wujudnya. Tidak ada yang mau menjelaskan seolah sengaja dibiarkan agar tidak dipahami umum.

“Apa mungkin beliau jatuh cinta kepada salah seorang turis yang pernah berkunjung, namun tidak dilihatnya lagi? Patah hati di usia senja!” Langsung saja anggapan karyawan restoran itu disambar oleh pengunjung lain. Lalu bersama-sama tertawa melepaskan kelucuan yang mengembung di perutnya masing-masing.

Dan begitulah, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun cerita kakek tua itu tidak pernah putus. Beberapa orang bahkan bosan untuk bosan lalu menerimanya dengan tidak merisaukannya lagi. Terkadang, beberapa turis yang disesatkan oleh google maps dan terdampar di warung dekat pemandian umum itu, terlihat serius mendengarkan cerita sang kakek. Wajahnya tampak serius mengikuti alur cerita sang kakek, walau tidak dimengerti, terlihat ada pengikat bagi mereka untuk serius atau setidaknya mencoba terlihat serius menjadi pendengar yang baik. Usaha bertanya kepada pemilik atau pengunjung warung yang ikut tampak serius mendengarkan pertanyaan sang turis yang tidak mereka mengerti lalu dijawab dengan tersenyum dan tertawa bersama.

“Dahulu ada dua orang anak yang mati dan membusuk di lumbung ucu¹) milik orang kaya di kampung ini!”

Itu merupakan kalimat awal cerita sang kakek. Sebagian masyarakat terutama yang senior, bahasa untuk menyebut masyarakat yang sudah berumur, menerima cerita itu sebagai sebuah cerita yang sering di dengar secara turun temurun. Cerita yang melegenda dan menjadi nama sebuah tempat di dusun ini. Akan tetapi, cerita yang diulang-ulang menjadikan mereka mulai mengacuhkan keseriusan cerita tersebut. Bukan ceritanya yang diacuhkan, namun penuturnya yang diabaikan.

“Orang kaya itu akhirnya tidak bisa menggunakan kekayaannya untuk memenuhi keinginannya. Keinginan untuk membeli anak agar memiliki penerus hidup, sebab tidak menemukan penjual walau dengan harga seluruh kekayaan yang dimilikinya.”

Bagian cerita itu jarang didengar orang selain pemilik warung. Sebabnya ketika sampai pada bagian itu warung mulai sepi. Orang-orang sudah mulai khusuk melakoni kerjanya masing-masing. Tinggal pemilik warung yang setia menunggu para pekerja istirahat atau pulang kerja.

Bulan-bulan terakhir, warung lebih ramai dari biasanya. Bahkan ramai sepanjang hari. Para pekerja yang biasanya bekerja penuh, sebagian mulai bekerja paruh waktu. Beberapa di antaranya tampak sibuk memantau handpone yang dibawanya menunggu panggilan dipekerjakan kembali. Restoran dan kafe-kafe mewah, yang entah siapa pemiliknya, yang dulunya bak ketiban air terjun dari langit, kini mulai tandus dari kunjungan para turis. Akses-akses jalan yang baru dibuka banyak yang putus akibat hujan terus menerus. Mata-mata air lebih cepat tertidur ketika disapa awal kemarau. Pembangunan yang bersemangat belasan tahun itu kini tampak mulai menderita.

“Sumber kekayaan yang ditimbun akhirnya mengubur dua anak mereka. Jineng buuk, lumbung yang membusuk, menjadi sebuah petunjuk!”

Tiba-tiba seorang pengunjung mengucapkan kalimat yang pernah dia dengar dari kakek. Ya, kakek yang sering bercerita di warung itu. Tapi kakek tidak ada.

“Di mana, kakek? Apakah beliau sakit? Ataukah sudah tiada?” Pengunjung yang lain menyahut. Matanya memandang ke sudut-sudut warung.

“Entah berapa tahun kita tidak mendengar ceritanya lagi. Entah berapa tahun ceritanya itu kita abaikan. Lalu kita rindu mendengarkannya,” jawab yang lain.

“Kakek sudah tidak bercerita di warung ini lagi sejak delapan tahun lalu. Mungkin dia sibuk mengurus lima belas orang cucunya. Beberapa kali ibu lihat beliau mengajak cucu-cucunya mandi di pancuran sekian bulan yang lalu,” jawab pemilik warung.

“Syukurlah beliau masih sehat dan mampu menikmati sisa-sisa hidupnya.”

Pembicaraan kini mulai beralih, para pengunjung warung kini mencari versi lengkap alur cerita yang selalu dituturkan sang kakek. Ibu pemilik warung yang selalu berada dekat sang kakek sepanjang bercerita, tidak bisa membantu para pengunjung merangkai cerita itu dengan utuh.

“Ibu yang seharusnya mengetahui dengan utuh. Bukankah ibu selalu mendengarnya dari awal sampai akhir?”

Nada tinggi pengunjung membuat ibu pemilik warung menjawab dengan nada sama.

“Kalian mencari sesuatu yang kalian inginkan lalu melimpahkannya kepada orang lain! Apa salahnya ibu kalau tidak mendengarnya dengan utuh sama seperti kalian!” Nada kalimat yang melengking itu membuat para pengunjung langsung senyap. Mencuri pandang kepada pengunjung lain lalu segera beringsut meninggalkan warung.

Dua tiga orang yang beringsut terakhir, membayar kopinya dengan sebuah catatan yang sudah disediakan. Ibu pemilik warung tidak memedulikan mereka. Pikirannya mulai melayang jauh.

“Kalau sudah meninggal tentu semua orang tahu dan ikut mengantar ke peristirahatannya yang terakhir. Lalu kenapa beberapa bulan ini tidak pernah muncul?” kata ibu pemilik warung dalam hati.

Bergegas dia menutup warung. Membayangkan wajah si kakek tiba-tiba muncul di hadapannya, membuatnya mempercepat menutup pintu-pintu warungnya. Bulu kuduknya kompak berdiri. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Next Post

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co