23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Wayan Paing by Wayan Paing
August 3, 2025
in Cerpen
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SUDUT kanan warung dekat dinding bambu menjadi tempat pavoritnya. Setiap hari dia selalu ada di sana. Kursi kayu usang dan tidak lengkap menjadi tempat satu-satunya yang tidak pernah diduduki pelanggan lain. Kedatangannya di pagi hari sekitar jam setengah enam. Entah warung sudah buka atau belum, dia selalu datang tepat waktu. Sorenya datang lagi setiap jam lima. Napasnya dihela dua kali setelah duduk lalu dimulailah certanya. Cerita yang entah untuk siapa, tidak ada upaya memaksa orang yang lalu-lalang di sana untuk mendengarkannya.

Sebelum ceritanya selesai, orang-orang segera beranjak pergi meninggalkan warung itu. Urusannya sudah selesai dan buru-buru untuk urusan lain, merasa bising mendengar cerita yang terus berulang, merasa tidak berminat atau bahkan terganggu, serta alasan lainnya yang tidak pasti dapat diterka. Hanya satu orang yang tidak mau meninggalkan warung itu walau merasa risih. Walau bosan mendengar cerita berulang sang kakek, ibu pemilik warung tentu tidak akan meninggalkan warung miliknya.

Seolah tidak terpengaruh dengan reaksi pendengarnya, dia tidak menunjukkan rasa bosan untuk mengulang dan mengulang lagi ceritanya. Sebagian pendengarnya beranggapan sang kakek mengalami gangguang jiwa akibat terlalu lama menggeluti hidupnya yang monoton. Sebagian lainnya merasa iba karena menganggapnya tidak diperhatikan oleh keluarganya.

“Hidupnya yang sendiri setelah ditinggalkan istri tercintanya puluhan tahun lalu mungkin mengguncang jiwa dan membuatnya seperti ini,” kata seorang pengunjung kepada pemilik warung saat menerima uang kembalian.

“Sepertinya tidak demikian. Anak, menantu, dan belasan cucunya datang silih berganti datang kemari untuk menjemputnya pulang. Saat usaha membujuknya pulang gagal, malah ditemaninya ngobrol,” jawab pemilik warung membantah pernyataan pelanggannya itu.

“Bisa jadi beliau terlalu bising melihat turis-turis yang datang silih berganti untuk berswafoto di dusun kita,” sahut seorang pegawai restoran yang baru pulang kerja.

Pakaian kerja yang dikenakannya menunjukkan dia pegawai restoran mewah yang baru dibangun oleh investor kaya yang entah dari mana. Bangunan termewah yang ada di dusun itu saat ini, entah kapan bangunan wah lainnya akan menyusul. Bangunan yang sering digunjingkan masalah regulasi, tata ruang, pajak, dan kontribusi tenaga kerjanya. Digunjingkan di warung-warung, di pinggir-pinggir jalan, dan pangkalan-pangkalan ojek. Pembicaraan yang menyerupai angin, terkadang kencang terkadang reda, namun tak terlihat wujudnya. Tidak ada yang mau menjelaskan seolah sengaja dibiarkan agar tidak dipahami umum.

“Apa mungkin beliau jatuh cinta kepada salah seorang turis yang pernah berkunjung, namun tidak dilihatnya lagi? Patah hati di usia senja!” Langsung saja anggapan karyawan restoran itu disambar oleh pengunjung lain. Lalu bersama-sama tertawa melepaskan kelucuan yang mengembung di perutnya masing-masing.

Dan begitulah, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun cerita kakek tua itu tidak pernah putus. Beberapa orang bahkan bosan untuk bosan lalu menerimanya dengan tidak merisaukannya lagi. Terkadang, beberapa turis yang disesatkan oleh google maps dan terdampar di warung dekat pemandian umum itu, terlihat serius mendengarkan cerita sang kakek. Wajahnya tampak serius mengikuti alur cerita sang kakek, walau tidak dimengerti, terlihat ada pengikat bagi mereka untuk serius atau setidaknya mencoba terlihat serius menjadi pendengar yang baik. Usaha bertanya kepada pemilik atau pengunjung warung yang ikut tampak serius mendengarkan pertanyaan sang turis yang tidak mereka mengerti lalu dijawab dengan tersenyum dan tertawa bersama.

“Dahulu ada dua orang anak yang mati dan membusuk di lumbung ucu¹) milik orang kaya di kampung ini!”

Itu merupakan kalimat awal cerita sang kakek. Sebagian masyarakat terutama yang senior, bahasa untuk menyebut masyarakat yang sudah berumur, menerima cerita itu sebagai sebuah cerita yang sering di dengar secara turun temurun. Cerita yang melegenda dan menjadi nama sebuah tempat di dusun ini. Akan tetapi, cerita yang diulang-ulang menjadikan mereka mulai mengacuhkan keseriusan cerita tersebut. Bukan ceritanya yang diacuhkan, namun penuturnya yang diabaikan.

“Orang kaya itu akhirnya tidak bisa menggunakan kekayaannya untuk memenuhi keinginannya. Keinginan untuk membeli anak agar memiliki penerus hidup, sebab tidak menemukan penjual walau dengan harga seluruh kekayaan yang dimilikinya.”

Bagian cerita itu jarang didengar orang selain pemilik warung. Sebabnya ketika sampai pada bagian itu warung mulai sepi. Orang-orang sudah mulai khusuk melakoni kerjanya masing-masing. Tinggal pemilik warung yang setia menunggu para pekerja istirahat atau pulang kerja.

Bulan-bulan terakhir, warung lebih ramai dari biasanya. Bahkan ramai sepanjang hari. Para pekerja yang biasanya bekerja penuh, sebagian mulai bekerja paruh waktu. Beberapa di antaranya tampak sibuk memantau handpone yang dibawanya menunggu panggilan dipekerjakan kembali. Restoran dan kafe-kafe mewah, yang entah siapa pemiliknya, yang dulunya bak ketiban air terjun dari langit, kini mulai tandus dari kunjungan para turis. Akses-akses jalan yang baru dibuka banyak yang putus akibat hujan terus menerus. Mata-mata air lebih cepat tertidur ketika disapa awal kemarau. Pembangunan yang bersemangat belasan tahun itu kini tampak mulai menderita.

“Sumber kekayaan yang ditimbun akhirnya mengubur dua anak mereka. Jineng buuk, lumbung yang membusuk, menjadi sebuah petunjuk!”

Tiba-tiba seorang pengunjung mengucapkan kalimat yang pernah dia dengar dari kakek. Ya, kakek yang sering bercerita di warung itu. Tapi kakek tidak ada.

“Di mana, kakek? Apakah beliau sakit? Ataukah sudah tiada?” Pengunjung yang lain menyahut. Matanya memandang ke sudut-sudut warung.

“Entah berapa tahun kita tidak mendengar ceritanya lagi. Entah berapa tahun ceritanya itu kita abaikan. Lalu kita rindu mendengarkannya,” jawab yang lain.

“Kakek sudah tidak bercerita di warung ini lagi sejak delapan tahun lalu. Mungkin dia sibuk mengurus lima belas orang cucunya. Beberapa kali ibu lihat beliau mengajak cucu-cucunya mandi di pancuran sekian bulan yang lalu,” jawab pemilik warung.

“Syukurlah beliau masih sehat dan mampu menikmati sisa-sisa hidupnya.”

Pembicaraan kini mulai beralih, para pengunjung warung kini mencari versi lengkap alur cerita yang selalu dituturkan sang kakek. Ibu pemilik warung yang selalu berada dekat sang kakek sepanjang bercerita, tidak bisa membantu para pengunjung merangkai cerita itu dengan utuh.

“Ibu yang seharusnya mengetahui dengan utuh. Bukankah ibu selalu mendengarnya dari awal sampai akhir?”

Nada tinggi pengunjung membuat ibu pemilik warung menjawab dengan nada sama.

“Kalian mencari sesuatu yang kalian inginkan lalu melimpahkannya kepada orang lain! Apa salahnya ibu kalau tidak mendengarnya dengan utuh sama seperti kalian!” Nada kalimat yang melengking itu membuat para pengunjung langsung senyap. Mencuri pandang kepada pengunjung lain lalu segera beringsut meninggalkan warung.

Dua tiga orang yang beringsut terakhir, membayar kopinya dengan sebuah catatan yang sudah disediakan. Ibu pemilik warung tidak memedulikan mereka. Pikirannya mulai melayang jauh.

“Kalau sudah meninggal tentu semua orang tahu dan ikut mengantar ke peristirahatannya yang terakhir. Lalu kenapa beberapa bulan ini tidak pernah muncul?” kata ibu pemilik warung dalam hati.

Bergegas dia menutup warung. Membayangkan wajah si kakek tiba-tiba muncul di hadapannya, membuatnya mempercepat menutup pintu-pintu warungnya. Bulu kuduknya kompak berdiri. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Next Post

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co