14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Wayan Paing by Wayan Paing
August 3, 2025
in Cerpen
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SUDUT kanan warung dekat dinding bambu menjadi tempat pavoritnya. Setiap hari dia selalu ada di sana. Kursi kayu usang dan tidak lengkap menjadi tempat satu-satunya yang tidak pernah diduduki pelanggan lain. Kedatangannya di pagi hari sekitar jam setengah enam. Entah warung sudah buka atau belum, dia selalu datang tepat waktu. Sorenya datang lagi setiap jam lima. Napasnya dihela dua kali setelah duduk lalu dimulailah certanya. Cerita yang entah untuk siapa, tidak ada upaya memaksa orang yang lalu-lalang di sana untuk mendengarkannya.

Sebelum ceritanya selesai, orang-orang segera beranjak pergi meninggalkan warung itu. Urusannya sudah selesai dan buru-buru untuk urusan lain, merasa bising mendengar cerita yang terus berulang, merasa tidak berminat atau bahkan terganggu, serta alasan lainnya yang tidak pasti dapat diterka. Hanya satu orang yang tidak mau meninggalkan warung itu walau merasa risih. Walau bosan mendengar cerita berulang sang kakek, ibu pemilik warung tentu tidak akan meninggalkan warung miliknya.

Seolah tidak terpengaruh dengan reaksi pendengarnya, dia tidak menunjukkan rasa bosan untuk mengulang dan mengulang lagi ceritanya. Sebagian pendengarnya beranggapan sang kakek mengalami gangguang jiwa akibat terlalu lama menggeluti hidupnya yang monoton. Sebagian lainnya merasa iba karena menganggapnya tidak diperhatikan oleh keluarganya.

“Hidupnya yang sendiri setelah ditinggalkan istri tercintanya puluhan tahun lalu mungkin mengguncang jiwa dan membuatnya seperti ini,” kata seorang pengunjung kepada pemilik warung saat menerima uang kembalian.

“Sepertinya tidak demikian. Anak, menantu, dan belasan cucunya datang silih berganti datang kemari untuk menjemputnya pulang. Saat usaha membujuknya pulang gagal, malah ditemaninya ngobrol,” jawab pemilik warung membantah pernyataan pelanggannya itu.

“Bisa jadi beliau terlalu bising melihat turis-turis yang datang silih berganti untuk berswafoto di dusun kita,” sahut seorang pegawai restoran yang baru pulang kerja.

Pakaian kerja yang dikenakannya menunjukkan dia pegawai restoran mewah yang baru dibangun oleh investor kaya yang entah dari mana. Bangunan termewah yang ada di dusun itu saat ini, entah kapan bangunan wah lainnya akan menyusul. Bangunan yang sering digunjingkan masalah regulasi, tata ruang, pajak, dan kontribusi tenaga kerjanya. Digunjingkan di warung-warung, di pinggir-pinggir jalan, dan pangkalan-pangkalan ojek. Pembicaraan yang menyerupai angin, terkadang kencang terkadang reda, namun tak terlihat wujudnya. Tidak ada yang mau menjelaskan seolah sengaja dibiarkan agar tidak dipahami umum.

“Apa mungkin beliau jatuh cinta kepada salah seorang turis yang pernah berkunjung, namun tidak dilihatnya lagi? Patah hati di usia senja!” Langsung saja anggapan karyawan restoran itu disambar oleh pengunjung lain. Lalu bersama-sama tertawa melepaskan kelucuan yang mengembung di perutnya masing-masing.

Dan begitulah, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun cerita kakek tua itu tidak pernah putus. Beberapa orang bahkan bosan untuk bosan lalu menerimanya dengan tidak merisaukannya lagi. Terkadang, beberapa turis yang disesatkan oleh google maps dan terdampar di warung dekat pemandian umum itu, terlihat serius mendengarkan cerita sang kakek. Wajahnya tampak serius mengikuti alur cerita sang kakek, walau tidak dimengerti, terlihat ada pengikat bagi mereka untuk serius atau setidaknya mencoba terlihat serius menjadi pendengar yang baik. Usaha bertanya kepada pemilik atau pengunjung warung yang ikut tampak serius mendengarkan pertanyaan sang turis yang tidak mereka mengerti lalu dijawab dengan tersenyum dan tertawa bersama.

“Dahulu ada dua orang anak yang mati dan membusuk di lumbung ucu¹) milik orang kaya di kampung ini!”

Itu merupakan kalimat awal cerita sang kakek. Sebagian masyarakat terutama yang senior, bahasa untuk menyebut masyarakat yang sudah berumur, menerima cerita itu sebagai sebuah cerita yang sering di dengar secara turun temurun. Cerita yang melegenda dan menjadi nama sebuah tempat di dusun ini. Akan tetapi, cerita yang diulang-ulang menjadikan mereka mulai mengacuhkan keseriusan cerita tersebut. Bukan ceritanya yang diacuhkan, namun penuturnya yang diabaikan.

“Orang kaya itu akhirnya tidak bisa menggunakan kekayaannya untuk memenuhi keinginannya. Keinginan untuk membeli anak agar memiliki penerus hidup, sebab tidak menemukan penjual walau dengan harga seluruh kekayaan yang dimilikinya.”

Bagian cerita itu jarang didengar orang selain pemilik warung. Sebabnya ketika sampai pada bagian itu warung mulai sepi. Orang-orang sudah mulai khusuk melakoni kerjanya masing-masing. Tinggal pemilik warung yang setia menunggu para pekerja istirahat atau pulang kerja.

Bulan-bulan terakhir, warung lebih ramai dari biasanya. Bahkan ramai sepanjang hari. Para pekerja yang biasanya bekerja penuh, sebagian mulai bekerja paruh waktu. Beberapa di antaranya tampak sibuk memantau handpone yang dibawanya menunggu panggilan dipekerjakan kembali. Restoran dan kafe-kafe mewah, yang entah siapa pemiliknya, yang dulunya bak ketiban air terjun dari langit, kini mulai tandus dari kunjungan para turis. Akses-akses jalan yang baru dibuka banyak yang putus akibat hujan terus menerus. Mata-mata air lebih cepat tertidur ketika disapa awal kemarau. Pembangunan yang bersemangat belasan tahun itu kini tampak mulai menderita.

“Sumber kekayaan yang ditimbun akhirnya mengubur dua anak mereka. Jineng buuk, lumbung yang membusuk, menjadi sebuah petunjuk!”

Tiba-tiba seorang pengunjung mengucapkan kalimat yang pernah dia dengar dari kakek. Ya, kakek yang sering bercerita di warung itu. Tapi kakek tidak ada.

“Di mana, kakek? Apakah beliau sakit? Ataukah sudah tiada?” Pengunjung yang lain menyahut. Matanya memandang ke sudut-sudut warung.

“Entah berapa tahun kita tidak mendengar ceritanya lagi. Entah berapa tahun ceritanya itu kita abaikan. Lalu kita rindu mendengarkannya,” jawab yang lain.

“Kakek sudah tidak bercerita di warung ini lagi sejak delapan tahun lalu. Mungkin dia sibuk mengurus lima belas orang cucunya. Beberapa kali ibu lihat beliau mengajak cucu-cucunya mandi di pancuran sekian bulan yang lalu,” jawab pemilik warung.

“Syukurlah beliau masih sehat dan mampu menikmati sisa-sisa hidupnya.”

Pembicaraan kini mulai beralih, para pengunjung warung kini mencari versi lengkap alur cerita yang selalu dituturkan sang kakek. Ibu pemilik warung yang selalu berada dekat sang kakek sepanjang bercerita, tidak bisa membantu para pengunjung merangkai cerita itu dengan utuh.

“Ibu yang seharusnya mengetahui dengan utuh. Bukankah ibu selalu mendengarnya dari awal sampai akhir?”

Nada tinggi pengunjung membuat ibu pemilik warung menjawab dengan nada sama.

“Kalian mencari sesuatu yang kalian inginkan lalu melimpahkannya kepada orang lain! Apa salahnya ibu kalau tidak mendengarnya dengan utuh sama seperti kalian!” Nada kalimat yang melengking itu membuat para pengunjung langsung senyap. Mencuri pandang kepada pengunjung lain lalu segera beringsut meninggalkan warung.

Dua tiga orang yang beringsut terakhir, membayar kopinya dengan sebuah catatan yang sudah disediakan. Ibu pemilik warung tidak memedulikan mereka. Pikirannya mulai melayang jauh.

“Kalau sudah meninggal tentu semua orang tahu dan ikut mengantar ke peristirahatannya yang terakhir. Lalu kenapa beberapa bulan ini tidak pernah muncul?” kata ibu pemilik warung dalam hati.

Bergegas dia menutup warung. Membayangkan wajah si kakek tiba-tiba muncul di hadapannya, membuatnya mempercepat menutup pintu-pintu warungnya. Bulu kuduknya kompak berdiri. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Next Post

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co