12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Wayan Paing by Wayan Paing
August 3, 2025
in Cerpen
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SUDUT kanan warung dekat dinding bambu menjadi tempat pavoritnya. Setiap hari dia selalu ada di sana. Kursi kayu usang dan tidak lengkap menjadi tempat satu-satunya yang tidak pernah diduduki pelanggan lain. Kedatangannya di pagi hari sekitar jam setengah enam. Entah warung sudah buka atau belum, dia selalu datang tepat waktu. Sorenya datang lagi setiap jam lima. Napasnya dihela dua kali setelah duduk lalu dimulailah certanya. Cerita yang entah untuk siapa, tidak ada upaya memaksa orang yang lalu-lalang di sana untuk mendengarkannya.

Sebelum ceritanya selesai, orang-orang segera beranjak pergi meninggalkan warung itu. Urusannya sudah selesai dan buru-buru untuk urusan lain, merasa bising mendengar cerita yang terus berulang, merasa tidak berminat atau bahkan terganggu, serta alasan lainnya yang tidak pasti dapat diterka. Hanya satu orang yang tidak mau meninggalkan warung itu walau merasa risih. Walau bosan mendengar cerita berulang sang kakek, ibu pemilik warung tentu tidak akan meninggalkan warung miliknya.

Seolah tidak terpengaruh dengan reaksi pendengarnya, dia tidak menunjukkan rasa bosan untuk mengulang dan mengulang lagi ceritanya. Sebagian pendengarnya beranggapan sang kakek mengalami gangguang jiwa akibat terlalu lama menggeluti hidupnya yang monoton. Sebagian lainnya merasa iba karena menganggapnya tidak diperhatikan oleh keluarganya.

“Hidupnya yang sendiri setelah ditinggalkan istri tercintanya puluhan tahun lalu mungkin mengguncang jiwa dan membuatnya seperti ini,” kata seorang pengunjung kepada pemilik warung saat menerima uang kembalian.

“Sepertinya tidak demikian. Anak, menantu, dan belasan cucunya datang silih berganti datang kemari untuk menjemputnya pulang. Saat usaha membujuknya pulang gagal, malah ditemaninya ngobrol,” jawab pemilik warung membantah pernyataan pelanggannya itu.

“Bisa jadi beliau terlalu bising melihat turis-turis yang datang silih berganti untuk berswafoto di dusun kita,” sahut seorang pegawai restoran yang baru pulang kerja.

Pakaian kerja yang dikenakannya menunjukkan dia pegawai restoran mewah yang baru dibangun oleh investor kaya yang entah dari mana. Bangunan termewah yang ada di dusun itu saat ini, entah kapan bangunan wah lainnya akan menyusul. Bangunan yang sering digunjingkan masalah regulasi, tata ruang, pajak, dan kontribusi tenaga kerjanya. Digunjingkan di warung-warung, di pinggir-pinggir jalan, dan pangkalan-pangkalan ojek. Pembicaraan yang menyerupai angin, terkadang kencang terkadang reda, namun tak terlihat wujudnya. Tidak ada yang mau menjelaskan seolah sengaja dibiarkan agar tidak dipahami umum.

“Apa mungkin beliau jatuh cinta kepada salah seorang turis yang pernah berkunjung, namun tidak dilihatnya lagi? Patah hati di usia senja!” Langsung saja anggapan karyawan restoran itu disambar oleh pengunjung lain. Lalu bersama-sama tertawa melepaskan kelucuan yang mengembung di perutnya masing-masing.

Dan begitulah, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun cerita kakek tua itu tidak pernah putus. Beberapa orang bahkan bosan untuk bosan lalu menerimanya dengan tidak merisaukannya lagi. Terkadang, beberapa turis yang disesatkan oleh google maps dan terdampar di warung dekat pemandian umum itu, terlihat serius mendengarkan cerita sang kakek. Wajahnya tampak serius mengikuti alur cerita sang kakek, walau tidak dimengerti, terlihat ada pengikat bagi mereka untuk serius atau setidaknya mencoba terlihat serius menjadi pendengar yang baik. Usaha bertanya kepada pemilik atau pengunjung warung yang ikut tampak serius mendengarkan pertanyaan sang turis yang tidak mereka mengerti lalu dijawab dengan tersenyum dan tertawa bersama.

“Dahulu ada dua orang anak yang mati dan membusuk di lumbung ucu¹) milik orang kaya di kampung ini!”

Itu merupakan kalimat awal cerita sang kakek. Sebagian masyarakat terutama yang senior, bahasa untuk menyebut masyarakat yang sudah berumur, menerima cerita itu sebagai sebuah cerita yang sering di dengar secara turun temurun. Cerita yang melegenda dan menjadi nama sebuah tempat di dusun ini. Akan tetapi, cerita yang diulang-ulang menjadikan mereka mulai mengacuhkan keseriusan cerita tersebut. Bukan ceritanya yang diacuhkan, namun penuturnya yang diabaikan.

“Orang kaya itu akhirnya tidak bisa menggunakan kekayaannya untuk memenuhi keinginannya. Keinginan untuk membeli anak agar memiliki penerus hidup, sebab tidak menemukan penjual walau dengan harga seluruh kekayaan yang dimilikinya.”

Bagian cerita itu jarang didengar orang selain pemilik warung. Sebabnya ketika sampai pada bagian itu warung mulai sepi. Orang-orang sudah mulai khusuk melakoni kerjanya masing-masing. Tinggal pemilik warung yang setia menunggu para pekerja istirahat atau pulang kerja.

Bulan-bulan terakhir, warung lebih ramai dari biasanya. Bahkan ramai sepanjang hari. Para pekerja yang biasanya bekerja penuh, sebagian mulai bekerja paruh waktu. Beberapa di antaranya tampak sibuk memantau handpone yang dibawanya menunggu panggilan dipekerjakan kembali. Restoran dan kafe-kafe mewah, yang entah siapa pemiliknya, yang dulunya bak ketiban air terjun dari langit, kini mulai tandus dari kunjungan para turis. Akses-akses jalan yang baru dibuka banyak yang putus akibat hujan terus menerus. Mata-mata air lebih cepat tertidur ketika disapa awal kemarau. Pembangunan yang bersemangat belasan tahun itu kini tampak mulai menderita.

“Sumber kekayaan yang ditimbun akhirnya mengubur dua anak mereka. Jineng buuk, lumbung yang membusuk, menjadi sebuah petunjuk!”

Tiba-tiba seorang pengunjung mengucapkan kalimat yang pernah dia dengar dari kakek. Ya, kakek yang sering bercerita di warung itu. Tapi kakek tidak ada.

“Di mana, kakek? Apakah beliau sakit? Ataukah sudah tiada?” Pengunjung yang lain menyahut. Matanya memandang ke sudut-sudut warung.

“Entah berapa tahun kita tidak mendengar ceritanya lagi. Entah berapa tahun ceritanya itu kita abaikan. Lalu kita rindu mendengarkannya,” jawab yang lain.

“Kakek sudah tidak bercerita di warung ini lagi sejak delapan tahun lalu. Mungkin dia sibuk mengurus lima belas orang cucunya. Beberapa kali ibu lihat beliau mengajak cucu-cucunya mandi di pancuran sekian bulan yang lalu,” jawab pemilik warung.

“Syukurlah beliau masih sehat dan mampu menikmati sisa-sisa hidupnya.”

Pembicaraan kini mulai beralih, para pengunjung warung kini mencari versi lengkap alur cerita yang selalu dituturkan sang kakek. Ibu pemilik warung yang selalu berada dekat sang kakek sepanjang bercerita, tidak bisa membantu para pengunjung merangkai cerita itu dengan utuh.

“Ibu yang seharusnya mengetahui dengan utuh. Bukankah ibu selalu mendengarnya dari awal sampai akhir?”

Nada tinggi pengunjung membuat ibu pemilik warung menjawab dengan nada sama.

“Kalian mencari sesuatu yang kalian inginkan lalu melimpahkannya kepada orang lain! Apa salahnya ibu kalau tidak mendengarnya dengan utuh sama seperti kalian!” Nada kalimat yang melengking itu membuat para pengunjung langsung senyap. Mencuri pandang kepada pengunjung lain lalu segera beringsut meninggalkan warung.

Dua tiga orang yang beringsut terakhir, membayar kopinya dengan sebuah catatan yang sudah disediakan. Ibu pemilik warung tidak memedulikan mereka. Pikirannya mulai melayang jauh.

“Kalau sudah meninggal tentu semua orang tahu dan ikut mengantar ke peristirahatannya yang terakhir. Lalu kenapa beberapa bulan ini tidak pernah muncul?” kata ibu pemilik warung dalam hati.

Bergegas dia menutup warung. Membayangkan wajah si kakek tiba-tiba muncul di hadapannya, membuatnya mempercepat menutup pintu-pintu warungnya. Bulu kuduknya kompak berdiri. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Petang Penari Gambuh | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Next Post

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Soft Travel”: Berwisata Lebih Personal dan Berkualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co