3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Isran Kamal by Isran Kamal
August 2, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari fitur prediksi teks di ponsel hingga asisten virtual yang mampu menyusun esai atau menyarankan keputusan keuangan, AI menawarkan kemudahan luar biasa.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat risiko yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir kritis akibat terlalu banyak menyerahkan beban kognitif kepada mesin, sebuah fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai cognitive offloading.

Apa Itu Cognitive Offloading?

Cognitive offloading merujuk pada kecenderungan manusia untuk memindahkan fungsi-fungsi mental ke alat bantu eksternal, seperti catatan, kalkulator, atau dalam konteks saat ini, AI. Menurut Risko & Gilbert (2016), strategi ini sebenarnya adaptif, membantu kita menghemat sumber daya mental untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan tidak disertai refleksi, hal ini bisa mengikis kemampuan kita untuk berpikir mandiri, menganalisis informasi, dan membuat keputusan secara kritis.

Bayangkan seseorang yang setiap kali menghadapi pertanyaan sulit langsung membuka ChatGPT atau Google tanpa berusaha merenung terlebih dahulu. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat melemahkan daya tahan kognitif kita terhadap ambiguitas dan tantangan intelektual.

Otak yang Dimanjakan Teknologi

Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa otak manusia dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kehadiran teknologi, bahkan mengubah strategi berpikirnya. Sparrow et al. (2011) menemukan bahwa ketika individu tahu bahwa informasi dapat dengan mudah dicari secara online, mereka cenderung mengingat “di mana” mencari daripada “apa” yang dicari, suatu fenomena yang mereka sebut sebagai Google Effect.

Hal serupa juga terjadi saat seseorang terlalu sering mengandalkan AI untuk menulis, membuat keputusan, atau bahkan memahami argumen yang kompleks. Perlahan, otak kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan analitis, karena tahu ada mesin yang bisa menggantikan fungsi itu.

Fenomena ini bahkan sudah mendapat istilah populer: digital brainrot, istilah yang muncul dari komunitas daring untuk menggambarkan penurunan kualitas berpikir karena konsumsi digital pasif dan penggunaan teknologi yang berlebihan tanpa kesadaran. Ketika otak terlalu sering dimanjakan oleh solusi instan, otak berhenti “berkeringat” secara kognitif. Padahal, sebagaimana otot tubuh, kapasitas mental justru tumbuh ketika ditantang.

Bahaya terbesar bukan hanya pada hilangnya ketajaman intelektual, tetapi pada memburuknya metacognitive awareness, suatu kemampuan untuk menyadari kapan kita memahami sesuatu dan kapan tidak. Dalam jangka panjang, ini bisa mengarah pada learned dependency terhadap mesin: sebuah kondisi di mana individu merasa tidak mampu berpikir atau menyelesaikan masalah tanpa bantuan teknologi. Bukan hanya daya ingat yang menurun, tetapi juga keberanian untuk berpikir sendiri.

Jika tidak diimbangi dengan kontrol diri dan refleksi yang aktif, penggunaan AI dapat menciptakan generasi yang pintar secara informasi, tetapi lemah dalam kebijaksanaan. Mereka tahu banyak, tetapi tidak paham mendalam. Mereka bisa menghasilkan teks, tetapi tak mampu mengujinya secara kritis. Dalam konteks ini, teknologi bukan lagi alat bantu, melainkan penopang kognitif yang menggantikan fungsi-fungsi berpikir yang esensial bagi otonomi intelektual manusia.

AI sebagai Pisau Bermata Dua

Tak dapat disangkal, AI memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran, kreativitas, dan produktivitas. AI bisa mempercepat riset, menyusun kerangka tulisan, hingga memberi inspirasi kreatif dalam hitungan detik. Namun, seperti pisau yang tajam, AI juga bisa melukai jika digunakan tanpa kehati-hatian. Masalah utamanya bukan pada teknologinya itu sendiri, melainkan pada kesiapan kognitif dan epistemik penggunanya.

Ketika AI digunakan tanpa keterampilan metakognitif yakni kemampuan untuk menyadari dan meregulasi cara kita berpikir maka risiko penyalahgunaan dan ketergantungan meningkat secara drastis. Pengguna yang tidak terbiasa merefleksikan proses berpikirnya rentan mengandalkan AI secara pasif, menerima informasi yang tampak meyakinkan meski sebenarnya bisa keliru, bias, atau tidak lengkap.

Di sinilah pentingnya epistemic vigilance, atau kewaspadaan dalam menerima informasi (Fricker, 2007). AI, meskipun canggih, tidak memiliki komitmen moral terhadap kebenaran seperti halnya guru, peneliti, atau rekan diskusi yang memiliki pertanggungjawaban. Tanpa kecakapan berpikir kritis dan kesadaran metakognitif, pengguna bisa dengan mudah terjebak dalam ilusi kompetensi, merasa paham, padahal hanya mengulang jawaban dari mesin.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat metakognisi rendah cenderung lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang tampak kredibel secara superfisial, meskipun tidak akurat secara substansi (Mata et al., 2017). Dalam konteks ini, AI menjadi medium yang memperbesar konsekuensi dari cara berpikir yang tidak reflektif. Oleh karena itu, AI tidak seharusnya menjadi pengganti berpikir, melainkan mitra berpikir yang tetap membutuhkan supervisi dari pikiran manusia yang waspada, reflektif, dan bertanggung jawab.

Peran Critical Thinking Sebagai Fondasi

Di sinilah titik krusialnya: critical thinking adalah syarat utama sebelum seseorang dapat menggunakan AI secara bertanggung jawab dan optimal. Paul dan Elder (2006) mendefinisikan critical thinking sebagai proses aktif dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara logis dan reflektif. Ini bukan hanya keterampilan akademik, melainkan kemampuan mental yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang di tengah arus informasi digital yang tak henti-hentinya mengalir.

AI bukan alat pengganti berpikir, melainkan pemicu untuk berpikir lebih kritis. The Royal Society (2021) secara tegas menyatakan bahwa literasi terhadap AI harus dibarengi dengan penguatan kemampuan bernalar, berpikir reflektif, dan pemahaman etika digital. Tanpa ini, pengguna hanya akan menjadi penerima pasif, mudah diarahkan oleh algoritma, tanpa kemampuan untuk menimbang, menantang, atau memperdebatkan informasi yang ia terima.

Misalnya, seorang pelajar yang menggunakan AI untuk menyusun esai seharusnya tidak sekadar menyalin hasil, tetapi juga memahami struktur argumennya, mengkritisi keakuratan sumbernya, dan menyesuaikannya dengan konteks tugas. Seorang profesional di bidang kesehatan atau hukum yang mengandalkan AI sebagai pendukung keputusan harus tetap mengedepankan tanggung jawab etik dan penilaian kritis dalam tiap keputusan yang diambil.

Inilah sebabnya, sebelum bicara tentang optimalisasi pemanfaatan AI, kita harus bicara dulu tentang kapasitas berpikir manusia. Tanpa fondasi berpikir kritis yang kokoh, AI bukan alat bantu yang mencerahkan, tapi cermin yang memperbesar kebingungan. AI hanya secerdas penggunanya dan pengguna yang tidak terlatih secara intelektual hanya akan menjadikan AI sebagai mesin penguat bias, bukan sebagai penantang bias.

Maka, jika literasi digital mengajarkan cara menggunakan teknologi, critical thinking mengajarkan kapan dan mengapa kita harus menggunakannya atau justru tidak menggunakannya. Ini adalah filter utama yang menjaga agar kita tetap menjadi subjek yang aktif berpikir, bukan sekadar objek yang dibentuk oleh sistem cerdas.

Belajar dari Teknologi, Bukan Menyerahkan  Sepenuhnya

Pendekatan yang bijak dalam menggunakan AI adalah menjadikannya sebagai mitra reflektif, bukan otoritas mutlak. AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu yang memperluas daya pikir manusia, bukan menggantikannya. Dalam proses belajar, misalnya, AI memang bisa memperjelas konsep yang membingungkan atau menyajikan informasi dalam bentuk yang lebih mudah dicerna. Namun, pemahaman sejati tetap lahir dari proses aktif—mengaitkan informasi dengan pengalaman sebelumnya, mempertanyakan keabsahan data, serta menginternalisasi makna melalui refleksi dan diskusi.

Fenomena cognitive offloading yakni kecenderungan menyerahkan tugas mental ke perangkat eksternal tidak selalu negatif. Justru, jika dikombinasikan dengan kontrol diri dan kesadaran metakognitif, offloading bisa menjadi strategi belajar yang cerdas. Seperti menggunakan kalkulator hanya setelah memahami cara berhitung, penggunaan AI seharusnya datang setelah seseorang membangun struktur berpikir yang kuat. Tanpa fondasi ini, AI justru bisa mengikis kemampuan berpikir analitis, menciptakan ilusi kompetensi yang rapuh.

Di sinilah peran penting self-regulated learning, kemampuan individu untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri (Zimmerman, 2002). AI tidak akan memperbaiki kebiasaan belajar yang pasif atau tidak sadar tujuan. Sebaliknya, ia hanya akan memperkuat kecenderungan tersebut jika pengguna tidak memiliki kesadaran reflektif terhadap proses berpikirnya sendiri. Maka, belajar dari AI bukan berarti menyerahkan kendali kepada teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai cermin kognitif untuk memperkuat kapasitas berpikir yang sudah dimiliki manusia.

You are the Driver of your own Minds

AI menawarkan potensi luar biasa untuk mempercepat akses pengetahuan, mempermudah pengambilan keputusan, hingga membuka wawasan baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun di balik semua kemudahan itu, tersembunyi godaan sunyi, yakni kecenderungan untuk melepaskan tanggung jawab atas proses berpikir kita sendiri. Ketika kita terlalu nyaman menyerahkan tugas-tugas kognitif kepada mesin, kita mulai kehilangan ketajaman nalar, daya analisis, dan kapasitas untuk mengevaluasi secara kritis keterampilan yang selama ini menjadi fondasi dari kemanusiaan berpikir.

Di tengah gempuran teknologi yang berkembang cepat dan semakin personal, justru keterampilan dasar seperti critical thinking, literasi informasi, dan refleksi diri menjadi semakin penting bukan hanya sebagai alat untuk memahami dunia, tapi sebagai mekanisme pertahanan intelektual agar kita tidak terseret dalam arus informasi tanpa arah. AI seharusnya memperluas cakrawala berpikir kita, bukan menyempitkannya. Tapi untuk itu, kitalah yang harus tetap duduk di kursi pengemudi.

Kita perlu menempatkan AI sebagai navigator, bukan pengemudi. Mesin bisa memberi rute tercepat, tapi hanya manusialah yang bisa memutuskan arah berdasarkan nilai, tujuan, dan intuisi. Dalam dunia yang semakin otomatis, kesadaran manusia untuk berpikir secara aktif dan reflektif bukan hanya relevan, hal itu menjadi bentuk perlawanan terhadap pasivitas yang ditawarkan teknologi.

Maka pada akhirnya, kitalah yang harus bertanggung jawab atas arah dan kualitas pikiran kita sendiri. Teknologi bisa membantu menyalakan lampu, tapi jalan tetap harus kita tapaki dengan langkah sadar. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Tags: AIPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Santai, Tapi Menggoda, Jazz Intim Smokey Chamber Trio di UVJF 2025

Next Post

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co