2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Isran Kamal by Isran Kamal
August 2, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari fitur prediksi teks di ponsel hingga asisten virtual yang mampu menyusun esai atau menyarankan keputusan keuangan, AI menawarkan kemudahan luar biasa.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat risiko yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir kritis akibat terlalu banyak menyerahkan beban kognitif kepada mesin, sebuah fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai cognitive offloading.

Apa Itu Cognitive Offloading?

Cognitive offloading merujuk pada kecenderungan manusia untuk memindahkan fungsi-fungsi mental ke alat bantu eksternal, seperti catatan, kalkulator, atau dalam konteks saat ini, AI. Menurut Risko & Gilbert (2016), strategi ini sebenarnya adaptif, membantu kita menghemat sumber daya mental untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan tidak disertai refleksi, hal ini bisa mengikis kemampuan kita untuk berpikir mandiri, menganalisis informasi, dan membuat keputusan secara kritis.

Bayangkan seseorang yang setiap kali menghadapi pertanyaan sulit langsung membuka ChatGPT atau Google tanpa berusaha merenung terlebih dahulu. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat melemahkan daya tahan kognitif kita terhadap ambiguitas dan tantangan intelektual.

Otak yang Dimanjakan Teknologi

Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa otak manusia dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kehadiran teknologi, bahkan mengubah strategi berpikirnya. Sparrow et al. (2011) menemukan bahwa ketika individu tahu bahwa informasi dapat dengan mudah dicari secara online, mereka cenderung mengingat “di mana” mencari daripada “apa” yang dicari, suatu fenomena yang mereka sebut sebagai Google Effect.

Hal serupa juga terjadi saat seseorang terlalu sering mengandalkan AI untuk menulis, membuat keputusan, atau bahkan memahami argumen yang kompleks. Perlahan, otak kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan analitis, karena tahu ada mesin yang bisa menggantikan fungsi itu.

Fenomena ini bahkan sudah mendapat istilah populer: digital brainrot, istilah yang muncul dari komunitas daring untuk menggambarkan penurunan kualitas berpikir karena konsumsi digital pasif dan penggunaan teknologi yang berlebihan tanpa kesadaran. Ketika otak terlalu sering dimanjakan oleh solusi instan, otak berhenti “berkeringat” secara kognitif. Padahal, sebagaimana otot tubuh, kapasitas mental justru tumbuh ketika ditantang.

Bahaya terbesar bukan hanya pada hilangnya ketajaman intelektual, tetapi pada memburuknya metacognitive awareness, suatu kemampuan untuk menyadari kapan kita memahami sesuatu dan kapan tidak. Dalam jangka panjang, ini bisa mengarah pada learned dependency terhadap mesin: sebuah kondisi di mana individu merasa tidak mampu berpikir atau menyelesaikan masalah tanpa bantuan teknologi. Bukan hanya daya ingat yang menurun, tetapi juga keberanian untuk berpikir sendiri.

Jika tidak diimbangi dengan kontrol diri dan refleksi yang aktif, penggunaan AI dapat menciptakan generasi yang pintar secara informasi, tetapi lemah dalam kebijaksanaan. Mereka tahu banyak, tetapi tidak paham mendalam. Mereka bisa menghasilkan teks, tetapi tak mampu mengujinya secara kritis. Dalam konteks ini, teknologi bukan lagi alat bantu, melainkan penopang kognitif yang menggantikan fungsi-fungsi berpikir yang esensial bagi otonomi intelektual manusia.

AI sebagai Pisau Bermata Dua

Tak dapat disangkal, AI memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran, kreativitas, dan produktivitas. AI bisa mempercepat riset, menyusun kerangka tulisan, hingga memberi inspirasi kreatif dalam hitungan detik. Namun, seperti pisau yang tajam, AI juga bisa melukai jika digunakan tanpa kehati-hatian. Masalah utamanya bukan pada teknologinya itu sendiri, melainkan pada kesiapan kognitif dan epistemik penggunanya.

Ketika AI digunakan tanpa keterampilan metakognitif yakni kemampuan untuk menyadari dan meregulasi cara kita berpikir maka risiko penyalahgunaan dan ketergantungan meningkat secara drastis. Pengguna yang tidak terbiasa merefleksikan proses berpikirnya rentan mengandalkan AI secara pasif, menerima informasi yang tampak meyakinkan meski sebenarnya bisa keliru, bias, atau tidak lengkap.

Di sinilah pentingnya epistemic vigilance, atau kewaspadaan dalam menerima informasi (Fricker, 2007). AI, meskipun canggih, tidak memiliki komitmen moral terhadap kebenaran seperti halnya guru, peneliti, atau rekan diskusi yang memiliki pertanggungjawaban. Tanpa kecakapan berpikir kritis dan kesadaran metakognitif, pengguna bisa dengan mudah terjebak dalam ilusi kompetensi, merasa paham, padahal hanya mengulang jawaban dari mesin.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat metakognisi rendah cenderung lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang tampak kredibel secara superfisial, meskipun tidak akurat secara substansi (Mata et al., 2017). Dalam konteks ini, AI menjadi medium yang memperbesar konsekuensi dari cara berpikir yang tidak reflektif. Oleh karena itu, AI tidak seharusnya menjadi pengganti berpikir, melainkan mitra berpikir yang tetap membutuhkan supervisi dari pikiran manusia yang waspada, reflektif, dan bertanggung jawab.

Peran Critical Thinking Sebagai Fondasi

Di sinilah titik krusialnya: critical thinking adalah syarat utama sebelum seseorang dapat menggunakan AI secara bertanggung jawab dan optimal. Paul dan Elder (2006) mendefinisikan critical thinking sebagai proses aktif dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara logis dan reflektif. Ini bukan hanya keterampilan akademik, melainkan kemampuan mental yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang di tengah arus informasi digital yang tak henti-hentinya mengalir.

AI bukan alat pengganti berpikir, melainkan pemicu untuk berpikir lebih kritis. The Royal Society (2021) secara tegas menyatakan bahwa literasi terhadap AI harus dibarengi dengan penguatan kemampuan bernalar, berpikir reflektif, dan pemahaman etika digital. Tanpa ini, pengguna hanya akan menjadi penerima pasif, mudah diarahkan oleh algoritma, tanpa kemampuan untuk menimbang, menantang, atau memperdebatkan informasi yang ia terima.

Misalnya, seorang pelajar yang menggunakan AI untuk menyusun esai seharusnya tidak sekadar menyalin hasil, tetapi juga memahami struktur argumennya, mengkritisi keakuratan sumbernya, dan menyesuaikannya dengan konteks tugas. Seorang profesional di bidang kesehatan atau hukum yang mengandalkan AI sebagai pendukung keputusan harus tetap mengedepankan tanggung jawab etik dan penilaian kritis dalam tiap keputusan yang diambil.

Inilah sebabnya, sebelum bicara tentang optimalisasi pemanfaatan AI, kita harus bicara dulu tentang kapasitas berpikir manusia. Tanpa fondasi berpikir kritis yang kokoh, AI bukan alat bantu yang mencerahkan, tapi cermin yang memperbesar kebingungan. AI hanya secerdas penggunanya dan pengguna yang tidak terlatih secara intelektual hanya akan menjadikan AI sebagai mesin penguat bias, bukan sebagai penantang bias.

Maka, jika literasi digital mengajarkan cara menggunakan teknologi, critical thinking mengajarkan kapan dan mengapa kita harus menggunakannya atau justru tidak menggunakannya. Ini adalah filter utama yang menjaga agar kita tetap menjadi subjek yang aktif berpikir, bukan sekadar objek yang dibentuk oleh sistem cerdas.

Belajar dari Teknologi, Bukan Menyerahkan  Sepenuhnya

Pendekatan yang bijak dalam menggunakan AI adalah menjadikannya sebagai mitra reflektif, bukan otoritas mutlak. AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu yang memperluas daya pikir manusia, bukan menggantikannya. Dalam proses belajar, misalnya, AI memang bisa memperjelas konsep yang membingungkan atau menyajikan informasi dalam bentuk yang lebih mudah dicerna. Namun, pemahaman sejati tetap lahir dari proses aktif—mengaitkan informasi dengan pengalaman sebelumnya, mempertanyakan keabsahan data, serta menginternalisasi makna melalui refleksi dan diskusi.

Fenomena cognitive offloading yakni kecenderungan menyerahkan tugas mental ke perangkat eksternal tidak selalu negatif. Justru, jika dikombinasikan dengan kontrol diri dan kesadaran metakognitif, offloading bisa menjadi strategi belajar yang cerdas. Seperti menggunakan kalkulator hanya setelah memahami cara berhitung, penggunaan AI seharusnya datang setelah seseorang membangun struktur berpikir yang kuat. Tanpa fondasi ini, AI justru bisa mengikis kemampuan berpikir analitis, menciptakan ilusi kompetensi yang rapuh.

Di sinilah peran penting self-regulated learning, kemampuan individu untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri (Zimmerman, 2002). AI tidak akan memperbaiki kebiasaan belajar yang pasif atau tidak sadar tujuan. Sebaliknya, ia hanya akan memperkuat kecenderungan tersebut jika pengguna tidak memiliki kesadaran reflektif terhadap proses berpikirnya sendiri. Maka, belajar dari AI bukan berarti menyerahkan kendali kepada teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai cermin kognitif untuk memperkuat kapasitas berpikir yang sudah dimiliki manusia.

You are the Driver of your own Minds

AI menawarkan potensi luar biasa untuk mempercepat akses pengetahuan, mempermudah pengambilan keputusan, hingga membuka wawasan baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun di balik semua kemudahan itu, tersembunyi godaan sunyi, yakni kecenderungan untuk melepaskan tanggung jawab atas proses berpikir kita sendiri. Ketika kita terlalu nyaman menyerahkan tugas-tugas kognitif kepada mesin, kita mulai kehilangan ketajaman nalar, daya analisis, dan kapasitas untuk mengevaluasi secara kritis keterampilan yang selama ini menjadi fondasi dari kemanusiaan berpikir.

Di tengah gempuran teknologi yang berkembang cepat dan semakin personal, justru keterampilan dasar seperti critical thinking, literasi informasi, dan refleksi diri menjadi semakin penting bukan hanya sebagai alat untuk memahami dunia, tapi sebagai mekanisme pertahanan intelektual agar kita tidak terseret dalam arus informasi tanpa arah. AI seharusnya memperluas cakrawala berpikir kita, bukan menyempitkannya. Tapi untuk itu, kitalah yang harus tetap duduk di kursi pengemudi.

Kita perlu menempatkan AI sebagai navigator, bukan pengemudi. Mesin bisa memberi rute tercepat, tapi hanya manusialah yang bisa memutuskan arah berdasarkan nilai, tujuan, dan intuisi. Dalam dunia yang semakin otomatis, kesadaran manusia untuk berpikir secara aktif dan reflektif bukan hanya relevan, hal itu menjadi bentuk perlawanan terhadap pasivitas yang ditawarkan teknologi.

Maka pada akhirnya, kitalah yang harus bertanggung jawab atas arah dan kualitas pikiran kita sendiri. Teknologi bisa membantu menyalakan lampu, tapi jalan tetap harus kita tapaki dengan langkah sadar. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Tags: AIPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Santai, Tapi Menggoda, Jazz Intim Smokey Chamber Trio di UVJF 2025

Next Post

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co