13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Isran Kamal by Isran Kamal
August 2, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari fitur prediksi teks di ponsel hingga asisten virtual yang mampu menyusun esai atau menyarankan keputusan keuangan, AI menawarkan kemudahan luar biasa.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat risiko yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir kritis akibat terlalu banyak menyerahkan beban kognitif kepada mesin, sebuah fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai cognitive offloading.

Apa Itu Cognitive Offloading?

Cognitive offloading merujuk pada kecenderungan manusia untuk memindahkan fungsi-fungsi mental ke alat bantu eksternal, seperti catatan, kalkulator, atau dalam konteks saat ini, AI. Menurut Risko & Gilbert (2016), strategi ini sebenarnya adaptif, membantu kita menghemat sumber daya mental untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan tidak disertai refleksi, hal ini bisa mengikis kemampuan kita untuk berpikir mandiri, menganalisis informasi, dan membuat keputusan secara kritis.

Bayangkan seseorang yang setiap kali menghadapi pertanyaan sulit langsung membuka ChatGPT atau Google tanpa berusaha merenung terlebih dahulu. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat melemahkan daya tahan kognitif kita terhadap ambiguitas dan tantangan intelektual.

Otak yang Dimanjakan Teknologi

Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa otak manusia dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kehadiran teknologi, bahkan mengubah strategi berpikirnya. Sparrow et al. (2011) menemukan bahwa ketika individu tahu bahwa informasi dapat dengan mudah dicari secara online, mereka cenderung mengingat “di mana” mencari daripada “apa” yang dicari, suatu fenomena yang mereka sebut sebagai Google Effect.

Hal serupa juga terjadi saat seseorang terlalu sering mengandalkan AI untuk menulis, membuat keputusan, atau bahkan memahami argumen yang kompleks. Perlahan, otak kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan analitis, karena tahu ada mesin yang bisa menggantikan fungsi itu.

Fenomena ini bahkan sudah mendapat istilah populer: digital brainrot, istilah yang muncul dari komunitas daring untuk menggambarkan penurunan kualitas berpikir karena konsumsi digital pasif dan penggunaan teknologi yang berlebihan tanpa kesadaran. Ketika otak terlalu sering dimanjakan oleh solusi instan, otak berhenti “berkeringat” secara kognitif. Padahal, sebagaimana otot tubuh, kapasitas mental justru tumbuh ketika ditantang.

Bahaya terbesar bukan hanya pada hilangnya ketajaman intelektual, tetapi pada memburuknya metacognitive awareness, suatu kemampuan untuk menyadari kapan kita memahami sesuatu dan kapan tidak. Dalam jangka panjang, ini bisa mengarah pada learned dependency terhadap mesin: sebuah kondisi di mana individu merasa tidak mampu berpikir atau menyelesaikan masalah tanpa bantuan teknologi. Bukan hanya daya ingat yang menurun, tetapi juga keberanian untuk berpikir sendiri.

Jika tidak diimbangi dengan kontrol diri dan refleksi yang aktif, penggunaan AI dapat menciptakan generasi yang pintar secara informasi, tetapi lemah dalam kebijaksanaan. Mereka tahu banyak, tetapi tidak paham mendalam. Mereka bisa menghasilkan teks, tetapi tak mampu mengujinya secara kritis. Dalam konteks ini, teknologi bukan lagi alat bantu, melainkan penopang kognitif yang menggantikan fungsi-fungsi berpikir yang esensial bagi otonomi intelektual manusia.

AI sebagai Pisau Bermata Dua

Tak dapat disangkal, AI memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran, kreativitas, dan produktivitas. AI bisa mempercepat riset, menyusun kerangka tulisan, hingga memberi inspirasi kreatif dalam hitungan detik. Namun, seperti pisau yang tajam, AI juga bisa melukai jika digunakan tanpa kehati-hatian. Masalah utamanya bukan pada teknologinya itu sendiri, melainkan pada kesiapan kognitif dan epistemik penggunanya.

Ketika AI digunakan tanpa keterampilan metakognitif yakni kemampuan untuk menyadari dan meregulasi cara kita berpikir maka risiko penyalahgunaan dan ketergantungan meningkat secara drastis. Pengguna yang tidak terbiasa merefleksikan proses berpikirnya rentan mengandalkan AI secara pasif, menerima informasi yang tampak meyakinkan meski sebenarnya bisa keliru, bias, atau tidak lengkap.

Di sinilah pentingnya epistemic vigilance, atau kewaspadaan dalam menerima informasi (Fricker, 2007). AI, meskipun canggih, tidak memiliki komitmen moral terhadap kebenaran seperti halnya guru, peneliti, atau rekan diskusi yang memiliki pertanggungjawaban. Tanpa kecakapan berpikir kritis dan kesadaran metakognitif, pengguna bisa dengan mudah terjebak dalam ilusi kompetensi, merasa paham, padahal hanya mengulang jawaban dari mesin.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat metakognisi rendah cenderung lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang tampak kredibel secara superfisial, meskipun tidak akurat secara substansi (Mata et al., 2017). Dalam konteks ini, AI menjadi medium yang memperbesar konsekuensi dari cara berpikir yang tidak reflektif. Oleh karena itu, AI tidak seharusnya menjadi pengganti berpikir, melainkan mitra berpikir yang tetap membutuhkan supervisi dari pikiran manusia yang waspada, reflektif, dan bertanggung jawab.

Peran Critical Thinking Sebagai Fondasi

Di sinilah titik krusialnya: critical thinking adalah syarat utama sebelum seseorang dapat menggunakan AI secara bertanggung jawab dan optimal. Paul dan Elder (2006) mendefinisikan critical thinking sebagai proses aktif dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara logis dan reflektif. Ini bukan hanya keterampilan akademik, melainkan kemampuan mental yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang di tengah arus informasi digital yang tak henti-hentinya mengalir.

AI bukan alat pengganti berpikir, melainkan pemicu untuk berpikir lebih kritis. The Royal Society (2021) secara tegas menyatakan bahwa literasi terhadap AI harus dibarengi dengan penguatan kemampuan bernalar, berpikir reflektif, dan pemahaman etika digital. Tanpa ini, pengguna hanya akan menjadi penerima pasif, mudah diarahkan oleh algoritma, tanpa kemampuan untuk menimbang, menantang, atau memperdebatkan informasi yang ia terima.

Misalnya, seorang pelajar yang menggunakan AI untuk menyusun esai seharusnya tidak sekadar menyalin hasil, tetapi juga memahami struktur argumennya, mengkritisi keakuratan sumbernya, dan menyesuaikannya dengan konteks tugas. Seorang profesional di bidang kesehatan atau hukum yang mengandalkan AI sebagai pendukung keputusan harus tetap mengedepankan tanggung jawab etik dan penilaian kritis dalam tiap keputusan yang diambil.

Inilah sebabnya, sebelum bicara tentang optimalisasi pemanfaatan AI, kita harus bicara dulu tentang kapasitas berpikir manusia. Tanpa fondasi berpikir kritis yang kokoh, AI bukan alat bantu yang mencerahkan, tapi cermin yang memperbesar kebingungan. AI hanya secerdas penggunanya dan pengguna yang tidak terlatih secara intelektual hanya akan menjadikan AI sebagai mesin penguat bias, bukan sebagai penantang bias.

Maka, jika literasi digital mengajarkan cara menggunakan teknologi, critical thinking mengajarkan kapan dan mengapa kita harus menggunakannya atau justru tidak menggunakannya. Ini adalah filter utama yang menjaga agar kita tetap menjadi subjek yang aktif berpikir, bukan sekadar objek yang dibentuk oleh sistem cerdas.

Belajar dari Teknologi, Bukan Menyerahkan  Sepenuhnya

Pendekatan yang bijak dalam menggunakan AI adalah menjadikannya sebagai mitra reflektif, bukan otoritas mutlak. AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu yang memperluas daya pikir manusia, bukan menggantikannya. Dalam proses belajar, misalnya, AI memang bisa memperjelas konsep yang membingungkan atau menyajikan informasi dalam bentuk yang lebih mudah dicerna. Namun, pemahaman sejati tetap lahir dari proses aktif—mengaitkan informasi dengan pengalaman sebelumnya, mempertanyakan keabsahan data, serta menginternalisasi makna melalui refleksi dan diskusi.

Fenomena cognitive offloading yakni kecenderungan menyerahkan tugas mental ke perangkat eksternal tidak selalu negatif. Justru, jika dikombinasikan dengan kontrol diri dan kesadaran metakognitif, offloading bisa menjadi strategi belajar yang cerdas. Seperti menggunakan kalkulator hanya setelah memahami cara berhitung, penggunaan AI seharusnya datang setelah seseorang membangun struktur berpikir yang kuat. Tanpa fondasi ini, AI justru bisa mengikis kemampuan berpikir analitis, menciptakan ilusi kompetensi yang rapuh.

Di sinilah peran penting self-regulated learning, kemampuan individu untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri (Zimmerman, 2002). AI tidak akan memperbaiki kebiasaan belajar yang pasif atau tidak sadar tujuan. Sebaliknya, ia hanya akan memperkuat kecenderungan tersebut jika pengguna tidak memiliki kesadaran reflektif terhadap proses berpikirnya sendiri. Maka, belajar dari AI bukan berarti menyerahkan kendali kepada teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai cermin kognitif untuk memperkuat kapasitas berpikir yang sudah dimiliki manusia.

You are the Driver of your own Minds

AI menawarkan potensi luar biasa untuk mempercepat akses pengetahuan, mempermudah pengambilan keputusan, hingga membuka wawasan baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun di balik semua kemudahan itu, tersembunyi godaan sunyi, yakni kecenderungan untuk melepaskan tanggung jawab atas proses berpikir kita sendiri. Ketika kita terlalu nyaman menyerahkan tugas-tugas kognitif kepada mesin, kita mulai kehilangan ketajaman nalar, daya analisis, dan kapasitas untuk mengevaluasi secara kritis keterampilan yang selama ini menjadi fondasi dari kemanusiaan berpikir.

Di tengah gempuran teknologi yang berkembang cepat dan semakin personal, justru keterampilan dasar seperti critical thinking, literasi informasi, dan refleksi diri menjadi semakin penting bukan hanya sebagai alat untuk memahami dunia, tapi sebagai mekanisme pertahanan intelektual agar kita tidak terseret dalam arus informasi tanpa arah. AI seharusnya memperluas cakrawala berpikir kita, bukan menyempitkannya. Tapi untuk itu, kitalah yang harus tetap duduk di kursi pengemudi.

Kita perlu menempatkan AI sebagai navigator, bukan pengemudi. Mesin bisa memberi rute tercepat, tapi hanya manusialah yang bisa memutuskan arah berdasarkan nilai, tujuan, dan intuisi. Dalam dunia yang semakin otomatis, kesadaran manusia untuk berpikir secara aktif dan reflektif bukan hanya relevan, hal itu menjadi bentuk perlawanan terhadap pasivitas yang ditawarkan teknologi.

Maka pada akhirnya, kitalah yang harus bertanggung jawab atas arah dan kualitas pikiran kita sendiri. Teknologi bisa membantu menyalakan lampu, tapi jalan tetap harus kita tapaki dengan langkah sadar. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Tags: AIPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Santai, Tapi Menggoda, Jazz Intim Smokey Chamber Trio di UVJF 2025

Next Post

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co