2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Cognitive Offloading”: Saat AI Mempermudah, Tapi Mengikis Ketajaman Berpikir

Isran Kamal by Isran Kamal
August 2, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari fitur prediksi teks di ponsel hingga asisten virtual yang mampu menyusun esai atau menyarankan keputusan keuangan, AI menawarkan kemudahan luar biasa.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat risiko yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir kritis akibat terlalu banyak menyerahkan beban kognitif kepada mesin, sebuah fenomena yang dalam psikologi dikenal sebagai cognitive offloading.

Apa Itu Cognitive Offloading?

Cognitive offloading merujuk pada kecenderungan manusia untuk memindahkan fungsi-fungsi mental ke alat bantu eksternal, seperti catatan, kalkulator, atau dalam konteks saat ini, AI. Menurut Risko & Gilbert (2016), strategi ini sebenarnya adaptif, membantu kita menghemat sumber daya mental untuk tugas-tugas lain yang lebih penting. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan tidak disertai refleksi, hal ini bisa mengikis kemampuan kita untuk berpikir mandiri, menganalisis informasi, dan membuat keputusan secara kritis.

Bayangkan seseorang yang setiap kali menghadapi pertanyaan sulit langsung membuka ChatGPT atau Google tanpa berusaha merenung terlebih dahulu. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat melemahkan daya tahan kognitif kita terhadap ambiguitas dan tantangan intelektual.

Otak yang Dimanjakan Teknologi

Studi-studi terbaru menunjukkan bahwa otak manusia dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan kehadiran teknologi, bahkan mengubah strategi berpikirnya. Sparrow et al. (2011) menemukan bahwa ketika individu tahu bahwa informasi dapat dengan mudah dicari secara online, mereka cenderung mengingat “di mana” mencari daripada “apa” yang dicari, suatu fenomena yang mereka sebut sebagai Google Effect.

Hal serupa juga terjadi saat seseorang terlalu sering mengandalkan AI untuk menulis, membuat keputusan, atau bahkan memahami argumen yang kompleks. Perlahan, otak kita berhenti melatih kapasitas berpikir reflektif dan analitis, karena tahu ada mesin yang bisa menggantikan fungsi itu.

Fenomena ini bahkan sudah mendapat istilah populer: digital brainrot, istilah yang muncul dari komunitas daring untuk menggambarkan penurunan kualitas berpikir karena konsumsi digital pasif dan penggunaan teknologi yang berlebihan tanpa kesadaran. Ketika otak terlalu sering dimanjakan oleh solusi instan, otak berhenti “berkeringat” secara kognitif. Padahal, sebagaimana otot tubuh, kapasitas mental justru tumbuh ketika ditantang.

Bahaya terbesar bukan hanya pada hilangnya ketajaman intelektual, tetapi pada memburuknya metacognitive awareness, suatu kemampuan untuk menyadari kapan kita memahami sesuatu dan kapan tidak. Dalam jangka panjang, ini bisa mengarah pada learned dependency terhadap mesin: sebuah kondisi di mana individu merasa tidak mampu berpikir atau menyelesaikan masalah tanpa bantuan teknologi. Bukan hanya daya ingat yang menurun, tetapi juga keberanian untuk berpikir sendiri.

Jika tidak diimbangi dengan kontrol diri dan refleksi yang aktif, penggunaan AI dapat menciptakan generasi yang pintar secara informasi, tetapi lemah dalam kebijaksanaan. Mereka tahu banyak, tetapi tidak paham mendalam. Mereka bisa menghasilkan teks, tetapi tak mampu mengujinya secara kritis. Dalam konteks ini, teknologi bukan lagi alat bantu, melainkan penopang kognitif yang menggantikan fungsi-fungsi berpikir yang esensial bagi otonomi intelektual manusia.

AI sebagai Pisau Bermata Dua

Tak dapat disangkal, AI memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran, kreativitas, dan produktivitas. AI bisa mempercepat riset, menyusun kerangka tulisan, hingga memberi inspirasi kreatif dalam hitungan detik. Namun, seperti pisau yang tajam, AI juga bisa melukai jika digunakan tanpa kehati-hatian. Masalah utamanya bukan pada teknologinya itu sendiri, melainkan pada kesiapan kognitif dan epistemik penggunanya.

Ketika AI digunakan tanpa keterampilan metakognitif yakni kemampuan untuk menyadari dan meregulasi cara kita berpikir maka risiko penyalahgunaan dan ketergantungan meningkat secara drastis. Pengguna yang tidak terbiasa merefleksikan proses berpikirnya rentan mengandalkan AI secara pasif, menerima informasi yang tampak meyakinkan meski sebenarnya bisa keliru, bias, atau tidak lengkap.

Di sinilah pentingnya epistemic vigilance, atau kewaspadaan dalam menerima informasi (Fricker, 2007). AI, meskipun canggih, tidak memiliki komitmen moral terhadap kebenaran seperti halnya guru, peneliti, atau rekan diskusi yang memiliki pertanggungjawaban. Tanpa kecakapan berpikir kritis dan kesadaran metakognitif, pengguna bisa dengan mudah terjebak dalam ilusi kompetensi, merasa paham, padahal hanya mengulang jawaban dari mesin.

Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat metakognisi rendah cenderung lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang tampak kredibel secara superfisial, meskipun tidak akurat secara substansi (Mata et al., 2017). Dalam konteks ini, AI menjadi medium yang memperbesar konsekuensi dari cara berpikir yang tidak reflektif. Oleh karena itu, AI tidak seharusnya menjadi pengganti berpikir, melainkan mitra berpikir yang tetap membutuhkan supervisi dari pikiran manusia yang waspada, reflektif, dan bertanggung jawab.

Peran Critical Thinking Sebagai Fondasi

Di sinilah titik krusialnya: critical thinking adalah syarat utama sebelum seseorang dapat menggunakan AI secara bertanggung jawab dan optimal. Paul dan Elder (2006) mendefinisikan critical thinking sebagai proses aktif dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara logis dan reflektif. Ini bukan hanya keterampilan akademik, melainkan kemampuan mental yang menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang di tengah arus informasi digital yang tak henti-hentinya mengalir.

AI bukan alat pengganti berpikir, melainkan pemicu untuk berpikir lebih kritis. The Royal Society (2021) secara tegas menyatakan bahwa literasi terhadap AI harus dibarengi dengan penguatan kemampuan bernalar, berpikir reflektif, dan pemahaman etika digital. Tanpa ini, pengguna hanya akan menjadi penerima pasif, mudah diarahkan oleh algoritma, tanpa kemampuan untuk menimbang, menantang, atau memperdebatkan informasi yang ia terima.

Misalnya, seorang pelajar yang menggunakan AI untuk menyusun esai seharusnya tidak sekadar menyalin hasil, tetapi juga memahami struktur argumennya, mengkritisi keakuratan sumbernya, dan menyesuaikannya dengan konteks tugas. Seorang profesional di bidang kesehatan atau hukum yang mengandalkan AI sebagai pendukung keputusan harus tetap mengedepankan tanggung jawab etik dan penilaian kritis dalam tiap keputusan yang diambil.

Inilah sebabnya, sebelum bicara tentang optimalisasi pemanfaatan AI, kita harus bicara dulu tentang kapasitas berpikir manusia. Tanpa fondasi berpikir kritis yang kokoh, AI bukan alat bantu yang mencerahkan, tapi cermin yang memperbesar kebingungan. AI hanya secerdas penggunanya dan pengguna yang tidak terlatih secara intelektual hanya akan menjadikan AI sebagai mesin penguat bias, bukan sebagai penantang bias.

Maka, jika literasi digital mengajarkan cara menggunakan teknologi, critical thinking mengajarkan kapan dan mengapa kita harus menggunakannya atau justru tidak menggunakannya. Ini adalah filter utama yang menjaga agar kita tetap menjadi subjek yang aktif berpikir, bukan sekadar objek yang dibentuk oleh sistem cerdas.

Belajar dari Teknologi, Bukan Menyerahkan  Sepenuhnya

Pendekatan yang bijak dalam menggunakan AI adalah menjadikannya sebagai mitra reflektif, bukan otoritas mutlak. AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu yang memperluas daya pikir manusia, bukan menggantikannya. Dalam proses belajar, misalnya, AI memang bisa memperjelas konsep yang membingungkan atau menyajikan informasi dalam bentuk yang lebih mudah dicerna. Namun, pemahaman sejati tetap lahir dari proses aktif—mengaitkan informasi dengan pengalaman sebelumnya, mempertanyakan keabsahan data, serta menginternalisasi makna melalui refleksi dan diskusi.

Fenomena cognitive offloading yakni kecenderungan menyerahkan tugas mental ke perangkat eksternal tidak selalu negatif. Justru, jika dikombinasikan dengan kontrol diri dan kesadaran metakognitif, offloading bisa menjadi strategi belajar yang cerdas. Seperti menggunakan kalkulator hanya setelah memahami cara berhitung, penggunaan AI seharusnya datang setelah seseorang membangun struktur berpikir yang kuat. Tanpa fondasi ini, AI justru bisa mengikis kemampuan berpikir analitis, menciptakan ilusi kompetensi yang rapuh.

Di sinilah peran penting self-regulated learning, kemampuan individu untuk merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri (Zimmerman, 2002). AI tidak akan memperbaiki kebiasaan belajar yang pasif atau tidak sadar tujuan. Sebaliknya, ia hanya akan memperkuat kecenderungan tersebut jika pengguna tidak memiliki kesadaran reflektif terhadap proses berpikirnya sendiri. Maka, belajar dari AI bukan berarti menyerahkan kendali kepada teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai cermin kognitif untuk memperkuat kapasitas berpikir yang sudah dimiliki manusia.

You are the Driver of your own Minds

AI menawarkan potensi luar biasa untuk mempercepat akses pengetahuan, mempermudah pengambilan keputusan, hingga membuka wawasan baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun di balik semua kemudahan itu, tersembunyi godaan sunyi, yakni kecenderungan untuk melepaskan tanggung jawab atas proses berpikir kita sendiri. Ketika kita terlalu nyaman menyerahkan tugas-tugas kognitif kepada mesin, kita mulai kehilangan ketajaman nalar, daya analisis, dan kapasitas untuk mengevaluasi secara kritis keterampilan yang selama ini menjadi fondasi dari kemanusiaan berpikir.

Di tengah gempuran teknologi yang berkembang cepat dan semakin personal, justru keterampilan dasar seperti critical thinking, literasi informasi, dan refleksi diri menjadi semakin penting bukan hanya sebagai alat untuk memahami dunia, tapi sebagai mekanisme pertahanan intelektual agar kita tidak terseret dalam arus informasi tanpa arah. AI seharusnya memperluas cakrawala berpikir kita, bukan menyempitkannya. Tapi untuk itu, kitalah yang harus tetap duduk di kursi pengemudi.

Kita perlu menempatkan AI sebagai navigator, bukan pengemudi. Mesin bisa memberi rute tercepat, tapi hanya manusialah yang bisa memutuskan arah berdasarkan nilai, tujuan, dan intuisi. Dalam dunia yang semakin otomatis, kesadaran manusia untuk berpikir secara aktif dan reflektif bukan hanya relevan, hal itu menjadi bentuk perlawanan terhadap pasivitas yang ditawarkan teknologi.

Maka pada akhirnya, kitalah yang harus bertanggung jawab atas arah dan kualitas pikiran kita sendiri. Teknologi bisa membantu menyalakan lampu, tapi jalan tetap harus kita tapaki dengan langkah sadar. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Tags: AIPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Santai, Tapi Menggoda, Jazz Intim Smokey Chamber Trio di UVJF 2025

Next Post

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Seorang Kakek yang Tak Henti Bercerita | Cerpen I Wayan Paing

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co