23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Isran Kamal by Isran Kamal
July 28, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KAMU sudah berbaring sejak satu jam lalu. Lampu sudah mati, ponsel sudah disimpan. Tapi kepalamu justru menyala.

Pikiranmu mulai berisik. Ada adegan memalukan dari tiga hari lalu yang tiba-tiba muncul. Lalu pertanyaan: “Kenapa aku ngomong kayak gitu, ya?” Disusul bayangan keputusan lama yang kamu sesali. Belum selesai menyesali masa lalu, muncul lagi kekhawatiran soal besok: “Gimana kalau semuanya gagal?” Kamu mencoba mengalihkan pikiran dengan mengatur napas, membalik bantal, menghitung mundur. Tapi otakmu seperti mesin pencari tanpa tombol “pause”, terus menggali, terus bertanya, terus menyalahkan.

Kalau kamu pernah mengalami ini bukan hanya sekali, tapi sering sekali; maka ada kemungkinan kamu sedang terjebak dalam yang disebut sebagai ruminasi: kebiasaan berpikir berulang yang melelahkan, menyesakkan, dan seringkali tidak menyelesaikan apa pun.

Apa Itu Ruminasi?

Dalam psikologi, ruminasi merujuk pada kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan peristiwa negatif atau emosi yang mengganggu secara repetitif tanpa penyelesaian. Menurut Susan Nolen-Hoeksema (1991), pelopor penelitian ruminasi, ini bukan sekadar merenung, melainkan siklus berpikir yang “mandek”, di mana seseorang kembali lagi dan lagi pada topik yang menyakitkan tanpa menghasilkan solusi yang konkret.

Berbeda dari refleksi sehat yang membawa kita pada pemahaman dan pertumbuhan, ruminasi justru membuat kita terjebak dalam lingkaran kekhawatiran dan penyesalan. Kita seperti sedang mengunyah pikiran-pikiran yang sama berulang kali tanpa pernah menelannya, apalagi mencernanya. Tak heran, ruminasi kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur (Watkins, 2008; Nolen-Hoeksema et al., 2008).

Menurut American Psychological Association, ruminasi bisa muncul dalam dua bentuk:

  1. Ruminasi reflektif, yang cenderung berfokus pada pemahaman (“kenapa ini terjadi?”), dan
  2. Ruminasi brooding, yang lebih gelap dan pasif, seperti membandingkan diri secara negatif atau merasa terus-menerus gagal.

Keduanya bisa tampak mirip dari luar, tapi efeknya berbeda. Refleksi bisa memunculkan makna dan strategi baru, sementara brooding sering kali memperdalam luka emosional.

Ruminasi vs Overthinking: Sama atau Beda?

Banyak orang menyamakan ruminasi dengan overthinking, dan memang keduanya sama-sama melibatkan pikiran yang berputar terus menerus. Namun, secara teknis, ada sedikit perbedaan nuansa.

Overthinking adalah istilah populer yang bisa merujuk pada segala bentuk pikiran yang berlebihan, termasuk dalam pengambilan keputusan (“Apakah aku memilih jurusan yang tepat?”), kekhawatiran akan masa depan, hingga perfeksionisme.

Sementara ruminasi lebih spesifik. Ruminasi biasanya berfokus pada masa lalu atau emosi negatif yang sudah terjadi, dan berlangsung secara repetitif tanpa resolusi. Ruminasi juga lebih erat kaitannya dengan gangguan mood seperti depresi dan kecemasan.

Jadi meski semua ruminasi adalah bentuk overthinking, tidak semua overthinking bisa disebut ruminasi. Overthinking bisa mencakup banyak hal termasuk skenario masa depan atau keputusan sehari-hari sementara ruminasi lebih bersifat emosional, negatif, dan berulang.

Mengapa Otak Kita Suka Meruminasi?

Secara evolusioner, otak manusia dirancang untuk waspada terhadap ancaman dan merekam pengalaman buruk sebagai bentuk pertahanan diri. Mekanisme ini sangat berguna di masa lalu seperti menghindari harimau di hutan, misalnya, bisa berarti hidup atau mati.

Dalam konteks modern, kita mungkin tak lagi dikejar predator, tapi otak kita tetap “menghidupkan alarm” terhadap stresor sosial dan emosional, seperti kegagalan, penolakan, atau rasa bersalah. Akibatnya, kita cenderung memutar ulang pengalaman tersebut di kepala dalam upaya untuk memahami atau memperbaikinya.

Sayangnya, ketika sistem kewaspadaan ini menjadi terlalu aktif atau tidak terkendali, ia berubah menjadi jebakan kognitif. Kita tidak lagi belajar dari pengalaman, melainkan terseret oleh arus pikiran yang berulang dan ini bisa sangat menguras energi mental.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk meruminasi antara lain:

  1. Kepribadian perfeksionis atau neurotik: Individu dengan standar tinggi dan sensitivitas emosional cenderung lebih sering menyalahkan diri sendiri dan memikirkan kesalahan secara berlebihan.
  2. Riwayat trauma atau pengabaian di masa kecil: Pengalaman tidak aman dapat membentuk pola pikir yang cemas dan over-analitis.
  3. Lingkungan penuh tekanan atau tidak suportif: Tuntutan sosial dan kurangnya dukungan emosional membuat seseorang lebih mudah tenggelam dalam pikiran negatif.
  4. Kurangnya keterampilan regulasi emosi: Tanpa cara yang sehat untuk menenangkan diri, ruminasi sering dijadikan “jalan pintas” yang ternyata berujung pada kelelahan emosional.

Penelitian oleh Aldao, Nolen-Hoeksema, dan Schweizer (2010) menemukan bahwa strategi regulasi emosi yang tidak adaptif, termasuk ruminasi, memiliki hubungan kuat dengan peningkatan gangguan psikologis. Artinya, ruminasi bukan hanya gejala, tapi juga bisa menjadi “mesin penggerak” penderitaan mental itu sendiri.

Dampaknya pada Kesehatan Mental

Ruminasi bukan hanya kebiasaan berpikir yang mengganggu, ruminasi juga punya dampak serius terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan seseorang. Meta-analisis oleh Watkins (2008) menyimpulkan bahwa ruminasi berperan aktif dalam mempertahankan dan memperparah gejala depresi. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan perasaan sedih atau kegagalan, sistem limbik otak (pusat emosi) menjadi semakin aktif, sementara bagian otak yang bertugas mengatur emosi malah melemah.

Beberapa gangguan psikologis yang sering dikaitkan dengan ruminasi antara lain:

  1. Gangguan Kecemasan Umum atau Generalized Anxiety Disorder (GAD): Pikiran yang terus berputar tentang “bagaimana jika” atau “apa yang salah” menciptakan kecemasan yang konstan dan melelahkan.
  2. Insomnia: Otak yang sibuk menganalisis dan menyesali kesalahan sulit untuk “mati” di malam hari, sehingga mengganggu kualitas tidur.
  3. Stres kronis: Pikiran negatif yang terus-menerus menciptakan ketegangan fisiologis, meningkatkan hormon stres seperti kortisol.
  4. Gangguan makan atau penyalahgunaan zat: Beberapa orang mencoba menenangkan pikiran yang kacau dengan pelarian seperti makanan, alkohol, atau obat-obatan.

Tak hanya itu, ruminasi juga dapat menghambat kemampuan konsentrasi dan membuat seseorang lebih mudah terdistraksi. Mengganggu relasi interpersonal karena individu cenderung lebih tertutup, sensitif, atau reaktif. Menurunkan motivasi dan kualitas hidup secara keseluruhan, karena energi mental terkuras untuk “berpikir tanpa arah”. Dengan kata lain, ruminasi adalah contoh klasik dari strategi yang tampak seperti upaya penyelesaian masalah, tapi justru memperburuk keadaan jika tidak dikendalikan.

Kapan Refleksi Sehat Berubah Menjadi Ruminasi?

Tidak semua bentuk berpikir mendalam itu buruk. Refleksi diri justru penting untuk pertumbuhan psikologis. Namun, ada garis tipis yang membedakannya dari ruminasi. Refleksi umumnya:

  1. Fokus pada solusi
  2. Terbatas dalam waktu
  3. Didasarkan pada rasa ingin belajar

Sedangkan ruminasi:

  1. Berulang-ulang tanpa arah
  2. Fokus pada penyesalan dan rasa bersalah
  3. Memicu kecemasan dan kelelahan mental

Mengenali perbedaan ini adalah langkah awal penting untuk membangun kesadaran diri dan mengambil tindakan yang tepat.

Bagaimana Cara Menghentikan Ruminasi?

Mengendalikan ruminasi bukan soal “berhenti berpikir”, melainkan mengarahkan ulang perhatian dan membangun respons yang lebih sehat terhadap pikiran negatif. Berikut beberapa pendekatan yang direkomendasikan:

1. Latihan Mindfulness dan Grounding

Latihan seperti meditasi kesadaran, pernapasan sadar, atau teknik grounding membantu kita kembali ke momen saat ini dan mengurangi arus pikiran yang tak terkendali. Kabat-Zinn (2003) menunjukkan bahwa mindfulness efektif dalam meredakan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

2. Batasi “Waktu Merenung”

Alih-alih berusaha sepenuhnya menolak ruminasi (yang sering gagal), tetapkan “jadwal khusus” untuk merenung, misalnya 15 menit sehari. Setelah itu, alihkan diri ke aktivitas lain. Teknik ini dikenal sebagai scheduled worry time.

3. Tuliskan Pikiranmu

Menulis jurnal dapat membantu menyusun dan mengurai pikiran yang ruwet. Ini juga membantu mengidentifikasi pola berpikir berulang.

4. Bangun Aktivitas yang Bermakna

Ruminasi sering muncul ketika kita sedang diam. Menjaga diri tetap aktif secara mental maupun fisik bisa jadi pengalih yang konstruktif. Olahraga ringan, kegiatan sosial, atau hobi kreatif bisa menjadi outlet sehat.

5. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika kamu merasa ruminasi sudah mengganggu fungsi harian, konsultasi dengan psikolog bisa membantu. Terapi kognitif-perilaku atau cognitive behavioral therapy (CBT) secara khusus sangat efektif dalam mengatasi pola pikir ruminatif.

Jangan Terjebak dalam Kepala Sendiri

Ruminasi adalah pengalaman manusiawi, tapi jika dibiarkan liar, ia bisa menelan kesehatan mental kita. Menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam spiral pikiran adalah langkah awal penting menuju pemulihan.

Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu produktif dan tampil sempurna, seringkali kita lupa bahwa berpikir berlebihan bukanlah solusi. Justru, belajar menenangkan diri, menerima ketidakpastian, dan mencintai diri dalam prosesnya bisa menjadi bentuk penyembuhan yang paling tulus.

Jadi, lain kali saat otakmu mulai “muter terus”, tarik napas, sadari polanya, dan pilih jalan keluar. Ingat: kamu bukan isi kepalamu. [T]

Referensi:

Nolen-Hoeksema, S. (1991). Responses to depression and their effects on the duration of depressive episodes. Journal of Abnormal Psychology, 100(4), 569–582.

Aldao, A., Nolen-Hoeksema, S., & Schweizer, S. (2010). Emotion-regulation strategies across psychopathology: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review, 30(2), 217–237.

Watkins, E. R. (2008). Constructive and unconstructive repetitive thought. Psychological Bulletin, 134(2), 163–206.

Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156.

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kini Berseri Menampilkan Les Tari dengan Intrik dan Tawa di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co