14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Isran Kamal by Isran Kamal
July 28, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KAMU sudah berbaring sejak satu jam lalu. Lampu sudah mati, ponsel sudah disimpan. Tapi kepalamu justru menyala.

Pikiranmu mulai berisik. Ada adegan memalukan dari tiga hari lalu yang tiba-tiba muncul. Lalu pertanyaan: “Kenapa aku ngomong kayak gitu, ya?” Disusul bayangan keputusan lama yang kamu sesali. Belum selesai menyesali masa lalu, muncul lagi kekhawatiran soal besok: “Gimana kalau semuanya gagal?” Kamu mencoba mengalihkan pikiran dengan mengatur napas, membalik bantal, menghitung mundur. Tapi otakmu seperti mesin pencari tanpa tombol “pause”, terus menggali, terus bertanya, terus menyalahkan.

Kalau kamu pernah mengalami ini bukan hanya sekali, tapi sering sekali; maka ada kemungkinan kamu sedang terjebak dalam yang disebut sebagai ruminasi: kebiasaan berpikir berulang yang melelahkan, menyesakkan, dan seringkali tidak menyelesaikan apa pun.

Apa Itu Ruminasi?

Dalam psikologi, ruminasi merujuk pada kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan peristiwa negatif atau emosi yang mengganggu secara repetitif tanpa penyelesaian. Menurut Susan Nolen-Hoeksema (1991), pelopor penelitian ruminasi, ini bukan sekadar merenung, melainkan siklus berpikir yang “mandek”, di mana seseorang kembali lagi dan lagi pada topik yang menyakitkan tanpa menghasilkan solusi yang konkret.

Berbeda dari refleksi sehat yang membawa kita pada pemahaman dan pertumbuhan, ruminasi justru membuat kita terjebak dalam lingkaran kekhawatiran dan penyesalan. Kita seperti sedang mengunyah pikiran-pikiran yang sama berulang kali tanpa pernah menelannya, apalagi mencernanya. Tak heran, ruminasi kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur (Watkins, 2008; Nolen-Hoeksema et al., 2008).

Menurut American Psychological Association, ruminasi bisa muncul dalam dua bentuk:

  1. Ruminasi reflektif, yang cenderung berfokus pada pemahaman (“kenapa ini terjadi?”), dan
  2. Ruminasi brooding, yang lebih gelap dan pasif, seperti membandingkan diri secara negatif atau merasa terus-menerus gagal.

Keduanya bisa tampak mirip dari luar, tapi efeknya berbeda. Refleksi bisa memunculkan makna dan strategi baru, sementara brooding sering kali memperdalam luka emosional.

Ruminasi vs Overthinking: Sama atau Beda?

Banyak orang menyamakan ruminasi dengan overthinking, dan memang keduanya sama-sama melibatkan pikiran yang berputar terus menerus. Namun, secara teknis, ada sedikit perbedaan nuansa.

Overthinking adalah istilah populer yang bisa merujuk pada segala bentuk pikiran yang berlebihan, termasuk dalam pengambilan keputusan (“Apakah aku memilih jurusan yang tepat?”), kekhawatiran akan masa depan, hingga perfeksionisme.

Sementara ruminasi lebih spesifik. Ruminasi biasanya berfokus pada masa lalu atau emosi negatif yang sudah terjadi, dan berlangsung secara repetitif tanpa resolusi. Ruminasi juga lebih erat kaitannya dengan gangguan mood seperti depresi dan kecemasan.

Jadi meski semua ruminasi adalah bentuk overthinking, tidak semua overthinking bisa disebut ruminasi. Overthinking bisa mencakup banyak hal termasuk skenario masa depan atau keputusan sehari-hari sementara ruminasi lebih bersifat emosional, negatif, dan berulang.

Mengapa Otak Kita Suka Meruminasi?

Secara evolusioner, otak manusia dirancang untuk waspada terhadap ancaman dan merekam pengalaman buruk sebagai bentuk pertahanan diri. Mekanisme ini sangat berguna di masa lalu seperti menghindari harimau di hutan, misalnya, bisa berarti hidup atau mati.

Dalam konteks modern, kita mungkin tak lagi dikejar predator, tapi otak kita tetap “menghidupkan alarm” terhadap stresor sosial dan emosional, seperti kegagalan, penolakan, atau rasa bersalah. Akibatnya, kita cenderung memutar ulang pengalaman tersebut di kepala dalam upaya untuk memahami atau memperbaikinya.

Sayangnya, ketika sistem kewaspadaan ini menjadi terlalu aktif atau tidak terkendali, ia berubah menjadi jebakan kognitif. Kita tidak lagi belajar dari pengalaman, melainkan terseret oleh arus pikiran yang berulang dan ini bisa sangat menguras energi mental.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk meruminasi antara lain:

  1. Kepribadian perfeksionis atau neurotik: Individu dengan standar tinggi dan sensitivitas emosional cenderung lebih sering menyalahkan diri sendiri dan memikirkan kesalahan secara berlebihan.
  2. Riwayat trauma atau pengabaian di masa kecil: Pengalaman tidak aman dapat membentuk pola pikir yang cemas dan over-analitis.
  3. Lingkungan penuh tekanan atau tidak suportif: Tuntutan sosial dan kurangnya dukungan emosional membuat seseorang lebih mudah tenggelam dalam pikiran negatif.
  4. Kurangnya keterampilan regulasi emosi: Tanpa cara yang sehat untuk menenangkan diri, ruminasi sering dijadikan “jalan pintas” yang ternyata berujung pada kelelahan emosional.

Penelitian oleh Aldao, Nolen-Hoeksema, dan Schweizer (2010) menemukan bahwa strategi regulasi emosi yang tidak adaptif, termasuk ruminasi, memiliki hubungan kuat dengan peningkatan gangguan psikologis. Artinya, ruminasi bukan hanya gejala, tapi juga bisa menjadi “mesin penggerak” penderitaan mental itu sendiri.

Dampaknya pada Kesehatan Mental

Ruminasi bukan hanya kebiasaan berpikir yang mengganggu, ruminasi juga punya dampak serius terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan seseorang. Meta-analisis oleh Watkins (2008) menyimpulkan bahwa ruminasi berperan aktif dalam mempertahankan dan memperparah gejala depresi. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan perasaan sedih atau kegagalan, sistem limbik otak (pusat emosi) menjadi semakin aktif, sementara bagian otak yang bertugas mengatur emosi malah melemah.

Beberapa gangguan psikologis yang sering dikaitkan dengan ruminasi antara lain:

  1. Gangguan Kecemasan Umum atau Generalized Anxiety Disorder (GAD): Pikiran yang terus berputar tentang “bagaimana jika” atau “apa yang salah” menciptakan kecemasan yang konstan dan melelahkan.
  2. Insomnia: Otak yang sibuk menganalisis dan menyesali kesalahan sulit untuk “mati” di malam hari, sehingga mengganggu kualitas tidur.
  3. Stres kronis: Pikiran negatif yang terus-menerus menciptakan ketegangan fisiologis, meningkatkan hormon stres seperti kortisol.
  4. Gangguan makan atau penyalahgunaan zat: Beberapa orang mencoba menenangkan pikiran yang kacau dengan pelarian seperti makanan, alkohol, atau obat-obatan.

Tak hanya itu, ruminasi juga dapat menghambat kemampuan konsentrasi dan membuat seseorang lebih mudah terdistraksi. Mengganggu relasi interpersonal karena individu cenderung lebih tertutup, sensitif, atau reaktif. Menurunkan motivasi dan kualitas hidup secara keseluruhan, karena energi mental terkuras untuk “berpikir tanpa arah”. Dengan kata lain, ruminasi adalah contoh klasik dari strategi yang tampak seperti upaya penyelesaian masalah, tapi justru memperburuk keadaan jika tidak dikendalikan.

Kapan Refleksi Sehat Berubah Menjadi Ruminasi?

Tidak semua bentuk berpikir mendalam itu buruk. Refleksi diri justru penting untuk pertumbuhan psikologis. Namun, ada garis tipis yang membedakannya dari ruminasi. Refleksi umumnya:

  1. Fokus pada solusi
  2. Terbatas dalam waktu
  3. Didasarkan pada rasa ingin belajar

Sedangkan ruminasi:

  1. Berulang-ulang tanpa arah
  2. Fokus pada penyesalan dan rasa bersalah
  3. Memicu kecemasan dan kelelahan mental

Mengenali perbedaan ini adalah langkah awal penting untuk membangun kesadaran diri dan mengambil tindakan yang tepat.

Bagaimana Cara Menghentikan Ruminasi?

Mengendalikan ruminasi bukan soal “berhenti berpikir”, melainkan mengarahkan ulang perhatian dan membangun respons yang lebih sehat terhadap pikiran negatif. Berikut beberapa pendekatan yang direkomendasikan:

1. Latihan Mindfulness dan Grounding

Latihan seperti meditasi kesadaran, pernapasan sadar, atau teknik grounding membantu kita kembali ke momen saat ini dan mengurangi arus pikiran yang tak terkendali. Kabat-Zinn (2003) menunjukkan bahwa mindfulness efektif dalam meredakan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

2. Batasi “Waktu Merenung”

Alih-alih berusaha sepenuhnya menolak ruminasi (yang sering gagal), tetapkan “jadwal khusus” untuk merenung, misalnya 15 menit sehari. Setelah itu, alihkan diri ke aktivitas lain. Teknik ini dikenal sebagai scheduled worry time.

3. Tuliskan Pikiranmu

Menulis jurnal dapat membantu menyusun dan mengurai pikiran yang ruwet. Ini juga membantu mengidentifikasi pola berpikir berulang.

4. Bangun Aktivitas yang Bermakna

Ruminasi sering muncul ketika kita sedang diam. Menjaga diri tetap aktif secara mental maupun fisik bisa jadi pengalih yang konstruktif. Olahraga ringan, kegiatan sosial, atau hobi kreatif bisa menjadi outlet sehat.

5. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika kamu merasa ruminasi sudah mengganggu fungsi harian, konsultasi dengan psikolog bisa membantu. Terapi kognitif-perilaku atau cognitive behavioral therapy (CBT) secara khusus sangat efektif dalam mengatasi pola pikir ruminatif.

Jangan Terjebak dalam Kepala Sendiri

Ruminasi adalah pengalaman manusiawi, tapi jika dibiarkan liar, ia bisa menelan kesehatan mental kita. Menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam spiral pikiran adalah langkah awal penting menuju pemulihan.

Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu produktif dan tampil sempurna, seringkali kita lupa bahwa berpikir berlebihan bukanlah solusi. Justru, belajar menenangkan diri, menerima ketidakpastian, dan mencintai diri dalam prosesnya bisa menjadi bentuk penyembuhan yang paling tulus.

Jadi, lain kali saat otakmu mulai “muter terus”, tarik napas, sadari polanya, dan pilih jalan keluar. Ingat: kamu bukan isi kepalamu. [T]

Referensi:

Nolen-Hoeksema, S. (1991). Responses to depression and their effects on the duration of depressive episodes. Journal of Abnormal Psychology, 100(4), 569–582.

Aldao, A., Nolen-Hoeksema, S., & Schweizer, S. (2010). Emotion-regulation strategies across psychopathology: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review, 30(2), 217–237.

Watkins, E. R. (2008). Constructive and unconstructive repetitive thought. Psychological Bulletin, 134(2), 163–206.

Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156.

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kini Berseri Menampilkan Les Tari dengan Intrik dan Tawa di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co