12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Isran Kamal by Isran Kamal
July 28, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KAMU sudah berbaring sejak satu jam lalu. Lampu sudah mati, ponsel sudah disimpan. Tapi kepalamu justru menyala.

Pikiranmu mulai berisik. Ada adegan memalukan dari tiga hari lalu yang tiba-tiba muncul. Lalu pertanyaan: “Kenapa aku ngomong kayak gitu, ya?” Disusul bayangan keputusan lama yang kamu sesali. Belum selesai menyesali masa lalu, muncul lagi kekhawatiran soal besok: “Gimana kalau semuanya gagal?” Kamu mencoba mengalihkan pikiran dengan mengatur napas, membalik bantal, menghitung mundur. Tapi otakmu seperti mesin pencari tanpa tombol “pause”, terus menggali, terus bertanya, terus menyalahkan.

Kalau kamu pernah mengalami ini bukan hanya sekali, tapi sering sekali; maka ada kemungkinan kamu sedang terjebak dalam yang disebut sebagai ruminasi: kebiasaan berpikir berulang yang melelahkan, menyesakkan, dan seringkali tidak menyelesaikan apa pun.

Apa Itu Ruminasi?

Dalam psikologi, ruminasi merujuk pada kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan peristiwa negatif atau emosi yang mengganggu secara repetitif tanpa penyelesaian. Menurut Susan Nolen-Hoeksema (1991), pelopor penelitian ruminasi, ini bukan sekadar merenung, melainkan siklus berpikir yang “mandek”, di mana seseorang kembali lagi dan lagi pada topik yang menyakitkan tanpa menghasilkan solusi yang konkret.

Berbeda dari refleksi sehat yang membawa kita pada pemahaman dan pertumbuhan, ruminasi justru membuat kita terjebak dalam lingkaran kekhawatiran dan penyesalan. Kita seperti sedang mengunyah pikiran-pikiran yang sama berulang kali tanpa pernah menelannya, apalagi mencernanya. Tak heran, ruminasi kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur (Watkins, 2008; Nolen-Hoeksema et al., 2008).

Menurut American Psychological Association, ruminasi bisa muncul dalam dua bentuk:

  1. Ruminasi reflektif, yang cenderung berfokus pada pemahaman (“kenapa ini terjadi?”), dan
  2. Ruminasi brooding, yang lebih gelap dan pasif, seperti membandingkan diri secara negatif atau merasa terus-menerus gagal.

Keduanya bisa tampak mirip dari luar, tapi efeknya berbeda. Refleksi bisa memunculkan makna dan strategi baru, sementara brooding sering kali memperdalam luka emosional.

Ruminasi vs Overthinking: Sama atau Beda?

Banyak orang menyamakan ruminasi dengan overthinking, dan memang keduanya sama-sama melibatkan pikiran yang berputar terus menerus. Namun, secara teknis, ada sedikit perbedaan nuansa.

Overthinking adalah istilah populer yang bisa merujuk pada segala bentuk pikiran yang berlebihan, termasuk dalam pengambilan keputusan (“Apakah aku memilih jurusan yang tepat?”), kekhawatiran akan masa depan, hingga perfeksionisme.

Sementara ruminasi lebih spesifik. Ruminasi biasanya berfokus pada masa lalu atau emosi negatif yang sudah terjadi, dan berlangsung secara repetitif tanpa resolusi. Ruminasi juga lebih erat kaitannya dengan gangguan mood seperti depresi dan kecemasan.

Jadi meski semua ruminasi adalah bentuk overthinking, tidak semua overthinking bisa disebut ruminasi. Overthinking bisa mencakup banyak hal termasuk skenario masa depan atau keputusan sehari-hari sementara ruminasi lebih bersifat emosional, negatif, dan berulang.

Mengapa Otak Kita Suka Meruminasi?

Secara evolusioner, otak manusia dirancang untuk waspada terhadap ancaman dan merekam pengalaman buruk sebagai bentuk pertahanan diri. Mekanisme ini sangat berguna di masa lalu seperti menghindari harimau di hutan, misalnya, bisa berarti hidup atau mati.

Dalam konteks modern, kita mungkin tak lagi dikejar predator, tapi otak kita tetap “menghidupkan alarm” terhadap stresor sosial dan emosional, seperti kegagalan, penolakan, atau rasa bersalah. Akibatnya, kita cenderung memutar ulang pengalaman tersebut di kepala dalam upaya untuk memahami atau memperbaikinya.

Sayangnya, ketika sistem kewaspadaan ini menjadi terlalu aktif atau tidak terkendali, ia berubah menjadi jebakan kognitif. Kita tidak lagi belajar dari pengalaman, melainkan terseret oleh arus pikiran yang berulang dan ini bisa sangat menguras energi mental.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk meruminasi antara lain:

  1. Kepribadian perfeksionis atau neurotik: Individu dengan standar tinggi dan sensitivitas emosional cenderung lebih sering menyalahkan diri sendiri dan memikirkan kesalahan secara berlebihan.
  2. Riwayat trauma atau pengabaian di masa kecil: Pengalaman tidak aman dapat membentuk pola pikir yang cemas dan over-analitis.
  3. Lingkungan penuh tekanan atau tidak suportif: Tuntutan sosial dan kurangnya dukungan emosional membuat seseorang lebih mudah tenggelam dalam pikiran negatif.
  4. Kurangnya keterampilan regulasi emosi: Tanpa cara yang sehat untuk menenangkan diri, ruminasi sering dijadikan “jalan pintas” yang ternyata berujung pada kelelahan emosional.

Penelitian oleh Aldao, Nolen-Hoeksema, dan Schweizer (2010) menemukan bahwa strategi regulasi emosi yang tidak adaptif, termasuk ruminasi, memiliki hubungan kuat dengan peningkatan gangguan psikologis. Artinya, ruminasi bukan hanya gejala, tapi juga bisa menjadi “mesin penggerak” penderitaan mental itu sendiri.

Dampaknya pada Kesehatan Mental

Ruminasi bukan hanya kebiasaan berpikir yang mengganggu, ruminasi juga punya dampak serius terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan seseorang. Meta-analisis oleh Watkins (2008) menyimpulkan bahwa ruminasi berperan aktif dalam mempertahankan dan memperparah gejala depresi. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan perasaan sedih atau kegagalan, sistem limbik otak (pusat emosi) menjadi semakin aktif, sementara bagian otak yang bertugas mengatur emosi malah melemah.

Beberapa gangguan psikologis yang sering dikaitkan dengan ruminasi antara lain:

  1. Gangguan Kecemasan Umum atau Generalized Anxiety Disorder (GAD): Pikiran yang terus berputar tentang “bagaimana jika” atau “apa yang salah” menciptakan kecemasan yang konstan dan melelahkan.
  2. Insomnia: Otak yang sibuk menganalisis dan menyesali kesalahan sulit untuk “mati” di malam hari, sehingga mengganggu kualitas tidur.
  3. Stres kronis: Pikiran negatif yang terus-menerus menciptakan ketegangan fisiologis, meningkatkan hormon stres seperti kortisol.
  4. Gangguan makan atau penyalahgunaan zat: Beberapa orang mencoba menenangkan pikiran yang kacau dengan pelarian seperti makanan, alkohol, atau obat-obatan.

Tak hanya itu, ruminasi juga dapat menghambat kemampuan konsentrasi dan membuat seseorang lebih mudah terdistraksi. Mengganggu relasi interpersonal karena individu cenderung lebih tertutup, sensitif, atau reaktif. Menurunkan motivasi dan kualitas hidup secara keseluruhan, karena energi mental terkuras untuk “berpikir tanpa arah”. Dengan kata lain, ruminasi adalah contoh klasik dari strategi yang tampak seperti upaya penyelesaian masalah, tapi justru memperburuk keadaan jika tidak dikendalikan.

Kapan Refleksi Sehat Berubah Menjadi Ruminasi?

Tidak semua bentuk berpikir mendalam itu buruk. Refleksi diri justru penting untuk pertumbuhan psikologis. Namun, ada garis tipis yang membedakannya dari ruminasi. Refleksi umumnya:

  1. Fokus pada solusi
  2. Terbatas dalam waktu
  3. Didasarkan pada rasa ingin belajar

Sedangkan ruminasi:

  1. Berulang-ulang tanpa arah
  2. Fokus pada penyesalan dan rasa bersalah
  3. Memicu kecemasan dan kelelahan mental

Mengenali perbedaan ini adalah langkah awal penting untuk membangun kesadaran diri dan mengambil tindakan yang tepat.

Bagaimana Cara Menghentikan Ruminasi?

Mengendalikan ruminasi bukan soal “berhenti berpikir”, melainkan mengarahkan ulang perhatian dan membangun respons yang lebih sehat terhadap pikiran negatif. Berikut beberapa pendekatan yang direkomendasikan:

1. Latihan Mindfulness dan Grounding

Latihan seperti meditasi kesadaran, pernapasan sadar, atau teknik grounding membantu kita kembali ke momen saat ini dan mengurangi arus pikiran yang tak terkendali. Kabat-Zinn (2003) menunjukkan bahwa mindfulness efektif dalam meredakan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

2. Batasi “Waktu Merenung”

Alih-alih berusaha sepenuhnya menolak ruminasi (yang sering gagal), tetapkan “jadwal khusus” untuk merenung, misalnya 15 menit sehari. Setelah itu, alihkan diri ke aktivitas lain. Teknik ini dikenal sebagai scheduled worry time.

3. Tuliskan Pikiranmu

Menulis jurnal dapat membantu menyusun dan mengurai pikiran yang ruwet. Ini juga membantu mengidentifikasi pola berpikir berulang.

4. Bangun Aktivitas yang Bermakna

Ruminasi sering muncul ketika kita sedang diam. Menjaga diri tetap aktif secara mental maupun fisik bisa jadi pengalih yang konstruktif. Olahraga ringan, kegiatan sosial, atau hobi kreatif bisa menjadi outlet sehat.

5. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika kamu merasa ruminasi sudah mengganggu fungsi harian, konsultasi dengan psikolog bisa membantu. Terapi kognitif-perilaku atau cognitive behavioral therapy (CBT) secara khusus sangat efektif dalam mengatasi pola pikir ruminatif.

Jangan Terjebak dalam Kepala Sendiri

Ruminasi adalah pengalaman manusiawi, tapi jika dibiarkan liar, ia bisa menelan kesehatan mental kita. Menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam spiral pikiran adalah langkah awal penting menuju pemulihan.

Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu produktif dan tampil sempurna, seringkali kita lupa bahwa berpikir berlebihan bukanlah solusi. Justru, belajar menenangkan diri, menerima ketidakpastian, dan mencintai diri dalam prosesnya bisa menjadi bentuk penyembuhan yang paling tulus.

Jadi, lain kali saat otakmu mulai “muter terus”, tarik napas, sadari polanya, dan pilih jalan keluar. Ingat: kamu bukan isi kepalamu. [T]

Referensi:

Nolen-Hoeksema, S. (1991). Responses to depression and their effects on the duration of depressive episodes. Journal of Abnormal Psychology, 100(4), 569–582.

Aldao, A., Nolen-Hoeksema, S., & Schweizer, S. (2010). Emotion-regulation strategies across psychopathology: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review, 30(2), 217–237.

Watkins, E. R. (2008). Constructive and unconstructive repetitive thought. Psychological Bulletin, 134(2), 163–206.

Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156.

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kini Berseri Menampilkan Les Tari dengan Intrik dan Tawa di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co