23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Isran Kamal by Isran Kamal
July 28, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

KAMU sudah berbaring sejak satu jam lalu. Lampu sudah mati, ponsel sudah disimpan. Tapi kepalamu justru menyala.

Pikiranmu mulai berisik. Ada adegan memalukan dari tiga hari lalu yang tiba-tiba muncul. Lalu pertanyaan: “Kenapa aku ngomong kayak gitu, ya?” Disusul bayangan keputusan lama yang kamu sesali. Belum selesai menyesali masa lalu, muncul lagi kekhawatiran soal besok: “Gimana kalau semuanya gagal?” Kamu mencoba mengalihkan pikiran dengan mengatur napas, membalik bantal, menghitung mundur. Tapi otakmu seperti mesin pencari tanpa tombol “pause”, terus menggali, terus bertanya, terus menyalahkan.

Kalau kamu pernah mengalami ini bukan hanya sekali, tapi sering sekali; maka ada kemungkinan kamu sedang terjebak dalam yang disebut sebagai ruminasi: kebiasaan berpikir berulang yang melelahkan, menyesakkan, dan seringkali tidak menyelesaikan apa pun.

Apa Itu Ruminasi?

Dalam psikologi, ruminasi merujuk pada kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan peristiwa negatif atau emosi yang mengganggu secara repetitif tanpa penyelesaian. Menurut Susan Nolen-Hoeksema (1991), pelopor penelitian ruminasi, ini bukan sekadar merenung, melainkan siklus berpikir yang “mandek”, di mana seseorang kembali lagi dan lagi pada topik yang menyakitkan tanpa menghasilkan solusi yang konkret.

Berbeda dari refleksi sehat yang membawa kita pada pemahaman dan pertumbuhan, ruminasi justru membuat kita terjebak dalam lingkaran kekhawatiran dan penyesalan. Kita seperti sedang mengunyah pikiran-pikiran yang sama berulang kali tanpa pernah menelannya, apalagi mencernanya. Tak heran, ruminasi kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur (Watkins, 2008; Nolen-Hoeksema et al., 2008).

Menurut American Psychological Association, ruminasi bisa muncul dalam dua bentuk:

  1. Ruminasi reflektif, yang cenderung berfokus pada pemahaman (“kenapa ini terjadi?”), dan
  2. Ruminasi brooding, yang lebih gelap dan pasif, seperti membandingkan diri secara negatif atau merasa terus-menerus gagal.

Keduanya bisa tampak mirip dari luar, tapi efeknya berbeda. Refleksi bisa memunculkan makna dan strategi baru, sementara brooding sering kali memperdalam luka emosional.

Ruminasi vs Overthinking: Sama atau Beda?

Banyak orang menyamakan ruminasi dengan overthinking, dan memang keduanya sama-sama melibatkan pikiran yang berputar terus menerus. Namun, secara teknis, ada sedikit perbedaan nuansa.

Overthinking adalah istilah populer yang bisa merujuk pada segala bentuk pikiran yang berlebihan, termasuk dalam pengambilan keputusan (“Apakah aku memilih jurusan yang tepat?”), kekhawatiran akan masa depan, hingga perfeksionisme.

Sementara ruminasi lebih spesifik. Ruminasi biasanya berfokus pada masa lalu atau emosi negatif yang sudah terjadi, dan berlangsung secara repetitif tanpa resolusi. Ruminasi juga lebih erat kaitannya dengan gangguan mood seperti depresi dan kecemasan.

Jadi meski semua ruminasi adalah bentuk overthinking, tidak semua overthinking bisa disebut ruminasi. Overthinking bisa mencakup banyak hal termasuk skenario masa depan atau keputusan sehari-hari sementara ruminasi lebih bersifat emosional, negatif, dan berulang.

Mengapa Otak Kita Suka Meruminasi?

Secara evolusioner, otak manusia dirancang untuk waspada terhadap ancaman dan merekam pengalaman buruk sebagai bentuk pertahanan diri. Mekanisme ini sangat berguna di masa lalu seperti menghindari harimau di hutan, misalnya, bisa berarti hidup atau mati.

Dalam konteks modern, kita mungkin tak lagi dikejar predator, tapi otak kita tetap “menghidupkan alarm” terhadap stresor sosial dan emosional, seperti kegagalan, penolakan, atau rasa bersalah. Akibatnya, kita cenderung memutar ulang pengalaman tersebut di kepala dalam upaya untuk memahami atau memperbaikinya.

Sayangnya, ketika sistem kewaspadaan ini menjadi terlalu aktif atau tidak terkendali, ia berubah menjadi jebakan kognitif. Kita tidak lagi belajar dari pengalaman, melainkan terseret oleh arus pikiran yang berulang dan ini bisa sangat menguras energi mental.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk meruminasi antara lain:

  1. Kepribadian perfeksionis atau neurotik: Individu dengan standar tinggi dan sensitivitas emosional cenderung lebih sering menyalahkan diri sendiri dan memikirkan kesalahan secara berlebihan.
  2. Riwayat trauma atau pengabaian di masa kecil: Pengalaman tidak aman dapat membentuk pola pikir yang cemas dan over-analitis.
  3. Lingkungan penuh tekanan atau tidak suportif: Tuntutan sosial dan kurangnya dukungan emosional membuat seseorang lebih mudah tenggelam dalam pikiran negatif.
  4. Kurangnya keterampilan regulasi emosi: Tanpa cara yang sehat untuk menenangkan diri, ruminasi sering dijadikan “jalan pintas” yang ternyata berujung pada kelelahan emosional.

Penelitian oleh Aldao, Nolen-Hoeksema, dan Schweizer (2010) menemukan bahwa strategi regulasi emosi yang tidak adaptif, termasuk ruminasi, memiliki hubungan kuat dengan peningkatan gangguan psikologis. Artinya, ruminasi bukan hanya gejala, tapi juga bisa menjadi “mesin penggerak” penderitaan mental itu sendiri.

Dampaknya pada Kesehatan Mental

Ruminasi bukan hanya kebiasaan berpikir yang mengganggu, ruminasi juga punya dampak serius terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan seseorang. Meta-analisis oleh Watkins (2008) menyimpulkan bahwa ruminasi berperan aktif dalam mempertahankan dan memperparah gejala depresi. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan perasaan sedih atau kegagalan, sistem limbik otak (pusat emosi) menjadi semakin aktif, sementara bagian otak yang bertugas mengatur emosi malah melemah.

Beberapa gangguan psikologis yang sering dikaitkan dengan ruminasi antara lain:

  1. Gangguan Kecemasan Umum atau Generalized Anxiety Disorder (GAD): Pikiran yang terus berputar tentang “bagaimana jika” atau “apa yang salah” menciptakan kecemasan yang konstan dan melelahkan.
  2. Insomnia: Otak yang sibuk menganalisis dan menyesali kesalahan sulit untuk “mati” di malam hari, sehingga mengganggu kualitas tidur.
  3. Stres kronis: Pikiran negatif yang terus-menerus menciptakan ketegangan fisiologis, meningkatkan hormon stres seperti kortisol.
  4. Gangguan makan atau penyalahgunaan zat: Beberapa orang mencoba menenangkan pikiran yang kacau dengan pelarian seperti makanan, alkohol, atau obat-obatan.

Tak hanya itu, ruminasi juga dapat menghambat kemampuan konsentrasi dan membuat seseorang lebih mudah terdistraksi. Mengganggu relasi interpersonal karena individu cenderung lebih tertutup, sensitif, atau reaktif. Menurunkan motivasi dan kualitas hidup secara keseluruhan, karena energi mental terkuras untuk “berpikir tanpa arah”. Dengan kata lain, ruminasi adalah contoh klasik dari strategi yang tampak seperti upaya penyelesaian masalah, tapi justru memperburuk keadaan jika tidak dikendalikan.

Kapan Refleksi Sehat Berubah Menjadi Ruminasi?

Tidak semua bentuk berpikir mendalam itu buruk. Refleksi diri justru penting untuk pertumbuhan psikologis. Namun, ada garis tipis yang membedakannya dari ruminasi. Refleksi umumnya:

  1. Fokus pada solusi
  2. Terbatas dalam waktu
  3. Didasarkan pada rasa ingin belajar

Sedangkan ruminasi:

  1. Berulang-ulang tanpa arah
  2. Fokus pada penyesalan dan rasa bersalah
  3. Memicu kecemasan dan kelelahan mental

Mengenali perbedaan ini adalah langkah awal penting untuk membangun kesadaran diri dan mengambil tindakan yang tepat.

Bagaimana Cara Menghentikan Ruminasi?

Mengendalikan ruminasi bukan soal “berhenti berpikir”, melainkan mengarahkan ulang perhatian dan membangun respons yang lebih sehat terhadap pikiran negatif. Berikut beberapa pendekatan yang direkomendasikan:

1. Latihan Mindfulness dan Grounding

Latihan seperti meditasi kesadaran, pernapasan sadar, atau teknik grounding membantu kita kembali ke momen saat ini dan mengurangi arus pikiran yang tak terkendali. Kabat-Zinn (2003) menunjukkan bahwa mindfulness efektif dalam meredakan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan mental.

2. Batasi “Waktu Merenung”

Alih-alih berusaha sepenuhnya menolak ruminasi (yang sering gagal), tetapkan “jadwal khusus” untuk merenung, misalnya 15 menit sehari. Setelah itu, alihkan diri ke aktivitas lain. Teknik ini dikenal sebagai scheduled worry time.

3. Tuliskan Pikiranmu

Menulis jurnal dapat membantu menyusun dan mengurai pikiran yang ruwet. Ini juga membantu mengidentifikasi pola berpikir berulang.

4. Bangun Aktivitas yang Bermakna

Ruminasi sering muncul ketika kita sedang diam. Menjaga diri tetap aktif secara mental maupun fisik bisa jadi pengalih yang konstruktif. Olahraga ringan, kegiatan sosial, atau hobi kreatif bisa menjadi outlet sehat.

5. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika kamu merasa ruminasi sudah mengganggu fungsi harian, konsultasi dengan psikolog bisa membantu. Terapi kognitif-perilaku atau cognitive behavioral therapy (CBT) secara khusus sangat efektif dalam mengatasi pola pikir ruminatif.

Jangan Terjebak dalam Kepala Sendiri

Ruminasi adalah pengalaman manusiawi, tapi jika dibiarkan liar, ia bisa menelan kesehatan mental kita. Menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam spiral pikiran adalah langkah awal penting menuju pemulihan.

Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu produktif dan tampil sempurna, seringkali kita lupa bahwa berpikir berlebihan bukanlah solusi. Justru, belajar menenangkan diri, menerima ketidakpastian, dan mencintai diri dalam prosesnya bisa menjadi bentuk penyembuhan yang paling tulus.

Jadi, lain kali saat otakmu mulai “muter terus”, tarik napas, sadari polanya, dan pilih jalan keluar. Ingat: kamu bukan isi kepalamu. [T]

Referensi:

Nolen-Hoeksema, S. (1991). Responses to depression and their effects on the duration of depressive episodes. Journal of Abnormal Psychology, 100(4), 569–582.

Aldao, A., Nolen-Hoeksema, S., & Schweizer, S. (2010). Emotion-regulation strategies across psychopathology: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review, 30(2), 217–237.

Watkins, E. R. (2008). Constructive and unconstructive repetitive thought. Psychological Bulletin, 134(2), 163–206.

Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 144–156.

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kini Berseri Menampilkan Les Tari dengan Intrik dan Tawa di Festival Seni Bali Jani 2025

Next Post

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co