2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Agnes Monica Marpaung by Agnes Monica Marpaung
July 28, 2025
in Esai
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung

KITA hidup di zaman yang menjunjung kekuatan mental, ketahanan emosional, dan ketenangan batin sebagai simbol kemajuan pribadi. Di tengah tekanan hidup modern, banyak orang mencari jalan untuk bertahan. Salah satu jalan yang naik daun dalam beberapa tahun terakhir adalah stoikisme.

Mungkin banyak orang yang sudah tidak asing dengan istilah ini. Stoikisme lahir dari rahim pemikiran Sinisme—mazhab yang menjadi induk filosofisnya, yang dikemukakan oleh Zeno, seorang filsuf Yunani kuno pada abad ke-3 SM (Laërtius, D., 1925). Stoikisme mengajarkan cara mencapai ketenangan batin dan kebahagiaan sejati (Eudaimonia) dengan berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan.

Filosofi kuno dari Yunani ini mendadak populer di media sosial, podcast, hingga buku pengembangan diri. Salah satu buku pengembangan diri yang terkenal hingga menjadi fenomenal membahas seputar stoikisme adalah buku yang ditulis oleh Henry Manampiring dengan judul Filosofi Teras. Dari Zeno, Marcus Aurelius, Epictetus hingga Henry Manampiring, kutipan-kutipan mereka berseliweran—seringkali dipotong, dipermak, dan disajikan sebagai solusi instan untuk masalah hidup yang kompleks.

Namun, ada sesuatu yang perlu kita waspadai. Di balik viralnya filosofi ini, banyak yang tampaknya hanya mengadopsi “kulit”-nya saja. Stoikisme lalu menjelma menjadi semacam perisai emosional yang menolak kelembutan hati, menyangkal duka, dan memuliakan sikap “dingin” atas nama kekuatan. Tanpa disadari, kita sedang menyaksikan bagaimana stoikisme direduksi menjadi versi baru dari toxic positivity.

Stoikisme: Zona Dilarang ‘Baper’

Dalam keseharian, kita sering dengar orang berkata atau mungkin kita yang mengucapkan kalimat-kalimat seperti: “Jangan terlalu berekspektasi” atau “Ikhlasin aja, jangan overthinking” atau yang lebih populer: “Jangan baper, nanti sakit sendiri.” Untuk beberapa momen, kalimat-kalimat ini terdengar seperti nasihat. Tapi dalam frekuensi tertentu, ia berubah jadi tekanan: tekanan untuk selalu tenang, selalu rasional, selalu “kuat”.

Dalam budaya seperti ini, kesedihan dianggap lemah. Marah dianggap kekanak-kanakan. Menangis dianggap tidak dewasa. Kita dipaksa untuk tampak stabil, bahkan ketika jiwa sedang remuk redam.

Stoikisme, ketika disalahpahami, seolah menguatkan narasi ini. Banyak yang mengira stoik itu berarti tidak punya perasaan. Bahwa menjadi dewasa adalah menjadi “kebal”. Dan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan dialami.

Padahal, stoikisme sejati tidak pernah menyuruh kita untuk tidak merasakan. Ia hanya mengajarkan kita untuk tidak dikuasai oleh emosi. Emosi bukan musuh, ia adalah bagian dari hidup yang perlu dikenali, bukan dibungkam.

Stoikisme Sejati: Mengenali, Mengelola, Bukan Menolak

Dalam buku Meditations, Marcus Aurelius menulis: “You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.” Kalimat ini cukup terkenal dan sering dikutip, tapi jarang dibaca dengan utuh. Kekuatan dalam stoikisme bukan tentang menolak kenyataan, melainkan tentang menerima apa yang tak bisa diubah, dan bertanggung jawab atas reaksi kita terhadapnya.

Stoikisme mengajak kita untuk mengamati emosi, menanyakan asalnya, memahaminya. Marah boleh, sedih boleh, kecewa juga sangat boleh. Tapi yang menjadi penting adalah: apakah kita akan membiarkan emosi itu membajak keputusan kita?

Namun, dalam praktik populer hari ini, proses ini sering dipotong. Banyak yang hanya mengambil kesimpulan cepat: “Kalau kamu terluka, artinya kamu belum stoik.” Justru ini menjadi keliru. Lebih dari itu, stoikisme yang sehat mengakui bahwa luka adalah bagian dari kehidupan. Ia hanya mengingatkan kita agar tidak hanyut dalam naungan luka itu selamanya.

Pseudo-Stoikisme dan Toxic Positivity: Dua Sisi dari Koin yang Sama

Di sisi lain, toxic positivity adalah budaya yang menuntut kita untuk selalu bahagia, selalu berpikir positif, selalu melihat hikmah di balik luka. Walaupun niatnya mungkin baik, toxic positivity sering membuat kita merasa bersalah ketika merasa sedih. Ia memaksa kita untuk “move on” bahkan sebelum kita sempat duduk bersama rasa kehilangan.

Kombinasi antara toxic positivity dan pseudo-stoikisme menghasilkan generasi yang terampil menahan air mata, tapi kaku dalam mengungkapkan perasaan. Kita jadi terbiasa bilang “Gak apa-apa kok”, bahkan saat hati retak. Kita terbiasa menyemangati teman dengan, “Yasudahlah, ikhlasin aja,” alih-alih duduk mendengarkan.

Kita mengira sedang menolong. Padahal, kita sedang menghilangkan ruang untuk merasakan. Akibatnya, kita menjadi asing dengan perasaan kita sendiri. Kita kehilangan kamus untuk menerjemahkan bahasa hati. Lidah kita menjadi fasih menawarkan solusi dan kutipan penyemangat, namun kelu saat diminta untuk sekadar mengakui, “Iya, ini memang sakit.” Hubungan antarmanusia pun berubah menjadi transaksi motivasi, bukan lagi sebuah perjumpaan dua jiwa yang utuh dengan segala retaknya.

Erosi Lanskap Emosional

Berbagai studi psikologi modern mulai memperingatkan bahaya dari penekanan emosi. Orang yang terbiasa menyangkal kesedihannya cenderung mengalami kecemasan yang lebih besar, kesulitan menjalin hubungan intim, bahkan lebih rentan terhadap burnout. Ini bukan karena mereka lemah, tapi karena sistem emosi mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk berfungsi dengan sehat. Kondisi ini secara perlahan memicu erosi pada pondasi emosional mereka.

Sebuah studi tentang Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale menunjukkan bahwa orang dengan skor stoikisme tinggi (dalam artian menolak ekspresi emosi) cenderung menunda mencari bantuan medis, menyangkal kebutuhan sosial, dan mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah.

Dengan kata lain: menjadi “kuat” secara emosional tidak selalu berarti “sehat” secara emosional. Karena dasarnya, emosi adalah data yang telah tersistem dalam tiap diri setiap manusia yang merasa. Ia merupakan sistem navigasi biologis yang dirancang untuk memberi kita informasi penting. Rasa sedih memberi tahu kita apa yang kita anggap berharga. Rasa takut menunjukkan di mana kita butuh perlindungan. Rasa marah menandakan batas yang telah dilanggar.

Stoikisme yang Manusiawi

Kita hidup dalam dunia yang memuliakan orang yang “tahan banting”, tapi mencemooh yang “gampang nangis”. Kita lebih suka orang yang tegar diam-diam, daripada yang berani minta tolong. Kita salah kaprah dalam memahami makna kekuatan: bahwa kuat itu tidak berarti tidak pernah goyah, tapi berani menghadapi kegoyahan itu dengan jujur.

Barangkali ini sebabnya kenapa banyak orang hari ini terlihat “heartless” atau nirempati. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka diajari bahwa menjadi manusia berarti menyingkirkan sisi lembutnya. Mereka tidak jahat, mereka hanya tersesat dalam narasi yang salah.

Stoikisme, jika kita pahami dengan utuh, justru mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lengkap—yang berpikir jernih, merasa dengan sadar, dan bertindak dengan bijaksana. Ia bukan tentang menjadi batu karang tanpa emosi, melainkan tentang menjadi pelaut yang bisa tetap tenang meski diterjang ombak.

Barangkali sekaranglah saatnya kita bertanya ulang: benarkah kita sedang belajar kuat, atau kita sedang takut terlihat lemah? Benarkah kita sedang “stoik”, atau kita sedang menyangkal emosi diri sendiri? Kita tidak butuh lebih banyak orang yang tahan banting sampai mati rasa. Kita butuh lebih banyak orang yang bisa berkata: “Aku sedang tidak baik-baik saja. Dan itu tidak membuatku gagal sebagai manusia.”

Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal tidak pernah goyah, tetapi tentang bagaimana kita mengenali, menerima, dan tetap berjalan bersama semua luka yang pernah kita punya. [T]

Referensi:

Laërtius, D. (1925). Lives of eminent philosophers (R. D. Hicks, Trans., Vol. 2). The Loeb Classical Library. London: William Heinemann

Aurelius, Marcus. 2006. Meditations (M. Hammond, Trans.). London: Penguin Classics.

Pathak, E. B., Wieten, S. E., & Wheldon, C. W. (2017). Stoic beliefs and health: Development and preliminary validation of the Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale. BMJ Open, 7(11), e015137. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-015137

Penulis: Agnes Monica Marpaung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan
Makanan Mahal ala “Influencer”: Citarasa atau Cuan?
Tags: filsafatStoikisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Next Post

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Agnes Monica Marpaung

Agnes Monica Marpaung

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co