23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Agnes Monica Marpaung by Agnes Monica Marpaung
July 28, 2025
in Esai
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung

KITA hidup di zaman yang menjunjung kekuatan mental, ketahanan emosional, dan ketenangan batin sebagai simbol kemajuan pribadi. Di tengah tekanan hidup modern, banyak orang mencari jalan untuk bertahan. Salah satu jalan yang naik daun dalam beberapa tahun terakhir adalah stoikisme.

Mungkin banyak orang yang sudah tidak asing dengan istilah ini. Stoikisme lahir dari rahim pemikiran Sinisme—mazhab yang menjadi induk filosofisnya, yang dikemukakan oleh Zeno, seorang filsuf Yunani kuno pada abad ke-3 SM (Laërtius, D., 1925). Stoikisme mengajarkan cara mencapai ketenangan batin dan kebahagiaan sejati (Eudaimonia) dengan berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan.

Filosofi kuno dari Yunani ini mendadak populer di media sosial, podcast, hingga buku pengembangan diri. Salah satu buku pengembangan diri yang terkenal hingga menjadi fenomenal membahas seputar stoikisme adalah buku yang ditulis oleh Henry Manampiring dengan judul Filosofi Teras. Dari Zeno, Marcus Aurelius, Epictetus hingga Henry Manampiring, kutipan-kutipan mereka berseliweran—seringkali dipotong, dipermak, dan disajikan sebagai solusi instan untuk masalah hidup yang kompleks.

Namun, ada sesuatu yang perlu kita waspadai. Di balik viralnya filosofi ini, banyak yang tampaknya hanya mengadopsi “kulit”-nya saja. Stoikisme lalu menjelma menjadi semacam perisai emosional yang menolak kelembutan hati, menyangkal duka, dan memuliakan sikap “dingin” atas nama kekuatan. Tanpa disadari, kita sedang menyaksikan bagaimana stoikisme direduksi menjadi versi baru dari toxic positivity.

Stoikisme: Zona Dilarang ‘Baper’

Dalam keseharian, kita sering dengar orang berkata atau mungkin kita yang mengucapkan kalimat-kalimat seperti: “Jangan terlalu berekspektasi” atau “Ikhlasin aja, jangan overthinking” atau yang lebih populer: “Jangan baper, nanti sakit sendiri.” Untuk beberapa momen, kalimat-kalimat ini terdengar seperti nasihat. Tapi dalam frekuensi tertentu, ia berubah jadi tekanan: tekanan untuk selalu tenang, selalu rasional, selalu “kuat”.

Dalam budaya seperti ini, kesedihan dianggap lemah. Marah dianggap kekanak-kanakan. Menangis dianggap tidak dewasa. Kita dipaksa untuk tampak stabil, bahkan ketika jiwa sedang remuk redam.

Stoikisme, ketika disalahpahami, seolah menguatkan narasi ini. Banyak yang mengira stoik itu berarti tidak punya perasaan. Bahwa menjadi dewasa adalah menjadi “kebal”. Dan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan dialami.

Padahal, stoikisme sejati tidak pernah menyuruh kita untuk tidak merasakan. Ia hanya mengajarkan kita untuk tidak dikuasai oleh emosi. Emosi bukan musuh, ia adalah bagian dari hidup yang perlu dikenali, bukan dibungkam.

Stoikisme Sejati: Mengenali, Mengelola, Bukan Menolak

Dalam buku Meditations, Marcus Aurelius menulis: “You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.” Kalimat ini cukup terkenal dan sering dikutip, tapi jarang dibaca dengan utuh. Kekuatan dalam stoikisme bukan tentang menolak kenyataan, melainkan tentang menerima apa yang tak bisa diubah, dan bertanggung jawab atas reaksi kita terhadapnya.

Stoikisme mengajak kita untuk mengamati emosi, menanyakan asalnya, memahaminya. Marah boleh, sedih boleh, kecewa juga sangat boleh. Tapi yang menjadi penting adalah: apakah kita akan membiarkan emosi itu membajak keputusan kita?

Namun, dalam praktik populer hari ini, proses ini sering dipotong. Banyak yang hanya mengambil kesimpulan cepat: “Kalau kamu terluka, artinya kamu belum stoik.” Justru ini menjadi keliru. Lebih dari itu, stoikisme yang sehat mengakui bahwa luka adalah bagian dari kehidupan. Ia hanya mengingatkan kita agar tidak hanyut dalam naungan luka itu selamanya.

Pseudo-Stoikisme dan Toxic Positivity: Dua Sisi dari Koin yang Sama

Di sisi lain, toxic positivity adalah budaya yang menuntut kita untuk selalu bahagia, selalu berpikir positif, selalu melihat hikmah di balik luka. Walaupun niatnya mungkin baik, toxic positivity sering membuat kita merasa bersalah ketika merasa sedih. Ia memaksa kita untuk “move on” bahkan sebelum kita sempat duduk bersama rasa kehilangan.

Kombinasi antara toxic positivity dan pseudo-stoikisme menghasilkan generasi yang terampil menahan air mata, tapi kaku dalam mengungkapkan perasaan. Kita jadi terbiasa bilang “Gak apa-apa kok”, bahkan saat hati retak. Kita terbiasa menyemangati teman dengan, “Yasudahlah, ikhlasin aja,” alih-alih duduk mendengarkan.

Kita mengira sedang menolong. Padahal, kita sedang menghilangkan ruang untuk merasakan. Akibatnya, kita menjadi asing dengan perasaan kita sendiri. Kita kehilangan kamus untuk menerjemahkan bahasa hati. Lidah kita menjadi fasih menawarkan solusi dan kutipan penyemangat, namun kelu saat diminta untuk sekadar mengakui, “Iya, ini memang sakit.” Hubungan antarmanusia pun berubah menjadi transaksi motivasi, bukan lagi sebuah perjumpaan dua jiwa yang utuh dengan segala retaknya.

Erosi Lanskap Emosional

Berbagai studi psikologi modern mulai memperingatkan bahaya dari penekanan emosi. Orang yang terbiasa menyangkal kesedihannya cenderung mengalami kecemasan yang lebih besar, kesulitan menjalin hubungan intim, bahkan lebih rentan terhadap burnout. Ini bukan karena mereka lemah, tapi karena sistem emosi mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk berfungsi dengan sehat. Kondisi ini secara perlahan memicu erosi pada pondasi emosional mereka.

Sebuah studi tentang Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale menunjukkan bahwa orang dengan skor stoikisme tinggi (dalam artian menolak ekspresi emosi) cenderung menunda mencari bantuan medis, menyangkal kebutuhan sosial, dan mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah.

Dengan kata lain: menjadi “kuat” secara emosional tidak selalu berarti “sehat” secara emosional. Karena dasarnya, emosi adalah data yang telah tersistem dalam tiap diri setiap manusia yang merasa. Ia merupakan sistem navigasi biologis yang dirancang untuk memberi kita informasi penting. Rasa sedih memberi tahu kita apa yang kita anggap berharga. Rasa takut menunjukkan di mana kita butuh perlindungan. Rasa marah menandakan batas yang telah dilanggar.

Stoikisme yang Manusiawi

Kita hidup dalam dunia yang memuliakan orang yang “tahan banting”, tapi mencemooh yang “gampang nangis”. Kita lebih suka orang yang tegar diam-diam, daripada yang berani minta tolong. Kita salah kaprah dalam memahami makna kekuatan: bahwa kuat itu tidak berarti tidak pernah goyah, tapi berani menghadapi kegoyahan itu dengan jujur.

Barangkali ini sebabnya kenapa banyak orang hari ini terlihat “heartless” atau nirempati. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka diajari bahwa menjadi manusia berarti menyingkirkan sisi lembutnya. Mereka tidak jahat, mereka hanya tersesat dalam narasi yang salah.

Stoikisme, jika kita pahami dengan utuh, justru mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lengkap—yang berpikir jernih, merasa dengan sadar, dan bertindak dengan bijaksana. Ia bukan tentang menjadi batu karang tanpa emosi, melainkan tentang menjadi pelaut yang bisa tetap tenang meski diterjang ombak.

Barangkali sekaranglah saatnya kita bertanya ulang: benarkah kita sedang belajar kuat, atau kita sedang takut terlihat lemah? Benarkah kita sedang “stoik”, atau kita sedang menyangkal emosi diri sendiri? Kita tidak butuh lebih banyak orang yang tahan banting sampai mati rasa. Kita butuh lebih banyak orang yang bisa berkata: “Aku sedang tidak baik-baik saja. Dan itu tidak membuatku gagal sebagai manusia.”

Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal tidak pernah goyah, tetapi tentang bagaimana kita mengenali, menerima, dan tetap berjalan bersama semua luka yang pernah kita punya. [T]

Referensi:

Laërtius, D. (1925). Lives of eminent philosophers (R. D. Hicks, Trans., Vol. 2). The Loeb Classical Library. London: William Heinemann

Aurelius, Marcus. 2006. Meditations (M. Hammond, Trans.). London: Penguin Classics.

Pathak, E. B., Wieten, S. E., & Wheldon, C. W. (2017). Stoic beliefs and health: Development and preliminary validation of the Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale. BMJ Open, 7(11), e015137. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-015137

Penulis: Agnes Monica Marpaung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan
Makanan Mahal ala “Influencer”: Citarasa atau Cuan?
Tags: filsafatStoikisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Next Post

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Agnes Monica Marpaung

Agnes Monica Marpaung

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co