13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Agnes Monica Marpaung by Agnes Monica Marpaung
July 28, 2025
in Esai
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung

KITA hidup di zaman yang menjunjung kekuatan mental, ketahanan emosional, dan ketenangan batin sebagai simbol kemajuan pribadi. Di tengah tekanan hidup modern, banyak orang mencari jalan untuk bertahan. Salah satu jalan yang naik daun dalam beberapa tahun terakhir adalah stoikisme.

Mungkin banyak orang yang sudah tidak asing dengan istilah ini. Stoikisme lahir dari rahim pemikiran Sinisme—mazhab yang menjadi induk filosofisnya, yang dikemukakan oleh Zeno, seorang filsuf Yunani kuno pada abad ke-3 SM (Laërtius, D., 1925). Stoikisme mengajarkan cara mencapai ketenangan batin dan kebahagiaan sejati (Eudaimonia) dengan berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan dan menerima apa yang tidak bisa kita kendalikan.

Filosofi kuno dari Yunani ini mendadak populer di media sosial, podcast, hingga buku pengembangan diri. Salah satu buku pengembangan diri yang terkenal hingga menjadi fenomenal membahas seputar stoikisme adalah buku yang ditulis oleh Henry Manampiring dengan judul Filosofi Teras. Dari Zeno, Marcus Aurelius, Epictetus hingga Henry Manampiring, kutipan-kutipan mereka berseliweran—seringkali dipotong, dipermak, dan disajikan sebagai solusi instan untuk masalah hidup yang kompleks.

Namun, ada sesuatu yang perlu kita waspadai. Di balik viralnya filosofi ini, banyak yang tampaknya hanya mengadopsi “kulit”-nya saja. Stoikisme lalu menjelma menjadi semacam perisai emosional yang menolak kelembutan hati, menyangkal duka, dan memuliakan sikap “dingin” atas nama kekuatan. Tanpa disadari, kita sedang menyaksikan bagaimana stoikisme direduksi menjadi versi baru dari toxic positivity.

Stoikisme: Zona Dilarang ‘Baper’

Dalam keseharian, kita sering dengar orang berkata atau mungkin kita yang mengucapkan kalimat-kalimat seperti: “Jangan terlalu berekspektasi” atau “Ikhlasin aja, jangan overthinking” atau yang lebih populer: “Jangan baper, nanti sakit sendiri.” Untuk beberapa momen, kalimat-kalimat ini terdengar seperti nasihat. Tapi dalam frekuensi tertentu, ia berubah jadi tekanan: tekanan untuk selalu tenang, selalu rasional, selalu “kuat”.

Dalam budaya seperti ini, kesedihan dianggap lemah. Marah dianggap kekanak-kanakan. Menangis dianggap tidak dewasa. Kita dipaksa untuk tampak stabil, bahkan ketika jiwa sedang remuk redam.

Stoikisme, ketika disalahpahami, seolah menguatkan narasi ini. Banyak yang mengira stoik itu berarti tidak punya perasaan. Bahwa menjadi dewasa adalah menjadi “kebal”. Dan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang harus dihindari, bukan dialami.

Padahal, stoikisme sejati tidak pernah menyuruh kita untuk tidak merasakan. Ia hanya mengajarkan kita untuk tidak dikuasai oleh emosi. Emosi bukan musuh, ia adalah bagian dari hidup yang perlu dikenali, bukan dibungkam.

Stoikisme Sejati: Mengenali, Mengelola, Bukan Menolak

Dalam buku Meditations, Marcus Aurelius menulis: “You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength.” Kalimat ini cukup terkenal dan sering dikutip, tapi jarang dibaca dengan utuh. Kekuatan dalam stoikisme bukan tentang menolak kenyataan, melainkan tentang menerima apa yang tak bisa diubah, dan bertanggung jawab atas reaksi kita terhadapnya.

Stoikisme mengajak kita untuk mengamati emosi, menanyakan asalnya, memahaminya. Marah boleh, sedih boleh, kecewa juga sangat boleh. Tapi yang menjadi penting adalah: apakah kita akan membiarkan emosi itu membajak keputusan kita?

Namun, dalam praktik populer hari ini, proses ini sering dipotong. Banyak yang hanya mengambil kesimpulan cepat: “Kalau kamu terluka, artinya kamu belum stoik.” Justru ini menjadi keliru. Lebih dari itu, stoikisme yang sehat mengakui bahwa luka adalah bagian dari kehidupan. Ia hanya mengingatkan kita agar tidak hanyut dalam naungan luka itu selamanya.

Pseudo-Stoikisme dan Toxic Positivity: Dua Sisi dari Koin yang Sama

Di sisi lain, toxic positivity adalah budaya yang menuntut kita untuk selalu bahagia, selalu berpikir positif, selalu melihat hikmah di balik luka. Walaupun niatnya mungkin baik, toxic positivity sering membuat kita merasa bersalah ketika merasa sedih. Ia memaksa kita untuk “move on” bahkan sebelum kita sempat duduk bersama rasa kehilangan.

Kombinasi antara toxic positivity dan pseudo-stoikisme menghasilkan generasi yang terampil menahan air mata, tapi kaku dalam mengungkapkan perasaan. Kita jadi terbiasa bilang “Gak apa-apa kok”, bahkan saat hati retak. Kita terbiasa menyemangati teman dengan, “Yasudahlah, ikhlasin aja,” alih-alih duduk mendengarkan.

Kita mengira sedang menolong. Padahal, kita sedang menghilangkan ruang untuk merasakan. Akibatnya, kita menjadi asing dengan perasaan kita sendiri. Kita kehilangan kamus untuk menerjemahkan bahasa hati. Lidah kita menjadi fasih menawarkan solusi dan kutipan penyemangat, namun kelu saat diminta untuk sekadar mengakui, “Iya, ini memang sakit.” Hubungan antarmanusia pun berubah menjadi transaksi motivasi, bukan lagi sebuah perjumpaan dua jiwa yang utuh dengan segala retaknya.

Erosi Lanskap Emosional

Berbagai studi psikologi modern mulai memperingatkan bahaya dari penekanan emosi. Orang yang terbiasa menyangkal kesedihannya cenderung mengalami kecemasan yang lebih besar, kesulitan menjalin hubungan intim, bahkan lebih rentan terhadap burnout. Ini bukan karena mereka lemah, tapi karena sistem emosi mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk berfungsi dengan sehat. Kondisi ini secara perlahan memicu erosi pada pondasi emosional mereka.

Sebuah studi tentang Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale menunjukkan bahwa orang dengan skor stoikisme tinggi (dalam artian menolak ekspresi emosi) cenderung menunda mencari bantuan medis, menyangkal kebutuhan sosial, dan mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah.

Dengan kata lain: menjadi “kuat” secara emosional tidak selalu berarti “sehat” secara emosional. Karena dasarnya, emosi adalah data yang telah tersistem dalam tiap diri setiap manusia yang merasa. Ia merupakan sistem navigasi biologis yang dirancang untuk memberi kita informasi penting. Rasa sedih memberi tahu kita apa yang kita anggap berharga. Rasa takut menunjukkan di mana kita butuh perlindungan. Rasa marah menandakan batas yang telah dilanggar.

Stoikisme yang Manusiawi

Kita hidup dalam dunia yang memuliakan orang yang “tahan banting”, tapi mencemooh yang “gampang nangis”. Kita lebih suka orang yang tegar diam-diam, daripada yang berani minta tolong. Kita salah kaprah dalam memahami makna kekuatan: bahwa kuat itu tidak berarti tidak pernah goyah, tapi berani menghadapi kegoyahan itu dengan jujur.

Barangkali ini sebabnya kenapa banyak orang hari ini terlihat “heartless” atau nirempati. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka diajari bahwa menjadi manusia berarti menyingkirkan sisi lembutnya. Mereka tidak jahat, mereka hanya tersesat dalam narasi yang salah.

Stoikisme, jika kita pahami dengan utuh, justru mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lengkap—yang berpikir jernih, merasa dengan sadar, dan bertindak dengan bijaksana. Ia bukan tentang menjadi batu karang tanpa emosi, melainkan tentang menjadi pelaut yang bisa tetap tenang meski diterjang ombak.

Barangkali sekaranglah saatnya kita bertanya ulang: benarkah kita sedang belajar kuat, atau kita sedang takut terlihat lemah? Benarkah kita sedang “stoik”, atau kita sedang menyangkal emosi diri sendiri? Kita tidak butuh lebih banyak orang yang tahan banting sampai mati rasa. Kita butuh lebih banyak orang yang bisa berkata: “Aku sedang tidak baik-baik saja. Dan itu tidak membuatku gagal sebagai manusia.”

Karena pada akhirnya, menjadi manusia bukan soal tidak pernah goyah, tetapi tentang bagaimana kita mengenali, menerima, dan tetap berjalan bersama semua luka yang pernah kita punya. [T]

Referensi:

Laërtius, D. (1925). Lives of eminent philosophers (R. D. Hicks, Trans., Vol. 2). The Loeb Classical Library. London: William Heinemann

Aurelius, Marcus. 2006. Meditations (M. Hammond, Trans.). London: Penguin Classics.

Pathak, E. B., Wieten, S. E., & Wheldon, C. W. (2017). Stoic beliefs and health: Development and preliminary validation of the Pathak-Wieten Stoicism Ideology Scale. BMJ Open, 7(11), e015137. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2016-015137

Penulis: Agnes Monica Marpaung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan
Makanan Mahal ala “Influencer”: Citarasa atau Cuan?
Tags: filsafatStoikisme
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mikir Terus, Capek Sendiri: Memahami Ruminasi dan Cara Keluar dari Perangkap Pikiran

Next Post

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Agnes Monica Marpaung

Agnes Monica Marpaung

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co