23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung by Agnes Monica Marpaung
July 20, 2025
in Esai
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung

ERA kemudahan digital saat ini, media sosial seperti TikTok, Instagram, dan bahkan kolom komentar Live (siaran langsung), perempuan kerap menjadi sasaran komentar seksual yang berulang dan brutal. “Info lokasi, mbak,” “Malem Minggu sendirian nih?” hingga “Buka dikit lagi dong” kerap menjadi suara latar yang seolah lumrah di ruang digital.

Anehnya, bukan pelaku yang ditegur, tapi seringkali sang perempuan yang disalahkan: “Ya salah sendiri, bajunya gitu”, “Ngapain juga Live malam-malam?” dan lain sebagainya. Saya bukan korban langsung, tetapi saya muak melihat betapa wajar kekerasan ini diperlakukan. Kita telah gagal menciptakan ruang digital yang aman, bahkan untuk sekedar tampil dan berbicara.

Perempuan dan Kekerasan Digital: Bentuknya Nyata, Dampaknya Luka

Mungkin bagi pelaku pelecehan, hal tersebut hanya sebatas guyonan semata. Namun, pelecehan digital terhadap perempuan bukan sekadar komentar iseng belaka. Menurut U.S Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2024, “kekerasan seksual dapat terjadi secara langsung, daring, atau melalui teknologi, seperti dalam kasus memposting atau membagikan gambar seksual seseorang tanpa izin mereka, atau pengiriman pesan seksual tanpa persetujuan”. Bentuk pelecehan di era digital ini sangat beragam: mulai dari komentar seksual eksplisit di media sosial, pesan pribadi yang mengganggu, pengiriman gambar vulgar tanpa persetujuan, hingga praktik ekstrem seperti doxing (menyebarkan data pribadi) dan revenge porn.

Adapun yang lebih mengkhawatirkan, pelaku merasa aman karena bersembunyi di balik layar. Mereka merasa tidak akan pernah benar-benar dihukum. Bahkan banyak yang merasa “lucu-lucuan saja” atau “cuma bercanda.” Padahal bagi korbannya, ini bukan lelucon, ini adalah bentuk kekerasan yang berujung luka. Hak dan kebebasan perempuan untuk sekadar menari, berbicara, atau menunjukkan ekspresi diri di internet, bisa menjadi sasaran hanya karena menjadi seorang ‘perempuan’.

Ketika Semua Diam: Budaya Membiarkan Pelecehan

Apa yang lebih menyakitkan dari pelecehan? Normalisasi. Saat perempuan melaporkan pelecehan online, reaksi umum adalah “jangan lebay,” atau “ya udah sih, tinggal blok aja.” Atau lebih parah lagi, korban justru disalahkan karena dianggap mengundang. Budaya victim blaming ini membuat banyak perempuan enggan bersuara. Laporan yang ditulis oleh SAFENet Indonesia pada tahun 2024 menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender online (KBGO) di triwulan 2024 terdapat 480 laporan, dengan lebih dari setengahnya dilaporkan oleh perempuan.

Tidak ada ruang aman untuk mengadukan pelecehan digital, karena tanggapannya selalu meremehkan atau mengalihkan kesalahan. Yang seharusnya malu adalah pelaku dan bukan korban. Tapi dalam budaya digital kita, yang malu justru yang berani bersuara. Platform digital seperti TikTok dan Instagram juga belum cukup tegas. Fitur moderasi dan pelaporan kadang hanya formalitas. Bahkan akun-akun yang jelas-jelas menyebarkan konten seksis atau melecehkan bisa tetap bertahan lama.

Ruang Publik Digital yang Tak Lagi Milik Perempuan

Pelecehan digital menciptakan ketakutan yang nyata. Banyak perempuan akhirnya memilih untuk membatasi diri, tidak berani mengunggah foto, tidak berani bersuara, bahkan menghapus media sosial mereka. Ini bukan hanya soal kenyamanan. Ini tentang kebebasan berekspresi yang direnggut secara sistematis oleh atmosfer yang penuh kekerasan dan bias gender.

Saat perempuan dipaksa bungkam karena takut dilecehkan, kita sedang menciptakan ruang publik digital yang tidak inklusif, yang hanya memberi tempat pada suara mayoritas pelaku pelecehan. Pelecehan digital juga tidak berhenti di dunia maya. Banyak kasus yang berlanjut ke dunia nyata: pelaku mencari alamat korban, mengancam, atau bahkan melakukan kekerasan fisik. Jadi jangan pernah menganggap pelecehan digital itu tidak nyata.

Lalu, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Pertama, platform digital harus memperbaiki sistem yang ada dan menjadi ruang aman bagi perempuan untuk berekspresi. Jangan hanya membangun algoritma yang membuat pengguna  betah scroll, tetapi abai terhadap keamanan penggunanya. Moderasi konten harus lebih ketat dan transparan. Komentar pelecehan harus bisa langsung dilaporkan dan ditindak.

Kedua, kesadaran masyarakat pengguna internet, kita perlu lebih sadar dan berani bersuara. Diam berarti membiarkan. Normalisasi ini tidak akan selesai kalau yang bersuara hanya korban. Harus ada solidaritas, harus ada penolakan kolektif.

Ketiga, negara dan hukum. UU ITE selama ini lebih sering dipakai untuk menjerat korban atau aktivis, daripada melindungi dari kekerasan berbasis gender. Perlu ada peraturan hukum yang secara tegas mengakui dan menangani kekerasan berbasis gender online dan itu bukan hal yang berlebihan, itu adalah kebutuhan.

Diam Bukan Lagi Emas

Pelecehan digital terhadap perempuan bukan masalah sepele, bukan “cuma online,” dan bukan hal yang bisa kita biarkan lewat. Jika ruang digital adalah masa depan ruang publik kita, maka memperjuangkan ruang digital yang aman bagi perempuan adalah bagian dari memperjuangkan demokrasi.

Membiarkan kekerasan berlangsung karena kita terbiasa melihatnya, bukanlah alasan untuk tetap diam. Karena kalau kita tahu ini salah, lalu kenapa kita masih mewajarkan hal yang tak wajar?

Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention. (2024, January 23). About sexual violence. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/sexual-violence/about/index.html
  2. SAFEnet. (2024, Oktober). Laporan pemantauan situasi hak-hak digital di Indonesia triwulan III 2024. https://safenet.or.id/id/2024/10/laporan-pemantauan-situasi-hak-hak-digital-di-indonesia-triwulan-iii-2024/

Penulis: Agnes Monica Marpaung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Tags: digitalPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Next Post

Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Agnes Monica Marpaung

Agnes Monica Marpaung

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co