2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung by Agnes Monica Marpaung
July 20, 2025
in Esai
Wajar Tapi Tak Wajar: Normalisasi Kekerasan Digital terhadap Perempuan

Agnes Monica Marpaung

ERA kemudahan digital saat ini, media sosial seperti TikTok, Instagram, dan bahkan kolom komentar Live (siaran langsung), perempuan kerap menjadi sasaran komentar seksual yang berulang dan brutal. “Info lokasi, mbak,” “Malem Minggu sendirian nih?” hingga “Buka dikit lagi dong” kerap menjadi suara latar yang seolah lumrah di ruang digital.

Anehnya, bukan pelaku yang ditegur, tapi seringkali sang perempuan yang disalahkan: “Ya salah sendiri, bajunya gitu”, “Ngapain juga Live malam-malam?” dan lain sebagainya. Saya bukan korban langsung, tetapi saya muak melihat betapa wajar kekerasan ini diperlakukan. Kita telah gagal menciptakan ruang digital yang aman, bahkan untuk sekedar tampil dan berbicara.

Perempuan dan Kekerasan Digital: Bentuknya Nyata, Dampaknya Luka

Mungkin bagi pelaku pelecehan, hal tersebut hanya sebatas guyonan semata. Namun, pelecehan digital terhadap perempuan bukan sekadar komentar iseng belaka. Menurut U.S Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2024, “kekerasan seksual dapat terjadi secara langsung, daring, atau melalui teknologi, seperti dalam kasus memposting atau membagikan gambar seksual seseorang tanpa izin mereka, atau pengiriman pesan seksual tanpa persetujuan”. Bentuk pelecehan di era digital ini sangat beragam: mulai dari komentar seksual eksplisit di media sosial, pesan pribadi yang mengganggu, pengiriman gambar vulgar tanpa persetujuan, hingga praktik ekstrem seperti doxing (menyebarkan data pribadi) dan revenge porn.

Adapun yang lebih mengkhawatirkan, pelaku merasa aman karena bersembunyi di balik layar. Mereka merasa tidak akan pernah benar-benar dihukum. Bahkan banyak yang merasa “lucu-lucuan saja” atau “cuma bercanda.” Padahal bagi korbannya, ini bukan lelucon, ini adalah bentuk kekerasan yang berujung luka. Hak dan kebebasan perempuan untuk sekadar menari, berbicara, atau menunjukkan ekspresi diri di internet, bisa menjadi sasaran hanya karena menjadi seorang ‘perempuan’.

Ketika Semua Diam: Budaya Membiarkan Pelecehan

Apa yang lebih menyakitkan dari pelecehan? Normalisasi. Saat perempuan melaporkan pelecehan online, reaksi umum adalah “jangan lebay,” atau “ya udah sih, tinggal blok aja.” Atau lebih parah lagi, korban justru disalahkan karena dianggap mengundang. Budaya victim blaming ini membuat banyak perempuan enggan bersuara. Laporan yang ditulis oleh SAFENet Indonesia pada tahun 2024 menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender online (KBGO) di triwulan 2024 terdapat 480 laporan, dengan lebih dari setengahnya dilaporkan oleh perempuan.

Tidak ada ruang aman untuk mengadukan pelecehan digital, karena tanggapannya selalu meremehkan atau mengalihkan kesalahan. Yang seharusnya malu adalah pelaku dan bukan korban. Tapi dalam budaya digital kita, yang malu justru yang berani bersuara. Platform digital seperti TikTok dan Instagram juga belum cukup tegas. Fitur moderasi dan pelaporan kadang hanya formalitas. Bahkan akun-akun yang jelas-jelas menyebarkan konten seksis atau melecehkan bisa tetap bertahan lama.

Ruang Publik Digital yang Tak Lagi Milik Perempuan

Pelecehan digital menciptakan ketakutan yang nyata. Banyak perempuan akhirnya memilih untuk membatasi diri, tidak berani mengunggah foto, tidak berani bersuara, bahkan menghapus media sosial mereka. Ini bukan hanya soal kenyamanan. Ini tentang kebebasan berekspresi yang direnggut secara sistematis oleh atmosfer yang penuh kekerasan dan bias gender.

Saat perempuan dipaksa bungkam karena takut dilecehkan, kita sedang menciptakan ruang publik digital yang tidak inklusif, yang hanya memberi tempat pada suara mayoritas pelaku pelecehan. Pelecehan digital juga tidak berhenti di dunia maya. Banyak kasus yang berlanjut ke dunia nyata: pelaku mencari alamat korban, mengancam, atau bahkan melakukan kekerasan fisik. Jadi jangan pernah menganggap pelecehan digital itu tidak nyata.

Lalu, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Pertama, platform digital harus memperbaiki sistem yang ada dan menjadi ruang aman bagi perempuan untuk berekspresi. Jangan hanya membangun algoritma yang membuat pengguna  betah scroll, tetapi abai terhadap keamanan penggunanya. Moderasi konten harus lebih ketat dan transparan. Komentar pelecehan harus bisa langsung dilaporkan dan ditindak.

Kedua, kesadaran masyarakat pengguna internet, kita perlu lebih sadar dan berani bersuara. Diam berarti membiarkan. Normalisasi ini tidak akan selesai kalau yang bersuara hanya korban. Harus ada solidaritas, harus ada penolakan kolektif.

Ketiga, negara dan hukum. UU ITE selama ini lebih sering dipakai untuk menjerat korban atau aktivis, daripada melindungi dari kekerasan berbasis gender. Perlu ada peraturan hukum yang secara tegas mengakui dan menangani kekerasan berbasis gender online dan itu bukan hal yang berlebihan, itu adalah kebutuhan.

Diam Bukan Lagi Emas

Pelecehan digital terhadap perempuan bukan masalah sepele, bukan “cuma online,” dan bukan hal yang bisa kita biarkan lewat. Jika ruang digital adalah masa depan ruang publik kita, maka memperjuangkan ruang digital yang aman bagi perempuan adalah bagian dari memperjuangkan demokrasi.

Membiarkan kekerasan berlangsung karena kita terbiasa melihatnya, bukanlah alasan untuk tetap diam. Karena kalau kita tahu ini salah, lalu kenapa kita masih mewajarkan hal yang tak wajar?

Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention. (2024, January 23). About sexual violence. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/sexual-violence/about/index.html
  2. SAFEnet. (2024, Oktober). Laporan pemantauan situasi hak-hak digital di Indonesia triwulan III 2024. https://safenet.or.id/id/2024/10/laporan-pemantauan-situasi-hak-hak-digital-di-indonesia-triwulan-iii-2024/

Penulis: Agnes Monica Marpaung
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Krisna Aji, Psikiater Langka yang Menulis dari Ruang Sunyi Jiwa
Tags: digitalPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koster Senang Karena Seniman Menggarap Karya Seni Berdasar Kearifan Lokal di Daerah Masing-masing

Next Post

Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Agnes Monica Marpaung

Agnes Monica Marpaung

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNVJ) Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Yuliana Citra, Bintang Penjuru dari SMAN 2 Kuta Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co