4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 28, 2025
in Esai
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Foto ilustrasi: penulis

Pendahuluan: Dua Jalan dalam Hidup Manusia

Di dalam tradisi kebijaksanaan India Kuno, khususnya dalam ajaran Katha Upanishad, dikenal dua pilihan utama dalam kehidupan manusia: Sreya dan Preya. Sreya berarti jalan yang mulia, memuliakan, dan mendatangkan kebaikan jangka panjang. Sementara Preya berarti jalan yang menyenangkan, memanjakan indra, menawarkan kenikmatan sesaat, namun sering kali menjerumuskan dalam penderitaan jangka panjang.

Kedua pilihan ini tak hanya relevan di zaman kuno, namun juga semakin mendesak untuk kita pahami dan hayati di tengah krisis ekologi global. Dalam konteks kehidupan modern yang dikuasai oleh konsumsi berlebihan, urbanisasi tanpa kontrol, dan ekses betonisasi, pilihan antara Sreya dan Preya kini menentukan arah masa depan umat manusia dan planet tempat kita berpijak.

Dari Konsep Filosofis ke Praktik Ekologis

Dalam diskusi spiritual bersama Guruji, muncul pertanyaan sederhana namun dalam:

“Mana yang lebih penting: kenyamanan sesaat atau keberlanjutan kehidupan?”

Pertanyaan ini menggiring pada pemahaman bahwa Sreya tidak selalu menyenangkan di awal, namun hasilnya membawa keberkahan bagi banyak makhluk. Sebaliknya, Preya bisa tampak indah, namun berujung pada kerusakan. Sebagai contoh: membangun mal atau apartemen di lahan hijau mungkin menyenangkan secara ekonomi dan gaya hidup, namun merusak ekosistem dan memperburuk kualitas udara, air, dan keseimbangan alam.

Sebaliknya, menanam pohon adalah tindakan Sreya. Mungkin tidak menghasilkan keuntungan instan, namun ia adalah investasi kehidupan. Ketika kita menanam pohon:

  • Burung-burung kembali hinggap dan bersarang.
  • Udara disaring oleh dedaunan yang berfotosintesis.
  • Air tanah dipertahankan dan tidak langsung mengalir ke selokan.
  • Serangga, kupu-kupu, dan makhluk kecil lainnya mendapatkan habitat.
  • Ekosistem mikro pun terbentuk kembali.
  • Dan tanpa sadar, kita ikut menikmati manfaat dari udara yang bersih, suhu yang lebih sejuk, dan ketenangan jiwa.

Dengan kata lain, yang kita tanam untuk bumi, kembali kepada kita sebagai berkah.

Krisis Global: Preya Telah Mendominasi

Kita hidup di era di mana jalan Preya begitu menggoda. Infrastruktur masif dibangun atas nama kemajuan, namun seringkali dengan mengorbankan alam. Gaya hidup konsumtif dipromosikan tanpa menyadari dampaknya pada bumi. Limbah plastik, polusi udara, kepunahan spesies, pemanasan global—semuanya adalah konsekuensi dari pilihan Preya yang diambil oleh peradaban modern.

Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa suhu bumi terus meningkat dan pola cuaca menjadi semakin ekstrem. Di Indonesia, deforestasi telah menyebabkan hilangnya habitat satwa endemik seperti orangutan, harimau Sumatera, dan burung cendrawasih.

Sains dan spiritualitas, meski sering dianggap berseberangan, kini menemukan titik temu. Ilmu lingkungan membuktikan bahwa kita harus mengubah pola konsumsi dan pembangunan, sementara tradisi spiritual seperti Vedanta telah lama mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai Ibu — Bhumi Devi.

Merawat Ibu Bumi: Sebuah Spiritualitas Tindakan

Merawat bumi bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan pengamalan spiritual tertinggi. Dalam tradisi Weda, terdapat ajaran:

Mata bhūmiḥ putro ’ham pṛthivyāḥ — “Bumi adalah ibuku, dan aku adalah anaknya.”

Kita bukan penguasa atas alam, melainkan bagian dari jaring kehidupan. Kita lahir dari bumi, diberi makan oleh bumi, dan pada akhirnya akan kembali ke bumi.

Ketika kita menanam pohon, merawat sungai, mengurangi plastik, memilih konsumsi lokal dan berkelanjutan—kita tidak sedang berbuat baik kepada orang lain saja, tapi sedang memuliakan diri sendiri sebagai bagian dari alam.

Gerakan seperti “Serve Mother Earth” yang digagas Guruji Anand Krishna, kini mengajak umat manusia kembali pada prinsip Sreya: melayani bukan menguasai, merawat bukan mengeksploitasi.

Dari Ritual ke Spiritualitas: Menghijaukan Kembali Jiwa dan Alam

Di Indonesia, semangat ini sebenarnya telah hidup dalam kearifan lokal. Tradisi Subak di Bali, sistem Huma di Kalimantan, atau Lubuk Larangan di Sumatera adalah ekspresi konkret dari hidup selaras dengan alam. Namun modernisasi yang tidak terarah seringkali menggusur sistem ini.

Kita tidak menolak kemajuan, namun kita membutuhkan kemajuan yang selaras, bukan kemajuan yang meniadakan.

Saat ini, banyak anak muda mulai kembali ke alam — berkebun, permakultur, urban farming, zero waste living. Ini adalah pertanda baik: kesadaran sedang bertumbuh.

Namun agar perubahan itu mendalam dan sistemik, dibutuhkan pergeseran paradigma: dari Preya ke Sreya. Dari sekadar ritual simbolik ke spiritualitas yang konkret dan membumi.

Menutup: Memilih Masa Depan

Sreya dan Preya akan selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita. Dalam apa yang kita makan, beli, bangun, dan wariskan.
Saatnya kita bertanya sebelum bertindak:

  • Apakah ini memuliakan kehidupan atau hanya menyenangkan diriku sesaat?
  • Apakah ini baik bagi bumi dan seluruh penghuninya?
  • Apakah ini membawa manfaat jangka panjang?

Jika jawabannya ya, maka itu adalah Sreya — dan bumi akan tersenyum.

Karena ketika kita memilih jalan yang memuliakan, kita bukan hanya menyelamatkan planet ini, tapi juga menyelamatkan jiwa kita sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: Spiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Next Post

Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co