4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 28, 2025
in Esai
Sreya atau Preya: Saatnya Memilih Jalan yang Memuliakan Ibu Bumi

Foto ilustrasi: penulis

Pendahuluan: Dua Jalan dalam Hidup Manusia

Di dalam tradisi kebijaksanaan India Kuno, khususnya dalam ajaran Katha Upanishad, dikenal dua pilihan utama dalam kehidupan manusia: Sreya dan Preya. Sreya berarti jalan yang mulia, memuliakan, dan mendatangkan kebaikan jangka panjang. Sementara Preya berarti jalan yang menyenangkan, memanjakan indra, menawarkan kenikmatan sesaat, namun sering kali menjerumuskan dalam penderitaan jangka panjang.

Kedua pilihan ini tak hanya relevan di zaman kuno, namun juga semakin mendesak untuk kita pahami dan hayati di tengah krisis ekologi global. Dalam konteks kehidupan modern yang dikuasai oleh konsumsi berlebihan, urbanisasi tanpa kontrol, dan ekses betonisasi, pilihan antara Sreya dan Preya kini menentukan arah masa depan umat manusia dan planet tempat kita berpijak.

Dari Konsep Filosofis ke Praktik Ekologis

Dalam diskusi spiritual bersama Guruji, muncul pertanyaan sederhana namun dalam:

“Mana yang lebih penting: kenyamanan sesaat atau keberlanjutan kehidupan?”

Pertanyaan ini menggiring pada pemahaman bahwa Sreya tidak selalu menyenangkan di awal, namun hasilnya membawa keberkahan bagi banyak makhluk. Sebaliknya, Preya bisa tampak indah, namun berujung pada kerusakan. Sebagai contoh: membangun mal atau apartemen di lahan hijau mungkin menyenangkan secara ekonomi dan gaya hidup, namun merusak ekosistem dan memperburuk kualitas udara, air, dan keseimbangan alam.

Sebaliknya, menanam pohon adalah tindakan Sreya. Mungkin tidak menghasilkan keuntungan instan, namun ia adalah investasi kehidupan. Ketika kita menanam pohon:

  • Burung-burung kembali hinggap dan bersarang.
  • Udara disaring oleh dedaunan yang berfotosintesis.
  • Air tanah dipertahankan dan tidak langsung mengalir ke selokan.
  • Serangga, kupu-kupu, dan makhluk kecil lainnya mendapatkan habitat.
  • Ekosistem mikro pun terbentuk kembali.
  • Dan tanpa sadar, kita ikut menikmati manfaat dari udara yang bersih, suhu yang lebih sejuk, dan ketenangan jiwa.

Dengan kata lain, yang kita tanam untuk bumi, kembali kepada kita sebagai berkah.

Krisis Global: Preya Telah Mendominasi

Kita hidup di era di mana jalan Preya begitu menggoda. Infrastruktur masif dibangun atas nama kemajuan, namun seringkali dengan mengorbankan alam. Gaya hidup konsumtif dipromosikan tanpa menyadari dampaknya pada bumi. Limbah plastik, polusi udara, kepunahan spesies, pemanasan global—semuanya adalah konsekuensi dari pilihan Preya yang diambil oleh peradaban modern.

Data dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa suhu bumi terus meningkat dan pola cuaca menjadi semakin ekstrem. Di Indonesia, deforestasi telah menyebabkan hilangnya habitat satwa endemik seperti orangutan, harimau Sumatera, dan burung cendrawasih.

Sains dan spiritualitas, meski sering dianggap berseberangan, kini menemukan titik temu. Ilmu lingkungan membuktikan bahwa kita harus mengubah pola konsumsi dan pembangunan, sementara tradisi spiritual seperti Vedanta telah lama mengajarkan penghormatan terhadap alam sebagai Ibu — Bhumi Devi.

Merawat Ibu Bumi: Sebuah Spiritualitas Tindakan

Merawat bumi bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan pengamalan spiritual tertinggi. Dalam tradisi Weda, terdapat ajaran:

Mata bhūmiḥ putro ’ham pṛthivyāḥ — “Bumi adalah ibuku, dan aku adalah anaknya.”

Kita bukan penguasa atas alam, melainkan bagian dari jaring kehidupan. Kita lahir dari bumi, diberi makan oleh bumi, dan pada akhirnya akan kembali ke bumi.

Ketika kita menanam pohon, merawat sungai, mengurangi plastik, memilih konsumsi lokal dan berkelanjutan—kita tidak sedang berbuat baik kepada orang lain saja, tapi sedang memuliakan diri sendiri sebagai bagian dari alam.

Gerakan seperti “Serve Mother Earth” yang digagas Guruji Anand Krishna, kini mengajak umat manusia kembali pada prinsip Sreya: melayani bukan menguasai, merawat bukan mengeksploitasi.

Dari Ritual ke Spiritualitas: Menghijaukan Kembali Jiwa dan Alam

Di Indonesia, semangat ini sebenarnya telah hidup dalam kearifan lokal. Tradisi Subak di Bali, sistem Huma di Kalimantan, atau Lubuk Larangan di Sumatera adalah ekspresi konkret dari hidup selaras dengan alam. Namun modernisasi yang tidak terarah seringkali menggusur sistem ini.

Kita tidak menolak kemajuan, namun kita membutuhkan kemajuan yang selaras, bukan kemajuan yang meniadakan.

Saat ini, banyak anak muda mulai kembali ke alam — berkebun, permakultur, urban farming, zero waste living. Ini adalah pertanda baik: kesadaran sedang bertumbuh.

Namun agar perubahan itu mendalam dan sistemik, dibutuhkan pergeseran paradigma: dari Preya ke Sreya. Dari sekadar ritual simbolik ke spiritualitas yang konkret dan membumi.

Menutup: Memilih Masa Depan

Sreya dan Preya akan selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita. Dalam apa yang kita makan, beli, bangun, dan wariskan.
Saatnya kita bertanya sebelum bertindak:

  • Apakah ini memuliakan kehidupan atau hanya menyenangkan diriku sesaat?
  • Apakah ini baik bagi bumi dan seluruh penghuninya?
  • Apakah ini membawa manfaat jangka panjang?

Jika jawabannya ya, maka itu adalah Sreya — dan bumi akan tersenyum.

Karena ketika kita memilih jalan yang memuliakan, kita bukan hanya menyelamatkan planet ini, tapi juga menyelamatkan jiwa kita sendiri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: Spiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Antara Stoikisme dan “Toxic Positivity”: Saat Kita Salah Mengerti Kekuatan Emosi

Next Post

Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Jejak Klungkung di Tanah Blambangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co