15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 24, 2025
in Esai
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Sebuah Pertaruhan Intelektual

PADA tahun 1914, Bertrand Russell menulis esai berjudul Mysticism and Logic yang hingga

kini tetap menjadi rujukan utama dalam diskursus hubungan antara rasio dan intuisi. Dalam esai tersebut, Russell menempatkan mistisisme dan logika dalam posisi diametral: satu berlandaskan pengalaman batin yang tak terkatakan, lainnya berakar pada rasionalitas dan pembuktian ilmiah. Ia menilai mistisisme sebagai pengalaman yang menggugah, namun tak layak dijadikan dasar pengetahuan.

Namun benarkah demikian? Bukankah justru keterbatasan logika yang menjadikan mistisisme sebagai pelengkap penting dalam memahami hakikat realitas? Tokoh spiritual dan humanis Indonesia, Guruji Anand Krishna, menyebut mistisisme bukan sebagai lawan logika, tetapi sebagai kelanjutan dari logika — ketika akal telah mencapai batasnya dan menyerah pada keheningan jiwa terdalam. Dalam konteks ini, mistisisme bukan pelarian dari berpikir, melainkan puncaknya.

Mistisisme dalam Filsafat Timur: Pancamaya Kosha sebagai Kerangka Reflektif

Filsafat Timur, khususnya dalam tradisi Vedanta dan Yoga, memiliki konsep Pancamaya Kosha — lima lapisan eksistensi manusia:

1. Annamaya Kosha (tubuh fisik),

2. Pranamaya Kosha (energi vital),

3. Manomaya Kosha (pikiran dan perasaan),

4. Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan

5. Anandamaya Kosha (kebahagiaan ilahi).

Sains dan logika modern — sebagaimana dibela Russell — masih beroperasi pada lapisan Manomaya Kosha. Ia menjelaskan, mengurai, mengukur. Namun mistisisme melampaui batas itu menuju Anandamaya Kosha, ranah yang hanya bisa diakses melalui kontemplasi

mendalam, meditasi, dan pengalaman transenden. Guruji Anand Krishna dalam buku Kearifan Mistisisme (2015) menulis, bukan mistisisme yang irasional, tetapi logika kitalah yang belum cukup halus untuk menangkapnya.

Mistisisme bukan tentang takhayul, tetapi tentang menyadari dimensi terdalam keberadaan.

Mistisisme vs Klenik: Klarifikasi yang Mendesak

Di Indonesia, istilah mistisisme sering dicampuradukkan dengan klenik, santet, atau praktik supranatural tanpa dasar etis dan spiritual yang jelas. Padahal, dalam akar katanya (mystēs), mistisisme bermakna keheningan, kehenakan, dan rahasia batiniah — bukan sekadar ritual atau kekuatan magis.

Pemikiran Russell bisa saja relevan dalam konteks Eropa pasca-Enlightenment, ketika mistisisme dicurigai sebagai sisa-sisa dogma Gereja. Namun, transplantasi langsung pemikiran ini ke konteks Nusantara hanya akan memperdalam krisis spiritual bangsa. Kita membutuhkan rekontekstualisasi makna mistisisme, bukan pelabelan membabi buta.

Dalam Simposium Kebudayaan Nasional 2003, Budayawan Emha Ainun Nadjib menyampaikan, orang Jawa bisa sangat ilmiah tanpa gelar, dan sangat mistik tanpa terjebak klenik. Tapi karena pendidikan kita tidak mengenalkan perbedaan itu, kita kehilangan akar spiritual sekaligus logika sehat.

Kritik terhadap Bertrand Russell: Rasio Tidaklah Absolut

Bertrand Russell mewakili filsafat analitik yang menjunjung tinggi kejelasan proposisional. Namun ia luput menyadari bahwa:

  • Bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh pengalaman manusia, apalagi yang transenden.
  • Kesadaran manusia tidak berhenti pada nalar, tetapi berkembang ke arah intuitif, simbolik, dan kontemplatif.

Bahkan fisikawan kuantum seperti Werner Heisenberg dan Niels Bohr mulai meragukan absolutisme logika dalam menjelaskan fenomena alam: “Semakin kita menyelidiki realitas, semakin kabur batas antara subjek dan objek, antara pengamat dan yang diamati.” (Bohr)

Mistisisme — dalam arti terdalamnya — justru membuka jalan menuju integrasi antara subjek dan objek. Ia tidak menolak logika, melainkan menyerapnya, melewatinya, dan menemukan ruang baru di baliknya.

Mendamaikan Logika dan Mistisisme: Pandangan Tokoh Dunia

Beberapa tokoh dunia dari berbagai disiplin telah mencoba menyatukan logika dan mistisisme, atau setidaknya mengakui keterbatasan rasionalitas:

– Carl Jung: Mistik adalah “pengalaman individu terhadap numinosum”, bukan patologi atau khayalan.

– Albert Einstein: “Pengalaman mistik adalah benih segala sains sejati.”

– Ken Wilber: Melalui pendekatan Integral Theory, Wilber menjelaskan bahwa pengalaman mistik bisa dibaca sebagai tingkat kesadaran lebih tinggi, bukan semata pengalaman emosional.

Di Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam kuliah umumnya menyampaikan bahwa mistisisme bukan pelarian, tapi pendakian. Di puncaknya, manusia merasakan ketakterbatasan tanpa kehilangan rasionalitasnya.

Refleksi: Saatnya Mistisisme Didekonstruksi dan Dihargai Kembali

Pengalaman mistik tidak bisa diuji melalui laboratorium, tetapi bisa diverifikasi melalui transformasi batin: cinta tanpa syarat, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan rasa persatuan dengan semesta. Dalam hal ini, mistisisme bersifat praktis dan fungsional, bukan hanya teoretis.

Anand Krishna menyebutnya sebagai inner technology — teknologi batin yang mengembangkan kesadaran dan memurnikan hati. Jika sains membangun dunia luar, mistisisme membangun dunia dalam. Keduanya harus berjalan bersama.

Kesimpulan: Jalan Tengah antara Akal dan Cinta

Mistisisme bukan musuh logika, dan logika bukan penyangkal spiritualitas. Keduanya seperti sayap burung: satu tidak bisa terbang tanpa yang lain. Kritik Russell perlu dibaca secara kontekstual — sebagai upaya membongkar dogma Barat, tetapi tidak relevan jika dijadikan ukuran universal bagi segala bentuk spiritualitas.

Kita perlu melampaui kutub logika dan mistik dan menemukan titik integrasi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tradisi mistik Timur selama ribuan tahun. Di sinilah tugas kita: merehabilitasi mistisisme, bukan dengan dogma baru, tetapi dengan pemahaman baru. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: filsafatfilsafat timurmistis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co