15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 24, 2025
in Esai
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Sebuah Pertaruhan Intelektual

PADA tahun 1914, Bertrand Russell menulis esai berjudul Mysticism and Logic yang hingga

kini tetap menjadi rujukan utama dalam diskursus hubungan antara rasio dan intuisi. Dalam esai tersebut, Russell menempatkan mistisisme dan logika dalam posisi diametral: satu berlandaskan pengalaman batin yang tak terkatakan, lainnya berakar pada rasionalitas dan pembuktian ilmiah. Ia menilai mistisisme sebagai pengalaman yang menggugah, namun tak layak dijadikan dasar pengetahuan.

Namun benarkah demikian? Bukankah justru keterbatasan logika yang menjadikan mistisisme sebagai pelengkap penting dalam memahami hakikat realitas? Tokoh spiritual dan humanis Indonesia, Guruji Anand Krishna, menyebut mistisisme bukan sebagai lawan logika, tetapi sebagai kelanjutan dari logika — ketika akal telah mencapai batasnya dan menyerah pada keheningan jiwa terdalam. Dalam konteks ini, mistisisme bukan pelarian dari berpikir, melainkan puncaknya.

Mistisisme dalam Filsafat Timur: Pancamaya Kosha sebagai Kerangka Reflektif

Filsafat Timur, khususnya dalam tradisi Vedanta dan Yoga, memiliki konsep Pancamaya Kosha — lima lapisan eksistensi manusia:

1. Annamaya Kosha (tubuh fisik),

2. Pranamaya Kosha (energi vital),

3. Manomaya Kosha (pikiran dan perasaan),

4. Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan

5. Anandamaya Kosha (kebahagiaan ilahi).

Sains dan logika modern — sebagaimana dibela Russell — masih beroperasi pada lapisan Manomaya Kosha. Ia menjelaskan, mengurai, mengukur. Namun mistisisme melampaui batas itu menuju Anandamaya Kosha, ranah yang hanya bisa diakses melalui kontemplasi

mendalam, meditasi, dan pengalaman transenden. Guruji Anand Krishna dalam buku Kearifan Mistisisme (2015) menulis, bukan mistisisme yang irasional, tetapi logika kitalah yang belum cukup halus untuk menangkapnya.

Mistisisme bukan tentang takhayul, tetapi tentang menyadari dimensi terdalam keberadaan.

Mistisisme vs Klenik: Klarifikasi yang Mendesak

Di Indonesia, istilah mistisisme sering dicampuradukkan dengan klenik, santet, atau praktik supranatural tanpa dasar etis dan spiritual yang jelas. Padahal, dalam akar katanya (mystēs), mistisisme bermakna keheningan, kehenakan, dan rahasia batiniah — bukan sekadar ritual atau kekuatan magis.

Pemikiran Russell bisa saja relevan dalam konteks Eropa pasca-Enlightenment, ketika mistisisme dicurigai sebagai sisa-sisa dogma Gereja. Namun, transplantasi langsung pemikiran ini ke konteks Nusantara hanya akan memperdalam krisis spiritual bangsa. Kita membutuhkan rekontekstualisasi makna mistisisme, bukan pelabelan membabi buta.

Dalam Simposium Kebudayaan Nasional 2003, Budayawan Emha Ainun Nadjib menyampaikan, orang Jawa bisa sangat ilmiah tanpa gelar, dan sangat mistik tanpa terjebak klenik. Tapi karena pendidikan kita tidak mengenalkan perbedaan itu, kita kehilangan akar spiritual sekaligus logika sehat.

Kritik terhadap Bertrand Russell: Rasio Tidaklah Absolut

Bertrand Russell mewakili filsafat analitik yang menjunjung tinggi kejelasan proposisional. Namun ia luput menyadari bahwa:

  • Bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh pengalaman manusia, apalagi yang transenden.
  • Kesadaran manusia tidak berhenti pada nalar, tetapi berkembang ke arah intuitif, simbolik, dan kontemplatif.

Bahkan fisikawan kuantum seperti Werner Heisenberg dan Niels Bohr mulai meragukan absolutisme logika dalam menjelaskan fenomena alam: “Semakin kita menyelidiki realitas, semakin kabur batas antara subjek dan objek, antara pengamat dan yang diamati.” (Bohr)

Mistisisme — dalam arti terdalamnya — justru membuka jalan menuju integrasi antara subjek dan objek. Ia tidak menolak logika, melainkan menyerapnya, melewatinya, dan menemukan ruang baru di baliknya.

Mendamaikan Logika dan Mistisisme: Pandangan Tokoh Dunia

Beberapa tokoh dunia dari berbagai disiplin telah mencoba menyatukan logika dan mistisisme, atau setidaknya mengakui keterbatasan rasionalitas:

– Carl Jung: Mistik adalah “pengalaman individu terhadap numinosum”, bukan patologi atau khayalan.

– Albert Einstein: “Pengalaman mistik adalah benih segala sains sejati.”

– Ken Wilber: Melalui pendekatan Integral Theory, Wilber menjelaskan bahwa pengalaman mistik bisa dibaca sebagai tingkat kesadaran lebih tinggi, bukan semata pengalaman emosional.

Di Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam kuliah umumnya menyampaikan bahwa mistisisme bukan pelarian, tapi pendakian. Di puncaknya, manusia merasakan ketakterbatasan tanpa kehilangan rasionalitasnya.

Refleksi: Saatnya Mistisisme Didekonstruksi dan Dihargai Kembali

Pengalaman mistik tidak bisa diuji melalui laboratorium, tetapi bisa diverifikasi melalui transformasi batin: cinta tanpa syarat, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan rasa persatuan dengan semesta. Dalam hal ini, mistisisme bersifat praktis dan fungsional, bukan hanya teoretis.

Anand Krishna menyebutnya sebagai inner technology — teknologi batin yang mengembangkan kesadaran dan memurnikan hati. Jika sains membangun dunia luar, mistisisme membangun dunia dalam. Keduanya harus berjalan bersama.

Kesimpulan: Jalan Tengah antara Akal dan Cinta

Mistisisme bukan musuh logika, dan logika bukan penyangkal spiritualitas. Keduanya seperti sayap burung: satu tidak bisa terbang tanpa yang lain. Kritik Russell perlu dibaca secara kontekstual — sebagai upaya membongkar dogma Barat, tetapi tidak relevan jika dijadikan ukuran universal bagi segala bentuk spiritualitas.

Kita perlu melampaui kutub logika dan mistik dan menemukan titik integrasi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tradisi mistik Timur selama ribuan tahun. Di sinilah tugas kita: merehabilitasi mistisisme, bukan dengan dogma baru, tetapi dengan pemahaman baru. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: filsafatfilsafat timurmistis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co