4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 24, 2025
in Esai
Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Foto ilustrasi: tatkala.co

Pendahuluan: Sebuah Pertaruhan Intelektual

PADA tahun 1914, Bertrand Russell menulis esai berjudul Mysticism and Logic yang hingga

kini tetap menjadi rujukan utama dalam diskursus hubungan antara rasio dan intuisi. Dalam esai tersebut, Russell menempatkan mistisisme dan logika dalam posisi diametral: satu berlandaskan pengalaman batin yang tak terkatakan, lainnya berakar pada rasionalitas dan pembuktian ilmiah. Ia menilai mistisisme sebagai pengalaman yang menggugah, namun tak layak dijadikan dasar pengetahuan.

Namun benarkah demikian? Bukankah justru keterbatasan logika yang menjadikan mistisisme sebagai pelengkap penting dalam memahami hakikat realitas? Tokoh spiritual dan humanis Indonesia, Guruji Anand Krishna, menyebut mistisisme bukan sebagai lawan logika, tetapi sebagai kelanjutan dari logika — ketika akal telah mencapai batasnya dan menyerah pada keheningan jiwa terdalam. Dalam konteks ini, mistisisme bukan pelarian dari berpikir, melainkan puncaknya.

Mistisisme dalam Filsafat Timur: Pancamaya Kosha sebagai Kerangka Reflektif

Filsafat Timur, khususnya dalam tradisi Vedanta dan Yoga, memiliki konsep Pancamaya Kosha — lima lapisan eksistensi manusia:

1. Annamaya Kosha (tubuh fisik),

2. Pranamaya Kosha (energi vital),

3. Manomaya Kosha (pikiran dan perasaan),

4. Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan

5. Anandamaya Kosha (kebahagiaan ilahi).

Sains dan logika modern — sebagaimana dibela Russell — masih beroperasi pada lapisan Manomaya Kosha. Ia menjelaskan, mengurai, mengukur. Namun mistisisme melampaui batas itu menuju Anandamaya Kosha, ranah yang hanya bisa diakses melalui kontemplasi

mendalam, meditasi, dan pengalaman transenden. Guruji Anand Krishna dalam buku Kearifan Mistisisme (2015) menulis, bukan mistisisme yang irasional, tetapi logika kitalah yang belum cukup halus untuk menangkapnya.

Mistisisme bukan tentang takhayul, tetapi tentang menyadari dimensi terdalam keberadaan.

Mistisisme vs Klenik: Klarifikasi yang Mendesak

Di Indonesia, istilah mistisisme sering dicampuradukkan dengan klenik, santet, atau praktik supranatural tanpa dasar etis dan spiritual yang jelas. Padahal, dalam akar katanya (mystēs), mistisisme bermakna keheningan, kehenakan, dan rahasia batiniah — bukan sekadar ritual atau kekuatan magis.

Pemikiran Russell bisa saja relevan dalam konteks Eropa pasca-Enlightenment, ketika mistisisme dicurigai sebagai sisa-sisa dogma Gereja. Namun, transplantasi langsung pemikiran ini ke konteks Nusantara hanya akan memperdalam krisis spiritual bangsa. Kita membutuhkan rekontekstualisasi makna mistisisme, bukan pelabelan membabi buta.

Dalam Simposium Kebudayaan Nasional 2003, Budayawan Emha Ainun Nadjib menyampaikan, orang Jawa bisa sangat ilmiah tanpa gelar, dan sangat mistik tanpa terjebak klenik. Tapi karena pendidikan kita tidak mengenalkan perbedaan itu, kita kehilangan akar spiritual sekaligus logika sehat.

Kritik terhadap Bertrand Russell: Rasio Tidaklah Absolut

Bertrand Russell mewakili filsafat analitik yang menjunjung tinggi kejelasan proposisional. Namun ia luput menyadari bahwa:

  • Bahasa manusia tidak mampu menampung seluruh pengalaman manusia, apalagi yang transenden.
  • Kesadaran manusia tidak berhenti pada nalar, tetapi berkembang ke arah intuitif, simbolik, dan kontemplatif.

Bahkan fisikawan kuantum seperti Werner Heisenberg dan Niels Bohr mulai meragukan absolutisme logika dalam menjelaskan fenomena alam: “Semakin kita menyelidiki realitas, semakin kabur batas antara subjek dan objek, antara pengamat dan yang diamati.” (Bohr)

Mistisisme — dalam arti terdalamnya — justru membuka jalan menuju integrasi antara subjek dan objek. Ia tidak menolak logika, melainkan menyerapnya, melewatinya, dan menemukan ruang baru di baliknya.

Mendamaikan Logika dan Mistisisme: Pandangan Tokoh Dunia

Beberapa tokoh dunia dari berbagai disiplin telah mencoba menyatukan logika dan mistisisme, atau setidaknya mengakui keterbatasan rasionalitas:

– Carl Jung: Mistik adalah “pengalaman individu terhadap numinosum”, bukan patologi atau khayalan.

– Albert Einstein: “Pengalaman mistik adalah benih segala sains sejati.”

– Ken Wilber: Melalui pendekatan Integral Theory, Wilber menjelaskan bahwa pengalaman mistik bisa dibaca sebagai tingkat kesadaran lebih tinggi, bukan semata pengalaman emosional.

Di Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dalam kuliah umumnya menyampaikan bahwa mistisisme bukan pelarian, tapi pendakian. Di puncaknya, manusia merasakan ketakterbatasan tanpa kehilangan rasionalitasnya.

Refleksi: Saatnya Mistisisme Didekonstruksi dan Dihargai Kembali

Pengalaman mistik tidak bisa diuji melalui laboratorium, tetapi bisa diverifikasi melalui transformasi batin: cinta tanpa syarat, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan rasa persatuan dengan semesta. Dalam hal ini, mistisisme bersifat praktis dan fungsional, bukan hanya teoretis.

Anand Krishna menyebutnya sebagai inner technology — teknologi batin yang mengembangkan kesadaran dan memurnikan hati. Jika sains membangun dunia luar, mistisisme membangun dunia dalam. Keduanya harus berjalan bersama.

Kesimpulan: Jalan Tengah antara Akal dan Cinta

Mistisisme bukan musuh logika, dan logika bukan penyangkal spiritualitas. Keduanya seperti sayap burung: satu tidak bisa terbang tanpa yang lain. Kritik Russell perlu dibaca secara kontekstual — sebagai upaya membongkar dogma Barat, tetapi tidak relevan jika dijadikan ukuran universal bagi segala bentuk spiritualitas.

Kita perlu melampaui kutub logika dan mistik dan menemukan titik integrasi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tradisi mistik Timur selama ribuan tahun. Di sinilah tugas kita: merehabilitasi mistisisme, bukan dengan dogma baru, tetapi dengan pemahaman baru. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia
Membaca Pesan Kehidupan: Refleksi  atas Pembongkaran Bangunan di Pantai Bingin
“Perintis? Ah, Kita Semua Pewaris..! ” — Menelusuri Jejak Identitas Budaya di Balik Nama Keluarga, Darah, dan Warisan Psikologis
Bali, di Antara Pesona dan Luka
Tags: filsafatfilsafat timurmistis
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluang “Skilled Worker” Indonesia dalam Tantangan “Grey Population” Jepang

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co