15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2025
in Esai
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara | Foto: diolah tatkala.co

“Saya merasa telah kembali ke tanah air saya sendiri, tidak sebagai tamu asing tetapi sebagai saudara yang telah lama terpisah.”
— Rabindranath Tagore, saat berkunjung ke Indonesia 1927

—

DALAM sejarah peradaban Asia, dua tokoh besar—Rabindranath Tagore dari India dan Ki Hajar Dewantara dari Indonesia—berdiri sebagai mercusuar kebangkitan budaya dan pendidikan. Meskipun hanya bertemu secara fisik sekali dalam hidup mereka, pertemuan itu adalah puncak dari sebuah perjumpaan batin yang jauh lebih dalam.

Mereka disatukan oleh kesadaran spiritual, semangat kebudayaan, dan cita-cita pendidikan yang membebaskan. Pertemuan mereka menjadi simbol dialog panjang antara India dan Indonesia sebagai dua pusat kebudayaan yang memiliki akar spiritual yang serupa dan saling menyapa.

Latar Sejarah Pertemuan

Rabindranath Tagore, penyair, filsuf, dan pendidik besar dari India, melakukan perjalanan ke Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1927. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Taman Siswa di Yogyakarta, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Di sana, dua jiwa besar bertemu: Tagore, pendiri Shantiniketan yang menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan jiwa manusia; dan Ki Hajar, peletak dasar pendidikan nasional Indonesia yang mengusung semboyan “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Dalam kunjungan itu, Tagore menulis bahwa ia merasa seolah berada di tanah leluhurnya sendiri. Indonesia, baginya, bukan tanah asing, melainkan bagian dari peradaban spiritual yang sama—warisan India yang menyebar melalui laut dan angin, bukan dengan pedang, melainkan dengan puisi, patung, dan mantera.

Pertemuan Budaya: India dan Indonesia

Pertemuan Tagore dan Ki Hajar bukan hanya antar individu, tetapi pertemuan peradaban. India dan Indonesia memiliki sejarah panjang pertukaran budaya, agama, dan seni. Dari pengaruh Hindu-Buddha di masa klasik hingga hubungan spiritual lewat gerakan kemerdekaan, hubungan ini lebih bersifat perjumpaan batin daripada transaksi politik.

Dalam pandangan Tagore, kebudayaan adalah ekspresi jiwa manusia. Ia menolak kolonialisme bukan hanya karena penindasan fisik, tetapi karena ia menggerus roh suatu bangsa. Ki Hajar memahami hal ini. Ia mendirikan Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan kolonial yang menindas identitas bangsa. Keduanya memandang pendidikan sebagai jalan menuju kebebasan sejati—freedom of the soul.

Refleksi Batin: Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Tagore dan Ki Hajar sama-sama menolak model pendidikan Eropa yang kering dan mekanistik. Shantiniketan dan Taman Siswa dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, alam, seni, dan spiritualitas. Dalam puisi dan esai Tagore, kita menemukan penghargaan mendalam terhadap alam dan kemanusiaan; dalam tulisan-tulisan Ki Hajar, kita menemukan semangat pembebasan dari ketertindasan jiwa akibat penjajahan.

Tagore berkata bahwa pendidikan harus “mengalir seperti sungai,” tidak kaku dan tertutup. Ki Hajar menyebut bahwa pendidikan yang baik adalah yang “membimbing tanpa memaksa.” Dalam pertemuan mereka, dua sungai ini menyatu, mengalir dalam satu arus nilai: pendidikan sebagai cara menghidupkan kembali jiwa bangsa.

Dialog Peradaban: Dari India ke Nusantara

Pertemuan batin itu melampaui batas waktu. Hari ini, saat globalisasi kian menenggelamkan nilai-nilai luhur kebudayaan, refleksi atas dialog Tagore dan Ki Hajar semakin relevan. Mereka mengajarkan kita pentingnya membumikan nilai-nilai universal dalam konteks lokal. Tagore membawa spiritualitas India ke dunia dengan universalitas puisi dan musik. Ki Hajar membangkitkan semangat kebangsaan dengan akar budaya Nusantara yang disinari oleh kesadaran kosmik Nusantara.

Hubungan budaya India dan Indonesia bukan hubungan kolonial, melainkan relasi antar jiwa. Arjuna dan Rama hidup dalam wayang, dalam relief Candi Prambanan dan Borobudur. Bahasa Sanskerta menyusup dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya Tagore merasa “pulang” ke Nusantara.

Anand Krishna: Melanjutkan Dialog Jiwa Lewat Aksi Nyata

Kedalaman perjumpaan batin antara dua tokoh ini tidak berhenti di masa lalu. Guruji Anand Krishna—seorang spiritual humanis, penulis lebih dari 190 judul buku spiritual—mengabadikan warisan bijak Tagore dan Ki Hajar Dewantara dalam bentuk nyata.  Perpustakaan di One Earth Yoga & Meditation Retreat Centre di Ciawi, Bogor, diberi nama Perpustakaan Dewata: Dewantara-Tagore, dua perpaduan nama yang indah penuh makna.

Tindakan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi perwujudan dari misi pendidikan lintas budaya yang menjunjung spiritualitas universal, humanisme, dan kebebasan berpikir.

Gururuji Anand Krishna sendiri merealisasikan filosofi kedua tokoh tersebut dengan mendirikan sekolah di Bali yang diberi nama One Earth School, Sekolah Satu Bumi, sebagai representasi nyata dari visi Yayasan Anand Ashram: One Earth One Sky One Humankind.

Guruji Anand Krishna meyakini bahwa Indonesia dan India sama-sama memiliki jiwa peradaban yang luhur dan mampu menyumbangkan nilai-nilai kebijaksanaan ke dunia global yang tengah kehilangan orientasi nilai.

Kedua perpustakaan tersebut bukan sekadar tempat buku, melainkan ruang kontemplasi dan dialog batin antar generasi dan antar budaya. Dengan menghimpun literatur spiritual, filsafat Timur dan Barat, serta tulisan-tulisan para bijak seperti Tagore dan Ki Hajar, Guruji Anand Krishna melanjutkan “dialog jiwa” yang sudah dirintis para pendahulu dalam dimensi yang lebih luas dan mendalam.

Penutup: Warisan yang Perlu Dihidupkan

Pertemuan batin Tagore dan Ki Hajar Dewantara adalah warisan berharga. Di tengah krisis pendidikan hari ini, keduanya mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang utuh—manusia yang sadar akan jiwanya, budayanya, dan tanggung jawabnya sebagai warga dunia.

Refleksi atas perjumpaan itu hendaknya tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan yang membebaskan, spiritualitas yang inklusif, dan dialog budaya yang saling memperkaya. Seperti yang dilakukan Guruji Anand Krishna, warisan ini layak dijaga dan dihidupkan kembali—tidak hanya di ruang akademik, tetapi di ruang hati dan tindakan nyata.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara
Catatan-catatan Rabindranath Tagore tentang Bali
Dongeng Ibu: Rabindranath Tagore dan Perempuan Pemilik Rental Mobil Singaradja
Tags: baliindiaIndonesiaKI Hajar DewantaraPendidikanRabindranath TagoreShantiniketanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Next Post

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali "Mbok" dan "Bli"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co