5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2025
in Esai
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara | Foto: diolah tatkala.co

“Saya merasa telah kembali ke tanah air saya sendiri, tidak sebagai tamu asing tetapi sebagai saudara yang telah lama terpisah.”
— Rabindranath Tagore, saat berkunjung ke Indonesia 1927

—

DALAM sejarah peradaban Asia, dua tokoh besar—Rabindranath Tagore dari India dan Ki Hajar Dewantara dari Indonesia—berdiri sebagai mercusuar kebangkitan budaya dan pendidikan. Meskipun hanya bertemu secara fisik sekali dalam hidup mereka, pertemuan itu adalah puncak dari sebuah perjumpaan batin yang jauh lebih dalam.

Mereka disatukan oleh kesadaran spiritual, semangat kebudayaan, dan cita-cita pendidikan yang membebaskan. Pertemuan mereka menjadi simbol dialog panjang antara India dan Indonesia sebagai dua pusat kebudayaan yang memiliki akar spiritual yang serupa dan saling menyapa.

Latar Sejarah Pertemuan

Rabindranath Tagore, penyair, filsuf, dan pendidik besar dari India, melakukan perjalanan ke Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1927. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Taman Siswa di Yogyakarta, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Di sana, dua jiwa besar bertemu: Tagore, pendiri Shantiniketan yang menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan jiwa manusia; dan Ki Hajar, peletak dasar pendidikan nasional Indonesia yang mengusung semboyan “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Dalam kunjungan itu, Tagore menulis bahwa ia merasa seolah berada di tanah leluhurnya sendiri. Indonesia, baginya, bukan tanah asing, melainkan bagian dari peradaban spiritual yang sama—warisan India yang menyebar melalui laut dan angin, bukan dengan pedang, melainkan dengan puisi, patung, dan mantera.

Pertemuan Budaya: India dan Indonesia

Pertemuan Tagore dan Ki Hajar bukan hanya antar individu, tetapi pertemuan peradaban. India dan Indonesia memiliki sejarah panjang pertukaran budaya, agama, dan seni. Dari pengaruh Hindu-Buddha di masa klasik hingga hubungan spiritual lewat gerakan kemerdekaan, hubungan ini lebih bersifat perjumpaan batin daripada transaksi politik.

Dalam pandangan Tagore, kebudayaan adalah ekspresi jiwa manusia. Ia menolak kolonialisme bukan hanya karena penindasan fisik, tetapi karena ia menggerus roh suatu bangsa. Ki Hajar memahami hal ini. Ia mendirikan Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan kolonial yang menindas identitas bangsa. Keduanya memandang pendidikan sebagai jalan menuju kebebasan sejati—freedom of the soul.

Refleksi Batin: Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Tagore dan Ki Hajar sama-sama menolak model pendidikan Eropa yang kering dan mekanistik. Shantiniketan dan Taman Siswa dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, alam, seni, dan spiritualitas. Dalam puisi dan esai Tagore, kita menemukan penghargaan mendalam terhadap alam dan kemanusiaan; dalam tulisan-tulisan Ki Hajar, kita menemukan semangat pembebasan dari ketertindasan jiwa akibat penjajahan.

Tagore berkata bahwa pendidikan harus “mengalir seperti sungai,” tidak kaku dan tertutup. Ki Hajar menyebut bahwa pendidikan yang baik adalah yang “membimbing tanpa memaksa.” Dalam pertemuan mereka, dua sungai ini menyatu, mengalir dalam satu arus nilai: pendidikan sebagai cara menghidupkan kembali jiwa bangsa.

Dialog Peradaban: Dari India ke Nusantara

Pertemuan batin itu melampaui batas waktu. Hari ini, saat globalisasi kian menenggelamkan nilai-nilai luhur kebudayaan, refleksi atas dialog Tagore dan Ki Hajar semakin relevan. Mereka mengajarkan kita pentingnya membumikan nilai-nilai universal dalam konteks lokal. Tagore membawa spiritualitas India ke dunia dengan universalitas puisi dan musik. Ki Hajar membangkitkan semangat kebangsaan dengan akar budaya Nusantara yang disinari oleh kesadaran kosmik Nusantara.

Hubungan budaya India dan Indonesia bukan hubungan kolonial, melainkan relasi antar jiwa. Arjuna dan Rama hidup dalam wayang, dalam relief Candi Prambanan dan Borobudur. Bahasa Sanskerta menyusup dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya Tagore merasa “pulang” ke Nusantara.

Anand Krishna: Melanjutkan Dialog Jiwa Lewat Aksi Nyata

Kedalaman perjumpaan batin antara dua tokoh ini tidak berhenti di masa lalu. Guruji Anand Krishna—seorang spiritual humanis, penulis lebih dari 190 judul buku spiritual—mengabadikan warisan bijak Tagore dan Ki Hajar Dewantara dalam bentuk nyata.  Perpustakaan di One Earth Yoga & Meditation Retreat Centre di Ciawi, Bogor, diberi nama Perpustakaan Dewata: Dewantara-Tagore, dua perpaduan nama yang indah penuh makna.

Tindakan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi perwujudan dari misi pendidikan lintas budaya yang menjunjung spiritualitas universal, humanisme, dan kebebasan berpikir.

Gururuji Anand Krishna sendiri merealisasikan filosofi kedua tokoh tersebut dengan mendirikan sekolah di Bali yang diberi nama One Earth School, Sekolah Satu Bumi, sebagai representasi nyata dari visi Yayasan Anand Ashram: One Earth One Sky One Humankind.

Guruji Anand Krishna meyakini bahwa Indonesia dan India sama-sama memiliki jiwa peradaban yang luhur dan mampu menyumbangkan nilai-nilai kebijaksanaan ke dunia global yang tengah kehilangan orientasi nilai.

Kedua perpustakaan tersebut bukan sekadar tempat buku, melainkan ruang kontemplasi dan dialog batin antar generasi dan antar budaya. Dengan menghimpun literatur spiritual, filsafat Timur dan Barat, serta tulisan-tulisan para bijak seperti Tagore dan Ki Hajar, Guruji Anand Krishna melanjutkan “dialog jiwa” yang sudah dirintis para pendahulu dalam dimensi yang lebih luas dan mendalam.

Penutup: Warisan yang Perlu Dihidupkan

Pertemuan batin Tagore dan Ki Hajar Dewantara adalah warisan berharga. Di tengah krisis pendidikan hari ini, keduanya mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang utuh—manusia yang sadar akan jiwanya, budayanya, dan tanggung jawabnya sebagai warga dunia.

Refleksi atas perjumpaan itu hendaknya tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan yang membebaskan, spiritualitas yang inklusif, dan dialog budaya yang saling memperkaya. Seperti yang dilakukan Guruji Anand Krishna, warisan ini layak dijaga dan dihidupkan kembali—tidak hanya di ruang akademik, tetapi di ruang hati dan tindakan nyata.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara
Catatan-catatan Rabindranath Tagore tentang Bali
Dongeng Ibu: Rabindranath Tagore dan Perempuan Pemilik Rental Mobil Singaradja
Tags: baliindiaIndonesiaKI Hajar DewantaraPendidikanRabindranath TagoreShantiniketanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Next Post

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali "Mbok" dan "Bli"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co