26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2025
in Esai
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara | Foto: diolah tatkala.co

“Saya merasa telah kembali ke tanah air saya sendiri, tidak sebagai tamu asing tetapi sebagai saudara yang telah lama terpisah.”
— Rabindranath Tagore, saat berkunjung ke Indonesia 1927

—

DALAM sejarah peradaban Asia, dua tokoh besar—Rabindranath Tagore dari India dan Ki Hajar Dewantara dari Indonesia—berdiri sebagai mercusuar kebangkitan budaya dan pendidikan. Meskipun hanya bertemu secara fisik sekali dalam hidup mereka, pertemuan itu adalah puncak dari sebuah perjumpaan batin yang jauh lebih dalam.

Mereka disatukan oleh kesadaran spiritual, semangat kebudayaan, dan cita-cita pendidikan yang membebaskan. Pertemuan mereka menjadi simbol dialog panjang antara India dan Indonesia sebagai dua pusat kebudayaan yang memiliki akar spiritual yang serupa dan saling menyapa.

Latar Sejarah Pertemuan

Rabindranath Tagore, penyair, filsuf, dan pendidik besar dari India, melakukan perjalanan ke Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1927. Salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Taman Siswa di Yogyakarta, lembaga pendidikan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Di sana, dua jiwa besar bertemu: Tagore, pendiri Shantiniketan yang menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan jiwa manusia; dan Ki Hajar, peletak dasar pendidikan nasional Indonesia yang mengusung semboyan “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”

Dalam kunjungan itu, Tagore menulis bahwa ia merasa seolah berada di tanah leluhurnya sendiri. Indonesia, baginya, bukan tanah asing, melainkan bagian dari peradaban spiritual yang sama—warisan India yang menyebar melalui laut dan angin, bukan dengan pedang, melainkan dengan puisi, patung, dan mantera.

Pertemuan Budaya: India dan Indonesia

Pertemuan Tagore dan Ki Hajar bukan hanya antar individu, tetapi pertemuan peradaban. India dan Indonesia memiliki sejarah panjang pertukaran budaya, agama, dan seni. Dari pengaruh Hindu-Buddha di masa klasik hingga hubungan spiritual lewat gerakan kemerdekaan, hubungan ini lebih bersifat perjumpaan batin daripada transaksi politik.

Dalam pandangan Tagore, kebudayaan adalah ekspresi jiwa manusia. Ia menolak kolonialisme bukan hanya karena penindasan fisik, tetapi karena ia menggerus roh suatu bangsa. Ki Hajar memahami hal ini. Ia mendirikan Taman Siswa sebagai bentuk perlawanan terhadap pendidikan kolonial yang menindas identitas bangsa. Keduanya memandang pendidikan sebagai jalan menuju kebebasan sejati—freedom of the soul.

Refleksi Batin: Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan

Tagore dan Ki Hajar sama-sama menolak model pendidikan Eropa yang kering dan mekanistik. Shantiniketan dan Taman Siswa dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, alam, seni, dan spiritualitas. Dalam puisi dan esai Tagore, kita menemukan penghargaan mendalam terhadap alam dan kemanusiaan; dalam tulisan-tulisan Ki Hajar, kita menemukan semangat pembebasan dari ketertindasan jiwa akibat penjajahan.

Tagore berkata bahwa pendidikan harus “mengalir seperti sungai,” tidak kaku dan tertutup. Ki Hajar menyebut bahwa pendidikan yang baik adalah yang “membimbing tanpa memaksa.” Dalam pertemuan mereka, dua sungai ini menyatu, mengalir dalam satu arus nilai: pendidikan sebagai cara menghidupkan kembali jiwa bangsa.

Dialog Peradaban: Dari India ke Nusantara

Pertemuan batin itu melampaui batas waktu. Hari ini, saat globalisasi kian menenggelamkan nilai-nilai luhur kebudayaan, refleksi atas dialog Tagore dan Ki Hajar semakin relevan. Mereka mengajarkan kita pentingnya membumikan nilai-nilai universal dalam konteks lokal. Tagore membawa spiritualitas India ke dunia dengan universalitas puisi dan musik. Ki Hajar membangkitkan semangat kebangsaan dengan akar budaya Nusantara yang disinari oleh kesadaran kosmik Nusantara.

Hubungan budaya India dan Indonesia bukan hubungan kolonial, melainkan relasi antar jiwa. Arjuna dan Rama hidup dalam wayang, dalam relief Candi Prambanan dan Borobudur. Bahasa Sanskerta menyusup dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya Tagore merasa “pulang” ke Nusantara.

Anand Krishna: Melanjutkan Dialog Jiwa Lewat Aksi Nyata

Kedalaman perjumpaan batin antara dua tokoh ini tidak berhenti di masa lalu. Guruji Anand Krishna—seorang spiritual humanis, penulis lebih dari 190 judul buku spiritual—mengabadikan warisan bijak Tagore dan Ki Hajar Dewantara dalam bentuk nyata.  Perpustakaan di One Earth Yoga & Meditation Retreat Centre di Ciawi, Bogor, diberi nama Perpustakaan Dewata: Dewantara-Tagore, dua perpaduan nama yang indah penuh makna.

Tindakan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi perwujudan dari misi pendidikan lintas budaya yang menjunjung spiritualitas universal, humanisme, dan kebebasan berpikir.

Gururuji Anand Krishna sendiri merealisasikan filosofi kedua tokoh tersebut dengan mendirikan sekolah di Bali yang diberi nama One Earth School, Sekolah Satu Bumi, sebagai representasi nyata dari visi Yayasan Anand Ashram: One Earth One Sky One Humankind.

Guruji Anand Krishna meyakini bahwa Indonesia dan India sama-sama memiliki jiwa peradaban yang luhur dan mampu menyumbangkan nilai-nilai kebijaksanaan ke dunia global yang tengah kehilangan orientasi nilai.

Kedua perpustakaan tersebut bukan sekadar tempat buku, melainkan ruang kontemplasi dan dialog batin antar generasi dan antar budaya. Dengan menghimpun literatur spiritual, filsafat Timur dan Barat, serta tulisan-tulisan para bijak seperti Tagore dan Ki Hajar, Guruji Anand Krishna melanjutkan “dialog jiwa” yang sudah dirintis para pendahulu dalam dimensi yang lebih luas dan mendalam.

Penutup: Warisan yang Perlu Dihidupkan

Pertemuan batin Tagore dan Ki Hajar Dewantara adalah warisan berharga. Di tengah krisis pendidikan hari ini, keduanya mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang utuh—manusia yang sadar akan jiwanya, budayanya, dan tanggung jawabnya sebagai warga dunia.

Refleksi atas perjumpaan itu hendaknya tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan yang membebaskan, spiritualitas yang inklusif, dan dialog budaya yang saling memperkaya. Seperti yang dilakukan Guruji Anand Krishna, warisan ini layak dijaga dan dihidupkan kembali—tidak hanya di ruang akademik, tetapi di ruang hati dan tindakan nyata.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Jaswanto

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara
Dari Kartini, Chairil Anwar, Sampai Ki Hadjar Dewantara
Catatan-catatan Rabindranath Tagore tentang Bali
Dongeng Ibu: Rabindranath Tagore dan Perempuan Pemilik Rental Mobil Singaradja
Tags: baliindiaIndonesiaKI Hajar DewantaraPendidikanRabindranath TagoreShantiniketanTaman Siswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Next Post

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali "Mbok" dan "Bli"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co