23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Made Chandra by Made Chandra
July 15, 2025
in Esai
Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Performance by Nyoman Erawan, 30th Anniversary of SDI, Art Center Denpasar, 2000 | Foto: Documentation of Sika Gallery

PERTANYAAN menyoal posisi Bali dalam percaturan Seni Rupa Indonesia selalu menjadi topik yang tak kunjung bosan untuk dibicarakan. Ia yang menjadi anomali, tumbuh dengan pergulatan sosial dan wacana yang berdiri paralel seakan tak linear dengan apa yang selalu dinarasikan tentang Seni Rupa Indonesia.

Melihat Skena under 2000-an

Tahun 30-an manifesto jiwo ketok S. Sudjojono mulai diluncurkan—merangsek untuk mengambil alih kemudi untuk menentukan arah seni rupa Indonesia selanjutnya. Bersamaan dengan itu, di pulau seberang, organisasi yang membawa misi besar dengan bernahkodakan dua orang pelukis asing, Walter Spies dan Rudolf Bonnet berdiri dengan julukan Pita Maha.

Sebuah organisasi atas patronisasi Kolonial dan Kerajaan mencoba membawa angin baru bagi prilaku artistik para pelukis Bali pada era itu, struktur anatomis dan pencahayaan ala Barat mulai menghinggapi sebagian besar pelukis-pelukis tradisi, terutama yang berdiam di Ubud dan sekitarnya.

Rudolf Bonnet | Foto: Documentation of Troopen Museum at www.sejarahbali.com.

Lompat ke tahun 70-an, muncul beberapa seniman muda berbekal pendidikan akademis yang mendirikan salah satu kelompok besar bernama Sanggar Dewata Indonesia, yang  sejak kemunculannya memberikan pengaruh yang cukup dominan pada cara pandang dalam melihat seniman dan arah Seni Rupa Bali era itu.

Kelompok yang digawangi oleh 3 pembesarnya yakni I Wayan Sika, Made Wianta, dan I Nyoman Gunarsa mencoba menawarkan sebuah gagasan baru tentang seni lukis modern yang bernafaskan tradisi Bali.

Ketiga seniman ini merintis ruang penting bagi para mahasiswa seni asal Bali, khususnya mereka yang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Melalui upaya mereka, terjadi alih pengetahuan seni modern Barat yang melibatkan dua kecenderungan utama: kecenderungan ‘formalis’ kuasi-abstrak yang dibubuhi simbol-simbol budaya, dan pendekatan yang lebih ‘dekoratif-naif’—yang keduanya sering kali saling bertautan dalam praktiknya.

Pengaruh SDI melahirkan varian seni rupa modernis yang khas Bali, yang berkembang dengan irama dan lintasannya sendiri. Dengan berpindah ke Jawa, banyak seniman muda Bali—kebanyakan berasal dari latar budaya agraris dan lokal—mengalami keterputusan budaya yang mendalam.

Bali, yang sebelumnya dipandang sebagai pusar bhuwana (pusat dunia), kini terasa seperti hanya serpihan kecil di peta Indonesia, bahkan hanya titik pada panggung global. Identitas kebalian mereka pun bergeser dari pengalaman yang naluriah dan menyatu, menjadi sikap yang lebih reflektif—yang didefinisikan dalam relasi, dan kerap dalam kontras, dengan kelompok etnis lain.

Pengaruh SDI tidak hanya pada kehadirannya di pulau Jawa, para punggawanya yang memilih untuk tinggal di Bali, menjadi semacam hegemoni yang menjamuri segala praktik artsitik berkulit modernis Barat.

Masuknya wacana post-modern ke Bali pun seakan larut dengan senyap, hingga lompatannya dalam praktik era kontemporer pada tahun 90-an, dengan diawali oleh munculnya galeri seni kontemporer pertama di Bali, yakni Sika Contemporary Art Gallery yang tentu dimiliki oleh I Wayan Sika yang sadar bahwa gelombang wacana kontemporer telah merambah ke segala lini perbincangan di antara pegiat seni.

Sejak saat itu muncul berbagai artis inisiatif ditambah dengan mahasiswa lulusan STSI Denpasar yang membentuk kelompok-kelompok kecil yang berenang dengan kaki kecil di tengah lautan pergulatan medan seni rupa.

Galang Kangin mungkin salah satunya yang menjadi wadah teman-teman muda di era tumbuhnya ruang-ruang baru saat itu, serta munculnya kelompok bernama Seniwati yang beranggotakan para seniman wanita yang semakin menambah riak dalam pertumbuhan ekosistem seni rupa di Bali.

Artists of Seniwati Gallery, circa 1990s | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

Skena Upper 2000-an

Sampai pada awal tahun 2000-an, pengaruh SDI dan meledaknnya boom seni rupa menjadi awal dari kemapanan sekaligus kemandekan bagi pergulatan wacana seni di Bali.

Ditengarai berbagai hal tersebutlah pada Februari tahun 2001 muncul sebuah gerakan “Mendobrak Hegemoni”, sebuah embrio yang melatari terbentuknya Klinik Seni Taxu yang hadir untuk mengisi kekosongan dalam pewacanaan Bali sebagai ekosistem seni rupa, dengan anggota yang terdiri dari berbagai disiplin, terutama didominasi oleh para mahasiswa seni rupa ISI Denpasar. Di antaranya adalah Seriyoga Parta, Mahendra yasa, Wayan Suja, Ngakan Ardana, Made Bayak, Dodit artawan, Ngurah Suryawan, Wayan Arsana, Moniarta dan beberapa eksponen lainnya pada waktu itu.

Kehadiran Taxu menjadi antitesis di antara gemerlapnya pasar dan hegemoni kuasi abstrak yang menjamur di sebagian seniman senior. Para angkatan muda ini didominasi oleh para seniman dan penulis, yang sebagian besar dihinggapi oleh ideologi realisme sosialis, mereka dalam tanda kutip menolak kuasi abstrak yang menggambarkan identitas Ke-Bali-an melalui simbol-simbol yang terkesan latah.

Taxu memilih jalan lain, yakni perubahan radikal dan mencari peta-peta pemikiran baru tentang kesenian dan kebudayaan Bali, terutama seni rupa itu sendiri.

Exhibition of Klinik Seni Taxu, ‘Cooking History’, 2004, at Cemeti Art House | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

Bagi mereka, untuk menjadi Bali tidaklah harus dengan latah memunculkan simbol-simbol yang lumrah dan berakhir pada eksotisme belaka. Hal yang terpenting bagi mereka adalah proses berbalik dan melihat berbagai permasalahan nyata yang hadir di Bali, baik peristiwa sosial hingga politik industri.

Selain berkarya, Taxu juga menyebar pemikirannya melalui sebuah buletin seni rupa yang dinamai KITSCH, yang mewadahi pemikiran alternatif di antara para anggota Kelompok Klinik Seni Taxu.

Di tengah-tengah itu juga hadir komunitas street art yang mulai lahir dari pergesekan tersebut, yaitu The Pojoks, sebuah komunitas yang berbasis di Denpasar dan telah melakukan banyak sekali pergerakan, salah satunya adalah Bali Yang Binal, sebuah acara street art movement yang berfokus untuk menjadi tandingan dan mengkritisi Bali Biennale (2005) yang dipandang terkesan elitis dan mapan.

Acara itu menjadi penting karena kehadirannya telah mencapai edisinya yang ke-9, berbanding terbalik dengan acara yang dikritisi yaitu Bali Biennale, yang hanya berlangsung pada gelaran pertamanya saja.

Berselang beberapa tahun eksistensi Taxu sebagai sebuah kelompok dan produser manifesto mulai kehilangan arah, hingga berujung pada kembali senyapnya ombak wacana di wilayah seni rupa. Gaungan tersebut mulai kembali terdengar pada tahun 2013, era yang cukup penting bagi ekosistem seni rupa Bali ke depannya.

Dipicu pasar seni rupa yang mulai surut, banyak seniman yang dahulu berjaya kini merintih dalam langkahnya yang terseok-seok. Di tengah kevakuman tersebutlah, menjelang akhir tahun 2013, diadakan satu inisiasi untuk mengupayakan satu pergerakan dalam mengatasi surutnya dunia seni rupa, inisasi tersebut bernama Bali Act (Art in Culture Tradition), sebuah even di mana kurang lebih 100 artspace mengadakan exhibition showcase, baik museum, gallery, establish studio, bahkan beberapa di antaranya diisi oleh ruang-ruang alternatif yang menjadi artist initiative.

Tak menjelang lama dari gelaran event tersebut, para punggawa yang berkutat pula dalam menggelar Bali Act, lalu membentuk satu komunitas yang kini sangat melekat di telinga kita hari ini, yaitu Gurat Institute. Sebuah komunitas yang sangat berperan penting dalam pembaharuan dalam memberikan angin segar bagi dunia seni rupa Bali, baik dari segi pewacanaan, peremajaan, dan penelitian berbasis riset yang komprehensif.

Komunitas ini dirikan oleh Seriyoga Parta, Susanta Dwitanaya, Dewa Purwita, dan Wayan Nuriarta. Ke empat founder tersebut hingga kini masih terus aktif dan mendorong dalam terbentuknya sebuah komunitas berbasis kolektif, hingga munculnya generasi baru yang kini ikut bergerak dalam kapal yang sama.

Di tahun yang sama secara paralel muncul pula sebuah kelompok yang diinisiasi oleh beberapa seniman yang berfokus pada penggalian kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni lukis Bali, kelompok tersebut bernama Neo-Pitamaha. Seniman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Mahendra Yasa, Kemalezedine, Moniarta, dan Tang Adimawan.

Dengan mengusung nama Neo-Pitamaha, gagasan awal terbentuknya kelompok yang bermuara menjadi gerakan ini adalah bayangan akan bagaimana seni lukis Bali jika dilihat tidak melalui alur yang bersinggungan dengan Pita Maha, yang digagas oleh Rudolf Bonnet dan Walter spies.

Mereka berbalik dan mulai melihat seni rupa tradisional Bali, yang memiliki berbagai kemungkinan dalam menghadirkan kredo estetik drawing sebagai upaya mereka dalam memunculkan paradigma baru dalam melihat seni rupa tradisi. Usaha mereka dalam mengagas pemikiran tersebut, membawa mereka ke berbagai ruang presentasi, bahkan hingga di luar Bali sekalipun.

Exhibition of Neo-Pitamaha, Platform 3, Bandung, 2015. Left to right: Tang Adimawan, Agung Hujatinika, Rizki Zaelani, Mahendra Yasa, Kemal Ezedine, Asmudjo Jono Irianto, Rifky Effendy, Ketut Moniarta

Pandemi dan Inkubasi Kreativitas

Tumbuhnya ruang dan pemikiran-pemikiran baru terkait seni rupa Bali, mengawali sebuah perjumpaan dengan titik balik perkembangan Bali sebagai sebuah ekosistem yang mandiri, hingga hal tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sampai kemudian pandemi Covid-19 meguncang dunia, tak terkecuali Bali sebagai melting pot para wisatawan asing.

Art Bali yang digagas sebagai perpanjangan Artjog kandas pada perhelatan keduanya setelah dihempas oleh badai pandemi pada akhir 2019.

Pandemi ini menjadi pukulan telak bagi segala industri terutama industri kreatif. Banyak mahasiswa asal Bali yang akhirnya pulang akibat kebimbangan situasi dunia, pandemi layaknya ruang inkubasi yang memaksa kita untuk tiarap.

Namun di tengah situasi tersebut, ternyata muncul semangat baru akan reflektivitas berkesenian dengan munculnya sebuah ruang insiatif kolektif bernama Suksma Bali yang digagas oleh Ketut Nugi, sebuah geliat yang tumbuh akibat kurangnya saluran yang hadir pada masa pandemi.

Semangat baru itu menghadirkan berbagai acara di sepanjang era pandemi seperti Graffiti kepupungan, Megibung, hingga (Se)Pekan Grafis Bali yang hadir oleh inisiasi con-temporary Gallery, sebuah ruang temporer inklusif yang memunculkan dan memamerkan berbagai praktik seni dari berbagai lintas disiplin baik skena street art, grafis hingga Komunitas prasi.

Kolektif temporer ini mencoba membawa percakapan seni sebagai buah perlawanan dari pandemi yang telah mengurung aktivitas dunia hari itu dan menjadi salah satu titik balik ruang baur antarberbagai lapisan elemen generasi muda, baik yang berdiam di Bali mapun luar Bali.

Suksma Bali  on Temporary Gallery, Discovery Mall, Kuta 2022 \ Foto: Documentation of Suksma Bali.

Hingga sampai pada post-pandemic yang menjadi masa di mana generasi baru mulai muncul dengan semangat dan gagasan baru. Luapan kreativitas bermuara pada terbitnya para seniman, penulis, serta kurator muda baru yang mengisi relung-relung dan celah pada ekosistem seni rupa Bali selanjutnya.

Inisiatif seperti Bali Emerging Artist oleh Sika Gallery serta residensi penulisan dan kuratorial pada Acara DenPasar oleh Cush-cush Gallery memberi ruang tumbuh bagi para stakeholder baru yang akan mengisi kekosongan peran pada pewacanaan seni rupa Bali beberapa tahun ke belakang.

Kini, kesadaran berkesenian para perupa muda mulai memunculkan arus perkembangan pada melihat kembali praktik tradisi sebagai media olah tanpa batas di tengah era kontemporer global estetik hari ini.

Hal itu dipertebal dengan kehadiran Lano Art Project dengan wacananya Post-Tradisi yang mencoba melihat kembali singgungan antara modernitas yang masih membawa nilai-nilai tradisi di dalamnya. Kecenderungan ini menjadi perluasan dalam melihat arah praktik seni rupa yang berkembang di Bali ke depannya.

Pada akhirnya, melihat berbagai lapisan yang terjadi dalam pergulatan skena seni rupa Bali seakan menampik anggapan bahwa Bali tak punya arah yang jelas dalam pembacaan seni rupa Indonesia.

Menyadari hal tersebut mungkin kita tak perlu selalu menitik-beratkan pembacaan linear pada berbagai kecenderungan Seni Rupa Indonesia hari ini. Kompleksitas yang dihadirkan Bali sebagai sebuah ekosistem seni rupa, menjadi bukti bahwa semua tempat dapat menjadi pusat pada kelokalannya msing-masing. Mungkin tak seperti linearitas yang membentang seperti garis lurus, namun boleh jadi bejajar paralel dan memperkaya keluwesan seni rupa Indonesia kita hari ini.

Panjang umur seni rupa![T]

NB: Tulisan ini bersumber pada riset dan penulisan “Legacies in Flux: Timeline In progress”  yang dikompilasi oleh Farah Wardani dan Made Chandra. Pada perhelatan event seni rupa Ubud Art Ground yang masih berlangsung dari tanggal 12 Juni hingga 10 Agustus 2025.

Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Tags: Gurat InstituteRudolf BonnetSeni Rupaseni rupa Baliseni rupa IndonesiaWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Isaura Henin Serafina: Terbang Tinggi ke Jepang dengan Semangat Rajawali-Elang 

Next Post

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co