3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Made Chandra by Made Chandra
July 15, 2025
in Esai
Melihat Lapisan Skena Seni Rupa Bali: Dari Under-Upper 2000-an, hingga Post-Pandemic

Performance by Nyoman Erawan, 30th Anniversary of SDI, Art Center Denpasar, 2000 | Foto: Documentation of Sika Gallery

PERTANYAAN menyoal posisi Bali dalam percaturan Seni Rupa Indonesia selalu menjadi topik yang tak kunjung bosan untuk dibicarakan. Ia yang menjadi anomali, tumbuh dengan pergulatan sosial dan wacana yang berdiri paralel seakan tak linear dengan apa yang selalu dinarasikan tentang Seni Rupa Indonesia.

Melihat Skena under 2000-an

Tahun 30-an manifesto jiwo ketok S. Sudjojono mulai diluncurkan—merangsek untuk mengambil alih kemudi untuk menentukan arah seni rupa Indonesia selanjutnya. Bersamaan dengan itu, di pulau seberang, organisasi yang membawa misi besar dengan bernahkodakan dua orang pelukis asing, Walter Spies dan Rudolf Bonnet berdiri dengan julukan Pita Maha.

Sebuah organisasi atas patronisasi Kolonial dan Kerajaan mencoba membawa angin baru bagi prilaku artistik para pelukis Bali pada era itu, struktur anatomis dan pencahayaan ala Barat mulai menghinggapi sebagian besar pelukis-pelukis tradisi, terutama yang berdiam di Ubud dan sekitarnya.

Rudolf Bonnet | Foto: Documentation of Troopen Museum at www.sejarahbali.com.

Lompat ke tahun 70-an, muncul beberapa seniman muda berbekal pendidikan akademis yang mendirikan salah satu kelompok besar bernama Sanggar Dewata Indonesia, yang  sejak kemunculannya memberikan pengaruh yang cukup dominan pada cara pandang dalam melihat seniman dan arah Seni Rupa Bali era itu.

Kelompok yang digawangi oleh 3 pembesarnya yakni I Wayan Sika, Made Wianta, dan I Nyoman Gunarsa mencoba menawarkan sebuah gagasan baru tentang seni lukis modern yang bernafaskan tradisi Bali.

Ketiga seniman ini merintis ruang penting bagi para mahasiswa seni asal Bali, khususnya mereka yang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Melalui upaya mereka, terjadi alih pengetahuan seni modern Barat yang melibatkan dua kecenderungan utama: kecenderungan ‘formalis’ kuasi-abstrak yang dibubuhi simbol-simbol budaya, dan pendekatan yang lebih ‘dekoratif-naif’—yang keduanya sering kali saling bertautan dalam praktiknya.

Pengaruh SDI melahirkan varian seni rupa modernis yang khas Bali, yang berkembang dengan irama dan lintasannya sendiri. Dengan berpindah ke Jawa, banyak seniman muda Bali—kebanyakan berasal dari latar budaya agraris dan lokal—mengalami keterputusan budaya yang mendalam.

Bali, yang sebelumnya dipandang sebagai pusar bhuwana (pusat dunia), kini terasa seperti hanya serpihan kecil di peta Indonesia, bahkan hanya titik pada panggung global. Identitas kebalian mereka pun bergeser dari pengalaman yang naluriah dan menyatu, menjadi sikap yang lebih reflektif—yang didefinisikan dalam relasi, dan kerap dalam kontras, dengan kelompok etnis lain.

Pengaruh SDI tidak hanya pada kehadirannya di pulau Jawa, para punggawanya yang memilih untuk tinggal di Bali, menjadi semacam hegemoni yang menjamuri segala praktik artsitik berkulit modernis Barat.

Masuknya wacana post-modern ke Bali pun seakan larut dengan senyap, hingga lompatannya dalam praktik era kontemporer pada tahun 90-an, dengan diawali oleh munculnya galeri seni kontemporer pertama di Bali, yakni Sika Contemporary Art Gallery yang tentu dimiliki oleh I Wayan Sika yang sadar bahwa gelombang wacana kontemporer telah merambah ke segala lini perbincangan di antara pegiat seni.

Sejak saat itu muncul berbagai artis inisiatif ditambah dengan mahasiswa lulusan STSI Denpasar yang membentuk kelompok-kelompok kecil yang berenang dengan kaki kecil di tengah lautan pergulatan medan seni rupa.

Galang Kangin mungkin salah satunya yang menjadi wadah teman-teman muda di era tumbuhnya ruang-ruang baru saat itu, serta munculnya kelompok bernama Seniwati yang beranggotakan para seniman wanita yang semakin menambah riak dalam pertumbuhan ekosistem seni rupa di Bali.

Artists of Seniwati Gallery, circa 1990s | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

Skena Upper 2000-an

Sampai pada awal tahun 2000-an, pengaruh SDI dan meledaknnya boom seni rupa menjadi awal dari kemapanan sekaligus kemandekan bagi pergulatan wacana seni di Bali.

Ditengarai berbagai hal tersebutlah pada Februari tahun 2001 muncul sebuah gerakan “Mendobrak Hegemoni”, sebuah embrio yang melatari terbentuknya Klinik Seni Taxu yang hadir untuk mengisi kekosongan dalam pewacanaan Bali sebagai ekosistem seni rupa, dengan anggota yang terdiri dari berbagai disiplin, terutama didominasi oleh para mahasiswa seni rupa ISI Denpasar. Di antaranya adalah Seriyoga Parta, Mahendra yasa, Wayan Suja, Ngakan Ardana, Made Bayak, Dodit artawan, Ngurah Suryawan, Wayan Arsana, Moniarta dan beberapa eksponen lainnya pada waktu itu.

Kehadiran Taxu menjadi antitesis di antara gemerlapnya pasar dan hegemoni kuasi abstrak yang menjamur di sebagian seniman senior. Para angkatan muda ini didominasi oleh para seniman dan penulis, yang sebagian besar dihinggapi oleh ideologi realisme sosialis, mereka dalam tanda kutip menolak kuasi abstrak yang menggambarkan identitas Ke-Bali-an melalui simbol-simbol yang terkesan latah.

Taxu memilih jalan lain, yakni perubahan radikal dan mencari peta-peta pemikiran baru tentang kesenian dan kebudayaan Bali, terutama seni rupa itu sendiri.

Exhibition of Klinik Seni Taxu, ‘Cooking History’, 2004, at Cemeti Art House | Foto: Documentation of Indonesian Visual Art Archive (IVAA)

Bagi mereka, untuk menjadi Bali tidaklah harus dengan latah memunculkan simbol-simbol yang lumrah dan berakhir pada eksotisme belaka. Hal yang terpenting bagi mereka adalah proses berbalik dan melihat berbagai permasalahan nyata yang hadir di Bali, baik peristiwa sosial hingga politik industri.

Selain berkarya, Taxu juga menyebar pemikirannya melalui sebuah buletin seni rupa yang dinamai KITSCH, yang mewadahi pemikiran alternatif di antara para anggota Kelompok Klinik Seni Taxu.

Di tengah-tengah itu juga hadir komunitas street art yang mulai lahir dari pergesekan tersebut, yaitu The Pojoks, sebuah komunitas yang berbasis di Denpasar dan telah melakukan banyak sekali pergerakan, salah satunya adalah Bali Yang Binal, sebuah acara street art movement yang berfokus untuk menjadi tandingan dan mengkritisi Bali Biennale (2005) yang dipandang terkesan elitis dan mapan.

Acara itu menjadi penting karena kehadirannya telah mencapai edisinya yang ke-9, berbanding terbalik dengan acara yang dikritisi yaitu Bali Biennale, yang hanya berlangsung pada gelaran pertamanya saja.

Berselang beberapa tahun eksistensi Taxu sebagai sebuah kelompok dan produser manifesto mulai kehilangan arah, hingga berujung pada kembali senyapnya ombak wacana di wilayah seni rupa. Gaungan tersebut mulai kembali terdengar pada tahun 2013, era yang cukup penting bagi ekosistem seni rupa Bali ke depannya.

Dipicu pasar seni rupa yang mulai surut, banyak seniman yang dahulu berjaya kini merintih dalam langkahnya yang terseok-seok. Di tengah kevakuman tersebutlah, menjelang akhir tahun 2013, diadakan satu inisiasi untuk mengupayakan satu pergerakan dalam mengatasi surutnya dunia seni rupa, inisasi tersebut bernama Bali Act (Art in Culture Tradition), sebuah even di mana kurang lebih 100 artspace mengadakan exhibition showcase, baik museum, gallery, establish studio, bahkan beberapa di antaranya diisi oleh ruang-ruang alternatif yang menjadi artist initiative.

Tak menjelang lama dari gelaran event tersebut, para punggawa yang berkutat pula dalam menggelar Bali Act, lalu membentuk satu komunitas yang kini sangat melekat di telinga kita hari ini, yaitu Gurat Institute. Sebuah komunitas yang sangat berperan penting dalam pembaharuan dalam memberikan angin segar bagi dunia seni rupa Bali, baik dari segi pewacanaan, peremajaan, dan penelitian berbasis riset yang komprehensif.

Komunitas ini dirikan oleh Seriyoga Parta, Susanta Dwitanaya, Dewa Purwita, dan Wayan Nuriarta. Ke empat founder tersebut hingga kini masih terus aktif dan mendorong dalam terbentuknya sebuah komunitas berbasis kolektif, hingga munculnya generasi baru yang kini ikut bergerak dalam kapal yang sama.

Di tahun yang sama secara paralel muncul pula sebuah kelompok yang diinisiasi oleh beberapa seniman yang berfokus pada penggalian kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni lukis Bali, kelompok tersebut bernama Neo-Pitamaha. Seniman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Mahendra Yasa, Kemalezedine, Moniarta, dan Tang Adimawan.

Dengan mengusung nama Neo-Pitamaha, gagasan awal terbentuknya kelompok yang bermuara menjadi gerakan ini adalah bayangan akan bagaimana seni lukis Bali jika dilihat tidak melalui alur yang bersinggungan dengan Pita Maha, yang digagas oleh Rudolf Bonnet dan Walter spies.

Mereka berbalik dan mulai melihat seni rupa tradisional Bali, yang memiliki berbagai kemungkinan dalam menghadirkan kredo estetik drawing sebagai upaya mereka dalam memunculkan paradigma baru dalam melihat seni rupa tradisi. Usaha mereka dalam mengagas pemikiran tersebut, membawa mereka ke berbagai ruang presentasi, bahkan hingga di luar Bali sekalipun.

Exhibition of Neo-Pitamaha, Platform 3, Bandung, 2015. Left to right: Tang Adimawan, Agung Hujatinika, Rizki Zaelani, Mahendra Yasa, Kemal Ezedine, Asmudjo Jono Irianto, Rifky Effendy, Ketut Moniarta

Pandemi dan Inkubasi Kreativitas

Tumbuhnya ruang dan pemikiran-pemikiran baru terkait seni rupa Bali, mengawali sebuah perjumpaan dengan titik balik perkembangan Bali sebagai sebuah ekosistem yang mandiri, hingga hal tersebut berlanjut pada tahun-tahun berikutnya sampai kemudian pandemi Covid-19 meguncang dunia, tak terkecuali Bali sebagai melting pot para wisatawan asing.

Art Bali yang digagas sebagai perpanjangan Artjog kandas pada perhelatan keduanya setelah dihempas oleh badai pandemi pada akhir 2019.

Pandemi ini menjadi pukulan telak bagi segala industri terutama industri kreatif. Banyak mahasiswa asal Bali yang akhirnya pulang akibat kebimbangan situasi dunia, pandemi layaknya ruang inkubasi yang memaksa kita untuk tiarap.

Namun di tengah situasi tersebut, ternyata muncul semangat baru akan reflektivitas berkesenian dengan munculnya sebuah ruang insiatif kolektif bernama Suksma Bali yang digagas oleh Ketut Nugi, sebuah geliat yang tumbuh akibat kurangnya saluran yang hadir pada masa pandemi.

Semangat baru itu menghadirkan berbagai acara di sepanjang era pandemi seperti Graffiti kepupungan, Megibung, hingga (Se)Pekan Grafis Bali yang hadir oleh inisiasi con-temporary Gallery, sebuah ruang temporer inklusif yang memunculkan dan memamerkan berbagai praktik seni dari berbagai lintas disiplin baik skena street art, grafis hingga Komunitas prasi.

Kolektif temporer ini mencoba membawa percakapan seni sebagai buah perlawanan dari pandemi yang telah mengurung aktivitas dunia hari itu dan menjadi salah satu titik balik ruang baur antarberbagai lapisan elemen generasi muda, baik yang berdiam di Bali mapun luar Bali.

Suksma Bali  on Temporary Gallery, Discovery Mall, Kuta 2022 \ Foto: Documentation of Suksma Bali.

Hingga sampai pada post-pandemic yang menjadi masa di mana generasi baru mulai muncul dengan semangat dan gagasan baru. Luapan kreativitas bermuara pada terbitnya para seniman, penulis, serta kurator muda baru yang mengisi relung-relung dan celah pada ekosistem seni rupa Bali selanjutnya.

Inisiatif seperti Bali Emerging Artist oleh Sika Gallery serta residensi penulisan dan kuratorial pada Acara DenPasar oleh Cush-cush Gallery memberi ruang tumbuh bagi para stakeholder baru yang akan mengisi kekosongan peran pada pewacanaan seni rupa Bali beberapa tahun ke belakang.

Kini, kesadaran berkesenian para perupa muda mulai memunculkan arus perkembangan pada melihat kembali praktik tradisi sebagai media olah tanpa batas di tengah era kontemporer global estetik hari ini.

Hal itu dipertebal dengan kehadiran Lano Art Project dengan wacananya Post-Tradisi yang mencoba melihat kembali singgungan antara modernitas yang masih membawa nilai-nilai tradisi di dalamnya. Kecenderungan ini menjadi perluasan dalam melihat arah praktik seni rupa yang berkembang di Bali ke depannya.

Pada akhirnya, melihat berbagai lapisan yang terjadi dalam pergulatan skena seni rupa Bali seakan menampik anggapan bahwa Bali tak punya arah yang jelas dalam pembacaan seni rupa Indonesia.

Menyadari hal tersebut mungkin kita tak perlu selalu menitik-beratkan pembacaan linear pada berbagai kecenderungan Seni Rupa Indonesia hari ini. Kompleksitas yang dihadirkan Bali sebagai sebuah ekosistem seni rupa, menjadi bukti bahwa semua tempat dapat menjadi pusat pada kelokalannya msing-masing. Mungkin tak seperti linearitas yang membentang seperti garis lurus, namun boleh jadi bejajar paralel dan memperkaya keluwesan seni rupa Indonesia kita hari ini.

Panjang umur seni rupa![T]

NB: Tulisan ini bersumber pada riset dan penulisan “Legacies in Flux: Timeline In progress”  yang dikompilasi oleh Farah Wardani dan Made Chandra. Pada perhelatan event seni rupa Ubud Art Ground yang masih berlangsung dari tanggal 12 Juni hingga 10 Agustus 2025.

Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto

Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
Aktualisasi Seni Tradisi dalam Pusaran Era Kontemporer
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi
Post Tradisi : Upaya untuk Meletakkan Bali dalam Pembacaan Seni Rupa Indonesia
Tags: Gurat InstituteRudolf BonnetSeni Rupaseni rupa Baliseni rupa IndonesiaWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Isaura Henin Serafina: Terbang Tinggi ke Jepang dengan Semangat Rajawali-Elang 

Next Post

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co