2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
in Bahasa
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Ilustrasi tatkala.co by Canva

PERKEMBANGAN bahasa Bali  saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak  dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa dengan bahasa lain akan membawa perubahan pada tataran fonologi, morfologi, dan sikntaksis. Di antara ketiga tataran tersebut, tataran morfologis yang paling mudah berubah. Kosakata merupakan aspek bahasa yang paling mudah berubah karena perkembangan kosakata suatu bahasa  dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, sosial, dan budaya, serta interaksi antar bahasa. Aitchison (1981) menyatakan bahwa perubahan dalam kosakata biasanya lebih cepat daripada perubahan dalam tata bahasa. 

Perubahan juga terjadi pada bentuk sapaan tradisional seperti mbok. Dalam tataran norma lama, sapaan mbok digunakan untuk menyapa atau merujuk kepada saudara perempuan yang lebih tua, baik secara biologis maupun sosial. Namun, saat ini makna sapaan tersebut mengalami perluasan sekaligus pergeseran. Kata mbok kini sering digunakan oleh generasi muda untuk menyapa perempuan yang belum tentu memiliki hubungan kekerabatan, bahkan sering kali digunakan kepada perempuan muda yang tidak dikenal secara personal.

Dalam konteks ini, usia penyapa bisa lebih tua atau lebih muda dari yang disapa, dan hubungan antara keduanya bersifat nonformal. Penggunaan ini mencerminkan adanya fleksibilitas baru dalam praktik kebahasaan yang lebih cair, yang tidak terlalu terikat pada norma-norma tradisional bentuk sapaan bahasa Bali.

Perubahan makna  ini menunjukkan adanya dinamika bahasa yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, nilai budaya, dan gaya hidup generasi muda. Hal ini menjadi indikasi bahwa bentuk-bentuk sapaan tidak lagi bersifat tetap dan kaku, tetapi terus mengalami adaptasi sesuai dengan kebutuhan komunikasi antarpenutur. Penambahan dan pergeseran makna dalam bentuk sapaan ini menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut, karena tidak hanya mencerminkan perubahan bahasa, tetapi juga perubahan cara pandang dan relasi sosial dalam masyarakat.

Bentuk sapaan  mbok dan bli memang awal mulanya digunakan dalam kekerabatan. Saat ini bentuk sapaan tersebut dilabeli sebagai penanda orang Bali. Masyarakat di luar Bali, menggunakan bentuk sapaan mbok dan bli untuk membangun relasi sosial dengan orang Bali yang baru dikenal. Jika orangnya tampak masih muda, untuk  membangun relasi orang luar Bali menyapa dengan bentuk sapaan mbok untuk perempuan dan bli untuk laki-laki. Penggunaan bentuk sapaan tersebut membuat penyapa dan pesapa merasa nyaman dan  tidak canggung dalam berkomunikasi. Penggunaan bentuk sapaan mbok dan bli juga  digunakan antara orang Bali yang tidak saling kenal. Cermati pada dialog pendek yang terjadi di mini market.

 Data 1

Pembeli           : Mbok ada green sand?

                          (Kak, ada green sand?)

Pramuniaga     : O, wenten . Di leret kedua, Bli.

                          (O, ada. di leret kedua, Kak.)

Pembeli           : Ok, Suksma, Mbok

                          (Ok, terima kasih, Kak.)

Pada percakapan pada di atas,  antara penyapa (pembeli)  dan pesapa (pramuniaga)   mempunyai umur yang berbeda. Umur penyapa lebih tua daripada pesapa. Pramuniaga memilih menggunakan bentuk sapaan bli dan pembeli (penyapa)  memakai bentuk sapaan mbok. Hal ini menguatkan bahwa bentuk sapaan mbok penggunaannya sudah mengalami perluasan makna. Kata mbok tidak saja digunakan untuk merujuk pada pesapa yang mempunyai umur yang lebih tua tetapi juga digunakan untuk pesapa yang umurnya lebih muda. Penggunaan bentuk sapaan mbok digunakan oleh pesapa untuk mengurangi jarak dan menciptakan keakraban antara intelrokutor

Data 2

Pembeli           : Bli, menune ada, Bli?

                          (Kak, menunya ada, Kak?)

Pramu saji       : Ada Bli. Antos jebos Bli nggih.

                          (Ada Bli. Tunggu sebentar, Kak.)

Pada data 2, antara penyapa (pembeli)  dengan yang disapa (pramu saji) memiliki umur yang berbeda. Selisih umur nya antara empat sampai lima tahun. Pembeli umurnya lebih tua daripada pembeli. Uniknya antara pembeli  dan pramusaji sama-sama menggunakan bentuk sapaan bli. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran makna pada bentuk sapaan bli.Bentuk sapaan bli tidak saja digunakan oleh penyapa untuk menyapa  pesapa yang lebih tua tetapi juga digunakan untuk penyapa yang lebih muda.

Makna bentuk sapaan bli telah mengalami perluasan makna. Penggunaan bentuk sapaan bli pada data 2, untuk menciptakan suasana keakraban antara penyapa dan pesapa. Akinlende (2008) menyatakan bahwa bentuk sapaan berfungsi  sebagai indikator status sosial lawan bicara serta jarak sosial mereka, menunjukkan emosi kepada pihak lain, dan sebagai sarana untuk menjaga muka. Dalam hal ini, antara penyapa dan pesapa mengurangi jarak sosial untuk membangun keakraban. [T]

Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Jaswanto

Ucapan yang Tepat untuk Seseorang yang Memasuki Purnabakti
Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?
Benarkah “bertujuan untuk” itu Lewah?
Tags: Bahasa Balibali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Next Post

Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

by I Made Sudiana
September 4, 2026
0
Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

Read moreDetails

Gol versus Gul

by I Made Sudiana
September 3, 2026
0
Gol versus Gul

KITA teriak “gol” manakala tim sepak bola yang kita dukung memasukkan bola ke gawang lawan. Ketika bola mengenai tiang gawang,...

Read moreDetails

Perkara Anarkis dan Anarkistis

by I Made Sudiana
August 30, 2026
0
Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

Read moreDetails

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

by I Made Sudiana
August 18, 2026
0
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

Read moreDetails

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

by I Made Sudiana
August 15, 2026
0
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

Read moreDetails

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

by I Made Sudiana
August 13, 2026
0
Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

Read moreDetails

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

by I Made Sudiana
August 11, 2026
0
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

Read moreDetails

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

by I Made Sudiana
August 9, 2026
0
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

Read moreDetails

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

by I Made Sudiana
June 29, 2026
0
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

Read moreDetails

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

by I Made Sudiana
June 25, 2026
0
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

Read moreDetails
Next Post
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”

Darma Kosmik "Usada Budha Kecapi"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co