14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
July 18, 2025
in Bahasa
Pergeseran Makna Bentuk  Sapaan Bahasa Bali “Mbok” dan “Bli”

Ilustrasi tatkala.co by Canva

PERKEMBANGAN bahasa Bali  saat ini sangat dinamis. Hal itu diakibatkan adanya kontak  dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kontak bahasa dengan bahasa lain akan membawa perubahan pada tataran fonologi, morfologi, dan sikntaksis. Di antara ketiga tataran tersebut, tataran morfologis yang paling mudah berubah. Kosakata merupakan aspek bahasa yang paling mudah berubah karena perkembangan kosakata suatu bahasa  dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, sosial, dan budaya, serta interaksi antar bahasa. Aitchison (1981) menyatakan bahwa perubahan dalam kosakata biasanya lebih cepat daripada perubahan dalam tata bahasa. 

Perubahan juga terjadi pada bentuk sapaan tradisional seperti mbok. Dalam tataran norma lama, sapaan mbok digunakan untuk menyapa atau merujuk kepada saudara perempuan yang lebih tua, baik secara biologis maupun sosial. Namun, saat ini makna sapaan tersebut mengalami perluasan sekaligus pergeseran. Kata mbok kini sering digunakan oleh generasi muda untuk menyapa perempuan yang belum tentu memiliki hubungan kekerabatan, bahkan sering kali digunakan kepada perempuan muda yang tidak dikenal secara personal.

Dalam konteks ini, usia penyapa bisa lebih tua atau lebih muda dari yang disapa, dan hubungan antara keduanya bersifat nonformal. Penggunaan ini mencerminkan adanya fleksibilitas baru dalam praktik kebahasaan yang lebih cair, yang tidak terlalu terikat pada norma-norma tradisional bentuk sapaan bahasa Bali.

Perubahan makna  ini menunjukkan adanya dinamika bahasa yang dipengaruhi oleh perubahan sosial, nilai budaya, dan gaya hidup generasi muda. Hal ini menjadi indikasi bahwa bentuk-bentuk sapaan tidak lagi bersifat tetap dan kaku, tetapi terus mengalami adaptasi sesuai dengan kebutuhan komunikasi antarpenutur. Penambahan dan pergeseran makna dalam bentuk sapaan ini menjadi penting untuk dikaji lebih lanjut, karena tidak hanya mencerminkan perubahan bahasa, tetapi juga perubahan cara pandang dan relasi sosial dalam masyarakat.

Bentuk sapaan  mbok dan bli memang awal mulanya digunakan dalam kekerabatan. Saat ini bentuk sapaan tersebut dilabeli sebagai penanda orang Bali. Masyarakat di luar Bali, menggunakan bentuk sapaan mbok dan bli untuk membangun relasi sosial dengan orang Bali yang baru dikenal. Jika orangnya tampak masih muda, untuk  membangun relasi orang luar Bali menyapa dengan bentuk sapaan mbok untuk perempuan dan bli untuk laki-laki. Penggunaan bentuk sapaan tersebut membuat penyapa dan pesapa merasa nyaman dan  tidak canggung dalam berkomunikasi. Penggunaan bentuk sapaan mbok dan bli juga  digunakan antara orang Bali yang tidak saling kenal. Cermati pada dialog pendek yang terjadi di mini market.

 Data 1

Pembeli           : Mbok ada green sand?

                          (Kak, ada green sand?)

Pramuniaga     : O, wenten . Di leret kedua, Bli.

                          (O, ada. di leret kedua, Kak.)

Pembeli           : Ok, Suksma, Mbok

                          (Ok, terima kasih, Kak.)

Pada percakapan pada di atas,  antara penyapa (pembeli)  dan pesapa (pramuniaga)   mempunyai umur yang berbeda. Umur penyapa lebih tua daripada pesapa. Pramuniaga memilih menggunakan bentuk sapaan bli dan pembeli (penyapa)  memakai bentuk sapaan mbok. Hal ini menguatkan bahwa bentuk sapaan mbok penggunaannya sudah mengalami perluasan makna. Kata mbok tidak saja digunakan untuk merujuk pada pesapa yang mempunyai umur yang lebih tua tetapi juga digunakan untuk pesapa yang umurnya lebih muda. Penggunaan bentuk sapaan mbok digunakan oleh pesapa untuk mengurangi jarak dan menciptakan keakraban antara intelrokutor

Data 2

Pembeli           : Bli, menune ada, Bli?

                          (Kak, menunya ada, Kak?)

Pramu saji       : Ada Bli. Antos jebos Bli nggih.

                          (Ada Bli. Tunggu sebentar, Kak.)

Pada data 2, antara penyapa (pembeli)  dengan yang disapa (pramu saji) memiliki umur yang berbeda. Selisih umur nya antara empat sampai lima tahun. Pembeli umurnya lebih tua daripada pembeli. Uniknya antara pembeli  dan pramusaji sama-sama menggunakan bentuk sapaan bli. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran makna pada bentuk sapaan bli.Bentuk sapaan bli tidak saja digunakan oleh penyapa untuk menyapa  pesapa yang lebih tua tetapi juga digunakan untuk penyapa yang lebih muda.

Makna bentuk sapaan bli telah mengalami perluasan makna. Penggunaan bentuk sapaan bli pada data 2, untuk menciptakan suasana keakraban antara penyapa dan pesapa. Akinlende (2008) menyatakan bahwa bentuk sapaan berfungsi  sebagai indikator status sosial lawan bicara serta jarak sosial mereka, menunjukkan emosi kepada pihak lain, dan sebagai sarana untuk menjaga muka. Dalam hal ini, antara penyapa dan pesapa mengurangi jarak sosial untuk membangun keakraban. [T]

Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Jaswanto

Ucapan yang Tepat untuk Seseorang yang Memasuki Purnabakti
Kata Grodog  dan Onomatope | Ini Cerita Tentang Lemari
“Ketika Memberi”, Bagaimana Memadankannya ke Bahasa Bali?
Benarkah “bertujuan untuk” itu Lewah?
Tags: Bahasa Balibali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertemuan Batin Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara: Refleksi atas Dialog Budaya India-Indonesia

Next Post

Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

by I Made Sudiana
May 5, 2026
0
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

Read moreDetails

Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

by I Made Sudiana
April 29, 2026
0
Resistensi Penutur: antara “Mempunyai” dan “Memunyai” dalam Bahasa Indonesia

BARU-BARU ini, dalam perhelatan Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sandibasa) IV, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, saya mempresentasikan sebuah makalah...

Read moreDetails

Glosarium Krisis Sampah Bali

by I Made Sudiana
April 17, 2026
0
Glosarium Krisis Sampah Bali

BALI sedang berada di titik nadir. Bali sedang tidak baik-baik saja dalam hal sampah. Pulau yang konon disebut The Last Paradise (Surga...

Read moreDetails

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

by I Made Sudiana
April 13, 2026
0
Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

DALAM percakapan sehari-hari, kerap kali digunakan kata pelindungan dan perlindungan secara bergantian. Namun, dalam ranah hukum dan kebijakan publik di...

Read moreDetails

‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

by I Made Sudiana
April 6, 2026
0
‘Siap 86’: Ketika Orang Sipil Merasa Sedang Pakai Seragam

SEBAGAI orang sipil, pernahkah Anda mengirim pesan santai dan personal, lalu dibalas dengan kode angka yang terdengar seperti sandi agen...

Read moreDetails

Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

by I Made Sudiana
March 18, 2026
0
Nyepi, Sepi, Hening: Menemukan Diri dalam Keheningan

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, Nyepi merupakan nomina (kata benda) yang bermakna hari suci umat Hindu untuk memperingati...

Read moreDetails

Takjil

by Ahmadul Faqih Mahfudz
February 22, 2026
0
Takjil

MASJID-MASJID di kota atau masjid-masjid di sisi jalan raya menggelar buka puasa Bersama selama Ramadan. Anak-anak, remaja, orang tua, hingga...

Read moreDetails

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

by I Made Sudiana
February 14, 2026
0
Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Wira, seorang pegiat TikTok dengan nama Si Bli Wira, melalui konten media sosialnya belakangan ini sering mengungkapkan tabik sugra dalam...

Read moreDetails

Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

by Angga Wijaya
September 15, 2025
0
Ketika “Rujak” Bukan Sekadar Nama Makanan di Indonesia

ESAI “Saling Rujak” karya Dahlan Iskan yang terbit di Disway.id pada Senin, 15 September 2025, berangkat dari suasana Forum GREAT...

Read moreDetails

Sudahkah Bahasa Kita Berdaulat?

by Ahmad Sihabudin
July 30, 2025
0
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Dalam  tulisan ini yang maksud kedaulatan bahasa adalah, digunakannya suatu bahasa dalam hal ini bahasa Indonesia secara sadar dan bertanggung...

Read moreDetails
Next Post
Darma Kosmik “Usada Budha Kecapi”

Darma Kosmik "Usada Budha Kecapi"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co