25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

SGSL by SGSL
February 12, 2021
in Khas
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Presiden Soekarno saat penyerahan Doktor Honoris Causa dalam ilmu Kebudajaan. {foto diambil dari internet]

 KI HAJAR DEWANTARA (KHD) mendidik diri dengan keras, tekun, lalu membaginya dalam Taman Siswa yang beliau kembangkan.

KHD bukan produk pendidikan Belanda kolonial. Bukan produksi kampus. Sekalipun KHD di masa mudanya menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), dan sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) — tidak sampai tamat karena sakit — ia “bukan produk kolonial”. KHD bekerja sebagai penulis dan wartawan di Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Sebagai penulis KHD dikenal sangat ulet dan handal, dengan bahasa lugas anti kolonial dan feodalime.

Sebelum berpulang KHD sempat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR HC). Namun, kelihatannya ini tidak mungkin terjadi tanpa “jebakan Bung Karno”. Kalau saja beliau tidak dipaksa, dan “bercanda-canda dan dirayu” Bung Karno dalam menerima gelar DR HC, beliau tidak membutuhkan gelar itu di masa tuanya. Beliau kelihatannya “dijebak” Bung Karno, akhirnya terselenggara penganugrahan tersebut.

Soekarno, bagaimanapun seorang presiden, sekalipun tetap selamanya “murid” KHD, tampak dalam foto penganugrahan DR HC itu mereka dengan malu-malu dan tertawa-senyum melakukan seremonial kecil penganugrahan DR HC, dengan meminjam stempel UGM. Ini momentum baik agar UGM sah menjadi kampus negara dengan penganugrahan DR HC ini. Jadi yang diangkat sebenarnya bukan yang menerima DR HC — karena KHD tidak perlu diangkat-angkat lagi namanya telah harum melambung ke langit — tapi kampus UGM yang diangkat namanya ketika KHD mau menerima DR HC.

Sebenarnya bukan kali pertama Soekarno “menjebak” KHD.

Ketika Indonesia merdeka, nama KHD langsung dimasukkan menjadi Menteri Pendidikan mendampingi Soekarno. Namun, KHD mengundurkan diri karena alasan dunia pendidikan yang ia bangun tidak sama dengan dunia pendidikan yang dicita-citakan. KHD mundur 3 bulan kemudian.

Surat Pengangkatan Ki Hajar dewantara sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan dan kebudayaan
Ki Hajar Dewantara [Sumber foto internet]
Surat pemberhentian jadi menteri dan ucapan terima kaksih dari Presiden Soekarno [sumber foto internet]

Tiga bulan “dijebak” Soekarno, mundur dan memilih untuk mendampingi Sekolah Taman Siswa. Hatinya bukan “hati pejabat”. Jiwanya mengajar, bersama anak-anak dan Taman Siswa, KHD bukan sosok yang silau jabatan.

Pemberian gelar Doctor Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantoro dilangsungkan di Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, pada hari Dies Natalis jang ke VII tgl. 19 Desember 1956. Tempat pengukuhan itu tidak di kampus, tapi di Kraton Yogyakarta, dimana memang KHD bagian dari keluarga besar kebangsawanan Yogyakarta. Mungkin saja kalau tidak dilantik di “rumah sendiri” dan dihadiri Soekarno secara khusus, kemungkinan tidak hadir dan tidak bersedia diberikan DR HC.

Begitulah DR HC kepada KHD itu “diboncengi” Presiden Soekarno. Bukti bakti dan hormat seorang guru Taman Siswa kepada pendiri Taman Siswa — Soekarno pernah menjadi guru di Taman Siswa Bandung di masa mudanya.

Dua tahun setelah pengukuhan gelar tersebut KHD berpulang di Yogyakarta, tanggal 28 April 1959.

Soekarno dan Ki Hajar Dewantara [Sumber foto dari Internet]

Soekarno, sekali lagi dengan bakti mendalam, menjadikan hari lahir KHD tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 yang tertanggal pada 28 November 1959.

Soekarno tiada henti terkagum dan mengakui tiada sosok pendidikan yang sebanding dengan KHD. Cita-cita luhur pada pendidikan manusia tidak pernah pupus. Tidak bisa ditukar dengan jabatan apapun.

Pidato Seokarno tentang pendidikan yang monumental adalah “Bertjita-tjitalah setinggi bintang di langit!” Ini diucapkan oleh Presiden Soekarno pada peringatan hari pendidikan nasional di Istana Olah raga Gelora Bung Karno Senajan Djakarta pada tgl. 2 Mei 1964.

Pidato Soekarno

Dengan menjadikan kelahiran KHD sebagai Hari Pendidikan, Soekarno selanjutnya memberi amanat agar cita-cita KHD tidak padam. Kisah sejarah dunia pendidikan di Indonesia perlu tahu dan tetap pengenanng, pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa  atau Perguruan Taman Siswa, yang bertujuan “memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda”.

Perguruan Taman Siswa berkembang di seluruh Jawa sampai di Bali. Pendidikan awal kemerdekaan tidak pernah bisa membayangkan bisa tumbuh tanpa Taman Siswa.

Kesahajaan Ki Hajar Dewantara tercermin dalam kebijakan pendidikannya yang terbuka untuk rakyat jelatah atau semua orang. Pada titik ini kita penting belajar pada KHD, bahwa pendidikan untuk semua, dan pengetahuan untuk semua. [T]

  • Lampiran:

PIDATO PRESIDEN SOEKARNO DALAM PENGANUGRAHAN DOCTOR HONORIS CAUSA KI HAJAR DEWANTARA

— Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, 19 Desember 1956.

“Saudara-saudara sekalian, saja akan berbitjara singkat.

“Nama saja ditjantumkan dalam programa atjara resepsi ini, untuk ikut-ikut mengutjapkan kata sambutan, atas promosi Ki Hadjar Dewantara scbagai Doktor Honoris Causa.

“Saja akan bitjara singkat, oleh karena pada malam ini, Ki Hadjar Dewantara telah ditjondro oleh pelbagai pembitjara pembitjara, pembitjara-pembitjara itu tadi saudara-saudara menjondro Ki Hadjar Dewantara sebagai orang daripada keluarga Taman Siswa.

“Saudara Sarino bitjara sebagai orang Taman Siswa, saudara Ketua Panitia bitjara sebagai orang keluarga Taman Siswa, saudara Soendoro bitjara pandjang-lebar sebagai orang Taman Siswa djuga. Saja akan bitjara tidak sadja sebagai orang dari keluarga Taman Siswa, tetapi saja bitjara atas nama “SEGENAP RAKJAT INDONESIA JANG DELAPAN PULUH-DJUTA”. Saja bitjara atas nama “NEGARA REPUBLIK INDONESIA”

“Di dalam kwalitet itulah saja merasa berbahagia, dapat ikut mengagungkan asmanja Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara adalah putera Indonesia jang Besar. Bahkan bagi saja persoonlijk, saja selalu menganggap Ki Hadjar Dewantara sebagai saja punja saudara tua, sebagai saudara Kangmas, bahkan sebagai diutjapkan saudara Semaun, pula sebagai guru saja.

“Di dalam pemberian gelar Doktor Honoris Causa, sebenarnja Universitas Gadjah Mada kurang tepat dan kurang adil, djikalau Universitas itu mendahulukan saja daripada Ki Hadjar Dewantara.

“Ki Hadjar Dewantara sebagai tadi saja katakan, adalah seorang putera Indonesia jang besar tiap-tiap bangsa saudara-saudara, tiap-tiap bangsa jang besar, mempunjai putera-putera jang besar. Tiap-tiap bangsa jang besar mempunjai eksponen-eksponen jang besar kalibernja. Maka bangsa Indonesia bolehlah berbahagia, mempunjai seorang eksponen jang besar sebagai Ki Hadjar Dewantara.

“Saja persoonlijk, saudara-saudara, merasa berbahagia, pada waktu saja masih muda dapat “NGLESOT” pada kaki Ki Hadjar Dewantara. Saja termasuk pemuda-pemuda jang berbahagia, dapat maguru kepada orang-orang Indonesia jang besar. Maguru kepada almarhum Kjai Hadji Achmad Dahlan, maguru kepada Doktor E.F.E. Douwes Dekker jang kemudian bernama Setiabudi. Maguru kepada Dokter Tjipto Mangunkusumo, maguru kepada Raden Mas Suwardi Surjaningat jang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara maguru kepada Saudara Semaun, jang saja unduh dari Moskow, maguru pada eksponen eksponen lain. Oleh karena itulah saja dapat merasakan, saudara, bahwa bangsa Indoneaia Insja Allah Subchanahu watta ‘ala, dapat mendjadi suatu bangsa jang besar. Oleh karena sudah ternjata, bangsa Indonesia sudah dapat melahirkan putera puteranja jang besar.

“Bagi saja saudara-saudara, jang sekarang duduk dalam dunia alam politik, bagi saja terutama sekali saja melihat Ki Hadjar Dewantara bersama-sama Dr. E.F.E. Douwes Dekker Setiabudi, bersama dengan Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai bapaknja politilk Nasionalisme Indonesia. Alangkah baiknja, djikalau pemuda-pemuda djaman sekarang, jang diantara mereka itu ada jang mengedjek Ki Hadjar wantara, menginsjafi bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah salah seorang bapak politik nasionalisme Indonesia.

“Malahan saudara saudara, nama Ki Hadjar Dewantara di dalam waktu jang achir-achir ini, hidup berkobar-kobar lagi di dalam dada saja. Oleh karena saja di waktu jang achir-achir ini, sedang prihatin, merasakan perpetjahan-perpetjahan, pertikaian-pertikaian di kalangan bangsa Indonesia sendiri. Saja ingat, bahwa kira-kira 33 tahun jang lalu, Ki Hadjar Dewantara, Dr. E.F.E. Douwes Dekker  Douwes Dekker, Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai pemimpin pemimpin dari Indische Partj, telah memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, apa jang harus diperbuat oleh pemimpin-pemimpin partai politik djikalau ada kekatjauan di dalam kalangan bangsa.

“Pada waktu itu, Ki Hadjar Dewantara, Dokter Tijpto Mangunkusumo, Dr. E.F.E. Douwes Dekker dan beberapa nasionalis-nasionalis lain, jang mendjadi pemimpin dari Indische Partij, oleh karena dilihat bangsa Indonesia terlalu terpetjah – belah oleh partai-partai politik, maka atas inisiatip Dr. E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, dikuburkan Indische Partij, saudara-saudara.

“Untuk memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, bahwa persatuan bangsa adalah harus diutamakan di atas segala hal. Maka oleh karena itu saudara-saudara, saja minta kepada  segenap rakjat Indonesia, supaja merenungkan hal ini.

“Manakala kita semuanja beriang gembira, melihat bahwa Ki Hadjar Dewantara dimuliakan oleh Universitas Gadjah Mada, sebagai Doktor Honoris Causa dalam ilmu Kebudajaan.

“Manakala kita beriang gembira, bahwa salah seorang putera Indonesia jang besar, mendapat kehormatan besar di atas persadanja ilmu pengetahuan dan ilmu kebudajaan, marilah kita semuanja, memikirkan akan nasibnja bangsa Indonesia dikemudian hari, jang kemudian hari itu tergantung dari pada keadaan dihari sekarang. “Bersatulah rakjat Indonesia, sebagai jang selalu diandjurkan.

Tags: KI Hajar DewantaraPendidikansejarahSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Next Post

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

SGSL

SGSL

pengumpul

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co