4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

SGSL by SGSL
February 12, 2021
in Khas
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Presiden Soekarno saat penyerahan Doktor Honoris Causa dalam ilmu Kebudajaan. {foto diambil dari internet]

 KI HAJAR DEWANTARA (KHD) mendidik diri dengan keras, tekun, lalu membaginya dalam Taman Siswa yang beliau kembangkan.

KHD bukan produk pendidikan Belanda kolonial. Bukan produksi kampus. Sekalipun KHD di masa mudanya menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), dan sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) — tidak sampai tamat karena sakit — ia “bukan produk kolonial”. KHD bekerja sebagai penulis dan wartawan di Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Sebagai penulis KHD dikenal sangat ulet dan handal, dengan bahasa lugas anti kolonial dan feodalime.

Sebelum berpulang KHD sempat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR HC). Namun, kelihatannya ini tidak mungkin terjadi tanpa “jebakan Bung Karno”. Kalau saja beliau tidak dipaksa, dan “bercanda-canda dan dirayu” Bung Karno dalam menerima gelar DR HC, beliau tidak membutuhkan gelar itu di masa tuanya. Beliau kelihatannya “dijebak” Bung Karno, akhirnya terselenggara penganugrahan tersebut.

Soekarno, bagaimanapun seorang presiden, sekalipun tetap selamanya “murid” KHD, tampak dalam foto penganugrahan DR HC itu mereka dengan malu-malu dan tertawa-senyum melakukan seremonial kecil penganugrahan DR HC, dengan meminjam stempel UGM. Ini momentum baik agar UGM sah menjadi kampus negara dengan penganugrahan DR HC ini. Jadi yang diangkat sebenarnya bukan yang menerima DR HC — karena KHD tidak perlu diangkat-angkat lagi namanya telah harum melambung ke langit — tapi kampus UGM yang diangkat namanya ketika KHD mau menerima DR HC.

Sebenarnya bukan kali pertama Soekarno “menjebak” KHD.

Ketika Indonesia merdeka, nama KHD langsung dimasukkan menjadi Menteri Pendidikan mendampingi Soekarno. Namun, KHD mengundurkan diri karena alasan dunia pendidikan yang ia bangun tidak sama dengan dunia pendidikan yang dicita-citakan. KHD mundur 3 bulan kemudian.

Surat Pengangkatan Ki Hajar dewantara sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan dan kebudayaan
Ki Hajar Dewantara [Sumber foto internet]
Surat pemberhentian jadi menteri dan ucapan terima kaksih dari Presiden Soekarno [sumber foto internet]

Tiga bulan “dijebak” Soekarno, mundur dan memilih untuk mendampingi Sekolah Taman Siswa. Hatinya bukan “hati pejabat”. Jiwanya mengajar, bersama anak-anak dan Taman Siswa, KHD bukan sosok yang silau jabatan.

Pemberian gelar Doctor Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantoro dilangsungkan di Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, pada hari Dies Natalis jang ke VII tgl. 19 Desember 1956. Tempat pengukuhan itu tidak di kampus, tapi di Kraton Yogyakarta, dimana memang KHD bagian dari keluarga besar kebangsawanan Yogyakarta. Mungkin saja kalau tidak dilantik di “rumah sendiri” dan dihadiri Soekarno secara khusus, kemungkinan tidak hadir dan tidak bersedia diberikan DR HC.

Begitulah DR HC kepada KHD itu “diboncengi” Presiden Soekarno. Bukti bakti dan hormat seorang guru Taman Siswa kepada pendiri Taman Siswa — Soekarno pernah menjadi guru di Taman Siswa Bandung di masa mudanya.

Dua tahun setelah pengukuhan gelar tersebut KHD berpulang di Yogyakarta, tanggal 28 April 1959.

Soekarno dan Ki Hajar Dewantara [Sumber foto dari Internet]

Soekarno, sekali lagi dengan bakti mendalam, menjadikan hari lahir KHD tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 yang tertanggal pada 28 November 1959.

Soekarno tiada henti terkagum dan mengakui tiada sosok pendidikan yang sebanding dengan KHD. Cita-cita luhur pada pendidikan manusia tidak pernah pupus. Tidak bisa ditukar dengan jabatan apapun.

Pidato Seokarno tentang pendidikan yang monumental adalah “Bertjita-tjitalah setinggi bintang di langit!” Ini diucapkan oleh Presiden Soekarno pada peringatan hari pendidikan nasional di Istana Olah raga Gelora Bung Karno Senajan Djakarta pada tgl. 2 Mei 1964.

Pidato Soekarno

Dengan menjadikan kelahiran KHD sebagai Hari Pendidikan, Soekarno selanjutnya memberi amanat agar cita-cita KHD tidak padam. Kisah sejarah dunia pendidikan di Indonesia perlu tahu dan tetap pengenanng, pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa  atau Perguruan Taman Siswa, yang bertujuan “memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda”.

Perguruan Taman Siswa berkembang di seluruh Jawa sampai di Bali. Pendidikan awal kemerdekaan tidak pernah bisa membayangkan bisa tumbuh tanpa Taman Siswa.

Kesahajaan Ki Hajar Dewantara tercermin dalam kebijakan pendidikannya yang terbuka untuk rakyat jelatah atau semua orang. Pada titik ini kita penting belajar pada KHD, bahwa pendidikan untuk semua, dan pengetahuan untuk semua. [T]

  • Lampiran:

PIDATO PRESIDEN SOEKARNO DALAM PENGANUGRAHAN DOCTOR HONORIS CAUSA KI HAJAR DEWANTARA

— Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, 19 Desember 1956.

“Saudara-saudara sekalian, saja akan berbitjara singkat.

“Nama saja ditjantumkan dalam programa atjara resepsi ini, untuk ikut-ikut mengutjapkan kata sambutan, atas promosi Ki Hadjar Dewantara scbagai Doktor Honoris Causa.

“Saja akan bitjara singkat, oleh karena pada malam ini, Ki Hadjar Dewantara telah ditjondro oleh pelbagai pembitjara pembitjara, pembitjara-pembitjara itu tadi saudara-saudara menjondro Ki Hadjar Dewantara sebagai orang daripada keluarga Taman Siswa.

“Saudara Sarino bitjara sebagai orang Taman Siswa, saudara Ketua Panitia bitjara sebagai orang keluarga Taman Siswa, saudara Soendoro bitjara pandjang-lebar sebagai orang Taman Siswa djuga. Saja akan bitjara tidak sadja sebagai orang dari keluarga Taman Siswa, tetapi saja bitjara atas nama “SEGENAP RAKJAT INDONESIA JANG DELAPAN PULUH-DJUTA”. Saja bitjara atas nama “NEGARA REPUBLIK INDONESIA”

“Di dalam kwalitet itulah saja merasa berbahagia, dapat ikut mengagungkan asmanja Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara adalah putera Indonesia jang Besar. Bahkan bagi saja persoonlijk, saja selalu menganggap Ki Hadjar Dewantara sebagai saja punja saudara tua, sebagai saudara Kangmas, bahkan sebagai diutjapkan saudara Semaun, pula sebagai guru saja.

“Di dalam pemberian gelar Doktor Honoris Causa, sebenarnja Universitas Gadjah Mada kurang tepat dan kurang adil, djikalau Universitas itu mendahulukan saja daripada Ki Hadjar Dewantara.

“Ki Hadjar Dewantara sebagai tadi saja katakan, adalah seorang putera Indonesia jang besar tiap-tiap bangsa saudara-saudara, tiap-tiap bangsa jang besar, mempunjai putera-putera jang besar. Tiap-tiap bangsa jang besar mempunjai eksponen-eksponen jang besar kalibernja. Maka bangsa Indonesia bolehlah berbahagia, mempunjai seorang eksponen jang besar sebagai Ki Hadjar Dewantara.

“Saja persoonlijk, saudara-saudara, merasa berbahagia, pada waktu saja masih muda dapat “NGLESOT” pada kaki Ki Hadjar Dewantara. Saja termasuk pemuda-pemuda jang berbahagia, dapat maguru kepada orang-orang Indonesia jang besar. Maguru kepada almarhum Kjai Hadji Achmad Dahlan, maguru kepada Doktor E.F.E. Douwes Dekker jang kemudian bernama Setiabudi. Maguru kepada Dokter Tjipto Mangunkusumo, maguru kepada Raden Mas Suwardi Surjaningat jang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara maguru kepada Saudara Semaun, jang saja unduh dari Moskow, maguru pada eksponen eksponen lain. Oleh karena itulah saja dapat merasakan, saudara, bahwa bangsa Indoneaia Insja Allah Subchanahu watta ‘ala, dapat mendjadi suatu bangsa jang besar. Oleh karena sudah ternjata, bangsa Indonesia sudah dapat melahirkan putera puteranja jang besar.

“Bagi saja saudara-saudara, jang sekarang duduk dalam dunia alam politik, bagi saja terutama sekali saja melihat Ki Hadjar Dewantara bersama-sama Dr. E.F.E. Douwes Dekker Setiabudi, bersama dengan Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai bapaknja politilk Nasionalisme Indonesia. Alangkah baiknja, djikalau pemuda-pemuda djaman sekarang, jang diantara mereka itu ada jang mengedjek Ki Hadjar wantara, menginsjafi bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah salah seorang bapak politik nasionalisme Indonesia.

“Malahan saudara saudara, nama Ki Hadjar Dewantara di dalam waktu jang achir-achir ini, hidup berkobar-kobar lagi di dalam dada saja. Oleh karena saja di waktu jang achir-achir ini, sedang prihatin, merasakan perpetjahan-perpetjahan, pertikaian-pertikaian di kalangan bangsa Indonesia sendiri. Saja ingat, bahwa kira-kira 33 tahun jang lalu, Ki Hadjar Dewantara, Dr. E.F.E. Douwes Dekker  Douwes Dekker, Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai pemimpin pemimpin dari Indische Partj, telah memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, apa jang harus diperbuat oleh pemimpin-pemimpin partai politik djikalau ada kekatjauan di dalam kalangan bangsa.

“Pada waktu itu, Ki Hadjar Dewantara, Dokter Tijpto Mangunkusumo, Dr. E.F.E. Douwes Dekker dan beberapa nasionalis-nasionalis lain, jang mendjadi pemimpin dari Indische Partij, oleh karena dilihat bangsa Indonesia terlalu terpetjah – belah oleh partai-partai politik, maka atas inisiatip Dr. E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, dikuburkan Indische Partij, saudara-saudara.

“Untuk memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, bahwa persatuan bangsa adalah harus diutamakan di atas segala hal. Maka oleh karena itu saudara-saudara, saja minta kepada  segenap rakjat Indonesia, supaja merenungkan hal ini.

“Manakala kita semuanja beriang gembira, melihat bahwa Ki Hadjar Dewantara dimuliakan oleh Universitas Gadjah Mada, sebagai Doktor Honoris Causa dalam ilmu Kebudajaan.

“Manakala kita beriang gembira, bahwa salah seorang putera Indonesia jang besar, mendapat kehormatan besar di atas persadanja ilmu pengetahuan dan ilmu kebudajaan, marilah kita semuanja, memikirkan akan nasibnja bangsa Indonesia dikemudian hari, jang kemudian hari itu tergantung dari pada keadaan dihari sekarang. “Bersatulah rakjat Indonesia, sebagai jang selalu diandjurkan.

Tags: KI Hajar DewantaraPendidikansejarahSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Next Post

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

SGSL

SGSL

pengumpul

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co