26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 12, 2021
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

“Kija to, Dek?”  kata seorang ibu kepada anaknya. Artinya, “Mau ke mana, Dek?”

“Kal ke WC!” sahut si anak. Maksudnya, “Mau ke WC!”

Percakapan semacam ini menjadi hal yang lumrah ketika saya berada di kampung. Percakapan itu terjadi karena jarak kamar dan jarak WC memang berjauhan.

Sebuah rumah dengan desain arsitektur tradisional Bali yang sangat erat dengan asta kosala kosali, membuat bentuk rumah saya mempunyai banyak bale-bale. Ada bale daja, bale dangin, bale delod, paon, kamar mandi, dan sebuah bale untuk metanding. Bale-bale ini terpisah satu sama lain membentuk sebuah sirkulasi ruang yang sangat besar, yang menyebabkan banyak terdapat ruang terbuka.

Bale daja yang dimaksud bangunan di bagian utara, bale dangin adalah bangunan di timur, bale delod  adalag bangunan di seblah utara, dan paon adalah dapur.

Dengan terpisahnya bale satu dengan yang lain membuat penghuninya harus berjalan keluar kamar untuk sekedar buang air atau untuk makan. Banyak sekali alasan yang membuat seseorang untuk keluar dari kamarnya.

Saking banyaknya, maka pertanyaan seperti mau ke mana akan sangat sering kita dengar, misalnya pertanyaan dari kakek yang duduk di bale daja, atau dari nenek yang menghabiskan waktu di paon, atau pertanyaan dari ayah ibu yang sekadar lewat menyaksikan kita keluar masuk kamar atau keluar masuk di ruang lainnya.

Kondisi yang berbeda saya temukan ketika mengontrak rumah di Denpasar atau ketika bermain ke rumah teman yang kedua bangunannya memakai desain arsitektur minimalis. Hampir saya tidak pernah mendengar pertanyaan “Kal kija to?”

Saya mulai mempertanyakan, apa yang menyebabkan hal seperti itu tidak hadir ketika saya tinggal di Denpasar atau berada di rumah teman saya?

Melihat dari bentuk kontrakan rumah dan rumah teman saya, akan tampak perbedaannya dengan rumah di kampung halaman. Untuk rumah di kampung, seperti yang saya jelaskan, merupakan rumah dengan arsitektur tradisional Bali. Sedang pada rumah kontrakan dan rumah teman saya, merupakan rumah yang berdesain minimalis.

Pada rumah dengan arsitektur tradisional Bali, ruang kosong yang hadir akibat adanya bangunan yang terpisah satu sama lain menjadi sebuah area sirkulasi. Area sirkulasi ini akan menghubungkan satu ruang dengan ruang yang lain, bale satu dengan bale yang lain. Tak hanya menghubungkan ruang dan bale, sirkulasi ini pulalah yang menghubungkan penghuni satu dengan penghuni lainnya.

Pertemuan bisa terjadi ketika kita keluar dari kamar untuk sekedar makan di dapur atau untuk buang air atau untuk pergi keluar rumah. Pertemuan itu akan menyebabkan sapaan, percakapan kecil, sampai percakapan panjang antarsesama anggota penghuni rumah. Hal ini yang biasanya tidak hadir pada rumah berdesain minimalis kebanyakan.

Rumah minimalis biasanya hanya memiliki satu bangunan atau satu atap, dengan sebuah kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Secara tidak langsung membuat penghuninya tidap perlu keluar kamar untuk mandi atau melakukan aktivitas lainnya.

Anehnya lagi, setiap fungsi rumah dalam desain rumah minimalis tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ketika saya berkunjung ke rumah teman yang berada di kompleks perumahan berdesain minimalis misalnya, saya tidak diajak ke ruang tamu padahal teman saya memiliki ruang tersebut di rumahnya. Saya malah diajak ke kamarnya. Di sini sudah terjadi penambahan fungsi pada ruang kamar sebagai tempat penerimaan tamu.

Bertambahnya fungsi ini membuat semakin kompleks fungsi ruang kamar. Tidur dan kegiatan di dalam kamar adalah fungsi utamanya. Ditambah dengan kamar mandi yang ada di dalam kamar. Lalu bertambah lagi fungsi kamar menjadi ruang tamu. Fungsi yang beragam ini menjadikan kamar seakan-akan sebuah rumah di dalam rumah. Membuat penghuninya menjadi nyaman untuk berlama-lama diam di kamar. Karena banyaknya fungsi kamar, menyebabkan semakin sedikit pula alasan untuk keluar.

Hal ini berbanding terbalik dengan rumah arsitektur tradisional. Tamu-tamu yang berkunjung tidak diajak ke kamar. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi orang rumah ketika melihat kita masuk mengajak kawan ke kamar? Apalagi kawan cewek?

Tamu-tamu biasanya akan dipersilakan untuk duduk di bataran bale dangin, bale daja, atau bale dauh. Duduk di bataran atau disebut lesehan, di atas sebuah alas tikar atau karpet yang mengahadap ke natah (halaman).

Dengan keadaan demikian, pembicaraan menjadi sebuah hal yang bersifat publik. Dapat dilihat dan didengarkan oleh semua anggota keluarga. Keterbukaan pun terjadi dengan adanya hal tersebut. Setidaknya anggota keluarga lain dapat beramah tamah atau sekedar berkenalan dengan sang tamu.

Rumah dengan arsitektur tradisional Bali cenderung lebih terbuka pada bangunannya. Membuat banyak aktivitas harus dilakukan di luar kamar. Aktivitas di luar ruangan tersebutlah yang kemudian membentuk perjumpaan. Menghasilkan komunikasi antarsesama anggota keluarga. Membuat kedekatan hubungan diantara keluarga jadi erat.

Sementara ruang tertutup memiliki kecenderungan untuk membuat para penghuninya bersifat tertutup. Membuat penghuninya lebih senang berdiam diri di kamar. Kalaupun keluar kamar, alasan paling banyak pasti keluar rumah untuk pergi. Jadi jika ada pertanyaan “kal kija to?”, jawabannya sudah pasti “kel pesu”.

Membandingkan rumah dengan arsitektur tradisional Bali dengan arsitektur minimalis, membuat saya jadi bertanya lagi tentang jarak. Jarak yang berjauhan tak selamanya membuat orang jadi jauh. Demikian pula dengan jarak yang dekat, tak selamanya bisa mendekatkan orang. Dalam arsitektur tradisional Bali, antarbangunan sengaja diberi jarak untuk menciptakan sirkulasi ruang. Sirkulasi yang menghubungkan bangunan, penghuni dan pertemuan. Sementara pada arsitektur minimalis, hanya punya satu bangunan. Hampir-hampir tak ada jarak antarruangan.

Ketiadaan jarak ini, bukannya membuat penghuni makin dekat, tapi justru membuat penghuninya berjarak satu sama lain. Tak banyak bahan yang bisa dimunculkan. Tak ada alasan untuk bercakap. Syukur-syukur jika para penghuninya cuma jarang bercakap. Tapi jika jarang juga memikirkan keadaan anggota keluarga mereka satu sama lain? Wah… kalau begini sih sebuah rumah bukan lagi rumah namanya… Tapi perumahan! Perumahan di dalam rumah! [T]

Badung, 2021

Tags: arsitekturbaliRumahRumah Tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi: Waktu Menata Tubuh dan Bunga-Bunga

Next Post

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co