17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 12, 2021
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

“Kija to, Dek?”  kata seorang ibu kepada anaknya. Artinya, “Mau ke mana, Dek?”

“Kal ke WC!” sahut si anak. Maksudnya, “Mau ke WC!”

Percakapan semacam ini menjadi hal yang lumrah ketika saya berada di kampung. Percakapan itu terjadi karena jarak kamar dan jarak WC memang berjauhan.

Sebuah rumah dengan desain arsitektur tradisional Bali yang sangat erat dengan asta kosala kosali, membuat bentuk rumah saya mempunyai banyak bale-bale. Ada bale daja, bale dangin, bale delod, paon, kamar mandi, dan sebuah bale untuk metanding. Bale-bale ini terpisah satu sama lain membentuk sebuah sirkulasi ruang yang sangat besar, yang menyebabkan banyak terdapat ruang terbuka.

Bale daja yang dimaksud bangunan di bagian utara, bale dangin adalah bangunan di timur, bale delod  adalag bangunan di seblah utara, dan paon adalah dapur.

Dengan terpisahnya bale satu dengan yang lain membuat penghuninya harus berjalan keluar kamar untuk sekedar buang air atau untuk makan. Banyak sekali alasan yang membuat seseorang untuk keluar dari kamarnya.

Saking banyaknya, maka pertanyaan seperti mau ke mana akan sangat sering kita dengar, misalnya pertanyaan dari kakek yang duduk di bale daja, atau dari nenek yang menghabiskan waktu di paon, atau pertanyaan dari ayah ibu yang sekadar lewat menyaksikan kita keluar masuk kamar atau keluar masuk di ruang lainnya.

Kondisi yang berbeda saya temukan ketika mengontrak rumah di Denpasar atau ketika bermain ke rumah teman yang kedua bangunannya memakai desain arsitektur minimalis. Hampir saya tidak pernah mendengar pertanyaan “Kal kija to?”

Saya mulai mempertanyakan, apa yang menyebabkan hal seperti itu tidak hadir ketika saya tinggal di Denpasar atau berada di rumah teman saya?

Melihat dari bentuk kontrakan rumah dan rumah teman saya, akan tampak perbedaannya dengan rumah di kampung halaman. Untuk rumah di kampung, seperti yang saya jelaskan, merupakan rumah dengan arsitektur tradisional Bali. Sedang pada rumah kontrakan dan rumah teman saya, merupakan rumah yang berdesain minimalis.

Pada rumah dengan arsitektur tradisional Bali, ruang kosong yang hadir akibat adanya bangunan yang terpisah satu sama lain menjadi sebuah area sirkulasi. Area sirkulasi ini akan menghubungkan satu ruang dengan ruang yang lain, bale satu dengan bale yang lain. Tak hanya menghubungkan ruang dan bale, sirkulasi ini pulalah yang menghubungkan penghuni satu dengan penghuni lainnya.

Pertemuan bisa terjadi ketika kita keluar dari kamar untuk sekedar makan di dapur atau untuk buang air atau untuk pergi keluar rumah. Pertemuan itu akan menyebabkan sapaan, percakapan kecil, sampai percakapan panjang antarsesama anggota penghuni rumah. Hal ini yang biasanya tidak hadir pada rumah berdesain minimalis kebanyakan.

Rumah minimalis biasanya hanya memiliki satu bangunan atau satu atap, dengan sebuah kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Secara tidak langsung membuat penghuninya tidap perlu keluar kamar untuk mandi atau melakukan aktivitas lainnya.

Anehnya lagi, setiap fungsi rumah dalam desain rumah minimalis tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ketika saya berkunjung ke rumah teman yang berada di kompleks perumahan berdesain minimalis misalnya, saya tidak diajak ke ruang tamu padahal teman saya memiliki ruang tersebut di rumahnya. Saya malah diajak ke kamarnya. Di sini sudah terjadi penambahan fungsi pada ruang kamar sebagai tempat penerimaan tamu.

Bertambahnya fungsi ini membuat semakin kompleks fungsi ruang kamar. Tidur dan kegiatan di dalam kamar adalah fungsi utamanya. Ditambah dengan kamar mandi yang ada di dalam kamar. Lalu bertambah lagi fungsi kamar menjadi ruang tamu. Fungsi yang beragam ini menjadikan kamar seakan-akan sebuah rumah di dalam rumah. Membuat penghuninya menjadi nyaman untuk berlama-lama diam di kamar. Karena banyaknya fungsi kamar, menyebabkan semakin sedikit pula alasan untuk keluar.

Hal ini berbanding terbalik dengan rumah arsitektur tradisional. Tamu-tamu yang berkunjung tidak diajak ke kamar. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi orang rumah ketika melihat kita masuk mengajak kawan ke kamar? Apalagi kawan cewek?

Tamu-tamu biasanya akan dipersilakan untuk duduk di bataran bale dangin, bale daja, atau bale dauh. Duduk di bataran atau disebut lesehan, di atas sebuah alas tikar atau karpet yang mengahadap ke natah (halaman).

Dengan keadaan demikian, pembicaraan menjadi sebuah hal yang bersifat publik. Dapat dilihat dan didengarkan oleh semua anggota keluarga. Keterbukaan pun terjadi dengan adanya hal tersebut. Setidaknya anggota keluarga lain dapat beramah tamah atau sekedar berkenalan dengan sang tamu.

Rumah dengan arsitektur tradisional Bali cenderung lebih terbuka pada bangunannya. Membuat banyak aktivitas harus dilakukan di luar kamar. Aktivitas di luar ruangan tersebutlah yang kemudian membentuk perjumpaan. Menghasilkan komunikasi antarsesama anggota keluarga. Membuat kedekatan hubungan diantara keluarga jadi erat.

Sementara ruang tertutup memiliki kecenderungan untuk membuat para penghuninya bersifat tertutup. Membuat penghuninya lebih senang berdiam diri di kamar. Kalaupun keluar kamar, alasan paling banyak pasti keluar rumah untuk pergi. Jadi jika ada pertanyaan “kal kija to?”, jawabannya sudah pasti “kel pesu”.

Membandingkan rumah dengan arsitektur tradisional Bali dengan arsitektur minimalis, membuat saya jadi bertanya lagi tentang jarak. Jarak yang berjauhan tak selamanya membuat orang jadi jauh. Demikian pula dengan jarak yang dekat, tak selamanya bisa mendekatkan orang. Dalam arsitektur tradisional Bali, antarbangunan sengaja diberi jarak untuk menciptakan sirkulasi ruang. Sirkulasi yang menghubungkan bangunan, penghuni dan pertemuan. Sementara pada arsitektur minimalis, hanya punya satu bangunan. Hampir-hampir tak ada jarak antarruangan.

Ketiadaan jarak ini, bukannya membuat penghuni makin dekat, tapi justru membuat penghuninya berjarak satu sama lain. Tak banyak bahan yang bisa dimunculkan. Tak ada alasan untuk bercakap. Syukur-syukur jika para penghuninya cuma jarang bercakap. Tapi jika jarang juga memikirkan keadaan anggota keluarga mereka satu sama lain? Wah… kalau begini sih sebuah rumah bukan lagi rumah namanya… Tapi perumahan! Perumahan di dalam rumah! [T]

Badung, 2021

Tags: arsitekturbaliRumahRumah Tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi: Waktu Menata Tubuh dan Bunga-Bunga

Next Post

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010
Gaya

Spesifikasi dan Kelebihan Canon Pixma G1010

PADA 30 Januari 2018, Canon Indonesia merilis printer terbaru yakni Printer PIXMA Ink Efficient G series.  Ada lima tipe printer...

by tatkala
July 16, 2026
Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa
Panggung

Musikalisasi Puisi Festival Seni Bali Jani 2026, Menyelaraskan Kata, Nada, dan Jiwa

MENYAKSIKAN Lomba Musikalisasi Puisi dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 bukan sekadar menikmati pertunjukan musik. Di atas...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik
Panggung

Ketika Lagu Menjadi Cerita, “Sang Surya Sampun Metangi” Membawa Pesan Bali dalam Harmoni Musik

INI bukan sekadar konser musik. "Sang Surya Sampun Metangi" hadir layaknya sebuah perjalanan yang dituturkan melalui lagu. Setiap tembang mengalir...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co