6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 12, 2021
in Esai
Rumah di Kampung dan Rumah di Kota | Beda Jiwa Beda Rasa

“Kija to, Dek?”  kata seorang ibu kepada anaknya. Artinya, “Mau ke mana, Dek?”

“Kal ke WC!” sahut si anak. Maksudnya, “Mau ke WC!”

Percakapan semacam ini menjadi hal yang lumrah ketika saya berada di kampung. Percakapan itu terjadi karena jarak kamar dan jarak WC memang berjauhan.

Sebuah rumah dengan desain arsitektur tradisional Bali yang sangat erat dengan asta kosala kosali, membuat bentuk rumah saya mempunyai banyak bale-bale. Ada bale daja, bale dangin, bale delod, paon, kamar mandi, dan sebuah bale untuk metanding. Bale-bale ini terpisah satu sama lain membentuk sebuah sirkulasi ruang yang sangat besar, yang menyebabkan banyak terdapat ruang terbuka.

Bale daja yang dimaksud bangunan di bagian utara, bale dangin adalah bangunan di timur, bale delod  adalag bangunan di seblah utara, dan paon adalah dapur.

Dengan terpisahnya bale satu dengan yang lain membuat penghuninya harus berjalan keluar kamar untuk sekedar buang air atau untuk makan. Banyak sekali alasan yang membuat seseorang untuk keluar dari kamarnya.

Saking banyaknya, maka pertanyaan seperti mau ke mana akan sangat sering kita dengar, misalnya pertanyaan dari kakek yang duduk di bale daja, atau dari nenek yang menghabiskan waktu di paon, atau pertanyaan dari ayah ibu yang sekadar lewat menyaksikan kita keluar masuk kamar atau keluar masuk di ruang lainnya.

Kondisi yang berbeda saya temukan ketika mengontrak rumah di Denpasar atau ketika bermain ke rumah teman yang kedua bangunannya memakai desain arsitektur minimalis. Hampir saya tidak pernah mendengar pertanyaan “Kal kija to?”

Saya mulai mempertanyakan, apa yang menyebabkan hal seperti itu tidak hadir ketika saya tinggal di Denpasar atau berada di rumah teman saya?

Melihat dari bentuk kontrakan rumah dan rumah teman saya, akan tampak perbedaannya dengan rumah di kampung halaman. Untuk rumah di kampung, seperti yang saya jelaskan, merupakan rumah dengan arsitektur tradisional Bali. Sedang pada rumah kontrakan dan rumah teman saya, merupakan rumah yang berdesain minimalis.

Pada rumah dengan arsitektur tradisional Bali, ruang kosong yang hadir akibat adanya bangunan yang terpisah satu sama lain menjadi sebuah area sirkulasi. Area sirkulasi ini akan menghubungkan satu ruang dengan ruang yang lain, bale satu dengan bale yang lain. Tak hanya menghubungkan ruang dan bale, sirkulasi ini pulalah yang menghubungkan penghuni satu dengan penghuni lainnya.

Pertemuan bisa terjadi ketika kita keluar dari kamar untuk sekedar makan di dapur atau untuk buang air atau untuk pergi keluar rumah. Pertemuan itu akan menyebabkan sapaan, percakapan kecil, sampai percakapan panjang antarsesama anggota penghuni rumah. Hal ini yang biasanya tidak hadir pada rumah berdesain minimalis kebanyakan.

Rumah minimalis biasanya hanya memiliki satu bangunan atau satu atap, dengan sebuah kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Secara tidak langsung membuat penghuninya tidap perlu keluar kamar untuk mandi atau melakukan aktivitas lainnya.

Anehnya lagi, setiap fungsi rumah dalam desain rumah minimalis tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ketika saya berkunjung ke rumah teman yang berada di kompleks perumahan berdesain minimalis misalnya, saya tidak diajak ke ruang tamu padahal teman saya memiliki ruang tersebut di rumahnya. Saya malah diajak ke kamarnya. Di sini sudah terjadi penambahan fungsi pada ruang kamar sebagai tempat penerimaan tamu.

Bertambahnya fungsi ini membuat semakin kompleks fungsi ruang kamar. Tidur dan kegiatan di dalam kamar adalah fungsi utamanya. Ditambah dengan kamar mandi yang ada di dalam kamar. Lalu bertambah lagi fungsi kamar menjadi ruang tamu. Fungsi yang beragam ini menjadikan kamar seakan-akan sebuah rumah di dalam rumah. Membuat penghuninya menjadi nyaman untuk berlama-lama diam di kamar. Karena banyaknya fungsi kamar, menyebabkan semakin sedikit pula alasan untuk keluar.

Hal ini berbanding terbalik dengan rumah arsitektur tradisional. Tamu-tamu yang berkunjung tidak diajak ke kamar. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi orang rumah ketika melihat kita masuk mengajak kawan ke kamar? Apalagi kawan cewek?

Tamu-tamu biasanya akan dipersilakan untuk duduk di bataran bale dangin, bale daja, atau bale dauh. Duduk di bataran atau disebut lesehan, di atas sebuah alas tikar atau karpet yang mengahadap ke natah (halaman).

Dengan keadaan demikian, pembicaraan menjadi sebuah hal yang bersifat publik. Dapat dilihat dan didengarkan oleh semua anggota keluarga. Keterbukaan pun terjadi dengan adanya hal tersebut. Setidaknya anggota keluarga lain dapat beramah tamah atau sekedar berkenalan dengan sang tamu.

Rumah dengan arsitektur tradisional Bali cenderung lebih terbuka pada bangunannya. Membuat banyak aktivitas harus dilakukan di luar kamar. Aktivitas di luar ruangan tersebutlah yang kemudian membentuk perjumpaan. Menghasilkan komunikasi antarsesama anggota keluarga. Membuat kedekatan hubungan diantara keluarga jadi erat.

Sementara ruang tertutup memiliki kecenderungan untuk membuat para penghuninya bersifat tertutup. Membuat penghuninya lebih senang berdiam diri di kamar. Kalaupun keluar kamar, alasan paling banyak pasti keluar rumah untuk pergi. Jadi jika ada pertanyaan “kal kija to?”, jawabannya sudah pasti “kel pesu”.

Membandingkan rumah dengan arsitektur tradisional Bali dengan arsitektur minimalis, membuat saya jadi bertanya lagi tentang jarak. Jarak yang berjauhan tak selamanya membuat orang jadi jauh. Demikian pula dengan jarak yang dekat, tak selamanya bisa mendekatkan orang. Dalam arsitektur tradisional Bali, antarbangunan sengaja diberi jarak untuk menciptakan sirkulasi ruang. Sirkulasi yang menghubungkan bangunan, penghuni dan pertemuan. Sementara pada arsitektur minimalis, hanya punya satu bangunan. Hampir-hampir tak ada jarak antarruangan.

Ketiadaan jarak ini, bukannya membuat penghuni makin dekat, tapi justru membuat penghuninya berjarak satu sama lain. Tak banyak bahan yang bisa dimunculkan. Tak ada alasan untuk bercakap. Syukur-syukur jika para penghuninya cuma jarang bercakap. Tapi jika jarang juga memikirkan keadaan anggota keluarga mereka satu sama lain? Wah… kalau begini sih sebuah rumah bukan lagi rumah namanya… Tapi perumahan! Perumahan di dalam rumah! [T]

Badung, 2021

Tags: arsitekturbaliRumahRumah Tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pandemi: Waktu Menata Tubuh dan Bunga-Bunga

Next Post

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co