4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 12, 2021
in Khas
250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek

Keyakinan dan kepercayaan terhadap sebuah tradisi, bukan melulu soal agama, ras atau negara. Di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, terdapat sekitar 250 KK punya tradisi merayakan Imlek setiap tahunnya.

Mereka adalah umat Hindu asli warga Bali. Artinya mereka bukan warga keturunan, dan sama sekali tak punya kaitan dan hubungan dengan Cina atau Tionghoa.

Yang unik, mereka tidak merayakan Imlek di klenteng atau di tempat peribatan warga keturunan seperti di klenteng Ling Gwang Kiong di area Pelabuhan Buleleng atau klenteng Seng Hong Bio di Kampung Baru, Singaraja. 

Mereka punya bangunan kongco dengan desain dan gaya bangunan tradisional Bali. Pada dinding bangunan bagian dalam tertempel lukisan-lukisan China, juga beberapa patung dan lilin berukuran besar.

Tata cara ibadah pada setiap Imlek dikolaborasikan dengan persembahyangan cara Tionghoa dan Hindu.  Antara lain diisi lantunan tri sandya.  Pemujaan khusus menggunakan sarana utama berupa dupa. Tata cara pegang dupa persis seperti warga keturunan Cina beribadah. Dewa apa yang mereka puja atau sungsung? Mereka menyebut, Dewa Hyang Kongco.

Persembahyangan di bangunan kongco milik warga Hindu itu bukan hanya dilaksanakan pada saat Imlek, melainkan juga pada setiap bulan purnama dan tilem. Namun persembahyangan saat purnama dan tilem, biasanya tak seramai persembahyangan saat Imlek.

Persembahyangan Imlek warga Hindu di Kayuputih, Buleleng

Mirip Dongeng

Ketut Langgeng, salah seorang tetua dadia di Kayuputih, mengatakan warga sebanyak sekitar 250 KK yang punya tradisi melakukan persembahyangan Imlek itu terdiri dari tiga dadia.  “Mereka dengan taat melakukan persembahyangan setiap Imlek,” katanya.

Dadia adalah kelompok keluarga besar berdasarkan garis keturunan, atau semacam klan atau marga dalam sistem kekerabatan di Bali. Berdasar garis keturunan, mereka berasal dari keturunan Bali atau Jawa, dan tak punya garis keturunan dari Cina. Bentuk fisik mereka juga tak seperti warga keturunan Cina umumnya, berkulit putih dan bermata sipit. Mereka orang Bali beragam Hindu, tapi punya keyakinan bahwa tradisi ala Cina yang mereka lakukan sudah sesuai dengan keyakinan leluhur mereka yang diturunkan terus-menerus kepada anak-cucu.

Yang unik juga mengherankan, hingga kini tidak ditemukan data-data, atau prasasti, yang bisa dijadikan bukti dan dasar kuat untuk mendukung keyakinan mereka. Mereka hanya punya cerita dari para tetua mereka –- cerita yang mirip-mirip dongeng atau cerita film.

“Kami hanya tahu dari penuturan para tetua keluarga, tanpa ada data yang jelas, kenapa ada kelompok masyarakat Hindu, termasuk saya, sampai memiliki konco dan nyungsung Hyang Dewa Kongco,” kata Ketut Langgeng.

Langgeng bercerita, konon, dahulu kala, ada saudagar Cina berjualan keliling dari desa satu ke desa lain, termasuk ke  Desa Kayuputih. Dalam perjalanan melewati Desa Kayuputih, saudagar itu dirampok dan dibunuh. Sesuai cerita, yang terlibat dalam proses perampokan itu sejumlah orang dari tiga klan keluarga yang berbeda, yakni dari klan Pasek, Pande dan Arya.

Cerita itu tentu saja tak begitu penting, dan mungkin hanya menjadi cerita seram menjelang tidur, sehingga gampang dilupakan. Apalagi tidak ada bukti-bukti fisik, atau dokumen, atau hal sejenis yang bisa jadi bukti bahwa cerita itu benar adanya.

Syahdan, suatu hari, terdapat warga dari keluarga besar itu sakit yang tak kunjung sembuh. Selain itu, keluarga itu mengalamai beberapa peristiwa yang tidak masuk akal. Mereka pun bertanya kepada “orang pintar”, istilahnya nunas baos.

Dari hasil nunas baos itulah cerita tentang perampokan saudagar Cina yang konon dilakukan oleh leluhur mereka itu muncul. Keluarga itu dianggap mendapatkan karma dari perbuatan orang tua mereka di masa lalu.

“Sehingga keluarga dari tiga dadia itu disarankan membuat tempat pemujaan kongco. Setelah mengikuti saran orang pintar itu, warga yang sakit pun sembuh, dan peristiwa-peristiwa yang sifatnya irasional berangsur-angsur membaik,” kata Langgeng.

Hingga kini, keluarga besar itu tetap secara rutin melakuka persembahyangan saat Imlek. “Untuk tahun 2021 di masa pandemi ini, kami melakukan persembahyangan secara bergiliran sesuai protocol kesehatan,” kata Langgeng.

Sarana persembahyangan Imlek di Kongco di Desa Kayuputih, Buleleng

Persembahyangan dan Masakan Cina

Dokter Putu Arya Nugraha, penulis buku Filosofi Sehat, yang kini menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng adalah salah satu dari keluarga besar yang punya tradisi Imlek itu.

Bagi Dokter Arya, tradisi merayakan Imlek yang dilakoni keluarga besarnya, sungguh menarik, penuh makna, dan yang jelas sangat menyenangkan.  

Dokter Arya bercerita, perayaan Imlek keluarganya itu dilakukan sehari mendahului perayaan Imlek nasional, biasanya sehari sebelum penanggalan Bali  tilem kepitu (purwani). Bukan hanya persembahyangannya yang menarik dan menyenangkan, melainkan juga tradisi masakannya. “Kami juga membuat masakan khas Cina,” kata Dokter Arya.

Pagi harinya, salah satu anggota keluarganya pergi ke kota Singaraja membeli bahan masakan khas Tionghoa. Kokinya adalah salah satu anggota keluarga yang punya kebisaan turun temurun  memasak hidangan Cina yang kemudian akan dibagi-bagikan untuk semua, bahkan ada yang dibungkus dibawa pulang. “Rasanya lumayan juga, khas chinese food, bahkan aromanya pun sudah tercium dari jauh,” katanya.

Yang menyenangkan, di halaman kongco biasanya ramai pedagang camilan. Sehingga kemeriahaan Imlek di areal kongco itu jadi meriah. Usai ibadah, biasanya pada tengah malam, keluarga bubar dan beberapa orang tinggal untuk mekemit atau bermalam di kongco yang dibangun di atas dataran tinggi itu.

Seluruh rangkaian persembahyangan dilakukan oleh keluarga besar dari tiga dadia itu. Tak ada warga keturunan Cina. Dulu, di tahun delapanpuluhan, memang kongco itu selalu dikunjungi warga keturunan Cina dari Singaraja saat Imlek. “Namun belakangan ini sudah tak pernah lagi,” kata Dokter Arya. [T]

Tags: bulelengCinahinduImlekTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ada Soekarno di Balik Doctor Honoris Causa Ki Hajar Dewantara

Next Post

Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co