23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 13, 2021
in Cerpen
Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Hampir pukul empat dini hari, Putu belum bisa pulas. Jikalau matanya terpejam, rasa geli menyengat di beberapa bagian kulit kepala. Jemarinya terbiasa mengendalikan perasaan dan mencari-cari penyebab kegelisahan itu. Beberapa kali digaruk persis di bagian belakang telinga kanannya, bergesar ke bagian atas, kemudian menuju pusar rambut. Setelahnya, ibu jari dan telunjuk bekerjasama menarik helai rambut dari pangkal hingga ujung. Alhasil di telunjuknya terdampar telur kutu yang siap dipencet.

Muncul suara ‘kliiik’ tanda telur mengandung calon pengisap darah kulit kepala.

Bagi Putu menemukan telur kutu di setiap helai rambutnya adalah suatu prestasi. Bagaimana tidak? Ia merasa menjadi orang paling bersih, dan paling intuitif karena mengetahui letak persis telur kutu itu berada. Kadang jika tak tahan, sisir serit diambil untuk merontokkan kutu-kutu atau bakal kutu. Usai ritual itu, Putu merasa ringan bagai meluruhkan segala kecemasan. Kutu-kutu itu berjalan di helai rambutnya seperti persimpangan atau jalan tol. Mereka hilir mudik, pulang pergi dari kutub kepala utara hingga kutub pangkal. Mereka seperti sibuk menggiring Putu merasakan kecemasan.

Saat kutu-kutu bergerak dari sudut kulit kepala yang kanan ke rumpun rambut yang lebih gelap, mereka menyedot darah Putu. Sebelum tiga jemari mendarat di kulit kepalanya, Putu merasa geli menyengat. Rasa ini persis saat Ia bingung dan bimbang menanti kabar ayahnya yang merantau ke bukit timur menggali pasir. Saat itu Gunung Agung tengah erupsi. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di kaki gunung harus mengungsi.  Ayah Putu tentu sempat mengungsi, namun tidak lama. Seminggu kemudian, ayahnya meninggal gagal jantung akibat syok. Pendapatan keluarga merosot sebab tak diperbolehkan bekerja di galian sampai erupsi mereda.

Selintas kenangan itu diingatnya kembali usai memencet telur kutu ‘kliiik’.

Sudah lewat dini hari, Putu masih menggaruk kulit pelipis dengan kukunya. Ia merasa ada beberapa kutu kecil sedang mengenal belantara kepala. Setiap perpindahan muncul rasa ngilu dan gatal berlebihan. Rasa ini mirip ketika dia gelisah dan merasa seluruh tubuhnya kaku ingin memberontak. Saat ibunya harus bersedia pensiun dini dengan kehendak sendiri. Pensiun dini di umur 50 adalah hal tanggung. Perusahaan tidak ingin memecatnya. Tidak ingin ada pesangon yang diturunkan. Perusahaan yang akan bangkrut itu, menjatuhkan harga diri karyawan di depan umum. Contoh, memasang berbagai peraturan yang tidak manusiawi, dan memaksa karyawan pensiun dini. Hal inilah yang membuat Putu merasa keadilan memang tidak tercipta untuk para buruh.

‘Kliik’ suara pencetan kesekian.

Keramaian-keramaian dan bising terdengar lalu-lalang. Putu berpikir, dirinya sudah tidak bisa lagi tidur nyenyak. Kutu-kutu di kepalanya sudah menyita waktu tidurnya. Beberapa kali Putu coba menjemur kasur, bantal, dan membersihkan ruang tidurnya. Tidak hanya itu, helm juga selalu dibersihkannya, namun tak membaik. Putu berpikir bahwa hal ini karena metode perawatan rambutnya. Pernah Putu mencoba berbagai obat rambut, hingga keramas biji cabai. Tetap tak membawa hasil. Putu pun pernah memangkas rambutnya, tak ada perubahan apa pun setelah tiga bulan memanjang.

Putu masih terbayang-bayang saat di bangku sekolah dasar. Teman-temannya tak ingin di dekatnya karena selalu melihat kutu-kutu yang berseliweran. Terlebih telur kutu yang ranum bagai bulir emas, siap menetas. Rasa dicemooh dan diasingkan itu terasa hingga kini. Ia berkesimpulan bahwa tidak ada yang mencintainya dan menerima keadaannya. Putu telah mengakali dengan banyak cara. Meski pernah mereda, kutu-kutu itu masih saja kembali. Sepertinya rambut Putu adalah magnet bagi para kutu.

‘Kliiik..kliik’ telur kembar dipencet lagi.

Rasa ketidakpercayaan ini dipendam dan diperam hingga berujung dentuman di dada. Gejolak-gejolak itu tidak bisa dibendung. Ia hanya melatih mulutnya agar tidak mengatakan atau memaki orang yang menjelekkannya. Namun di beberapa hal, Putu perlu bersuara. Saat itu, sekelompok pengurus desa mencari-cari kesalahan pada bangunan rumahnya. Putu dan ibunya disidang di hadapan bapak-bapak pengurus desa dan dipaksa membayar sejumlah denda.

Sebuah hal yang merendahkan juga memojokkan. Hanya karena membangun saluran air yang katanya tidak sesuai ketentuan lingkungan. Oh, tidak! Putu memutuskan untuk mengambil kelewang, arit, dan senapan. Ia kehilangan sikap melihat ketidakadilan yang berulang-ulang hadir.

Satu per satu didatangi, satu per satu Putu menjambak rambut dan memotong kepala mereka dengan senapan dan arit. Kumis, jenggot, dan jamban mereka pun terpotong.

Putu mendelik! Alisnya terangkat, bola matanya membelalak. Putu bangkit lekas.  Dengan terengah-engah di tempat tidurnya, “Ah, hanya mimpi!” gerutunya sambil menggaruk kepala dan muncul suara ‘kliiik’ memecah keheningan.

Tak sekadar bunga tidur rupanya. Esok hari, berita tersebar bahwa bapak-bapak pengemis pajak desa itu tidak memiliki rambut. Mereka kehilangan kumis, jengot, dan jamban. Hanya sinar lapang di kepala tanpa helai rambut yang tak mampu tumbuh di kemaluan sekalipun. Kini, tak ada lagi kewibawaan yang disombongkan. Pembalasan dendam yang sunyata. Dalam tidurnya, kutu-kutu di kepala Putu ternyata telah melancarkan pembalasan paling menggelikan.

Suatu ketika Putu mengeringkan rambutnya. Ia melihat kutu tersangkut di handuk. Kutu itu seperti ingin berkata bahwa Ia akan melindungi Putu. Namun Putu masih bingung pasca kejadian aneh di mimpinya. Setiap dalam mimpi, Ia bertarung, membunuh, atau dikejar pembenci. Kutu-kutu itu membentuk suatu barisan di sela-sela benang handuk. Barisan itu membentuk suatu aksara bali A yang berarti arah utara. “Apa yang perlu aku lakukan di utara?” gumamnya.

Tepat malam purnama, Putu memutuskan untuk melakukan pembersihan di pantai paling utara. Kelapa hijau dan bunga wangi dibawanya. “Akan aku lebur segala kegatalan kepala. Aku tanggalkan kekutu ini agar lepaslah kenangan yang cemas. Mohon, tunjukkan berkatmu, Hyang Baruna,” katanya sembari menenggelamkan diri di tengah pantai. Putu timbul-tenggelam di antara lekukan ombak. Di bawah bayang purnama, kutu-kutunya luruh bersama memori dendam, pedih, kecewa, dan trauma.

Usai putaran ketiga, Putu menepi ke bibir pantai mengeringkan badan dan meniriskan rambutnya. Ia tersenyum. Kepalanya sudah sepi dari kekutu. Tak berselang lama, seketika Putu membelalak. Rambutnya tak bisa disibak-sibak. Rambut Putu melengket. Dengan sekuat tenaga, Ia mencoba membuka ruas-ruas rambutnya. Nihil. Pisau dan benda tajam lain diambilnya segera. Namun, tak lantas mengurai rambut-rambut yang terlanjut mengusut dan saling menempel.

Putu melemas, tertunduk, bersimpuh “Hyang Baruna, inikah jawaban?” [T]

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

Next Post

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co