14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 13, 2021
in Cerpen
Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Hampir pukul empat dini hari, Putu belum bisa pulas. Jikalau matanya terpejam, rasa geli menyengat di beberapa bagian kulit kepala. Jemarinya terbiasa mengendalikan perasaan dan mencari-cari penyebab kegelisahan itu. Beberapa kali digaruk persis di bagian belakang telinga kanannya, bergesar ke bagian atas, kemudian menuju pusar rambut. Setelahnya, ibu jari dan telunjuk bekerjasama menarik helai rambut dari pangkal hingga ujung. Alhasil di telunjuknya terdampar telur kutu yang siap dipencet.

Muncul suara ‘kliiik’ tanda telur mengandung calon pengisap darah kulit kepala.

Bagi Putu menemukan telur kutu di setiap helai rambutnya adalah suatu prestasi. Bagaimana tidak? Ia merasa menjadi orang paling bersih, dan paling intuitif karena mengetahui letak persis telur kutu itu berada. Kadang jika tak tahan, sisir serit diambil untuk merontokkan kutu-kutu atau bakal kutu. Usai ritual itu, Putu merasa ringan bagai meluruhkan segala kecemasan. Kutu-kutu itu berjalan di helai rambutnya seperti persimpangan atau jalan tol. Mereka hilir mudik, pulang pergi dari kutub kepala utara hingga kutub pangkal. Mereka seperti sibuk menggiring Putu merasakan kecemasan.

Saat kutu-kutu bergerak dari sudut kulit kepala yang kanan ke rumpun rambut yang lebih gelap, mereka menyedot darah Putu. Sebelum tiga jemari mendarat di kulit kepalanya, Putu merasa geli menyengat. Rasa ini persis saat Ia bingung dan bimbang menanti kabar ayahnya yang merantau ke bukit timur menggali pasir. Saat itu Gunung Agung tengah erupsi. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di kaki gunung harus mengungsi.  Ayah Putu tentu sempat mengungsi, namun tidak lama. Seminggu kemudian, ayahnya meninggal gagal jantung akibat syok. Pendapatan keluarga merosot sebab tak diperbolehkan bekerja di galian sampai erupsi mereda.

Selintas kenangan itu diingatnya kembali usai memencet telur kutu ‘kliiik’.

Sudah lewat dini hari, Putu masih menggaruk kulit pelipis dengan kukunya. Ia merasa ada beberapa kutu kecil sedang mengenal belantara kepala. Setiap perpindahan muncul rasa ngilu dan gatal berlebihan. Rasa ini mirip ketika dia gelisah dan merasa seluruh tubuhnya kaku ingin memberontak. Saat ibunya harus bersedia pensiun dini dengan kehendak sendiri. Pensiun dini di umur 50 adalah hal tanggung. Perusahaan tidak ingin memecatnya. Tidak ingin ada pesangon yang diturunkan. Perusahaan yang akan bangkrut itu, menjatuhkan harga diri karyawan di depan umum. Contoh, memasang berbagai peraturan yang tidak manusiawi, dan memaksa karyawan pensiun dini. Hal inilah yang membuat Putu merasa keadilan memang tidak tercipta untuk para buruh.

‘Kliik’ suara pencetan kesekian.

Keramaian-keramaian dan bising terdengar lalu-lalang. Putu berpikir, dirinya sudah tidak bisa lagi tidur nyenyak. Kutu-kutu di kepalanya sudah menyita waktu tidurnya. Beberapa kali Putu coba menjemur kasur, bantal, dan membersihkan ruang tidurnya. Tidak hanya itu, helm juga selalu dibersihkannya, namun tak membaik. Putu berpikir bahwa hal ini karena metode perawatan rambutnya. Pernah Putu mencoba berbagai obat rambut, hingga keramas biji cabai. Tetap tak membawa hasil. Putu pun pernah memangkas rambutnya, tak ada perubahan apa pun setelah tiga bulan memanjang.

Putu masih terbayang-bayang saat di bangku sekolah dasar. Teman-temannya tak ingin di dekatnya karena selalu melihat kutu-kutu yang berseliweran. Terlebih telur kutu yang ranum bagai bulir emas, siap menetas. Rasa dicemooh dan diasingkan itu terasa hingga kini. Ia berkesimpulan bahwa tidak ada yang mencintainya dan menerima keadaannya. Putu telah mengakali dengan banyak cara. Meski pernah mereda, kutu-kutu itu masih saja kembali. Sepertinya rambut Putu adalah magnet bagi para kutu.

‘Kliiik..kliik’ telur kembar dipencet lagi.

Rasa ketidakpercayaan ini dipendam dan diperam hingga berujung dentuman di dada. Gejolak-gejolak itu tidak bisa dibendung. Ia hanya melatih mulutnya agar tidak mengatakan atau memaki orang yang menjelekkannya. Namun di beberapa hal, Putu perlu bersuara. Saat itu, sekelompok pengurus desa mencari-cari kesalahan pada bangunan rumahnya. Putu dan ibunya disidang di hadapan bapak-bapak pengurus desa dan dipaksa membayar sejumlah denda.

Sebuah hal yang merendahkan juga memojokkan. Hanya karena membangun saluran air yang katanya tidak sesuai ketentuan lingkungan. Oh, tidak! Putu memutuskan untuk mengambil kelewang, arit, dan senapan. Ia kehilangan sikap melihat ketidakadilan yang berulang-ulang hadir.

Satu per satu didatangi, satu per satu Putu menjambak rambut dan memotong kepala mereka dengan senapan dan arit. Kumis, jenggot, dan jamban mereka pun terpotong.

Putu mendelik! Alisnya terangkat, bola matanya membelalak. Putu bangkit lekas.  Dengan terengah-engah di tempat tidurnya, “Ah, hanya mimpi!” gerutunya sambil menggaruk kepala dan muncul suara ‘kliiik’ memecah keheningan.

Tak sekadar bunga tidur rupanya. Esok hari, berita tersebar bahwa bapak-bapak pengemis pajak desa itu tidak memiliki rambut. Mereka kehilangan kumis, jengot, dan jamban. Hanya sinar lapang di kepala tanpa helai rambut yang tak mampu tumbuh di kemaluan sekalipun. Kini, tak ada lagi kewibawaan yang disombongkan. Pembalasan dendam yang sunyata. Dalam tidurnya, kutu-kutu di kepala Putu ternyata telah melancarkan pembalasan paling menggelikan.

Suatu ketika Putu mengeringkan rambutnya. Ia melihat kutu tersangkut di handuk. Kutu itu seperti ingin berkata bahwa Ia akan melindungi Putu. Namun Putu masih bingung pasca kejadian aneh di mimpinya. Setiap dalam mimpi, Ia bertarung, membunuh, atau dikejar pembenci. Kutu-kutu itu membentuk suatu barisan di sela-sela benang handuk. Barisan itu membentuk suatu aksara bali A yang berarti arah utara. “Apa yang perlu aku lakukan di utara?” gumamnya.

Tepat malam purnama, Putu memutuskan untuk melakukan pembersihan di pantai paling utara. Kelapa hijau dan bunga wangi dibawanya. “Akan aku lebur segala kegatalan kepala. Aku tanggalkan kekutu ini agar lepaslah kenangan yang cemas. Mohon, tunjukkan berkatmu, Hyang Baruna,” katanya sembari menenggelamkan diri di tengah pantai. Putu timbul-tenggelam di antara lekukan ombak. Di bawah bayang purnama, kutu-kutunya luruh bersama memori dendam, pedih, kecewa, dan trauma.

Usai putaran ketiga, Putu menepi ke bibir pantai mengeringkan badan dan meniriskan rambutnya. Ia tersenyum. Kepalanya sudah sepi dari kekutu. Tak berselang lama, seketika Putu membelalak. Rambutnya tak bisa disibak-sibak. Rambut Putu melengket. Dengan sekuat tenaga, Ia mencoba membuka ruas-ruas rambutnya. Nihil. Pisau dan benda tajam lain diambilnya segera. Namun, tak lantas mengurai rambut-rambut yang terlanjut mengusut dan saling menempel.

Putu melemas, tertunduk, bersimpuh “Hyang Baruna, inikah jawaban?” [T]

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

Next Post

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co