3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 13, 2021
in Cerpen
Kutu-Kutu di Kepala Putu | Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Hampir pukul empat dini hari, Putu belum bisa pulas. Jikalau matanya terpejam, rasa geli menyengat di beberapa bagian kulit kepala. Jemarinya terbiasa mengendalikan perasaan dan mencari-cari penyebab kegelisahan itu. Beberapa kali digaruk persis di bagian belakang telinga kanannya, bergesar ke bagian atas, kemudian menuju pusar rambut. Setelahnya, ibu jari dan telunjuk bekerjasama menarik helai rambut dari pangkal hingga ujung. Alhasil di telunjuknya terdampar telur kutu yang siap dipencet.

Muncul suara ‘kliiik’ tanda telur mengandung calon pengisap darah kulit kepala.

Bagi Putu menemukan telur kutu di setiap helai rambutnya adalah suatu prestasi. Bagaimana tidak? Ia merasa menjadi orang paling bersih, dan paling intuitif karena mengetahui letak persis telur kutu itu berada. Kadang jika tak tahan, sisir serit diambil untuk merontokkan kutu-kutu atau bakal kutu. Usai ritual itu, Putu merasa ringan bagai meluruhkan segala kecemasan. Kutu-kutu itu berjalan di helai rambutnya seperti persimpangan atau jalan tol. Mereka hilir mudik, pulang pergi dari kutub kepala utara hingga kutub pangkal. Mereka seperti sibuk menggiring Putu merasakan kecemasan.

Saat kutu-kutu bergerak dari sudut kulit kepala yang kanan ke rumpun rambut yang lebih gelap, mereka menyedot darah Putu. Sebelum tiga jemari mendarat di kulit kepalanya, Putu merasa geli menyengat. Rasa ini persis saat Ia bingung dan bimbang menanti kabar ayahnya yang merantau ke bukit timur menggali pasir. Saat itu Gunung Agung tengah erupsi. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di kaki gunung harus mengungsi.  Ayah Putu tentu sempat mengungsi, namun tidak lama. Seminggu kemudian, ayahnya meninggal gagal jantung akibat syok. Pendapatan keluarga merosot sebab tak diperbolehkan bekerja di galian sampai erupsi mereda.

Selintas kenangan itu diingatnya kembali usai memencet telur kutu ‘kliiik’.

Sudah lewat dini hari, Putu masih menggaruk kulit pelipis dengan kukunya. Ia merasa ada beberapa kutu kecil sedang mengenal belantara kepala. Setiap perpindahan muncul rasa ngilu dan gatal berlebihan. Rasa ini mirip ketika dia gelisah dan merasa seluruh tubuhnya kaku ingin memberontak. Saat ibunya harus bersedia pensiun dini dengan kehendak sendiri. Pensiun dini di umur 50 adalah hal tanggung. Perusahaan tidak ingin memecatnya. Tidak ingin ada pesangon yang diturunkan. Perusahaan yang akan bangkrut itu, menjatuhkan harga diri karyawan di depan umum. Contoh, memasang berbagai peraturan yang tidak manusiawi, dan memaksa karyawan pensiun dini. Hal inilah yang membuat Putu merasa keadilan memang tidak tercipta untuk para buruh.

‘Kliik’ suara pencetan kesekian.

Keramaian-keramaian dan bising terdengar lalu-lalang. Putu berpikir, dirinya sudah tidak bisa lagi tidur nyenyak. Kutu-kutu di kepalanya sudah menyita waktu tidurnya. Beberapa kali Putu coba menjemur kasur, bantal, dan membersihkan ruang tidurnya. Tidak hanya itu, helm juga selalu dibersihkannya, namun tak membaik. Putu berpikir bahwa hal ini karena metode perawatan rambutnya. Pernah Putu mencoba berbagai obat rambut, hingga keramas biji cabai. Tetap tak membawa hasil. Putu pun pernah memangkas rambutnya, tak ada perubahan apa pun setelah tiga bulan memanjang.

Putu masih terbayang-bayang saat di bangku sekolah dasar. Teman-temannya tak ingin di dekatnya karena selalu melihat kutu-kutu yang berseliweran. Terlebih telur kutu yang ranum bagai bulir emas, siap menetas. Rasa dicemooh dan diasingkan itu terasa hingga kini. Ia berkesimpulan bahwa tidak ada yang mencintainya dan menerima keadaannya. Putu telah mengakali dengan banyak cara. Meski pernah mereda, kutu-kutu itu masih saja kembali. Sepertinya rambut Putu adalah magnet bagi para kutu.

‘Kliiik..kliik’ telur kembar dipencet lagi.

Rasa ketidakpercayaan ini dipendam dan diperam hingga berujung dentuman di dada. Gejolak-gejolak itu tidak bisa dibendung. Ia hanya melatih mulutnya agar tidak mengatakan atau memaki orang yang menjelekkannya. Namun di beberapa hal, Putu perlu bersuara. Saat itu, sekelompok pengurus desa mencari-cari kesalahan pada bangunan rumahnya. Putu dan ibunya disidang di hadapan bapak-bapak pengurus desa dan dipaksa membayar sejumlah denda.

Sebuah hal yang merendahkan juga memojokkan. Hanya karena membangun saluran air yang katanya tidak sesuai ketentuan lingkungan. Oh, tidak! Putu memutuskan untuk mengambil kelewang, arit, dan senapan. Ia kehilangan sikap melihat ketidakadilan yang berulang-ulang hadir.

Satu per satu didatangi, satu per satu Putu menjambak rambut dan memotong kepala mereka dengan senapan dan arit. Kumis, jenggot, dan jamban mereka pun terpotong.

Putu mendelik! Alisnya terangkat, bola matanya membelalak. Putu bangkit lekas.  Dengan terengah-engah di tempat tidurnya, “Ah, hanya mimpi!” gerutunya sambil menggaruk kepala dan muncul suara ‘kliiik’ memecah keheningan.

Tak sekadar bunga tidur rupanya. Esok hari, berita tersebar bahwa bapak-bapak pengemis pajak desa itu tidak memiliki rambut. Mereka kehilangan kumis, jengot, dan jamban. Hanya sinar lapang di kepala tanpa helai rambut yang tak mampu tumbuh di kemaluan sekalipun. Kini, tak ada lagi kewibawaan yang disombongkan. Pembalasan dendam yang sunyata. Dalam tidurnya, kutu-kutu di kepala Putu ternyata telah melancarkan pembalasan paling menggelikan.

Suatu ketika Putu mengeringkan rambutnya. Ia melihat kutu tersangkut di handuk. Kutu itu seperti ingin berkata bahwa Ia akan melindungi Putu. Namun Putu masih bingung pasca kejadian aneh di mimpinya. Setiap dalam mimpi, Ia bertarung, membunuh, atau dikejar pembenci. Kutu-kutu itu membentuk suatu barisan di sela-sela benang handuk. Barisan itu membentuk suatu aksara bali A yang berarti arah utara. “Apa yang perlu aku lakukan di utara?” gumamnya.

Tepat malam purnama, Putu memutuskan untuk melakukan pembersihan di pantai paling utara. Kelapa hijau dan bunga wangi dibawanya. “Akan aku lebur segala kegatalan kepala. Aku tanggalkan kekutu ini agar lepaslah kenangan yang cemas. Mohon, tunjukkan berkatmu, Hyang Baruna,” katanya sembari menenggelamkan diri di tengah pantai. Putu timbul-tenggelam di antara lekukan ombak. Di bawah bayang purnama, kutu-kutunya luruh bersama memori dendam, pedih, kecewa, dan trauma.

Usai putaran ketiga, Putu menepi ke bibir pantai mengeringkan badan dan meniriskan rambutnya. Ia tersenyum. Kepalanya sudah sepi dari kekutu. Tak berselang lama, seketika Putu membelalak. Rambutnya tak bisa disibak-sibak. Rambut Putu melengket. Dengan sekuat tenaga, Ia mencoba membuka ruas-ruas rambutnya. Nihil. Pisau dan benda tajam lain diambilnya segera. Namun, tak lantas mengurai rambut-rambut yang terlanjut mengusut dan saling menempel.

Putu melemas, tertunduk, bersimpuh “Hyang Baruna, inikah jawaban?” [T]

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

250 KK Hindu Bali Asli di Desa Kayuputih Punya Tradisi Imlek | Ceritanya Mirip Dongeng

Next Post

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Puisi-puisi Dian Purnama Dewi | Waktu Minum Kopi

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co