24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Chusmeru by Chusmeru
July 24, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

​KULIAH di program magister atau S2 berbeda dengan program S1. Jumlah mahasiswa program magister lebih sedikit. Mata kuliah yang harus diambil juga tidak terlalu banyak. Masa studinya pun bisa ditempuh dengan waktu yang tidak terlalu lama, sekitar dua tahun lebih. Teman-teman kuliah biasanya sudah berumur atau sudah berkeluarga.

​Itulah yang menjadi alasan Devita Laksmi mengambil program magister. Waktu kuliah bisa memilih antara yang reguler pagi hari atau kelas sore – malam hari. Sebagai seorang istri dan pegawai tetap di salah satu perusahaan BUMN, Devita Laksmi dapat kuliah pada kelas sore – malam. Selepas kerja, Devita bisa langsung kuliah. Itu pun tidak setiap hari. Jadi agak santai.

​Sebenarnya dengan ijazah S1 sudah cukup bagi Devita untuk meniti karier. Jabatannya kini sudah cukup lumayan, Asisten Manajer Public Relation. Suaminya juga bekerja di instansi pemerintah, dan sudah memiliki jabatan struktural. Sudah cukup jika hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka dengan seorang anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

​Namun Devita Laksmi bukan tipe perempuan yang cepat puas dengan prestasi yang telah ia peroleh. Ia ingin terus menimba ilmu. Gelar magister yang ia peroleh kelak juga dapat berguna untuk promosi jabatan di perusahaan. Ia tertarik pula untuk mengajar sambilan di perguruan tinggi swasta. Maka, tak ada kata diam bagi Devita. Padahal dia sekarang sedang hamil tujuh bulan. Semangat kuliahnya tetap tinggi.

​Mahasiswa program magister angkatan Devita berjumlah 20 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah, beragam pekerjaan, dan bervariasi perbedaan usia. Sebagian besar mahasiswa dari luar daerah. Hanya Devita Laksmi dan Widya Astuti yang berasal dari kota Purwokerto, tempat kampusnya kuliah.

​Dari segi usia Devita Laksmi belum begitu tua, dibandingkan Nicole atau Zanete yang sudah berusia 35 dan 37 tahun. Devita baru menginjak usia 32 tahun. Meski begitu, jika mereka berkumpul atau berdiskusi, perbedaan usia itu serasa tak menjadi persoalan. Mereka merasa seumuran, bercanda layaknya remaja.

​Kuliah program magister di sore dan malam hari berlangsung secara santai. Mahasiswa diizinkan oleh dosen untuk membawa minuman dan makanan untuk ngemil sambil kuliah. Apalagi Devita Laksmi yang sedang mengandung anak keduanya. Ia selalu ngemil di mana pun berada. Makanya setiap kuliah Devita pasti membawa jajanan.

​​​​​​***

​Semua mata kuliah menarik bagi Devita Laksmi. Semua dosen juga atraktif dan menyenangkan dalam perkuliahan. Devita sering dijadikan contoh kasus oleh dosen yang menjelaskan satu teori atau masalah. Misalnya saja yang berkaitan dengan perkembangan media sosial dalam kuliah dosen Ninok Kurniati, dicontohkan anak yang sedang dikandung Devita kelak akan menjadi Gen Beta mengahadapi era baru teknologi yang masih sulit diterka saat ini.

​Mata kuliah Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat dengan dosen Ginanjar menjadi mata kuliah yang sering menimbulkan ketegangan. Bukan lantaran Ginanjar galak saat mengajar di kelas, namun mata kuliah itu berlangsung pada Kamis malam atau malam Jumat. Mahasiswa kadang merasa seram dan takut kuliah di malam itu. Apalagi jika kebetulan malam Jumat Kliwon. Kejadian misterius sering terjadi.

​Devita tidak pernah berani kuliah sendirian di mata kuliah Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat, terutama di saat malam Jumat Kliwon. Ia merasa ngeri jika harus naik tangga menunju kelas di lantai dua pada malam Jumat Kliwon. Devita selalu mengajak Widya atau Nicole untuk berangkat bareng ke kampus. Selalu ada kejadian aneh dan menyeramkan saat melewati tangga menuju kelas.

​Kampus Devita kuliah dikenal angker dan banyak hantu, meski kini gedung dan ruang kuliahnya sudah baru dan bagus. Ketika menapaki tangga menuju kelas kadang tercium bau bunga kenanga atau bau kemenyan. Di tangga itu kadang juga terlihat bayangan sosok perempuan berbaju putih. Hal itu biasanya terjadi pada malam Jumat Kliwon. Pada hari-hari yang lain tidak pernah terjadi hal yang menyeramkan.

​Malam ini Devita ditemani Widya masuk kuliah dosen Ginanjar. Malam Jumat Kliwon tepat di bulan purnama. Konon termasuk malam yang keramat dan menyeramkan, karena semua jin, setan, dan iblis keluar bersama-sama. Devita tak ingin menemui kejadian aneh, sehingga ia minta ditemani Widya berangkat kuliah.

​Setapak demi setapak anak tangga mereka lalui. Pada anak tangga terakhir, tiba-tiba kaki Devita tersandung. Ia berusaha berpegangan pada tangan Widya. Namun sial, tangan Devita terlepas. Devita jatuh menggelundung ke bawah. Kepalanya membentur besi di antara anak tangga. Rasa sakit begitu terasa, meski Devita tidak pingsan.

​Jatuh tergelincir dari ketinggian dalam keadaan mengandung membuat Devita mengalami pendarahan hebat. Ia menangis menahan sakit. Sementara Widya kebingungan apa yang harus dilakukan. Kaget, bingung, sedih, dan takut. Widya pun ikutan menangis. Ia berteriak meminta tolong kepada orang-orang di sekitar kampus. Hari sudah malam. Mereka berharap ada pertolongan.

​Beberapa mahasiswa, termasuk Ginanjar sang dosen mendatangi Devita dan Widya. Dengan sigap Ginanjar menelepon ambulans rumah sakit. Darah berceceran di tangga kampus. Semua tercekam. Wajah Devita semakin pucat. Begitu banyak darah keluar dari vaginanya. Kecemasan melanda seluruh orang yang berada di sekitar Devita saat menunggu ambulans datang.

​Tak Berapa lama, ambulans pun datang. Devita segera dilarikan ke rumah sakit. Widya menemaninya di dalam ambulans. Rumah sakit tidak terlalu jauh. Nyawa Devita dapat diselamatkan. Sayangnya, bayi yang dikandung Devita tak tertolong. Devita mengalami keguguran. Benturan keras yang dialami Devita saat tergelincir dari tangga kampus membuat kandungan Devita Laksmi mengalami guncangan berat. Tragisnya, anak yang dikandungnya tak dapat diselamatkan. Bayi perempuan yang cantik seperti ibunya, terlahir dalam keadaan meninggal dunia.

​​​​​​***

​Kampus berduka. Teman-teman Devita Laksmi bersedih. Dan yang paling sedih dan terpukul adalah Devita. Jiwanya terpukul berat. Anak kedua yang dikandungnya meninggal lantaran Devita terjatuh di tangga kampus. Devita tak mampu memendam kesedihannya. Bayi perempuan cantik yang mestinya terlahir setelah ujian akhir semester itu telah berpulang terlebih dahulu menghadap Tuhan.

​Kesedihan dan kecemasan mahasiswa belum berakhir. Kini suasana mencekam dan menyeramkan dirasakan mahasiswa ketika menaiki tangga kampus. Terutama di malam Jumat Kliwon saat kuliah Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat. Masih terbayang waktu Devita jatuh tergelincir dari anak tangga.

​Mahasiswa sudah mengusulkan agar mata kuliah tersebut dipindah ke ruangan lain yang tidak harus menaiki tangga, atau jadwal kuliah yang digeser pada hari lain dan jam kuliah pagi. Akan tetapi jadwal kuliah yang padat membuat kuliah yang diampu Ginanjar itu tidak dapat diubah. Tetap di ruang atas dan di malam Jumat.

​Takut, ngeri, dan seram. Itu yang dirasakan mahasiswa. Rita Handayani termasuk mahasiswa yang didera ketakutan saat kuliah Ginanjar. Malam Jumat Kliwon ia berangkat kuliah sendirian. Perlahan ia menaiki anak tangga menuju ruang kuliah. Menjelang anak tangga terakhir, Rita Handayani dikejutkan dengan suara tangisan bayi. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada seorang pun. Bulu kuduknya berdiri. Bergegas ia berjalan menuju ruang kuliah.

​Kejadian serupa dialami Eko Darmono, mahasiswa program magister seangkatan Devita. Malam Jumat Kliwon ia berangkat kuliah agak terburu-buru, karena takut terlambat masuk kelas. Sedikit berlarian ia naiki tangga kampus. Mendadak ia hentikan langkahnya saat mendengar suara tangisan bayi. Eko Darmono merinding. Ia teringat bayi anak Devita yang meninggal karena keguguran.

​Bukan hanya mahasiswa yang kerap mendengar suara tangisan bayi di tangga kampus pada malam Jumat Kliwon. Bahkan pada hari-hari biasa, pegawai penjaga malam kampus juga mendengar suara tangisan itu ketika hendak menutup pintu-pintu ruang kuliah pada malam hari. Suara tangisan itu begitu menyayat hati. Meraung dan melengking keras. Namun saat didekati arah suara itu, mendadak berhenti.

​Kabar tentang suara tangisan bayi di tangga kampus terdengar oleh Koordinator Program Magister, Elisabeth Nunce. Ia merasa prihatin atas musibah yang menimpa mahasiswanya, Devita Laksmi. Ketakutan dan suasana seram di tangga kampus juga membuat Elisabeth Nunce berinisiatif untuk menanyakan kepada Mbah Surati, dukun bayi yang pernah membantunya pasca persalinan anak-anaknya.

​Mbah Surati bukan sekadar dukun bayi. Ia juga memiliki kemampuan supranatural yang berkaitan dengan proses persalinan. Masyarakat jawa masih banyak yang melakukan tradisi berkaitan dengan proses mengandung dan melahirkan anak.

​Elisabeth Nunce mengajak Devita Laksmi ke rumah Mbah Surati. Diceritakan semuanya tentang peristiwa yang dialami Devita. Begitu pun dengan suara tangisan banyi setiap malam di tangga kampus. Mbah Surati tampak bersedih mendengar bayi dalam kandungan Devita keguguran dan meninggal.

​“Perlu among-among untuk si jabang bayi..,” ucap Mbah Surati lirih.

​“Apa itu among-among, Mbah?” tanya Devita.

​“Tradisi masyarakat Jawa untuk memperingati hari lahir anak berdasarkan weton. Meskipun si jabang bayi telah meninggal, ia menginginkan among-among. Nanti saat malam Jumat Kliwon, kita lakukan among-among itu. Semoga arwah si jabang bayi tenang di surga,” jelas Mbah Surati.

​Bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, Mbah Surati memimpin tradisi among-among di rumah Devita Laksmi. Beberapa dosen dan mahasiswa hadir. Tak lupa, Devita juga mengundang anak-anak tetangganya untuk hadir.

​Suasana among-among kali ini memang tidak meriah, justru tampak sedikit menyeramkan, karena anak yang seharusnya menjalani ritual adat ini telah berpulang di sisi Tuhan. Meski begitu Mbah Surati tetap khusuk memimpin ritual among-among itu. Sebagian makanan dan jajanan dibagikan kepada anak-anak tetangga. Sebagian lagi ditanam di pekarangan rumah Devita.

​Tak terdengar lagi suara tangisan bayi di tangga kampus sejak dilakukan ritual among-among di rumah Devita. Mahasiswa sudah tidak lagi merasa takut dan seram kuliah Ginanjar di malam Jumat Kliwon maupun hari biasa di waktu malam. Meski kampus tempat mereka kuliah tetap saja selalu menyimpan misteri.

​Devita Laksmi juga sudah mulai menjalani kehidupan dan aktivitas kuliah seperti biasa. Ia sudah ikhlas menerima semuanya. Bayi cantik yang lebih dulu meninggalkannya telah tenang di alam sana. Kembali bersatu dalam pelukan Ibu Pertiwi, bersanding dengan Dewi Bumi.​​ [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong
Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Next Post

Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails
Next Post
Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co