14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [25]: Tangis Bayi di Tangga Kampus

Chusmeru by Chusmeru
July 24, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

​KULIAH di program magister atau S2 berbeda dengan program S1. Jumlah mahasiswa program magister lebih sedikit. Mata kuliah yang harus diambil juga tidak terlalu banyak. Masa studinya pun bisa ditempuh dengan waktu yang tidak terlalu lama, sekitar dua tahun lebih. Teman-teman kuliah biasanya sudah berumur atau sudah berkeluarga.

​Itulah yang menjadi alasan Devita Laksmi mengambil program magister. Waktu kuliah bisa memilih antara yang reguler pagi hari atau kelas sore – malam hari. Sebagai seorang istri dan pegawai tetap di salah satu perusahaan BUMN, Devita Laksmi dapat kuliah pada kelas sore – malam. Selepas kerja, Devita bisa langsung kuliah. Itu pun tidak setiap hari. Jadi agak santai.

​Sebenarnya dengan ijazah S1 sudah cukup bagi Devita untuk meniti karier. Jabatannya kini sudah cukup lumayan, Asisten Manajer Public Relation. Suaminya juga bekerja di instansi pemerintah, dan sudah memiliki jabatan struktural. Sudah cukup jika hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka dengan seorang anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

​Namun Devita Laksmi bukan tipe perempuan yang cepat puas dengan prestasi yang telah ia peroleh. Ia ingin terus menimba ilmu. Gelar magister yang ia peroleh kelak juga dapat berguna untuk promosi jabatan di perusahaan. Ia tertarik pula untuk mengajar sambilan di perguruan tinggi swasta. Maka, tak ada kata diam bagi Devita. Padahal dia sekarang sedang hamil tujuh bulan. Semangat kuliahnya tetap tinggi.

​Mahasiswa program magister angkatan Devita berjumlah 20 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah, beragam pekerjaan, dan bervariasi perbedaan usia. Sebagian besar mahasiswa dari luar daerah. Hanya Devita Laksmi dan Widya Astuti yang berasal dari kota Purwokerto, tempat kampusnya kuliah.

​Dari segi usia Devita Laksmi belum begitu tua, dibandingkan Nicole atau Zanete yang sudah berusia 35 dan 37 tahun. Devita baru menginjak usia 32 tahun. Meski begitu, jika mereka berkumpul atau berdiskusi, perbedaan usia itu serasa tak menjadi persoalan. Mereka merasa seumuran, bercanda layaknya remaja.

​Kuliah program magister di sore dan malam hari berlangsung secara santai. Mahasiswa diizinkan oleh dosen untuk membawa minuman dan makanan untuk ngemil sambil kuliah. Apalagi Devita Laksmi yang sedang mengandung anak keduanya. Ia selalu ngemil di mana pun berada. Makanya setiap kuliah Devita pasti membawa jajanan.

​​​​​​***

​Semua mata kuliah menarik bagi Devita Laksmi. Semua dosen juga atraktif dan menyenangkan dalam perkuliahan. Devita sering dijadikan contoh kasus oleh dosen yang menjelaskan satu teori atau masalah. Misalnya saja yang berkaitan dengan perkembangan media sosial dalam kuliah dosen Ninok Kurniati, dicontohkan anak yang sedang dikandung Devita kelak akan menjadi Gen Beta mengahadapi era baru teknologi yang masih sulit diterka saat ini.

​Mata kuliah Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat dengan dosen Ginanjar menjadi mata kuliah yang sering menimbulkan ketegangan. Bukan lantaran Ginanjar galak saat mengajar di kelas, namun mata kuliah itu berlangsung pada Kamis malam atau malam Jumat. Mahasiswa kadang merasa seram dan takut kuliah di malam itu. Apalagi jika kebetulan malam Jumat Kliwon. Kejadian misterius sering terjadi.

​Devita tidak pernah berani kuliah sendirian di mata kuliah Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat, terutama di saat malam Jumat Kliwon. Ia merasa ngeri jika harus naik tangga menunju kelas di lantai dua pada malam Jumat Kliwon. Devita selalu mengajak Widya atau Nicole untuk berangkat bareng ke kampus. Selalu ada kejadian aneh dan menyeramkan saat melewati tangga menuju kelas.

​Kampus Devita kuliah dikenal angker dan banyak hantu, meski kini gedung dan ruang kuliahnya sudah baru dan bagus. Ketika menapaki tangga menuju kelas kadang tercium bau bunga kenanga atau bau kemenyan. Di tangga itu kadang juga terlihat bayangan sosok perempuan berbaju putih. Hal itu biasanya terjadi pada malam Jumat Kliwon. Pada hari-hari yang lain tidak pernah terjadi hal yang menyeramkan.

​Malam ini Devita ditemani Widya masuk kuliah dosen Ginanjar. Malam Jumat Kliwon tepat di bulan purnama. Konon termasuk malam yang keramat dan menyeramkan, karena semua jin, setan, dan iblis keluar bersama-sama. Devita tak ingin menemui kejadian aneh, sehingga ia minta ditemani Widya berangkat kuliah.

​Setapak demi setapak anak tangga mereka lalui. Pada anak tangga terakhir, tiba-tiba kaki Devita tersandung. Ia berusaha berpegangan pada tangan Widya. Namun sial, tangan Devita terlepas. Devita jatuh menggelundung ke bawah. Kepalanya membentur besi di antara anak tangga. Rasa sakit begitu terasa, meski Devita tidak pingsan.

​Jatuh tergelincir dari ketinggian dalam keadaan mengandung membuat Devita mengalami pendarahan hebat. Ia menangis menahan sakit. Sementara Widya kebingungan apa yang harus dilakukan. Kaget, bingung, sedih, dan takut. Widya pun ikutan menangis. Ia berteriak meminta tolong kepada orang-orang di sekitar kampus. Hari sudah malam. Mereka berharap ada pertolongan.

​Beberapa mahasiswa, termasuk Ginanjar sang dosen mendatangi Devita dan Widya. Dengan sigap Ginanjar menelepon ambulans rumah sakit. Darah berceceran di tangga kampus. Semua tercekam. Wajah Devita semakin pucat. Begitu banyak darah keluar dari vaginanya. Kecemasan melanda seluruh orang yang berada di sekitar Devita saat menunggu ambulans datang.

​Tak Berapa lama, ambulans pun datang. Devita segera dilarikan ke rumah sakit. Widya menemaninya di dalam ambulans. Rumah sakit tidak terlalu jauh. Nyawa Devita dapat diselamatkan. Sayangnya, bayi yang dikandung Devita tak tertolong. Devita mengalami keguguran. Benturan keras yang dialami Devita saat tergelincir dari tangga kampus membuat kandungan Devita Laksmi mengalami guncangan berat. Tragisnya, anak yang dikandungnya tak dapat diselamatkan. Bayi perempuan yang cantik seperti ibunya, terlahir dalam keadaan meninggal dunia.

​​​​​​***

​Kampus berduka. Teman-teman Devita Laksmi bersedih. Dan yang paling sedih dan terpukul adalah Devita. Jiwanya terpukul berat. Anak kedua yang dikandungnya meninggal lantaran Devita terjatuh di tangga kampus. Devita tak mampu memendam kesedihannya. Bayi perempuan cantik yang mestinya terlahir setelah ujian akhir semester itu telah berpulang terlebih dahulu menghadap Tuhan.

​Kesedihan dan kecemasan mahasiswa belum berakhir. Kini suasana mencekam dan menyeramkan dirasakan mahasiswa ketika menaiki tangga kampus. Terutama di malam Jumat Kliwon saat kuliah Komunikasi Pemberdayaan Masyarakat. Masih terbayang waktu Devita jatuh tergelincir dari anak tangga.

​Mahasiswa sudah mengusulkan agar mata kuliah tersebut dipindah ke ruangan lain yang tidak harus menaiki tangga, atau jadwal kuliah yang digeser pada hari lain dan jam kuliah pagi. Akan tetapi jadwal kuliah yang padat membuat kuliah yang diampu Ginanjar itu tidak dapat diubah. Tetap di ruang atas dan di malam Jumat.

​Takut, ngeri, dan seram. Itu yang dirasakan mahasiswa. Rita Handayani termasuk mahasiswa yang didera ketakutan saat kuliah Ginanjar. Malam Jumat Kliwon ia berangkat kuliah sendirian. Perlahan ia menaiki anak tangga menuju ruang kuliah. Menjelang anak tangga terakhir, Rita Handayani dikejutkan dengan suara tangisan bayi. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada seorang pun. Bulu kuduknya berdiri. Bergegas ia berjalan menuju ruang kuliah.

​Kejadian serupa dialami Eko Darmono, mahasiswa program magister seangkatan Devita. Malam Jumat Kliwon ia berangkat kuliah agak terburu-buru, karena takut terlambat masuk kelas. Sedikit berlarian ia naiki tangga kampus. Mendadak ia hentikan langkahnya saat mendengar suara tangisan bayi. Eko Darmono merinding. Ia teringat bayi anak Devita yang meninggal karena keguguran.

​Bukan hanya mahasiswa yang kerap mendengar suara tangisan bayi di tangga kampus pada malam Jumat Kliwon. Bahkan pada hari-hari biasa, pegawai penjaga malam kampus juga mendengar suara tangisan itu ketika hendak menutup pintu-pintu ruang kuliah pada malam hari. Suara tangisan itu begitu menyayat hati. Meraung dan melengking keras. Namun saat didekati arah suara itu, mendadak berhenti.

​Kabar tentang suara tangisan bayi di tangga kampus terdengar oleh Koordinator Program Magister, Elisabeth Nunce. Ia merasa prihatin atas musibah yang menimpa mahasiswanya, Devita Laksmi. Ketakutan dan suasana seram di tangga kampus juga membuat Elisabeth Nunce berinisiatif untuk menanyakan kepada Mbah Surati, dukun bayi yang pernah membantunya pasca persalinan anak-anaknya.

​Mbah Surati bukan sekadar dukun bayi. Ia juga memiliki kemampuan supranatural yang berkaitan dengan proses persalinan. Masyarakat jawa masih banyak yang melakukan tradisi berkaitan dengan proses mengandung dan melahirkan anak.

​Elisabeth Nunce mengajak Devita Laksmi ke rumah Mbah Surati. Diceritakan semuanya tentang peristiwa yang dialami Devita. Begitu pun dengan suara tangisan banyi setiap malam di tangga kampus. Mbah Surati tampak bersedih mendengar bayi dalam kandungan Devita keguguran dan meninggal.

​“Perlu among-among untuk si jabang bayi..,” ucap Mbah Surati lirih.

​“Apa itu among-among, Mbah?” tanya Devita.

​“Tradisi masyarakat Jawa untuk memperingati hari lahir anak berdasarkan weton. Meskipun si jabang bayi telah meninggal, ia menginginkan among-among. Nanti saat malam Jumat Kliwon, kita lakukan among-among itu. Semoga arwah si jabang bayi tenang di surga,” jelas Mbah Surati.

​Bertepatan dengan malam Jumat Kliwon, Mbah Surati memimpin tradisi among-among di rumah Devita Laksmi. Beberapa dosen dan mahasiswa hadir. Tak lupa, Devita juga mengundang anak-anak tetangganya untuk hadir.

​Suasana among-among kali ini memang tidak meriah, justru tampak sedikit menyeramkan, karena anak yang seharusnya menjalani ritual adat ini telah berpulang di sisi Tuhan. Meski begitu Mbah Surati tetap khusuk memimpin ritual among-among itu. Sebagian makanan dan jajanan dibagikan kepada anak-anak tetangga. Sebagian lagi ditanam di pekarangan rumah Devita.

​Tak terdengar lagi suara tangisan bayi di tangga kampus sejak dilakukan ritual among-among di rumah Devita. Mahasiswa sudah tidak lagi merasa takut dan seram kuliah Ginanjar di malam Jumat Kliwon maupun hari biasa di waktu malam. Meski kampus tempat mereka kuliah tetap saja selalu menyimpan misteri.

​Devita Laksmi juga sudah mulai menjalani kehidupan dan aktivitas kuliah seperti biasa. Ia sudah ikhlas menerima semuanya. Bayi cantik yang lebih dulu meninggalkannya telah tenang di alam sana. Kembali bersatu dalam pelukan Ibu Pertiwi, bersanding dengan Dewi Bumi.​​ [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal
Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong
Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Melampaui Logika: Memaknai Kembali Mistisisme dalam Cahaya Filsafat Timur, Kritik atas Bertrand Russell

Next Post

Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails
Next Post
Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

Sekelumit Catatan SPMB SMK 2025, Antara Gengsi, Ketidaktahuan, dan Anomali Minat Jurusan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co