24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

TIDAK semua pegawai dan dosen sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus. Keharusan untuk presensi wajah elektronik bagi pegawai pada pukul tujuh pagi membuat pegawai tidak sempat makan pagi. Begitu pula dosen yang mengajar pada jam pertama biasanya belum makan pagi.

Karenanya banyak pegawai dan dosen yang membawa bekal makanan dan minuman ke kampus. Selain itu ada pula yang sarapan pagi di kantin fakultas. Tidak sedikit pula yang memasak di dapur fakultas untuk mengisi perut.

Dapur di kampus cukup luas, nyaman, dan tersedia peralatan memasak yang lengkap. Ada galon air minum, kulkas, kompor gas, panci, dan berbagai peralatan lain. Pimpinan fakultas memang memfasilitasi semua itu untuk dosen dan pegawai. Dapur di kampus kadang juga menjadi tempat berkumpul maupun ngobrol para pegawai dan dosen sambil ngopi dan makan jajanan.

Dapur juga digunakan oleh pegawai untuk memasak air minum. Biasanya ada beberapa pegawai dan dosen yang memegang jabatan di fakultas akan dibuatkan minuman teh manis. Ada pegawai tersendiri yang bertugas membuat teh manis.

Pada hari-hari tertentu para pegawai memasak nasi dan lauknya di dapur kampus. Mereka biasanya iuran untuk membeli keperluan memasak seminggu sekali. Menariknya, yang memasak adalah pegawai laki-laki. Mereka sangat terampil memasak, seperti rica-rica, nasi goreng, dan sayur lodeh.

Raditya dan Putut merupakan pegawai yang sering memasak di dapur kampus. Layaknya seorang chief mereka siap menerima pesanan makanan apa saja. Kadang ada dosen yang hanya menyerahkan uang kepada mereka untuk memesan makanan pada esok harinya.

Suatu hari kebetulan fakultas akan mengadakan kegiatan jalan sehat dalam rangka dies natalis. Raditya dan Putut sudah sibuk sejak beberapa hari sebelumnya. Mereka harus menyiapkan beberapa kardus air mineral serta belanja gula, teh, dan kopi bagi pegawai dan dosen setelah acara selesai. Sedangkan jajanan dan makanan diserahkan kepada jasa katering.

Puncak rangkaian acara dies natalis fakultas adalah peresmian gedung baru untuk para pengelola, pegawai, dan ruang kuliah. Gedung berlantai lima itu sangat megah jika dibandingkan gedung lain yang tampak kuno dan menyeramkan.

***

Acara jalan sehat berlangsung sangat meriah. Peserta bukan hanya dosen dan pegawai, tetapi juga diikuti oleh mahasiswa. Bahkan ada beberapa dosen yang mengajak suami, istri, dan anak-anak mereka untuk ikut jalan sehat.

Seusai acara, para peserta jalan sehat menikmati hidangan minuman dan makanan. Beberapa dosen dan pegawai ada yang beristirahat sambil mengobrol di dapur fakultas. Karsono, Raharjo, dan Hendrikus menikmati secangkir kopi sambil merokok. Sukreni dan Sri Wahyuni memilih minum teh sambil makan gorengan bakwan.

Rasa lelah dirasakan dosen dan pegawai setelah seharian melakukan kegiatan di kampus. Pulang sampai rumah sore menjelang senja. Bukannya dimanfaatkan untuk istirahat. Karsono justru tiba-tiba merasa pusing dan mual-mual. Dia juga diare berat. Berkali-kali buang air besar. Kepalanya berputar-putar dan sempat muntah.

Tubuh Karsono lemas. Ia putuskan untuk periksa ke dokter diantar istrinya. Keracunan, demikian diagnosis dokter. Karsono terkejut. Apa yang menyebabkan dia keracunan? Apakah minuman dan makanan di kampus siang tadi? Dokter pun tidak dapat menjelaskan sumber minuman dan makanan yang menyebabkan Karsono keracunan. Harus ada uji laboratorium pada sampel minuman dan makanan yang disantap Karsono.

Malam hari Karsono sulit memejamkan mata. Padahal dia sudah mengkonsumsi beberapa obat dari dokter yang mengandung efek mengantuk. Saat ia hendak terlelap, antara sadar dan tidak sadar, muncul dihadapannya sosok lelaki tinggi besar telanjang dada. Rambutnya panjang, matanya besar; mirip sekali genderuwo.

Karsono tercekam. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Tubuhnya terasa lemas akibat diare terus-menerus. Karsono terdiam pasrah ketika sosok mirip genderuwo itu mendekatinya. Mata genderuwo melotot sambil berkata:

“Kamu sembarangan, bangun gedung tidak minta izin..!!!” kata genderuwo sambil membentak Karsono.

Merasa tak mengerti apa yang dimaksud makhluk itu, Karsono memilih diam. Hanya itu yang dapat dia lakukan di saat tubuhnya lemas tak berdaya. Ketakutan dan suasana seram membuat tubuhnya kian tidak berdaya. Tidak lama, dalam hitungan detik genderuwo itu lenyap dari pandangan Karsono.

Keracunan bukan hanya dialami Karsono. Teman dosennya, Raharjo juga mengalami gejala-gejala keracunan. Malam hari Raharjo muntah-muntah. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh. Disusul dengan buang air besar berulangkali. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia tidak ke dokter. Raharjo minum oralit dan paracetamol untuk meredakan nyeri sementara. Ia lantas berbaring istirahat.

Raharjo belum bisa tidur. Berkelebat sosok laki-laki tinggi besar menyeramkan masuk ke kamarnya. Raharjo terkesiap. “Genderuwo,” pikirnya.  Raharjo begitu takut. Tubuh, rambut, dan mata genderuwo itu sungguh menyeramkan. Namun Raharjo tak bisa berkutik. Tubuhnya lelah dan lemas akibat buang air besar berkali-kali.

“Kurang ajar..!!! Bangun gedung seenaknya..!” bentak genderuwo kepada Raharjo.

Raharjo tidak menjawab. Tidak juga bergerak. Dalam hitungan detik genderuwo itu menghilang. Lega perasaan Raharjo. Meskipun ia tak tahu apa yang dimaksud genderuwo itu. Raharjo kembali tenang, meskipun perutnya masih terasa mual. Besok pagi ia rencanakan untuk berobat ke dokter.

Hendrikus, pegawai yang biasa menyiapkan minuman dan selalu siaga di dapur juga tak luput dari keracunan.  Sepulang dari kampus perutnya melilit. Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Hampir setiap dua jam ia buang air besar. Hendrikus sudah menduga ia keracunan. Apalagi ia juga diberitahu Karsono dan Raharjo yang keracunan. Hendrikus minum air kelapa muda yang ia beli dari warung tetangga.

Ketika Hendrikus sedang mengolesi minyak kayu putih di perutnya, ia dikejutkan oleh sosok anak kecil yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya. Muka anak kecil itu pucat. Matanya tajam menatap Hendrikus. “Ini hantu,” pikir Hendrikus.

“Kenapa rumahku dibongkar..?!” kata anak kecil itu.

Hendrikus diam saja. Hantu anak kecil itu menunjukkan wajah memelas. Hendrikus merasa takut, seram, tetapi juga bingung atas perubahan wajah hantu anak kecil. Hendrikus memilih memejamkan mata. Dalam sekejap, ketika matanya terbuka hantu anak kecil itu sudah tak tampak.

Kejadian serupa dialami Sukreni dan Sri Wahyuni. Pegawai administrasi ini mengalami keracunan yang cukup parah. Perutnya mual, buang air besar terus-menerus. Badannya demam. Tubuh terasa lemas dan otot-otot terasa nyeri. Mereka berobat ke Puskesmas dan dinyatakan keracunan minuman dan makanan.

Sukreni dalam tidurnya bermimpi dikejar-kejar kuntilanak. Ia berusaha berlari secepat mungkin. Napasnya tersengal-sengal. Kuntilanak itu mencoba menangkap Sukreni. Suasana sangat menegangkan ketika tiba di jalan buntu, Sukreni berhadap-hadapan dengan kuntilanak.

“Mengapa kamu tidak minta izin membongkar rumahku..?!” tanya kuntilanak sambil membentak.

Sukreni tak berkata sepatah pun. Dia berada salam suasana yang mencekam dan menakutkan. Merasa tak mendapat jawaban, kuntilanak itu marah. Sukreni didorong hingga terjatuh. Dan saat ia terbangun dari tidur, ia sudah berada di lantai. Rupanya ia terjatuh dari tidurnya.

Sedangkan Sri Wahyuni melihat ada hantu pocong di kamarnya. Tentu saja membuat Sri Wahyuni ketakutan. Terdengar suara dengan nada marah dari pocong itu yang menanyakan kenapa rumahnya dibongkar. Bukannya menjawab, Sri Wahyuni malah menggigil ketakutan. Dia memanjatkan doa pengusir setan. Pocong itu pun menghilang.

***

Keracunan bukan hanya diderita oleh dosen dan pegawai yang nongkrong di dapur saja. Banyak pegawai dan dosen yang mengalami gejala-gejala keracunan. Mahasiswa juga ada yang menderita diare dan muntah-muntah. Keracunan massal terjadi di kampus. Dekanat menetapkan kondisi gawat darurat di kampus.

Mereka yang mengalami gejala keracunan diminta untuk melapor ke fakultas dan cek laboratorium dengan biaya dari fakultas. Pegawai, dosen, dan mahasiswa diminta untuk melaporkan minuman dan makanan apa saja yang dikonsumsi saat acara jalan sehat di kampus.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap pegawai, dosen, dan mahasiswa yang keracunan ditemukan adanya bakteri Salmonella, Clostridium Perfringens, dan Campylobacter pada tubuh mereka. Bakteri tersebut yang menyebabkan keracunan. Sumbernya dari minuman dan makanan.

Anehnya, semua sampel minuman dan makanan yang dikirim ke laboratorium semuanya dinyatakan negatif, tidak mengandung unsur bakteri. Lantas mengapa banyak yang keracunan?. Dari mana datangnya bakteri yang menyebabkan keracunan banyak orang?. Ada sesuatu yang misterius. Apa hubungan keracunan dengan pegawai dan dosen yang didatangi genderuwo, kuntilanak, dan pocong?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Tegar Trisnanto salah satu dosen yang tidak keracunan, mendatangi tetangganya Kiai Bisaq yang memiliki kemampuan supranatural. Apa sesungguhnya yang menyebabkan keracunan massal di kampus?

“Para lelembut, makhluk halus yang menghuni kampus marah..,” kata Kiai Bisaq setelah melakukan penerawangan.

“Kenapa mereka marah, Pak Kiai?” tanya Tegar Trisnanto.

“Rumahnya dibongkar.. dibangun gedung baru. Para lelembut itu menghuni bangunan tua di kampus. Mungkin dulu tidak dilakukan semacam doa bersama saat mau membangun gedung baru,” jelas Kiai Bisaq.

“Gimana caranya agar tidak terjadi lagi keracunan massal di kampus?” tanya Tegar.

“Semua peralatan untuk memasak, makan, dan minum di dapur kampus harus dicuci dengan daun kelor selama satu minggu. Ibaratnya ini semacam sterilisasi secara gaib. Setan, iblis, dan jin biasanya menyusup ke makanan dan perlengkapan makan untuk mencederai manusia,” tegas Kiai Bisaq membuat Tegar Trisnanto manggut-manggut.

Dunia medis memang menemukan penyebab keracunan massal di kampus. Namun dimensi alam gaib memberi jawaban apa, siapa, dan mengapa terjadi keracunan massal. Hendrikus dan kawan-kawan setiap hari  mencuci perabotan di dapur kampus dengan daun kelor. Berharap minuman dan makanan yang mereka santap steril secara medis dan gaib.

Meski demikian Hendrikus menganggap persoalan dengan makhluk halus penunggu kampus belum selesai. Memang tidak terjadi lagi keracunan makanan dan minuman di kampus. Akan tetapi makhluk halus itu tetap dapat menggoda dosen, pegawai, dan mahasiswa setiap waktu. Oleh karenanya ia berharap fakultas akan melakukan ruwatan untuk membersihkan kampus dari aura mistis. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong
Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Next Post

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Bali, di Antara Pesona dan Luka

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co