24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

TIDAK semua pegawai dan dosen sempat sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus. Keharusan untuk presensi wajah elektronik bagi pegawai pada pukul tujuh pagi membuat pegawai tidak sempat makan pagi. Begitu pula dosen yang mengajar pada jam pertama biasanya belum makan pagi.

Karenanya banyak pegawai dan dosen yang membawa bekal makanan dan minuman ke kampus. Selain itu ada pula yang sarapan pagi di kantin fakultas. Tidak sedikit pula yang memasak di dapur fakultas untuk mengisi perut.

Dapur di kampus cukup luas, nyaman, dan tersedia peralatan memasak yang lengkap. Ada galon air minum, kulkas, kompor gas, panci, dan berbagai peralatan lain. Pimpinan fakultas memang memfasilitasi semua itu untuk dosen dan pegawai. Dapur di kampus kadang juga menjadi tempat berkumpul maupun ngobrol para pegawai dan dosen sambil ngopi dan makan jajanan.

Dapur juga digunakan oleh pegawai untuk memasak air minum. Biasanya ada beberapa pegawai dan dosen yang memegang jabatan di fakultas akan dibuatkan minuman teh manis. Ada pegawai tersendiri yang bertugas membuat teh manis.

Pada hari-hari tertentu para pegawai memasak nasi dan lauknya di dapur kampus. Mereka biasanya iuran untuk membeli keperluan memasak seminggu sekali. Menariknya, yang memasak adalah pegawai laki-laki. Mereka sangat terampil memasak, seperti rica-rica, nasi goreng, dan sayur lodeh.

Raditya dan Putut merupakan pegawai yang sering memasak di dapur kampus. Layaknya seorang chief mereka siap menerima pesanan makanan apa saja. Kadang ada dosen yang hanya menyerahkan uang kepada mereka untuk memesan makanan pada esok harinya.

Suatu hari kebetulan fakultas akan mengadakan kegiatan jalan sehat dalam rangka dies natalis. Raditya dan Putut sudah sibuk sejak beberapa hari sebelumnya. Mereka harus menyiapkan beberapa kardus air mineral serta belanja gula, teh, dan kopi bagi pegawai dan dosen setelah acara selesai. Sedangkan jajanan dan makanan diserahkan kepada jasa katering.

Puncak rangkaian acara dies natalis fakultas adalah peresmian gedung baru untuk para pengelola, pegawai, dan ruang kuliah. Gedung berlantai lima itu sangat megah jika dibandingkan gedung lain yang tampak kuno dan menyeramkan.

***

Acara jalan sehat berlangsung sangat meriah. Peserta bukan hanya dosen dan pegawai, tetapi juga diikuti oleh mahasiswa. Bahkan ada beberapa dosen yang mengajak suami, istri, dan anak-anak mereka untuk ikut jalan sehat.

Seusai acara, para peserta jalan sehat menikmati hidangan minuman dan makanan. Beberapa dosen dan pegawai ada yang beristirahat sambil mengobrol di dapur fakultas. Karsono, Raharjo, dan Hendrikus menikmati secangkir kopi sambil merokok. Sukreni dan Sri Wahyuni memilih minum teh sambil makan gorengan bakwan.

Rasa lelah dirasakan dosen dan pegawai setelah seharian melakukan kegiatan di kampus. Pulang sampai rumah sore menjelang senja. Bukannya dimanfaatkan untuk istirahat. Karsono justru tiba-tiba merasa pusing dan mual-mual. Dia juga diare berat. Berkali-kali buang air besar. Kepalanya berputar-putar dan sempat muntah.

Tubuh Karsono lemas. Ia putuskan untuk periksa ke dokter diantar istrinya. Keracunan, demikian diagnosis dokter. Karsono terkejut. Apa yang menyebabkan dia keracunan? Apakah minuman dan makanan di kampus siang tadi? Dokter pun tidak dapat menjelaskan sumber minuman dan makanan yang menyebabkan Karsono keracunan. Harus ada uji laboratorium pada sampel minuman dan makanan yang disantap Karsono.

Malam hari Karsono sulit memejamkan mata. Padahal dia sudah mengkonsumsi beberapa obat dari dokter yang mengandung efek mengantuk. Saat ia hendak terlelap, antara sadar dan tidak sadar, muncul dihadapannya sosok lelaki tinggi besar telanjang dada. Rambutnya panjang, matanya besar; mirip sekali genderuwo.

Karsono tercekam. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Tubuhnya terasa lemas akibat diare terus-menerus. Karsono terdiam pasrah ketika sosok mirip genderuwo itu mendekatinya. Mata genderuwo melotot sambil berkata:

“Kamu sembarangan, bangun gedung tidak minta izin..!!!” kata genderuwo sambil membentak Karsono.

Merasa tak mengerti apa yang dimaksud makhluk itu, Karsono memilih diam. Hanya itu yang dapat dia lakukan di saat tubuhnya lemas tak berdaya. Ketakutan dan suasana seram membuat tubuhnya kian tidak berdaya. Tidak lama, dalam hitungan detik genderuwo itu lenyap dari pandangan Karsono.

Keracunan bukan hanya dialami Karsono. Teman dosennya, Raharjo juga mengalami gejala-gejala keracunan. Malam hari Raharjo muntah-muntah. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh. Disusul dengan buang air besar berulangkali. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia tidak ke dokter. Raharjo minum oralit dan paracetamol untuk meredakan nyeri sementara. Ia lantas berbaring istirahat.

Raharjo belum bisa tidur. Berkelebat sosok laki-laki tinggi besar menyeramkan masuk ke kamarnya. Raharjo terkesiap. “Genderuwo,” pikirnya.  Raharjo begitu takut. Tubuh, rambut, dan mata genderuwo itu sungguh menyeramkan. Namun Raharjo tak bisa berkutik. Tubuhnya lelah dan lemas akibat buang air besar berkali-kali.

“Kurang ajar..!!! Bangun gedung seenaknya..!” bentak genderuwo kepada Raharjo.

Raharjo tidak menjawab. Tidak juga bergerak. Dalam hitungan detik genderuwo itu menghilang. Lega perasaan Raharjo. Meskipun ia tak tahu apa yang dimaksud genderuwo itu. Raharjo kembali tenang, meskipun perutnya masih terasa mual. Besok pagi ia rencanakan untuk berobat ke dokter.

Hendrikus, pegawai yang biasa menyiapkan minuman dan selalu siaga di dapur juga tak luput dari keracunan.  Sepulang dari kampus perutnya melilit. Kepalanya pusing. Matanya berkunang-kunang. Hampir setiap dua jam ia buang air besar. Hendrikus sudah menduga ia keracunan. Apalagi ia juga diberitahu Karsono dan Raharjo yang keracunan. Hendrikus minum air kelapa muda yang ia beli dari warung tetangga.

Ketika Hendrikus sedang mengolesi minyak kayu putih di perutnya, ia dikejutkan oleh sosok anak kecil yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya. Muka anak kecil itu pucat. Matanya tajam menatap Hendrikus. “Ini hantu,” pikir Hendrikus.

“Kenapa rumahku dibongkar..?!” kata anak kecil itu.

Hendrikus diam saja. Hantu anak kecil itu menunjukkan wajah memelas. Hendrikus merasa takut, seram, tetapi juga bingung atas perubahan wajah hantu anak kecil. Hendrikus memilih memejamkan mata. Dalam sekejap, ketika matanya terbuka hantu anak kecil itu sudah tak tampak.

Kejadian serupa dialami Sukreni dan Sri Wahyuni. Pegawai administrasi ini mengalami keracunan yang cukup parah. Perutnya mual, buang air besar terus-menerus. Badannya demam. Tubuh terasa lemas dan otot-otot terasa nyeri. Mereka berobat ke Puskesmas dan dinyatakan keracunan minuman dan makanan.

Sukreni dalam tidurnya bermimpi dikejar-kejar kuntilanak. Ia berusaha berlari secepat mungkin. Napasnya tersengal-sengal. Kuntilanak itu mencoba menangkap Sukreni. Suasana sangat menegangkan ketika tiba di jalan buntu, Sukreni berhadap-hadapan dengan kuntilanak.

“Mengapa kamu tidak minta izin membongkar rumahku..?!” tanya kuntilanak sambil membentak.

Sukreni tak berkata sepatah pun. Dia berada salam suasana yang mencekam dan menakutkan. Merasa tak mendapat jawaban, kuntilanak itu marah. Sukreni didorong hingga terjatuh. Dan saat ia terbangun dari tidur, ia sudah berada di lantai. Rupanya ia terjatuh dari tidurnya.

Sedangkan Sri Wahyuni melihat ada hantu pocong di kamarnya. Tentu saja membuat Sri Wahyuni ketakutan. Terdengar suara dengan nada marah dari pocong itu yang menanyakan kenapa rumahnya dibongkar. Bukannya menjawab, Sri Wahyuni malah menggigil ketakutan. Dia memanjatkan doa pengusir setan. Pocong itu pun menghilang.

***

Keracunan bukan hanya diderita oleh dosen dan pegawai yang nongkrong di dapur saja. Banyak pegawai dan dosen yang mengalami gejala-gejala keracunan. Mahasiswa juga ada yang menderita diare dan muntah-muntah. Keracunan massal terjadi di kampus. Dekanat menetapkan kondisi gawat darurat di kampus.

Mereka yang mengalami gejala keracunan diminta untuk melapor ke fakultas dan cek laboratorium dengan biaya dari fakultas. Pegawai, dosen, dan mahasiswa diminta untuk melaporkan minuman dan makanan apa saja yang dikonsumsi saat acara jalan sehat di kampus.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap pegawai, dosen, dan mahasiswa yang keracunan ditemukan adanya bakteri Salmonella, Clostridium Perfringens, dan Campylobacter pada tubuh mereka. Bakteri tersebut yang menyebabkan keracunan. Sumbernya dari minuman dan makanan.

Anehnya, semua sampel minuman dan makanan yang dikirim ke laboratorium semuanya dinyatakan negatif, tidak mengandung unsur bakteri. Lantas mengapa banyak yang keracunan?. Dari mana datangnya bakteri yang menyebabkan keracunan banyak orang?. Ada sesuatu yang misterius. Apa hubungan keracunan dengan pegawai dan dosen yang didatangi genderuwo, kuntilanak, dan pocong?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Tegar Trisnanto salah satu dosen yang tidak keracunan, mendatangi tetangganya Kiai Bisaq yang memiliki kemampuan supranatural. Apa sesungguhnya yang menyebabkan keracunan massal di kampus?

“Para lelembut, makhluk halus yang menghuni kampus marah..,” kata Kiai Bisaq setelah melakukan penerawangan.

“Kenapa mereka marah, Pak Kiai?” tanya Tegar Trisnanto.

“Rumahnya dibongkar.. dibangun gedung baru. Para lelembut itu menghuni bangunan tua di kampus. Mungkin dulu tidak dilakukan semacam doa bersama saat mau membangun gedung baru,” jelas Kiai Bisaq.

“Gimana caranya agar tidak terjadi lagi keracunan massal di kampus?” tanya Tegar.

“Semua peralatan untuk memasak, makan, dan minum di dapur kampus harus dicuci dengan daun kelor selama satu minggu. Ibaratnya ini semacam sterilisasi secara gaib. Setan, iblis, dan jin biasanya menyusup ke makanan dan perlengkapan makan untuk mencederai manusia,” tegas Kiai Bisaq membuat Tegar Trisnanto manggut-manggut.

Dunia medis memang menemukan penyebab keracunan massal di kampus. Namun dimensi alam gaib memberi jawaban apa, siapa, dan mengapa terjadi keracunan massal. Hendrikus dan kawan-kawan setiap hari  mencuci perabotan di dapur kampus dengan daun kelor. Berharap minuman dan makanan yang mereka santap steril secara medis dan gaib.

Meski demikian Hendrikus menganggap persoalan dengan makhluk halus penunggu kampus belum selesai. Memang tidak terjadi lagi keracunan makanan dan minuman di kampus. Akan tetapi makhluk halus itu tetap dapat menggoda dosen, pegawai, dan mahasiswa setiap waktu. Oleh karenanya ia berharap fakultas akan melakukan ruwatan untuk membersihkan kampus dari aura mistis. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong
Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pembuat Gamelan Bali Tak Harus Soroh Pande — Catatan Serasehan Jantra Tradisi Bali

Next Post

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails
Next Post
Bali, di Antara Pesona dan Luka

Bali, di Antara Pesona dan Luka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co