12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta

Chusmeru by Chusmeru
May 29, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

MENJALANI hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) tentu bukan sesuatu yang mendatangkan kenyamanan bagi seseorang. Banyak persoalan muncul karena LDR, mulai dari rasa rindu berkepanjangan hingga cemburu buta.

Meski demikian, banyak orang melakoni LDR dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah tempat kerja yang berbeda. Pihak laki-laki bekerja di satu kota, sedangkan yang perempuan di kota lain. Hal itu akan berpengaruh pada frekuensi bertemu di antara keduanya.

Bagi yang belum berkeluarga atau masih sendiri, LDR mungkin hanya sebatas menimbun rindu berdua. Namun tidak dengan mereka yang sudah menikah dan dikaruniai anak. Hubungan jarak jauh membuat kerinduan itu bertambah berat lantaran adanya anak-anak mereka.

Kemajuan teknologi komunikasi dianggap mampu mengurangi jarak rindu itu. Telepon pintar kini bisa digunakan untuk panggilan video, sehingga mereka yang LDR masih dapat berbagi kata, senyum, dan canda. Akan tetapi ada yang tak bisa diberikan telepon pintar itu. Belaian lembut suami pada rambut istrinya; atau sentuhan hangat sang ayah pada anak-anaknya.

Begitu pun yang dirasakan Asifa Furoda. Dosen muda di kota Purwokerto. Suaminya, Lintang Pratama juga seorang dosen di Kota Gudeg, Yogya. Mereka sudah hampir tujuh tahun menjalani rumah tangga. Kini mereka memiliki dua orang anak perempuan yang masih kecil; Bulan Dadari masih duduk di taman kanak-kanak, dan Mentari Suminar baru belajar berjalan.

Asifa dan Lintang terpaksa harus LDR. Setiap akhir pekan Lintang pulang ke Purwokerto atau Asifa dan kedua anaknya yang ke Yogya. Salah satu dari mereka belum bisa pindah tugas agar dapat tinggal bersama, karena mereka baru lima tahun mengabdi sebagai dosen. Kelak jika sudah mengabdi lebih dari sepuluh tahun, salah satu dari mereka dapat mengajukan pindah tugas.

Masing-masing kini tinggal di rumah kontrakan. Akibat LDR, mereka belum dapat menabung untuk membeli rumah. Mereka belum tahu nantinya akan menetap di Yogya atau di Purwokerto. Selain itu, keuangan mereka juga terganggu oleh LDR, karena setiap minggu mereka harus mengeluarkan biaya tiket perjalanan dari Purwokerto ke Yogya, dan sebaliknya. Asifa dan dua anaknya yang lebih sering berkunjung ke Yogya, karena pekerjaan suaminya begitu padat, sehingga sulit mencari waktu untuk ke Purwokerto.

                                         ***

Jumat siang Asifa Furoda bersama dua orang anaknya sudah berada di atas kereta api menuju Yogya. Mereka menggunakan kereta kelas ekonomi untuk efisiensi biaya. Lama perjalanan dari stasiun Purwokerto hingga Lempuyangan, Yogya berkisar 2 jam 30 menit.

Sebetulnya tidak nyaman menggunakan kereta kelas ekonomi. Tempat duduknya tidak dapat disetel. Selain itu kursinya juga berhadap-hadapan dengan penumpang lain. Hampir di setiap stasiun yang terlewati, kereta akan berhenti.  Namun bagaimana lagi, kereta kelas eksekutif yang nyaman harga tiketnya jauh lebih mahal.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, kereta berhenti di stasiun Kebumen. Stasiunnya tidak terlalu besar, tetapi selalu banyak penumpang yang naik. Kereta hanya berhenti sekitar lima menit. Para penumpang bergegas mencari nomor tempat duduknya.

Seorang penumpang wanita tua duduk di hadapan Asifa dan anaknya. Dari cara berjalan, diperkirakan usia wanita itu sekitar 70 tahun. Mengenakan kebaya coklat dan kerudung hitam, wanita tua itu langsung duduk. Tak banyak bicara. Bahkan ia tidak melempar senyum kepada Asifa dan anaknya.

Sepanjang perjalanan wanita itu terdiam. Matanya memandang ke luar jendela kereta. Asifa ingin menyapa dan bertanya, tapi ia urungkan. Anaknya Bulan Dadari sempat mencolek Asifa, memberi isyarat tentang penumpang wanita itu. Pada saat bersamaan, wanita itu menatap mereka. Namun tatapannya kosong. Menyeramkan. Bulan Dadari kembali mencolek Asifa sambil membuat gerakan tanda ketakutan.

Asifa mencoba menenangkan Bulan. Sedangkan Mentari Suminar tertidur pulas sejak kereta baru berangkat tadi. Wanita itu kembali memandang ke luar jendela kereta. Asifa sempat melihat sekilas ujung bibir wanita itu yang tampak merah. Sepertinya wanita itu baru saja menginang, yaitu mengunyah campuran daun sirih, pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau. Biasanyamenginang dilakukan oleh wanita zaman dahulu atau wanita di pedesaan.

Kereta berhenti di stasiun Wates. Wanita itu berdiri dan berjalan menuju pintu kereta. Tidak permisi kepada Asifa, tidak menyapa, senyum pun tidak. Asifa hanya mencium aroma kinang sepeninggal wanita tua tersebut. Dari atas kereta Asifa mengamati lewat jendela kaca langkah wanita itu menuju pintu ke luar stasiun. Betapa terkejut Asifa saat persis di depan pintu keluar, wanita itu menghilang.

“Jangan-jangan… Jangan-jangan.. penumpang wanita itu hantu,” kata Asifa dalam hati.

“Nenek tadi seram ya, Bu,” ucap Bulan saat melihat Asifa seperti melamun.

Asifa tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala. Masih penasaran ia pada hilangnya wanita itu di pintu keluar stasiun. Asifa juga heran atas sikap wanita itu di atas kereta. Tak sepatah kata pun diucapkan. Hanya pandangan matanya yang agak menyeramkan.

Kejadian serupa terulang pada hari Jumat berikutnya. Asifa bersama dua anaknya menuju Yogya untuk berkumpul bersama suaminya. Saat kereta berhenti di stasiun Kebumen, wanita tua berkebaya coklat naik dan kembali duduk di hadapan Asifa.

Wajah wanita itu tampak pucat. Asifa merasa takut melihatnya. Begitu pula Bulan. Ia menyembunyikan wajahnya di balik kerudungnya agar tak melihat wanita itu. Sedangkan adiknya, Mentari sempat menangis ketakutan ketika wanita itu baru saja duduk.

Sama seperti minggu yang lalu, wanita itu duduk tanpa ekspresi, tanpa suara. Matanya selalu menatap ke luar jendela kereta. Begitu pandangan matanya tertuju pada Asifa dan dua anaknya, Mentari menjerit ketakutan. Ia menagis keras.

Asifa mencoba menenangkannya. Penumpang di kursi lain menoleh ke tempat duduk Asifa, seolah terganggu oleh tangisan keras Mentari.. Sedangkan wanita tua itu mengalihkan pandangannya ke jendela kereta.

Tiba di stasiun Wates, wanita itu beranjak turun. Asifa kembali memperhatikan sosok wanita itu. Tepat di pintu keluar stasiun, wanita itu menghilang. Asifa kembali terkejut. Mengapa wanita itu bisa menghilang, pikirnya. Asifa dan dua anaknya masih diliputi ketakutan. Mentari sesekali terisak, menahan tangis keras dari tadi.

“Kenapa putrinya, Bu?” tanya penumpang sebelah yang merasa penasaran atas tangisan Mentari.

“Takut sama nenek tadi,” jawab Asifa sambil menunjuk bekas tempat duduk wanita itu.

“Nenek yang mana..?” tanya penumpang itu kembali.

“Nenek yang duduk di depan kami tadi,“ jelas Asifa.

“Nggak ada penumpang yang duduk di depan kursi Ibu,” kata penumpang itu.

“Hahh..?!” Asifa kaget. Begitu pun Bulan.

“Dari tadi kursi di depan Ibu kosong, nggak ada yang menempati,” tambah penumpang itu.

Asifa terdiam. Ia merinding. Bulu kuduknya berdiri. Wanita itu ternyata bukan penumpang biasa. Wanita tua itu hantu yang ada di dalam kereta. Tapi mengapa wanita itu selalu naik dan turun di jalur yang sama? Naik dari Kebumen dan turun di Wates.

***

Perasaan mencekam menghantui Asifa Furoda dan anaknya. Dua kali naik kereta api selalu menjumpai penumpang wanita tua misterius. Asifa tak habis pikir, mengapa ia selalu duduk di hadapannya. Kenapa tidak duduk di kursi yang lain.

Suasana mencekam bukan hanya dirasakan Asifa saat naik kereta api. Ketika menjelang magrib di rumah kontrakannya, Asifa dikagetkan dengan sosok wanita tua yang ia temui di kereta tiba-tiba muncul di ruang tamu. Asifa nyaris berteriak. Namun ia segera menyadari bahwa yang ia lihat adalah hantu wanita tua. Cepat-cepat ia membaca doa. Seketika wanita itu hilang dari pandangannya.

Bukan hanya di rumah muncul penampakan wanita tua. Ketika Asifa sedang mengajar mata kuliah Komunikasi Persuasif, sosok wanita tua muncul duduk di kursi paling belakang. Tak satu pun mahasiswa yang melihatnya. Hanya Asifa yang dengan jelas melihat wanita itu duduk dengan tatapan tajam tertuju padanya.

Asifa merinding. Mengapa hantu wanita tua yang ia temui di kereta muncul juga di kampus? Asifa tak habis pikir. Berkali-kali ia mengusap lengan tangan dan lehernya yang terasa dingin dan merinding. Ini sudah keterlaluan, pikirnya.

Asifa memutuskan untuk mendatangi seorang kiai yang dipercaya dapat mengatasi gangguan makhluk halus. Berkat karomah yang dimiliki kiai tersebut, misteri wanita tua itu dapat terungkap. Menurut sang kiai, wanita tua itu tinggal di Kebumen, namun berdagang kain di pasar Wates. Jadi dia sering mondar-mandir naik kereta api dengan jalur yang sama. Namun naas, pada suatu malam wanita itu menjadi korban perampokan dan pembunuhan. Wanita itu tewas di tangan perampok di rumahnya.

“Tapi mengapa arwah wanita itu selalu mengikuti saya?” tanya Asifa penasaran pada sang kiai.

“Mungkin karena kamu mirip dengan anak perempuannya,” jelas sang kiai.

Asifa justru menjadi merinding ketakutan. Ia takut akan selalu didatangi hantu wanita tua itu.

“Bagaimana biar dia tidak mengikuti saya terus?” tanya Asifa.

“Coba kamu selalu membawa perlengkapan menginang selama satu minggu, ke mana pun kamu pergi. Mudah-mudahan ia tidak lagi mengikutimu,” ujar sang kiai.

Asifa tak mengerti apa alasan sang kiai menyarankan hal semacam itu. Ia menuruti saja. Asifa percaya sang kiai pasti memiliki mata batin untuk menolak gangguan makhluk halus. Tak masalah bagi Asifa untuk selalu membawa perlengkapan menginang.

Saat ke kampus, Asifa membawa bungkusan daun sirih, pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau. Bungkusan itu dia bawa juga saat mengajar di kelas. Asifa menjadi lebih tenang mengajar, karena arwah wanita tua itu tidak lagi muncul di kelas.

Begitu pun ketika naik kereta api bersama kedua anaknya, Asifa membawa bungkusan perlengakapan menginang. Asifa dapat menikmati tidur nyenyak selama perjalanan. Wanita tua itu tak lagi tampak. Namun ia tetap berdebar-debar setiap kereta berhenti di jalur yang biasa dinaiki wanita tua itu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Kampusku Sarang Hantu [10]: Cemburu pada Khodam Perempuan
Kampusku Sarang Hantu [9]: Mahasiswi yang Duduk di Pojok Kantin
Kampusku Sarang Hantu [8]: Mobil Bergoyang Tengah Malam
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sunyi yang Melawan dan Hal-hal yang Kita Bayangkan tentang Hidup : Film “All We Imagine as Light”

Next Post

Uji Coba Vaksin, Kontroversi Agenda Depopulasi versus Kultur Egoistik Masyarakat

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Uji Coba Vaksin, Kontroversi Agenda Depopulasi versus Kultur Egoistik Masyarakat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co