4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas

Chusmeru by Chusmeru
June 5, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

TAHUN anggaran ini fakultas menerima lima pegawai baru. Mereka adalah Pawit, Hendra, Yitno, Ranto, dan Didin. Sebetulnya fakultas mengajukan sepuluh calon pegawai. Namun karena kebijakan pemerintah terkait efisiensi anggaran, hanya lima orang yang disetujui.

Penambahan pegawai baru itu terkait dengan volume pekerjaan di fakultas yang semakin bertambah. Apalagi kini fakultas memiliki beberapa gedung baru, sehingga memerlukan tambahan pegawai. Jumlah pegawai yang ada saat ini tidak lagi mampu menanggung beban kerja yang terlalu berat.

Pembagian kerja terhadap kelima pegawai baru segera dilakukan. Mereka semua lulusan SMA dan SMK sehingga ditempatkan di bagian administrasi dan teknisi. Pawit, Hendra, dan Yitno di bagian perlengkapan. Sedangkan Ranto dan Didin di bagian teknik.

Meskipun mempunyai bidang kerja yang berbeda, kelima pegawai baru itu menempati ruang yang sama di sebelah timur gedung utama di lantai satu. Maka tidak heran jika mereka hampir setiap hari bertemu dan mengobrol saat istirahat.

Tempat favorit bagi mereka untuk bertemu adalah di pantry, tempat yang difungsikan dan dianggap oleh para pegawai dengan sebutan dapur. Padahal pantry dan dapur merupakan dua hal yang berbeda.

Pantry merupakan ruangan atau lemari yang digunakan untuk menyimpan makanan, minuman, dan perlengkapan masak. Pantry dapat ditemukan di rumah, kantor, hotel, dan rumah sakit. Biasanya berada dekat dapur atau  sederet dengan dapur.

Di kantor, pantry digunakan karyawan untuk bersantai, berkumpul sejenak sesama karyawan sambil berbincang ringan, serta menyiapkan makan. Biasanya hanya sekadar memanaskan makanan atau membuat makanan dan minuman instan.

Begitu pun pantry di fakultas. Beberapa pegawai nongkrong, ngobrol sambil mengopi dan merokok di depan pantry. Kadang pegawai juga memasak mi instan, menanak nasi, atau membuat rica-rica ayam di dapur yang menyatu dengan pantry.  Kebetulan terdapat pintu keluar, sehingga bisa dibuka ketika ada pegawai yang merokok. Bukan hanya pegawai, beberapa dosen yang baru selesai mengajar kadang juga duduk sambil merokok.

Fakultas menyediakan perlengkapan memasak yang komplet. Karenanya pegawai merasa nyaman saat bekerja. Jika ingin membuat kopi panas telah tersedia kompor gas dan panci untuk memasak air. Jia pegawai belum sarapan, mereka dapat memasak nasi dengan lauk telor ceplok. Biasanya pegawai iuran tiap bulan untuk keperluan masak-memasak di dapur.

***

Ruangan kelima pegawai baru fakultas tidak terlalu jauh dari pantry, hanya berkisar sepuluh meter. Pawit, Hendra, dan Yitno menempati ruang di sebelah kiri pantry, sedangkan Ranto dan Didin di sebelah kanan. Jarak yang dekat dari dapur dan pantry membuat ruangan mereka sering tercium aroma makanan yang sedang dimasak.

Apalagi jika suasana fakultas sedang sepi atau saat sore hari, aroma masakan sangat terasa dari ruang mereka. Terlebih jika malam hari. Mereka memang terbiasa bekerja lembur sampai sore, bahkan malam hari. Menjelang yudisium dan pelepasan mahasiswa atau acara-acara seperti dies natalis fakultas membuat mereka harus kerja lembur menyiapkan perlengkapan kegiatan esok harinya.

Hari ini mereka kembali bekerja hingga sore menjelang malam. Pawit dan Hendra menata kursi di dalam aula fakultas yang akan digunakan acara yudisium besok. Ranto dan Didin sedang mempersiapkan mikrofon yang kadang ngadat ketika digunakan. Di tengah kesibukan Ranto dan Didin di ruangan kerja mereka, tercium bau gosong dari arah pantry.

“Bau gosong.. siapa yang memasak di dapur?” tanya Ranto.

Didin bergegas menuju ke dapur untuk melihat masakan apa yang gosong. Namun sampai di dapur ia tak melihat siapa pun sedang memasak. Didin juga tidak melihat ada bekas masakan di atas kompor.

“Nggak ada siapa-siapa,” kata Didin pada Ranto.

“Sekarang malam Jumat Kliwon..,” kata Ranto membuat Didin ketakutan.

Bau gosong yang tercium di malam Jumat Kliwon sering diartikan sebagai hadirnya makhluk halus di sekitar tempat itu. Ranto dan Didin saling pandang. Belum lama ia bekerja sudah harus berhadapan dengan peristiwa aneh di kampus. Mereka cepat-cepat keluar dari ruangan dan berkumpul dengan pegawai lain yang sedang menghias aula.

Kejadian serupa dialami Pawit dan Hendra. Hari yang sama, Kamis Wage malam Jumat Kliwon. Pawit dan Hendra bekerja lembur hingga malam untuk persiapan dies natalis pada dua hari ke depan. Saat itu mereka sedang menyiapkan spanduk untuk dipasang di aula.

Malam yang dingin membuat mereka lapar. Hendra minta kepada Pawit untuk membuat mi instan setelah urusan spanduk selesai. Belum lagi Pawit beranjak ke dapur, mereka mencium bau terasi digoreng. Tercium jelas di hudung mereka yang hanya berjarak lima meter dari arah pantry dan dapur. Padahal mereka tidak melihat seseorang melintas ke pantry.

“Siapa yang menggoreng terasi malam-malam?” tanya Hendra kepada Pawit.

“Coba aku lihat,” kata Pawit sambil berjalan menuju ke dapur.

Pawit sangat terkejut. Ia menghentikan langkahnya menuju dapur. Terlihat sosok perempuan sedang berada di depan kompor. Berambut hitam keriting, perempuan itu memakai daster putih. Pawit tak melihat wajah perempuan itu, karena menghadap kompor. Pawit pun tak meneruskan langkahnya. Siapakah perempuan itu? Apakah dia hantu? Begitu pikir Pawit.

Pawit memutuskan untuk kembali menemui Hendra. Ia tidak ingin hantu perempuan itu membalikkan badan dan melihatnya. Pawit menduga wajah hantu perempuan itu pasti menyeramkan. Apalagi di malam Jumat Kliwon.

“Siapa yang di dapur?” tanya Hendra.

“Hantu..,” jawab Pawit sedikit ketakutan.

“Ah.. yang benar saja…?” Hendra seakan tak percaya.

“Iya.. hantu perempuan!” Pawit meyakinkan Hendra.

Hendra terdiam. Mulutnya terkatup. Tampak wajahnya juga ketakutan. Namun seolah ia tak percaya ada hantu di pantry. Berjingkat ia berjalan menuju dapur. Tidak dilihatnya siapa pun. Hendra tidak melihat hantu perempuan seperti yang dikatakan Pawit. Namun bau terasi goreng masih tercium di sekitar pantry. Merinding juga Hendra.

Munculnya sosok hantu perempuan di pantry fakultas menjadi bahan perbincangan di kalangan pegawai dan dosen. Ada yang percaya, ada pula yang tidak. Tetapi bagi Pawit hantu perempuan itu memang dilihatnya. Terserah bila orang lain tak percaya.

***

Bagi Yitno, cerita teman-teman pegawai tentang hantu perempuan sungguh menciutkan nyalinya untuk bekerja di kampus hingga larut malam. Apalagi bila sendirian. Yitno dikenal sebagai penakut. Jangankan malam hari, siang hari pun jika sedang sendirian ia akan mencari teman lain untuk mengobrol. Oleh karenanya, cerita tentang hantu perempuan yang muncul di pantry membuatnya takut jika berada sendiri di ruang kerjanya.

Namun sial tak bisa ditolak. Ia harus melakukan rekapitulasi barang-barang inventaris fakultas sendirian hingga malam. Ia harus mengerjakan laporan itu di komputer sendirian. Hendra dan Pawit sudah melakukan cek fisik barang inventaris sejak pagi hingga sore. Yitno mendapat tugas menginput data di komputer. Tugas yang rumit, karena harus detail data spesifikasi barang yang diinput.

Yitno baru sadar bahwa hari ini adalah malam Jumat Kliwon, ketika tak sengaja ia melihat kalender yang terpajang di tembok. Sudah pasti Yitno terbayang cerita teman-temannya, sosok hantu perempuan di pantry. Yitno hendak mengakhiri saja pekerjaannya. Ia akan lanjutkan besok saja.

Belum sempat mematikan komputer, Yitno dikejutkan oleh suara orang memasak di dapur fakultas. Terdengar suara spatula yang bergesekan dengan wajan, seolah ada orang yang sedang memasak sayur tumis. Yitno langsung gemetaran. Ini pasti hantu perempuan itu, pikirnya.

Suara gesekan spatula itu semakin keras terdengar. Anehnya, Yitno  mencium bau sayur yang gosong. Padahal belum ada lima menit ia dengar suara orang memasak. Yitno jadi penasaran. Mengapa orang memasak sayur sampai gosong. Rasa takut dan rasa ingin tahunya berbaur yang membuatnya tergerak untuk menuju dapur.

Perlahan Yitno berjalan ke pantry. Ia ingin mengintip terlebih dahulu siapa yang sedang memasak di dapur. Dari balik tembok matanya tertuju ke dapur. Terkejut Yitno ketika terlihat sosok perempuan sedang memasak sayuran. Tangannya gemetaran sambil bersandar di tembok. Dan, ketika perempuan itu tiba-tiba membalikkan badan, detak jantung Yitno seakan berhenti. Wajah perempuan itu rusak, begitu menyeramkan. Keringat dingin bercucuran. Yitno serasa mau pingsan.

Ketakutan Yitno terbawa hingga ke rumah. Badannya menggigil. Perutnya terasa mual. Ia hendak muntah, tapi tak ada yang dimuntahkan. Ia berbaring di tempat tidur. Wajah perempuan yang rusak dan menyeramkan itu masih terbayang. Yitno menyelimuti tubuhnya.

Orang tua Yitno terkejut melihat anaknya pulang kerja dengan badan menggigil. Mereka pikir Yitno terserang demam. Ayah Yitno memegang kening anaknya. Tidak begitu panas. Ia bertanya pada Yitno apa yang terjadi. Yitno pun menceritakan tentang sosok perempuan menyeramkan di dapur fakultas.

Ayah Yitno tidak terkejut. Ia tahu persis seperti apa kampus tempat anaknya bekerja di masa lalu. Kampus yang sekarang berdiri megah gedung-gedung baru, dahulu adalah sawah di dalam hutan. Ayah Yitno sering bermain ke hutan itu untuk mencari kayu bakar dan berburu burung. Hutan itu dikenal angker, banyak dihuni makhluk halus dengan berbagai bentuk.

Ayah Yitno menyarankan agar di pantry dipasang Gunungan wayang kulit. Gunungan dalam pewayangan Jawa digambarkan sebagai hutan belantara dan seisinya sebagai simbol kehidupan. Harapannya, hantu perempuan yang ada di kampus kembali ke alam masa lalunya, di hutan belantara melalui simbol Gunungan.

Esoknya, para pegawai baru di fakultas iuran untuk membeli dua Gunungan dari seorang perajin wayang kulit. Gunungan itu dipasang di tembok kiri dan kanan antara pantry dan pintu masuk dapur. Sepintas memang aneh, Gunungan wayang kulit dipajang di tembok dapur.

Tetapi begitulah. Saran ayah Yitno yang paham tentang simbol-simbol pewayangan dan dunia gaib terbukti. Sejak terpasang Gunungan tidak tercium lagi bau gosong dari arah pantry. Tidak tampak hantu perempuan memasak di dapur. Ia telah kembali ke belantara, ke alam tempatnya bermukim di masa lalu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Definisi untuk Anak Pertama Saya

Next Post

Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co