23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas

Chusmeru by Chusmeru
June 5, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

TAHUN anggaran ini fakultas menerima lima pegawai baru. Mereka adalah Pawit, Hendra, Yitno, Ranto, dan Didin. Sebetulnya fakultas mengajukan sepuluh calon pegawai. Namun karena kebijakan pemerintah terkait efisiensi anggaran, hanya lima orang yang disetujui.

Penambahan pegawai baru itu terkait dengan volume pekerjaan di fakultas yang semakin bertambah. Apalagi kini fakultas memiliki beberapa gedung baru, sehingga memerlukan tambahan pegawai. Jumlah pegawai yang ada saat ini tidak lagi mampu menanggung beban kerja yang terlalu berat.

Pembagian kerja terhadap kelima pegawai baru segera dilakukan. Mereka semua lulusan SMA dan SMK sehingga ditempatkan di bagian administrasi dan teknisi. Pawit, Hendra, dan Yitno di bagian perlengkapan. Sedangkan Ranto dan Didin di bagian teknik.

Meskipun mempunyai bidang kerja yang berbeda, kelima pegawai baru itu menempati ruang yang sama di sebelah timur gedung utama di lantai satu. Maka tidak heran jika mereka hampir setiap hari bertemu dan mengobrol saat istirahat.

Tempat favorit bagi mereka untuk bertemu adalah di pantry, tempat yang difungsikan dan dianggap oleh para pegawai dengan sebutan dapur. Padahal pantry dan dapur merupakan dua hal yang berbeda.

Pantry merupakan ruangan atau lemari yang digunakan untuk menyimpan makanan, minuman, dan perlengkapan masak. Pantry dapat ditemukan di rumah, kantor, hotel, dan rumah sakit. Biasanya berada dekat dapur atau  sederet dengan dapur.

Di kantor, pantry digunakan karyawan untuk bersantai, berkumpul sejenak sesama karyawan sambil berbincang ringan, serta menyiapkan makan. Biasanya hanya sekadar memanaskan makanan atau membuat makanan dan minuman instan.

Begitu pun pantry di fakultas. Beberapa pegawai nongkrong, ngobrol sambil mengopi dan merokok di depan pantry. Kadang pegawai juga memasak mi instan, menanak nasi, atau membuat rica-rica ayam di dapur yang menyatu dengan pantry.  Kebetulan terdapat pintu keluar, sehingga bisa dibuka ketika ada pegawai yang merokok. Bukan hanya pegawai, beberapa dosen yang baru selesai mengajar kadang juga duduk sambil merokok.

Fakultas menyediakan perlengkapan memasak yang komplet. Karenanya pegawai merasa nyaman saat bekerja. Jika ingin membuat kopi panas telah tersedia kompor gas dan panci untuk memasak air. Jia pegawai belum sarapan, mereka dapat memasak nasi dengan lauk telor ceplok. Biasanya pegawai iuran tiap bulan untuk keperluan masak-memasak di dapur.

***

Ruangan kelima pegawai baru fakultas tidak terlalu jauh dari pantry, hanya berkisar sepuluh meter. Pawit, Hendra, dan Yitno menempati ruang di sebelah kiri pantry, sedangkan Ranto dan Didin di sebelah kanan. Jarak yang dekat dari dapur dan pantry membuat ruangan mereka sering tercium aroma makanan yang sedang dimasak.

Apalagi jika suasana fakultas sedang sepi atau saat sore hari, aroma masakan sangat terasa dari ruang mereka. Terlebih jika malam hari. Mereka memang terbiasa bekerja lembur sampai sore, bahkan malam hari. Menjelang yudisium dan pelepasan mahasiswa atau acara-acara seperti dies natalis fakultas membuat mereka harus kerja lembur menyiapkan perlengkapan kegiatan esok harinya.

Hari ini mereka kembali bekerja hingga sore menjelang malam. Pawit dan Hendra menata kursi di dalam aula fakultas yang akan digunakan acara yudisium besok. Ranto dan Didin sedang mempersiapkan mikrofon yang kadang ngadat ketika digunakan. Di tengah kesibukan Ranto dan Didin di ruangan kerja mereka, tercium bau gosong dari arah pantry.

“Bau gosong.. siapa yang memasak di dapur?” tanya Ranto.

Didin bergegas menuju ke dapur untuk melihat masakan apa yang gosong. Namun sampai di dapur ia tak melihat siapa pun sedang memasak. Didin juga tidak melihat ada bekas masakan di atas kompor.

“Nggak ada siapa-siapa,” kata Didin pada Ranto.

“Sekarang malam Jumat Kliwon..,” kata Ranto membuat Didin ketakutan.

Bau gosong yang tercium di malam Jumat Kliwon sering diartikan sebagai hadirnya makhluk halus di sekitar tempat itu. Ranto dan Didin saling pandang. Belum lama ia bekerja sudah harus berhadapan dengan peristiwa aneh di kampus. Mereka cepat-cepat keluar dari ruangan dan berkumpul dengan pegawai lain yang sedang menghias aula.

Kejadian serupa dialami Pawit dan Hendra. Hari yang sama, Kamis Wage malam Jumat Kliwon. Pawit dan Hendra bekerja lembur hingga malam untuk persiapan dies natalis pada dua hari ke depan. Saat itu mereka sedang menyiapkan spanduk untuk dipasang di aula.

Malam yang dingin membuat mereka lapar. Hendra minta kepada Pawit untuk membuat mi instan setelah urusan spanduk selesai. Belum lagi Pawit beranjak ke dapur, mereka mencium bau terasi digoreng. Tercium jelas di hudung mereka yang hanya berjarak lima meter dari arah pantry dan dapur. Padahal mereka tidak melihat seseorang melintas ke pantry.

“Siapa yang menggoreng terasi malam-malam?” tanya Hendra kepada Pawit.

“Coba aku lihat,” kata Pawit sambil berjalan menuju ke dapur.

Pawit sangat terkejut. Ia menghentikan langkahnya menuju dapur. Terlihat sosok perempuan sedang berada di depan kompor. Berambut hitam keriting, perempuan itu memakai daster putih. Pawit tak melihat wajah perempuan itu, karena menghadap kompor. Pawit pun tak meneruskan langkahnya. Siapakah perempuan itu? Apakah dia hantu? Begitu pikir Pawit.

Pawit memutuskan untuk kembali menemui Hendra. Ia tidak ingin hantu perempuan itu membalikkan badan dan melihatnya. Pawit menduga wajah hantu perempuan itu pasti menyeramkan. Apalagi di malam Jumat Kliwon.

“Siapa yang di dapur?” tanya Hendra.

“Hantu..,” jawab Pawit sedikit ketakutan.

“Ah.. yang benar saja…?” Hendra seakan tak percaya.

“Iya.. hantu perempuan!” Pawit meyakinkan Hendra.

Hendra terdiam. Mulutnya terkatup. Tampak wajahnya juga ketakutan. Namun seolah ia tak percaya ada hantu di pantry. Berjingkat ia berjalan menuju dapur. Tidak dilihatnya siapa pun. Hendra tidak melihat hantu perempuan seperti yang dikatakan Pawit. Namun bau terasi goreng masih tercium di sekitar pantry. Merinding juga Hendra.

Munculnya sosok hantu perempuan di pantry fakultas menjadi bahan perbincangan di kalangan pegawai dan dosen. Ada yang percaya, ada pula yang tidak. Tetapi bagi Pawit hantu perempuan itu memang dilihatnya. Terserah bila orang lain tak percaya.

***

Bagi Yitno, cerita teman-teman pegawai tentang hantu perempuan sungguh menciutkan nyalinya untuk bekerja di kampus hingga larut malam. Apalagi bila sendirian. Yitno dikenal sebagai penakut. Jangankan malam hari, siang hari pun jika sedang sendirian ia akan mencari teman lain untuk mengobrol. Oleh karenanya, cerita tentang hantu perempuan yang muncul di pantry membuatnya takut jika berada sendiri di ruang kerjanya.

Namun sial tak bisa ditolak. Ia harus melakukan rekapitulasi barang-barang inventaris fakultas sendirian hingga malam. Ia harus mengerjakan laporan itu di komputer sendirian. Hendra dan Pawit sudah melakukan cek fisik barang inventaris sejak pagi hingga sore. Yitno mendapat tugas menginput data di komputer. Tugas yang rumit, karena harus detail data spesifikasi barang yang diinput.

Yitno baru sadar bahwa hari ini adalah malam Jumat Kliwon, ketika tak sengaja ia melihat kalender yang terpajang di tembok. Sudah pasti Yitno terbayang cerita teman-temannya, sosok hantu perempuan di pantry. Yitno hendak mengakhiri saja pekerjaannya. Ia akan lanjutkan besok saja.

Belum sempat mematikan komputer, Yitno dikejutkan oleh suara orang memasak di dapur fakultas. Terdengar suara spatula yang bergesekan dengan wajan, seolah ada orang yang sedang memasak sayur tumis. Yitno langsung gemetaran. Ini pasti hantu perempuan itu, pikirnya.

Suara gesekan spatula itu semakin keras terdengar. Anehnya, Yitno  mencium bau sayur yang gosong. Padahal belum ada lima menit ia dengar suara orang memasak. Yitno jadi penasaran. Mengapa orang memasak sayur sampai gosong. Rasa takut dan rasa ingin tahunya berbaur yang membuatnya tergerak untuk menuju dapur.

Perlahan Yitno berjalan ke pantry. Ia ingin mengintip terlebih dahulu siapa yang sedang memasak di dapur. Dari balik tembok matanya tertuju ke dapur. Terkejut Yitno ketika terlihat sosok perempuan sedang memasak sayuran. Tangannya gemetaran sambil bersandar di tembok. Dan, ketika perempuan itu tiba-tiba membalikkan badan, detak jantung Yitno seakan berhenti. Wajah perempuan itu rusak, begitu menyeramkan. Keringat dingin bercucuran. Yitno serasa mau pingsan.

Ketakutan Yitno terbawa hingga ke rumah. Badannya menggigil. Perutnya terasa mual. Ia hendak muntah, tapi tak ada yang dimuntahkan. Ia berbaring di tempat tidur. Wajah perempuan yang rusak dan menyeramkan itu masih terbayang. Yitno menyelimuti tubuhnya.

Orang tua Yitno terkejut melihat anaknya pulang kerja dengan badan menggigil. Mereka pikir Yitno terserang demam. Ayah Yitno memegang kening anaknya. Tidak begitu panas. Ia bertanya pada Yitno apa yang terjadi. Yitno pun menceritakan tentang sosok perempuan menyeramkan di dapur fakultas.

Ayah Yitno tidak terkejut. Ia tahu persis seperti apa kampus tempat anaknya bekerja di masa lalu. Kampus yang sekarang berdiri megah gedung-gedung baru, dahulu adalah sawah di dalam hutan. Ayah Yitno sering bermain ke hutan itu untuk mencari kayu bakar dan berburu burung. Hutan itu dikenal angker, banyak dihuni makhluk halus dengan berbagai bentuk.

Ayah Yitno menyarankan agar di pantry dipasang Gunungan wayang kulit. Gunungan dalam pewayangan Jawa digambarkan sebagai hutan belantara dan seisinya sebagai simbol kehidupan. Harapannya, hantu perempuan yang ada di kampus kembali ke alam masa lalunya, di hutan belantara melalui simbol Gunungan.

Esoknya, para pegawai baru di fakultas iuran untuk membeli dua Gunungan dari seorang perajin wayang kulit. Gunungan itu dipasang di tembok kiri dan kanan antara pantry dan pintu masuk dapur. Sepintas memang aneh, Gunungan wayang kulit dipajang di tembok dapur.

Tetapi begitulah. Saran ayah Yitno yang paham tentang simbol-simbol pewayangan dan dunia gaib terbukti. Sejak terpasang Gunungan tidak tercium lagi bau gosong dari arah pantry. Tidak tampak hantu perempuan memasak di dapur. Ia telah kembali ke belantara, ke alam tempatnya bermukim di masa lalu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Definisi untuk Anak Pertama Saya

Next Post

Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Kopernik dan Jejak Timor di Ubud Food Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co