2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon

Chusmeru by Chusmeru
June 12, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SIAPA yang tidak tertarik dengan wanita muda dan cantik? Tubuhnya atletis. Penampilannya selalu necis. Pendidikannya magister. Itulah Mira Yasinta, wanita muda yang sudah tiga tahun menjadi  dosen di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto.

Sebagai dosen muda dan mengutamakan penampilan, gaji Mira Yasinta sebulan lebih dari cukup bila hanya untuk biaya hidup dan perawatan tubuh. Maklum ia masih  tinggal bersama kedua orang tuanya. Mira Yasinta juga masih sendiri, belum menikah. Hari-harinya selain mengajar di kampus,  dihabiskannya dengan bercanda bersama kucing kesayangannya yang berwarna kembang asem.

Sudah cukup lama Mira Yasinta menjomblo. Sementara usianya akan menginjak 29 tahun di bulan Oktober tahun ini. Usia yang masuk kategori rawan bagi wanita yang masih jomblo. Teman-teman kuliahnya sebagian besar sudah menikah dan punya anak.

Sebenarnya Mira bukannya menikmati kesendiriannya. Ia juga ingin punya pendamping hidup, suami yang menyayanginya, lelaki yang dapat memanjakannya. Namun keinginan itu selalu dipertimbangkan dengan matang. Mira tak mau luka lama kembali mengoyak hidupnya.

Entah sudah berapa kali Mira jatuh dalam lubang yang sama, gagal dalam menjalin hubungan dengan pacarnya. Selalu saja karena masalah yang sama. Mira diselingkuhi oleh kekasihnya. Padahal Mira sudah berusaha mempertahankan hubungan dengan tetap setia. Namun kekasihnya selalu menduakan dengan berbagai dalih yang sekadar pembenaran.

Trauma diselingkuhi lagi membuat Mira enggan untuk mencari kekasih baru. Mira mungkin bisa  merasa nyaman-nyaman saja dengan kesendiriannya. Namun tidak dengan kedua orang tuanya. Mereka berharap Mira segera menikah dan punya anak. Menimang cucu adalah dambaan setiap orang tua. Atas pertimbangan itulah Mira kembali berpikir untuk memiliki kekasih.

Ternyata tidak mudah memiliki kekasih di usianya itu. Kebanyakan laki-laki rekan kerjanya yang usianya di atas 30 tahun sudah menikah. Sedangkan untuk mendapatkan kekasih yang lebih muda darinya, Mira kurang suka. Ia lebih suka lelaki yang lebih tua darinya. Meskipun itu tidak menjamin kedewasaan laki-laki.

Tidak sedikit teman Mira yang ikut membantu menemukan jodoh untuknya. Tetapi sampai saat ini belum membuahkan hasil. Pernah rekan kerjanya Alfa Rosdiana mengenalkan seorang lelaki kepada Mira. Namun Mira kurang tertarik. Lelaki itu memang berlimpah materi, tetapi di mata Mira tidak cukup itu saja. Lelaki itu tampak kurang matang dalam pendirian dan sedikit kurang macho.

Mira Yasinta tetap membuka diri bagi kehadiran lelaki. Berbagai ikhtiar juga dilakukan. Melalui teman-teman kuliahnya maupun melalui media sosial miliknya. Kadang ia unggah berbagai kegiatan di kampus maupun di rumah ke media sosial miliknya. Banyak cerita teman-temannya yang mendapatkan jodoh dari berkenalan di media sosial.

***

Mira Yasinta dikejutkan oleh usulan teman kerjanya, Alfa Rosdiana. Usulan Alfa bagi Mira tampak tidak masuk akal. Alfa menyarankan Mira untuk mendatangi Eyang Brojo, seorang paranormal dan pelaku kebatinan yang terkenal di kota Purwokerto. Eyang Brojo banyak dimintai tolong orang yang memiliki masalah di bidang karir maupun jodoh. Banyak yang terkabul permintaannya.

“Ini kan ikhtiar juga Mira..,” kata Alfa meyakinkan ketika Mira kurang setuju.

“Tapi kenapa harus ke paranormal?” protes Mira.

“Paranormal kan hanya perantara saja Mir. Dia tetap memohon kepada Tuhan,” kata Alfa kembali meyakinkan.

Mira berpikir cukup lama sebelum akhirnya ia setuju pada usulan Alfa. Mereka berdua mendatangi padepokan Eyang Brojo yang terletak di sebelah utara kota, tak jauh dari kampus. Seperti sudah paham maksud kedatangan mereka, Eyang Brojo segera bertanya sambil tersenyum.

“Siapa yang belum berjodoh?” tanya paranormal itu.

Mira tertunduk malu, kemudian berkata, “Saya, Eyang!”

Eyang Brojo memandangi Mira, seolah sedang membaca aura dalam diri Mira. Sejenak Eyang Brojo memejamkan mata. Menerawang masa depan kehidupan Mira. Eyang Brojo menghela nafas. Kali ini wajahnya tampak serius.

“Jodohmu sudah dekat. Tapi kamu harus mandi kembang dulu,” kata Eyang Brojo.

“Mandi kembang..?” tanya Mira kaget. Ia tak paham apa yang dimaksud Eyang Brojo.

“Iya.. mandi kembang malam Selasa Kliwon,” jawab Eyang Brojo.

Mira masih belum mengerti. Eyang Brojo pun menjelaskan, bahwa Mira harus mandi kembang catur warna atau empat jenis kembang, yaitu mawar, cempaka, kenanga, dan melati. Air untuk mandi juga harus berupa catur toya atau air yang bersumber dari empat mata air. Kemudian membakar dupa papat atau empat. Semua serba empat, yang bermakna berkat dan dapat.

Menurut Eyang Brojo, mandi kembang adalah ikhtiar untuk mendekatkan jodoh Mira. Semua sarana untuk mandi, baik berupa kembang, dupa, maupun airnya sudah disiapkan Eyang Brojo. Di rumah Mira hanya tinggal melakukan ritual mandi kembang yang harus dikerjakan pada pukul 00.00 atau tepat tengah malam, menjelang Selasa Kliwon. Malam Selasa Kliwon di Jawa disebut juga Anggoro Kasih, malam yang tepat untuk ritual berkaitan dengan asmara.

“Bagaimana? Sanggup?” tanya Eyang Brojo ketika melihat Mira tampak ragu.

“Saya coba, Eyang..,” jawab Mira.

“Nanti setelah mandi kamu akan bermimpi ketemu jodohmu,” tambah Eyang Brojo.

Mira hanya mengangguk saja. Ia belum bisa membayangkan bagaimana harus mandi kembang di tengah malam yang keramat. Sebagai dosen sebenarnya ia agak kurang percaya pada ritual seperti itu. Namun ia juga tidak memungkiri adanya ikhtiar yang dapat ditempuh dengan banyak cara.

***

Hari yang dinanti tiba. Malam Selasa Kliwon. Mira Yasinta menyiapkan perlengkapan mandi kembang. Hening tengah malam membuat Mira merasa merinding. Apalagi saat ia membakar empat dupa. Asap dan aroma dupa menjadikan suasana malam kian mencekam. Semua Mira lakukan dengan harapan jodohnya semakin dekat, sehingga ia tak lagi menyandang status jomblo.

Ritual mandi kembang berakhir pukul 01.00 dini hari. Mira merasa mengantuk berat. Matanya tak bisa diajak kompromi. Setelah mengeringkan rambutnya, Mira segera beranjak tidur. Suasana mencekam masih ia rasakan saat perlahan ia terlelap.

Mimpi seperti yang disampaikan Eyang Brojo terbukti. Mira bertemu dengan seorang lelaki tampan yang memperkenalkan diri sebagai Dino Bastian. Pertemuan itu terjadi di sebuah pantai di Thailand. Dino Bastian adalah seorang pengusaha muda pemilik tambang batubara di berbagai daerah di Indonesia.

Mira Yasinta dan Dino Bastian berlayar menuju Hong Kong dengan menggunakan yacht. Laut lepas menjadi saksi kisah cinta mereka. Suasana romantis mengundang mereka untuk berkencan di atas perahu yacht itu. Penuh mesra Dino Bastian memeluk dan mencium Mira Yasinta. Namun ada yang janggal dirasakan Mira. Ciuman Dino terasa sangat dingin di bibir Mira, sedingin air dari dalam lemari es.

Mira tak sempat menanyakan kepada Dino. Ia keburu bangun tidur. Hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Mira bangun kesiangan. Mimpi itu begitu nyata. Bibir Mira masih terasa dingin. “Apakah aku akan bertemu dengan lelaki bernama Dino Bastian itu?” tanya Mira dalam hati.

Bukan hanya muncul dalam mimpi. Saat berada di kampus, Mira dikejutkan oleh kehadiran Dino Bastian yang memandangnya dari kaca di luar pintu ruang kerjanya. Dino tersenyum sangat menawan. Namun ketika Mira hendak menghampirinya, Dino mendadak menghilang. Mira kaget. Ia sedang tidak bermimpi. Baru saja ia melihat Dino. Mengapa menghilang?

Mira merinding. Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya semalam lantas muncul di kampus, dan tiba-tiba menghilang. Mira penasaran. Ia segera membuka mesin pencarian di laptopnya. Diketiknya nama Dino Bastian. Betapa terkejut Mira. Muncul beberapa berita online yang mengabarkan kematian pengusaha batubara bernama Dino Bastian.

Mulut Mira menganga menahan histeris. Ia baca satu per satu berita itu. Dikabarkan Dino Bastian tewas setelah mengalami kecelakaan yacht saat liburan bersama kekasihnya di sebuah pantai di Thailand. Tubuh Mira lemas. Jadi lelaki tampan yang berkencan dengannya dalam mimpi ternyata sudah meninggal.

***

Mira Yasinta dan Alfa Rosdiana kembali mendatangi padepokan Eyang Brojo. Mira menceritakan segalanya. Ia sudah melakukan ritual mandi kembang malam Selasa Kliwon. Ia juga sudah bermimpi bertemu lelaki tampan bernama Dino Bastian. Tetapi ternyata lelaki itu telah meninggal dunia.

Eyang Brojo juga ikut terkejut. Ia tidak menduga dengan apa yang dialami Mira. Baru pertama kali Eyang Brojo mendapat cerita seperti ini dari orang-orang yang meminta pertolongannya. Karena itu Eyang Brojo kembali menerawang.

“Sepertinya ada yang keliru dari alur jodohmu,” kata Eyang Brojo kepada Mira.

“Maksudnya apa, Eyang?” tanya Mira.

“Itu bukan jodohmu. Kamu tersesat dalam mimpi yang salah,” jelas Eyang Brojo.

“Terus bagaimana, Eyang?” tanya Mira kebingungan.

“Kamu harus mengulang kembali mandi kembang malam Selasa Kliwon. Tapi sekarang dengan kembang panca warna,” kata Eyang Brojo.

“Hahh… mandi kembang lagi..?!” tanya Mira kaget.

Mira tak dapat berkutik. Ia sudah terlanjur masuk dalam dunia paranormal. Bulan berikutnya, di hari malam Selasa Kliwon, Mira kembali melakukan ritual mandi kembang. Kali ini ada tambahan bunga yang ia pakai mandi, yaitu bunga kamboja. Dupa yang ia bakar juga berubah menjadi lima buah. Air yang dipakai mandi berasal dari lima sumber mata air. Semua serba lima, yang bermakna peromohan diterima.

Bukan hanya itu. Mira juga mengajak sahabatnya, Alfa Rosdiana untuk menemani di rumahnya. Mira tak ingin berada dalam suasana mencekam sendirian. Ia takut mandi kembang yang kedua akan muncul kejadian yang menyeramkan.

Suasana menegangkan memang sempat terjadi ketika Mira membakar dupa dan mulai membasahi tubuhnya dengan kembang lima rupa. Namun semua Mira kerjakan dengan semangat menjemput jodoh. Mira yakin saran Eyang Brojo kali ini akan membuahkan hasil.

Sesaat setelah mandi kembang Mira tertidur. Mira terbangun pukul 06.00 pagi. Ia tidur begitu lelap. Tetapi ia tidak mimpi apa pun. Mira tidak mimpi bertemu lelaki. Apakah karena ia tidur ditemani Alfa? Atau apakah ada yang salah dalam ritual mandi kembang semalam? Mira hanya menebak-nebak saja.

Mira memang tidak bermimpi lagi. Ia kini berada di dunia nyata. Dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan di satu kafe, Mira bertemu dengan seorang lelaki. Galang Mahesa Yudha, begitu lelaki tampan dan kalem itu memperkenalkan diri. Mira seperti menemukan perpaduan dua artis  idolanya pada diri Galang Mahesa Yudha. Wajahnya mirip sekali dengan Harry Potter dan Justin Bieber.

Galang Mahesa Yudha seorang wirausaha muda. Dia sedang merintis usaha agrobisnis dan agrowisata. Galang bermaksud menjalin kerjasama dengan Mira yang punya kepakaran di bidang promosi dan pemasaran. Setelah dari kafe, hari-hari berikutnya Galang dan Mira sering bertemu untuk membahas bentuk kerjasama selanjutnya.

Berawal dari kerjasama itulah, Galang dan Mira melanjutkan kesepakatan untuk menjalin hubungan asmara. Tentu saja sukacita tumbuh di hati Mira. Meski mereka belum memutuskan untuk segera menikah. Mira berharap Galang bukan kekasih dalam sekejap. Mira juga berharap tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang Sedang Disulam Gus Ade? — Sebuah Refleksi Liar Atas Karya Gusti Kade

Next Post

LELUHUR JAGUNG

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LELUHUR JAGUNG

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co