13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon

Chusmeru by Chusmeru
June 12, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SIAPA yang tidak tertarik dengan wanita muda dan cantik? Tubuhnya atletis. Penampilannya selalu necis. Pendidikannya magister. Itulah Mira Yasinta, wanita muda yang sudah tiga tahun menjadi  dosen di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto.

Sebagai dosen muda dan mengutamakan penampilan, gaji Mira Yasinta sebulan lebih dari cukup bila hanya untuk biaya hidup dan perawatan tubuh. Maklum ia masih  tinggal bersama kedua orang tuanya. Mira Yasinta juga masih sendiri, belum menikah. Hari-harinya selain mengajar di kampus,  dihabiskannya dengan bercanda bersama kucing kesayangannya yang berwarna kembang asem.

Sudah cukup lama Mira Yasinta menjomblo. Sementara usianya akan menginjak 29 tahun di bulan Oktober tahun ini. Usia yang masuk kategori rawan bagi wanita yang masih jomblo. Teman-teman kuliahnya sebagian besar sudah menikah dan punya anak.

Sebenarnya Mira bukannya menikmati kesendiriannya. Ia juga ingin punya pendamping hidup, suami yang menyayanginya, lelaki yang dapat memanjakannya. Namun keinginan itu selalu dipertimbangkan dengan matang. Mira tak mau luka lama kembali mengoyak hidupnya.

Entah sudah berapa kali Mira jatuh dalam lubang yang sama, gagal dalam menjalin hubungan dengan pacarnya. Selalu saja karena masalah yang sama. Mira diselingkuhi oleh kekasihnya. Padahal Mira sudah berusaha mempertahankan hubungan dengan tetap setia. Namun kekasihnya selalu menduakan dengan berbagai dalih yang sekadar pembenaran.

Trauma diselingkuhi lagi membuat Mira enggan untuk mencari kekasih baru. Mira mungkin bisa  merasa nyaman-nyaman saja dengan kesendiriannya. Namun tidak dengan kedua orang tuanya. Mereka berharap Mira segera menikah dan punya anak. Menimang cucu adalah dambaan setiap orang tua. Atas pertimbangan itulah Mira kembali berpikir untuk memiliki kekasih.

Ternyata tidak mudah memiliki kekasih di usianya itu. Kebanyakan laki-laki rekan kerjanya yang usianya di atas 30 tahun sudah menikah. Sedangkan untuk mendapatkan kekasih yang lebih muda darinya, Mira kurang suka. Ia lebih suka lelaki yang lebih tua darinya. Meskipun itu tidak menjamin kedewasaan laki-laki.

Tidak sedikit teman Mira yang ikut membantu menemukan jodoh untuknya. Tetapi sampai saat ini belum membuahkan hasil. Pernah rekan kerjanya Alfa Rosdiana mengenalkan seorang lelaki kepada Mira. Namun Mira kurang tertarik. Lelaki itu memang berlimpah materi, tetapi di mata Mira tidak cukup itu saja. Lelaki itu tampak kurang matang dalam pendirian dan sedikit kurang macho.

Mira Yasinta tetap membuka diri bagi kehadiran lelaki. Berbagai ikhtiar juga dilakukan. Melalui teman-teman kuliahnya maupun melalui media sosial miliknya. Kadang ia unggah berbagai kegiatan di kampus maupun di rumah ke media sosial miliknya. Banyak cerita teman-temannya yang mendapatkan jodoh dari berkenalan di media sosial.

***

Mira Yasinta dikejutkan oleh usulan teman kerjanya, Alfa Rosdiana. Usulan Alfa bagi Mira tampak tidak masuk akal. Alfa menyarankan Mira untuk mendatangi Eyang Brojo, seorang paranormal dan pelaku kebatinan yang terkenal di kota Purwokerto. Eyang Brojo banyak dimintai tolong orang yang memiliki masalah di bidang karir maupun jodoh. Banyak yang terkabul permintaannya.

“Ini kan ikhtiar juga Mira..,” kata Alfa meyakinkan ketika Mira kurang setuju.

“Tapi kenapa harus ke paranormal?” protes Mira.

“Paranormal kan hanya perantara saja Mir. Dia tetap memohon kepada Tuhan,” kata Alfa kembali meyakinkan.

Mira berpikir cukup lama sebelum akhirnya ia setuju pada usulan Alfa. Mereka berdua mendatangi padepokan Eyang Brojo yang terletak di sebelah utara kota, tak jauh dari kampus. Seperti sudah paham maksud kedatangan mereka, Eyang Brojo segera bertanya sambil tersenyum.

“Siapa yang belum berjodoh?” tanya paranormal itu.

Mira tertunduk malu, kemudian berkata, “Saya, Eyang!”

Eyang Brojo memandangi Mira, seolah sedang membaca aura dalam diri Mira. Sejenak Eyang Brojo memejamkan mata. Menerawang masa depan kehidupan Mira. Eyang Brojo menghela nafas. Kali ini wajahnya tampak serius.

“Jodohmu sudah dekat. Tapi kamu harus mandi kembang dulu,” kata Eyang Brojo.

“Mandi kembang..?” tanya Mira kaget. Ia tak paham apa yang dimaksud Eyang Brojo.

“Iya.. mandi kembang malam Selasa Kliwon,” jawab Eyang Brojo.

Mira masih belum mengerti. Eyang Brojo pun menjelaskan, bahwa Mira harus mandi kembang catur warna atau empat jenis kembang, yaitu mawar, cempaka, kenanga, dan melati. Air untuk mandi juga harus berupa catur toya atau air yang bersumber dari empat mata air. Kemudian membakar dupa papat atau empat. Semua serba empat, yang bermakna berkat dan dapat.

Menurut Eyang Brojo, mandi kembang adalah ikhtiar untuk mendekatkan jodoh Mira. Semua sarana untuk mandi, baik berupa kembang, dupa, maupun airnya sudah disiapkan Eyang Brojo. Di rumah Mira hanya tinggal melakukan ritual mandi kembang yang harus dikerjakan pada pukul 00.00 atau tepat tengah malam, menjelang Selasa Kliwon. Malam Selasa Kliwon di Jawa disebut juga Anggoro Kasih, malam yang tepat untuk ritual berkaitan dengan asmara.

“Bagaimana? Sanggup?” tanya Eyang Brojo ketika melihat Mira tampak ragu.

“Saya coba, Eyang..,” jawab Mira.

“Nanti setelah mandi kamu akan bermimpi ketemu jodohmu,” tambah Eyang Brojo.

Mira hanya mengangguk saja. Ia belum bisa membayangkan bagaimana harus mandi kembang di tengah malam yang keramat. Sebagai dosen sebenarnya ia agak kurang percaya pada ritual seperti itu. Namun ia juga tidak memungkiri adanya ikhtiar yang dapat ditempuh dengan banyak cara.

***

Hari yang dinanti tiba. Malam Selasa Kliwon. Mira Yasinta menyiapkan perlengkapan mandi kembang. Hening tengah malam membuat Mira merasa merinding. Apalagi saat ia membakar empat dupa. Asap dan aroma dupa menjadikan suasana malam kian mencekam. Semua Mira lakukan dengan harapan jodohnya semakin dekat, sehingga ia tak lagi menyandang status jomblo.

Ritual mandi kembang berakhir pukul 01.00 dini hari. Mira merasa mengantuk berat. Matanya tak bisa diajak kompromi. Setelah mengeringkan rambutnya, Mira segera beranjak tidur. Suasana mencekam masih ia rasakan saat perlahan ia terlelap.

Mimpi seperti yang disampaikan Eyang Brojo terbukti. Mira bertemu dengan seorang lelaki tampan yang memperkenalkan diri sebagai Dino Bastian. Pertemuan itu terjadi di sebuah pantai di Thailand. Dino Bastian adalah seorang pengusaha muda pemilik tambang batubara di berbagai daerah di Indonesia.

Mira Yasinta dan Dino Bastian berlayar menuju Hong Kong dengan menggunakan yacht. Laut lepas menjadi saksi kisah cinta mereka. Suasana romantis mengundang mereka untuk berkencan di atas perahu yacht itu. Penuh mesra Dino Bastian memeluk dan mencium Mira Yasinta. Namun ada yang janggal dirasakan Mira. Ciuman Dino terasa sangat dingin di bibir Mira, sedingin air dari dalam lemari es.

Mira tak sempat menanyakan kepada Dino. Ia keburu bangun tidur. Hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Mira bangun kesiangan. Mimpi itu begitu nyata. Bibir Mira masih terasa dingin. “Apakah aku akan bertemu dengan lelaki bernama Dino Bastian itu?” tanya Mira dalam hati.

Bukan hanya muncul dalam mimpi. Saat berada di kampus, Mira dikejutkan oleh kehadiran Dino Bastian yang memandangnya dari kaca di luar pintu ruang kerjanya. Dino tersenyum sangat menawan. Namun ketika Mira hendak menghampirinya, Dino mendadak menghilang. Mira kaget. Ia sedang tidak bermimpi. Baru saja ia melihat Dino. Mengapa menghilang?

Mira merinding. Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya semalam lantas muncul di kampus, dan tiba-tiba menghilang. Mira penasaran. Ia segera membuka mesin pencarian di laptopnya. Diketiknya nama Dino Bastian. Betapa terkejut Mira. Muncul beberapa berita online yang mengabarkan kematian pengusaha batubara bernama Dino Bastian.

Mulut Mira menganga menahan histeris. Ia baca satu per satu berita itu. Dikabarkan Dino Bastian tewas setelah mengalami kecelakaan yacht saat liburan bersama kekasihnya di sebuah pantai di Thailand. Tubuh Mira lemas. Jadi lelaki tampan yang berkencan dengannya dalam mimpi ternyata sudah meninggal.

***

Mira Yasinta dan Alfa Rosdiana kembali mendatangi padepokan Eyang Brojo. Mira menceritakan segalanya. Ia sudah melakukan ritual mandi kembang malam Selasa Kliwon. Ia juga sudah bermimpi bertemu lelaki tampan bernama Dino Bastian. Tetapi ternyata lelaki itu telah meninggal dunia.

Eyang Brojo juga ikut terkejut. Ia tidak menduga dengan apa yang dialami Mira. Baru pertama kali Eyang Brojo mendapat cerita seperti ini dari orang-orang yang meminta pertolongannya. Karena itu Eyang Brojo kembali menerawang.

“Sepertinya ada yang keliru dari alur jodohmu,” kata Eyang Brojo kepada Mira.

“Maksudnya apa, Eyang?” tanya Mira.

“Itu bukan jodohmu. Kamu tersesat dalam mimpi yang salah,” jelas Eyang Brojo.

“Terus bagaimana, Eyang?” tanya Mira kebingungan.

“Kamu harus mengulang kembali mandi kembang malam Selasa Kliwon. Tapi sekarang dengan kembang panca warna,” kata Eyang Brojo.

“Hahh… mandi kembang lagi..?!” tanya Mira kaget.

Mira tak dapat berkutik. Ia sudah terlanjur masuk dalam dunia paranormal. Bulan berikutnya, di hari malam Selasa Kliwon, Mira kembali melakukan ritual mandi kembang. Kali ini ada tambahan bunga yang ia pakai mandi, yaitu bunga kamboja. Dupa yang ia bakar juga berubah menjadi lima buah. Air yang dipakai mandi berasal dari lima sumber mata air. Semua serba lima, yang bermakna peromohan diterima.

Bukan hanya itu. Mira juga mengajak sahabatnya, Alfa Rosdiana untuk menemani di rumahnya. Mira tak ingin berada dalam suasana mencekam sendirian. Ia takut mandi kembang yang kedua akan muncul kejadian yang menyeramkan.

Suasana menegangkan memang sempat terjadi ketika Mira membakar dupa dan mulai membasahi tubuhnya dengan kembang lima rupa. Namun semua Mira kerjakan dengan semangat menjemput jodoh. Mira yakin saran Eyang Brojo kali ini akan membuahkan hasil.

Sesaat setelah mandi kembang Mira tertidur. Mira terbangun pukul 06.00 pagi. Ia tidur begitu lelap. Tetapi ia tidak mimpi apa pun. Mira tidak mimpi bertemu lelaki. Apakah karena ia tidur ditemani Alfa? Atau apakah ada yang salah dalam ritual mandi kembang semalam? Mira hanya menebak-nebak saja.

Mira memang tidak bermimpi lagi. Ia kini berada di dunia nyata. Dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan di satu kafe, Mira bertemu dengan seorang lelaki. Galang Mahesa Yudha, begitu lelaki tampan dan kalem itu memperkenalkan diri. Mira seperti menemukan perpaduan dua artis  idolanya pada diri Galang Mahesa Yudha. Wajahnya mirip sekali dengan Harry Potter dan Justin Bieber.

Galang Mahesa Yudha seorang wirausaha muda. Dia sedang merintis usaha agrobisnis dan agrowisata. Galang bermaksud menjalin kerjasama dengan Mira yang punya kepakaran di bidang promosi dan pemasaran. Setelah dari kafe, hari-hari berikutnya Galang dan Mira sering bertemu untuk membahas bentuk kerjasama selanjutnya.

Berawal dari kerjasama itulah, Galang dan Mira melanjutkan kesepakatan untuk menjalin hubungan asmara. Tentu saja sukacita tumbuh di hati Mira. Meski mereka belum memutuskan untuk segera menikah. Mira berharap Galang bukan kekasih dalam sekejap. Mira juga berharap tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang Sedang Disulam Gus Ade? — Sebuah Refleksi Liar Atas Karya Gusti Kade

Next Post

LELUHUR JAGUNG

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LELUHUR JAGUNG

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co