23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon

Chusmeru by Chusmeru
June 12, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SIAPA yang tidak tertarik dengan wanita muda dan cantik? Tubuhnya atletis. Penampilannya selalu necis. Pendidikannya magister. Itulah Mira Yasinta, wanita muda yang sudah tiga tahun menjadi  dosen di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto.

Sebagai dosen muda dan mengutamakan penampilan, gaji Mira Yasinta sebulan lebih dari cukup bila hanya untuk biaya hidup dan perawatan tubuh. Maklum ia masih  tinggal bersama kedua orang tuanya. Mira Yasinta juga masih sendiri, belum menikah. Hari-harinya selain mengajar di kampus,  dihabiskannya dengan bercanda bersama kucing kesayangannya yang berwarna kembang asem.

Sudah cukup lama Mira Yasinta menjomblo. Sementara usianya akan menginjak 29 tahun di bulan Oktober tahun ini. Usia yang masuk kategori rawan bagi wanita yang masih jomblo. Teman-teman kuliahnya sebagian besar sudah menikah dan punya anak.

Sebenarnya Mira bukannya menikmati kesendiriannya. Ia juga ingin punya pendamping hidup, suami yang menyayanginya, lelaki yang dapat memanjakannya. Namun keinginan itu selalu dipertimbangkan dengan matang. Mira tak mau luka lama kembali mengoyak hidupnya.

Entah sudah berapa kali Mira jatuh dalam lubang yang sama, gagal dalam menjalin hubungan dengan pacarnya. Selalu saja karena masalah yang sama. Mira diselingkuhi oleh kekasihnya. Padahal Mira sudah berusaha mempertahankan hubungan dengan tetap setia. Namun kekasihnya selalu menduakan dengan berbagai dalih yang sekadar pembenaran.

Trauma diselingkuhi lagi membuat Mira enggan untuk mencari kekasih baru. Mira mungkin bisa  merasa nyaman-nyaman saja dengan kesendiriannya. Namun tidak dengan kedua orang tuanya. Mereka berharap Mira segera menikah dan punya anak. Menimang cucu adalah dambaan setiap orang tua. Atas pertimbangan itulah Mira kembali berpikir untuk memiliki kekasih.

Ternyata tidak mudah memiliki kekasih di usianya itu. Kebanyakan laki-laki rekan kerjanya yang usianya di atas 30 tahun sudah menikah. Sedangkan untuk mendapatkan kekasih yang lebih muda darinya, Mira kurang suka. Ia lebih suka lelaki yang lebih tua darinya. Meskipun itu tidak menjamin kedewasaan laki-laki.

Tidak sedikit teman Mira yang ikut membantu menemukan jodoh untuknya. Tetapi sampai saat ini belum membuahkan hasil. Pernah rekan kerjanya Alfa Rosdiana mengenalkan seorang lelaki kepada Mira. Namun Mira kurang tertarik. Lelaki itu memang berlimpah materi, tetapi di mata Mira tidak cukup itu saja. Lelaki itu tampak kurang matang dalam pendirian dan sedikit kurang macho.

Mira Yasinta tetap membuka diri bagi kehadiran lelaki. Berbagai ikhtiar juga dilakukan. Melalui teman-teman kuliahnya maupun melalui media sosial miliknya. Kadang ia unggah berbagai kegiatan di kampus maupun di rumah ke media sosial miliknya. Banyak cerita teman-temannya yang mendapatkan jodoh dari berkenalan di media sosial.

***

Mira Yasinta dikejutkan oleh usulan teman kerjanya, Alfa Rosdiana. Usulan Alfa bagi Mira tampak tidak masuk akal. Alfa menyarankan Mira untuk mendatangi Eyang Brojo, seorang paranormal dan pelaku kebatinan yang terkenal di kota Purwokerto. Eyang Brojo banyak dimintai tolong orang yang memiliki masalah di bidang karir maupun jodoh. Banyak yang terkabul permintaannya.

“Ini kan ikhtiar juga Mira..,” kata Alfa meyakinkan ketika Mira kurang setuju.

“Tapi kenapa harus ke paranormal?” protes Mira.

“Paranormal kan hanya perantara saja Mir. Dia tetap memohon kepada Tuhan,” kata Alfa kembali meyakinkan.

Mira berpikir cukup lama sebelum akhirnya ia setuju pada usulan Alfa. Mereka berdua mendatangi padepokan Eyang Brojo yang terletak di sebelah utara kota, tak jauh dari kampus. Seperti sudah paham maksud kedatangan mereka, Eyang Brojo segera bertanya sambil tersenyum.

“Siapa yang belum berjodoh?” tanya paranormal itu.

Mira tertunduk malu, kemudian berkata, “Saya, Eyang!”

Eyang Brojo memandangi Mira, seolah sedang membaca aura dalam diri Mira. Sejenak Eyang Brojo memejamkan mata. Menerawang masa depan kehidupan Mira. Eyang Brojo menghela nafas. Kali ini wajahnya tampak serius.

“Jodohmu sudah dekat. Tapi kamu harus mandi kembang dulu,” kata Eyang Brojo.

“Mandi kembang..?” tanya Mira kaget. Ia tak paham apa yang dimaksud Eyang Brojo.

“Iya.. mandi kembang malam Selasa Kliwon,” jawab Eyang Brojo.

Mira masih belum mengerti. Eyang Brojo pun menjelaskan, bahwa Mira harus mandi kembang catur warna atau empat jenis kembang, yaitu mawar, cempaka, kenanga, dan melati. Air untuk mandi juga harus berupa catur toya atau air yang bersumber dari empat mata air. Kemudian membakar dupa papat atau empat. Semua serba empat, yang bermakna berkat dan dapat.

Menurut Eyang Brojo, mandi kembang adalah ikhtiar untuk mendekatkan jodoh Mira. Semua sarana untuk mandi, baik berupa kembang, dupa, maupun airnya sudah disiapkan Eyang Brojo. Di rumah Mira hanya tinggal melakukan ritual mandi kembang yang harus dikerjakan pada pukul 00.00 atau tepat tengah malam, menjelang Selasa Kliwon. Malam Selasa Kliwon di Jawa disebut juga Anggoro Kasih, malam yang tepat untuk ritual berkaitan dengan asmara.

“Bagaimana? Sanggup?” tanya Eyang Brojo ketika melihat Mira tampak ragu.

“Saya coba, Eyang..,” jawab Mira.

“Nanti setelah mandi kamu akan bermimpi ketemu jodohmu,” tambah Eyang Brojo.

Mira hanya mengangguk saja. Ia belum bisa membayangkan bagaimana harus mandi kembang di tengah malam yang keramat. Sebagai dosen sebenarnya ia agak kurang percaya pada ritual seperti itu. Namun ia juga tidak memungkiri adanya ikhtiar yang dapat ditempuh dengan banyak cara.

***

Hari yang dinanti tiba. Malam Selasa Kliwon. Mira Yasinta menyiapkan perlengkapan mandi kembang. Hening tengah malam membuat Mira merasa merinding. Apalagi saat ia membakar empat dupa. Asap dan aroma dupa menjadikan suasana malam kian mencekam. Semua Mira lakukan dengan harapan jodohnya semakin dekat, sehingga ia tak lagi menyandang status jomblo.

Ritual mandi kembang berakhir pukul 01.00 dini hari. Mira merasa mengantuk berat. Matanya tak bisa diajak kompromi. Setelah mengeringkan rambutnya, Mira segera beranjak tidur. Suasana mencekam masih ia rasakan saat perlahan ia terlelap.

Mimpi seperti yang disampaikan Eyang Brojo terbukti. Mira bertemu dengan seorang lelaki tampan yang memperkenalkan diri sebagai Dino Bastian. Pertemuan itu terjadi di sebuah pantai di Thailand. Dino Bastian adalah seorang pengusaha muda pemilik tambang batubara di berbagai daerah di Indonesia.

Mira Yasinta dan Dino Bastian berlayar menuju Hong Kong dengan menggunakan yacht. Laut lepas menjadi saksi kisah cinta mereka. Suasana romantis mengundang mereka untuk berkencan di atas perahu yacht itu. Penuh mesra Dino Bastian memeluk dan mencium Mira Yasinta. Namun ada yang janggal dirasakan Mira. Ciuman Dino terasa sangat dingin di bibir Mira, sedingin air dari dalam lemari es.

Mira tak sempat menanyakan kepada Dino. Ia keburu bangun tidur. Hari sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Mira bangun kesiangan. Mimpi itu begitu nyata. Bibir Mira masih terasa dingin. “Apakah aku akan bertemu dengan lelaki bernama Dino Bastian itu?” tanya Mira dalam hati.

Bukan hanya muncul dalam mimpi. Saat berada di kampus, Mira dikejutkan oleh kehadiran Dino Bastian yang memandangnya dari kaca di luar pintu ruang kerjanya. Dino tersenyum sangat menawan. Namun ketika Mira hendak menghampirinya, Dino mendadak menghilang. Mira kaget. Ia sedang tidak bermimpi. Baru saja ia melihat Dino. Mengapa menghilang?

Mira merinding. Bagaimana mungkin lelaki yang hadir dalam mimpinya semalam lantas muncul di kampus, dan tiba-tiba menghilang. Mira penasaran. Ia segera membuka mesin pencarian di laptopnya. Diketiknya nama Dino Bastian. Betapa terkejut Mira. Muncul beberapa berita online yang mengabarkan kematian pengusaha batubara bernama Dino Bastian.

Mulut Mira menganga menahan histeris. Ia baca satu per satu berita itu. Dikabarkan Dino Bastian tewas setelah mengalami kecelakaan yacht saat liburan bersama kekasihnya di sebuah pantai di Thailand. Tubuh Mira lemas. Jadi lelaki tampan yang berkencan dengannya dalam mimpi ternyata sudah meninggal.

***

Mira Yasinta dan Alfa Rosdiana kembali mendatangi padepokan Eyang Brojo. Mira menceritakan segalanya. Ia sudah melakukan ritual mandi kembang malam Selasa Kliwon. Ia juga sudah bermimpi bertemu lelaki tampan bernama Dino Bastian. Tetapi ternyata lelaki itu telah meninggal dunia.

Eyang Brojo juga ikut terkejut. Ia tidak menduga dengan apa yang dialami Mira. Baru pertama kali Eyang Brojo mendapat cerita seperti ini dari orang-orang yang meminta pertolongannya. Karena itu Eyang Brojo kembali menerawang.

“Sepertinya ada yang keliru dari alur jodohmu,” kata Eyang Brojo kepada Mira.

“Maksudnya apa, Eyang?” tanya Mira.

“Itu bukan jodohmu. Kamu tersesat dalam mimpi yang salah,” jelas Eyang Brojo.

“Terus bagaimana, Eyang?” tanya Mira kebingungan.

“Kamu harus mengulang kembali mandi kembang malam Selasa Kliwon. Tapi sekarang dengan kembang panca warna,” kata Eyang Brojo.

“Hahh… mandi kembang lagi..?!” tanya Mira kaget.

Mira tak dapat berkutik. Ia sudah terlanjur masuk dalam dunia paranormal. Bulan berikutnya, di hari malam Selasa Kliwon, Mira kembali melakukan ritual mandi kembang. Kali ini ada tambahan bunga yang ia pakai mandi, yaitu bunga kamboja. Dupa yang ia bakar juga berubah menjadi lima buah. Air yang dipakai mandi berasal dari lima sumber mata air. Semua serba lima, yang bermakna peromohan diterima.

Bukan hanya itu. Mira juga mengajak sahabatnya, Alfa Rosdiana untuk menemani di rumahnya. Mira tak ingin berada dalam suasana mencekam sendirian. Ia takut mandi kembang yang kedua akan muncul kejadian yang menyeramkan.

Suasana menegangkan memang sempat terjadi ketika Mira membakar dupa dan mulai membasahi tubuhnya dengan kembang lima rupa. Namun semua Mira kerjakan dengan semangat menjemput jodoh. Mira yakin saran Eyang Brojo kali ini akan membuahkan hasil.

Sesaat setelah mandi kembang Mira tertidur. Mira terbangun pukul 06.00 pagi. Ia tidur begitu lelap. Tetapi ia tidak mimpi apa pun. Mira tidak mimpi bertemu lelaki. Apakah karena ia tidur ditemani Alfa? Atau apakah ada yang salah dalam ritual mandi kembang semalam? Mira hanya menebak-nebak saja.

Mira memang tidak bermimpi lagi. Ia kini berada di dunia nyata. Dalam acara yang diselenggarakan sebuah perusahaan di satu kafe, Mira bertemu dengan seorang lelaki. Galang Mahesa Yudha, begitu lelaki tampan dan kalem itu memperkenalkan diri. Mira seperti menemukan perpaduan dua artis  idolanya pada diri Galang Mahesa Yudha. Wajahnya mirip sekali dengan Harry Potter dan Justin Bieber.

Galang Mahesa Yudha seorang wirausaha muda. Dia sedang merintis usaha agrobisnis dan agrowisata. Galang bermaksud menjalin kerjasama dengan Mira yang punya kepakaran di bidang promosi dan pemasaran. Setelah dari kafe, hari-hari berikutnya Galang dan Mira sering bertemu untuk membahas bentuk kerjasama selanjutnya.

Berawal dari kerjasama itulah, Galang dan Mira melanjutkan kesepakatan untuk menjalin hubungan asmara. Tentu saja sukacita tumbuh di hati Mira. Meski mereka belum memutuskan untuk segera menikah. Mira berharap Galang bukan kekasih dalam sekejap. Mira juga berharap tidak akan jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Kampusku Sarang Hantu [14]: Ayam Kampus Bersimbah Darah
Kampusku Sarang Hantu [13]: Cek Khodam Muncul Pocong
Kampusku Sarang Hantu [12]: Anak-Anak Bermain di Sungai Kecil
Kampusku Sarang Hantu [11]: Dosen Tak Kasat Mata
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Apa yang Sedang Disulam Gus Ade? — Sebuah Refleksi Liar Atas Karya Gusti Kade

Next Post

LELUHUR JAGUNG

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

LELUHUR JAGUNG

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co