4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Sedang Disulam Gus Ade? — Sebuah Refleksi Liar Atas Karya Gusti Kade

Vincent Chandra by Vincent Chandra
June 12, 2025
in Ulas Rupa
Apa yang Sedang Disulam Gus Ade? — Sebuah Refleksi Liar Atas Karya Gusti Kade

Gusade

Artikel ini adalah bagian dari tulisan pengantar pameran tunggal perupa Gusti Kade di Dinatah Art House, Singapadu, opening pada tanggal 31 Mei 2025, berlangsung hingga 31 Juni 2025

***

PADA titik dimana gelas kering terisi Budhi Pekertuy dan batang rokok mulai terbakar, setiap seniman (muda) akan berhadapan dengan pertanyaan paling ghoib dalam sejarah seni rupa: “apa alasan material ini dipilih?” Apakah benar, material adalah cara berbahasa sekaligus medan pertarungan tafsir, atau, jangan-jangan hanya kebetulan teknis dan keterbatasan akses di studio? Boleh jadi oleh alam pikiran seniman, hendaknya membaca pilihan material sebagaimana membaca keputusan untuk jatuh cinta pada seseorang. Disana ada pertimbangan, ada insting, ada naluri, namun lebih banyak lagi kecelakaan dan ketaksengajaan.

Ketika Gusti Kade (Gusade) memutuskan berpameran tunggal dengan karya-karya mutakhirnya, pertanyaan ini jadi tampak lebih mendesak untuk saya tanyakan.  Mengapa ia bersikukuh (baca: setia) pada benang sulam, potongan kain, canvas mentah, dan sisa-sisa jejak teknologi pewarna tekstil yang luput dari radar museum?  Apa yang menggerakkan tangan (dan pikirannya), ketika memilih sulam Jembrana sebagai ladang eksplorasi? Bukankah ia sudah cukup lama bermigrasi melintas medium, dari melukis hingga bereksperimen dengan aneka readymade object? Ada apa di balik jebakan kain dan benang, hingga seorang lulusan seni lukis pun rela memagut keruwetan teknik, yang konon dipandang remeh dalam hierarki seni rupa kontemporer?

Karya Gusti Kade (Gusade) | I Kadek Bagaskara

Banyak sudah yang menulis tentang material dan medium dalam seni rupa. Saya senang dengan cara pandang dari salah satunya, semisal Michael Baxandall dalam “The Limewod Sculptors of Renaissance Germany”. Ia menunjukkan betapa pilihan kayu semata-mata bukan masalah teknis, melainkan dunia tanda, bahkan dunia ide. Medium adalah ruang dialog antara ide dan kemungkinan konkret. Ia bukan sekadar kendaraan gagasan, tetapi juga laboratorium di mana gagasan itu diuji, diragukan, bahkan dibontang-banting.

Saya lihat hal yang serupa juga tercermin dalam seluruh lanskap budaya rupa Bali. Kutipan ngorta geles bolak-balik antar kawan-kawan di Gurat Institute menggarisbawahi pula, bahwa material dalam seni dan budaya Bali sesungguhnya terus bergerak dari artefak sakral, menjadi penanda identitas kolektif, hingga akhirnya melintasi batas untuk hadir sebagai ekspresi seni kontemporer. Dengan demikian, material, di tangan seniman, tidak pernah tinggal diam sebagai simbol tunggal–ia senantiasa bernegosiasi, mencari makna baru di setiap zaman dan konteks yang melingkupinya.

Sehingga wajar Gusade sendiri memandang material yang ia olah hari ini sebagai titik temu antara kenangan, tubuh, tangan, dan tafsirnya. Pilihan pada sulaman, pattern/motif/patra, serat kasar, warna tajam nan mentah, semua itu kemudian bukan sekadar spektrum visual, melainkan jejak dari panjang riwayat sejarah yang ia dan keluarganya telah alami, sebut saja satu tradisi yang kini seringkali hanya diwariskan tanpa terlalu banyak tanya.

Pengunjung pameran karya-karya Gus Kade| I Kadek Bagaskara

Yang saya percayai di Bali, material adalah ikhtiar menata dunia. Bahan (medium, ingredients) adalah takdir dan tanda-tanda. Wastra, kain, ukiran, kayu, batu, semua punya makna, harga, dan kelas. Ini berlaku pula pada sulam Jembrana, karya tekstil khas pesisir Bali bagian Barat yang pada awal berkembangnya dipandang sebagai alternatif dari wastra elitis nan adiluuhung, sebagai bagian dalam kepentingan ritus adat dan penanda sosial di kampung. Oleh Gusade, ia justru kini menyeberang menjadi alat tawar di pusaran seni rupa kontemporer.

Sulam Jembrana, dengan segala ke-tidak-proprsional-an bentuk wayangnya, warna-warna komplementer yang mungkin akan membuat pengampu estetika Barat mengerutkan dahi, adalah glitch dalam narasi seni rupa  Bali. Ia tidak benar-benar sakral seperti kain-kain elit kelangenan para trah penguasa, tapi tidak sepenuhnya juga liar. Ia adalah estetika yang bergeser, material yang mencari jalannya sendiri di antara kemapanan dan improvisasi.

Gusti Kade (Gusade) dan karyanya | I Kadek Bagaskara

Lahir dan besar di antara Jembrana dan Kuta, Gusade membawa kisah panjang  yang membentang antara ruang keluarga, derut suara mesin jahit, dan pewarna kain. Ia masuk ke ruang riset, menyoal motif, warna, dan bidang, bukan untuk sekadar menyalin pola, tetapi untuk menginterogasi mengapa pola itu mesti ada, mengapa warna-warna itu mesti tetap bertentangan dalam proses nyalanang warna misalnya, dan mengapa selalu ada ruang kosong baik dalam karya kain maupun relief-relief di Bali.

Dalam kerjanya, sulam Jembrana tak lagi diambil bulat-bulat hanya sebagai pakem visual, tetapi menjadi titik berangkat bahkan meloncat untuknya. Bagaimana mengolah motif tanpa harus takut pada tuduhan menyalahi tradisi? Atau bagaimana agar terbebas dari penjara emosional untuk selalu menarik narasi karyanya pada sulam Jembrana? Gusade, dengan keluguan dan kadang keisengan khas perupa Bali, lalu mencoba menguliti sejarah tradisi tersebut sambil merayakan kebebasan ekspresinya sebagai seniman otonom.

Karya Gusti Kade (Gusade) | I Kadek Bagaskara

Demikian sekelumit tawaran gagasan dalam pameran tunggal perdananya yang ia bingkai dalam tajuk “Tusuk Kusut”. Tajuk ini bagi Gusade bukan sekedar permainan kata. Melainkan idiom yang melumati kegelisahan utamanya hari ini. Kata ‘tusuk’ secara langsung berasosiasi pada teknik sulam yang ia pilih, sementara kata ‘kusut’ sebagai pasangannya dapat terbaca sebagai representasi dari kondisi/ upaya jalin-menjalin memori, tradisi/identitas, dan kreativitasnya yang tampak samar-samar dan sukar ia uraikan secara gamblang selain melalui praktik seni yang ia jalani.

Material, teknik, dan estetika. Kurang lebih tiga aspek utama itu yang ia sasar dan ungkap pada pameran tunggalnya. Praktis seperti ringkasan buku pelajaran. Tapi justru dari kemandekan “praktis” itulah Gusade berangkat. Ia memilih material yang terdekat dalam lingkungannya, gambaran motif yang tak pernah sepenuhnya presisi, warna-warna yang saling menyoal keelokan, dan bidang yang setengah meledak. Sulam Jembrana melalui eksplorasinya menjadi laboratorium visual, medan pengujian dan benturan gagasan.

Mari kita berlama-lama di hadapan karyanya. “Unproportional Patra Punggel” dan “Unproportional Karang Tapel”, sebuah kanvas besar yang dijalin benang dan warna remasol, mengaburkan mana permukaan dan mana yang menonjol, mana yang sengaja ‘dirusak’, mana yang mendamba indah.  Karya ini seperti mengajak kita bertamasya ke ruang di mana teknik sulaman menghadirkan tekstur embos, warna-warna saling tolak namun juga saling tarik, dan ornamen yang tampaknya salah letak.

Gusade tengah menyodorkan tafsir, tentang estetika Bali yang kerap melalui motif-motifnya membangun perasaan repetitif, kadang menjemukan, kadang justru memukau. Pemilihan kontras warna, bukan sekadar untuk memamerkan keterampilan teknis atau kejutan visual. Ia untuk menegaskan “Aku berbeda, dan itu baik-baik saja.” Seperti halnya inspirasi utama Gusade, Sulam Jembrana.

Pada umumnya para dedengkot seni rupa sepakat, material dan medium adalah bahasa. Dalam tangan perupa (atau siapa saja yang berani membongkar preset tradisi), ia adalah kendaraan menuju rung-ruang tafsir yang semakin cair dan luas. Material memang bisa menjadi penjara gagasan, mengulangi lagi mitos dan pakem yang stagnan. Tapi seperti remasol yang tumpah di kanvas, peluangnya justru lahir di tengah kekacauan. Material yang sama, jika dioperasikan dengan cerdas, mampu melampauinya dan membuka jalan pada kemungkinan baru. Oleh   Gusade, material bertransmigrasi makna, dari tekstil sakral, ke tentangan modernitas, ke medan tafsir personal.

Karya Gus Kade dan pengunjung pameran | I Kadek Bagaskara

Maka, karya-karya dalam pameran tunggal Gusade ini bukan lagi menyoal Sulam Jembrana semata, ia tengah jungkirbalik berupaya mendefinisikan praktiknya. Atau lebih tepatnya memilih menjadi dirinya sendiri. Kepada para penikmat seni, ia termenung dan menantang: benarkah yang kita pandang ini “hanya” karya tekstil? Atau, justru ini adalah salah satu model seni rupa kontemporer Bali, yang memilih berumah pada benang, jarum, dan sejarah panjang kain sederhana, yang seraya tak pernah lelah mempersoalkan dirinya sendiri?

Pada berakhirnya hari, Gusade boleh jadi memang tengah menyulam pertanyaannya sendiri-antara identitas, tradisi, dan kemungkinan-kemungkinan baru di medan seni rupa kontemporer Indonesia.

Selamat berpameran dan menerabas kusutnya teka-teki pikiran dan rupa, Gus. [T]

Penulis: Vincent Chandra
Editor: Adnyana Ole

Catatan Pendek Sekali: Pameran Tunggal Naela Ali, The Beauty of The Mundane
Study of Mechanical Reproduction: Melihat Kembali Peran Fotografi Sebagai Karya Seni yang Terbebas dari Konvensi Klasik
Membunyikan Luka, Menghidupkan Diri : Catatan Pameran “Gering Agung” Putu Wirantawan
Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tanah HGB, Kerjasama dan Jaminan Kredit

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon

Vincent Chandra

Vincent Chandra

lahir dan besar di Medan, menempuh pendidikan S1 di Undiksha, Singaraja. Senang menggambar, melukis, menulis, dan terus ingin belajar hal-hal baru.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co