2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membunyikan Luka, Menghidupkan Diri : Catatan Pameran “Gering Agung” Putu Wirantawan

Emi Suy by Emi Suy
May 29, 2025
in Ulas Rupa
Membunyikan Luka, Menghidupkan Diri : Catatan Pameran “Gering Agung” Putu Wirantawan

Pameran Tunggal "Gering Agung" Putu Wirantawan di Bentara Budaya Jakarta

DI masa pandemi, ketika manusia menghadapi kenyataan isolasi yang menggigit dan sakit yang tak hanya fisik tapi juga psikis, banyak dari kita terjerembap dalam keheningan yang mencekam. Rasa sakit menjadi sunyi, tak terdengar, tak terbaca. Dalam suasana seperti itu, mudah bagi seseorang untuk tenggelam, hilang arah, bahkan menyerah pada kematian yang datang diam-diam.

Namun di tengah kesunyian itu, Putu Wirantawan justru memilih jalan sebaliknya. Ia mengolah luka—baik luka pribadi maupun luka kolektif umat manusia—menjadi bunyi, menjadi citra, menjadi warna. Dalam pengasingan, ia tidak larut dalam senyap, tapi justru berkarya tanpa henti. Pameran tunggal “Gering Agung” menjadi bukti nyata bahwa seni adalah daya tahan, bahkan daya hidup. Ia tidak hanya menyembuhkan, tapi juga membebaskan.

Acara pameran tunggal bertajuk “Gering Agung” oleh Putu Wirantawan ini dihadiri oleh beberapa tokoh penting, di antaranya Putu Fajar Arcana yang yang menjadi kurator pada pameran itu, serta Jean Couteau dan Warih Wisatsana yang jadi penulis.

Pada pembukaan pameran itu Inaya Wahid menjadi aktor monolog “Ruang Isolasi” dengan penulis naskah dan sutradara Putu Fajar Arcana.

Ada juga Ni Made Ayu Marthini, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf RI  yang meresmikan pameran.

Pameran diadakan di Bentara Budaya Jakarta, dibuka 29 Mei dan berlangsung hingga 5 Juni 2025.

Medium dari Kekuatan Besar

Sesungguhnya dalam menjalankan praktik seni rupanya, Wirantawan memosisikan dirinya sebagai medium dari kekuatan besar yang berada di luar dirinya. Dalam kosmologi lokal Bali, keyakinan itu disebut sebagai Bhuana Alit dan Bhuana Agung (mikrokosmos dan makrokosmos). Manusia disusun dari elemen-elemen dasar alam semesta seperti: apah (cairan), teja (sinar), bayu (angin), akhasa (udara), dan pertiwi (padat). Elemen-elemen itu tidak hanya membentuk tubuh manusia, tetapi juga menjadi inti dari jagat raya. Penyatuan antara Bhuana Alit dengan Bhuana Agung inilah yang mengantar manusia menuju tahapan Moksa—sebuah kesadaran spiritual yang luhur.

Putu Wirantawan (nomor dua dari kiri) pada pembukaan pameran Gering Agung di Bentara Budaya Jakarta

Pameran ini bukan sekadar peristiwa estetik. Ia adalah perlawanan terhadap mati rasa, terhadap bisu dan lumpuhnya batin. Dalam keterbatasan medium—kertas, pensil, ballpoint, dan tinta cina—Wirantawan justru menemukan kelimpahan spiritual. Medium yang sederhana ini bukanlah kemunduran, melainkan bentuk penyederhanaan yang radikal dan jujur. Dalam sejarah kesenirupaan Bali, alat-alat ini adalah warisan para sangging (seniman tradisi), termasuk maestro I Gusti Nyoman Lempad yang seluruh karyanya diguratkan lewat kertas, pensil, dan tinta cina. Dalam konteks ini, Wirantawan memilih untuk meninggalkan kanvas dan cat minyak bukan sebagai sikap anti-teknik, melainkan sebagai bentuk pelepasan ego dan penemuan kembali akar penciptaan.

“Gering Agung” menjadi kesaksian hidup dari seorang seniman yang bertahan, bertumbuh, dan terus berbunyi di tengah badai. Ia adalah pameran tentang daya hidup manusia, tentang spiritualitas dalam kesendirian, dan tentang ketekunan dalam keterasingan. Dalam setiap guratnya, kita temukan suara jiwa yang tak bisa dibungkam.

Penulis (Emi Suy) di depan lukisan Putu Wirantawan

Putu Wirantawan bersama penulis (Emi Suy)

Terima kasih, Bli Putu, karena telah mengubah kehidupan sosial dan kenyataan mengisolasi perasaan dan batin menjadi ruang kontemplasi. Telah menenun sakit menjadi kemungkinan baru bagi pemulihan jiwa kita bersama. Pameran ini adalah bukti bahwa perlawanan bisa bersenyap, bahwa pembebasan bisa bergambar.

“Sunyi adalah inti”—begitu pernah saya simpulkan dalam perenungan panjang, dan hingga kini pernyataan itu tetap terasa merasuk. Sunyi, bagi saya, bukan sekadar keadaan diam. Ia adalah tempat asal, tempat kembali, dan sumber inspirasi yang membuka arah, jalan, pesan, dan tujuan.

Saya merasakan bahwa sunyi adalah tempat paling dalam dan paling jujur. Ia bukan kesepian, bukan kekosongan. Justru dalam sunyilah saya mampu meraba luka, menyentuh rapuh, dan sekaligus menemukan daya lenting untuk terus bertumbuh. Sunyi bukan kebekuan, melainkan ladang subur tempat kesadaran bertunas dan penciptaan menemukan bentuknya yang paling hakiki.

Dalam terang pemaknaan ini, saya menyandingkan pameran “Gering Agung” karya Putu Wirantawan dengan gagasan “bersunyi” sebagaimana saya pahami dan jalani dalam proses kreatif saya sebagai penyair. Bersunyi, bagi saya, bukan berarti diam. Ia adalah laku batin yang aktif—sebuah perjalanan masuk ke ruang dalam diri, yang justru membuka jalan bagi olah pikir dan olah rasa untuk bekerja lebih dalam dan jujur.

Dalam sunyi, saya kerap berjumpa dengan diri saya yang paling purba—yang luka, yang rapuh, tetapi juga yang lentur dan terus tumbuh. Maka ketika saya menyaksikan karya-karya dalam pameran ini, saya merasa seperti sedang membaca puisi—sunyi yang bersuara, luka yang bicara, dan hidup yang terus mencari jalannya pulih.

Menggambar yang Tak Terucap, Menyuarakan yang Tak Terlihat

Ada sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh bahasa sehari-hari ketika kita berhadapan dengan karya-karya Putu Wirantawan. Ia tidak sedang “menggambar” dalam pengertian teknis semata, melainkan tengah membuka lorong-lorong batin, tempat segala yang tak terucap menemukan wujud. Dalam tiap guratannya, kita tak hanya melihat bentuk, tapi juga merasakan beban—beban pengalaman manusia yang berusaha dipahami, dihadapi, dan pada akhirnya diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup itu sendiri.

Inaya Wahid memainkan Monolog “Ruang Isolasi”

Yang istimewa dari Gering Agung adalah keberaniannya untuk tidak menyembunyikan luka. Sebaliknya, luka-luka itu dipertunjukkan dengan kesadaran penuh, namun bukan untuk mengeksploitasi penderitaan, melainkan untuk mengajak kita bersitatap dengannya. Di sinilah seni menjadi ruang pemurnian: bukan sekadar terapi, tetapi juga spiritualitas. Karya-karya Wirantawan tidak meminta kita untuk mengerti dengan logika, tapi untuk mendengar dengan jiwa.

Saya membayangkan proses menggambar ini seperti seseorang yang duduk hening di hadapan cermin, lalu dengan perlahan mulai menuliskan apa yang selama ini hanya berdesakan di dada. Setiap goresan adalah pengakuan, adalah doa, adalah kemungkinan baru untuk sembuh.

Karya-karya Putu Wirantawan

Dalam dunia yang makin riuh, karya-karya seperti ini mengajak kita kembali pada kebisuan yang menyembuhkan. Bahwa tidak semua harus dikejar, tidak semua harus dijelaskan. Beberapa hal cukup untuk disimak, dirasa, dan dihayati. Gering Agung mengingatkan kita bahwa barangkali yang paling manusiawi dari kita adalah kemampuan untuk tetap lembut, tetap lentur, di tengah gempuran kerasnya hidup.

Dan pada akhirnya, pameran ini bukan hanya tentang karya, tapi tentang kehadiran. Tentang keberanian untuk tetap hadir—di hadapan luka, di hadapan sunyi, dan di hadapan diri sendiri.

Menjaga Nyala di Tengah Gering

Catatan Putu Fajar Arcana:

Saya mengenal Putu Wirantawan bukan saja sebagai seniman visual, tetapi sebagai seorang penekun sunyi. Ia tidak banyak bicara dalam forum-forum ramai, tidak pula tergoda untuk mengejar popularitas dalam dunia seni rupa kontemporer yang kian terjebak pada parade wacana dan gaya. Namun dalam diamnya itu, ia terus menggurat, terus mengolah, terus menyaring pengalaman hidupnya menjadi bentuk-bentuk yang jernih dan mengganggu.

Putu Fajar Arcana, kurator pameran

Pameran Gering Agung memperlihatkan bukan hanya konsistensi teknis, tetapi juga integritas spiritual. Ia adalah catatan atas pergulatan seorang seniman Bali yang memilih jalan laku—bukan sekadar profesi. Dalam kebudayaan Bali, menjadi seniman bukan soal bakat atau karier, tapi bagian dari tapa, bagian dari swadharma. Dan karya-karya Wirantawan memancarkan aura itu: aura orang yang menggambar bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk menyucikan batin.

Yang menarik bagi saya, Wirantawan kembali pada media yang dianggap “sederhana”—kertas, tinta cina, bolpoin. Namun justru dari situ tampak jelas bahwa yang ia kedepankan bukan efek, bukan glamor visual, melainkan gagasan dan getaran batin. Ini mengingatkan saya pada ajaran para tetua Bali yang selalu berkata: “angga sarira prasida dados ulamang”—tubuh manusia itu sendiri bisa menjadi alat penciptaan, ketika bersatu dengan niat yang tulus dan pikiran yang terang.

Saya percaya, dalam karyanya, Wirantawan tidak hanya menampilkan gambar, tetapi menyampaikan karma. Ia menggurat bukan hanya untuk menciptakan bentuk, tetapi juga untuk meletakkan jejak kehidupan. Setiap goresan adalah pengakuan atas keberadaan, dan setiap ruang kosong adalah tempat di mana jiwa manusia bisa istirahat sejenak.

Pameran ini menjadi penting bukan hanya karena kualitas estetiknya, tetapi karena ia hadir sebagai taksu—roh yang hidup dalam karya. Dalam dunia seni yang makin banal dan sibuk mencari sensasi, Gering Agung menjadi oasis. Ia mengingatkan kita pada hal-hal yang esensial: pada keheningan, pada kesungguhan, pada keberanian untuk mengungkapkan luka secara utuh tanpa kamuflase.

Saya ingin menyampaikan hormat saya kepada Putu Wirantawan, yang dalam sunyinya, telah menjaga nyala. Ia menunjukkan bahwa dalam dunia yang sakit, seorang seniman tidak harus teriak, cukup menggurat dengan jujur. Dan dari kejujuran itulah, dunia mungkin bisa menemukan arah pulihnya.

Dari Sunyi, Kita Belajar Mendengar

Karya-karya dalam Gering Agung bukan sekadar untuk dilihat. Ia mengajak kita mendengarkan. Bukan dengan telinga, tapi dengan keheningan dalam diri. Dalam dunia yang cepat, gaduh, dan serba terburu, kehadiran seni seperti ini memberi jeda yang langka—membuka ruang batin agar kita kembali mengenali yang esensial: napas, rasa, jiwa.

Mungkin, inilah sumbangsih paling penting dari pameran ini: ia tidak menawarkan jawaban, tetapi menghadirkan ruang untuk bertanya. Ia tidak memamerkan kemegahan teknis, tetapi menyalakan kesadaran yang halus dan personal. Ia tidak menggurui, tetapi menyentuh. Diam-diam tapi dalam. Hening tapi menghujam.

Karya Putu Wirantawan

Luka yang diguratkan dengan kejujuran menjadi cermin bagi luka kita sendiri. Dan dari cermin itu, barangkali kita bisa mulai belajar memeluk diri kita yang telah lama diabaikan—yang takut, yang lelah, yang rindu sembuh. Seperti Wirantawan yang memilih untuk tetap menggambar dalam gelap, kita pun diajak untuk terus mencipta jalan pulang ke dalam diri.

Terima kasih, Bli Putu, telah menyulam nyeri menjadi narasi, dan menenun keheningan menjadi kemungkinan. Dalam sunyi yang engkau hadirkan, kami belajar mendengar kembali: pada diri, pada dunia, dan pada suara-suara yang lama kami bungkam.

Dan barangkali, dari sanalah kita mulai kembali menjadi manusia sepenuhnya. [T]

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Karya-karya ‘Eka Warna’ Dollar Astawa
Memperingati Seratus Tahun Walter Spies dengan Pameran ROOTS di ARMA Museum Ubud
Menyalakan Kembali Api “Young Artist Style”: Pameran Murid-murid Arie Smit di Neka Art Museum
‘Narasi Naïve Visual’ Ni Komang Atmi Kristia Dewi
Tags: Bentara BudayaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perpres 61 Tahun 2025 Keluar, STAHN Mpu Kuturan Sah Naik Status jadi Institut

Next Post

ft. moreNarra di Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana: “Ya, Biarkan”

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
ft. moreNarra di Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana: “Ya, Biarkan”

ft. moreNarra di Acara “ASMARALOKA”—Album Launch Showcase dari Arkana: “Ya, Biarkan”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co