24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memperingati Seratus Tahun Walter Spies dengan Pameran ROOTS di ARMA Museum Ubud

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 27, 2025
in Pameran
Memperingati Seratus Tahun Walter Spies dengan Pameran ROOTS di ARMA Museum Ubud

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

SERATUS tahun yang lalu, pelukis Jerman kelahiran Moskow, Walter Spies, mengunjungi Bali untuk pertama kalinya. Tak lama kemudian, Bali menjadi rumah barunya hingga ia meninggal secara tragis selama pendudukan Jepang, yakni pada tahun 1942 saat usianya 47 tahun. Di Bali, banyak orang masih mengingatnya hingga saat ini.

Sebut saja Michael Schindhelm, seorang penulis, pembuat film dan aktif sebagai konsultan budaya asal Swiss-Jerma berkolaborasi dengan perupa Made Bayak dan Gus Dark mengelar pameran seni rupa untuk memperingati seratus tahun kepergian Walter Spies. Pameran seni rupa bertajuk “Root” tak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga syarat dengan kritik sosial. Salah satunya, gambaran lingkungan Bali kini, sangat berbeda dengan dulu, ketika Walter Spies menginjakan kaki di Bali.

Pameran yang telah dimulai pada Sabtu, 24 Mei hingga 14 Juni 2025 dikuratori oleh Chiara Turconi dan Yudha Bantono. Michael Schindhelm menampilkan karya seni instalasi, karya grafis, serta cuplikan film dokumenter fiksi ROOTS yang menggambarkan sosok Walter Spies sebagai figur metaforis yang menjelajahi Bali setelah kunjungan pertamanya, dan gambaran Bali kini.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Sementara Made Bayak dan Gus Dark menampilkan karya kontemporer yang mengangkat perjuangan masyarakat Bali dalam melestarikan budaya lokal di tengah tantangan modern. Kedua perupa ini menampilkan karya-karya yang sarat kritik terjadap lingkungan, seperti masalah sumber air, sawah dan lainnya. Karya yang dipamerkan lebih dari 100 karya yang menawarkan pesan yang untuk menjaga lingkungan.

Pameran ini dibagi menjadi beberapa ruang, dan setiap ruang menyajikan karya yang berbeda, lengkap dengan pesan moral yang disampaikan. Pada awalnya memasuki ruang pameran biasa yang menyajikan karya-karya menarik, lengkap dengan karya film yang layar dipasang di tengah-tengah pameran itu. Kemudian memasuki ruang helat yang dibatasi dengan kain hitam tebal. Dalam ruang itu hanya ada layar yang menampilkan karya-karya budaya dulu dan kini.

Di ruang berikutnya seluruh dinding di gambar, sehingga antara karya dan dinding sama-sama penuh karya. Objek lulisan itu lenbih banyak binatang dan manusia dalam bentuk yang berbeda, ada bertubuh besar. Ada karya manusia yang bertubuh tambun membawa tulisan “ajeg aku save bali, ada berbahasa Inggris, seperti hotel cheap, pub open, club open, club open 24 jam, transport cheaf. Di dinding sebelahnya ada gambar wayang kontemporer, berbagai gambar binatang dengan kepala, seperti kepala raksasa.

Michael Schindhelm mengatakan, seratus tahun yang lalu, pelukis Jerman kelahiran Moskow, Walter Spies, mengunjungi Bali untuk pertama kalinya, dan tak lama kemudian Bali menjadi rumah barunya hingga ia meninggal secara tragis selama pendudukan Jepang, yakni pada 1942 saat usianya 47 tahun.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Spies telah berteman dengan banyak seniman penting di Jerman, ia pernah mengadakan pameran di Berlin dan Amsterdam, dan terlibat dalam pembuatan film horor pertama di dunia yaitu Nosferatu, pada kenyataannya ia hampir terlupakan dalam sejarah seni Barat. Namun, di Bali, banyak orang masih mengingatnya hingga saat ini. Para seniman menjadikan gaya realisme magisnya sebagai model, sebagai penari dan koreografer Spies berperan dalam pengembangan tari lokal yang mungkin paling populer yakni kecak.

Khusus bagi para kolektor, serta pemilik galeri menghormati dirinya atas inisiatif terbentuknya Pita Maha, yaitu pendirian koperasi seniman independen untuk mengekang pengaruh komersial pedagang seni Barat pada tahun 1930-an dan 1940-an. “Ketika sebuah karya Walter Spies masuk ke pasar – seperti yang terjadi baru-baru ini, di sebuah lelang di Singapura – harganya sangat mengejutkan sampai bisa mencapai tujuh digit,” papar Michael Schindhelm saat konferensi pers di Arma Museum Ubud, Jumat 23 Mei 2025.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Jadi kenyataanya, bahkan hingga abad ke-21, ada seniman yang karyanya bisa sangat berharga, namun sekaligus kurang begitu dikenal. Dapat diasumsikan bahwa saat ini karya Spies pastinya akan ditampilkan di museum dan koleksi Jerman seandainya ia tidak meninggalkan Eropa untuk selamanya pada usia 28 tahun. “Spies sebuah anomali Modernisme. Jika saja membandingkan karya-karya dari periode sebelum kedatangannya di Bali dengan karya-karya setelahnya, maka orang hampir tidak akan menyadari bahwa karya-karya tersebut dibuat oleh seniman yang sama,” paparnya.

Michael Schindhelm mengatakan, ia biasanya menjual karyanya segera setelah selesai, nyaris tidak ada koleksi publik. Spies cukup terkenal selama hidupnya, Charlie Chaplin mengunjunginya di daerah tropis, seperti halnya Barbara Hutton, seorang wanita terkaya di Amerika saat itu. Penulis Vicky Baum tinggal bersamanya, dan antropolog Margaret Mead dapat melanjutkan studinya di pulau itu bersama suaminya Gregory Bateson juga berkat bantuan Spies.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa Spies juga terlibat dalam proyek pariwisata pertama di Bali pada tahun 1920-an dan 1930-an. Kemudian, di banyak bagian belahan dunia, warisan budaya lokal dihadirkan sebagai daya tarik bagi para pelancong dari negeri-negeri jauh. Selama krisis ekonomi global, ketika koloni-koloni Hindia Belanda juga mengalami kesulitan, pariwisata ditemukan sebagai sumber pendapatan baru. “Saat ini, Bali menjadi penerima manfaat sekaligus korban dari pariwisata massal global,” paparnya.

Ketika Spies datang ke Bali, kehidupan sosial penduduk setempat sepenuhnya merupakan produk budaya mereka. Budaya dan kehidupan pada dasarnya adalah satu dan sama. Seperti halnya, setiap orang adalah seniman. Spies kemudian bertemu dengan bakat-bakat luar biasa seperti seniman I Gusti Nyoman Lempad dan penari sekaligus koreografer Wayan Limbak.

Bersama mereka dan masih banyak yang lainnya, Spies mengupayakan modernisasi seni Bali dan menyadari pula pada saat yang sama bahwa seni tersebut harus dilindungi dari amukan imperialisme Barat. “Ketika saya mulai meneliti Spies tentang Bali sekitar enam tahun lalu, saya menyadari akan membutuhkan bantuan seniman Bali untuk memahami dan menceritakan kisah tersebut,” ucapnya.

Berkat saran dan dukungan Horst Jordt di Jerman, ia kemudian bertemu dengan Agung Rai, yang mengetuai Walter Spies Society di Bali. Agung Rai memperkenalkan dan memfasilitasi dengan jaringan orang-orang yang berkecimpung di sektor budaya di Ubud dan tempat-tempat lain di Bali. “Saya mengenal I Wayan Dibia, salah satu siswa terakhir Limbak, yang dianggap sebagai salah satu peneliti budaya, penari, dan koreografer terpenting di Bali, dan yang menciptakan tari topeng tentang Walter Spies sepuluh tahun lalu,” ungkapnya.

Dalam karya Dibia, orang Bali menarikan karakter Spies, Chaplin, dan Margaret Mead, yakni orang Barat, dihadirkan dalam bentuk fisik dan komunikasi gestur mereka, sebagaimana terlihat melalui lensa orang Bali. Bahkan seniman muda di Bali pun sangat akrab dengan sosok dan kisah Walter Spies. “Bersama etnografer dan penari Dewa Ayu Eka Putri, musisi Tutangkas Hranmayena Putu, seniman Made Bayak dan Gus Dark, serta Agung Rai dan I Wayan Dibia, kami telah berupaya untuk mengeksplorasi kisah Spies dan dampaknya terhadap masyarakat Bali saat ini,” sebutnya.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Sedangkan Made Bayak dan Gus Dark dalam pameran ini mengangkat tema-tema utama masyarakat Bali saat ini, seperti pengkhianatan negara, ketahanan budaya spiritualnya sendiri dalam menghadapi masyarakat konsumen global, bentang alam yang terancam, dan genosida 1965/66.

Made Bayak menghadirkan Bali yang sedang menghadapi persoalan politik, budaya, lingkungan dan kondisi Bali hari ini. Karya penuh kritik itu bukan untuk menghakimi, tetapi lebih pada akar yang merepleksikan melalui karya seni. Intinya, memperagakan ulang sistemik yang dibuat bersama dari kisah Walter Spies di Bali. “Melalui karya ini, kami ingin mengembalikan Bali pada rel yang sesungguhnya. Saat ini, Bali dihadapkan pada persoalan subak, sumber air bersih yang sudah tercemari dan mulai menipis, juga lainnya,” imbuhnya.

Founder Arma Museum Ubud, Agung Rai mengatakan, pameran ini menampilkan karya-karya yang lebih pada berbagi, tak hanya di Bali, bahkan dunia. Kehadiran Walter Spies di Bali, mengajarkan orang Bali untuk merasakan keindahan, baik dari lanskip, tradisi, sehingga Bali menjadi living tradisi tak ada yang lain. “Saya berterima kasih ada penawaran untuk menterjemahkan dan merumuskan Bali ke depan. Budaya orang Bali yang memuliakan air dan lingkungan itu sudah diletakkan oleh Walter Spies, namun sekarang itu hilang, dan kini lukisan dalam pameran ini mengunggahnya kembali,” jelasnya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pameran “Jaruh” I Komang Martha Sedana di TAT Art Space
Fenomena Alam dari 34 Karya Perupa Jago Tarung Yogyakarta di Santrian Art Gallery
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Perupa Rama Pamerkan 7 Karya “Harmony” di ARTspace ARTOTEL Sanur
Tags: Pameranpameran seniPameran Seni RupaUbudWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran “Jaruh” I Komang Martha Sedana di TAT Art Space

Next Post

 Kisah Perseteruan Anak Banteng dan Sang Resi

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
0
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

 Kisah Perseteruan Anak Banteng dan Sang Resi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co