2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memperingati Seratus Tahun Walter Spies dengan Pameran ROOTS di ARMA Museum Ubud

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
May 27, 2025
in Pameran
Memperingati Seratus Tahun Walter Spies dengan Pameran ROOTS di ARMA Museum Ubud

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

SERATUS tahun yang lalu, pelukis Jerman kelahiran Moskow, Walter Spies, mengunjungi Bali untuk pertama kalinya. Tak lama kemudian, Bali menjadi rumah barunya hingga ia meninggal secara tragis selama pendudukan Jepang, yakni pada tahun 1942 saat usianya 47 tahun. Di Bali, banyak orang masih mengingatnya hingga saat ini.

Sebut saja Michael Schindhelm, seorang penulis, pembuat film dan aktif sebagai konsultan budaya asal Swiss-Jerma berkolaborasi dengan perupa Made Bayak dan Gus Dark mengelar pameran seni rupa untuk memperingati seratus tahun kepergian Walter Spies. Pameran seni rupa bertajuk “Root” tak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga syarat dengan kritik sosial. Salah satunya, gambaran lingkungan Bali kini, sangat berbeda dengan dulu, ketika Walter Spies menginjakan kaki di Bali.

Pameran yang telah dimulai pada Sabtu, 24 Mei hingga 14 Juni 2025 dikuratori oleh Chiara Turconi dan Yudha Bantono. Michael Schindhelm menampilkan karya seni instalasi, karya grafis, serta cuplikan film dokumenter fiksi ROOTS yang menggambarkan sosok Walter Spies sebagai figur metaforis yang menjelajahi Bali setelah kunjungan pertamanya, dan gambaran Bali kini.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Sementara Made Bayak dan Gus Dark menampilkan karya kontemporer yang mengangkat perjuangan masyarakat Bali dalam melestarikan budaya lokal di tengah tantangan modern. Kedua perupa ini menampilkan karya-karya yang sarat kritik terjadap lingkungan, seperti masalah sumber air, sawah dan lainnya. Karya yang dipamerkan lebih dari 100 karya yang menawarkan pesan yang untuk menjaga lingkungan.

Pameran ini dibagi menjadi beberapa ruang, dan setiap ruang menyajikan karya yang berbeda, lengkap dengan pesan moral yang disampaikan. Pada awalnya memasuki ruang pameran biasa yang menyajikan karya-karya menarik, lengkap dengan karya film yang layar dipasang di tengah-tengah pameran itu. Kemudian memasuki ruang helat yang dibatasi dengan kain hitam tebal. Dalam ruang itu hanya ada layar yang menampilkan karya-karya budaya dulu dan kini.

Di ruang berikutnya seluruh dinding di gambar, sehingga antara karya dan dinding sama-sama penuh karya. Objek lulisan itu lenbih banyak binatang dan manusia dalam bentuk yang berbeda, ada bertubuh besar. Ada karya manusia yang bertubuh tambun membawa tulisan “ajeg aku save bali, ada berbahasa Inggris, seperti hotel cheap, pub open, club open, club open 24 jam, transport cheaf. Di dinding sebelahnya ada gambar wayang kontemporer, berbagai gambar binatang dengan kepala, seperti kepala raksasa.

Michael Schindhelm mengatakan, seratus tahun yang lalu, pelukis Jerman kelahiran Moskow, Walter Spies, mengunjungi Bali untuk pertama kalinya, dan tak lama kemudian Bali menjadi rumah barunya hingga ia meninggal secara tragis selama pendudukan Jepang, yakni pada 1942 saat usianya 47 tahun.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Spies telah berteman dengan banyak seniman penting di Jerman, ia pernah mengadakan pameran di Berlin dan Amsterdam, dan terlibat dalam pembuatan film horor pertama di dunia yaitu Nosferatu, pada kenyataannya ia hampir terlupakan dalam sejarah seni Barat. Namun, di Bali, banyak orang masih mengingatnya hingga saat ini. Para seniman menjadikan gaya realisme magisnya sebagai model, sebagai penari dan koreografer Spies berperan dalam pengembangan tari lokal yang mungkin paling populer yakni kecak.

Khusus bagi para kolektor, serta pemilik galeri menghormati dirinya atas inisiatif terbentuknya Pita Maha, yaitu pendirian koperasi seniman independen untuk mengekang pengaruh komersial pedagang seni Barat pada tahun 1930-an dan 1940-an. “Ketika sebuah karya Walter Spies masuk ke pasar – seperti yang terjadi baru-baru ini, di sebuah lelang di Singapura – harganya sangat mengejutkan sampai bisa mencapai tujuh digit,” papar Michael Schindhelm saat konferensi pers di Arma Museum Ubud, Jumat 23 Mei 2025.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Jadi kenyataanya, bahkan hingga abad ke-21, ada seniman yang karyanya bisa sangat berharga, namun sekaligus kurang begitu dikenal. Dapat diasumsikan bahwa saat ini karya Spies pastinya akan ditampilkan di museum dan koleksi Jerman seandainya ia tidak meninggalkan Eropa untuk selamanya pada usia 28 tahun. “Spies sebuah anomali Modernisme. Jika saja membandingkan karya-karya dari periode sebelum kedatangannya di Bali dengan karya-karya setelahnya, maka orang hampir tidak akan menyadari bahwa karya-karya tersebut dibuat oleh seniman yang sama,” paparnya.

Michael Schindhelm mengatakan, ia biasanya menjual karyanya segera setelah selesai, nyaris tidak ada koleksi publik. Spies cukup terkenal selama hidupnya, Charlie Chaplin mengunjunginya di daerah tropis, seperti halnya Barbara Hutton, seorang wanita terkaya di Amerika saat itu. Penulis Vicky Baum tinggal bersamanya, dan antropolog Margaret Mead dapat melanjutkan studinya di pulau itu bersama suaminya Gregory Bateson juga berkat bantuan Spies.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa Spies juga terlibat dalam proyek pariwisata pertama di Bali pada tahun 1920-an dan 1930-an. Kemudian, di banyak bagian belahan dunia, warisan budaya lokal dihadirkan sebagai daya tarik bagi para pelancong dari negeri-negeri jauh. Selama krisis ekonomi global, ketika koloni-koloni Hindia Belanda juga mengalami kesulitan, pariwisata ditemukan sebagai sumber pendapatan baru. “Saat ini, Bali menjadi penerima manfaat sekaligus korban dari pariwisata massal global,” paparnya.

Ketika Spies datang ke Bali, kehidupan sosial penduduk setempat sepenuhnya merupakan produk budaya mereka. Budaya dan kehidupan pada dasarnya adalah satu dan sama. Seperti halnya, setiap orang adalah seniman. Spies kemudian bertemu dengan bakat-bakat luar biasa seperti seniman I Gusti Nyoman Lempad dan penari sekaligus koreografer Wayan Limbak.

Bersama mereka dan masih banyak yang lainnya, Spies mengupayakan modernisasi seni Bali dan menyadari pula pada saat yang sama bahwa seni tersebut harus dilindungi dari amukan imperialisme Barat. “Ketika saya mulai meneliti Spies tentang Bali sekitar enam tahun lalu, saya menyadari akan membutuhkan bantuan seniman Bali untuk memahami dan menceritakan kisah tersebut,” ucapnya.

Berkat saran dan dukungan Horst Jordt di Jerman, ia kemudian bertemu dengan Agung Rai, yang mengetuai Walter Spies Society di Bali. Agung Rai memperkenalkan dan memfasilitasi dengan jaringan orang-orang yang berkecimpung di sektor budaya di Ubud dan tempat-tempat lain di Bali. “Saya mengenal I Wayan Dibia, salah satu siswa terakhir Limbak, yang dianggap sebagai salah satu peneliti budaya, penari, dan koreografer terpenting di Bali, dan yang menciptakan tari topeng tentang Walter Spies sepuluh tahun lalu,” ungkapnya.

Dalam karya Dibia, orang Bali menarikan karakter Spies, Chaplin, dan Margaret Mead, yakni orang Barat, dihadirkan dalam bentuk fisik dan komunikasi gestur mereka, sebagaimana terlihat melalui lensa orang Bali. Bahkan seniman muda di Bali pun sangat akrab dengan sosok dan kisah Walter Spies. “Bersama etnografer dan penari Dewa Ayu Eka Putri, musisi Tutangkas Hranmayena Putu, seniman Made Bayak dan Gus Dark, serta Agung Rai dan I Wayan Dibia, kami telah berupaya untuk mengeksplorasi kisah Spies dan dampaknya terhadap masyarakat Bali saat ini,” sebutnya.

Pameran ROOTS memperingati Seratus Tahun Walter Spies | Foto: tatkala.co/Bud

Sedangkan Made Bayak dan Gus Dark dalam pameran ini mengangkat tema-tema utama masyarakat Bali saat ini, seperti pengkhianatan negara, ketahanan budaya spiritualnya sendiri dalam menghadapi masyarakat konsumen global, bentang alam yang terancam, dan genosida 1965/66.

Made Bayak menghadirkan Bali yang sedang menghadapi persoalan politik, budaya, lingkungan dan kondisi Bali hari ini. Karya penuh kritik itu bukan untuk menghakimi, tetapi lebih pada akar yang merepleksikan melalui karya seni. Intinya, memperagakan ulang sistemik yang dibuat bersama dari kisah Walter Spies di Bali. “Melalui karya ini, kami ingin mengembalikan Bali pada rel yang sesungguhnya. Saat ini, Bali dihadapkan pada persoalan subak, sumber air bersih yang sudah tercemari dan mulai menipis, juga lainnya,” imbuhnya.

Founder Arma Museum Ubud, Agung Rai mengatakan, pameran ini menampilkan karya-karya yang lebih pada berbagi, tak hanya di Bali, bahkan dunia. Kehadiran Walter Spies di Bali, mengajarkan orang Bali untuk merasakan keindahan, baik dari lanskip, tradisi, sehingga Bali menjadi living tradisi tak ada yang lain. “Saya berterima kasih ada penawaran untuk menterjemahkan dan merumuskan Bali ke depan. Budaya orang Bali yang memuliakan air dan lingkungan itu sudah diletakkan oleh Walter Spies, namun sekarang itu hilang, dan kini lukisan dalam pameran ini mengunggahnya kembali,” jelasnya. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pameran “Jaruh” I Komang Martha Sedana di TAT Art Space
Fenomena Alam dari 34 Karya Perupa Jago Tarung Yogyakarta di Santrian Art Gallery
METASTOMATA: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin  di Neka Art Museum, Ubud
Perupa Rama Pamerkan 7 Karya “Harmony” di ARTspace ARTOTEL Sanur
Tags: Pameranpameran seniPameran Seni RupaUbudWalter Spies
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran “Jaruh” I Komang Martha Sedana di TAT Art Space

Next Post

 Kisah Perseteruan Anak Banteng dan Sang Resi

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

 Kisah Perseteruan Anak Banteng dan Sang Resi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co