1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Chusmeru by Chusmeru
July 17, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

OLAHRAGA kini bukan hanya menjadi tren bagi anak muda, tetapi hampir menjadi kebutuhan dalam kehidupan. Banyak pilihan olahraga yang dapat dilakukan, mulai dari yang gratis, murah, hingga yang memerlukan biaya jutaan.

Jalan dan lari termasuk olahraga yang gratis dan murah. Meski demikian, jalan dan lari bisa juga menelan biaya hingga puluhan juta. Mahalnya bukan pada aktivitas fisik berjalan atau berlari, tetapi pada kalcer-nya. Peralatan, pakaian, dan asesori untuk jalan dan lari itu yang bisa menjadikannya mahal.

Bagi mahasiswa, olahraga hanya dilakukan untuk kebugaran dan mengisi waktu luang. Kegiatan perkuliahan yang padat membuat mahasiswa berolahraga sesuai kesempatan. Bisa dilakukan pagi hari, siang, hingga sore dan malam hari. Semua tergantung jadwal kuliah. Yang pasti hari Sabtu dan Minggu merupakan hari libur yang sering dimanfaatkan untuk olahraga.

Banyak pilihan olahraga bagi mahasiswa, baik olahraga permainan maupun ketangkasan. Sarana olahraga di kampus juga cukup banyak. Biasanya mahasiswa ikut olahraga yang ada dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) di fakultas maupun universitas.

Bagi Hendra Pradipta, mahasiswa Fisip,  olahraga adalah hobi. Oleh karena itu ia memilih futsal sebagai upaya menjaga kebugaran sekaligus menyalurkan hobinya. Kebetulan banyak temannya yang memiliki hobi sama, sehingga ia memiliki klub untuk latihan secara rutin. Futsal tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya, tetapi asyik karena bisa bermain di siang maupun malam hari.

Banyak lapangan futsal di sekitaran kampus. Futsal sendiri kabarnya berasal dari bahasa Spanyol, yaitu futbol dan sala, yang artinya sepak bola di dalam ruangan. Lapangan futsal berada di dalam gedung atau ruangan. Para pemain akan membayar biaya sewa gedung untuk bermain futsal dalam hitungan menit atau jam.

Bukan hanya laki-laki, mahasiswa perempuan juga banyak yang menyukai futsal. Olahraga ini cukup menguras keringat, tetapi santai karena para pemain bisa sambil bercanda. Lapangan yang tidak terlalu luas membuat olahraga futsal banyak diminati mahasiswa.

Futsal juga sering dipertandingkan di kampus. Setiap acara dies natalis fakultas maupun universitas biasanya diadakan pertandingan futsal. Acara akan berlangsung seru, karena suporter dari masing-masing fakultas akan meramaikan lapangan sebagaimana pertandingan sepak bola. Meski demikian para pendukung futsal lebih tertib dibanding sepakbola. Jarang terjadi kerusuhan dalam pertandingan futsal.

***

Dies natalis universitas kali ini mengadakan pertandingan futsal antarfakultas. Hendra Pradipta didapuk menjadi kapten tim futsal Fisip. Ia memiliki tim yang terdiri dari sepuluh pemain yang berasal dari semua jurusan yang ada di fakultas. Mereka rutin latihan setiap minggu. Tak heran jika tim futsal Fisip selalu menjadi juara pertama dalam setiap ajang dies natalis.

Sebenarnya tim futsal fakultas lain juga hebat. Fakultas ekonomi dan fakultas hukum merupakan saingan berat Fisip. Selain materi pemain yang bagus, kedua fakultas itu memiliki suporter yang sangat fanatik. Setiap fakultasnya bermain, suporter akan memadati lapangan dengan poster, spanduk, dan yel-yel.

Putaran pertama, tim Fisip berhadapan dengan tim fakultas pertanian. Hendra Pradipta bermain bersama Agus, Wily, Robert, dan Dino. Pertandingan baru berjalan tiga menit, Robert sudah berhasil mencetak gol. Tepuk tangan meriah dari suporter, termasuk dari Triasih Wulan, Wakil Dekan bidang kemahasiswaan.

Menit ke lima, pemain dengan nomor punggung 18 mencetaki gol ke gawang fakultas pertanian. Hendra Pradipta kaget. Seingat dia, timnya tidak ada yang menggunakan jersey dengan nomor 18. Lalu siapakah dia? Hendra Pradipta menghitung timnya. Hanya berlima. Mengapa tadi ada pemain keenam di timnya?.

Memasuki babak kedua, suasana pertandingan menjadi tegang. Fakultas pertanian kembali kebobolan pada menit awal. Dan lagi-lagi yang memasukkan gol pemain dengan nomor punggung 18. Kapten dan manajer tim fakultas pertanian mengajukan protes, karena tim Fisip terdiri dari enam pemain. Anehnya, saat wasit mengecek, jumlah pemain futsal Fisip hanya lima.

Semua pemain bingung. Tiba-tiba angin bertiup di dalam lapangan. Bau wangi melati menyebar ke penjuru lapangan. Wasit dan para pemain merinding ketakutan. Siapakah pemain keenam Fisip yang bernomor 18 itu? Apakah dia hantu di lapangan futsal?

Kemenangan tim Fisip atas fakultas pertanian dengan skor 6-0 mengundang kontroversi. Meskipun tim fakultas pertanian memang lemah. Kehadiran pemain”keenam” di tim Fisip membuat curiga. Banyak yang menduga tim Fisip menggunakan dukun dalam pertandingan itu, sehingga ada pemain misterius yang mencetak gol.

Babak perdelapan final, tim Fisip bertemu dengan tim fakultas biologi. Di atas kertas Fisip akan memenangkan pertandingan, karena secara kualitas pemainnya lebih unggul dibanding biologi. Terbukti baru menit pertama Hendra mencetak gol. Skor tersebut berubah menjadi 2-0 saat Wily mencetak gol. Peristiwa misterius kembali terjadi. Pemain dengan nomor punggung 18 di Fisip mencetak gol ketiga ke gawang biologi pada menit ke tujuh. Skor 3-0 untuk Fisip.

Hendra terkejut. Ia bertanya pada Wily.

“Siapa yang barusan mencetak gol?”.

“Entahlah.., bukan kawan kita,” jawab Wily dengan wajah bingung.

Bukan hanya Hendra dan Wily yang melihat pemain nomor 18 mencetak gol. Wakil Dekan, Triasih Wulan juga melihat ada pemain “keenam” Fisip yang mencetak gol. Padahal saat dihitung pemain Fisip hanya lima orang. Pemain nomor 18 tak tampak. Semua heran, sekaligus merinding. Mengapa ada pemain misterius di tim Fisip.

Setelah istirahat turun minum, pertandingan dilanjutkan. Pemain misterius bernomor 18 muncul kembali. Ia mencetak tiga gol sekaligus. Hal ini membuat tim biologi protes kepada wasit, karena menelan kekalahan 6-0. Tim biologi menuding Fisip pakai dukun dengan mengundang pemain hantu. Namun wasit tidak mampu berbuat banyak. Semua pemain yang terdaftar sudah dihitung. Tidak ada pemain bernomor punggung 18. Kemenangan tim Fisip dianggap sah, meskipun empat gol dicetak oleh pemain “keenam”.

Kejadian serupa kembali terulang pada perempat final, ketika Fisip bertemu fakultas ekonomi. Di menit awal, ekonomi berhasil unggul dengan mencetak gol ke gawang Fisip. Sorak sorai suporter fakultas ekonomi gemuruh di dalam gedung futsal. Fisip tertinggal. Memang fakultas ekonomi memiliki pemain yang berkualitas.

Menit ke delapan, Hendra menyamakan kedudukan dengan tendangannya ke gawang ekonomi. Skor 1-1 hanya bertahan dua menit. Fakultas ekonomi kembali mencetak gol ke gawang Fisip. Ketinggalan 1-2 membuat supoter Fisip memberikan dukungan yel-yel. Tiba-tiba pemain misterius muncul di tim Fisip dan langsung mencetak dua gol di babak pertama.

Aroma bunga melati menebar ke penjuru lapangan dan ke tribun supoter di babak kedua pertandingan. Beberapa pemain saling pandang. Sebagian penonton juga terkejut dengan aroma melati. Suasana pertandingan menjadi mencekam. Pemain “keenam” muncul kembali mencetak tiga gol tanpa balas ke gawang ekonomi.

Kedudukan berakhir 6-2 untuk kemenangan Fisip. Para pemain dan manajer tim fakultas ekonomi heran, mengapa Fisip tiba-tiba mampu mencetak enam gol. Dugaan bermain dukun kembali dialamatkan kepada Fisip. Namun tidak ada seorang pun yang bisa membuktikannya.

***

Fisip akan bertemu fakultas hukum di babak final. Pertandingan yang menarik dan klasik, karena kedua tim sudah sering bertemu di final. Masing-masing optimis akan merebut juara pertama. Hendra Pradipta sangat yakin akan menang, meskipun tanpa kehadiran pemain hantu nomor 18.

Manajer tim fakultas hukum menduga ada sesuatu yang tidak beres pada tim Fisip yang selalu menang dengan skor banyak. Apalagi peristiwa menyeramkan selalu terjadi saat Fisip bertanding. Aroma bunga melati dan kehadiran pemain “keenam” menambah kecurigaan tim fakultas hukum.

Diam-diam manajer tim fakultas hukum mendatangi pengelola lapangan futsal. Mereka ingin melihat rekaman kamera CCTV untuk melihat permainan tim Fisip. Betapa terkejut mereka saat melihat ada pemain “keenam” bernomor punggung 18 selalu ikut bermain saat tim Fisip bertanding. Manajer tim fakultas hukum menanyakan kepada pengelola tentang pemain misterius itu.

“Wajahnya mirip dengan pemain futsal yang dulu meninggal di lapangan,” kata pengelola futsal.

“Haaahh…! Bagaimana kejadiannya?” tanya manajer tim fakultas hukum.

“Tahun lalu ada pemain futsal bernomor 18 yang tewas di pinggir lapangan. Hasil diagnosis dokter, terkena serangan jantung,” jelas pengelola futsal.

Manajer tim fakultas hukum dan beberapa pemain yang ikut menonton CCTV itu kaget. Ternyata selama ini tim Fisip bertanding dengan bantuan pemain “keenam”, arwah pemain futsal nomor 18 yang tewas di lapangan. Anehnya, ketika CCTV itu diputar ulang untuk dokumentasi, pemain “keenam” itu tidak lagi kelihatan.

Mengantisipasi kejadian hadirnya pemain “keenam” terulang kembali, pihak pengelola membuatkan jersey bernomor 18 dan dipasang di tembok pinggir lapangan. Jersey itu juga sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya pemain nomor 18 di pinggir lapangan setahun yang lalu. Dengan harapan arwahnya tenang di alam baka dan tidak ikutan bermain futsal di lapangan.

Babak final berlangsung sangat ketat. Tim Fisip dan fakultas hukum memiliki kekuatan yang seimbang. Supoter kedua tim juga sama-sama bersemangat. Disaksikan Rektor, pertandingan dua tim yang selalu jadi langganan final itu sangat seru, saling jual beli serangan.

Tidak tercipta banyak gol dalam laga final. Fisip hanya menang tipis 2-1 atas fakultas hukum. Tidak tampak lagi pemain “keenam” yang ikut menceatk gol. Namun bukan berarti kemenangan Fisip selama ini karena bantuan pemain “keenam” itu. Kekompakan dan kualitas para pemain, dan kepemimpinan tim di bawah kapten Hendra Pradipta adalah kunci kemenangan.  [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Kampusku Sarang Hantu [23]: Keracunan Massal di Kampus
Kampusku Sarang Hantu [21]: Ruang Dosen yang Dibiarkan Kosong
Kampusku Sarang Hantu [20]: Siluman Harimau di Pertigaan Kampus
Kampusku Sarang Hantu [19]: Mandi Kembang Malam Selasa Kliwon
Kampusku Sarang Hantu [18]: Bau Gosong di “Pantry” Fakultas
Kampusku Sarang Hantu [17]: Wanita Tua dari Jalur Kereta
Kampusku Sarang Hantu [16]: Genderuwo di Pohon Besar Kampus
Kampusku Sarang Hantu [15]: Memeluk Mayat di Kamar Jenazah
Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Next Post

Makan Malam Tidak Dilarang, Tapi…

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
Puasa Sehat Ramadan: Menu Apa yang Sebaiknya Dipilih Saat Sahur dan Berbuka?

Makan Malam Tidak Dilarang, Tapi...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co