23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
July 16, 2025
in Esai
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan

MEDIA sosial, yang biasanya dihiasi dengan pembahasan-pembahasan terkait isu politik, pengalaman pribadi, maupun penetapan-penetapan standar baru -yang biasanya dimulai dengan kata: “normal nggak sih kalau..”-  kini mulai tergeser oleh seonggok kata fenomenal yang sedang melejit popularitasnya: “Anjir!”.

Membahas sebuah kata yang kini menduduki tahta tertinggi area abu-abu di jagat maya ini acapkali mampu merangsang suatu konten untuk dapat meningkatkan engagement-nya. Pembahasan mengenai kata ini dipercaya mampu menggelitik warganet yang tadinya hanya iseng scrolling sebelum tidur, kini secara ikhlas meluangkan waktunya untuk sedikit berolahraga jempol (minimal like, untung-untung comment). Pertanyaannya: “Loh kok bisa?”. Mari kita bahas!

Kata “anjir” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki beberapa arti, antara lain sebagai saluran air, tin (buah ara), dan penanda letak jebakan rajungan. Namun, dalam percakapan sehari-hari, “anjir” sering digunakan sebagai ungkapan keterkejutan atau ekspresi emosional lainnya. Sangat tidak berhubungan, dan justru hal ini yang membuat pembasahan semakin menarik!

Perubahan makna “anjir” menjadi ungkapan gaul dimulai pada era 2000-an, terutama di kalangan remaja. Pada masa itu, kata “anjing” dianggap terlalu kasar dan tidak sopan, sehingga muncul variasi seperti “anjir”, “anjrit”, “anying”, dan “anjay” sebagai bentuk pelesetan yang lebih ringan. Fenomena ini menunjukkan kreativitas bahasa dalam menyesuaikan ekspresi dengan norma sosial yang berlaku.

Meskipun tidak ada individu atau kelompok tertentu yang secara resmi mempopulerkan kata “anjir”, penggunaan kata ini semakin meluas seiring dengan perkembangan media sosial dan budaya digital. Generasi milenial dan Z, yang sangat aktif di platform seperti Twitter, TikTok, dan Instagram, sering menggunakan “anjir” sebagai ekspresi spontan dalam berkomunikasi. Permasalahan muncul saat kedua generasi yang budiman dan budiwati ini membawa kata kebanggaannya: “anjir” keluar dari kelompoknya. Kata-kata yang dirasa sudah cukup diperhalus sampai skala tertentu ini nyatanya masih terasa cukup tabu ditelinga boomers bahkan generasi mereka sendiri.

Perdebatan

Kontradiktif semakin memanas kala para boomers mulai aktif main medsos. Culture shock yang mereka rasakan tertuang dalam konten-konten yang mereka buat :Ada yang protes secara langsung dan terang-terangan, ada yang membuat polling, bahkan ada yang mengaitkannya dengan Hadits.

Konten-konten ini tentu saja mendapat bantahan dari para “anjir”’s user yang merasa bahwa kata-kata yang mereka gunakan tak relevan dengan pemaknaan dari si pembuat konten. Perdebatan inilah yang kemudian menyebabkan engagement dari postingan meningkat. Melihat peluang yang ada, influencer yang tadinya tidak keberatan dengan kata “anjir” mulai membuat konten serupa. Karena banyaknya konten serupa inilah akhirnya perdebatan kata “anjir” menjadi trending di jagat maya.

Dilansir dari tempo.com, penggunaan kata “anjir” di kalangan Gen Z dan Millenial ini sebenarnya sudah tak mengandung umpatan atau ujaran kebencian sama sekali. Hal ini sangat berbeda dengan kata asalnya: “anjing” itu sendiri, yang artinya pergeseran makna tidak hanya terjadi sekali melainkan berulang. Mari kita coba terapkan masing-masing kata ini kedalam sebuah kalimat ekspresi sederhana.

  1. “Anjing Lu !” : Jika kalimat ini keluar ketika penutur yang sedang dalam keadaan emosi, maka akan memiliki makna bahwa penutur sedang kesal dengan lawan bicaranya. Kalimat ini mengandung makian yang menyerupakan lawan bicara penutur dengan hewan berkaki empat yang dipercaya mengandung najis besar oleh umat Islam.
  2. “Anjir banget sih lu!” : kalimat ini tidak bisa kita konotasikan ke dalam makian karena kalimat ini tidak mungkin keluar dari penutur yang sedang emosi (sebab jika ia benar-benar emosi dia pasti akan lebih memilih kata “anjing” dari pada “anjir” itu sendiri). Kalimat ini dapat memiliki makna kekaguman, keheranan, atau sekadar ekspresi terkejut penutur pada lawan bicaranya atau kejadian tertentu.

Dikaji dari ranah ilmu komunikasi, fenomena pergeseran makna ini dikenal dengan istilah semantic shift. Sudah banyak ilmuan yang terus mengkaji hal ini seperti Wilhelm von Humboldt, August Schleicher, Hermann Paul, dsb. Kajian ini dilakukan untuk dapat mengetahui faktor penyebabnya, pola pergeserannya, bahkan hingga dampaknya bagi sosial budaya.

Satu hal yang menarik adalah kesamaan dari penelitain mereka semua: “Bahasa mencerminkan nilai dan norma sosial”. Suatu kata yang sama jika dilontarkan pada kelompok yang berbeda akan memberikan makna berbeda karena adanya perbedaan nilai dan norma antar kelompok (dapat dikaji lebih lanjut dalam komunikasi antar budaya).

Jika ditinjau dari perspektif teori Interaksi Simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan dikembangkan lebih lanjut oleh Herbert Blumer, penggunaan kata “anjir” mencerminkan bagaimana makna sosial dari simbol (dalam hal ini kata atau bahasa) dibentuk, dinegosiasikan, dan dipahami dalam proses interaksi sosial. Dalam kerangka teori ini, kata “anjir” tidak memiliki makna yang tetap atau mutlak, melainkan memperoleh maknanya melalui interaksi antara individu dalam suatu konteks sosial tertentu.

Misalnya, di kalangan remaja atau komunitas tertentu, “anjir” dapat dimaknai secara positif sebagai simbol keakraban, ekspresi kekaguman, atau reaksi spontan terhadap sesuatu yang mengejutkan. Makna tersebut terbentuk melalui pengalaman interaksi yang berulang, sehingga kata itu menjadi bagian dari “bahasa dalam” komunitas tersebut.

Teori ini juga membantu menjelaskan bagaimana makna simbol dapat berbeda atau bahkan bertentangan di antara kelompok sosial yang berbeda. Bagi sebagian masyarakat yang memegang teguh norma kesantunan bahasa, “anjir” tetap diasosiasikan dengan bentuk ekspresi kasar atau tidak sopan, yang dapat mengganggu citra diri (self) pembicara dalam interaksi sosial yang lebih formal atau konvensional.

 Karena teori interaksi simbolik juga menekankan pentingnya role-taking, atau kemampuan seseorang untuk mengambil sudut pandang orang lain dalam proses komunikasi, maka penggunaan kata seperti “anjir” seharusnya mempertimbangkan persepsi dan interpretasi lawan bicara. Ketika pembicara gagal melakukan role-taking dengan tepat, potensi gangguan komunikasi, konflik makna, atau bahkan keretakan hubungan sosial bisa terjadi.

Kita Harus Apa?

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Perlukah kita tetap menggunakan kata “anjir”? Atau haruskah kita meninggalkannya? Atau malah level extreme-nya, haruskah kita melarang orang-orang menggunakan kata “anjir”? Jawabannya : Tergantung. Tergantung siapa lawan bicara kita, kapan kita bicara, dalam kondisi apa, dan banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.

Dalam komunikasi antarpribadi, khususnya di kalangan remaja atau kelompok sebaya, penggunaan kata ini bisa menciptakan rasa kedekatan, memperkuat solidaritas kelompok, dan menjadi bentuk ekspresi autentik yang mencerminkan keakraban dan keterbukaan.

Namun, dari sisi negatif, penggunaan kata “anjir” juga dapat menimbulkan distorsi makna dan memicu kesalahpahaman dalam komunikasi lintas generasi atau antarbudaya. Meskipun telah mengalami pelunakan makna dalam lingkungan tertentu, kata ini masih memiliki konotasi kasar atau tidak sopan dalam pandangan sebagian masyarakat, khususnya mereka yang mengutamakan norma bahasa yang santun dalam interaksi publik.

Memahami ini membuat kita lebih bijaksana dalam menggunakan kata “Anjir”. Memahami banyak hal membuat kita lebih bisa melihat hal yang sama dari berbagai sudut pandang. Belajar ilmu komunikasi tak semata-mata kita bakal dapat kerja, jauh lebih dalam dari itu! Belajar komunikasi membuat kita lebih bisa memaknai kehidupan!

Jadi, ingatlah kata SI Doel, “Ayo Sekolah!” [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Biar Privat Asal Selamat: Melindungi Data Diri Pribadi dan Buah Hati
Tags: Bahasakomunikasimedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja RRI Masih Bisa Menebar Pesona pada Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co