3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
July 16, 2025
in Esai
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan

MEDIA sosial, yang biasanya dihiasi dengan pembahasan-pembahasan terkait isu politik, pengalaman pribadi, maupun penetapan-penetapan standar baru -yang biasanya dimulai dengan kata: “normal nggak sih kalau..”-  kini mulai tergeser oleh seonggok kata fenomenal yang sedang melejit popularitasnya: “Anjir!”.

Membahas sebuah kata yang kini menduduki tahta tertinggi area abu-abu di jagat maya ini acapkali mampu merangsang suatu konten untuk dapat meningkatkan engagement-nya. Pembahasan mengenai kata ini dipercaya mampu menggelitik warganet yang tadinya hanya iseng scrolling sebelum tidur, kini secara ikhlas meluangkan waktunya untuk sedikit berolahraga jempol (minimal like, untung-untung comment). Pertanyaannya: “Loh kok bisa?”. Mari kita bahas!

Kata “anjir” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki beberapa arti, antara lain sebagai saluran air, tin (buah ara), dan penanda letak jebakan rajungan. Namun, dalam percakapan sehari-hari, “anjir” sering digunakan sebagai ungkapan keterkejutan atau ekspresi emosional lainnya. Sangat tidak berhubungan, dan justru hal ini yang membuat pembasahan semakin menarik!

Perubahan makna “anjir” menjadi ungkapan gaul dimulai pada era 2000-an, terutama di kalangan remaja. Pada masa itu, kata “anjing” dianggap terlalu kasar dan tidak sopan, sehingga muncul variasi seperti “anjir”, “anjrit”, “anying”, dan “anjay” sebagai bentuk pelesetan yang lebih ringan. Fenomena ini menunjukkan kreativitas bahasa dalam menyesuaikan ekspresi dengan norma sosial yang berlaku.

Meskipun tidak ada individu atau kelompok tertentu yang secara resmi mempopulerkan kata “anjir”, penggunaan kata ini semakin meluas seiring dengan perkembangan media sosial dan budaya digital. Generasi milenial dan Z, yang sangat aktif di platform seperti Twitter, TikTok, dan Instagram, sering menggunakan “anjir” sebagai ekspresi spontan dalam berkomunikasi. Permasalahan muncul saat kedua generasi yang budiman dan budiwati ini membawa kata kebanggaannya: “anjir” keluar dari kelompoknya. Kata-kata yang dirasa sudah cukup diperhalus sampai skala tertentu ini nyatanya masih terasa cukup tabu ditelinga boomers bahkan generasi mereka sendiri.

Perdebatan

Kontradiktif semakin memanas kala para boomers mulai aktif main medsos. Culture shock yang mereka rasakan tertuang dalam konten-konten yang mereka buat :Ada yang protes secara langsung dan terang-terangan, ada yang membuat polling, bahkan ada yang mengaitkannya dengan Hadits.

Konten-konten ini tentu saja mendapat bantahan dari para “anjir”’s user yang merasa bahwa kata-kata yang mereka gunakan tak relevan dengan pemaknaan dari si pembuat konten. Perdebatan inilah yang kemudian menyebabkan engagement dari postingan meningkat. Melihat peluang yang ada, influencer yang tadinya tidak keberatan dengan kata “anjir” mulai membuat konten serupa. Karena banyaknya konten serupa inilah akhirnya perdebatan kata “anjir” menjadi trending di jagat maya.

Dilansir dari tempo.com, penggunaan kata “anjir” di kalangan Gen Z dan Millenial ini sebenarnya sudah tak mengandung umpatan atau ujaran kebencian sama sekali. Hal ini sangat berbeda dengan kata asalnya: “anjing” itu sendiri, yang artinya pergeseran makna tidak hanya terjadi sekali melainkan berulang. Mari kita coba terapkan masing-masing kata ini kedalam sebuah kalimat ekspresi sederhana.

  1. “Anjing Lu !” : Jika kalimat ini keluar ketika penutur yang sedang dalam keadaan emosi, maka akan memiliki makna bahwa penutur sedang kesal dengan lawan bicaranya. Kalimat ini mengandung makian yang menyerupakan lawan bicara penutur dengan hewan berkaki empat yang dipercaya mengandung najis besar oleh umat Islam.
  2. “Anjir banget sih lu!” : kalimat ini tidak bisa kita konotasikan ke dalam makian karena kalimat ini tidak mungkin keluar dari penutur yang sedang emosi (sebab jika ia benar-benar emosi dia pasti akan lebih memilih kata “anjing” dari pada “anjir” itu sendiri). Kalimat ini dapat memiliki makna kekaguman, keheranan, atau sekadar ekspresi terkejut penutur pada lawan bicaranya atau kejadian tertentu.

Dikaji dari ranah ilmu komunikasi, fenomena pergeseran makna ini dikenal dengan istilah semantic shift. Sudah banyak ilmuan yang terus mengkaji hal ini seperti Wilhelm von Humboldt, August Schleicher, Hermann Paul, dsb. Kajian ini dilakukan untuk dapat mengetahui faktor penyebabnya, pola pergeserannya, bahkan hingga dampaknya bagi sosial budaya.

Satu hal yang menarik adalah kesamaan dari penelitain mereka semua: “Bahasa mencerminkan nilai dan norma sosial”. Suatu kata yang sama jika dilontarkan pada kelompok yang berbeda akan memberikan makna berbeda karena adanya perbedaan nilai dan norma antar kelompok (dapat dikaji lebih lanjut dalam komunikasi antar budaya).

Jika ditinjau dari perspektif teori Interaksi Simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan dikembangkan lebih lanjut oleh Herbert Blumer, penggunaan kata “anjir” mencerminkan bagaimana makna sosial dari simbol (dalam hal ini kata atau bahasa) dibentuk, dinegosiasikan, dan dipahami dalam proses interaksi sosial. Dalam kerangka teori ini, kata “anjir” tidak memiliki makna yang tetap atau mutlak, melainkan memperoleh maknanya melalui interaksi antara individu dalam suatu konteks sosial tertentu.

Misalnya, di kalangan remaja atau komunitas tertentu, “anjir” dapat dimaknai secara positif sebagai simbol keakraban, ekspresi kekaguman, atau reaksi spontan terhadap sesuatu yang mengejutkan. Makna tersebut terbentuk melalui pengalaman interaksi yang berulang, sehingga kata itu menjadi bagian dari “bahasa dalam” komunitas tersebut.

Teori ini juga membantu menjelaskan bagaimana makna simbol dapat berbeda atau bahkan bertentangan di antara kelompok sosial yang berbeda. Bagi sebagian masyarakat yang memegang teguh norma kesantunan bahasa, “anjir” tetap diasosiasikan dengan bentuk ekspresi kasar atau tidak sopan, yang dapat mengganggu citra diri (self) pembicara dalam interaksi sosial yang lebih formal atau konvensional.

 Karena teori interaksi simbolik juga menekankan pentingnya role-taking, atau kemampuan seseorang untuk mengambil sudut pandang orang lain dalam proses komunikasi, maka penggunaan kata seperti “anjir” seharusnya mempertimbangkan persepsi dan interpretasi lawan bicara. Ketika pembicara gagal melakukan role-taking dengan tepat, potensi gangguan komunikasi, konflik makna, atau bahkan keretakan hubungan sosial bisa terjadi.

Kita Harus Apa?

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Perlukah kita tetap menggunakan kata “anjir”? Atau haruskah kita meninggalkannya? Atau malah level extreme-nya, haruskah kita melarang orang-orang menggunakan kata “anjir”? Jawabannya : Tergantung. Tergantung siapa lawan bicara kita, kapan kita bicara, dalam kondisi apa, dan banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.

Dalam komunikasi antarpribadi, khususnya di kalangan remaja atau kelompok sebaya, penggunaan kata ini bisa menciptakan rasa kedekatan, memperkuat solidaritas kelompok, dan menjadi bentuk ekspresi autentik yang mencerminkan keakraban dan keterbukaan.

Namun, dari sisi negatif, penggunaan kata “anjir” juga dapat menimbulkan distorsi makna dan memicu kesalahpahaman dalam komunikasi lintas generasi atau antarbudaya. Meskipun telah mengalami pelunakan makna dalam lingkungan tertentu, kata ini masih memiliki konotasi kasar atau tidak sopan dalam pandangan sebagian masyarakat, khususnya mereka yang mengutamakan norma bahasa yang santun dalam interaksi publik.

Memahami ini membuat kita lebih bijaksana dalam menggunakan kata “Anjir”. Memahami banyak hal membuat kita lebih bisa melihat hal yang sama dari berbagai sudut pandang. Belajar ilmu komunikasi tak semata-mata kita bakal dapat kerja, jauh lebih dalam dari itu! Belajar komunikasi membuat kita lebih bisa memaknai kehidupan!

Jadi, ingatlah kata SI Doel, “Ayo Sekolah!” [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Biar Privat Asal Selamat: Melindungi Data Diri Pribadi dan Buah Hati
Tags: Bahasakomunikasimedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja RRI Masih Bisa Menebar Pesona pada Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co