2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
July 16, 2025
in Esai
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan

MEDIA sosial, yang biasanya dihiasi dengan pembahasan-pembahasan terkait isu politik, pengalaman pribadi, maupun penetapan-penetapan standar baru -yang biasanya dimulai dengan kata: “normal nggak sih kalau..”-  kini mulai tergeser oleh seonggok kata fenomenal yang sedang melejit popularitasnya: “Anjir!”.

Membahas sebuah kata yang kini menduduki tahta tertinggi area abu-abu di jagat maya ini acapkali mampu merangsang suatu konten untuk dapat meningkatkan engagement-nya. Pembahasan mengenai kata ini dipercaya mampu menggelitik warganet yang tadinya hanya iseng scrolling sebelum tidur, kini secara ikhlas meluangkan waktunya untuk sedikit berolahraga jempol (minimal like, untung-untung comment). Pertanyaannya: “Loh kok bisa?”. Mari kita bahas!

Kata “anjir” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki beberapa arti, antara lain sebagai saluran air, tin (buah ara), dan penanda letak jebakan rajungan. Namun, dalam percakapan sehari-hari, “anjir” sering digunakan sebagai ungkapan keterkejutan atau ekspresi emosional lainnya. Sangat tidak berhubungan, dan justru hal ini yang membuat pembasahan semakin menarik!

Perubahan makna “anjir” menjadi ungkapan gaul dimulai pada era 2000-an, terutama di kalangan remaja. Pada masa itu, kata “anjing” dianggap terlalu kasar dan tidak sopan, sehingga muncul variasi seperti “anjir”, “anjrit”, “anying”, dan “anjay” sebagai bentuk pelesetan yang lebih ringan. Fenomena ini menunjukkan kreativitas bahasa dalam menyesuaikan ekspresi dengan norma sosial yang berlaku.

Meskipun tidak ada individu atau kelompok tertentu yang secara resmi mempopulerkan kata “anjir”, penggunaan kata ini semakin meluas seiring dengan perkembangan media sosial dan budaya digital. Generasi milenial dan Z, yang sangat aktif di platform seperti Twitter, TikTok, dan Instagram, sering menggunakan “anjir” sebagai ekspresi spontan dalam berkomunikasi. Permasalahan muncul saat kedua generasi yang budiman dan budiwati ini membawa kata kebanggaannya: “anjir” keluar dari kelompoknya. Kata-kata yang dirasa sudah cukup diperhalus sampai skala tertentu ini nyatanya masih terasa cukup tabu ditelinga boomers bahkan generasi mereka sendiri.

Perdebatan

Kontradiktif semakin memanas kala para boomers mulai aktif main medsos. Culture shock yang mereka rasakan tertuang dalam konten-konten yang mereka buat :Ada yang protes secara langsung dan terang-terangan, ada yang membuat polling, bahkan ada yang mengaitkannya dengan Hadits.

Konten-konten ini tentu saja mendapat bantahan dari para “anjir”’s user yang merasa bahwa kata-kata yang mereka gunakan tak relevan dengan pemaknaan dari si pembuat konten. Perdebatan inilah yang kemudian menyebabkan engagement dari postingan meningkat. Melihat peluang yang ada, influencer yang tadinya tidak keberatan dengan kata “anjir” mulai membuat konten serupa. Karena banyaknya konten serupa inilah akhirnya perdebatan kata “anjir” menjadi trending di jagat maya.

Dilansir dari tempo.com, penggunaan kata “anjir” di kalangan Gen Z dan Millenial ini sebenarnya sudah tak mengandung umpatan atau ujaran kebencian sama sekali. Hal ini sangat berbeda dengan kata asalnya: “anjing” itu sendiri, yang artinya pergeseran makna tidak hanya terjadi sekali melainkan berulang. Mari kita coba terapkan masing-masing kata ini kedalam sebuah kalimat ekspresi sederhana.

  1. “Anjing Lu !” : Jika kalimat ini keluar ketika penutur yang sedang dalam keadaan emosi, maka akan memiliki makna bahwa penutur sedang kesal dengan lawan bicaranya. Kalimat ini mengandung makian yang menyerupakan lawan bicara penutur dengan hewan berkaki empat yang dipercaya mengandung najis besar oleh umat Islam.
  2. “Anjir banget sih lu!” : kalimat ini tidak bisa kita konotasikan ke dalam makian karena kalimat ini tidak mungkin keluar dari penutur yang sedang emosi (sebab jika ia benar-benar emosi dia pasti akan lebih memilih kata “anjing” dari pada “anjir” itu sendiri). Kalimat ini dapat memiliki makna kekaguman, keheranan, atau sekadar ekspresi terkejut penutur pada lawan bicaranya atau kejadian tertentu.

Dikaji dari ranah ilmu komunikasi, fenomena pergeseran makna ini dikenal dengan istilah semantic shift. Sudah banyak ilmuan yang terus mengkaji hal ini seperti Wilhelm von Humboldt, August Schleicher, Hermann Paul, dsb. Kajian ini dilakukan untuk dapat mengetahui faktor penyebabnya, pola pergeserannya, bahkan hingga dampaknya bagi sosial budaya.

Satu hal yang menarik adalah kesamaan dari penelitain mereka semua: “Bahasa mencerminkan nilai dan norma sosial”. Suatu kata yang sama jika dilontarkan pada kelompok yang berbeda akan memberikan makna berbeda karena adanya perbedaan nilai dan norma antar kelompok (dapat dikaji lebih lanjut dalam komunikasi antar budaya).

Jika ditinjau dari perspektif teori Interaksi Simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan dikembangkan lebih lanjut oleh Herbert Blumer, penggunaan kata “anjir” mencerminkan bagaimana makna sosial dari simbol (dalam hal ini kata atau bahasa) dibentuk, dinegosiasikan, dan dipahami dalam proses interaksi sosial. Dalam kerangka teori ini, kata “anjir” tidak memiliki makna yang tetap atau mutlak, melainkan memperoleh maknanya melalui interaksi antara individu dalam suatu konteks sosial tertentu.

Misalnya, di kalangan remaja atau komunitas tertentu, “anjir” dapat dimaknai secara positif sebagai simbol keakraban, ekspresi kekaguman, atau reaksi spontan terhadap sesuatu yang mengejutkan. Makna tersebut terbentuk melalui pengalaman interaksi yang berulang, sehingga kata itu menjadi bagian dari “bahasa dalam” komunitas tersebut.

Teori ini juga membantu menjelaskan bagaimana makna simbol dapat berbeda atau bahkan bertentangan di antara kelompok sosial yang berbeda. Bagi sebagian masyarakat yang memegang teguh norma kesantunan bahasa, “anjir” tetap diasosiasikan dengan bentuk ekspresi kasar atau tidak sopan, yang dapat mengganggu citra diri (self) pembicara dalam interaksi sosial yang lebih formal atau konvensional.

 Karena teori interaksi simbolik juga menekankan pentingnya role-taking, atau kemampuan seseorang untuk mengambil sudut pandang orang lain dalam proses komunikasi, maka penggunaan kata seperti “anjir” seharusnya mempertimbangkan persepsi dan interpretasi lawan bicara. Ketika pembicara gagal melakukan role-taking dengan tepat, potensi gangguan komunikasi, konflik makna, atau bahkan keretakan hubungan sosial bisa terjadi.

Kita Harus Apa?

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Perlukah kita tetap menggunakan kata “anjir”? Atau haruskah kita meninggalkannya? Atau malah level extreme-nya, haruskah kita melarang orang-orang menggunakan kata “anjir”? Jawabannya : Tergantung. Tergantung siapa lawan bicara kita, kapan kita bicara, dalam kondisi apa, dan banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.

Dalam komunikasi antarpribadi, khususnya di kalangan remaja atau kelompok sebaya, penggunaan kata ini bisa menciptakan rasa kedekatan, memperkuat solidaritas kelompok, dan menjadi bentuk ekspresi autentik yang mencerminkan keakraban dan keterbukaan.

Namun, dari sisi negatif, penggunaan kata “anjir” juga dapat menimbulkan distorsi makna dan memicu kesalahpahaman dalam komunikasi lintas generasi atau antarbudaya. Meskipun telah mengalami pelunakan makna dalam lingkungan tertentu, kata ini masih memiliki konotasi kasar atau tidak sopan dalam pandangan sebagian masyarakat, khususnya mereka yang mengutamakan norma bahasa yang santun dalam interaksi publik.

Memahami ini membuat kita lebih bijaksana dalam menggunakan kata “Anjir”. Memahami banyak hal membuat kita lebih bisa melihat hal yang sama dari berbagai sudut pandang. Belajar ilmu komunikasi tak semata-mata kita bakal dapat kerja, jauh lebih dalam dari itu! Belajar komunikasi membuat kita lebih bisa memaknai kehidupan!

Jadi, ingatlah kata SI Doel, “Ayo Sekolah!” [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Biar Privat Asal Selamat: Melindungi Data Diri Pribadi dan Buah Hati
Tags: Bahasakomunikasimedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja RRI Masih Bisa Menebar Pesona pada Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co