2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
July 16, 2025
in Esai
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

Faikar Ramadhan

MEDIA sosial, yang biasanya dihiasi dengan pembahasan-pembahasan terkait isu politik, pengalaman pribadi, maupun penetapan-penetapan standar baru -yang biasanya dimulai dengan kata: “normal nggak sih kalau..”-  kini mulai tergeser oleh seonggok kata fenomenal yang sedang melejit popularitasnya: “Anjir!”.

Membahas sebuah kata yang kini menduduki tahta tertinggi area abu-abu di jagat maya ini acapkali mampu merangsang suatu konten untuk dapat meningkatkan engagement-nya. Pembahasan mengenai kata ini dipercaya mampu menggelitik warganet yang tadinya hanya iseng scrolling sebelum tidur, kini secara ikhlas meluangkan waktunya untuk sedikit berolahraga jempol (minimal like, untung-untung comment). Pertanyaannya: “Loh kok bisa?”. Mari kita bahas!

Kata “anjir” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki beberapa arti, antara lain sebagai saluran air, tin (buah ara), dan penanda letak jebakan rajungan. Namun, dalam percakapan sehari-hari, “anjir” sering digunakan sebagai ungkapan keterkejutan atau ekspresi emosional lainnya. Sangat tidak berhubungan, dan justru hal ini yang membuat pembasahan semakin menarik!

Perubahan makna “anjir” menjadi ungkapan gaul dimulai pada era 2000-an, terutama di kalangan remaja. Pada masa itu, kata “anjing” dianggap terlalu kasar dan tidak sopan, sehingga muncul variasi seperti “anjir”, “anjrit”, “anying”, dan “anjay” sebagai bentuk pelesetan yang lebih ringan. Fenomena ini menunjukkan kreativitas bahasa dalam menyesuaikan ekspresi dengan norma sosial yang berlaku.

Meskipun tidak ada individu atau kelompok tertentu yang secara resmi mempopulerkan kata “anjir”, penggunaan kata ini semakin meluas seiring dengan perkembangan media sosial dan budaya digital. Generasi milenial dan Z, yang sangat aktif di platform seperti Twitter, TikTok, dan Instagram, sering menggunakan “anjir” sebagai ekspresi spontan dalam berkomunikasi. Permasalahan muncul saat kedua generasi yang budiman dan budiwati ini membawa kata kebanggaannya: “anjir” keluar dari kelompoknya. Kata-kata yang dirasa sudah cukup diperhalus sampai skala tertentu ini nyatanya masih terasa cukup tabu ditelinga boomers bahkan generasi mereka sendiri.

Perdebatan

Kontradiktif semakin memanas kala para boomers mulai aktif main medsos. Culture shock yang mereka rasakan tertuang dalam konten-konten yang mereka buat :Ada yang protes secara langsung dan terang-terangan, ada yang membuat polling, bahkan ada yang mengaitkannya dengan Hadits.

Konten-konten ini tentu saja mendapat bantahan dari para “anjir”’s user yang merasa bahwa kata-kata yang mereka gunakan tak relevan dengan pemaknaan dari si pembuat konten. Perdebatan inilah yang kemudian menyebabkan engagement dari postingan meningkat. Melihat peluang yang ada, influencer yang tadinya tidak keberatan dengan kata “anjir” mulai membuat konten serupa. Karena banyaknya konten serupa inilah akhirnya perdebatan kata “anjir” menjadi trending di jagat maya.

Dilansir dari tempo.com, penggunaan kata “anjir” di kalangan Gen Z dan Millenial ini sebenarnya sudah tak mengandung umpatan atau ujaran kebencian sama sekali. Hal ini sangat berbeda dengan kata asalnya: “anjing” itu sendiri, yang artinya pergeseran makna tidak hanya terjadi sekali melainkan berulang. Mari kita coba terapkan masing-masing kata ini kedalam sebuah kalimat ekspresi sederhana.

  1. “Anjing Lu !” : Jika kalimat ini keluar ketika penutur yang sedang dalam keadaan emosi, maka akan memiliki makna bahwa penutur sedang kesal dengan lawan bicaranya. Kalimat ini mengandung makian yang menyerupakan lawan bicara penutur dengan hewan berkaki empat yang dipercaya mengandung najis besar oleh umat Islam.
  2. “Anjir banget sih lu!” : kalimat ini tidak bisa kita konotasikan ke dalam makian karena kalimat ini tidak mungkin keluar dari penutur yang sedang emosi (sebab jika ia benar-benar emosi dia pasti akan lebih memilih kata “anjing” dari pada “anjir” itu sendiri). Kalimat ini dapat memiliki makna kekaguman, keheranan, atau sekadar ekspresi terkejut penutur pada lawan bicaranya atau kejadian tertentu.

Dikaji dari ranah ilmu komunikasi, fenomena pergeseran makna ini dikenal dengan istilah semantic shift. Sudah banyak ilmuan yang terus mengkaji hal ini seperti Wilhelm von Humboldt, August Schleicher, Hermann Paul, dsb. Kajian ini dilakukan untuk dapat mengetahui faktor penyebabnya, pola pergeserannya, bahkan hingga dampaknya bagi sosial budaya.

Satu hal yang menarik adalah kesamaan dari penelitain mereka semua: “Bahasa mencerminkan nilai dan norma sosial”. Suatu kata yang sama jika dilontarkan pada kelompok yang berbeda akan memberikan makna berbeda karena adanya perbedaan nilai dan norma antar kelompok (dapat dikaji lebih lanjut dalam komunikasi antar budaya).

Jika ditinjau dari perspektif teori Interaksi Simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan dikembangkan lebih lanjut oleh Herbert Blumer, penggunaan kata “anjir” mencerminkan bagaimana makna sosial dari simbol (dalam hal ini kata atau bahasa) dibentuk, dinegosiasikan, dan dipahami dalam proses interaksi sosial. Dalam kerangka teori ini, kata “anjir” tidak memiliki makna yang tetap atau mutlak, melainkan memperoleh maknanya melalui interaksi antara individu dalam suatu konteks sosial tertentu.

Misalnya, di kalangan remaja atau komunitas tertentu, “anjir” dapat dimaknai secara positif sebagai simbol keakraban, ekspresi kekaguman, atau reaksi spontan terhadap sesuatu yang mengejutkan. Makna tersebut terbentuk melalui pengalaman interaksi yang berulang, sehingga kata itu menjadi bagian dari “bahasa dalam” komunitas tersebut.

Teori ini juga membantu menjelaskan bagaimana makna simbol dapat berbeda atau bahkan bertentangan di antara kelompok sosial yang berbeda. Bagi sebagian masyarakat yang memegang teguh norma kesantunan bahasa, “anjir” tetap diasosiasikan dengan bentuk ekspresi kasar atau tidak sopan, yang dapat mengganggu citra diri (self) pembicara dalam interaksi sosial yang lebih formal atau konvensional.

 Karena teori interaksi simbolik juga menekankan pentingnya role-taking, atau kemampuan seseorang untuk mengambil sudut pandang orang lain dalam proses komunikasi, maka penggunaan kata seperti “anjir” seharusnya mempertimbangkan persepsi dan interpretasi lawan bicara. Ketika pembicara gagal melakukan role-taking dengan tepat, potensi gangguan komunikasi, konflik makna, atau bahkan keretakan hubungan sosial bisa terjadi.

Kita Harus Apa?

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Perlukah kita tetap menggunakan kata “anjir”? Atau haruskah kita meninggalkannya? Atau malah level extreme-nya, haruskah kita melarang orang-orang menggunakan kata “anjir”? Jawabannya : Tergantung. Tergantung siapa lawan bicara kita, kapan kita bicara, dalam kondisi apa, dan banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.

Dalam komunikasi antarpribadi, khususnya di kalangan remaja atau kelompok sebaya, penggunaan kata ini bisa menciptakan rasa kedekatan, memperkuat solidaritas kelompok, dan menjadi bentuk ekspresi autentik yang mencerminkan keakraban dan keterbukaan.

Namun, dari sisi negatif, penggunaan kata “anjir” juga dapat menimbulkan distorsi makna dan memicu kesalahpahaman dalam komunikasi lintas generasi atau antarbudaya. Meskipun telah mengalami pelunakan makna dalam lingkungan tertentu, kata ini masih memiliki konotasi kasar atau tidak sopan dalam pandangan sebagian masyarakat, khususnya mereka yang mengutamakan norma bahasa yang santun dalam interaksi publik.

Memahami ini membuat kita lebih bijaksana dalam menggunakan kata “Anjir”. Memahami banyak hal membuat kita lebih bisa melihat hal yang sama dari berbagai sudut pandang. Belajar ilmu komunikasi tak semata-mata kita bakal dapat kerja, jauh lebih dalam dari itu! Belajar komunikasi membuat kita lebih bisa memaknai kehidupan!

Jadi, ingatlah kata SI Doel, “Ayo Sekolah!” [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Aturan Turunan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi: Kebijakan “Omon-Omon”?
Literasi Media bagi Orang Tua Saat Viralnya Anomali AI
Biar Privat Asal Selamat: Melindungi Data Diri Pribadi dan Buah Hati
Tags: Bahasakomunikasimedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arja RRI Masih Bisa Menebar Pesona pada Pesta Kesenian Bali 2025

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [24]: Pemain “Keenam” Pertandingan Futsal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co